20121216

Jeruji



Aku tak suka tempat ini.
Baru beberapa detik menginjakkan kaki, aku sudah merasa tidak nyaman. Lantai dari ubin yang dipel seadanya juga dinding-dinding berkerut yang kusam memandangiku lekat-lekat hingga kelam. Langit-langit dan bilah kipas angin yang berputar seenaknya bekerja sama membuat perutku mual. Aku mengambil kursi lalu duduk. Sengaja melipat tangan di atas meja, menjauhkan aura dingin yang mendesak entah dari mana, mungkin dari semua hal yang ada di sini.
Seseorang berseragam lusuh melewati jeruji diantar seorang sipir. Laki-laki itu, wajahnya bahkan masih sama. Kerutannya saja yang betambah, itu pun hanya sedikit. Kamu mengambil kursi tepat di hadapanku. Belum lagi hilang kaget dan bahagia dari air mukamu, mungkin aku orang pertama yang mengunjungimu. Yang membuatmu berbeda hanyalah berat badanmu yang turun drastis juga dagu yang tidak lagi licin.
Kita terdiam masing-masing.
Di antara suara detak-detik jam dinding bulat besar, kamu memandangiku tidak percaya. Bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba mendatangimu setelah lima tahun menyingkir.
Aku, sejak perjalanan, bukan, bahkan sejak tadi malam sebelum tidur aku telah merangkai kalimat-kalimat sedemikian rupa untuk menyatakan maksudku kemari. Sayangnya rangkaian itu luruh begitu saja, hilang ditelan bola mata bergerigi hijaumu.
Senyumanmu di sana. Masih menunggu dengan setia.
“Kamu tidak berubah sama-sekali,” kamu lah yang memecah kebuntuanku.
Selalu seperti itu. Bahkan sejak kejadian malam itu di kamar kita, saat aku sudah tidak mendapatkan diriku sendiri, kamu hanya cukup mengeluarkan beberapa potong kata sambil diiringi dengan seutas senyum, persis sekarang, aku bisa menemukan kembali keberanianku.
Aku tersenyum, mau tak mau. Pipiku memerah. Kalimat itu seperti pujian. Secara tidak langsung berkata kalau aku masih cantik seperti dulu.
“Kamu yang berubah. Menyedihkan sekali melihat tubuhmu yang kurus,” aku serius khawatir. Yang aku tahu, kamu tak pernah punya masalah selera makan.
“Dari pada makanan penjara, masih mending masakanmu kemana-mana,” katamu.
Aku tersenyum lagi, kalau yang ini hinaan.
“Sekarang masakanku sudah enak. Serius. Andai boleh membawa makanan ke sini, pasti sudah kumasakan sesuatu.” Kamu tersenyum geli.
Kamu perlahan mengendurkan punggung. Terdengar suara berderit peran.
“Rupanya kamu sudah membuang kebiasaan menggosok gigimu itu, tidak lagi tiga kali sehari,” kataku.
Kamu menyelipkan kuku kelingking kanan di antara gigi seri, mengorek-ngorek. Terkumpul sejumput onggokan kuning dan busuk di ujung kelingking. Kamu buru-buru mengelap dengan seragammu.
Aku menyernyit jijik. Kamu tertawa. Tawamu, walau terdengar hambar dan kosong, membuat perasaanku sedikit menjadi ringan.
Kamu meraih tanganku, menyentuh pelan sekali.
“Terima kasih sudah mau menengokiku,” tatapanmu berbinar. Kamu serius.
“Sudah lama aku membayangkan bagaimana rasanya mendapat pengunjung. Aku tak lagi heran mengapa teman-teman di sini menjadi begitu berseri-seri setelah dikunjungi keluarga dan teman. Ternyata sangat menyenangkan bisa bercerita-cerita pada orang yang kita kenal, terutama di tempat ini, di antara dinding-dinding ini,” pundakku merosot, kalimatmu membuatku lemas. Kamu pasti sangat menderita di sini.
Aku menatap matamu. Mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Sangat kejam rasanya memberitahukan maksudku setelah melihat keadaanmu di sini.
“Aku sudah menikah. Dengan seorang bule, kau tahu kan? “ kata-kataku keluar juga. Ada perasaan pedih yang kemudian membumbung dalam dadaku. “Sebulan setelah kamu ditahan.” Mataku menghangat, aku menunduk.
Kamu mematung, ternyata baru tahu. Kemudian menautkan jemarimu di depan batang hidungmu yang bengkok dengan kikuk. Aku diam, menunggu reaksimu.
Beberapa saat kemudian kamu tersenyum. Aku lega sekali, kukira kamu akan kecewa atau apa.
“Baguslah,” terdengar sangat tulus, menggema dalam pipa tenggorokanmu yang serak.
“Dia seorang Arsitek. Gajinya cukup untuk kami.” Kataku menambahkan, memastikan kalau aku baik-baik saja. Kamu selalu khawatir aku hidup melarat.
Mendengar kata ‘kami’, telinganya naik. Tapi ia tak langsung bersuara.
Aku menunggu, sedang kamu diam.
“Bagaimana?” akhirnya. Kalimatmu terdengar mengerang dan kering.
Aku mendongak pelan, mengerti maksudmu. Tapi dari dalam raut itu tertoreh ekspresi manusia hina yang tak berhak bertanya. Padahal aku tahu kamu sudah mengumpulkan semua keberanianmu.
“Kamu berhak tahu, dia sangat sehat.” Aku menggenggam jemarimu.
Ada senyum yang terbit di sana, senyum kelegaan yang sangat. Juga kerinduan.
HP-ku berdering. Kamu mengalihkan pandangan, membiarkan aku berbicara dengan leluasa.
“Iya... masuk saja, sudah kutunggu.” Aku memasukkan HP-ku ke dalam tas.
