20111113

pasirnya...

persimpangan ini serius benar berniat membunuh
semua yang (terlewati) membentuk terlalu banyak
bahkan ada lebih dari enam sisi,
apa yang seharusnya sang kubus miliki

aku larut ketakutan, 
hilang dalam gamang
rintik pasir nya menimbun semua, 
jadi semuanya tak sisa
terang tak lagi ingin memantulkan 
bahkan se ujung nyali

ahahahahaha
tertawa (aku), 

jangan tanya apa ini tawa senang
bodoh jika itu yang kau ada

itu cemooh
'tuk si pecundang miskin
(sudah pecundang, miskin lagi)
bukan miskin benda
lebih, kawan..

miskin keberanian
bahkan kata itu pun tak pantas dikenakan


what a totally coward.... 

20111110

bodohnya!!


malam ini aku bergegas membersihkan tumpukan daki
menyemir sepatu kulit cokelat lalu menyiapkan semua
kau tau kawan,
besok adalah hari besar untuk ku
semua penantian dan kekecewaan yang dalam menggores kebangganku
akhirnya pagi besok aku akan dihargai

hey!!
jangan menatap ku dengan pandangan itu
walau kan menatap seakan aku janda binal tak tahu malu 
aku tak akan mundur

apa?
aku tak adil?
hahaha, jangan buat tawa ku berderai
mana ada keadilan di dunia ini

lihatlah anak jalanan
lihat mayat maling ayam yang ancur abis mukanya
lihat koruptor gendut yang sedang makan steik hangus
lihat kaos kaki wangi mereka

bodo amat dengan sumpah serapah kalian
tidak peduli aku
walau kau mengunakan toa masjid untuk mengumumkan bahwa aku binal
sampai ada janda menikah lagi dan punya dua belas anak lagipun aku tak mau mundur

biarkan aku menyeret tubuhku
mengerik semua penghinaan 
mengais asin keringat
menggusur perut
hingga nampak putih ku
nantinya kalau pun rahang mu menganga hingga kejang
kemudian berhujan-hujan mengiyakan keputusan ku

aku tak akan peduli lagi
seperti detik ini

20110928

sayap belum tumbuh

tersudut lagi
di antara dua dinding itu
salah apa aku?

ketika semuanya tertumpah begitu saja tanpa apa
tubuhku basah, sebasah-basahnya
tertinggal hanya tubuh yang menggigil
memojok di sudut lagi

menelan ludah sendiri pun sulit
apa lagi berteriak
rahang terkunci begini
kaki membelenggu sendiri
sayap belum tumbuh

untung nafas masih sempat
walau berat dan sepat

dia datang begitu saja
memporak-porandakan yang ada
merusak yang telah rapi
membuyar yang telah isi

masa dibiarkan saja
tarseret mati nanti

sekarang
tunduk menghina hingga tak hingga
hitam pekat semua  

senang padahal dilarang
binar padahal salah

aku harus apa?
sayap belum tumbuh....

                                       bogor, september '11 (22.52)

20110905

MEREKALAH SAHABAT KITA

 
 ** Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri 
sendiri **
 
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah 
yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
 
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa 
mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya...
 
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti 
besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
 
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, 
diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak 
pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
 
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, 
justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.
 
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang 
amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
 
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi 
bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki  motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru iaberinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
 
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, 
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
 
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan,namun ada juga yang begitu 
hancur karena dikhianati sahabatnya. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan.
Siapa yang berada di samping anda ??
Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai ??
Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa apa??
 
 
Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.
 
 ** Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita.
Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita **

20110717

guru ....

assalamu'alaikum
wah uda lama banget ga posting lagi.....ahahahahaha*jitak, kemana aja lu gung!!!*

hari ini pengen ngeshare sesuatu...
gatau nih lagi terinspirasi banget jadi guru

hahaha,,,

satuhal yang bikin gua betah jadi guru,,,se berat apapun materi or muridnya
adalah ketika kita bisa ketawa bareng murid2 kita,,,
itu nandain kalo secara psikologis kita punya kedekatan dengan murid kita
dan akan lebih menyenangkan lagi klo murid kita itu ga nganggep kita sebagai guru,,tapi sebagai bagian kehidupan mereka
guru yang baik itu ga cuma mensupport daris sisi akademis tapi dari sisi psikologos dan mental si anak
beuuh,,puas banget klo uda bisa gtu

satu hal lagi,,walau pun gua orang nya ga bisa apa-apa
gua pengen murid2 gua nantinya punya impian yang besar....mereka suatu saat bisa cerita tentang kesuksesan mereka saat kita uda ga jadi guru les-murid les lagi..

ahahahaha

makanya profesi yang paling keren itu sebenernya adalah seorang guru

guru itu sangat senang ketika suatu saat ada muridnya datang kerumahnya setelah bertahun-tahun setelah  menjadi orang yang lebih sukses, lebih terkenal, lebih kaya dari pada guru tersebut.....
justru ketika murid mereka lebih sukses dari mereka,,,itu lah hal yang menujukan keberhasilan dari guru tersebut...padahal mungkin keadaan guru tersebut tidak berubah,,,(*segi finansial dan pekerjaan)

semoga kita bisa tetep jadi keluarga ya...ahahahha

20110517

surat cinta untuk calon istri ku


Hai puanku, bila saatnya tiba kau baca surat cintaku ini, aku hanya berharap di hari saat dimana kau kecup punggung tanganku untuk yang pertama kali di hadapan penghulu, para saksi, orang tua kita, saudaramu, saudaraku, sahabatmu, sahabatku, adalah simbol cintamu yang akan selalu ada disisiku sampai Izrail menghampiri kita.

Perempuanku, jangan kaget bila aku menuliskan surat cinta ini jauh dari hari saat kau membacanya. Saat aku belum melihat paras cantikmu, saat aku belum mengenal akhlak muliamu, saat aku belum tahu namamu. Jangan khawatir sayang, dulu kita sudah bertemu. Saat di alam ruh. Allah telah memilihkan kamu untuk menjadi istriku, saat empat bulan masa kandunganku di dalam perut ibu. Sejak saat itu namamu sudah disandingkan di sebelah namaku. Sejak saat itu aku sudah mencintaimu.

Cantik, selain mahar yang kau minta saat pernikahan kita. Aku ingin berikan kau satu lagi: sebuah mukjizat Nabi terakhir. Alquranul Karim, yang akan selalu kau baca dengan suara merdumu, sebagai pelepas lelahku sepulang aku bekerja. Alquranul Karim, yang akan kau ajarkan betapa indah lantunan ayat - ayat suci kepada anak - anak kita nanti. Alquranul Karim, yang akan kau baca tepat disampingku nanti, saat aku terkulai lemah tak lagi berarti walau hanya untuk menjentikan jari. Alquranul Karim, yang akan selalu kau bawa dan kau baca tepat di samping nisanku nanti apabila Izrail menjemputku lebih dulu. Tetap bacakan untukku walau seayat sayang, aku pasti akan merindukan suara bidadariku bernyanyi: Kau mengaji.

