Jam makan siang itu cafe kami ramai
seperti biasa. Lantunan musik mengalun pelan menghantarkan para pelanggan
menikmati makan siang mereka. Cafe yang ¾ nya penuh seperti ini artinya
kesibukan buatku.
“Mohon tunggu maksimal 10 menit
ya,” kataku dengan senyum terlatih. Pelanggan di hadapanku membalas senyum,
kemudian aku melesat menuju jendela koki. Senyumku selalu berhasil. Kata Kyle,
senyumku berhasil menarik lebih banyak pelanggan mengunjungi cafe kami.
“Menu 10 untuk meja 9, jangan
terlalu pedas plus tambahan sayur,” teriakku sambil menjepit kertas pesanan
pada tali yang menjuntai di sana.
“Oke!!” kata orang di sebelah.
Aku hendak bergegas menuju meja
lain, Kyle menahan lenganku. Aku menoleh, anak rambutku terjatuh menutupi mata.
Dengan gerakan tangan kiri singkat aku menyangkutkannya ke telinga sambil
menarik ballpoint dari saku dengan tangan kanan dan menekan ujungnya sehingga siap dipakai menulis.
“Lihat, raksasa itu datang lagi,”
katanya setengah berbisik.
Lelaki besar, sekitar 180 cm
dengan punggung agak bungkuk, stelan jas kusam, tas bahu, berjalan pelan sambil
menunduk memasuki cafe kemudian mengambil kursi di pojokan dekat piano tua.
“Kenapa dia selalu duduk di sana
ya?” tanyaku. Sejak sebulan di sini hanya lelaki ini yang selalu datang di saat
makan siang dan selalu mengambil tempati duduk di tempat yang sama.
“Aku berani taruhan kalau
pesanannya pasti akan sama. Air mineral botol tidak dingin.” Kata Kayle malas.
Ia bergegas mendekati lelaki itu. Aku bergerak menuju meja lain yang diisi
sepasang karyawan bank. Ekor mataku terus mengikuti Kyle, entah mengapa raksasa
ini menarik perhatianku.
“Sudah kubilangkan,” Kyle
menujukan kertas pesanan raksasa itu di depan hidungku saat kami berpapasan di
jendela dapur. Air mineral botol tidak
dingin. Kyle menuju tempat minuman, mengambil air mineral lalu
meletakkannya di atas nampan.
Kyle hendak bergegas menuju meja
lain, aku menahan lengannya. Ia menoleh. “Biar aku saja,” kataku. “ Kau urus
meja 9, harusnya pesanannya sudah siap,” Kyle mengangkat bahu.
Aku maraih nampan dengan air
mineral botol tadi, lalu bergegas menuju meja pojok, melewati celoteh bercampur
alunan radio dan deretan meja-meja yang penuh. Saat aku tiba lelaki ini sedang
mengeluarkan sendok dan garpu pelastik dari plastik transparan yang membungkusnya,
lalu membuka kotak bekalnya.
Dari sini aku bisa melihat menu makan siangnya;
nasi merah, sayur-entah namanya apa-rebus, seiris daging yang juga direbus dan
sebuah jeruk yang terletak dalam petakan-petakannya. Aku mengerjap, menu orang
ini sehat sekali, bahkan alat makannya steril dengan bungkus plastik itu.
Ia masih sibuk mengeluarkan garpunya hingga tidak
menyadari kedatanganku. Aku berdehem yang membuatnya mendongak. Dengan posisi
yang seperti itu aku bisa melihat seluruh air wajahnya. Tidak ada yang istimewa.
Maksudku, bentuk mata, hidung bibir dan apapun yang ada di sana sama dengan
orang kebanyakan. Wajahnya adalah tipe wajah yang akan segera kau lupakan 5
menit setelah kau berpapasan. Hanya saja rambutnya tersisir rapi ke belakang,
dan sangat klimis. Berapa banyak minyak rambut yang ia pakai ya?
“Sebotol air mineral tidak
dingin,” kataku sambil tersenyum. Orang itu menunjuk samping kotak makannya
acuh lalu kembali dengan garpunya yang belum beres.
Aku tersentak, lelaki ini tidak
membalas senyumku. lelaki besar ini ia bahkan tidak melihat wajahku sama
sekali saat aku tersenyum tadi. Hanya
menyuruhku meletakkan air mineralnya dengan isyarat telunjuknya.
