20170416

Green House 2

“Itu ya anak yang kemarin jalan bareng Ryan?”

“Ih, ngga banget ah,”

“Biasa aja,”

Tiba-tiba pagi itu sekolah ramai oleh celotehan dengan nada sama seperti di atas. Kaget, tak percaya melecehkan dan sejenisnya.

Becca sebenarnya tak terlalu peduli. Ia lebih memilih memasang ear set ketika memasuki kelas lalu bersegera duduk di kursinya, di pojok belakang dekat jendela.  Ia mengencangkan volume HP yang lagunya sudah di update tadi malam. Ayahnya akhirnya mengizinkannya mengakses fasilitas internet di rumahnya.

Ia menyibukkan diri menunggu bel masuk dengan mengecek PR yang tadi malam ia kerjakan, ia menghalangi dunia luar mengusik dirinya. Ia tidak mau ambil pusing, toh di sekolahnya yang lama juga ia diperlakukan sama. Anak-anak ‘normal’ lainnya sering membicarakannya di belakang. kadang lebih pedas.  

Ada satu lagi kejadian pagi itu yang membuat sekolah lebih heboh.

Seorang anak kelas X (dia tinggal kelas, harusnya sudah kelas XI) yang baru keluar dari rumah sakit dan kena sanksi skors masuk sekolah.

Bahkan pak satpam terlihat muak ketika anak ini melangkah melewati gerbang sekolah. Anak-anak yang tak sengaja berpapasan dengannya terpaksa menunduk. Tak ada yang berani menatap langsung wajahnya. Kalau bisa memilih mereka lebih suka mengambil jalan memutar atau bahkan berhenti agar tidak berpapasan atau searah dengan anak ini.

“Yogi!” Pak Seno berteriak dari ruang guru.

Yang dipanggil Yogi menoleh, mencari sumber suara.

“Sini kamu!” agak membentak, sambil melambaikan tangan.

Anak itu beringsut kesal.

“Ya pak,” katanya. 

Sekali lihat kau tidak akan suka mendapat tatapan seperti itu. Ada sesuatu yang salah dengan anak ini. Pak Seno bisa merasakannya. Bertahun-tahun menjadi Guru BP ia menjadi tahu mana anak yang masih bisa ‘diperbaiki’ mana yang tidak. Yogi adalah yang terakhir.

“Kamu tahu kan ini peringatan terakhir dari sekolah?”

Yogi mengangguk, malas menjawab.

“Bapak ngga mau memanggil kamu ke ruang BP lagi, karena itu artinya kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini. Itu perjanjiannya dengan orang tuamu,”

Pak Seno mengeluarkan semua aura intimidatifnya, berusaha agar Yogi mau menurut. Ia sudah bersiap marah kalau ternyata anak ini masih sulit diatur.

“Baik pak,” Jawab Yogi.

Pak Seno mengerjap, tak siap dengan jawaban Yogi, sehingga terdiam. Nampak kebingungan dan kehilangan wibawanya sejenak.

“Saya sudah boleh ke kelas?” tanyanya, sopan.

Pak Seno mengangguk akhirnya, setelah terdiam beberapa detik.

Yogi mencium tangan Pak Seno lalu melangkah menuju kelasnya, meninggalkan wajah pak Seno yang masih terkejut.

Pintu kelas terbuka, Yogi melangkah.

Kepalanya plontos potongan Tamtama. Badannya tidak bisa dibilang tinggi besar, tapi seperti rata-rata anak laki-laki lainnya. Namun dari balik seragam putih abu yang tak pernah ia masukkan itu ototnya terlihat padat. Mungkin karena sering tawuran dan berantem badannya terbentuk seperti itu.

Menurut desas desus, tahun lalu dia pernah memasukkan empat kakak kelasnya yang hendak memberinya pelajaran karena tidak ikut MOS ke rumah sakit, dan baru keluar seminggu kemudian. Bagaimanapun ‘menangani’ empat orang sekaligus bukan perkara mudah. Walau ia juga mendapat luka di mana-mana.

Entah benar atau salah desas desus itu, yang pasti, sebulan yang lalu ia memimpin penyerangan ke sekolah tetangga. Hasilnya ia masuk rumah sakit karena luka-luka yang serius. Itu membuatnya di rawat selama tiga minggu, plus skors seminggu sebagai hukuman.  

Hal itu cukup membuat seisi sekolah menjauh dan tak mau mencari masalah dengan anak ini. Ia melangkah, menembus barisan kursi menuju kursi belakang.

“Ini kursi gua,” katanya.

Becca mendongak.

Anak-anak di kelas terdiam.

Becca dengan tenang melepas headsetnya, “sorry?” katanya.

Yogi menatap tajam anak ini. Mood-nya sedang tidak enak gara-gara tadi Pak seno membentaknya pagi-pagi. Jangan sampai anak ini jadi korban.

“Ini kursi Gua!” katanya, kali ini agak membentak.

Beberapa anak yang kebetulan lewat situ berhenti, menonton.

“Aku sudah duduk di sini sejak sebulan yang lalu, pojok sana kosong, kalau kamu mau,” jawab Becca.

Kelas terdiam.

Wajah Yogi memerah. Ubun-ubunnya terasa panas.



“Tahu ngga, si Yogi itu udah masuk hari ini katanya,” kata Rudi.

“Yogi mana?” tanya Ryan.

“Yogi yang itu, masa ngga tahu?”

“Ooh,” Ryan mengangguk pura-pura tahu, padahal tidak.

“Eh Lu tau Becca ngga?” Tanya Ryan.

“Becca mana?”

“Yang pindahan itu,”

“Oh Rebecca anak X-B, yang namanya bule tapi tampangnnya ngga?”

“Lu tahu?” Ryan antusias.

“Hmm, dia anak aneh yang ngga punya temen kan? Di kelas juga ngga ada yang nyapa, katanya kalau diajak ngobrol juga ngga nyambung. Gitu sih,” Rudi selalu bisa diandalkan kalau mengenai hal-hal seperti ini. Bagi Ryan yang kuper, berteman dengan Rudi adalah berkah yang tiada tara.

Mereka berbelok dari arah kantin lalu menemukan ada kelas yang ramai dijejali anak-anak.

“Ada apaan sih?” bisik Ryan.

“Gatau, “ Rudi bergegas, ia tak ingin ketinggalan, pasti ada hal yang seru.    

Ryan mengintip dibalik kerumunan, menemukan Becca sedang berhadapan dengan seorang anak laki-laki berambut cepak.

“Ini Kursi Gua!” bentak anak cepak itu.

“Aku sudah duduk di sini sejak sebulan yang lalu, pojok sana kosong, kalau kamu mau,” jawab Becca.

Yogi mencengkram lengan kanan Becca!

Pulpen yang tadi ia peganng terpental ke lantai.

“Pindah ngga lu!” geram Yogi.

Seisi kelas dan anak-anak di luar yang menonton terdiam, tak ada yang bergerak.

Becca meringis kesakitan.

“Woy panggil guru, “ seseorang berbisik.

“Lu mau mati?” sesorang lagi berbisik.

Kemudian mereka sama-sama sadar, jangan ikut campur jika ingin selamat.

“Mati tuh anak…” Rudi berbisik.

“Pokoknya lu jangan berurusan sama anak cepak itu ya, Yan,” bisik Rudi lagi.

“Cowok ngga boleh nyakitin perempuan,” Ryan sudah berdiri di antara Becca dan Yogi.

Tangannya mencengkram tangan Yogi yang mencengkram tangan Becca.

Becca masih meringis, dia hampir nangis.

Rudi menjerit tertahan. sejak kapan Ryan ada disana!

“Lepasin!” suara Ryan terdengar serius, cengkaramannya mengencang.

Yogi menegadah menahan sakit, menatap tajam Ryan yang beberapa centi lebih tinggi darinya.

Detik berikutnya, kerah Baju Ryan dijambak Yogi, walau tubuhnya besar ia terdorong ke belakang, menabrak meja. Ryan terkesiap kaget. Tenaga anak ini ngga main-main.

“Mau cari gara-gara?!” desis Yogi didepan hidung Ryan penuh nafsu.

Ryan nyaris jatuh untungnya dia masih bisa menahan kuda-kudanya.

Ryan bisa melihat jelas guratan wajah Yogi, matanya tajam seringainya mengerikan dan mengintimidatif. Cukup membuat anak cupu kencing di celana.

“A.. aku pindah, “ desis Becca. Air mata tipis melapisi bola matanya.

Ia buru-buru membereskan tasnya lalu pergi ke kursi lain.

Bell masuk berdering.

Ryan dan Yogi masih saling bersitatap tegang.

Yogi melepas cengkramannya, Ryan terbatuk. Yogi kemudian menaruh tasnya dan duduk. 