Kamu  memandangku, mungkin hendak bertanya perihal telpon tadi, namun urung. Seorang anak kecil berumur lima tahun tiba-tiba berlari ke arahku.
Aku berdiri dari kursi, berjongkok menyambutnya. Gadis cilik ini menubruk dadaku keras sekali, Gita memang selalu bersemangat.
Wajahmu tiba-tiba sudah sembab memandangi anak ini, tak percaya. Kamu bahkan berdiri, mulutmu menganga.
Aku mengangguk.
Kamu memandangi Gita dengan penuh cinta, rindu juga takjub.
“Ibu kenapa ninggalin Gita di sekolah?” katanya, ada gurat-gurat biru halus di pipinya yang tembam kemerahan.
Aku tersenyum, “Ibu ada janji sama...” aku beralih memandangmu, “paman ini.” Suaraku terdengar serak.
Gita mendongak, pandangan menyelidik, dan takut-takut.
“Salaman dulu dong sama paman, kenalkan nama kamu,” kataku sambil menepuk punggungnya pelan.
“Perkenalkan nama saya Gita Ayuni, umur saya 5 tahun. Sekarang masih TK.” Gita menjulurkan tangan mungilnya.
Kamu terdiam. Aku tak mengerti maksud ekspresimu, hanya saja matamu yang mulai merah itu makin berair.
“Pintar sekali,” katamu akhirnya. Kamu memejamkan mata, menyerap semua emosi yang ada. Kamu berusaha keras tidak menangis saat Gita menempelkan tanganmu di keningnya. Aku tahu kamu ingin merengkuhnya, tapi kamu tidak bisa.
Betapa menderitanya kamu.
Gita terlihat tidak nyaman dipandangi dengan ekspresi itu, ia menarik rokku dan mendongak menatap wajahku. Aku menatap wajahmu, meminta izin. Di wajahmu ada perasaan bersalah, kamu akhirnya duduk, mengangguk pelan lalu mengalihkan pandanganmu pada kisi-kisi jendela.
“Gita ke bibi dulu yah, nanti ibu nyusul,” kataku. Setelah salim padamu, anak manis itu berlari pergi, tas kuningnya bergerak-gerak bagai sayap kupu-kupu di punggungnya. Diam-diam sudut matamu terus mengikuti anak kita.
“Dia, sudah besar sekali,” katamu. Kamu menekan hidungmu yang sudah memerah, menyeka cairan bening yang keluar.
“Matanya mirip matamu,” kamu tersenyum.
Malam itu bahkan pernikahan kita baru satu bulan saat pintu kontrakan kita diketuk dari luar. Harusnya malam itu adalah malam paling bahagia, malam itu kita tahu aku telah hamil.
Seorang laki-laki masuk. Rupanya dia sedang mabuk, begitu melangkah masuk dia langsung teriak-teriak menagih uang sewa. Kamu bilang akan bayar bulan depan. Laki-laki itu tertawa, lalu begitu saja ia menarik lenganku dan memelukku paksa.
Aku masih ingat kata-kata yang membuatmu malam itu gelap mata. “Bayar saja pakai istrimu, semalam saja cukup.” Bibirnya kemudian menjamah wajahku beringas. Aku masih ingat bau alkohol campur birahi dari nafasnya yang berhembus di dekat hidungku.
Kamu kemudian menerjangnya. Selanjutnya aku melihat tubuhnya terkapar, wajahnya hancur dan kepalanya sudah berumuran darah, juga batang kayu di tanganmu.
Kamu menyuruhku pulang ke rumah ayahku malam itu juga. Besoknya kamu digelandang petugas. Setelah lima tahun yang lalu, baru hari ini kita bertemu lagi.
“Benarkah? Aku tidak terlalu memperhatikan matanya tadi,” katamu. Matamu makin berair.
“Dia...” kamu kehabisan kata. Sulit mendeskripsikan hartamu satu-satunya. Belahan jiwa kita. Entah kenapa mataku ikut hangat dan dadaku sakit sekali. Mengingat kamu sendirian yang menanggung semuanya.
“Indah,” kataku.
“Indah. Ya, indah sekali,” kamu mengangguk setuju. Takjup pada anakmu sendiri.
Aku menyesal kenapa waktu itu aku sangat pengecut. Ayah menyuruhmu menceraikanku. Dia tidak mau punya menantu napi, lalu menjodohkan aku pada kenalannya. Dan aku hanya diam saja.
Bell berbunyi. Seorang sipir mendekat.
“Waktu kunjungan sudah habis,”katanya.
Aku, dengan berat hati berdiri. Cepat sekali.
“Jangan biarkan dia tahu siapa ayahnya,” katamu ketika aku berbalik.
Berikutnya entah kenapa, kakiku melangkah sendiri, kemudian memelukmu erat. Aku rindu sekali aroma tubuhmu. Aku rindu saat tanganmu menyentuh kepalaku, seperti sekarang ini. Aku merasa sangat dilindungi.
“Makan yang banyak,” kataku. Aku menangis, sejadi-jadinya. Pertahanan yang sejak tadi kujaga runtuh.
“Rawat Gita untukku,”katamu. Kamu mendekapku erat sekali. Aku tahu kamu juga ingin menangis. Tapi kamu menahannya, selalu begitu.
“Besok kami akan ke Australia, tak tahu pulang kapan.” Kamu mengusap air mataku dengan ibu jarimu, dan tersenyum. Dari sini aku tersadar kalau aku salah, ada lebih banyak hal yang berubah dalam dirimu. Dan kita sama-sama tahu mungkin ini pertemuan terakhir kita, juga pertemuan terakhirmu dengan anakmu.
Kamu berbalik lalu melangkah menjauh.
Aku terus memandangi punggungmu yang ringkih, berharap kamu menoleh, menemukan wajahmu untuk terakhir kalinya untuk kemudian aku ingat selamanya. Lelaki yang paling aku cintai, lelaki yang telah melindungi (mantan) istrinya.
Tapi kamu terus saja berjalan, tak pernah menoleh lagi. Hanya saja punggungmu bergetar. []



