20130429

A Whole New World



Jam di tugu menara segitiga itu tak berdetak lagi. Untungnya banyak muda-mudi duduk di bawahnya sambil tertawa dan saling mengobrol yang membuat suasana ramai. Lalu lintas di sekitar situ masih sesak karena malam ini adalah malam minggu, atau malahan lebih dari biasanya. Dengan warna keperakan yang dipantulkan semburan air mancur yang naik turun, suasana jadi tambah meriah. Itulah alasan kenapa aku senang menikmati malam minggu di sini, di Putaran Air Mancur Bogor.

Banyak motor dan mobil terparkir memenuhi halaman kedai-kedai tenda, tak heran jalanan tersendat. Aku duduk menunggu bansus pesananku di salah satu sudut kedainya ditemani suara gitar yang di mainkan pengamen-pengamen jalanan. Di sini kita boleh duduk di tenda siapa saja, dan memesan bansus dari tenda lain. Tak ada aturan ‘kalau duduk di sini, wajib beli makanan dari sini juga!’

Seseorang yang baru tiba kemudian duduk di hadapanku. Aku masih menahan nafas saat menatap wajah Mei. Ia tersenyum padaku, manis sekali.

“Sory telat,” ia menaruh tas jinjingnya di atas meja. “Macet tadi.”
Aku tersenyum sambil menggeleng. Mei tak berubah sama sekali, ia masih selalu berusaha tepat waktu.“Ke sini naik apa?”

“Dianter Tanya,” katanya sambil merapikan rambutnya. Aku senang sekali melihat dia melakukan itu, terlihat anggun.

Ia menatapku lekat-lekat, membuatku harus melonggarkan kerah.

“Kamu makin kurus Dan?” suaranya lembut sarap perhatian. Tangannya mengusap pipiku. Hangat. Ada aliran yang membuat dadaku berdebar keras. Aku menggenggam tangannya, lalu mengecupnya pelan.

“Biasa, banyak kerjaan kantor,” kataku. Dia menarik tangannya.

“Kamu selalu begitu. Kerjaan terus, kalau masuk rumah sakit lagi baru tahu rasa,” ia membuang mukanya.

“Bukan begitu, tender sedang banyak. Kliennya penting semua, kami harus benar-benar serius,” tanganku perlahan bergerak menuju jemarinya yang ada di atas meja. “Aku masih rutin jogging kok,” tambahku.

Ia menatapku. “Dani, Kamu tuh kalau sudah kerja suka lupa waktu. Aku takut kamu roboh lagi,” jemari kami bertautan. Kehangatan meresapi tubuhku. Aku tersenyum kecil, membalas tatapannya.

Pesanan kami tiba, dua gelas bansus panas, dibawakan oleh seorang remaja dengan senyum ramah. Karenanya, Mei menarik tangannya cepat-cepat. Aku menahan senyumku. Mei agak pemalu, apa lagi menunjukan kemesraan kecil seperti ini—yang sebenarnya sangat aku rindukan—di depan orang lain.

Angin malam berhembus kencang, menggerakkan beberapa helai rambutnya. Ia menggosok pundaknya, kedinginan. Aku berdiri, melepas jaketku lalu memakaikan di pundaknya. Ia tersipu, aku suka sekali melihat pipinya memerah seperti itu.

“Sudah makan? Apa kita pesan roti bakar?” kataku setelah duduk kembali di hadapannya.

“Boleh, kebetulan aku belum makan. Jangan lupa...”

“Kejunya yang banyak?“ aku memotong.

“Kamu masih hafal rupanya,” Ia tersenyum.

“Tentu saja,” aku mengangguk, lalu memanggil pelayan tadi, memesan pesanan kami.
Kami saling diam. Ada semacam sekat yang terbentuk perlahan sejak tadi. Angin malam berhambur makin deras. Dia sibuk mengaduk-aduk bansus dengan sedotan di tangannya. Rautnya mendingin.
Beberapa saat kemudian sepasang pengamen—aku yakin mereka sepasang kekasih—masuk ke tenda kami.

“Permisi,” kata si perempuan bertopi sambil tersenyum. Si lelaki mulai memetik gitarnya.
Ketika mereka akan memulai lagunya, Mei mengangkat tangannya. Pasangan artis jalanan itu menoleh.

A hole new world, bisa?” kata dia. Aku lalu tersenyum. Dia masih ingat lagu itu.
Artis jalanan itu tersenyum sambil mengangguk.

Request dari pasangan di pojok sana, A whole new world mudah-mudahan bisa menambah romantis malam minggu anda semua.” Dan mulai lah mereka menyanyikan lagu favorit kami.