Ryan berusaha membenarkan nafasnya, lehernya terasa sakit. Yogi ini, walau badannya lebih kecil, nyalinya besar sekali. Beberapa kali Ryan menghadapi berandal di SMP, biasanya anak yang lebih pendek darinya akan merasa gentar, tapi anak ini tidak sama sekali.

Kali ini Ryan tak peduli, ia tak meu memperpanjang urusan dengan Yogi. Ia segera menuju Becca.

“Kamu ngga apa-apa?”

Becca menggeleng, ia sudah manghapus air matanya.

“Kamu harusnya nurut saja pindah, ngga perlu kaya gini,” bisik Ryan.

Becca mengangguk. Ia masih bergetar karena ketakutan.

Rudi menghampiri.

“Lu ngga apa-apa, Yan?” tanya Rudi khawatir.

Guru masuk ke kelas itu, anak-anak mulai mengisi kursinya masing-masing. Kerumunan depan kelas membubarkan diri.

“Nanti istirahat aku ke sini lagi,” kata Ryan sambil mengelus kepala Becca, kemudian pergi.

“Beneran ngga apa-apa?” suara Rudi terdengar menjauh.

Becca masih kaget. Dia tidak takut pada Yogi, ia hanya kaget tiba-tiba dibentak lalu tangannya dicengkram seperti itu. Ia mengelus lengannya yang memerah bekas dicengkram.

Ia juga merasa tidak enak karena nyaris ada perkelahian karena dirinya, untung dia langsung bilang segera pindah kalau tidak, akan jadi apa tadi. Tangannya masih gemetar padahal ia sudah berusaha menormalkan nafasnya.

Yogi menghembuskan nafas. Tangannya masih bergetar, sisa adrenalin masih mengaliri darahnya.

Sialan! 
Ia kira barusan ia akan benar-benar berkelahi lagi.Tangannya sudah tinggal sedikit lagi mengayun menonjok anak bongsor tadi. Untung bisa ia tahan. Sebenarnya  Ia tak mau dikeluarkan dari sekolah. cukup sudah ia di marahi guru-guru, tak mau hingga Ayahnya juga ikut-ikutan marah.

Tapi anak perempuan ini benar-benar mebuatnya kesal. Tambah lagi anak bongsor sialan yang sok jadi pahlawan kesiangan itu. Untung bell masuk segera berbunyi dan anak itu mau pindah.

Benar-benar deh. Padahal ini hari pertama Yogi masuk sekolah.


Yogi menghembuskan nafas (lagi).

20170401

Green House 1

Siang itu, sepulang sekolah, dari lorong-lorong kelas masih terdengar celotehan anak-anak, langkah-langkah kaki dan detik jam yang menggantung di dinding kelas.

Sejam yang lalu bel pulang sekolah berdering. Kebanyakan anak langsung pulang untuk langsung ke rumah, sebagian pergi ke tempat les, sebagian pergi kerja kelompok ke rumah teman, sebagian lagi tetep tinggal untuk  melakukan aktifitas eskul.

Di bagian selatan lapangan upacara berdiri pohon beringin tua yang memayungi sekolah. dahannya yang lebar dan daunnya yang rimbun sangat membantu memayungi beberapa bagian gedung sekolah dari terpaan sinar matahari siang. Kepsek yang baru baru sadar kenapa mendiang kepala sekolah lama bersikeras mempertahnkan agar pohon ini tidak di tebang.

“Ayo, nanti kita telat!”

Ryan menutup komik yang ia baca lalu memasukkan ke dalam ranselnya. Ia berdiri. Walaupun wajahnya ngga ganteng-ganteng amat, dengan perawakan yang lumayan manly, tinggi di atas 175 dan cukup kekar, karena rajin push up dan sit up di rumahnya, membuat anak-anak gadis enggan melewatkan anak ini. Ryan cukup popular di sekolah, bahkan ada beberapa kakak kelas yang katanya berusaha mendekatinya.

Tapi karena hanya peduli dengan main musik, dia tidak terlalu memperdulikan tingkah gadis-gadis di sekitarnya. Dia hanya berusaha bersikap ramah sebisanya, keseringan sih cuek karena agak risih. anehnya, karena sikap cueknya itu cewek-cewek makin penasaran padanya.

“Bentar-bentar,” katanya sambil melesat mengikuti Rudi yang memanggilnya dari depan pintu kelas. Mereka melangkah beriringan menyusuri lorong sekolah.

“Hari ini kita latihan lagu apa?” tanya Ryan.

“Gatau Gue, kita anak kelas X cuman bisa ngikut par akakak kelas itu bukan?”

“Padahal tinggal sebulan lagi kompetisinya, tapi lagunya masih belum ditentuin,” Ryan mendesah.
Ruang eskul ada di bagian belakang sekolah, anak-anak harus menyebrangi lapangan olah raga, yang sekarang sedang dipakai latihan anak sepak bola, gedung green house lalu belok ke kanan, baru bisa mencapai ruang eskul. Kadang kalau hujan, ngga ada yang mau ke sana karena tak ada tempat berteduh dan tanahnya pasti basah sehingga membuat sepatu kotor.

“Gedung itu masih kepake apa ngga ya? Kok keliatanya rada-rada spooky?”  tanya Ryan.

Rudi menoleh, yang dimaksud adalah gedung green house.

“Ngga tahu, kata kakakku yang alumni sekolah ini sih dulu ada eskul berkebun, green house itu dibangun oleh anggotanya waktu itu.”

“Jaman sekarang, mana ada anak yang mau berkebun, paling juga eskulnya mati gaada peminat,” tambah Rudi.

Tapi detik berikutnya, seorang anak keluar dari gedung itu, berlari-lari kecil membawa ember kemudian mengisi air di keran di samping green house tersebut.

“Buset! Ternyata masih ada anak yang hobinya berkebun,”

Anak perempuan itu tidak sadar kalau dirinya sedang diperhatikan walau sekilas, kedua anak laki-laki tadi mempercepat langkahnya menuju ruang eskul karena mendengar gemuruh petir di kejauhan.

Anak perempuan itu mendongak. Memandang langit barat yang mulai kelabu di gulung awan.

Ia memeriksa ember yang ternyata sudah meluap. Kemudian buru-buru mematikan keran lalu membawa ember itu ke dalam.

Sebenarnya ini hanyalah green house sederhana. Bukan green house besar yang semua dinding dan atapnya terbuat dari kaca seperti di filem-film Jepang. Ini hanyalah bangunan 6x10 meter yang atap nya terbuat dari asbes plastic transparan dan dindingnya dari semacam kerangka kayu yang di lapisi pelastik transparan, walau sekarang tidak transparan lagi karena sudah tua dan kotor karena debu dan sarang laba-laba. Dari luar bangunan ini terlihat tak terurus dan menyeramkan.

Di dalamnya ada petakan-petakan yang tiap petak diisi oleh tanaman yang berbeda-beda. Beberapa bahkan sudah berbuah, menunggu di panen.

“Bulan depan, kalian pasti sudah tumbuh besar dengan buah-buah yang mungil,” anak itu berbisik riang. Ia bergerak kepojokan, menghubungkan bluetooth HP nya pada semacam speaker portable lalu terdengar musik mengalun.

Ia mulai menabur pupuk lalu menyiram tanamannya satu per satu. Walau kelelahan, tapi wajahnya terlihat ceria dan puas.


“Apaan sih tadi, katanya mau ikut kompetisi tapi ngga ada yang dateng,” Rudi mengeluh.
Ryan memandang langit, gerimis turun. Berdua, mereka otomatis mempercepat langkah sambil menaruh tas di atas kepala.

"Ditungguin sampe se jam, ngga ada yang muncul!"

Rudi berlari, makin cepat.

“Tungguin!” teriak Ryan.

Tapi Rudi malah makin menjauh, kayanya dia ngga denger.

Anak-anak yang barusan latihan sepak bola juga membubarkan diri, mereka ngga ada rencana ujan-ujanan hari ini.

Ketika melewati green house, Ryan mendengar sesuatu.

Ada lantunan musik.

Rian mengingat-ingat sejenak. 

Ini kan cannon in D?

Ryan memperlambat larinya, lalu bergerak menuju ke green house, sumber suara.
Siapa yang memasang musik klasik begini?  

Ryan berjalan pelan mengitari bangunan, setelah bersusah payah menembus ilalang tinggi yang mengelilingi bangunan.

Ia mengintip ke balik plastic yang beberapa bolong di berbagai sisinya. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Ryan menemukan speaker portable kecil dan sebuah HP yang tergeletak di dekat tumpukan karung di pojokan ruangan menyeramkan itu.

Rasa panasarannya mengalahkan rasa takutnya, Ryan melangkah pelan memasuki bangunan tua itu, mendorong pelan pintu.

Terdengar bunyi berderik menyeramkan.

