20150827

Airport



Langkah kaki takdir memantul-mantul di sana.

Aku tak pernah merasakan jantungku berdegup begitu kerasnya hingga saat ini. Di antara lalu-lalang orang-orang, Koper yang mereka seret, desiran udara dingin yang ditata AC dan kursi-kursi panjang berwarna merah berjajar, dia melewatiku begitu saja. Melangkah di hadapanku yang sedang mengantri membeli roti karena siang itu aku belum sempat sarapan dari pagi.

Hidung ini gemelitik disapa harum parfum yang ia kenakan. Ringan, segar juga membelai.
Pandangku seperti magnet kepada sebongkah besi. Tak mau beralih. Entah ia merasa risih karena kutelanjangi dengan pandangan ini, aku menjadi tak peduli.

Ada rasa penasaran yang begitu besar, yang diantaranya menyelinap rasa tertarik.
Sudah lama aku termenung dalam kesendirian. Di sebuah sudut di mana hanya aku saja. Sambil berusaha terbahak saat semua orang terbahak, berusaha berpadu dalam kerumunan. Yang sesungguhnya dingin itu masih ada di sana. Di sudut yang membiarkanku duduk memeluk lutut. Sendirian dan kedinginan.

“Mas, ini kembaliannya,” aku menoleh setengah kaget.
mungkin ini kali kelima dia menegurku. Entahlah.

Aku meraih lembar-lembar itu, memasukannya ke dalam saku, mengunyah roti sambil berjalan pelan-pelan mencari tempat terbaik untuk mengamati sosok itu.

Sepatu keds tiga garis, celana jeans biru gelap, sebuah ransel dengan tali longgar di punggun, kedua tangannya memeluk sebuah kantung berwarna ungu. Di antara itu semua sebuah wajah lah yang menjadi pusat keindahan itu semua.

Tidak-tidak. Tidak cantik. Hidung dan mata itu adalah hidung dan mata yang bisa kau temukan di mana saja. Dan aku bisa bilang kalau terlalu banyak yang lebih indah apa lagi dengan orang-orang di dalam televisi.

Maafkan aku kawanku, kita tidak sedang membicarakan semena-mena keindahan fisik. bukan, bukan sama sekali.

Ada keteduhan dan ketentraman yang memancar lembut dari sana. Dan aku, yang 
sedang terbius, begitu terbuai pancaran lembut itu.
Betapa senang dan bahagia ternyata tujuan kami sama. Kami sama-sama memasuki gate yang sama. Apa lagi kabar yang lebih baik dari ini kawan. Bisa satu ruangan dan mengawasi lebih lama dari yang kau duga.

Dan senyumku tak mau surut saat ternyata tempat duduknya dalam pesawat tepat di belakangku. Hatiku berdesir saat telinga ini mendengar ia berbicara melalu telpon genggamnya. Entahlah, mungkin orang tua atau kakaknya, agar mendoakan agar dia dan kami semua satu pesawat selamat sampai tujuan.

Dadaku menghangat. Betapa baiknya malaikat ini. Ia tidak egois mendoakan dirinya sendiri, tapi kami semua. Berapa dari kita yang mampu seperti itu?
Ketika berjalan keluar tubuh pesawat, menyusuri lorong airport, dan menunggu bagasi, aku masih bisa melihat sosoknya.

“Bro, jemputannya udah nunggu di depan”
Teman seperjalannaku mengalihkanku, konsentrasiku buyar,  dan sosok itu benar-benar lenyap dari sana. Butuh agak lama mata ini menjelajah panik mencar-cari diantara kerumuna itu. Begitu ku temukan, sosok itu sudah berjalan menjauh.

Pundakku merosot. Menyisakan kecewa dan mengembalikanku pada pojok dingin dan gelap itu lagi.

Dari pojok itu aku mendongak, seberkas cahaya kecil jatuh di lantai di hadapanku. Berkas tipis yang sangat redup. Aku tersenyum. Tersenyum lebar sekali, seperti anak kecil sedang berhadapan dengan lolipop besar yang sebentarlagi bisa ia raih.

Setidaknya kami satu kota saat ini. Itulah satu-satunya informasi yang kupunya saat ini.
Biar lah kawan. Biarkan langkah-langkah, alunan waktu dan jalinan sang takdir bergurau dengan caranya. Seperti saat dia membiarkanku kelaparan siang ini. Membuat aku harus mengantri di depan penjual roti dan sosok itu melangkah di sana.

Biarkan sang takdir bermain dan tertawa-tawa. Yang nantinya akan membuat kami saling bertemu dan mengingatkan, atau harus saling melupakan.

Aku terlalu naif?
Ah biarlah.

Yang ku tahu sekarang, dari sudutku ini. Berkas cahaya itu sangat redup, tapi cukup terang untuk membuat wajahku berseri.


(27 malam hari di bulan ke 8 th ke-15)    

20150604

1 Syawal

Denting cangkir terdengar di antara suara celoteh. Aroma teh manis hangat mengembang meraba-raba bulu hidung. Opor ayam hangat yang masih mengepul tumpah membasahi ketupat yang sudah dipotong kecil-kecil. Anak kecil yang sedang memegang mangkuk berbinar, antara bahagia baru mendapat “persen” dari keluarga jauh atau sebentar lagi bisa menyantap opor ayam yang hanya muncul sekali setahun ini. Yang jelas pipinya tembem merah sekali.