Aku bersyukur lagu kami dimainkan, suasana antara kami cair kembali. Kami mulai bisa membicarakan banyak hal, saling tarsenyum dan saling menatap mesra. Beberapa kali aku melihat dia tertawa hingga gerahamnya terlihat, terdengar agak mengada-ada memang tapi saat sedang begitu dia terlihat manis sekali.

HP Mei berdering, ia meminta izin untuk memeriksa HP-nya. Aku mengangguk.

“Dari Tanya, “ katanya. Lalu dia memeriksa jam tangannya. “Tak terasa sudah dua jam kita di sini,” tambahnya.

Aku mengangguk, sedih. Pertemuan kami akan segera berakhir.

“Boleh aku antar sampai mobil?” pintaku. Mei mengangguk.
Aku membantunya berdiri setelah membayar pesanan kami. Ia ingin bayar, tentu saja aku bersikeras menolak.

Kami berjalan pelan-pelan. Diam-diam dia menggandeng tanganku. Aku mengeratkan jemariku diantara jemarinya. Angin malam tidak begitu dingin lagi.

“Langitnya cerah,” kata Mei, wajahnya menerawang ke atas.

“Iya, “ kataku lirih.
Lalu kami saling diam lagi.

“Tak bisakah kita rujuk saja,” Mei mulai berbicara, lebih pada dirinya sendiri. Dan aku tahu kali ini ia tak ingin disela.

“Maksudku, umur kita sudah nyaris lima puluh. Mau apa lagi dengan perceraian besok?” ia menoleh padaku. 

Aku hanya bisa menunduk, memperhatikan aspal hitam kasar dan ujung sepatuku.

Dia masih menatapku, dan aku tak berani membalas tatapannya.

Akhirnya aku menggeleng lemah.

“Maafkan aku, “ kataku lirih. Aku tahu Mei sedang mati-matian membendung air matanya.
Mobil Tanya ada di depan kami, ia keluar dari mobilnya, lalu setengah berlari ke arah kami.

“Maafkan aku,“ kataku lagi, sambil mengusap pipinya. “Jangan menangis, sayang,” tambahku. Aku menatap matanya lekat-lekat. Ada embun di sana.

Ia menegakkan tubuhnya, mencoba kuat.

“Kamu harus janji untuk tidak masuk rumah sakit lagi,” katanya. “Jangan lupa lari pagi dan jaga pola makanmu,” tambahnya.

Tanya tiba, ia kaget memasuki atmosfir kami. Kemudian aku tersenyum padanya. Tanya membalas senyumanku.

Mei berbalik, lalu berjalan mendekat ke arahku. Sedikit kikuk ia melepas jeketnya dan menyerahkan padaku.

Aku melangkah pelan, lalu merengkuh tubuh mungil istriku. Aku memeluknya erat-erat, meresapi saat-saat terakhir kami masih suami-istri. Air matanya tumpah di dadaku. Mataku hangat. Sebelum berpisah, aku sempat mengecup keningnya. Ia berbalik dengan pundak bergetar dan Tanya di samping memapahnya.
Mei meninggalkan aku mematung di aspal hitam jalanan. Kedinginan, sendirian.[]    

20130426

Skuter vespa



Lonceng pulang sekolah berdering. Tanpa perintah seisi kelas menutup buku lalu memasukan semua yang ada di atas meja ke dalam tas. Lorong kelas menjadi penuh dan berisik.

“Habis ini mau ngapain?” Kian menyapaku.

"Kantin, laper,” kataku. Suasana Senin selalu membuatku tak nyaman. Minggu harusnya digandakan saja. Kenapa setiap Senin selalu penuh dengan tugas? Mereka seperti janjian  dikumpulkan di Senin yang tidak bersalah.

“Selalu begitu. Semangat sedikit dong, lihat fans-fansmu ngedadahin terus tuh. Eh katanya kemarin ada yang nembak lagi ya?” Kian sok heran.

“Anak kelas satu,” kataku acuh. Mempercepat langkah menuju kantin, risih atas segala tingkah menjengkelkan anak kelas satu itu. Kian tersenyum sambil iri, masih bingung kenapa aku tidak bisa bersikap sedikit saja ramah. Kalau punya fans sebanyak itu ia akan dengan senang hati memurahkan senyumnya. Setengah berlari ia mengejar langkahku.

