Aku suka gerimis. Rintikan beningnya yang menyejukkan
jalanan juga meresap ke hatiku. Melompat-lompat dalam tetesan kecil menuntaskan
dahaga tanah. Ia muncul dari awan tebal yang tidak terlalu hitam. Memerintahkan
semua mahluk untuk rehat sejenak, menyingkir, mengistirahatkan diri, berteduh.
Mengembun di sudut kaca, mengalir turun berkejaran polos. Namun pun kau memaksa
menerjangnya, ia tidak marah, ia hanya akan menyapamu ramah. Membelai rambut
hitammu namun tidak sampai lepek. Menerobos kulitmu, namun hanya basuhan riang.
Meresapi baju mu, namun hanya basahan kecil. Sebuah fenomena yang menceritakan
keceriaan alam terhadap makhluknya, cara alam membersihkan diri.
Sehingga itu, ketika pagi ini gerimis turun,
berlawanan dengan semua panghuni dunia yang malas manyapa hari, aku malah berjingkrak
riang di bawah kidung sang gerimis. Ia menemukanku pagi ini dan memandangku
lugu sepanjang perjalanan. Entah mengapa walau gerimis menyelinapkan hawa
dingin di kuduk, hatiku malah hangat dan nyaman. Dengan lugunya aku mengayunkan
langkah hingga membawaku ke terminal ini. Menunaikan janjiku berangkat tamasya
bersama teman-teman.
Walau aku sudah hafal sekali tabiat mereka yang hobi
telat, entah mengapa kebiasaan untuk datang tepat waktuku seakan tuli dan keras
kepala walau sadar betul aku akan dihianati oleh perilaku karet sahabat-sahabatku
itu. Sial bisikku. Berulang kali melirik jam yang melingkar apik di pergelangan
kiri ini, tetap saja tiap lintasan detiknya belum membawa rombongan mereka
tiba.
Hari ini aneh, pikirku. Terminal tidak seperti
biasanya, walau masih banyak orang berkeliaran dengan tas-tas dan koper masing-masing,
banyak polisi berseragam berdiri di pojokan jalanan raya. Diantaranya
mengenakan seragam semacam SWOT yang aku sering lihat di TV kabel. Helmet,
rompi anti peluru, pentungan dan perisai transparan besar mengena pas di tubuh-tubuh
mereka. Tak masuk ke dalam akalku mengapa mereka mau merepoti dan
membasah-basahi diri dibawah rintikan gerimis, berkumpul di terminal ini. Apa
lagi ini hari minggu. Ah biarlah, bukan urusan ku sama sekali. Aku mengangkat
bahu.
Entah mengapa tiba-tiba saja terlintas wajah Renald
di benakku, seorang teman sekelas yang baru kutemukan Senin lalu. Mengingatnya
membuat ku bingung, aneh dan tawar. Ada segudang penasaran yang membumbung. Masih
segar ingatku ketika pundaknya bergerak-gerak tangkas nampak dari belakang kala
membereskan tempat pensilku yang jatuh bercecer di lantai itu. Ia berdiri, menyerahkan
tempat pinsilku lalu beranjak pergi. Cepat sekali, tanpa menatap wajahku, tanpa
memberi ku time out untuk setidaknya mengucapkan
terima kasih. Namun setidaknya aku cukup cekatan menangkap keseluruhan alur wajahnya,
aku langsung teringat Mang Jaja, tukang kebersihaan sekolah kami. Aku nyaris
tertawa lepas andai bukan di kelas.
“Kenapa mukamu?” kata Tyas, menangkap basah wajahku
yang tak karuan menahan tawa.
“Bukan apa-apa, itu siapa yang tadi?” mulai bisa
mengontrol raut pribadi. Tyas menyernyit, wajahnya seekspresi ketika ada lebah
menggigit hidungnya.
“Itu Renald! Yang tadi merapikan tempat pinsilmu
kan?” masih tidak percaya. Aku mengangguk lugu.
“Kamu belum kenal Renald!? Kita kan sudah sekelas
sejak kelas sepuluh,” Tyas kecewa. Aku hanya mengangkat bahu.
“Kok aku baru tahu ya? Dia jarang aktif di kelas ya?”
Membereskan kembali isi tasku. Bertanya asal.
“Ya begitu, dia kan tuli. Jadi jarang ada anak yang
mau mengobrol denganya, susah nyambungnya,” kata Tyas asal saja. Ia tidak tahu
kata-kata itu membuat rahangku menganga barang tiga detik, sebelum akhirnya
bisa ku kembalikan ke posisi semula. Aku kaget bukan main.
“Ko bisa? Tuli, tuna rungu bukan? Tidak bisa mendengar?”