Ini kali pertama dia menginjakan kaki di bangunan itu. Ia akan merasa sangat  bersyukur ketika kelak dia mengingat hari pertama dia menginjak bangunan itu.

Ia mengedarkan pandangannya, tidak menemukan siapa-siapa.

Ada beberapa petakan yang terhampar di dalam bangunan itu. Beberapa sudah terlihat seperti sudah digarap, satu petak sudah memiliki tanaman yang rimbun, tapi kebanyakan berupa tanah kering tak terawat.

“Hei”

Ryan melompat demi mendengar suara itu. Ia kaget bukan main.

Seorang gadis muncul di belakangnya. Untung bukan hantu, padahal dia sudah siap-siap kabur tadi,

“Sory, aku mau masuk, jangan menghalangi pintu,” katanya.

Praktis Ryan bergeser, memberi jalan gadis itu masuk.

Ryan memperhatikan sosok itu. Dia belum pernah melihat anak ini di sekolah. maksudnya, walau baru kelas X, harusnya dia hafal wajah semua penghuni sekolahnya, toh sekolahnya ngga gede-gede amat.

Gadis itu bergerak cekatan, menaburkan sesuatu ke tanah, yang diduga Ryan adalah pupuk. Kemudian menyiram air ke atasnya.

Ketika sadar, ternyata ember nya telah kosong. Gadis itu bergerak keluar sambil membawa ember itu.
Sama sekali tidak mengajak Ryan bicara.

Ryan juga kagok, dia ingin mengajak bicara anak ini namun tak tahu namanya. Baru kali ini dia sadar ternyata keberadaan sebuah nama itu sangat penting bagi seorang manusia, agar kita bisa saling bertegur sapa dengan lebih mudah.

Ryan mengikuti gadis itu yang sekarang sedang mingisi ember dengan air dari keran.

“Kamu lagi ngapain?” tanya Ryan akhirnya.

Anak itu menoleh.

“Ngisi air,” katanya singkat, padat dan cukup menjelaskan sebenarnya. Tapi Ryan belum puas.

“Bukaan, maksudku di sini, di green house ini?”

“Kelihatannya?”

“Kerkebun?” Ryan ngga yakin.

Anak itu mengangguk pelan, lalu kembali mengawasi embernya.

“Sendirian?”

“Kelihatannya?”

Ryan agak kaget ketika pertanyaanya dijawab dengan pertanyaan juga. Baginya, yang dididik di keluarga dengan penuh sopan santun, hal itu sedikit tidak sopan. Harusnya yang ditanya tidak boleh balik bertanya.

“Sendiri, sih” jawabnya sendiri, agak ragu.

“Ngapain nanya kalo udah tahu,” kata gadis itu, tapi dengan wajah datar dan tanpa dosa.

Ryan terdiam. adarasa jengkel yang menggelitik muncul jengkelnya. Kesan pertama anak ini  ngga asik.

“Yah siapa tahu, ada kawan kamu yang aku belum lihat,” Ryan masih belum puas.

“Ngga ada, cuman aku sendiri kok. Kalau kamu liat orang lain selain aku, mungkin itu hantu penunggu banguna ini,”

Ryan merinding. Untung dia ngga liat siapa-siapa lagi.

Anak itu memutar keran lalu mengangkat ember yang sudah penuh berisi air itu. Namun terlihat kerepotan karena ember yang dibawa berukuran besar.

Ryan kemudian mendekat dan membantu, tanpa meminta izin dia meraih ember lalu mengangkatnya.

“Biar aku bantu,” katanya. Mudah bagi Ryan dengan tubuh besarnya mengangkat ember penuh air itu, ia berjalan hati-hati agar isinya tidak tumpah.

Gadis itu terdiam, setengah kaget anak itu membantunya.

“Hey, jangan bengong, ini mau ditaruh di mana? Berat nih,” kata Ryan dari dalam.

“Taruh dekat tumpukan pot, “ katanya akhirnya, kemudian buru-buru masuk.

Setelah itu Ryan menonton anak itu berkebun, menurut dia tidak apa-apa menghabiskan waktu di sana. Toh masih hujan, kalau dipaksa menyebrangi lapangan olah raga ke gedung utama, pakaiannya akan basah.

“Nih, “ Gadis itu mengasongkan sebuah tomat merah.

“Baru dipanen hari ini,” gadis itu menunjuk petak tanaman yang paling rimbun. Di dekatnya ada keranjang berisi beberapa buah tomat yang baru di petik.

Ryan menerimanya ragu-ragu. Kaget dia, ternyata gadis ini walau agak aneh ternyata baik hati.

“Aku ngga pake pupuk kimia di sini, semuanya alami. Jadi buah nya lebih sehat,” tambahnya.
Pantas ada bau tak sedap sedari tadi di sini, itu pasti bau pupuk alami atau apalah yang dibilang gadis itu.

“Dan udah di cuci, jadi kamu ngga akan sakit perut.” Tambahnya lagi.

Ryan tersenyum.

“Makasih,” katanya akhirnya lalu mulai mengunyah.

“Hmm, enak,” katanya Ryan, mulutnya setengah penuh.

“Ko yang di rumahku ngga seenak ini rasanya?” katanya lebih ke dirinya sendiri.

“Kan sudah aku bilang, ini pake pupuk alami. Wajar kalau rasanya lebih enak,” kata gadis itu datar.

Ryan nyaris keselek.

Kemudian tersenyum, ia mulai terbiasa. Mungkin memang tabiatnya seperti itu. Gadis ini sama sekali tidak  ada niat menyakiti perasaan Ryan dengan kata-katanya yang tajam itu.

“Kamu sendirian?” tanya Ryan setelah beberapa menit sunyi.

“Maksudku, ngga ada temen lain yang juga ikut berkebun. Kamu semacam melakukan eskul kan di sini?” tambah Ryan sebelum anak ini menjawab dengan kalimat tajam nya.

Gadis itu mengangguk.

“Cuman aku sendiri,” katanya.

"Kenapa?"

“Kayanya ngga ada yang mau gabung eskul berkebun. Apa ya kata mereka kemarin itu? Oh, ngga keren. Mungkin itu alasannya. Padahal aku sudah menempel pengumuman di mading sekolah,”

Ryan mengangguk.

Iya sih, jaman sekarang mana ada yang menganggap berkebun itu keren.
Paling juga paskibra, band, basket atau futsal. Kebanyakan cewek pasti akan lebih memilih ikut cheers atau padus sekolah. Eskul berkebun tak akan pernah ada dalam benak mereka.

“Makasih, udah angkat air tadi,” kata gadis itu akhirnya.

Ryan mendekat.

“Kenalin, namaku Ryan. Kamu?”

Gadis itu menoleh.

Lalu menyambut acungan tangan Ryan.

“Beca, Rebeca,”

“Agak bule namanya, aku lahir di Amerika soalnya. Baru pindah awal semester ini ke Indonesia,” tambahnya.

Ryan memperhatikan anak di depannya. Rambutnya hitam. Matanya cokelat. Hidungnya pesek. Kulitnya putih tapi bukan putih bule, putih langsat kaya orang pribumi kebanyakan.

Tidak ada tanda-tanda bule pada penampakannya.

“Ayah ibuku asli Indonesia kok, cuman karena kerja di Kedubes, aku kebetulan ngga lahir di indonesia. Aku juga bingung kenapa dikasih nama orang bule. Karena udah kepalang ada di akta lahir aku ngga bisa ganti lagi, ” kata Becca.

Ryan menahan senyum. Anak ini bisa baca pikiran orang.

“Kamu, tiap hari ke sini? Maksudku eskulnya, apa kah ada hari khusus?”

“Tiap hari kok. Kalau sehari ngga diurus, kasihan nanti meraka kelaparan. Kecuali minggu, kan libur,” Becca melepas sarung tangannya lalu duduk di atas tumpukan karung. Di situ ngga ada kursi.

“Lalu musik ini? Biar tanamannya tumbuh lebih subur gitu, dengan dikasih musik?”

“Ngga,” Becca menggeleng.

“Hah?” mau ngga mau Ryan bingung.

“Biar rame aja. Soalnya bangunan ini tua dan rada menyeramkan. Kubesarkan musiknya supaya aku ngga merasa sendirian,” katanya.

“Ha ha ha!” Ryan ketawa.

“Terus kenapa klasik, kamu penggemar aliran musik klasik? Bethoven, Chopin?”

“Ngga juga, ini kan tugas pelajaran kesenian minggu lalu, suruh pelajarin musik klasik. Aku sebenarnya lebih suka musik-musik yang mainstream. Ini lagi belum nambah kuota aja buat download,”

Ryan ketawa lebih keras.

“Kenapa ketawa?”

“Kamu lucu yah? Ngga ketebak!” lebih ke pada dirinya sendiri.

Langit berhenti hujan. Awan masih kelabu tapi tak ada lagi rintik yang turun. Mungkin bosan.