Kantin agak sepi sepulang sekolah, anak-anak kebanyakan memilih pulang ke rumah atau mampir ke sekret eskul masing-masing untuk sekedar menghabiskan sisa hari. Dinding kantin penuh tempelan poster Pensi Osis yang akan diadakan minggu besok. Beberapa pasangan menguasai meja pojokan saling bergenggaman tangan dan bercerita-cerita. Sedangkan aku dan Kian, duduk berhadapan seperti sepasang homo bego.

“Ikut rapat ngga?” Kacamata Kian mengembun kena uap mie rebus.

“Hari ini rapat lagi ya?” kataku malas, kentang goreng berlapis saus kumasukan asal ke dalam mulut.

“Acaranya kan akhir pekan ini, wajar kalau sering rapat,” Kian menghisap jus tomatnya. “Nanti jadi kan sama Dira? Kerjaan kalian harus kelar besok lho.”  

“Ngga bisa aku aja sendiri yang ngerjain ya?” setengah memelas.
Kian menggeleng, “Pokoknya kalau ide kalian digabung bakal bagus banget buat konsep dekor dan desain backdrop acara kita. Kenapa? Kamu ngga nyaman kerja sama dia. Dira kan manis, kalian kan sama-sama jomblo juga.”

Nyaris aku menyemburkan kentang kunyahanku. Anak ini suka sembarangan kalau bicara. Kian tertawa puas melihat wajahku yang seperti sapi nahan kentut. Aku meninju lengan Kian pelan. Ia cekikikan.

“Ada apa-ada apa? rame bener?” Dira tiba tiba saja sudah menubruk badanku dari samping. Kami dekat sekali, suara hembusan nafasnya bisa aku dengar dari sini.

“Panjang umur. Kita lagi ngomongin kamu Dir, kamu masih jomblo kan?” kata Kian enteng sekali.

“Iyah jomblo, kenapa? Ada yang minat ya?” katanya asal sambil mencomot kentang gorengku lalu melahapnya. Ketika tubuhnya merenggang menyilang dadaku aku bisa dengan sangat jelas menghirup parfumnya. 

“Tuh kan, Gu, kamu juga jomblo kan?” Wajahku memerah. Tanya Dira dan Kian cekikikan.

“Gugu ya?“ Dira sok mikir-mikir.

“Tuh wajah Gugu  jadi merah!!” olok Kian.

“Ayo lah!” aku melengking. Tawa anak-anak pecah.

“Eh Gugu, kita jadi kan ngerjain desain abis ini? Aku sudah bela-belain cabut les lho. Awas aja kalo ngga jadi!” Ia lalu menyerang es teh manisku yang baru tiba.

“Iya jadi, di rumah siapa nih?” kataku, sambil menenangkan diri.

“Rumah aku ajah, cuman ada si Embo doang. Mamah lagi arisan.” Kata Dira sambil tersenyum.
Aku mengangguk, pipiku memerah dan merasa gerah.

Dira, dengan rabut pendek berelombangnya mulai mengganggu tidurku akhir-akhir ini. Anak baru ini langsung mencuri perhatian semua anak Osis. Setiap ia berjalan melintas ruang Osis mendadak bungkam. Ia menjadi pusat gravitasi perhatian anak-anak, tapi seperti telaga biru yang menghampar luas, dia tidak peduli. Bahkan dia tidak menyadari kalau dia sebegitu menariknya. Tidak ada gerakan angkuh, hanya tawa renyah dan cuek. Kian memasangkan aku dan Dira dalam kepanitiaan Pensi ini. Alasannya karena kami sama-sama bisa desain.

Dira mengeratkan tengannya di pinggangku. Kami berangkat bersama ke rumahnya selepas rapat usai. Kian sempat mengedipkan matanya ke arahku sesaat Dira menaiki skuter vespaku. Aku paham sekali apa maksudnya. Jangan-jangan dia sengaja membuatku kerja bareng Dira.

Tapi mau tak mau, senang merayap, walaupun pelan, memenuhi dadaku. Bisa berdekatan seperti ini, mencium aroma tubuhnya dan ngobrol ngalor-kidul sepanjang jalan membuat wajahku yang tertutup helm ini terus-terusan memerah. Untung dia tak bisa melihatnya. Andai dia tahu detak jantungku yang begitu derasnya.

Kami tiba di rumahnya. Rumahnya besar, besar sekali. Banyak benda mewah di dalamnya. Isi garasinya saja 4 mobil. 2 mobil lain sedang dipakai keluar.

“Kenapa?” kata Dira.

“Ngga kok.” Menutupi rasa heran.

“Punya Papaku semua, aku ngga punya apa-apa, cuman numpang di sini,” Dira sambil nyengir.
Tanpa sadar aku meninju lengannya, Dira nyaris terjatuh. Aku panik, sejak kapan kami sedekat ini hingga aku boleh memperlakukannya seperti aku memperlakukan Kian.