Sayang, mungkin aku tak lebih hebat dari ayahmu dalam menjagamu. Aku tak segagah ia melindungi dirimu, mempertahankanmu dari para pria yang menginginkanmu darinya, termasuk aku yang akhirnya ia percayakan sebagai penggantinya untuk menjagamu. Tapi puanku, percayalah. Kaulah alasanku untuk belajar menjadi pria yang kuat. Pria yang rela walau harus sampai mati melindungimu, demi menjaga hatimu, kehormatanmu juga ragamu. Dinginnya malam sekali pun tak akan aku biarkan mengigit kulit indahmu sayang.

Cinta, izinkanlah aku nanti, sebelum kuucapkan ijab qabul pernikahan kita yang disahkan para saksi, kulantunkan selarik ayat suci: An Nisa. 34, sebagai janjiku yang akan selalu melindungimu atas nama laki - laki. Sebagaimana Allah telah mewahyukan ayat itu kepada Muhammad nabi kita.

Hei wanitaku, saat kau sudah menggenapkan agamaku nanti, sesudah kau amini Al-Fatihahku yang pertama kali, setelah pertama kalinya kau cium tanganku selepas sholat, aku ingin saat itu kau selalu jadi pengingatku. Aku hanya manusia yang terkadang lupa, sering melakukan salah, dan laki – laki yang tak peka seperti wanita. Sekali kau memohon: ‘Maukah kau lakukan itu untukku?’ Demi apa pun, apalah arti dunia jika aku melihat air matamu. Kan kulakukan sepenuh hati hanya untukmu hei Batariku.

Hei bidadariku, aku berjanji.Tanpa sedikit pun aku menentang hal yang pernah dilakukan Rasulullah. Saat kau menjadi istriku nanti, akan kujadikan kau satu – satunya di dunia dan akhirat. Seperti halnya Sayidina Ali Radliallahuanhu menjadikan Fatimah Az Zahra satu – satunya bidadari bumi yang dimilikinya.

Kasih, tenanglah. Saat aku telah menjadi imammu nanti, tak akan pernah berhenti aku mencari rezeki. Selama masih keluar keringat kuperas dari tubuhku, selama masih kuat kubanting tulang punggungku, aku akan terus menafkahimu. Tak akan kubiarkan kau dan anak – anak kita kelaparan dan kehausan. Kupastikan kalian tak akan pernah kekurangan cintaku, sayang.

Jelita, kalau boleh aku meminta. Aku menginginkan putri yang menjadi buah hati kita yang pertama. Kita didik ia menjadi anak yang shalehah, dan kan kutanam sekeping jiwamu pada dirinya. Agar apabila nanti kau dipanggil lebih dulu oleh Pemilikmu yang sebenar – benarnya, aku masih bisa melihat kamu dalam diri putri kita. Dan aku ingin putra kita hanya terpaut satu tahun dengan kakaknya. Agar ia bisa tumbuh dewasa bersama saudari kandungnya. Dan akan kutempa dia agar menjadi pria yang kuat, bahkan melebihi aku. Agar apabila nanti aku yang kembali lebih dulu ke sisiNya, ia bisa menjaga ibu dan kakaknya seperti yang telah kulakukan dan kuajarkan kepadanya.

Manis, saat aku resmi menjadi suamimu nanti. Tak kan kulewatkan pagi tanpa mengecup keningmu yang harum. Kan kulakukan tiap aku hendak bekerja, atau tiap kali aku pergi meninggalkanmu. Dan akan selalu kulisankan tiga kata setelah bibirku ini meletakkan cinta di wajahmu: I love you. Dan tak akan kulewatkan pula detik berharga sebelum kau memejamkan mata, kembali kan kuletakkan cinta di kening atau pipimu. Aku tak akan bosan menciummu setiap hari, sayang. Seperti halnya nabimu juga nabiku yang tak pernah bosan melakukan hal romantis ini kepada istrinya setiap hari.

Bidadariku, aku tahu perjalanan bahtera kita tak akan selalu berlangit cerah. Syaitan pun tak kan pernah berhenti merusak hidup manusia sampai kiamat tiba. Maka ingatkanlah aku dengan kelembutan hatimu, agar tak ada hal lain yang kulakukan untukmu selain mencintaimu dan melindungimu. Sungguh aku tahu wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria yang paling bengkok. Maka tak akan kupaksa ‘tuk luruskan engkau hingga patah, dan tak akan pula kubiarkan engkau tetap bengkok. Islam yang akan selalu menuntunku bagaimana seharusnya aku memperlakukanmu.

Sayang percayalah, aku akan selalu mencintaimu di tiap waktuku. Aku akan tetap menciummu, meski pipimu tak lagi sekencang dulu, meski keriput tlah menggarisi keningmu. Aku akan tetap membelai rambutmu, meski putih telah memakan habis hitamnya yang indah. Aku akan tetap memelukmu, meski bungkuk badanmu dan ringkih tubuhmu, aku akan tetap memelukmu.

Berjanjilah cinta, apabila tiba saatnya Izrail memamerkan surga dan neraka di kedua sayapnya di hadapanku. Jangan pernah berhenti bisikkan nama Allah di telingaku, jangan pernah kau lepas genggaman tanganku dan jangan dulu jatuhkan air matamu sebelum malaikat benar – benar mencabut ruh dari ragaku. Sudah kubilang: Apalah arti dunia jika aku melihat air matamu.
Tenanglah kasih, batu nisan memang akan pisahkan dunia kita nanti, tapi dia tak akan mampu pisahkan cinta kita. Aku mencintaimu tak hanya di dunia.

Semoga Allah mengabulkan doa di tiap sujudku, agar pernikahan kita tak hanya dilanggengkan di dunia, tapi juga diabadikan di taman surgaNya. Amin…
Aku mencintaimu karena Allah, bidadari surgaku


Calon Imam hidupmu

true....luv


Ada seorng cewek memberikan tantangan kepada cwonya untuk hidup tanpa drinya, untuk tidak ada komunikasi sama sekali antara mereka selama sehari..Dia berkata pada cwonya, kalo kmu bisa melewati itu, aku akan mencintai kmu selama nya.. Si cwonya pun setuju,, dia tidak sms/telpon cwenya seharian..

Tanpa dia ketahui bahwa cwenya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker..

K'esookan harinya cwonya pergi krmh cwenya. Air matanya pun tiba2 menetes melihat cwenya sudah terbaring dengan surat di tangannya yang tertulis "Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu stiap hari? I LOVE YOU.."


Orang yang menjadi cinta sejatimu tidak pernah bisa memberikan alasan kenapa ia mencintai kamu, yang ia tahu dimatanya hanya ada kamu satu satu nya...

from > kaskus

ini baru cinta beneran.......


Sebuah Renungan,buat para calon suami….calon istri jg boleh baca..! Semoga Bermanfaat
terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.Silahkan baca dan dihayati.
Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya…….. istri & calon istri juga boleh…
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa,tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata,”Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. . bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2, “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami suda tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya.”Anak2ku ………… Jikalau pernikahan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…… tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit..

