Rasanya perasaan itu masih mengambang di dalam lambungku.
"Kita udah ngga akan ada posisi kamu lagi, Juni kita sudah pake struktur yang baru"
Kalimat itu lah yang membuat ulu hati ku tertonjok telak. sangat mual.
Kalimat itu memanggil sekelebat hal yang ada di belakangku. Istri, anak, sekolah anak, tagihan KPR dan hal-hal lain yang terimbas dari kalimat tersebut.
Kalimat itu membuat bertahun-tahun karir yang kususun seperti runtuh.
Umur segini, dengan pengeluaran yang besar dan tanggung jawab yang tidak sedikit.
Mau kemana aku mencari pendapatan setelah ini.
Ko aku yang kena ya,
Kan kerjaku bagus,
Peraturan perusahaan pun tak ada satupun yang ku langgar.
Kenapa aku yang kena sikat?
Masuk lah aku ke fase 'denial'
Menolak kenyataan dan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku.
Berhari-hari aku marah, mengutuk dan menyalahkan perusahaan. Punya hak apa mereka memecatku. Bukankanh beberapa tahun ini aku punya andil besar dalam bisnis mereka, enak aja memecat aku!
Kemudian masuk ke fase 'accaptence', penerimaan.
Ya, aku mulai menerima kenyataan.
Salah sendiri terlalu menggantungkan pendapatan pada perusahaan.
Bagaimanapun aku adalah babu perusahaan, kalau majikan tidak butuh aku lagi, ya tinggal aku didepak.
Sesimpel itu.
Hari itu ada mobil calya lewat didepanku yang baru saja memakir mobil (kantor).
Aku tersentak.
Kayanya selama ini aku kena penyakit ujub.
Sombong dan merendahkan orang lain.
FYI, aku kerja di perusahaan yang lumayan bonafid. Gaji lumayan, posisi menagerial yang oke, bonus bagus, dapet asuransi kesehatan juga, dan salah satu fasilitasnya lagi aku dapet mobil kantor, Honda HRV terbaru.
Saat jalan di mall, dan tempat umum, tanpa sadar aku menilai penampilan orang-orang yang lewat.
Posisinya apa ya, bajunya branded gitu
Mobilnya bagus ya, Pajero, mungkin udah jadi 'Head of"
Bukan kagum, malah membandingakan diri.
Ada beberapa moment saat keluar dari mobil di parkiran, tanpa sadar dadaku membusung.
'Mobilku HRV lho, bukan mpv 7 seater yang pasaran itu, apa lagi mobil LCGC'
Aku beristigfar dan menarik nafas.
Betapa ujub dan sombong diri ini.
Sungguh sudah melampaui batas.
Mungkin ini alasannya.
Allah nyentilku dengan ini.
Biar aku ngga sombong dan kembali sadar diri.
'Semua itu bukan punya kamu lho, titipan aja.'
'Kalau Aku mau, semua yang menepel pada mu, bisa Aku ambil semua tanpa terkecuali dengan sangat mudah.'
Lalu ketakutan-ketakutan itu,
Takut ngg bsa bayar KPR,
Takut ngg bisa bayar sekolah anak,
Takut ngg bisa ngasih uang bulanan ke istri
Tanpa sadar aku merasa aman karena bergantung pada pekerjaan,
Pada perusahaan itu.
Padahal kita semua tau, rizki itu berasal dari Sang Ar Rahim, Sang Ar Razzaq.
Syirik ngga sih selama ini?
Menduakan sifat Mu, Ar Razzak, Sang Pemberi Rizki, dengan pekerjaan yang setiap bulan memberi gaji yang tetap.
Astagfirullahaladziim
Ya Rabb, ampuni hamba yg melewati batas ini.
Alhamdulillah Engkau ingatkan hamba sehingga saat ini hamba sadar
Ya Rabb, hamba berpasrah dan menyerahkan segalanya
Hamba tahu skenario-Mu adalah yang terbaik
Bantu Hamba ya Rabb,
Cukupkan semua kebutuhan Hamba, keluarga hamba
Jagalah hamba dari segala penyakit hati yang masuk tanpa sadar
Tiada daya dan upaya selain dari Engkau ya Rabb
Amiin
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)