Dira menatapku aneh, aku gelagapan. “Maaf Dir, kamu ngga apa-apa?” aku ingin membantunya berdiri, tapi takut menyinggung perasaanya lagi kalau menyentuhnya.

Sejurus kemudian, Dira melompat ke arahku lalu mengacak-ngacak rambutku sambil tertawa-tawa. Aku ikut tertawa. Lega sekali. Kami tertawa lepas hingga Dira kecapean sendiri, tingginya yang hanya sebatas pundakku membuatnya harus melompat-lompat untuk meraih kepalaku.

“Masuk yuk,” ajak Dira. Kami berdua terduduk kehabisan nafas. Dia berdiri sambil meraih ransel biru mudanya lalu membukakan pintu. Ia berdiri di sana melempar senyum ke arahku. Senyum itu membuatku meleleh hingga aku enggan beranjak. Ingin aku terus disuguhi senyum indah seperti itu.

“Cepet, haus nih!” sambil nyengir. Mau tak mau aku berdiri, menyambut senyumnya.

What a beautifull day, Thanks @Gugu

Itu tweet terakhirnya untuk malam ini. Seutas senyum mengembang di wajahku semalaman itu. Gelap hari mendadak romatis, walau langit pelit sekali menampakkan kerlip bintang, juga cahaya keemasan sang bulan, semilir angin malam mengelus-elus hatiku. Wajah Dira yang imut itu membayang sepanjang malam.

Kakiku mengayun ringan menyusuri lorong saat jam istirahat. Tak berhenti aku mendendangkan kepala ditemani musik yang mengalun melewati headset yang menggantung di telingaku. Hari ini mood-ku sedang bagus. Beberapa anak kelas satu masih saja cekikikan ketika aku lewat. Aku melambaikan salam dan melempar seutas senyum kecil. Mereka histeris, lalu berlarian menjauh.
Aku bingung sendiri.

"Cieee, pangeran yang dingin sudah menghangat sekarang!!” Kian menubruk punggungku keras sekali, aku nyaris jatuh. Ia buru-buru menuju lenganku.

“Aww!”

“Mau kemana? Ngga biasanya istirahat keluar-keluar. Bisanya tidur di kelas.” Tambahnya.
Aku terdiam tak menjawab. Tanpa sadar aku sudah berada di depan kelasnya Dira.

“Ke sekret Osis yuk, anak-anak lagi pada di sana. Desainnya oke banget, anak-anak pada suka! Kita cetak hari ini.” Tanpa basa-basi, Kian menyeretku.

Ruang Osis yang sempit itu penuh dengan panitia. Kian melempar senyum menyapa anak buahnya. Ketua Osis kita ini memang ramah sekali, aku yang wakil malah diam-diam saja. Hatiku seperti meloncat saat Dira menyeruak keluar dari ruangan menyambut kami.

“Makasih ya Gu,” kata Dira. Aku tersenyum. Senang sekali.
Sepanjang sisa jam pelajaran aku terus merasa tidak enak. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Sebuah nama yang terus mengganggu. Sepulang sekolah kami rapat lagi, semua panitia kumpul, kami membahas persiapan Pensi. Sepanjang rapat itu tatapanku serasa lengket pada Dira.

Sore ini balik bareng yuk?

Aku mengirim SMS, nekat! Rasanya campur aduk mengirim SMS modus seperti ini. Harap-harap cemas menggerogoti ulu hatiku.

HP-ku bergetar.

OK. Nanti aku di sekret ya!

Aku melompat! Senyum tak henti-hentinya mengembang terus di wajahku di sisa hari itu.
Seminggu kerja bareng membuat perasaanku tumbuh subur sesubur-suburnya. Dan kabar baiknya kami jadi makin dekat. Kami sering berbagi banyak hal, dan itu sangat membahagiakan. Pulang bareng jadi agenda wajib kami sepulang rapat, dia juga sering menanyakan tugas padaku—tak  percuma aku sepuluh besar di kelas--, kami sering mention-mention-an dan SMS-an.

Hingga suatu detik aku memutuskan akan menyatakan perasaanku setelah kepanitiaan kami selesai. Aku ingin dia menjadi orang pertama yang aku sayangi. Aku ingin dia jadi gadisku.

“Gu, Dira cantik banget ya?” kalimat itu menusuk ulu hatiku.
Kian menerawang memandangi backdrop yang mulai anak-anak turunkan. Sore ini angin berhembus pelan, tapi tentu saja kami tak mampu merasakannya. Aku, dan Kian sedang di aula sekolah. Pensi kami baru saja selesai dengan sukses.