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno….dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita..”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,
“Hidup adalah Perjuangan tanpa henti-henti … tidak usah kau tangisi hari kemarin”.

sumber : kaskus

sebuah cangkir


empat orang yang sudah sukses sedang berkumpul di rumah profesor yang dulu membimbing mereka saat kuliah
masing-masing mereka berusaha membanggaan kesuksesannya di hadapan sang profesor
ada yang membicarakan jabatan yang mereka raih
ada yang membicarakan proyek yang berhasil mereka tangani
ada yang membicarakan mobil terbaru mereka
ke empat orang itu saling memamerkan herta kekayaan yang mereka miliki

sang profesor hanya tersenyum, kemudian meyuruh pembantunya membawakan seteko kopi dan beberapa gelas yang berbeda
sang profesor kemudian mempersilahkan mantan muridnya untuk minum kopi tersebut
beberapa saat kemudian mereka sudah memegang cangkir mereka masing-masing

kemudian ia berkata
"lihat lah, sekarang hanya cangkir yang murah dan tidak menarik yang masih berada di tempatnya,,
masing masing kalian, berusaha mengambil cangkir yang terbaik menurut kalian, dan kalian telah menggenggamnya masing2....
tahu kah kalian makna dari kopi yang sedang kalian genggam itu??"

ke empat orang itu diam,

"terkadang manusia lupa bagaimana untuk hidup, padahal hakikat manusia hidup adalah untuk mencapai kebahagian
namun sebagian orang salah mengartikan, mereka mengira akan bahagia jika memiliki harta yang banyak, mobil yang bagus dan sebagainya

seperti kopi ini,,,tujuan sebenarnya yang akan kita minum adalah kopi nya, bukan sama sekali cangkirnya
begitu juga kebahagiaan, itu bersumber dari hati,,,sama sekali tidak berhubungan dengan harta yang kita miliki...." 

try to be a simple person

20110420

tautan

begitu indah
jari jermari Allah mengumpulkan kita
mentautkan dengan cara Nya

berputih-abu
dengan beraneka rona
penuh lugu
polos 
manja 
dan bodoh

seperti apa pun itu
kalian adalah bagian terindah
tak akan terlupa

aku adalah penggemar setia kalian
pengagum terbesar kalian
sahabat karib kalian

senang sekali menghabiskan detik bersama

bercanda
tertawa
menangis
marah
lelah
tersenyum

tidak!!
tak ada lelah
tak ada tangis
tak ada marah

yang ada hanya 
senang 
bahagia 
dan senyum

tak ada yang tersisa
tak ada rahasia
semua telah tumpah untuk kalian

mengalir 
deras
kemudian memberi warna
dan diwarnai


masa bodoh!!!!
aku ingin ke sana!
lagi!!!
dan kalau bisa
selamanya

bersama-sama

tapi tak akan pernah bisa

.....

...... .......

....... ......... .......(tersenyum getir sambil ber-angan kembali ke sana dan berkumpul lagi............)


terima kasih sebanyak-banyaknya

*pengagum terbesar kalian
**ITHRI 2006-2007
***kapan kita kerja bareng lagi ??? hehe
****fully love u and miss u all at this time

20110417

ceceran

serpihan itu makin berantakan
berceceran makin tak karuan

sudah coba ditata tapi tetap tak bisa
malah jari yang teluka
meneteskan darah merona

kosong, 
selalu seperti itu
padahal sudah dicoba 
tetap saja retakan itu bertambah besar...
di sana ada sesuatu yang tak kuasa ku cela

tak bisa juga tertolak
merembes memaksa masuk 
meminta ruang yang lebih besar
padahal tak ada yang yakin akan diisi oleh siapa
bahkan diriku pun belum tahu

makin lama makin terseok ke padang luas
diliputi kesendirian
mencekik dan meremas
bahkan untuk bernafaspn tak kuasanya


20110415

when some thing simple make a deep sense

uda lama g posting lagi,,hahahaha
bodo ah,,,sibuuk cenah mah (emmh sombong, hahahah)

cuman mau share, tadi nonton film bagus banget, judulnya "Bedtime story", yaa klo diartiin di bahasa indonesianya itu cerita sebelum bobo (terjemahin ngasal)

intinya itu nyeritain tentang seorang tukang reparasi hotel yag uda kerja di sebuah hotel selama 25 tahun. usut punya usut, ternyata dulu bapaknya dia yg manajerin hotel ini, namun karena di anggap gagal, bapanya d pecat....

nah si tokoh utamanya (duh lupa lagi namanya siapa) punya keponakan 2,,nah c keponakan ini klo malem selalu dititipin d rumah dy ama ibunya karena ibunya selalau ada kelas malem,,,

nah, karena keponakannya masih pada bocah, paling baru kelas 1 SD,,,,tiap melem c dy ini dongengin terus, namun anehnya dongeng yg dceritaiin ma dy itu (ceritanya pasti ditambah2n ma dua keponakan ini, biar ujungnya aneh,,,masa ada kuda warna merah,,,jenis kuda ni namany ferari, kan ngacoo, itu hasil rekayasa bocah2 ini, hahaha) selalu jadi kenyataan,,,misalnya malem sblumnya dy cerita ada hujan permen karet, eh besok nya bener2 kejadian,,,,padahal riilnya itu teh ada truk yang ngangkut permen karet yang tabrakan di jalan layang d atasnya, pas permennya pada jatoh kesannya kaya ujan permen beneran...

eh suatu ketika yang punya hotel pengen buka cabang hotel baru,,,nah ada kaya sayembara gtu siapa yang bisa ngasih tema yang bagus buat hotel ini maka dy bakal manajerin hotel baru tersebut..,

ini bagian paling kerennya, c dy bilang
" setelah lama berkeliling sama anak-anak, ngejajalin jenis kamar yag beda di hotel bintang lima ini,, ada satu hal yang orang tua kaya kita lupa, hotel diciptakan untuk orang-orang beristirahat, dan tempat terbaik untuk beristirahat adalah rumah,, sehingga sebenarnya tidak dibutuhkan hotel,,,karena akan selalu ada rumah yang menenpati temoat terbaik bagi manusia,,sehingga hotel haruslah bisa menjadi tempat yang memberikan pengalaman yang berbeda pada setiap pengunjung sehingga rasa nya seperti di rumah..."

gua mikiir,,kadang sesuatu yang besar itu berasal dari hal-hal yg simple,,iy ga???
kaya di film ini,,ngapain bikin tema hotel yang ribet, kaya hard rock cafe,,,hotel skalian konser live,,,padahal tujuan orang nginep di hotel kan supaya bisa tiduur, istirahat,,,dan tempat paling nyaman buat tidur dan istirahat kan cuman rumah doang,,,
simple but deep....

hahaha, jadi ga jelas postingannya,,,makasih ya uda nyimak,,,tar kita ketemu lagi di postingan selanjutnya..^^