Aku meletakkan air mineralnya,
lalu memasang senyum yang lebih lebar dari tadi. Kali ini dia harus membalas
senyumku.
”Selamat menikmati pesanannya, ”
kataku masih sambil tersenyum.
Lelaku ini mulai menyantap
makanannya, tanpa suara, serbet di kerah, dengan punggung tegak dan benar-benar
mempraktikkan table manner. Tidak
menggubrisku sama sekali. Aku berbalik lalu menuju Kyle dengan wajah kesal.
“Kau kenapa?” tanya Kayle.
“Raksasa itu menyebalkan sekali,”
kataku ketus sambil mengencangkan ikatan rambut ekor kudaku. Kyle tertawa.
“Tiga, dua, satu,” Kyle sambil
melihat jam tangannya. Raksasa itu berdiri lalu berjalan menuju pintu dan
menghilang di jalanan. “Selalu 15 menit, tidak pernah lebih atau kurang sama
sekali.”
“Dia tidak bayar?”
“Ia menaruh uangnya di bawah
botol air mineral yang sudah kosong, dan selalu tanpa tips,” cafe sudah lumayan
sepi, aku dan Kyle sedikit santai. “Tuh kan,” kami berdua mengangkat bekas makan raksasa itu. Semuanya bersih, tak ada
remah apapun yang jatuh. Hanya ada sisa botol air mineral yang telah kosong
sama sekali.
“Dia ini robot atau apa sih,” aku
mengekerutkan dahi. Kyle lagi-lagi tertawa melihatku.
Besoknya di jam yang sama raksasa
itu datang lagi. Aku mengencangkan ikat rambutku, menyangkutkan anak rambut ke
telinga, lalu menaikkan lengan panjangku hingga siku. Kali ini aku harus bisa
membuatnya membalas senyumku. Aku sudah sikat gigi tiga kali pagi ini.
“Apapun yang akan kau lakukan,
jangan sampai membuatnya ketakutan ya,” Kyle nyengir. Tau betul aku akan
melakukan apa saja kalau sudah menginginkan sesuatu.
Lelaki itu mendongak, “Sebotol
air mineral tidak dingin,” kataku sebelum ia membuka mulutnya. Aku sengaja memasang senyum selebar yang aku bisa. “Ada
lagi?” senyum itu masih tersangkuti di sana.
Lelaki itu gelagapan lalu
menggeleng. Dan ia tidak membalas senyumku. Malah mulai sibuk dengan peralatan
makannya lagi, seperti kemarin.
Aku mengerjap tak percaya.
Aku berbalik dan melangkah cepat.
“Gagal ya?” Kayle terkekeh melihat wajahku. Aku bergegas mengambil air mineral
lalu mengangkatnya ke atas nampan dan menuju ke meja itu lagi.
“Silahkan, ada tambahan lagi?”
laki-laki itu mendongak, menggeleng, melanjutkan menyantap bekalnya.
Kekesalanku sudah di ujung
ubun-ubun.
“Tidak bisa kah anda membalas
senyumku atau bilang terima kasih?” bentakku, aku keceplosan. Haram hukuknya
menghardik pelanggan. Untungnya kata-kataku hanya cukup untuk didengar kami
berdua, kalau Kyle dengar, dia bisa marah besar.
Lelaki itu mendongak lalu
mengerjap.
“Maafkan saya, saya tidak
bermaksud tidak sopan,” bukannya marah karena diperlakukan tidak sopan, ia malah
memasang ekspresi menyesal.
Aku mematung, bukan karena
ekspresinya yang aneh tapi karena suaranya yang amat kecil dan lebih terdengar
seperti suara perempuan dari pada suara laki-laki. Bagaimanapun dengan badan
sebesar ini, kenapa suaranya malah aneh.
Detik berikutnya aku berlari kamudian
tertawa habis-habisan hingga terduduk bersandar di balik pintu toilet. Si
raksasa kebingungan ditinggal, Kyle menyernyit mendengar tawaku samar.
Aku menaruh air mineral botol di
hadapannya (hari berikutnya).
Dia mendongak bingung.
“Pesananmu ini saja kan?” kataku
sambil tersenyum.
Wajahnya memerah malu, lalu
mengangguk pelan.