“Oke deh, Aku cabut duluan ya,” kata Ryan.

“Bareng, aku juga sudah selesai. Mau les abis ini, “ kata Becca sambil mengambil tas lalu menyampaikan ke pundaknya.

“Oke, “ akhirnya setelah agak kaget.

“Kamu masih mau tomatnya? Kalo ngga mau aku kasih ke penjaga sekolah semua,”
Ryan mengambil dua buah, satu dimakan saat perjalanan ke gedung utama, satu dimasukan ke dalam tas. Buat di rumah pikirnya.

Sore itu mereka pulang beriringan berdua. Yang karenanya besoknya jadi ramai. Anak-anak sekolah mengira mereka jadian, padahal ngga.








20170130

Rabu ......


Katanya, ada sekitar 7 milyar manusia yang hidup di dunia.

Jika peluang dua orang saling bertemu adalah 1 banding 7 milyar, maka peluang dua orang itu bertemu, lalu saling kenal, kemudian saling suka satu sama lain, dengan memperhitungkan faktor eksponensialnya, kejadian itu menjadi nyaris mustahil.

Karenanya, jika ada dua orang memiliki perasaan yang sama, pastilah itu sebuah keajaiban. Mereka berdua adalah dua orang yang benar-benar sangat beruntung.

Malam ini bulan bersinar lembut, gemintang berbaris membentuk gugus. Kerlipannya akan membuai siapa saja yang menyaksikannya. Angin sopan berhembus, tidak pelan tidak juga kencang. Kursi dan meja juga rangkaian lampu hias kerlap-kerlip membuat malam ini menjadi sempurna.

“Dari begitu luasnya dunia…” Zul berdehem lembut.

“Aku ngga nyangka kita bakal ketemu lagi. Kalau kamu ngga ingetin, aku kayanya ngga bakal sadar kalau kita pernah satu SMA. Aku ngerasa beruntung banget bisa ketemu kamu lagi.” Pandangan Zul jatuh pada permukaan meja yang mengkilap.

Kemudian Ia mendongak, berusaha menatap mata itu.

“Ratih, “ wajah itu terlihat kaget karena namanya tiba-tiba saja disebut.

“Aku suka sama kamu…“

Wajah itu memerah, mungkin sedang menutup mulut dengan kedua tangannya yang lentik.

“Kamu mau jadi pacar aku?”  

Zul menanti, menunggu jawaban dari sosok dihadapannya.

Angin malam dengan nakal menggerak-gerakkan anak rambutnya.

“Mau pesan apa mas?”

Zul mendongak kaget.

“Air mineral ngga dingin,” katanya akhirnya.

“Makanannya nanti, saya masih menunggu teman saya,” kata Zul serak.

Peramusaji itu pergi saat Zul meremas tangannya yang dingin.

Sial! Dia merasa gugup sekali. Kata video yang dia tonton di youtube, salah satu tips sukses nembak adalah datang sejam lebih awal lalu berlatih mengucapkan kalimat penembakannya.

Belum ada orangnya saja Zul segugup ini, bagaimana kalau dia sudah muncul. Kadang Zul merasa dikutuk karena semasa kuliah malah menjadi temanya Dody yang bangga akan ke jombloannya itu. Dia jadi ngga punya jam terbang. Padahal pengalaman itu sangat diperlukan untuk saat-saat seperti ini.

Sepasang kekasih muncul dari balik anak tangga. Saling bergadengan tangan dan bertukar senyum. Si gadis bergelayut manja dilengan sang laki-laki. Mereka menunjuk sebuah meja lalu melangkah riang menuju meja tersebut.

Zul mendesah.

Ada segumpal iri yang mengambang di dadanya. Seumur-umur dia belum pernah mengalami hal seperti tadi. Terima kasih untuk masa SMA yang cupu dan masa kuliah yang penuh dengan tugas dan hura-hura ngga jelas.

Detik selanjutnya, Dian muncul dari baloik anak tangga. Rasanya Zul belum pernah melihat Dian memakai make up seperti ini. Ayolah, mascara itu, lipstick itu, taburan bedak itu, tambah lagi gaun dan heels nya.

Yang membuat Zul tambah kaget adalah, Jonathan ada di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali tertawa.

Zul terpaku menatap mereka berdua.

“Hai, Zul ngapain di sini?” Tanya Jonathan.

Dian terlihat keget menemukan Zul dengan dandanan rapi di café ini.

“Rapi banget Zul, sendirian?” Kata Dian setelah mengusuir kekagetannya.

“Ada janji sama temen, “ kata Zul. Dia menelan ludah, dan rasanya sangat sakit di tenggorokan.  

“Kita ke sana dulu ya,” kata Jonathan, kali ini dia meraih tangan Dian lalu membawanya menjauh ke arah meja mereka di tengah.

Minuman Zul datang. Airnya terlihat mengkilap diterpa cahaya neon.

Dada Zul memanas. Mungkin karena tangan Jonathan sedang merangkul pinggang Dian seperti itu.

“Sory telat, dari tadi banget ya?”

Zul mendongak kaget. Menemukan Ratih berdiri di hadapannya.

Ratih jelas-jelas mempersiapkan dirinya untuk malam ini. Jarang Zul melihat Ratih bermake up seperti ini. Walau Zul adalah tipe laki-laki yang tidak terlalu suka dengan cewek ber make up, kali ini dia harus menyerah. 

Malam ini Ratih terlihat ayu sekali, seperti putri keraton. Zul kenal gaun itu, itu gaun yang waktu itu mereka beli bersama. Warna Biru itu cocok sekali dengan warna kulitnya yang putih bersih.

Di tengah keterpukauan Zul, dan nyaris semua laki-laki di café menolehkan pandangannya pada Ratih, dia segera berdiri, lalu buru-buru menarikkan kursi untuk Ratih.

“Ngga, baru aja nyampe kok,” kata Zul bohong.

“Terima Kasih,” Ratih merona, Zul gentle sekali.

Zul melihat Jonathan sedikit salah tingkah, dan Dian terlihat kaget karena teman yang ternyata di tunggu Zul adalah Ratih.

“Taksi tadi?”

Ratih mengangguk. Ia merasa tidak enak jadi pusat perhatian seperti ini.

“Dandananku berlebihan ya, Zul?” katanya.

“Ngga ah, kamu cantik kok,” kemudian wajahnya memerah. Amboi, cantik sekali! apalah yang lebih cantik dari seorang gadis yang pipinya bersemu merah karena menahan malu karena dipuji? 

Sayangnya gadis jelita yang ada dihadapan Zul entah kenapa terlihat biasa saja baginya.

“Jadi makan apa kita malam ini?” kata Ratih setelah berhasil membuat dirinya terbiasa, ia mengangkat tangan memanggil pramusaji.

“Aku belum pesen sih, bagaimana kalau kita coba steik nya?”

“Aku ikut deh, tapi jangan yang ada lemaknya yah,” katanya riang.

Dari sini Zul bisa melihat tempat duduk Dian dan Jonathan dengan jelas. Mereka sedang saling tertawa, terlihat mesra dan bahagia. Cahaya lampu hias kerlap kerlip yang berjatuhan di wajahnya, membuat Dian terlihat sangat cantik. Matanya terlihat bercahaya dan berbinar.

“Kamu pesan minum apa?”

Zul menoleh.

“Eh?”

“Kamu kenapa sih ngga fokus gitu, lagi banyak pikiran ya?” tanya Ratih.

Zul mengeleng, “Ngga ada apa-apa kok. Kamu tanya apa tadi, sorry?“

“Kamu mau minum apa?” Ratih tersenyum maklum.

“Milk shake,” kata Zul.

Harusnya malam ini menjadi malam yang menyenangkan. Di bawah langit biru gelap yang cerah, tempat makan yang romantis diiringi alunan piano lembut (dari sound system), mereka harusnya bisa saling tertawa, bertukar cerita, membahas banyak hal, dan harusnya terasa Indah dan sempurna. Zul justru tidak bisa merasakan itu semua. Bahkan fokusnya tak bisa pada Ratih, gadis cantik yang sedang duduk di hadapannya. Sepanjang obrolan Ia lebih banyak mengintip ke meja di seberang, memperhatikan pasangan itu. Memastikan Jonathan tidak melakukan ‘sesuatu’ pada Dian.

 “Zul?” kata Ratih.

 “Ya?”

“Ini ke lima kalinya kamu melamun seperti itu dan mengacuhkan pertanyaanku, ”

“Eh?”

“Malam ini entah kenapa kamu aneh, aku lagi kaya duduk sama orang lain.”

Zul terdiam.

“Gimana kerjaan kamu, akhir-akhir ini kayaknya sibuk banget?” Zul berusaha mengembalikan suasana.

