20141201

Ayah Pulang

Jalan semen itu masih menyisakan genangan airnya, keruh bercampur tanah merah.  Katak-katak keluar berenang-renang. Angin menyusup di antara kolong-kolong pasak rumah. Perahu yang tertambat masih basah dan bergoyang pelan naik turun. Langit kelabu, terpantul di atas hamparan sungai yang beriak-riak.  

Beberapa burung memilih melayang memeriksa permukaan sungai yang mulai dipenuhi lagi anak-anak ikan. Tampaknya hujan besar sudah reda, menyisakan gerimis-gerimis ramah. Aku berdiri, bertalanjang dada dengan celana club Juventus kumal yang setengah basah. Kakiku memijak jeramba kayu yang mulai lapuk berpadu air hujan.

Di kejauhan muncul titik bergerak mendekat dan membesar. Sebuah perahu dari kayu berukuran sedang, cepat membelah sungai besar kami yang lebarnya tak kurang dari satu lapangan sepak bola, meninggalkan gelombang yang merambat menggerak-gerakkan permukaan sungai. Anak-anak yang sedang berenang-renang kesenangan karena ombak buatan itu. Ibu-ibu berteriak memarahi anaknya yang nekat melompat ke air. Yang dimarahi malah kesenangan di tabrak-tabrak gelombang. Kakek-kekek mengeratkan pegangannya pada jamban, berharap tidak jatuh lagi seperti sore kemarin.

Aku tersenyum senang. Berlari ke ujung jeramba, sambil berjinjit melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Di atas atap perahu itu Ayah duduk dengan rambut terbawa angin. Kemejanya sengaja tida kia kancingkan, menampakkan singlet putih. Terlihat gagah. Senyum dari wajahnya, ada aroma hangat yang menembus paru-parunya. Aroma yang muncul dari suasana yang sangat ia rindukan. Suasana rumah.

Aroma pulang.


“Ayah lupa ya pesananku?” aku merajuk. Anak 6 tahun yang menunduk karena merasa dikhianati dihadapan laki-laki 40-an yang hendak melompat dari perahu ke darat. Satu bulan penuh aku menunggu hari ini. Menunggu ayah pulang membawakan set crayon lengkap yang jumlahnya 56 warna itu. Aku sudah membayangkan akan menjadi anak paling dikagumi di kelas karena benda itu.
Ayah menoleh, baru saja ia menurunkan barang-barangnya. Dari wajahnya kau bisa tahu kalau ia lupa akan janjinya itu.

“Orang baru datang sudah ditagih macam-macam,” kakek buru-buru menyambut tas dan karung besar yang di bawa ayah. Perahu dibelakangnya bertolak pelan setelah ayah menyerahkan uang lembaran biru pada kenek-nya. Benda itu lalu melesat cepat menghasilkan gelombang yang membuat jeramba kami bergetar.

Aku buru-buru beringsut mengambil ransel dari tangan ayah kasar sebagai bentuk protesku.

“Ayah lupo belikan Ujang crayon tu?” terdengar suara ibu dari dapur. Aroma goreng ikan memenuhi isi rumah.

Nenek meraih kresek yang aku tahu itu adalah baju kotor Ayah. Membawa benda itu ke sumur lalu terdengar suara air mengucur.

“Emang Ujang titip ya?” Ayah duduk di kursi setelah menanggalkan kemejanya, mencari buku untuk kipas-kipas. Matanya berkeliling, walau hanya sebulan, rasa kangennya selalu sama. Ia selalu merindukan rumah panggung miliknya, yang ia bangun sedikit demi sedikin menggunakan papan-papan dari hutan.

“Lah, bukannya Ayah yang janji kemarin?” ibu keluar sambil membawa teh hangat. Setelah meletakkan di atas meja ia mencium tangan ayah takjim.

Betapa kecewanya aku. Padahal aku sudah membayangkan akan mendapat nilai paling bagus dalam pelajaran menggambar. Di kampung kami hanya ada yang jual crayon 12 warna, itu pun seminggu sekali setiap kamis saat ada pasar keliling. Selainnya warung-warung di sini hanya jualan barang kebutuhan sehari-hari. Itu lah sulitnya hidup di desa terpencil, kalau butuh barang yang aneh-aneh harus menyebrang ke kota yang ongkosnya lebih mahal dari barangnya.

Nilaiku tidak ada yang bagus. Bahasa, IPS, IPA, apalagi MTK. Hanya pelajaran menggambarlah satu-satunya kesempatanku mendapat nilai 8, nilai paling besar yang diberikan pak Eka dalam sejarah pelajaran menggambar di sekolah SD kami.

Ayah menatapku lamat-lamat. Aku sedang meringkuk di pojok ruang tamu. Melalui jendela yang tebuka memandang burung-burung walet yang sesekali terbang menukik menuju permukaan sungai.
“Itu nanti saja, kamu masih ado pensil warna itu kan. Mari makan dulu, ayah sudah pegang-pegang perut dari tadi,” kata nenek sambil tersenyum. Seketika sudah terhampar makanan di meja. mengepul-ngepul hangat. Andai hatiku sedang tidak kesal, makanan hangat ini cocok sekali dengan suasana cuaca yang baru saja beres hujan ini.