20110217

Gerimis Turun ke Jalan


           Aku suka gerimis. Rintikan beningnya yang menyejukkan jalanan juga meresap ke hatiku. Melompat-lompat dalam tetesan kecil menuntaskan dahaga tanah. Ia muncul dari awan tebal yang tidak terlalu hitam. Memerintahkan semua mahluk untuk rehat sejenak, menyingkir, mengistirahatkan diri, berteduh. Mengembun di sudut kaca, mengalir turun berkejaran polos. Namun pun kau memaksa menerjangnya, ia tidak marah, ia hanya akan menyapamu ramah. Membelai rambut hitammu namun tidak sampai lepek. Menerobos kulitmu, namun hanya basuhan riang. Meresapi baju mu, namun hanya basahan kecil. Sebuah fenomena yang menceritakan keceriaan alam terhadap makhluknya, cara alam membersihkan diri.
Sehingga itu, ketika pagi ini gerimis turun, berlawanan dengan semua panghuni dunia yang malas manyapa hari, aku malah berjingkrak riang di bawah kidung sang gerimis. Ia menemukanku pagi ini dan memandangku lugu sepanjang perjalanan. Entah mengapa walau gerimis menyelinapkan hawa dingin di kuduk, hatiku malah hangat dan nyaman. Dengan lugunya aku mengayunkan langkah hingga membawaku ke terminal ini. Menunaikan janjiku berangkat tamasya bersama teman-teman.
Walau aku sudah hafal sekali tabiat mereka yang hobi telat, entah mengapa kebiasaan untuk datang tepat waktuku seakan tuli dan keras kepala walau sadar betul aku akan dihianati oleh perilaku karet sahabat-sahabatku itu. Sial bisikku. Berulang kali melirik jam yang melingkar apik di pergelangan kiri ini, tetap saja tiap lintasan detiknya belum membawa rombongan mereka tiba.
Hari ini aneh, pikirku. Terminal tidak seperti biasanya, walau masih banyak orang berkeliaran dengan tas-tas dan koper masing-masing, banyak polisi berseragam berdiri di pojokan jalanan raya. Diantaranya mengenakan seragam semacam SWOT yang aku sering lihat di TV kabel. Helmet, rompi anti peluru, pentungan dan perisai transparan besar mengena pas di tubuh-tubuh mereka. Tak masuk ke dalam akalku mengapa mereka mau merepoti dan membasah-basahi diri dibawah rintikan gerimis, berkumpul di terminal ini. Apa lagi ini hari minggu. Ah biarlah, bukan urusan ku sama sekali. Aku mengangkat bahu.
Entah mengapa tiba-tiba saja terlintas wajah Renald di benakku, seorang teman sekelas yang baru kutemukan Senin lalu. Mengingatnya membuat ku bingung, aneh dan tawar. Ada segudang penasaran yang membumbung. Masih segar ingatku ketika pundaknya bergerak-gerak tangkas nampak dari belakang kala membereskan tempat pensilku yang jatuh bercecer di lantai itu. Ia berdiri, menyerahkan tempat pinsilku lalu beranjak pergi. Cepat sekali, tanpa menatap wajahku, tanpa memberi ku time out untuk setidaknya mengucapkan terima kasih. Namun setidaknya aku cukup cekatan menangkap keseluruhan alur wajahnya, aku langsung teringat Mang Jaja, tukang kebersihaan sekolah kami. Aku nyaris tertawa lepas andai bukan di kelas.
“Kenapa mukamu?” kata Tyas, menangkap basah wajahku yang tak karuan menahan tawa.
“Bukan apa-apa, itu siapa yang tadi?” mulai bisa mengontrol raut pribadi. Tyas menyernyit, wajahnya seekspresi ketika ada lebah menggigit hidungnya.
“Itu Renald! Yang tadi merapikan tempat pinsilmu kan?” masih tidak percaya. Aku mengangguk lugu.
“Kamu belum kenal Renald!? Kita kan sudah sekelas sejak kelas sepuluh,” Tyas kecewa. Aku hanya mengangkat bahu.
“Kok aku baru tahu ya? Dia jarang aktif di kelas ya?” Membereskan kembali isi tasku. Bertanya asal.
“Ya begitu, dia kan tuli. Jadi jarang ada anak yang mau mengobrol denganya, susah nyambungnya,” kata Tyas asal saja. Ia tidak tahu kata-kata itu membuat rahangku menganga barang tiga detik, sebelum akhirnya bisa ku kembalikan ke posisi semula. Aku kaget bukan main.
“Ko bisa? Tuli, tuna rungu bukan? Tidak bisa mendengar?” Aku penasaran. Tias lagi-lagi menyernyit, alisnya naik sebelah.
“Iya, budek, tidak bisa mendengar. Katanya dia kecelakaan, ada organ telinganya yang rusak atau sejenisnya, aku juga kurang tahu pasti,” Tyas bangkit, bersiap pulang. Aku terdiam. Waw! aku baru tahu ada orang sepeti itu di kelas kita. Aku tenggelam sejenak. Renald? Tuli? Tapi bukan urusanku kan? Sambil mengangkat bahu, acuh, kemudian menyusul Tyas pulang.
Namun anehnya pertemuan pertama kami seakan seperti pematik yang menyalakan sumbu panjang yang entah ujungnya berada di mana. Ia selalu ada di sekitarku ketika aku membutuhkan seeorang. Entah itu kebetulan atau apa. Seperti saat pulpen ku tertinggal, ia tiba-tiba menyodorkan pulpennya. Aku hanya bisa tersenyum dan berterima kasih, sambil berfikir dalam hati, apa dia bisa mendengar ucapan terima kasihku. Begitu juga saat penghapusku terjatuh, saat aku ingin memungutnya, tiba-tiba saja dia sudah berdiri menggenggam penghapusku, menyerahkannya. Pada awalnya aku merasa senang karena dia ternyata orang baik.
Hingga ketika itu, saat pelajaran Bahasa Inggris, yang semua siswa diwajibkan membawa kamus Bahasa Inggris. Aku yang teledor ini jelas lupa membawa kamus. Maka bersiap-siaplah aku untuk maju berdiri di depan kelas karena memang begitu peraturan yang diterapkan oleh Pak Tejo yang galak. Minggu lalu Tyas tidak membawa kamus, ia harus berdiri di sana sepanjang jam pelajaran, setelah kena marah dan masih harus mengumpulkan tugas yang luar biasa banyak dan tidak manusiawi keesokan harinya. Apa boleh buat, malamnya aku menginap di rumah Tyas untuk membantu menyelesaikan tugas itu.
Minggu ini rupanya giliranku, aku begitu bodoh ketika pagi ini bangun terlambat dan berakhir seperti sekarang. Nafasku sudah sesak, darah tak mau lagi mengalir ke wajahku, jantungku meledak-ledak, tanganku dingin, pasrah. Ketika Pak Tejo menuju tempat dudukku, wajahku tertunduk lesu, aku sudah menyerah, pasrah tanpa sarat, menunggu tertangkap basah untuk diseret ke depan, tiba-tiba Renald muncul dari belakang, menaruh kamusnya tepat di hadapanku lalu melangkah ke depan kelas. Meninggalkanku sendirian dengan mulut menganga, dalam kebingungan. Di depan Renald berdiri sambil menunduk, mungkin karena kelelahan berteriak (teriakan yang tak mungkin didengar Renald), Pak Tejo memukul keras-keras pantat Renald dengan penggaris papan tulis, keras tanpa ampun. Renald meringis kesakitan. Aku diam, Renald menyelamatkanku. Saat itu ingin rasanya aku menguap saja.  
Awalnya semacam perasaan simpatik dan kasihan melihatnya tersisih di kelas seorang diri, ia dihindari, tak ada yang mau menemani, bahkan tak ada yang mau sekelompok. Diam-diam kulihat ia mengerjakan tugas dan mengumpulkan tugas yang seharusnya diselesaikan secara berkelompok sendirian. Hatiku tertegur, ada semacam duri mengendap di sana, kecil tapi perih.
Ingin rasanya bisa membantunya, mengajaknya membaur bersama yang lain, menjadikan dia bagian yang juga bercahaya di kelas ini. Namun sejak itu, sejak perbuatannya yang bisa dibilang berlebihan, entah mengapa ada sesuatu yang mengusikku. Entah apa, aku tak paham sama sekali. Penasaran, mungkin.
Akhirnya semuanya mengalir dalam endapan yang mebuat menjadi semacam kikuk dan kaku. Mungkin dia menyukai ku, kasarnya seperti itu, tapi aku tak mengira bisa menerima perasaanya. Tak tahu kenapa, pokoknya sulit saja. Andai saja dipaksa menengok lembah terdalam hatiku, mengorek-ngorek sisi yang masih bening di sana, mungkin jawabannya adalah karena keadaanya yang demikian, ia tuli.
Egois dan jahat, tapi bukankah semua anak gadis ingin memiliki pacar yang keren, setidaknya normal? Maksudku…ah pasti kalian paham. Karenanya,  menerima semua perlakuannya itu, sungguh membuatku merasa tidak nyaman, risih, dan…sejujurnya aku tak ingin terlalu berhubungan dengannya lagi, juga tak ingin punya hutang budi darinya.
