20150604

1 Syawal

Denting cangkir terdengar di antara suara celoteh. Aroma teh manis hangat mengembang meraba-raba bulu hidung. Opor ayam hangat yang masih mengepul tumpah membasahi ketupat yang sudah dipotong kecil-kecil. Anak kecil yang sedang memegang mangkuk berbinar, antara bahagia baru mendapat “persen” dari keluarga jauh atau sebentar lagi bisa menyantap opor ayam yang hanya muncul sekali setahun ini. Yang jelas pipinya tembem merah sekali.

Gerombolan laki-laki sedang berkumpul di ruang depan, membahas siapa yang akan segera menyusul punya anak tahun ini, atau kalau sedang sial, yang masih jomblo akan “diancam” jangan berani-berani kumpul lagi tahun depan, kecuali membawa pasangan.

Kumpulan wanita, ramai di dapur memamerkan kue-kue apa saja yang dibuat tahun ini, sambil tersenyum lebar mengeluarkan semua yang masih rapi tersegel di dalam toples.

Alunan takbir menggema dari pengeras suara di menara masjid.

Iedul Fitri tahun ini nampaknya sama ramainya dengan tahun lalu.

HP ku berdering. 

Aku tersenyum melihat nama yg tertera di layarnya. Sambil menggantung Peci dan sarung kudekatkan ketelinga.

“Iya Bu?”

Aku diam sejenak, meresapi suara yang sangat aku rindukan.

“Iya, Alhamdulillah sehat. Ibu sehat kan? “

“Ibu uda sarapan belum”

“Baru mau, ini ada ketupat, sama opor ayam”

“Baru beli tadi malam takbiran di pasar”

“Diangetin lah Bu, mana enak opor ayam dingin-dingin”

“Hehehe. Iya, makanya doain biar cepet keliatan jodohnya” aku nyengir.

“Bapak sehat bu?”

“Alhamdulillah. Pengen ngobrol sih, tapi nanti ajalah kalau masih nyambut tamu”

“Kakak ada disana juga ya?”

“Udah bisa jalan si kecilnya bu?”

“Tau nih kangen banget”

Di rumah sebelah terdengar samar celotehan mereka sekeluarga. Aku pelan menutup tirai jendela.
Tanpa sadar mataku berair.

“Bu, maaf ya tahun ini ngga bisa pulang”

“Iya makan mah selalu nomer satu kok. Udah buncitan nih. Hehehe” menarik ingus.

“Tahun depan lah Insya Alloh pulang”

“Makanya doain dapet kerjaan yang deket-deket rumah, hehehe”

...

“Bu, maafin Adek ya kalau pernah buat ibu sakit hati. Kiriman juga ngga pernah lancar”

“Pokoknya ibu sehat-sehat. Gaboleh sakit lagi. Tau sendiri Adek susah banget ijin pulangnya”

...

“Amiiiin”

...

“Udah dulu ya, bentar lagi harus masuk kerja lagi, shift pagi, mau siap-siap”

“Titip salam buat Bapak , kakak, mba Yuni sama si kecil juga”

“Iya... iya.. InsyaAllah”

“Taqobalallohuminna waminkum. Assalamu’alaikum”

Aku menatap meja makan. Sebilah piring, sepasang sendok dan garpu. Semangkuk opor ayam dan potongan ketupat.

Aku menggeser kursi lalu duduk.

Jemariku mengusap air mata, sambil menahan gemuruh di dada [.]