Aku menatap wajah Kian. Anak ini serius. Dia benar-benar jatuh hati pada Dira.

“Kamu, mulai normal ya?” aku terkekeh.

“Masa?! Masih mending lah dari pada pangeran dingin yang ngga bisa senyum sama penggemarnya, ” Kian nyengir lebar.

“Nah, kan! Kamu yang kena!!!” tapi Kian tak membalas, dia menggaruk-garuk kepalanya pasrah.

“Tembak lah, Siapa tahu dia juga ada rasa?” kataku mantap akhirnya. Aku menelan ludah.

“Seriusan? Baru kali ini aku sengebet ini sama cewek soalnya.”

“Bodoh. Kalau cowok punya perasaan, dia harus ungkapkan ke orang yang dia suka. Lelaki sejati pantang memendam perasaan!” aku sedang menggigit lidahhku sendiri.
Kian menatap wajahku lekat-lekat. Sepasang matanya yang cokelat itu terlihat agak buram di balik kacamatanya.

“Oke,” katanya akhirnya. Dia kemudian menepuk pundakku lalu bergabung bersama anak-anak panitia, meninggalkan sebongah kecut di dadaku.

Tapi melihat Kian yang bertampang serius seperti tadi aku sedikit gentar. Apa aku haru s benar-benar mundur? Apa yang harus aku lakukan kalau Dira malah memilih Kian? Akan jadi apa hubungan persahabatan kamI?

Aku menarik nafas dalam-dalam. Bergerak mencari Dira. Ketika lewat lorong aula, beberapa anak kelas satu berbisik-bisik di belakangku, beberapa ada yang mendadahi. Aku menunduk dan mempercepat langkahku,  meresa tidak nyaman.

“Hei Gu!“ hatiku melompat.

“Dira!!!” aku setengah berlari menyongsongnya. Dira menyambutku dengan senyum lebar. Begitu juga aku.

HP-ku bergetar. Ada SMS dari Kian. Aku terduduk  memegang HP sambil tersenyum.

Gu, aku jadian sama Dira!

Aku mematung.

"Jadi balik bareng?"
Aku mendongak. Dira benar-benar menganggapku sebagai sahabatnya.
 "Sory, aku masih ada kerjaan di sekret,"
 "Oh, oke. See you besok ya, " Dira beranjak sambil tersenyum melambaikan tangannya. nampak sangat bahagia.

Angin malam berhembus menggoyang-goyangkan jendela sekret yang sengaja tak kututup rapat. Aku tepekur  sendirian.

Aku menarik kursi, menundukkan kepalaku dalam-dalam. Sialnya  dadaku tak mau selesai bergemuruh.



20130408

Kebun Raya (end)

“Pak, teh botol dingin,” pintaku. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum maklum. Dia tahu maksudku hendak berhutang.  
Langit sedang cemberut, matahari tak berani mengintip. Aku yakin sebentar lagi hujan akan turun.
Kepalaku diketuk-ketuk tetesan hujan, maksudku, topi baseball kesayanganku yang di ketuk-ketuk. Benar saja, hujan sudah mulai tumpah. Lantai bumi yang kehausan bersuka hati. Aku memejamkan mata, menghirup aroma tanah saat dijilati hujan, membayangkan tiap tetes air hujan mendarat di atas tanah. Aku tersenyum. Tak pernah bosan aku mencium aroma yang muncul saat hujan menyentuh tanah, sembari memandangi jalanan dan pepohonan yang mulai basah berkilat-kilat.
Tanpa aba-aba dari siapapun, orang-orang mulai berlarian (panik) mencari tempat berteduh. Aku tesenyum (lagi). Nyaris dua tahun di sini, ini hal kedua yang aku sukai dari hujan di Bogor. Aku juga selalu senang menyaksikan parade orang-orang yang berlarian panik menghindari gempuran sang hujan. Padahal tak ada insruksi dari siapa-siapa tapi orang-orang ini bisa begitu kompak. Aku cekikikan sendiri.
Setelah puas mencium bau tanah dan menikmati parade, aku buru-buru menutup kanvas dan peralatan lukisku dengan terpal—ini sumber penghidupanku, gawat kalau rusak kehujanan—aku berlarian memilih tempat berteduh, bergabung dengan mereka.
Saat aku mulai melangkah, mataku menangkap sesosok anak kucing putih. Kucing kecil itu sendirian di dera hujan. Kemana ibunya? Aku segera berlari, kemudian memeluknya, menyelamatkannya dari hujan yang mulai deras. Nampaknya malam ini penghuni kostanku akan bertambah (lagi).
Setiap melihat kucing, Aku jadi ingat adikku. Dia suka sekali kucing, makanya aku tak tega.
Aku berlari menembus hujan, di sudut kanopi yang ramai itu, aku melihat seorang gadis. Gadis mungil dengan topi rajut. Wajahnya penuh dengan bintik matahari menarik perhatianku. Pasti bukan asli orang Bogor.