Jarum panjang merangkak ke angka tiga dari dua belas, meninggalkan jarum pendeknya sendirian di tujuh. Jam yang terlihat berkilau dan basah efek cipratan gerimis masih melingkar manis di pergelangan kiriku. Gerimis reda. Awan-awan mulai menguap dan memamerkan matahari milik mereka. Walau masih agak malu, pesona kilau matahari mulai menyapu daratan pelan. Burung-burung yang tadinya berteduh di pepohonan pemayung jalan kini mulai beriak-riak, titik-titik hitam mereka makin ramai di angkasa. Di ujung jalan sebelah timur, ada segerombolan besar orang dengan sepanduk dan poster yang mengacung, berjalan perlahan menuju tempatku berdiri. Detik selanjutnya aku sadar kenapa bapak-bapak polisi ini berkeliaran banyak di sekitar terminal. Rupanya mereka akan mengawal para demonstaran yang baru saja kulihat. Aneh ya? kenapa mereka berdemo di hari minggu? Bukankah semua kantor pemerintahan libur ketika minggu, aku angkat bahu.
Aku mengorek isi tas, mencari HP. Aku ingin tahu dimana Tyas dan teman yang lainnya sekarang, kenapa mereka belum juga muncul? Aku girang karena setelah agak lama akhirnya aku menemukan HP-ku, tapi wajahku kembali lesu, HP-ku mati, baterainya habis. Sial, lagi-lagi lupa men-charge. Aku menendang aspal kesal. Detik berikutnya aku tak faham ada apa. Mugkin karena dari tadi perhatianku terpusat pada HP yang ku genggam, aku kaget ketika tiba-tiba banyak orang berlarian menghambur dari terminal, polisi yang sedetik lalu masih nampak santai kini berlarian rusuh ke arah timur. Mirip gerombolan bison dikejar singa padang rumput di National Geographic Channel. Kerumunan demostran itu sedang rusuh, merusak apa saja yang ada di dekat mereka, meneriakan yel-yel yang tak kupahami, membakar ban, sepeda motor bahkan angkot yang lewat. Ledakan berdentuman akibat bom molotok dan petasan. Melihat polisi mendekat, mereka melempar batu dan segala macam benda ke arah polisi. Beberapa polisi terjatuh, merasa ditantang, barisan polisi berlarian makin liar, menerjang dan memukul apa saja manusia dihadapan mereka. Terdengar suara pecah dari pistol yang diacungkan ke udara. Kerumunan demonstran yang banyak sekali itu bubar, berantakan ke segala arah, bak semut berlarian karena hujan, menyelamatkan diri dari kejaran polisi-polisi yang tersulut amarah. Polisi yang menangkap demonstran menghantam tanpa ampun punggung, kepala, atau apapun bagian tubuh mereka dengan pentungannya. Ada yang tergeletak, terinjak, darah mengalir dari kepala mereka. Bahkan pedagang yang tanpa ciri-ciri demonstran pun kena hantam. Wartawan lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Semua orang gelap mata saat itu. Kacau dan mengerikan!
Aku sendiri, berdiri dengan kaki lemas, kacau dan kaget. Dihadapanku sedang terjadi kekacauan yang sangat. Banyak orang terjatuh, terbanting, terinjak. Beberapa orang yang lepas dari polisi berlarian melewatiku dengan tangan memegang kepala yang berdarah-darah, satu orang terjerembap tepat dihadapanku, darahnya tercecer merah, kemudian bangkit dan berlari lagi. Aku merinding hebat, seumur hidup baru pertama aku melihat darah sebanyak itu mengalir dari tubuh manusia. Kupaksakan kaki ini berlari, untuk menyelamatkan diri, namun ia tak mau menurut. Kakiku terlalu lemas. Sial! Bisikku, aku nyaris menangis. Jantungku berderu cepat, wajahku memucat hebat, kakiku kaku, tanganku dingin dan basah, badanku menggigil kuat. Aku terlalu takut. Makin banyak orang dengan ekspresi ketakutan berdatangan ke arahku, di belakannya gerombolan polisi mengejar dengan mata merah menyala dan pentungan mengacung-ngacung tinggi. Aku memejamkan mata, tak kuat menatap pemandangan mengerikan itu.
Di saat genting seperti itu, disaat aku nyaris pasrah, disaat aku sudah siap pulang dengan banyak luka gerusan di tubuhku, seseorang menggenggam lenganku, menarikku, memaksaku berlari. Hati ku melengos, itu seperti Renald. Aku mengerjapkan mata, memastikan pandanganku tidak salah. Itu memang Renald, wajah yang seperti Mang Jaja, tidak salah lagi itu Renald. Dia sekarang ada dihadapanku, menggenggam lenganku, memaksa kaki sialan ini berlari. Tak banyak yang ku pikirkan, saat itu insting primitif untuk menyelamatkan diri sedang mengambil alih. Aku mengikuti Renald berlari menjauh, bergabung dengan orang-orang, lalu berbelok ke tempat sepi, mencari perlindungan, menyelematkan diri. Aku tak tahu kenapa Renald ada di sini dan lagi-lagi menyelamatkanku. Aku tak peduli. Aku selamat.
Kali ini, bukannya merasa risih, aku malah bersyukur, sangat bersyukur malah. Aku tak tahu apa yang akan kualami jika tadi Renald tidak menarikku. Kami kelelahan, keringat mengucur deras dari keningku, nafasku tersengal, aku terjatuh, lututku luruh menyentuh tanah, baru pertama aku lari sekencang itu. Aku tahu Renald tak jauh beda, tanganya runtuh di atas lututnya, nafasnya terdengar memburu, wajahnya merah, terlalu banyak darah yang naik ke sana.
“Kau tidak apa-apa?” katanya tiba-tiba, masih tersengal, berusaha menstabilkan paru-parunya. Pundaknya naik turun brutal. Aku hendak menjawab, tapi suaraku tertahan di ujung lidah, aku kebingungan.
“Aku sudah terbiasa membaca gerak bibir orang lain,” katanya, tak ada ekspresi tersinggung. Aku tertegun, mematung, selama ini aku benar-benar berpikir kalau dia mutlak tidak bisa (mendengar) berkomunikasi dengan orang lain.
“Baik-baik saja, terima kasih banyak,” suaraku lirih sekali, mungkin lidahku belum yakin kalau Renald mampu menangkap kata-kataku. Tapi Renald mengangguk pelan, ia faham.
“Sama-sama,” katanya, Ia terduduk, tangannya memegang pinggang bagian atas, kakinya diluruskannya. Aku tersentak, dia benar-benar mengerti.
Selama beberapa menit, hingga nafas kami normal, kami terkurung  bisu. Baik aku maupun Renald tak ada yang berbicara. Kami sibuk menghisap sebanyak mungkin oksigen dan mensyukuri bahwa masing-masing kami masih bugar. Tapi itu tidak berlangsung lama, setidaknya bagiku. Ini pertama kalinya aku dan Renald sedekat ini, maksudku walau ia duduk di belakangku di kelas, tapi ini petama kalinya aku bisa mengucapkan terima kasih secara langsung kepadanya. Ini juga pertama kalinya aku tahu ia bisa membaca gerak bibir.
“Terima kasih untuk semuanya,” kataku. Aku kaget bisa-bisanya aku membuka pembicaraan. Renald tersenyum, baru pertama aku melihat senyumnya, ada lesung pipit di sana. senyumnya manis. Detik berikutnya refleks memalingkan pandanganku. Wajahku kepanasan.
“Kenapa kau baik sekali padaku, maksudku, bahkan kita tak pernah tegur sapa sebelumnya kan?” kata-kata itu mengalir begitu saja, efek penasaran yang mengendap pekat. Renald tersenyum lagi, wajahku makin panas.
“Kau masih ingat pernah membantuku berdiri ketika aku terjatuh di tangga sekolah? Waktu itu sehari sebelumnya aku baru pulang dari rumah sakit, aku masih menggunakan tongkat jalan dan gips di kakiku?” Ia tersenyum lagi. Ada aroma kesepian yang pekat dari suaranya. Aku diam, kalau tidak diingatkan aku pasti sudah lupa. Aku baru tau kalau orang itu adalah Renald. Hanya karena itu dia mati-matian menolongku? sepele padahal.
“Aku suka padamu sejak saat itu,” ia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Awan-awan dilangit mulai mengumpul lagi, sebentar lagi akan hujan.
“Aku tahu kau merasa risih, jijik, menganggapku hina, menyebalkan, bahkan benci padaku karena aku ini tuli. Tapi itu tidak apa-apa…
“Setidaknya sekarang kau tahu kalau aku ada,” wajahku menghangat, air mataku runtuh. Gerimis turun lagi pagi ini.[]