Zul melihat sekilas tangan Jonathan mulai bergerak memegang tangan Dian, kemudian jemari mereka bertautan. Darahnya mendidih. Ada yang membuat dada Zul panas dan kesal hingga ubun-ubun. Untungnya kemudian  Dian menarik tangannya dengan lembut, ia meraih gelas lalu mulai minum.

Zul menghembuskan nafas lega.

“Kita pulang aja yuk,” kata Ratih serak.

“Hah?”

Ratih tertunduk. Tangannya meremas gaunnya. Zul melihat matanya berair. Sepanjang diamnya Zul, Ratih menyadari sesuatu. Sejak tadi lelaki di hadapannya selalu melihat meja seberang. Seorang gadis yang juga ia kenal, yang dia dengar rumor di kantor kalau Zul pernah suka dengan gadis itu.

“Kamu sama sekali ngga dengerin aku,”

“Eh?”

“Apa karena gadis di meja seberang itu...” suaranya lirih.

Zul tersentak.

Ratih masih menunduk. Menunggu.

Detik itu saat Zul sedang memikirkan kalimat untuk diucapkan pada Ratih, Dian dan Jonathan berdiri, mereka berjalan meninggalkan café. Jonathan merangkul pinggang Dian. Gigi Zul gemeletuk, dadanya kembali panas melihat adegan itu.

Ratih melihat bagaimana Zul terlihat kesal, mengepalkan tangan, sesaat terlihat tidak sabar dan hendak meledak. Semua itu karena ada laki-laki lain bersama gadis itu. Itu terjadi di hadapannya. Ratih kesakitan. Ada sesuatu yang mebuat dadanya perih.

Zul mendengar Ratih terisak. Butir-butir air mata jatuh di atas gaunnya. Ratih tak kuat lagi, pertahannya roboh, air matanya berguguran.

Saat itu Zul sadar, apa yang telah ia lakukan benar-benar salah. Dia merasa menjadi laki-laki paling bajingan sedunia. Membiarkan seorang gadis yang telah berdandan cantik untuknya malam ini menangis seperti itu.

“Ada yang mau kamu katakan?” kata Ratih akhirnya lirih. Dia masih memberi Zul kesempatan.

Zul menunduk, kemudian menelan ludah. Ia paling tidak bisa melihat seorang perempuan menangis.

“Aku merasa sangat senang bisa bareng kamu seperti ini. Makan, nonton, jalan. Melihat kamu tertawa, tersenyum. Baru kali ini ada wanita yang mau berbagi kebahagiaan seperti ini padaku. Kamu bahkan ngga segan-segan menceritakan mengenai keluargamu dan pengalaman bodohmu padaku.

“Awalnya aku bingung. Ketika kamu menelpon untuk menemani membeli baju yang kamu kenakan sekarang. Juga ajakan-ajakan lain untuk sarapan maupun makan bareng. Baru kali ini ada seorng gadis yang mengajukan dirinya padaku seperti ini. Aku mengerti ini akan mengarah ke mana. Saat itu aku berfikir, apa yang harus aku lakukan? Bolehkan aku membiarkan gadis baik ini masuk ke dalam kehidupanku? Karena sebenarnya saat itu ada gadis lain yang sedang aku perhatikan.

“Aku khawatir kalau perasaan ini bukan yang sebenarnya. Aku takut ini hanya pelarian. Aku sangat  takut nantinya akan menyakiti kamu. 

"Tapi akhirnya, di satu titik aku memutuskan untuk membiarkan kamu masuk. mencoba menjalani semuanya terlebih dahulu tanpa terlalu memikirkan banyak hal. Ah, mungkin ini jalannya, pikirku waktu itu.

“Senyum mu itu, tatapan mu itu, tawa mu itu, aku merasa sangat beruntung bisa berbagi itu bersama mu. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi laki-laki yang berada di samping gadis sebaik dan secantik kamu.

“Hingga aku merasa begitu yakin akan perasaanku. Perasaan yang perlahan tumbuh dan mulai mekar. Sudah seminggu aku memikirkan malam ini untuk menyatakan perasaanku. Aku bahkan terus-terusan menghafal redaksinya sejak seminggu lalu. Datang sejam lebih awal ke tempat ini untuk kemudian berlatih.

“Namun, aku keliru …”

Tenggorokan Zul tercekat. Ia tak ingin melanjutkan, ia tak mampu membuat Ratih tersakiti lebih dari ini.

Mereka terdiam.

“Ngga bisa kah kamu memilih aku?”

Zul mendongak. Suara Ratih terdengar bergetar.

“Aku sudah menyukaimu sejak SMA. Aku begitu bahagia ketika ternyata kita berada di perusaan yang sama. Dari sekian banyak perusahaan di Jakarta aku bisa satu kantor denganmu, bukankah itu suatu pertanda? Itu suatu pertanda kan?! Karenanya aku berusaha menyusuri 'tanda' ini, mengusahakan 'pertanda' yang semesta buat untukku. Aku berusaha keras agar kamu bisa menoleh padaku”

Mata Ratih terasa hangat dan berembun, hidungnya merah. butir air matanya bagai untaian mutiara yang berjatuhan ke tanah. Hati Zul perih melihat Ratih seperti ini.

“Dian…

“Apa aku ngga lebih baik dari dia?”

Zul tercenung. Ia baru mengerti, ternyata dalam cinta kita tidak bisa membandingkan seseorang dengan orang yang lain. Tidak bisa, tak akan pernah bisa. Kita tidak bisa berpindah suka karena dia lebih cantik, dia lebih baik, dia lebih anggun dan sebagainya. Faktor-faktor pembanding itu menjadi tidak berlaku dan menjadi tidak terbandingkan.

“Apa kamu ngga mengerti, setiap kali aku mengajakmu jalan duluan, ngajak makan duluan, WA duluan dan berusaha membuatmu mengakui aku, saat itu aku sedang menanggalkan gengsiku sebagai seorang perempuan?

“Apa itu semua belum cukup buatmu?

Air matanya jatuh makin banyak. Ratih terlihat sangat kesakitan.

“Aku harus apa lagi Zul? Aku harus ngapain lagi agar kamu mau melihat aku?

Ratih menarik nafas, berusaha menenangkan dirinya.

“Itukah pilihan kamu? Gadis itu?”

Zul menunduk.

Ratih terdiam. Kecewa sekali. Ia membuang muka, tak sudi melihat wajah Zul, lalu tersenyum, menertawakan kebodohannya selama ini.

Zul hanya bisa diam, ia tak mampu lagi menjawab. Ia bak terdakwa yang sudah dijatuhkan hukuman mati. Tak sanggup melawan lagi.

Ratih mengangkat pandangannya ke langit malam, berusaha mengembalikan tetesan air mata yang sia-sia keluar, namun tetap saja tak bisa. Malah air matanya makin deras mengalir, membuatnya kesal setengah mati. Ngapain dia menangis untuk seorang laki-laki  yang tak pantas ditangisi!

Ratih tak tahan lagi. Merasa bodoh jika terus berada di sini, akhirnya ia berdiri, kemudian berjalan cepat-cepat pergi setelah menaruh beberapa lembar uang seratus ribuan di meja.

Biar aku yang bayar semua! Aku ngga butuh traktiran kamu! Mungkin itu maksudnya. Dignity Zul compang-camping sudah.

Zul menyaksikan punggung Ratih yang bergetar menghilang di balik anak tangga. Menyisakan tatapan cemooh dan heran seisi penghuni café.  

Hari ini Zul benar-benar sukses menjadi laki-laki paling berengsek di dunia.

Menyedihkan.

Langit cerah membiarkan bintang-gemintang mengintip dari balik awan yang mengambang tipis-tipis. Walau kata orang cantik, Zul tidak pernah suka malam. Secerah dan seramai apapun, malam tetap saja gelap. Gemerlapan bintang dan cerianya rembulan hanya tipuan mata.

Baginya malam tetap saja dingin dan penyendiri.



“Makan di mana?”

Dody menoleh pada Zul Rabu siang itu.

“Padang depan. Aku makan sama Ratih. Lebih baik lu ngga ikut,” kemudian berlalu.

Zul mengeluarkan kotak bekal.

“Ngga biasanya lu bawa bekal Bang Zul,” Denry si anak magang menghampiri mejaku.

“Iya nih, mulai minggu ini gua bakal bawa bekel terus, mesen ke bibi kosan. Lumayan hemat,”

“Itu muka lu kenapa benjut gitu?”

Zul terkekeh, “Biasa lah anak muda,” dia tidak bisa menceritakan kalau kemarin, tiba-tiba Dody merangsek ke kamar kosannya lalu memukul wajahnya.

Anjing lu ya! Tega bikin Ratih nangis kaya gitu! Dia masih kurang apa lagi hah!

Satu pukulan lagi mendarat di wajah Zul. Untung setelah itu satpam kosan datang dan melerai mereka. Jika tidak, bisa rontok gigi Zul. Dody kalau lagi ngamuk ngeri.