Gerombolan laki-laki sedang berkumpul di ruang depan, membahas siapa yang akan segera menyusul punya anak tahun ini, atau kalau sedang sial, yang masih jomblo akan “diancam” jangan berani-berani kumpul lagi tahun depan, kecuali membawa pasangan.

Kumpulan wanita, ramai di dapur memamerkan kue-kue apa saja yang dibuat tahun ini, sambil tersenyum lebar mengeluarkan semua yang masih rapi tersegel di dalam toples.

Alunan takbir menggema dari pengeras suara di menara masjid.

Iedul Fitri tahun ini nampaknya sama ramainya dengan tahun lalu.

HP ku berdering. 

Aku tersenyum melihat nama yg tertera di layarnya. Sambil menggantung Peci dan sarung kudekatkan ketelinga.

“Iya Bu?”

Aku diam sejenak, meresapi suara yang sangat aku rindukan.

“Iya, Alhamdulillah sehat. Ibu sehat kan? “

“Ibu uda sarapan belum”

“Baru mau, ini ada ketupat, sama opor ayam”

“Baru beli tadi malam takbiran di pasar”

“Diangetin lah Bu, mana enak opor ayam dingin-dingin”

“Hehehe. Iya, makanya doain biar cepet keliatan jodohnya” aku nyengir.

“Bapak sehat bu?”

“Alhamdulillah. Pengen ngobrol sih, tapi nanti ajalah kalau masih nyambut tamu”

“Kakak ada disana juga ya?”

“Udah bisa jalan si kecilnya bu?”

“Tau nih kangen banget”

Di rumah sebelah terdengar samar celotehan mereka sekeluarga. Aku pelan menutup tirai jendela.
Tanpa sadar mataku berair.

“Bu, maaf ya tahun ini ngga bisa pulang”

“Iya makan mah selalu nomer satu kok. Udah buncitan nih. Hehehe” menarik ingus.

“Tahun depan lah Insya Alloh pulang”

“Makanya doain dapet kerjaan yang deket-deket rumah, hehehe”

...

“Bu, maafin Adek ya kalau pernah buat ibu sakit hati. Kiriman juga ngga pernah lancar”

“Pokoknya ibu sehat-sehat. Gaboleh sakit lagi. Tau sendiri Adek susah banget ijin pulangnya”

...

“Amiiiin”

...

“Udah dulu ya, bentar lagi harus masuk kerja lagi, shift pagi, mau siap-siap”

“Titip salam buat Bapak , kakak, mba Yuni sama si kecil juga”

“Iya... iya.. InsyaAllah”

“Taqobalallohuminna waminkum. Assalamu’alaikum”

Aku menatap meja makan. Sebilah piring, sepasang sendok dan garpu. Semangkuk opor ayam dan potongan ketupat.

Aku menggeser kursi lalu duduk.

Jemariku mengusap air mata, sambil menahan gemuruh di dada [.]




20150207

Catatan Ngelantur (a.k.a. malam minggu sepi)

Dingin menggigit. Hahaha. Bisa-bisanya aku buka tulisan ini dengan dua kata pasaran. Apa karena jemariku sudah tidak lentik lagi di antara tuts-tus ini. Atau memang sulit bagi jari ini untuk berpadu padan dengan imajina.

Alah, so so kepingin terlihat pandai merangkai kata saja kau ini. Mengaku saja kalau pingin nya saja punya tulisan bagus, di baca banyak orang dan mendapat pujian dari mereka, tapi malasnya ngga ketulungan untuk menulis.

Toh pujian itu hanya akan terasa beberapa detik saja. Hanya teresap sekejap, lalu menghilang tawar lagi. tak merubah aroma tulisanmu sama sekali. Seperti kabut di pagi hari. Ada tidak ada kabut, pagi tetap saja dingin. Dan pendiam.

Tuh kan ngaco lagi, malah bahas pagi yang pendiam. Lebih pendiam malam lah dari pada pagi. Apa lagi malam-malamku. Sepulang bekerja hanya sepetak kamar yang menyambut. Jengkerik pun enggan berderik. Apa lagi petasan dan hingar bingar lainnya.
Halah, malah curhat.

Ya sudah. Lumayan juga ya tulisan ngelantur ini. Padahal baru duduk kemudian membiarkan jemari—ah mulai agak kembali lentik lagi dia—ini menari, sudah banyak kata yang ditelurkan dan menetas menjadi serangkaian kalimat yang agak bersahutan.

Lumayan lah. Setidaknya malam minggu ini tidak sekosong malam minggu-malam minggu sebelumnya.

Kosong sekosong suara hembusan nafas dan debar jantung, yang menggaung sendirian tanpa ada yang mendengar, juga tidak saling dengar, juga tidak saling peduli. Dan memang mereka tak pernah perduli. Walau jarak paru dan jantung hanya setengah langkah anak semut saja.

Tuh kan ngaco lagi, Malah sekarang jadi melankoli.

Biar lah, Sekali-sekali.


(Di ketik dalam waktu kurang dari 5 menit di dalam ruangan, di atas pulau Batam. Sekali sunting, lalu posting. Hehehe, keterangan ini ga penting)