Aku penasaran. Tias lagi-lagi menyernyit, alisnya naik sebelah.
“Iya, budek,
tidak bisa mendengar. Katanya dia kecelakaan, ada organ telinganya yang rusak
atau sejenisnya, aku juga kurang tahu pasti,” Tyas bangkit, bersiap pulang. Aku
terdiam. Waw! aku baru tahu ada orang sepeti itu di kelas kita. Aku tenggelam
sejenak. Renald? Tuli? Tapi bukan urusanku kan? Sambil mengangkat bahu, acuh, kemudian
menyusul Tyas pulang.
Namun anehnya pertemuan pertama kami seakan seperti
pematik yang menyalakan sumbu panjang yang entah ujungnya berada di mana. Ia
selalu ada di sekitarku ketika aku membutuhkan seeorang. Entah itu kebetulan
atau apa. Seperti saat pulpen ku tertinggal, ia tiba-tiba menyodorkan
pulpennya. Aku hanya bisa tersenyum dan berterima kasih, sambil berfikir dalam
hati, apa dia bisa mendengar ucapan terima kasihku. Begitu juga saat
penghapusku terjatuh, saat aku ingin memungutnya, tiba-tiba saja dia sudah
berdiri menggenggam penghapusku, menyerahkannya. Pada awalnya aku merasa senang
karena dia ternyata orang baik.
Hingga ketika itu, saat pelajaran Bahasa Inggris,
yang semua siswa diwajibkan membawa kamus Bahasa Inggris. Aku yang teledor ini jelas
lupa membawa kamus. Maka bersiap-siaplah aku untuk maju berdiri di depan kelas
karena memang begitu peraturan yang diterapkan oleh Pak Tejo yang galak. Minggu
lalu Tyas tidak membawa kamus, ia harus berdiri di sana sepanjang jam
pelajaran, setelah kena marah dan masih harus mengumpulkan tugas yang luar
biasa banyak dan tidak manusiawi keesokan harinya. Apa boleh buat, malamnya aku
menginap di rumah Tyas untuk membantu menyelesaikan tugas itu.
Minggu ini rupanya giliranku, aku begitu bodoh
ketika pagi ini bangun terlambat dan berakhir seperti sekarang. Nafasku sudah sesak,
darah tak mau lagi mengalir ke wajahku, jantungku meledak-ledak, tanganku
dingin, pasrah. Ketika Pak Tejo menuju tempat dudukku, wajahku tertunduk lesu, aku
sudah menyerah, pasrah tanpa sarat, menunggu tertangkap basah untuk diseret ke depan,
tiba-tiba Renald muncul dari belakang, menaruh kamusnya tepat di hadapanku lalu
melangkah ke depan kelas. Meninggalkanku sendirian dengan mulut menganga, dalam
kebingungan. Di depan Renald berdiri sambil menunduk, mungkin karena kelelahan
berteriak (teriakan yang tak mungkin didengar Renald), Pak Tejo memukul
keras-keras pantat Renald dengan penggaris papan tulis, keras tanpa ampun. Renald
meringis kesakitan. Aku diam, Renald menyelamatkanku. Saat itu ingin rasanya
aku menguap saja.
Awalnya semacam perasaan simpatik dan kasihan
melihatnya tersisih di kelas seorang diri, ia dihindari, tak ada yang mau
menemani, bahkan tak ada yang mau sekelompok. Diam-diam kulihat ia mengerjakan
tugas dan mengumpulkan tugas yang seharusnya diselesaikan secara berkelompok sendirian.
Hatiku tertegur, ada semacam duri mengendap di sana, kecil tapi perih.
Ingin rasanya bisa membantunya, mengajaknya membaur
bersama yang lain, menjadikan dia bagian yang juga bercahaya di kelas ini.
Namun sejak itu, sejak perbuatannya yang bisa dibilang berlebihan, entah
mengapa ada sesuatu yang mengusikku. Entah apa, aku tak paham sama sekali.
Penasaran, mungkin.
Akhirnya semuanya mengalir dalam endapan yang mebuat
menjadi semacam kikuk dan kaku. Mungkin dia menyukai ku, kasarnya seperti itu,
tapi aku tak mengira bisa menerima perasaanya. Tak tahu kenapa, pokoknya sulit
saja. Andai saja dipaksa menengok lembah terdalam hatiku, mengorek-ngorek sisi
yang masih bening di sana, mungkin jawabannya adalah karena keadaanya yang demikian,
ia tuli.