Ninda bergabung membawa tas bekal. Ninda anak magang juga tapi dia di tempatkan di lantai satu (fyi, Denry dan Ninda pacaran). Sudah seminggu mereka magang, sekalian mengumpulkan data untuk skripsi meraka. Mereka satu almamater denganku, makanya cepat akrab.

“Enak ya tiap hari dimasakin,” kata Zul usil. Ninda membuka tas bekalnya, terhamparlah nasi Goreng dengan lauk ayam dan telur dadar. Wanginya harum luar biasa, pasti enak.

“Tahu nih si Abi, manja banget,”

“Habisnya masakan Umi enak sih, lagian kalau beli di luar kan mahal,“ dan mereka udah saling panggil abi dan umi, bikin selera makan Zul menguap.

“Ehm. Nin,”

“Ya?”

“Katanya kamu satu divisi sama Dian ya?” Zul berusaha terdengar biasa.

“Mba Dian yang cantik itu? Iya,“ katanya rada acuh, mereka sedang suap-suapan mesra. Zul pun menutup kotak bekalnya.

“Dian sama Jonathan itu jadian ya?”

Denry dan Ninda menoleh, menyodorkan wajah beku. Dua detik berikutnya mereka tersenyum. Senyum nakal.

“Kasih tau ngga ya? kenapa emang kalau mereka jadian?” ledek Ninda.

Wajah Zul memerah, malu.

“Aduh, kita punya senior gampang banget dibacanya yah. Umi jangan jahilin Bang Zul gitu dong,” 
Denry terkekeh geli.

“Asem kalian, sama senior ngga ada sopan-sopannya,” Zul mencibir, dia kembali membuka bekal yang dibawanya. Melahap banyak-banyak .

“Ngga kok bang, belum jadian. Tapi mereka sempet ke gap jalan bareng sabtu kemarin, “ Kata Ninda.

“Hah masa sih Mi?” tanya Denry.

“Iya Bi, mana katanya Mba Dian dandannanya full make up plus pake heel segala waktu itu. Pokoknya lagi cantik abis,”

“Udah deket dong mereka berarti,”

“Wah itu ngga tau, tapi emang mereka satu projek sih, wajar lah kalo deket. Tapi yang Sabtu kemarin itu mereka emang abis ketemu klien, jadi sekalian dinner,”

“Wah gawat bang, udah bentar lagi itu mah,”

“Abi-Abi, barang bagus mana ada yang nganggur,”

Ada perasaan lega yang mengaliri dada Zul. Informasi itu sangat berharga baginya.

“Abang naksir ya sama Mba Dian?” bisik Ninda.

“Apaan sih,” bentak Zul judes, sambil wajahnya memerah.

“Kalau mau, nanti aku bantuin. Aku kan satu divisi tuh, nanti aku kasih tau apa kesukaan dia, kapan dia pulang, kapan dia lembur. Sesama almamater kita harus bahu-membahu,” bisik Ninda.

Zul tampak tak peduli. Tapi senyumnya mekar kali itu.
 

Hari itu berlalu dengan cepat, tahu-tahu matahari sudah rendah. Orang-orang sudah berbenah menutup laptop dan mematikan PC bersiap pulang.

Dody turun ketika Zul masih membereskan isi ransel nya. Jam di dinding kantor menunjukan jam setengah enam. Zul sengaja memperlambat berkemas. Dia masih meresa tidak enak pada Dody, anak itu masih belum mengajaknya bicara sejak minggu.

Aku udah di Lobby. Aku traktir makan es krim deh, abisnya murung mulu dari kemarin.

Dody menekan tombol enter.

HP Ratih bergetar. Ia membuka notifikasi, kemudian tersenyum.

Senyum pertamanya hari ini.

Aku kalo makan es krim suka ngga kira-kira, jangan nyesel lho.
Thanks ya. 

Dody memeriksa HP nya yang bergetar. Lalu tersenyum.

Sekitar sepulih menit kemudian Zul memasuki Lift. Benda itu bergerak perlahan, kemudian berhenti di lantai dasar. Zul berjalan pelan-pelan, mengendap-endap di balik tembok dan menarik nafas lega ketika Dody dan Ratih sudah tidak di sana.

“Ngapain ngendap-ngendap gitu?” Zul kaget bukan main, ia menolah dan menemukan Dian berdiri di belakangnya.

“Ngga kok, “ sambil memasang senyum bego.

Dian tersenyum maklum. “Aku ngga tau kalau kamu jadian sama Ratih.”

“Ngga, kita ngga jadian kok,” Zul menggeleng salah tingkah.

Terdengar bungi klakson dari depan Loby, sebuah mobil berhenti. Kepala Jonathan menyembul dari kaca depan yang perlahan terbuka.

“Yuk, Dian,” Jonathan setengah berteriak.

“Kencan lagi?” tanya Zul sambil tersenyum.

Dian menggeleng. “ Dinner sama klien 'lagi',” katanya kemudian bergegas.

Zul mengangguk saat Dian melambaikan tangan.

Zul mengeratkan tali ranselnya, kemudian memasukan tangannya ke dalam saku. Ketika kakinya melewati pintu kaca otomatis loby dan sepatunya menginjak aspal parkiran, senja sudah turun.

Langit menjingga hebat. Suiran awan menemani burung-burung yang kembali ke sarang mereka.

Senja selalu menyenangkan. Detik-detik di mana matahari mengundurkan diri, sopan tapi gagah, menyentuh lantai bumi, membagikan rona keemasan pada awan-awan. Senja menghantarkan manusia-manusia yang kelelahan ke peraduan. Mengabarkan bahwa hari ini mereka telah berusaha dengan baik. Mempersilahkan orang-orang untuk kembali ke rumah di mana keluarga mereka menunggu.

Senja selalu menjanjikan bahwa masih ada esok, masih ada harapan.

HP Zul bergetar, WA Ninda masuk.

Besok mba Dian lembur. Boleh tuh diajak diner bareng (Pak Jonathan meeting ke luar kota).


(end.) 

20170122

Minggu ......


Pagi-pagi burung mematuk-matuk kaca jendela rumah gua. Sory, ralat ini rumah paman gua, cuman karena pamannya sudah setahun ini dinas di Surabaya, jadilah gua anggap ini adalah rumah gua.

Mata gua yang masih lengket berusaha membuka. Memeriksa berapa banyak burung sialan itu yang pagi-pagi begini sudah mematuk kaca jendela rumah gua. Yes, rasanya nyaman banget pas nyebut rumah ini sebagai rumah gua. Lagi pula paman gua ini masih bujang walau udah tua. Kayanya sih kalau dia sukses membujang dan kemudian meninggal, rumah ini bakalan diwarisin ke gua juga, sepupu yang paling dekat sama dia (amit-amit ah!).

Ada dua pagi ini. Kemarin tiga. Sepasang burung itu, yang gua ngga tahu mereka pacaran apa ngga sedang bergelayutan di salah satu ranting yang melambai ke dekat jenedela kamar gua. Mungkin ranting itu semacam ranting VIP yang nyaman banget sehingga setiap pagi akan selalu ada burung yang nangkring di sana. Lalu mungkin merasa bosan karena VIP tapi ngga ada fasilitas home theater-nya, jadilah burung sialan itu matuk-matukin kaca jendela kamar gua.

Gua terperanjat. Memeriksa jam yang masih melingkar di pergelangan tangan.

Jam 8!

Kampret, telat!

Gua sontak loncat menuju kamar mandi. Oh iya, kemaren malem gua kecapean jadi ngga sempet ngapa-ngapain. Jadi jangan kaget pagi-pagi gini nemuin anak laki-laki bujang, dengan dandanan eksekutif muda; kemeja kerja tangan panjang kusut slim fit, celana bahan stretch lengkap  dengan sabuk dan kaos kaki bau yang gua udah lupa kapan terakhir kali dicuci, berkeliaran nyari-nyari handuk di rumah kosong begini.

Oh iya, kemaren gua taro handuk di atas kulkas, ruang makan. Melasatlah gua menyambar handuk yang  posisinya selalu berubah-rubah tiap pagi karena kebodohan gua sendiri dan mendestinasikan diri ke kamar mandi.

Gua banting pintu kamar mandi dan mulai melakukan ritual melepas pakaian untuk lanjut ke aktifitas mandi pagi. Men! Airnya dingin banget.

Gua berhenti setelah kemeja slim fit yang mulai sempit di perut ini tersampai di gantungan kamar mandi.

Gua menarik nafas panjang supaya ubun-ubun ngga meledak saking kesalnya.

Njir, sekarang hari minggu!

Pintu kamar mandi terbuka perlahan, keluarlah gua dengan telanjang dada. Bulu-bulu halus di dada  dan area perut menyembul minta dicukur. Aku mampir sejenak di depan cermin. Memeriksa perkembangan six pack  di perut yang malah menunjukan tanda-tanda pembuncitan.