20110127

gerimis

Di luar angin deras menerpa apa saja yang ia lewati tanpa ampun. Walaupun di dalam sini hangat, dia menutup retsleting jaketnya sampai habis kemudian menaikkan kerah hingga menutupi lehernya yang kurus dan hitam oleh lingkaran daki. Ia menyeruput secangkir kopi hitam yang ada di hadapannya. Cairan hangat berwarna hitam yang agak pahit dan mengandung banyak caffeine menerobos sela-sela kerongkongannya, berakhir di dalam perut di antara lantai dan langit-langit lambung. Hangat, nikmat dan pahit.

Rambutnya hitam tak terurus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Memang akhir-akhir ini hidupnya tidak tenang hingga dia tidak bisa menikmati mewahnya tidur delapan jam. Dan seperti kebanyakan temannya, sejumput kecil janggut bertengger di ujung dagunya. Tentu saja tak selebat teman-temannya. Milikinya tipis, lembut dan jantan menawan.

Mungkin gara-gara janggutnya yang tipis dan tak ketara itu lah dia masih bisa menikmati kopi hangat di hari yang mendung ini. Berbeda dengan teman-temanya yang lain, beberapa sudah tertembak mati. Mereka tidak rela digelandang ke kantor polisi untuk diintrogasi, dipaksa menyebutkan nama-nama sahabat seperjuangan mereka. Lebih baik mati ditembak dari pada mengkhianati sahabat sendiri. Tak terasa senyum getir tersungging di wajahnya, hal itu berlangsung beberapa detik kemudian wajahnya datar lagi.

Ia menatap tas ranselnya, memegangnya kemudian beralih menyeruput kopi hangatnya lagi. Lambungnya kembali terisi. Tapi kenikmatan seruputan yang ke dua ini berkurang ketimbang yang pertama tadi.

Warung kopi ini ramai. Memang dia harus berada di tempat yang ramai. Bangku panjang yang ada di depannya terlihat reot, tapi tak ada satupun orang yang peduli, padahal bangku itu telah terisi tiga pantat penarik ojeg. Mereka tertawa lepas karena celotehan temannya. Gigi-gigi hitam dan kuning yang terbakar caffeine dan nikotin mereka perlihatkan tanpa malu, karena semua orang di sini pun begitu.

Ironi. Banyak orang di luar sana yang hoby menumpuk harta, hingga tak akan habis dimakannya sendiri, tetapi kebahagiaan jijik untuk mendekap mereka. Justru tukang ojek ini, yang hidupnya pas-pasan lah yang menjadi sahabat karib sang kebahagiaan itu. Laki-laki itu tersenyum lagi.

Obrolan meraka macam-macam. Mula dari gosip murahan tentang janda kembang yang tempo hari terlihat bersama seorang laki-laki yang mereka sebut pacar barunya hingga tingkah laku anggota dewan yang dilakukan di gedung aneh yang disebut gedung MPR RI. Jika ada mahasiswa yang mendengar tema mereka yang terakhir itu, pasti akan geleng-gelang kepala sambil tersenyum, betapa so tahunya mereka tentang perpolitikan. Walau begitu tetap saja hidup meraka bahagia.

Laki-laki ini ingin segera beranjak dari warkop, karena sebentar lagi keretanya akan berangkat. Tetapi kopi di depannya masih setengah penuh. Ia enggan meninggalkan godaan ini. Jarang sekali ia bisa berada di tempat kesukaannya. Duduk melamun di temani secangkir kopi sambil mendengarkan celotehan di sekitarnya. Sebenarnya ia suka sekali berada di tempat ramai. Ia merasa aman karena ia tidak sendirian, banyak orang di sekitarnya. Dan tentu saja, yang paling menarik adalah banyak orang yang bisa dia amati.