Egois dan jahat, tapi bukankah semua anak gadis
ingin memiliki pacar yang keren, setidaknya normal? Maksudku…ah pasti kalian
paham. Karenanya, menerima semua
perlakuannya itu, sungguh membuatku merasa tidak nyaman, risih, dan…sejujurnya
aku tak ingin terlalu berhubungan dengannya lagi, juga tak ingin punya hutang
budi darinya.
Jarum panjang merangkak ke angka tiga dari dua
belas, meninggalkan jarum pendeknya sendirian di tujuh. Jam yang terlihat
berkilau dan basah efek cipratan gerimis masih melingkar manis di pergelangan
kiriku. Gerimis reda. Awan-awan mulai menguap dan memamerkan matahari milik
mereka. Walau masih agak malu, pesona kilau matahari mulai menyapu daratan
pelan. Burung-burung yang tadinya berteduh di pepohonan pemayung jalan kini
mulai beriak-riak, titik-titik hitam mereka makin ramai di angkasa. Di ujung
jalan sebelah timur, ada segerombolan besar orang dengan sepanduk dan poster
yang mengacung, berjalan perlahan menuju tempatku berdiri. Detik selanjutnya
aku sadar kenapa bapak-bapak polisi ini berkeliaran banyak di sekitar terminal.
Rupanya mereka akan mengawal para demonstaran yang baru saja kulihat. Aneh ya?
kenapa mereka berdemo di hari minggu? Bukankah semua kantor pemerintahan libur
ketika minggu, aku angkat bahu.
Aku mengorek isi tas, mencari HP. Aku ingin tahu
dimana Tyas dan teman yang lainnya sekarang, kenapa mereka belum juga muncul?
Aku girang karena setelah agak lama akhirnya aku menemukan HP-ku, tapi wajahku
kembali lesu, HP-ku mati, baterainya habis. Sial, lagi-lagi lupa men-charge. Aku menendang aspal kesal. Detik
berikutnya aku tak faham ada apa. Mugkin karena dari tadi perhatianku terpusat
pada HP yang ku genggam, aku kaget ketika tiba-tiba banyak orang berlarian
menghambur dari terminal, polisi yang sedetik lalu masih nampak santai kini
berlarian rusuh ke arah timur. Mirip gerombolan bison dikejar singa padang
rumput di National Geographic Channel.
Kerumunan demostran itu sedang rusuh, merusak apa saja yang ada di dekat
mereka, meneriakan yel-yel yang tak kupahami, membakar ban, sepeda motor bahkan
angkot yang lewat. Ledakan berdentuman akibat bom molotok dan petasan. Melihat
polisi mendekat, mereka melempar batu dan segala macam benda ke arah polisi. Beberapa
polisi terjatuh, merasa ditantang, barisan polisi berlarian makin liar,
menerjang dan memukul apa saja manusia dihadapan mereka. Terdengar suara pecah
dari pistol yang diacungkan ke udara. Kerumunan demonstran yang banyak sekali
itu bubar, berantakan ke segala arah, bak semut berlarian karena hujan, menyelamatkan
diri dari kejaran polisi-polisi yang tersulut amarah. Polisi yang menangkap
demonstran menghantam tanpa ampun punggung, kepala, atau apapun bagian tubuh mereka
dengan pentungannya. Ada yang tergeletak, terinjak, darah mengalir dari kepala
mereka. Bahkan pedagang yang tanpa ciri-ciri demonstran pun kena hantam. Wartawan
lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Semua orang gelap mata saat itu. Kacau dan
mengerikan!
Aku sendiri, berdiri dengan kaki lemas, kacau dan
kaget. Dihadapanku sedang terjadi kekacauan yang sangat. Banyak orang terjatuh,
terbanting, terinjak. Beberapa orang yang lepas dari polisi berlarian
melewatiku dengan tangan memegang kepala yang berdarah-darah, satu orang terjerembap
tepat dihadapanku, darahnya tercecer merah, kemudian bangkit dan berlari lagi.
Aku merinding hebat, seumur hidup baru pertama aku melihat darah sebanyak itu
mengalir dari tubuh manusia. Kupaksakan kaki ini berlari, untuk menyelamatkan
diri, namun ia tak mau menurut. Kakiku terlalu lemas. Sial! Bisikku, aku nyaris
menangis. Jantungku berderu cepat, wajahku memucat hebat, kakiku kaku, tanganku
dingin dan basah, badanku menggigil kuat. Aku terlalu takut. Makin banyak orang
dengan ekspresi ketakutan berdatangan ke arahku, di belakannya gerombolan
polisi mengejar dengan mata merah menyala dan pentungan mengacung-ngacung
tinggi. Aku memejamkan mata, tak kuat menatap pemandangan mengerikan itu.