Sebuah penghinaan besar terhadap hari Minggu jika gua bangun pagi kemudian mandi. Hari Minggu harus dirayakan dengan ngga mandi sama sekali atau minimal mandinya harus di atas jam 12.

Gua merajang air. Serbuk kopi meluncur dari bungkus plastiknya kemudian mendarat di dasar gelas biru bertuliskan ‘Jomblo w Pride’ kesayangan gua. Dua menit lima belas detik kemudian air matang yang masih mendidih melelehkan gula dan kopi menjadi larutan dengan aroma mantap yang memenuhi ruangan kamar makan.

Tangan kanan sibuk mengaduk menimbulkan dentingan nyaring antara dinding gelas dan ujung sendok, jemari tangan kiriku serius membantu mataku berselancar di dunia maya.

Mengecek notifikasi di WA. Kosong. Line, kosong. Path, kosong. Instagram, kosong. Facebook, kosong. Oh iya, gua kan jomblo jadi harusnya gua ngga usah meriksa notif di lini masa lagi besok-besok dari pada ngerusak mood kaya gini.

Gua membawa gelas ke meja makan kemudian menyalakan TV, mencari serial kartun yang masih tersisa  di antara acara music ngga jelas.

Hari ini gua ngga ada acara. Mungkin gua akan habiskan dengan balik ke kamar untuk meneruskan tidur. Paling banter ya buka laptop terus nonton film di hardisk external yang belum di tonton. Sebagai perjaka jomblo, itu lah kira-kira bagaimana hari minggu gua dihabiskan.

Please jangan bersimpati atau merasa kasihan. Gua bukan lah manusia jomblo mengenaskan seperti yang sering disindir meme atau komik strip yang sering bergentayangan di lini Instagram setiap malam minggu. Ngga sama sekali.

Gua begini karena ini adalah pilihan gua.

Tuh kan, cibiran itu lho yang entah kenapa gua ngga suka. Kalian harus tahu bahwa di dunia yang makin padat ini ada juga orang yang nyaman dan cukup bahagia sama kesendiriannya. Toh ngga semua orang yang punya pacar hidupnya bahagia juga.

Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrd!

HP gua bergetar.

“Yo, ada apa Zul?”

Hebat jam segini udah bangun lu? Biasanya baru idup di atas jam 12.

“Iya nih, gara-gara burung sialan yang matuk-matukin kaca jendela gua. Mana acara TV paginya ngga jelas semua begini,” sambil memindah-mindahkan saluran TV dengan remote.

Hahahaha. Eh kerjaan gua yang kemren lu minta udah gua email ya.

“Kapan lu ngerjain nya?”

Kemaren lah dul, dari kostan gua kerjain. Harusnya gua dapet duit lembur tuh, sabtu-sabtu kerja.

“Hahaha, anggep aja sedekah, lu kan anak sholeh Zul. Hehehe.”

Kupret lah. Pokoknya besok traktir gua makan siang di padang depan yak.

“Ngga ada yang lebih mahal apa?”

Preet lah! Okeh. Gua ngabarin itu aja. Lu cek ya, takut-takut gua ada salah-salah.

“Okay!”

Sip. Udah yak, gua mau beres-beres kosan nih.

Tuuuut. Sambungan terputus.

Oh iya, di dengar dari nadanya yang riang gembira, harusnya hari ini tu anak berdua udah jadian.

Gua kenal Zul setelah acara ospek kuliahan. Almamater kita kuning waktu itu. Dan jujur, gua waktu lagi mahasiswa pendiemnya minta ampun, jadi rada susah dapet temen. Pas ada tugas mata kuliah tiba-tiba tu anak nepuk pundak gua dari belakang, terus nyengir.

“Lu mau sekelompok sama gua ngga? Gua belum ada buku pegangannya. Lu Dody kan? Gua Zul,” sambil menyodorkan tangan.

Itu obrolan pertama kami. Rada lebay emang, tapi kalo waktu itu Zul ngga ngajak gua sekelompok, mungkin masa kuliah gua hanya akan habis di perpustakaan kita yang kece itu. 

Gua belajar banyak dari Zul. Dia tipe orang yang entah karena keramahan atau ketulusan sikapnya orang-orang selalu berkeliling di sekitarnya. Dia begitu supel dan banyak teman. Dia ngga pernah ngecewain temen-temennya. Dia bisa begitu ngga egois dan selalau ada untuk kawannya. Gua banyak belajar dari dia agar bisa diterima orang lain.

Dan gua bersyukur bisa terpilih jadi sahabat terdekatnya.

Untung lah kita kerja di tempat yang sama dan ditempatin di divisi yang sama. Itu kenapa orang kantor bilang kalo kita itu duo yang paling kompak.

“Aduh, males banget hari ini ada meeting dadakan.” Gua mendadak Bete.

“Katanya ada anak baru yang lucu tuh,” kata Zul santai.

“Lu bisa bilang lucu juga. Lucu nya elu mah si Dian doang, ngga ada yang lain,” gua terkekeh.

“Kampret!” Zul ngelempar gumpalan tisu ka arah gua.

“Hari ini kita berkumpul untuk membahas Produksi barang A yang  rencananya akan launching di kuartal 3. Karena ini lintas divisi, kayanya kita harus perkenalan diri masing-masing, “ kata pak projek leader (gua sih ngga hapal namanya siapa, yang jelas mukanya ngeselin).

“Nama saya Ratih Kirana, baru join minggu lalu di Finance,”

Selama ini gua selalu cuek sama cewek. Sejak kuliah pun gua selalu menjunjung prinsip ‘Jomblo with Pride’ gua, namun pagi itu, mungkin karena suaranya yang renyah, senyumnya yang manis, wajahnya yang nyejukin, atau kombinasi itu semua, entah kenapa gua pengen merevisi prinsip gua tersebut.

Meeting itu gua ngga bisa focus. Sama sekali! Wajah itu menyita dunia gua dengan telak, di pertemuan pertama. Sialan!

Anak itu masih duduk di kursinya ketika meeting kami selesai. Nampak sibuk dengan laptopnya.

“Ehmm…” gua berdiri di sebelahnya, berusaha mengalihkan perhatiannya.

Dia medongak dengan wajah kosong, yang demi seluruh penduduk planet pluto, seluruh bola matanya yang bulat itu memandang gua dengan sempurna. Efeknya gua merasa sedikit sesak.

“Dody, Creative team, kalo butuh gua cari di lantai 5,” gua menyodorkan tangan.

Dia menjabat tangan gua. Aiiih, betapa kecil dan lembutnya tangannya.

“Ratih, sory aku anak baru jadi bakal sedikit jet lag, “

Jet lag?

“Adaptasi awal, jadi bakal agak selow,” wajahnya sedikit memerah.

Gua ngga bisa ngga tersenyum. Mungkin itu bahasa di kantor lamanya.

“Boleh minta nomer kamu? Tenang-tenang, gua ngga bakal macem-macem. Kita kan satu tim, kayanya gua bakal banyak urusan sama finance,”

Dia menyebutkan nomernya lalu bertukar miscall.

“Save ya,” gua terkekeh.

“Oke, jangan macem-macem ya,” katanya sambil tersenyum.

Betapa bahagianya hati gua ketika dapet senyuman itu sekaligus dapet nomernya. 

Lalu Zul bangkit dari kursinya, “Oh Iya, ini partner gua,”

Zul mendongak ke arah Ratih.

Mereka berdua saling tatap dan saling terdiam.

Agak lama.

Apa hanya perasaanku atau sepertinya Ratih menunggu sesuatu.

Akhirnya Zul menyodorkan tangannya.

“Zul, creative team, gua di lantai 5,” katanya.

“Ratih, “ ia menjabat tangan Zul.

“Okeh, duluan yaa,” kataku. kami berdua berbalik kemudian melanjutkan dengan langkah kebahagiaan.

“Boleh…, “ tiba tiba Ratih bersuara, dengan nada agak ragu. Aku menoleh.

“Boleh bagi nomernya…? Zul?” katanya akhirnya, seperti memuntahkan biji kedondong yang telah lama menyangkut di tenggorokannya.

Zul mendongak, lalu menyebutkan nomernya dan bertukar miscall.

“Duluan ya, “ kata Zul mengakhiri pembicaran pagi itu.


Tih reportnya udah gua kirim yak.

Gua memberanikan diri mengirim WA malam itu juga.

Badan gua berguling-guling di atas tempat tidur. Jendela kaca sengaja dibiarkan setengah terbuka supaya bisa mendinginkan malam yang panas ini.

HP gua masih belum bergetar. Mungkin dia masih di kantor. Mungkin dia masih sibuk sama kerjaan barunya. Mungkin dia lagi di jalan, naek Bus way, ngga sempet buka HP.