Aku menarik kursi lalu duduk di
hadapannya. Memperhatikannya dengan penuh antusias. Hey wajarkan kalau aku
tertarik dengan orang ini. Jam makan yang selalu tepat waktu, menu makan yang
selalu sehat, alat-alat makan yang steril. Jarang sekali ada orang yang seperti
ini. Lagi pula siang ini aku tidak terlalu sibuk, cafe sedang sepi.
Dia mendongak, lalu wajahnya
memerah karena malu. Aku tersenyum.
“Kau kerja di sekitar sini ya?”
Ia mengangguk, tangannya kikuk
memotong sayuran rebusnya kecil-kecil.
“Di mana?”
“Kantor akuntan, dua blok dari
sini,” katanya.
“Ooh akuntan, pantas saja,”
kataku.
Ia meneruskan kegiatan
memotongnya. Kali ini telur mata sapinya yang sedang ia potong kecil-kecil.
“Kau selalu menggunakan sendok
dan garpu steril itu ya?” ia mengangguk, masih sambil memotong.
Orang ini benar-benar sulit
diajak ngobrol. Masa hanya bicara saat ditanya saja.
“Kenapa?”
“Higienis, jadi aku bisa makan
tanpa takut kena diare,” katanya polos.
Aku melongo. Orang ini
benar-benar deh.
“Kalau seluruh orang sepertimu,
rumah sakit akan kosong,” komentarku.
Wajahnya memerah.
“Kenapa kau hanya memesan air
mineral tiap kali ke sini?” aku
penasaran.
“Aku suka suasana di sini, tapi
aku sudah membawa bekal, jadi satu-satunya cara agar aku bisa menyantap makan
siangku di sini adalah dengan memesan air mineral,” katanya polos.
Aku tercenung. Lalu tersenyum.
Bahagia sekali ada yang merasa betah di cafe kami.
“Baiklah, aku harus bekerja lagi
nih. Selamat menikmati makan siang nya,” aku tersenyum riang.
Ia mengangguk lalu membalas
senyumku.
Aku terdiam, ini kali pertama ia
membalas senyumku.
“Akrab banget,” Kyle melengos
membawa piring-piring kosong ketika tiba di counter.
“Apaan sih,” aku tersenyum malu sambil
merapihkan ikatan rambut.
“Mba ngga pernah keliatan kalau
malam,” raksasa itu bertanya, agak gugup, saat aku mengantarkan pesanan
rutinnya. Ntah sejak kapan orang ini mulai memanggilku ‘mba’.
“Mas nya juga ke sini kalau makan
malam?” tanyaku. Dan entah sejak kapan aku memanggilnya ’mas’.
Ia mengangguk malu.
“Terima kasih telah menjadi
pelanggan loyal cafe kami,” kataku. “Mas nya ngga mau coba menu andalan kami?
Roosted chicken belly?” kataku. Rasanya sangat enak, aku ingin orang ini
merasakan menu cafe kami yang lain selain air mineral.
Ia menggeleng. Orang ini
benar-benar sekokoh tebing batu.
“Kenapa musiknya berhenti?”
tanyanya.
Kepalaku berkeliling mencari
sosok Kyle, ia sedang memanggil teknisi untuk memperbaiki sistem streo Cafe
kami. Mungkin ada kabel yang copot.
“Mungkin ada masalah pada sound
sistemnya, sedang kami usahakan agar bisa normal kembali. Maafkan kami ,”
kataku.
“Piano ini rusak ya?” tanyanya
tiba-tiba.
“Hah?” aku kaget ditanya dengan
pertanyaan tak terduga itu. “Aku tidak tahu, sejak aku mulai bekerja di sini
sebulan yang lalu, piano itu sudah ada di sana. Dan tak ada seorang pun yang
pernah menyentuhnya,” jelasku.
Lelaki itu berdiri lalu bergerak
mendekati piano itu.
“Kau mau apa?” kataku panik. Aku
takut lelaki ini merusak benda itu. Piano kan tak ada yang murah.
Ting!!
Sebuah tuts di tekan, suaranya
menggema memenuhi ruangan. Semua orang menoleh.
Aku segera berlari menuju lelaki
itu. Apa yang dia lakukan? Aduh, jangan membuat pelanggan lain terganggu dong.
Jemari tangannya mulai menari. Sebuah lantunan
mengalun. Lembut, tenang dan indah. Langkahku terhenti.