white grey





langkah kakinya menjadi ringan,

suasana yang sudah dikenalnya sedikit berpendar

kemudian bagai titik titik hujan deras,

semua menyeruak kasar kewajahnya...

ia melewati gerbang itu, ia tak percaya dia bisa berdiri di sana lagi sekarang,,

di pandanginya piala yang dipajang,

jantungnya berdegup kasar,

langit-langit yang dulu menaungi,

wajahnya memerah,

lantai ubin yang dulu mejadi saksi,

segores senyumnya mengembang,,

ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya terburu-buru

buru-buru menghirup udara yang dirindunya itu lagi...

ia terpekik, ada anak yang mengenakan seragam putih dan abu melewatinya...

berjuta kenangan indah tanpa ampun menyerbu benaknya, padahal baru tahun lalu ia lulus dari sekolah ini...



Masa SMA merupakan masa yang paling indah dan unik dari seluruh fase kehidupan manusia,

karena ada dualisme jiwa dalam diri-diri kita saat itu...

bentrokan antara jiwa yang ingin sekali segera dewasa, dan jiwa yang enggan merubah bentuk kanak-kanaknya

juga banyak diproduksinya hormon-hormon baru

masa dimana kita mulai merasakan sesuatu terhadap lawan jenis

masa dimana kita belajar mengenal diri kita sendiri



dan lucunya, hanya dengan membayangkan apa yang pernah kita lakukan disana saja sudah cukup membuat kita tertawa geli..