Di saat genting seperti itu, disaat aku nyaris
pasrah, disaat aku sudah siap pulang dengan banyak luka gerusan di tubuhku,
seseorang menggenggam lenganku, menarikku, memaksaku berlari. Hati ku melengos,
itu seperti Renald. Aku mengerjapkan mata, memastikan pandanganku tidak salah.
Itu memang Renald, wajah yang seperti Mang Jaja, tidak salah lagi itu Renald.
Dia sekarang ada dihadapanku, menggenggam lenganku, memaksa kaki sialan ini
berlari. Tak banyak yang ku pikirkan, saat itu insting primitif untuk
menyelamatkan diri sedang mengambil alih. Aku mengikuti Renald berlari menjauh,
bergabung dengan orang-orang, lalu berbelok ke tempat sepi, mencari
perlindungan, menyelematkan diri. Aku tak tahu kenapa Renald ada di sini dan
lagi-lagi menyelamatkanku. Aku tak peduli. Aku selamat.
Kali ini, bukannya merasa risih, aku malah
bersyukur, sangat bersyukur malah. Aku tak tahu apa yang akan kualami jika tadi
Renald tidak menarikku. Kami kelelahan, keringat mengucur deras dari keningku,
nafasku tersengal, aku terjatuh, lututku luruh menyentuh tanah, baru pertama
aku lari sekencang itu. Aku tahu Renald tak jauh beda, tanganya runtuh di atas
lututnya, nafasnya terdengar memburu, wajahnya merah, terlalu banyak darah yang
naik ke sana.
“Kau tidak apa-apa?” katanya tiba-tiba, masih
tersengal, berusaha menstabilkan paru-parunya. Pundaknya naik turun brutal. Aku
hendak menjawab, tapi suaraku tertahan di ujung lidah, aku kebingungan.
“Aku sudah terbiasa membaca gerak bibir orang lain,”
katanya, tak ada ekspresi tersinggung. Aku tertegun, mematung, selama ini aku benar-benar
berpikir kalau dia mutlak tidak bisa (mendengar) berkomunikasi dengan orang
lain.
“Baik-baik saja, terima kasih banyak,” suaraku lirih
sekali, mungkin lidahku belum yakin kalau Renald mampu menangkap kata-kataku. Tapi
Renald mengangguk pelan, ia faham.
“Sama-sama,” katanya, Ia terduduk, tangannya memegang
pinggang bagian atas, kakinya diluruskannya. Aku tersentak, dia benar-benar
mengerti.
Selama beberapa menit, hingga nafas kami normal,
kami terkurung bisu. Baik aku maupun Renald
tak ada yang berbicara. Kami sibuk menghisap sebanyak mungkin oksigen dan
mensyukuri bahwa masing-masing kami masih bugar. Tapi itu tidak berlangsung
lama, setidaknya bagiku. Ini pertama kalinya aku dan Renald sedekat ini,
maksudku walau ia duduk di belakangku di kelas, tapi ini petama kalinya aku
bisa mengucapkan terima kasih secara langsung kepadanya. Ini juga pertama
kalinya aku tahu ia bisa membaca gerak bibir.
“Terima kasih untuk semuanya,” kataku. Aku kaget
bisa-bisanya aku membuka pembicaraan. Renald tersenyum, baru pertama aku
melihat senyumnya, ada lesung pipit di sana. senyumnya manis. Detik berikutnya
refleks memalingkan pandanganku. Wajahku kepanasan.
“Kenapa kau baik sekali padaku, maksudku, bahkan
kita tak pernah tegur sapa sebelumnya kan?” kata-kata itu mengalir begitu saja,
efek penasaran yang mengendap pekat. Renald tersenyum lagi, wajahku makin
panas.
“Kau masih ingat pernah membantuku berdiri ketika
aku terjatuh di tangga sekolah? Waktu itu sehari sebelumnya aku baru pulang
dari rumah sakit, aku masih menggunakan tongkat jalan dan gips di kakiku?” Ia
tersenyum lagi. Ada aroma kesepian yang pekat dari suaranya. Aku diam, kalau
tidak diingatkan aku pasti sudah lupa. Aku baru tau kalau orang itu adalah Renald.
Hanya karena itu dia mati-matian menolongku? sepele padahal.
“Aku suka padamu sejak saat itu,” ia menunduk,
menyembunyikan wajahnya. Awan-awan dilangit mulai mengumpul lagi, sebentar lagi
akan hujan.
“Aku tahu kau merasa risih, jijik, menganggapku
hina, menyebalkan, bahkan benci padaku karena aku ini tuli. Tapi itu tidak
apa-apa…
“Setidaknya sekarang kau tahu kalau aku ada,” wajahku
menghangat, air mataku runtuh. Gerimis turun lagi pagi ini.[]