Sejak hujan kemarin, aku jadi sering menemukan gadis mungil bertopi rajut dan berbintik matahari di sekitar pelataran gerbang Kebun Raya ini. Berdiri sendirian membagikan lembaran kuisioner.
Mahasiswa tingkat akhir mungkin. Aku menggaruk daguku. Aduh janggut dan kumisku sudah berantakan sekali. Kawan, Aku bukannya malas bercukur, maksudku, aku memang seniman, tapi seniman yang juga peduli penampilan. Aku tidak mau orang jijik karena tampangku dan mempengaruhi orderanku. Rambut ikal panjangku saja sengaja aku ikat, bukti kalau aku masih mengenal tata kerapihan. Aku hanya belum sempat bercukur, terlalu lelah saat sampai kostan hingga tak sempat mengurus tampangku sendiri. Malam ini mungkin akan aku sempatkan. 
Seru sekali memandangi kamu dari jauh. Kamu berhilir mudik menyerahkan kuisioner kepada orang yang baru keluar dari kebun raya. Menjelaskan cara mengisinya, menunggui mereka dengan sabar, sesekali menjawab pertanyaan sambil tersenyum-senyum ramah. Setelah selesai, kamu memberikan cindera mata berupa gantungan kunci unik dari ukiran batok kelapa mungil.
Harimu pasti sangat melelahkan. Aku melihat keningmu mulai dibasahi butir-butir keringat.
Siang itu, saat aku sedang asyik membuat sketsa, jauh di seberang jalan aku melihatmu menabrak seseorang. Awalnya aku tak yakin, soalnya hari itu kamu tidak mengenakan topi rajutmu. Namun ketika melihat lembar-lembar kuisionermu berhamburan ke tanah, dan tingkahmu yang selalu terlihat agak kikuk saat mengumpulkannya, aku yakin itu adalah kamu, si topi rajut.
Aku hendak berlari menghampirimu andai saja orang-orang yang sedang berlalu-lalang di dekatmu tidak ikut membantu. Ketika aku duduk kembali, aku tertegun. Sejak kapan aku mulai memperhatikan kamu? Sejak kapan aku mulai suka memandangimu dari jauh? Bahkan aku mulai tergerak untuk menyebrangi pelataran untuk membantumu. Kita bahkan tak saling kenal, baru beberapa hari ini aku menemukanmu. Bahkan mungkin kamu tak tahu kalau aku ini ada. Aku meraba dadaku, jantungku berdetak keras sekali.

“Iya Nek,” kataku. Seorang nenek menyerahkan selembar foto. Foto nenek ini saat dia muda. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku dididik untuk sopan terhadap orang tua,  walau permintaan nenek ini agak ribet, aku berusaha memenuhinya.
Sore itu Bogor sedang cerah ceria. Biasanya sore selalu hujan, selalu itu artinya, ya selalu. Bogor seperti tidak memiliki musim. Ia akan hujan sekehendaknya, padahal pepohonan di kota lain sedang meranggas. Tapi kali ini langit bersih, hanya seutas tipis awan mengambang sendirian.
Di sudut itu, di atas tempat duduk dari kayu tua yang sudah memfosli, kamu duduk sendirian. Memotret dengan nikon-mu. Suka fotografi juga ternyata, masih pemula tampaknya, kemeramu seri beginner soalnya. Kamu sesekali tersenyum saat memeriksa hasil potretanmu. Senyummu itu, aku suka sekali melihatnya. Apa lagi dengan cahaya oranye senja yang menembus celah-celah pohon raksaksa di belakangmu. Bilah-bilah cahaya senja itu membentuk latar gradasi yang cantik. Hatiku jadi sejuk sendiri.
Aku kemudian mengambil kanvas kosong, memilih pinsil terbaikku. Dan detik berikutnya tanganku sudah sibuk sendiri. Aku pasti sudah benar-benar gila.