Lelaki itu, dengan mata terpejam
memainkan sebuah simfoni yang aku tak tahu apa tapi jelas-jelas sangat indah
dan membuat semua pelanggan di sini terpesona. Bahkan mulut Kyle menganga.
Jangan-jangan akuntan hanya pekerjaan sampingannya.
Permainan selesai, tepuk tangan
bergemuruh. Lelaki itu turun dengan kikuk dan wajah memerah.
“Aku tak menyangka kau bisa main
piano,” kataku terpukau.
Ia menggaruk-garuk kepalanya,
“waktu kuliah aku ikut club musik klasik,” katanya.
“Ah masa?”
“Ia nampaknya merasa sangat
menyesal kau tak ada. Ia bahkan tetap di sini lebih dari setengah jam, ini baru
pertama kalinya,”
Aku mengerjap. Masa iya?
“Kali ini kau harus menghantarkan
air mineral ini padanya, sebentar lagi jam makan siang,” Kata Kyle.
“Kemarin mba ke mana?” katanya,
tatapannya membuatku merasa benar-benar bersalah.
“Ada urusan mendesak. Pesanannya
ini saja?” kataku sambil tersenyum tidak enak.
“Kau tahu, raksasa itu terlihat
kecewa saat aku mengantarkan pesanannya kemarin, bukan kamu,” kata Kyle saat
aku menuju jendela koki. “Ia bahkan duduk di sana lebih lama dari biasanya.”
“Mungkin ia suka padamu,” tambahnya.
Pipiku menghangat. Ada apa ini?
“Saya pesan Roosted chicken
belly,” katanya polos.
Aku mendongak tak percaya. Air
mineral itu hampir saja jatuh menggelinding dari meja.
“Masnya tidak membawa bekal?”
“Tadi saya buru-buru. Lagi pula,
sekali-sekali keluar dari kebiasaan kan tidak apa-apa,” katanya sambil
tersenyum.
Aku tersenyum, senang sekali
rasanya.
“Omong-omong, nama saya Jeri,”
katanya gugup.
“Saya, Julian,” kataku. Sudah
sekitar satu bulan kami saling mengobrol, tapi baru kali ini saling memberi
tahu nama masing-masing.
“Malam ini, kalau kau ada waktu,”
katanya terbata-bata.
Perutku mendadak mual, jantungku
berdeta kencang dan wajahku memerah.
“Maafkan aku,” kataku. “Ada yang
harus aku kerjakan,” kataku.
“Malam besoknya?”
“Tiap malam,” suaraku terdengar
berat.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
Nampak agak kecewa.
“Kenapa tak kau katakan?” kata
Kyle saat aku kembali menaruh kertas pesanan.
“Apanya?”
“Jelas-jelas dia menyukaimu.”
Aku menggeleng pasrah. Kyle
menatapku dalam, tanganya bergerak lembut merapikan anak rambutku.
“Kau harus jujur sayang, kalau
dia benar-benar mencintaimu dia akan menerimamu apa adanya.”
Angin taman berhembus hangat,
menerbangkan rambutku pelan-pelan.
“Dari tadi?” seseorang menyapaku,
aku menoleh lalu menggeleng sambil menunduk.
“Baiklah, ayo.” Kata Jeri sambil
tersenyum.
“Tunggu, aku tidak sendiri,”
kataku takut-takut.
“MAMA!!!!” anak gadis kecil
berumur 4 tahun berlari ke arahku dengan seutas balon ditangannya. Aku berjongkok
lalu menyambutnya.
“Ini Tanya,” kataku begitu
berdiri sambil menggendong Tanya. Begitu berat rasanya menatap mata Jeri.
Jeri tersentak kaget, ia
memeriksa kami dengan kedua matanya. Wajahnya kaku. Aku merasa sangat khawatir.
“Itu siapa, mah?” kata Tanya,
suaranya yang mungil berdesing-desing antara kami .
“Paman Jeri, sahabat mamanya
Tanya,” Jeri menyodorkan lengannya mengajak berkenalan Tanya. Sebuah senyum terbit
di wajahnya.
Tanya minta turun lalu bersalaman
dengan Jeri.
“Paman, jangan nakal sama mama
ya,” wajahnya serius.
Aku, entah mengapa tergelak
menemukan tingkah Tanya, begitu juga Jeri.
Sore itu kami berdua saling tertawa
untuk pertama kalinya.