Nenek tidak paham, kualitas warna dari pinsil warna berbeda jauh dengan crayon. Warna dari pinsil warna tidak secerah crayon, kesannya pun tidak sedalam crayon. Gambar dari pinsil warna terlalu hampa untuk membuat pak Eka memberi nilai 8.

Aku beringsut menuju meja makan. Sudah ada Ibu, ayah, kakek dan nenek. Di bawah si putih sudah duduk manis menanti tulang, nasi, daging, pokoknya sisa-sisa makana yang akan jatuh. Ia tak pernah pilih-pilih menu, kangkung goreng pun dilahapnya.

Aku tak selera makan. Hanya mengambil setengah jatah nasi, setengah ikan goreng. Padahal ini adalah menu kesenangan kami, aku bisa sampai tiga kali nambah. Tapi perut ini tak mau diisi penuh-penuh. Ibu melirikku, ia sadar tingkahku yang sedang merajuk ini. Matanya lalu terlempar pada ayah. Ayah menelan ludah.

Setelah selesai Ayah kembali pada teh manisnya, duduk di kursi dan bersandar pada dinding papan. Belum habis, ia menyalakan rokok lalu menghisapnya dalam-dalam, asapnya berlomba terurai keluar jendela.

Tak berapa lama listrik nyala, itu artinya sudah jam 5 sore. Di desa kami listrik hanya ada dari jam 5 sore hingga jam 7 pagi, itu pun kalau tidak mati lampu. Akhir-akhir ini dalam satu minggu bisa 2-3 malam mati lampu. Ayah otomatis sibuk mencari remot TV.

Saking kesalnya melihat tingkah ayah aku buru-buru masuk kamar. Padahal kakek sudah berteriak agar aku segera mandi. Sebentar lagi magrib dan aku harus sembahyang ke masjid dan mengaji setelahnya. Aku tak peduli, ku kunci pintu kamar dari dalam.

Aku kesal sekali, jelas-jelas sebulan yang lalu ayah sudah janji akan membawakan aku crayon 52 warna. Setelah lelah menunggu sebulan penuh, membayangkan angka 8 tertera di buku menggambarku, kecewa sekali rasanya ketika ayah pulang tanpa janjinya.

Aku membenamkan wajahku ke atas bantal. Kesal bercampur marah membuatku nangis seguk-segukan.

Lama tak keluar kamar akhirnya ibu iba juga. Ia mengetuk-ngetuk kamar.

“Jang, jangan merajuk gitu laah. Kamu kan lah besar, Ayah mungkin lupa karena banyak gawe di Pelembang. Kau tak lihat apa banya pesanan uwa-uwa yang harus di beli, jangan begitu lah sama Ayahmu,” Bisik ibu di belakang daun pintu. Aku tak mau menjawab.

“Mandu dulu lah ya, sebentar lagi haji Gede ngebang di masjid. Masa sembahyang badannya kotor kaya gitu.”

“Bujang nda mau mandi kalau ngga ada crayon tu!” aku berteriak saking kesalnya. Orang-orang dewasa itu sama sekali tak ada yang mengerti betapa besarnya perkara crayon ini bagiku. Ibu terkaget mendengar suaraku. Ia menatap Ayah.

Ayah urung mengesap tehnya yang mulai dingin. Batang rokok yang masih setengah di buangnya ke sungai. Layar TV yang menyiarkan lagu dangdut tidak lagi menarik perhatiannya. Ia beringsut pelan menuju kamarku.

“Jang, mandi dulu lah, nanti terlambat sembahyang kamu,” kata Ayah. Suaranya lembut dan dalam.

“Ayah tukang bohong, ingkar janji, munafik,” tambahku.

Kakek geleng-geleng kepala sambil tersenyum, bisa-bisanaya anak 6 tahun bilang kata munafik. Rupanya materi cermah sholat jumat kemarin benar-benar disimaknya anak ini dengan baik.

“Buka pintunya dulu, Bapak ada omongan,” kata Ayah berusaha.

Paling-paling ia berjanji akan membelikannya bulan depan saat pulang seperti sekarang ini. Pintu terbuka, wajahku yang sembab muncul antara celah pintu kayu. 

“Mandi dulu yuk, nanti malam kan Ujang ngga berani ke sumur karena gelap,” ejek ayah sambil tertawa. Ia mengusap kepalaku pelan-pelang. Aku masih memasang wajah kusut karena kesal, tak mau aku tertawa.

“Kenapa sih?”

“Ayah bohong. Katanya nda boleh bohong, dosa. Tapi ayah sendiri bohong terus.”

“Kan kalau lupa bukan bohong namanya,”

“Alasan saja, aku juga bisa alasan lupa setiap bohong biar ngga dosa,”

Ayah tergelak. Di tangannya tiba-tiba ada sebuah kotak berbungkus kado yang sangat bagus. Ayah menyodorkanya padaku.

Aku mendongak tak mengerti.

“Ujang hari ini 7 tahun kan?”

Aku terdiam, sama sekali tak sadar kalau hari ini aku berulang tahun. Kakek, nenek dan ibu menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan berirama. Tak kusangka seisi rumah berkomplot mengerjaiku habis-habisan.

Setalah meraih kado itu cepat aku buru-buru masuk kamar sambil membanting pintu.

“Mungkin dia baru mau mandi nanti malam,” Ibu berbisik yang dibalas senyum oleh Ayah.