Pagi itu aku baru saja selesai membuka lapak, agak telat memang. Seperti Bogor pada pagi-pagi sebelumnya, walau masih pagi tapi orang-orang sudah sibuk berlalu-lalang.
Baiklah, sekarang aku siap memulai hariku. Aku membuka kursi lipat yang kubeli sebulan lalu di kereta. Aku menjepit foto nenek kemarin di pojok kanan atas kanvas. Sketsa kasarnya sudah jadi, selanjutnya adalah memberi warna dasar.
Aku mulai mengeluarkan peralatan warna, mencampur warna ini-itu di dalam palet. Ketika aku mendongak, kamu sedang mematung di depanku.
Aku kaget bukan main. Kenapa kamu berdiri di situ? Ini kan masih pagi, biasanya kamu baru ke sini setelah siang. Dengan wajah memerah dan nafas yang naik turun. Baru lari pagi? Tapi kamu mengenakan pakaian resmi dan sedang memeluk berkas.
Wajahmu terlihat pucat anehnya, aku mengikuti arah matamu. Tak butuh satu detik untuk tahu apa alasanmu mematung di situ.
Aku lupa, karena buru-buru tadi—aku membeli susu kotak untuk kucing-kucing yang kupungut—aku malah memajang sketsa wajahmu. Sumpah aku lupa sekali. Aku merasa malu. Aku tertangkap basah. Menggambar wajah seseorang, yang bahkan belum aku kenal tanpa izin. Wajar saja kamu kaget, aku pasti juga kaget kalau wajahku tiba-tiba digambar orang lain tanpa izin.
Kamu memandangku tajam sekali. Pandangan itu menelanjangiku. Aku benar-benar merasa tak enak, wajahku pasti sudah merah sekali.
Baru kali ini kita berada sedekat ini, jantungku berdegup cepat sekali. Sayangnya sedang dalam suasana yang tidak bagus.
Kita saling terdiam lama, cukup lama hingga selembar daun bisa gugur dari ranting di atas kita dan mendarat di atas sepatumu. Jujur aku bingung harus melakukan apa. Malu sekali rasanya. Aku ingin segera lenyap saja dari dunia ini.
Aku pelan-pelan menjulurkan tanganku akhirnya. Apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah benar-benar tertangkap basah begini. Lagi pula aku tidak mau kamu membenciku hanya karena masalah yang, well, walau tidak bisa dibilang sepele.
“Maaf menggambarmu tanpa ijin,” adalah kalimat paling bagus yang terlintas di pikiranku. Tenggorokanku terasa kering.

Senang sekali rasanya, aku seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat permen gulali raksaksa. Aku tahu namamu, genggaman tanganmu yang mungil dan lembut itu masih terasa hangat di antara jemariku. Aku tak bisa untuk tidak terus tersenyum sepanjang hari ini.
“Kenapa Bang, senyum-senyum terus?” seorang pengamen jalanan menyapa heran.
“Kamu haus ngga? Ambil dua teh botol buat kita, hari ini harus dirayakan,” kataku riang. Padahal dompetku sedang tipis-tipisnya.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat kita akrab. Maskudku, aku bukan orang yang suka bergaul. Bahkan setelah hampir dua tahun pindah ke sini, aku hanya kenal dengan seorang pengamen yang kemarin, beberapa artis jalanan sepertiku dan tukang teh botol di depan sana. Aku memang bukan orang yang suka bergaul, dan melukis makin membuatku sibuk dengan diriku sendiri.
Tapi ketika aku mulai mengobrol denganmu, aku merasa sangat cocok. Maksudku, kau tahu, tak butuh waktu lama untuk membuatku tertawa lepas di depanmu tanpa merasa malu lagi. Suaramu itu selalu terdengar merdu di telingaku, aku makin senang mendengar kamu berbicara.
“Mereka akan kerepotan,” kataku yakin, menunjuk gerombolan anak TK yang baru keluar dari gerbang Kebun Raya. Sudah saatnya aku membuatnya terkesan. Ayolah, aku kan yang jadi laki-laki di sini.
Kamu nampak bingung.
“Sebentar lagi akan hujan, dan mereka tidak membawa payung,” aku menjelaskan.
Kamu mengangguk pelan, tidak tertarik. Aduh, gagal. Dia tidak tekesan sama sekali. Baiklah, aku harus mencari cara lain.
“Topi rajutmu bagus, beli di mana?” kataku, biasanya wanita kan senang sekali dipuji.
Dan kamu tersenyum, lebar sekali.
“Hadiah dari ibu...” katamu.
Hatiku meloncat girang, tampaknya topik topi rajut ini akan menyenangkan untuk kita bahas. Maksudku, aku memang tertarik pada topinya, dan baru kali ini punya kesempatan untuk membahasnya. Bintik matahari di pipimu sangat cocok dengan topi ranjutmu itu soalnya.
Hujan turun langsung deras beberapa detik kemudian. Aku mendongak, perkiraanku tidak meleset. Bogor memang suka sekali mengagetkan penduduknya dengan tetesan hujan yang melompat diam-diam dari langit.
 “Tuh kan,” kataku. Kamu tersenyum, nampak benar-benar terkesan.
Aku mengajakmu berteduh, nanti kamu bisa masuk angin kalau kubiarkan terus kehujanan seperti ini. Kita segera bergabung dengan anak-anak TK itu.
Di bawah kanopi itu aku merasa sangat beruntung bisa berada di sampingmu, aku bahkan bisa mencium aroma rambutmu. Di bawah hujan Bogor yang menurutku sangat romantis ini, aku menyadari perasaanku. Diam-diam aku ingin kita terus bersama seperti ini.
“Kenapa, kamu melukis wajahku?” katamu tiba-tiba. Aku kaget bukan main, seperti ada sebuah palu mahaberat dari langit yang jatuh menghantam ubun-ubunku.
Aku diam, bingung mencari jawaban. Sekaligus malu, aku menunduk hingga daguku menyentuh dada.
Kamu masih diam, berdiri di sampingku sambil memainkan ujung sepatumu menunggu jawaban. Mungkin kamu kesal karena aku diam saja sejak tadi.
Kemudian, tanganku begerak sendiri, seperti ada sesuatu yang menggerakkan—sumpah, itu bukan  aku—tanganku meraih tanganmu, menautkan jemariku diantara jemarimu. Jemarimu yang mungil dan hangat.
Aku bisa merasakan kamu mendongak mencari wajahku. Aku tak bisa menahan untuk tidak tersenyum, aku merasakan pipiku pelan-pelan memanas.
Perlahan kamu mulai mengeratkan jemarimu. Dadaku menghangat dan senyumku terbit makin lebar. []