Ia bisa menebak-nebak apa yang orang pikirkan dari raut wajahnya. Apa saja yang meraka bawa, dari golongan mana mereka. Dan apakah meraka bahagia….Hmmm, bahagia. Kata yang sangat abstrak baginya. Selama ini dia sulit menemukan kebahagiaan. Sudah letih dia. Mungkin dulu pernah satu kali pernah merasakan kebahagiaan. Waktu Iedul fitri terakhir bersama orang tuanya. Namun itu sudah lama sekali. Pingin rasanya pulang ke rumah lagi. Menyantap masakan ibu. Memancing bersama ayah. Senyum terajut lagi di bibirnya yang kering, namun matanya berair. Ah sudah lama sekali. Tapi untuk saat-saat ini ia tidak bisa pulang. Setidaknya ia tahu orang tuanya masih hidup sehat di rumah. Itu pun cukup.

. . .

“ Saya sudah sampai di stasiun, sekarang harus kemana?” seharusnya suaranya terdengar ringan dan renyah. Mungkin karena beban yang sangat berat yang telah ia pikul sejak lama, suaranya terdengar sangat menderita lebih mirip jeritan.

“ Beli tiket ke arah jawa timur, sejauh mungkin ke timur ” kata seseorang di balik HP satunya lagi.

“ Tapi kemana? “

“ Pokoknya jauhi Jakarta dulu. Nanti setelah masuk jawa timur akan ditelpon lagi.”

Hening sejenak. Laki-laki berjanggut itu menengadah ke langit. Cakrawala semakin kelabu. Kilat mulai menjilat-jilat tanah di kaki langit sebelah timur. Sekarang aku harus menuju kilat itu bisiknya dalam hati.

“ Kamu mengerti kan?”

Di cakrawala timur sana awan terlihat lebih tebal dan hitam, samar-samar awan terlihat tumpah ruah. Di sini pun sepasukan tetesan gerimis nangkal mulai melompat-lompat dari angkasa. Memercik di permukaan rambutnya yang tipis dan jidatnya yang sedikit menghitam.

“ Halo? Sidiq? Kamu masih di sana kan?”

“ Iya pak, saya masih di sini” sekarang suara Sidiq merintih, seperti sedang melakukan pengaduan dosa.

Ada apa anak ku?” suara itu mencoba menenangkan, rasanya ia memahami rintihan Sidiq.

“ Saya tak kuat lagi pak. Rasanya sejak saya memulai ini, saya tak pernah merasakan bahagia lagi pak…” katanya mendesah

“ Anakku Sidiq, kau tahukan di dunia ini tak ada kebahagiaan yang hakiki. Ingat surga bagi para mujahid yang Allah janjikan? Surga yang diliputi semua kebahagiaan. Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Surga dimana kita akan dapat kebahagiaa terbesar yaitu melihat Allah. Kau masih ingatkan anakku“

“ Iya pak saya ingat “

“ Baiklah, sekarang lakukan instruksi tadi, semoga Allah bersama mu. Assalamu’alaikum” lalu terdengar bunyi ‘nuuuut’ di kejauhan

Wa’alaikum salam, katanya dalam hati.

Sidiq segera bergegas menuju stasiun. Hujan sudah mulai menggila mendera tanah. Aroma debu dan tanah yang basah mulai tercium di mana-mana. Orang-orang seperti semut mengerubuti gula berebut menuju tempat-tempat teduh. Jika dilihat dari atas, bermunculan lingkaran-lungkaran payung warna-warni. Warna-warninya sangat tidak cocok dengan kelabunya hati Sidiq dan warna langit saat ini.

Ketika berlari menembus orang-orang yang sibuk berteduh menuju stasiun, ada seorang pengemis cacat yang kesulitan bergerak. Tampangnnya sangat mengenaskan. Ia juga hendak pergi berteduh. Tangannya terlihat tidak wajar dengan ukuran tubuhnya yang terlalu kecil. Dan kakinya buntung sebelah. Ketika Sidiq memandangnya. Tiba-tiba wajahnya memucat, kepalanya pusing luar biasa. Dalam benaknya, sperti slide presentasi power pointnya dulu waktu kuliah, bermunculan kelebatan wajah teman-temannya, gedung yang rusak, arang di mana-mana, bau daging hangus, potongan-potongan tubuh manusia, mayat-mayat dengan tatapan kosong, onggokan daging, cipratan darah di mana-mana. Memorinya akan peledakan sebelumnya kembali muncul, entah sudah ratusan kali tetapi rasa berdosanya malah makin menjadi. Mendesak ke ubun-ubunnya.

Perutnya mual, segelas kopi pekat tadi ingin menerobos keluar lagi. Tubuhnya menggigil hebat. Dadanya bergemuruh. Lututnya lemas. Ia segera mencari pegangan agar tidak jatuh. Hujan makin deras. Tapi dia tidak peduli. Bajunya mulai basah di sana-sini. Air hujan mengalir melalui guratan-guratan wajahnya yang terlihat tua dan menderita, tatapannya kosong, aliran airnya berakhir di ujung janggutnya yang tipis kemudian melompat terjun ke tanah.

“ Kenapa pak?” Sidiq tersentak. Kesadarannya mulai pulih. Ia mulai bisa menguasai dirinya. Ternyata yang bertanya adalah pengemis cacat tadi. Ia menatap Sidiq penuh kasihan. Tatapan meraka bertemu, saling menerobos benak lawan bicaranya masing-masing. Sungguh hina hidup ku pikir Sidiq, sampai pengemis cacat ini mengasihani dirinya. Ia mengangkat tubuhnya, menegakkan badannya. “ Ga apa-apa ko mas” katanya. Kemudian bergegas menuju stasiun.

Jarak tempat dia nyaris roboh tadi dengan stasiun hanya beberapa meter. Namun bagi Sidiq, itu adalah jalan kaki yang paling melelahkan selama hidupnya. Semua gambaran kengerian itu muncul dengan jelasnya. Sejak bom Bali dulu, sekarang dia lah kurir untuk setiap operasi organisasi. Rasa bersalah terus menghantui hidupnya. Teriakan orang-orang sekarat waktu itu, onggokan daging hangus itu, bau anyir dari darah itu. Walaupun ada yang selamat, cacat adalah hal yang harus mereka tanggung tanpa tahu apa sebab mereka menerima itu. Semua bayangan mengerikan itu selalu menghantui kehidupannya. Makanya ketika berpapasan dengan orang cacat tadi, bayangan yang selalu menghantuinya menjelma menjadi monster yang benar-benar nyata baginya.

Sudah sekitar lima tahun ia terus bersembunyi. Melarikan diri dan membaur dengan manusia. Tidak hanya dari polisi, tetapi juga dari batinnya yang berontak. Ini lah yang paling membuatnya kelelahan. Ketika dia bekerja, berarti akan ada operasi lagi. Operasi menandakan akan ada orang yang mati lagi. Perutnya semakin mual.