DRRRRRRRRRRR! Jam 11 malem. Gua bangun dari tidur. Sial, ampe ketiduran gua nungguin balesan Ratih.

Sory, baru cek HP. Tadi banyak banget yang mesti di beresin. Iya udah aku cek, maksih ya. Padalah Deadlinenya masih lusa.

Gua menguap sambil menggosok tepian dagu yang agak basah. Bener kan, emang dia lagi banyak kerjaan makanya balesnya agak lama.

Lagi senggang tadi, jadi cepet beresnya. Baru pulang, jam segini lho. Finance kejam juga ya. Emang rumah kamu di mana?

Sepik-sepik modus telah dikerahkan sodara-sodara, apakah dia akan merespon?

DRRRRRRRRRRRRRRRRRRD! 

Ga nyampe lima menit.

Gua melakukan pose selebrasi bak striker habis cetak gol!

Hahaha, kantor lama aku lebih kejam, ini mah itungannya masih sore. Rumah di daerah Kelapa Gading.

Anak ini nice, seenggaknya dia ramah dan selalu mau di ganggu via WA. Yellow light!


“Halo, Ratih. Siang ini udah ada temen makan belum?”

Hmm, belum tuh. Kenapa? Mau ngajak makan?

“Kalo kamu ngga keberatan makan sama gua dan Zul sih, kita mau makan rending super lezat di warung padang depan kantor.”

Rendang super lezat? Lemak dong.

“Oooh,  kamu itu sejenis cewek-cewek yang suka nahan lapar supaya lingkar pinggannya tetep kecil ya?”

Maksudnya apa tuh. Ngeledek ya, ahahahah. Ngga lah, aku ngga segitunya. Sekali-sekali makan mewah kan ngga apa-apa. Hayu lah aku join.

“Okeh, nanti aku WA ya.” telpon gua tutup.

“Kenapa lu nyengir mulu?” Zul noyor kepala gua. Ngga ridho amat dia liat gua bahagia.

“Siang ke Nasi padang yak, nanti si Ratih mau gabung.”

“Ooh. Okeh. Tapi gua ngutang dulu yak. Duit gua abis buat beli baju kemaren,” Zul memeletkan lidah. Gua balas toyor kepalanya.

Warung padang itu biasanya ngga pernah sepi. Tapi kali ini entah berkah dari langit atau orang-orang lagi pada ngga punya duit karena tanggal tua, kami bisa langsung mendapat tempat duduk paling nyaman di dekat kipas angin.

“Rendang di sini juara!” saat kami bertiga sudah duduk.

“Iya tah?” kata Ratih.

“Iya, dari jaman awal-awal kerja di sini, gua sih udah jatuh cinta sama bumbu rendangnya. Syedap, kamu kudu coba,” kata Zul.

“Jadi kamu mau pesen apa?” tanya gua. Si mamang sudah berdiri dekat meja kami bersiap mencatat.

“Rendang juga deh,” akhirnya Ratih memutuskan.

“Rendang 3, mang!”

“Gimana kerjaan kantor lama kamu? Seserem itu kah?” kemudian obrolan mengalir hangat.

Siang itu kita ngobrolin banyak hal. Dan untuk pertama kalinya gua ngelihat ketawanya Ratih yang lepas. Maksud gua, mungkin divisinya memang rada setan atau karena dia anak baru, sehingga gua merasa selama di kantor ia selalu merasa tertekan, bahkan ketika tersenyum ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya.

Kali ini berbeda sekali.

Matanya yang menyipit, otot pipinya, dan jajaran geligi putihnya. Itu tawa tulus dan ekspresi terindah yan gpernah gua saksikan seumur hidup gua. Men, gua merasa sangat beruntung bisa menyaksikan ini dari dekat. Entah kenapa gua ingin selalu melihat tawa itu. Gua ingin tawa itu selalu datang dari gua.

“Kamu, waktu kuliah ambil UKM apaan?” Ratih membuka pertanyaan.

Aku hendak menjawab dengan amat semangat.

“… Zul?” badannya seratus persen condong pada sahabat di sebelah gua.

“Gua mah kaya anak laki-laki kebanyakan, Futsal. Sama Korpus. Cuman ya dua-duanya ngga ada yang awet, gua cuman tahan dua bulan. Abis itu ngga ikut latihan lagi. Ahahaha,”

“Korpus, Koran kampus? Jago nulis dong, artikel kamu pernah tembus koran?”

Gua merasa ada kilatan-kilatan di kedua bola matanya saat dia menyimak apa yang dikatakan Zul. Binar matanya berbeda. Terlihat lebih hidup dan penuh ketertarikan.

Seperti…

Sepeti mata gua saat menatap dia.

Mata orang yang lagi…

Hei, Jangan bilang…


Beberapa minggu berajalan. Gua masih sering WA an sama Ratih, dan sikapnya sama seklai ngga berubah, masih ramah dan baik hatinya seperti dulu. Namun ngga butuh detektif macem Sherlock Holmes untuk tahu kalau gua sejak awal ngga ada dalam orbitnya.

Ngga pernah ada sama sekali.

Malam itu gua iseng main ke lantai tiga tempat finance. Kebetulan di mejanya hanya tinggal dia, bosnya sudah pulang.

Aku memberanikan diri. “Kamu suka sama Zul yah?”

Ratih menoleh kaget. Wajahnya memerah padam. Seperti maling yang lagi ketangkap tangan. Dari sini gua bisa lihat tulisan segede gaban diwajahnya; Gimana kamu bisa tahu?!

“Sudah sampai mana hubungan kalian?”

“Belum sampai mana-mana.” Ratih menunduk sedih. Sungguh hati gua teriris ngelihat ekspresinya kaya gitu.

“Mau aku bantu comblangin?” kalimat itu mencelos begitu saja. Yang selanjutnya gua bakal sangat menyesal  pernah ngucapin kalimat ini.

Ratih mendongak. Senyum berangsur terbit di wajahnya. Matanya berbinar. Ia mengangguk kuat-kuat. Hatiku sakit sekali.

Aku akhirnya tahu, aku sudah kalah start sejak awal. Ratih sudah suka Zul sejak SMA. Gara-gara insiden di Jogja. Sejak itu ia jatuh hati pada Zul. Ratih menumpahkan isi hatinya padaku. Aku malah jadi tempat curhatnya.

“Pokoknya kamu ikutin instruksiku ya. Si Zul itu bebalnya minta ampun kalau masalah cewek. Kamu harus rada agresif dan kasih kode super keras supaya dia nyadar. Dia aja ngga nyadar kamu temen SMA nya kan?”

Ratih mengangguk patuh.

Besok pagi Wa dia ya, ajakin sarapan bareng sambil modus bahas projek kita. Nanti gua pura-pura sakit perut.

Malem ini kamu lembur kan? si Zul juga. Ajakin makan di warung tenda depan, dia suka banget kwetiaunya. Nanti gua pura-pura di panggil bos deh.


“Gua suka sama Dian,” malam itu sehabis lembur Zul cerita tentang isi hatinya.

Gua tersentak! Yang ada di benak gua ketika itu adalah gimana caranya supaya Ratih ngga usah tahu hal ini. Gua ngga mau dia sedih. Gua ngga rela air matanya jatuh.


“Njir, coba ngga gua tembak si Dian. Ngga sesakit ini rasanya!” sore itu gua dengerin curhatannya Zul yang barusan di tolak sama Dian. Gua tawarin dia ngerokok. Ada perasaan lega di pojokan hati gua. Jahat emang gua.

Ajakin zul jalan besok. Minta temenin beli baju buat arisan keluarga gitu. Telpon sekarang, buru! jangan WA. Gua yakin kali ini bakal sukses.

Malamnya WA ratih masuk.

Makasih banyak ya, pas di telpon dia beneran mau diajak jalan.

Good luck ya.

Makasih banyak ya Dod, it means a lot for me.


Bunyi OST nya Doraemon menggema di udara, berpadu dengan aroma kopi yang setengah dingin. Bilah-bilah cahaya matahari sudah tercecer berjatuhan di lantai. Udara terasa menghangat. Cicitan burung yang barusan mematuki kaca jendela kamar gua masih riang terdengar sayup.

Mareka pasti udah resmi tadi malem. Yap, pasti!

Zul nembak dan pasti Ratih nerima dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Kayanya hari ini mereka akan jalan deh, an officially first dating.

Gua sadar kalau tawa itu ngga akan pernah jadi milik gua, makanya gua pengen tawa itu selalu ada di sana (walau ngga dari gua).

Dada gua entah kenapa bergemuruh hebat. Nafas gua tersengal. Mata gua mulai berembun. Ada segumpal rasa sakit yang selama ini bisa gua tahan tapi kali ini rasanya menjadi berlipat-lipat sakitnya.

Perih, 
Perih banget rasanya.


(bersambung…)