Operasi mereka di Bali boleh di bilang sukses. Dari perencanaan, supplyer jaringan hingga eksekusi operasi semuanya tidak tercuim oleh polisi dan intel. Waktu itu aparat masih belum ngeh. Sehingga semua rangkaian operasi mereka lakukan dengan leluasa tanpa hambatan yang berarti. Tapi sekarang keadaannya jauh berbeda. Polisi dan intel di mana-mana. Jika mereka tidak berhati-hati maka semua akan terbongkar, mirip petasan berantai. Ketika satu tersulut api, maka petasan yang lainnya tinggal menunggu untuk tersulut juga. Intel Indonesia sangat cerdas. Semuanya harus sempurna. Tidak boleh ada celah. Begitulah prinsip kerja mereka untuk menghukum orang-orang barat. Padahal Sidiq tahu bahwa orang-orang itu tidak tahu apa-apa sama sekali.

Ketika sampai di pintu masuk stasiun ternyata ada dua polisi. Sidiq berhenti sejenak. Menunggu dan mengawasi. Ada seorang ibu masuk ke stasiun, kemudian polisi memerintahkan sesuatu. Wanita itu menyerahkan tasnya lalu membuka dan memperlihatkan isinya. Kemudian polisi itu mempersilahkan masuk.

Ini pun telah diperkirakan oleh bagian perencanaan. Ia masuk ke satasiun. Lalu polisi menyuruhnya membuka tasnya. Mereka memeriksa isinya dan mendekatkan sebilah logam ke tas Sidiq. Di dalamnya ada al-quran, kitab-kitab dan sebuah kantong plastik yang berisi banyak mainan dan boneka anak. “ saya penjual mainan pak” kata Sidiq tenang, sudah sering dia berakting di depan petugas.

Ia di persilahkan masuk. Kemudian bergegas membeli tiket jurusan paling ujung di jawa timur. Pemberitahuan di speaker menggema di seantero stasiun. Ia pergi mengikuti petunjuk suara speaker tersebut menuju peron ke-5. Kali ini, karena gundah yang sangat ia tidak memperhatikan sekitar dulu. Ia langsung naik kereta. Mencari tempat duduk yang kosong dan duduk di kursi dekat jendela yang terletak dekat dengan pintu belakang gerbong ini.

Secara keseluruhan gerbong itu ramai. Begitu juga di luarnya. Terlihat dari kaca jendela samping banyak orang berjalan lalu lalang. Beberapa orang berjalan cepat sambil memandangi jam tangannya. Di depan tempat duduknya ada seorang laki-laki berjanggut lebat sedang merapihkan isi ransel besarnya. Orang-orang lain di dalam sini juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Beberapa saat kemudian ada seorang pemuda beransel masuk melalui pintu yang ada di depan Sidiq, berdiri sejenak menyapu seluruh gerbong dengan pandangannya, berjalan melewati Sidiq dan duduk di pojokan paling belakang, aroma parfum paris tercium jelas. Ia kemudian membentangkan Koran untuk mebacanya, wajahnya lenyap di balik Koran tersebut.

Sidiq merebahkan punggungnya ke kursi. Menarik nafas panjang dan berusaha menghilangkan was-was dan segala macam hal yang bertautan kusut di benaknya. Amanah yang ia bawa harus tersampaikan katanya menegaskan dalam hati. Suara speaker menggema lagi, tak jelas terdengar dari dalam gerbong. Bersamaan dengan gemanya, terdengar gema sol sepatu prajurit berlarian memantul-mantul di kejauhan. Sidiq tersentak kaget. Di luar terlihat beberapa polisi dan tentara berpakaian gelap berlarian ke arah gerbongnya, menerobos kerumunan. Kejadiannya sangat cepat hingga ia tak sempat melakukan sesuatu. Pasukan itu langsung menerobos masuk gerbong melalui ke dua pintunya yang berada di belakang dan depan siddiq, lalu masing-masing menodongkan sebilah revolver dan sejenis magnum ke arah Sidiq. Dia kaget setengah mati. Jantungnya memberontak. Adrenalin memompa menderu memaksa darahya menyerobot pembulu darah yang menyusup melewati seluruh lipatan daging. Dia sudah terkepung. Polisi berhasil melacaknya, setelah lima tahun menyembunyikan diri dan lari. Dia terjebak di antara polisi dan tentara di dalam gerbong kereta kotor ini. Sidiq menyerah, ia pasrah akan apapun yang akan menimpa dirinya beberapa detik lagi. Akhirnya ia tertangkap.

“ Angkat tangan!!!! Jangan bergerak!!!” kata seorang petugas. Detik berikutnya, dua orang petugas menghantam pundaknya dan meringkus laki-laki berjanggut tebal yang duduk di depannya. Sidiq membatu hingga petugas tadi berhasil menggelandang laki-laki tadi keluar dari gerbang sedangakan satu petugas lain mengamankan bawaannya. Ia bingung sesaat. Hawa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya. Bak tersengat halilintar, tubuhnya kaku. Bahkan paru-parunya enggan disuruh bernafas. Orang berjanggut tebal itu terus meronta-ronta. Menjerit dan berteriak membela diri namun tidak ada petugas yang peduli.

Ketika agak bisa menguasai tubuhnya, ia merebahkan punggungnya lagi dan memperbaiki nafasnya. Ia sangat shock dan kelelahan. Setelah semua yang dialaminya, tubuhnya merasa amat letih. Ia memeluk erat ranselnya. Ia berusaha mencerna apa yang terjadi. Mereka salah tangkap. Ia lega tidak harus menyebutkan nama-nama sahabat-sahabatnya di ruang introgasi, tapi ini berarti beban yang ia pikul masih belum bisa ia letakkan.

Matanya terus mengawasi pemandangannya yang disuguhkan jendela kereta. Tiang listrik satu persatu muncul dan menghilang, pepohonan, rumah penduduk seakan melakukan tarian pengiring tidur di bawah naungan hujan. Mereka mengantri menunggu untuk mampir dalam pandangan Sidiq. Beberapa menit kemudian, matanya terasa sangat berat. Sekarang ia benar-benar kelelahan. Tubuhnya menagih untuk diistirahatkan. Nafasnya berangsur-angsur mulai teratur. Tak lama Ia benar-benar terlelap.

Wajahnya terlihat sangat kelelahan, keberatan menanggung beban dan terlihat lebih tua dari umurnya. Tentu saja janggut tipisnya masih menghiasai wajahnya yang secara keseluruhan kurus dan terlihat menderita. Tapi kali ini ketenangan dan kedamaian membungkus itu semua. Entah sampai kapan, dia takan pernah tahu apa setelahnya dia akan lolos lagi atau tertangkap petugas.

. . .

“ Target ada di gerbong yang saya naiki, meminta instruksi selanjutnya”

“ Sidah di cek apa benar-benar positif?”

“ Positif pak!”

“ Jangan lakukan apa-apa, sebuah tim sedang disiapkan di stasiun selanjutnya. Kita sudah berminggu-minggu menguntitnya. Komandan ingin dia hidup-hidup untuk di introgasi”

“ Siap pak!”

Kemudian ia mematikan alat kominikasi dua arahnya. Wajah orang itu masih tak terlihat dari arah Sidiq karena tertutup kertas koran yang lebar. Sedangkan Sidiq, dia sedang menikmati hidangan makan malam di ruang makan rumahnya, bersama ayah, ibu dan semua sahabatnya di alam mimpi. []

*ini cerpen  pertama saya :)