Kebun Raya (1)



Hujan turun.
Bukan gerimis, tapi hujan. Aku berlari-lari kecil menembus kerumunan memilih tempat berteduh. Badanku sudah basah dari atas ke bawah. Sudah kubilang kan kalau ini benar-benar hujan, bukan gerimis?
Lelangit sedang murung, dinding angkasa sedang ditutupi berlapis-lapis awan gelap, melelehkan air hujan dari lambung-lambungnya.
Aku berdesak-desakan dibawah sebuah kanopi. Beberapa anak tangga ke bawah, licin karena dibuat dari keramik dan basah karena hujan, dihiasi sepasang patung ganesha yang juga kebasahan.
Aneh, pikirku. Padahal  Senin, kenapa Kebun Raya bisa seramai ini? Sepatuku basah hingga kaus kaki. Andai kugerak-gerakkan jemari kakiku, pasti akan terdengar bunyi berdencit seperti rem sepeda ontel.
Hujan kemudian reda—untungnya—mungkin hanya sepuluh menit aku berdiri di sana. Mumpung matahari masih terang, dan pelangi sedang mekar di atas kucup pepohonan raksaksa, aku melompat, berlari—dengan hati-hati—menuju angkot hijau yang sudah nyaris penuh.
Aku masuk, lalu duduk. Sengaja mengambil posisi dekat pintu, supaya praktis saat keluar nanti, dan satu alasan lain. Saat mobil perlahan berjalan, dari sudut ini aku masih sempat melihat sosokmu di sana.

Kurebahkan tubuhku. Kasur pegas berderit. Dingin. Aku malas ganti baju. Aku taruh lenganku di atas kelopak mata. Membiarkan mataku beristirahat sejenak, berusaha menata nafas, dadaku naik-turun. Saat aku pulang, hujan turun lagi, kali ini lebih besar.
Aku berguling sedikit ke kiri. Dari sudut ini, aku melihat foto aku dan kakakku yang sedang tersenyum dengan latar hamparan ladang. Lantai dipenuhi tumpukan kertas data dan kuisioner yang belum lagi kusentuh. Padahal dosen pembimbingku harus segera ke Jerman bulan depan.
Entah kenapa hari ini aku rindu sekali Garut, tempat kelahiranku. Kota kecil di sudut Jawa Barat dengan segala kesederhanaanya, berbeda sekali dengan Bogor yang hiruk pikuk dan selalu basah. Sayangnya aku belum bisa pulang, aku harus menuntaskan sarjanaku terlebih dahulu.  
Aku menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan ceceran energi yang kuharap masih tersisa. Memaksa punggung ini tegak, lalu bergerak menuju kamar mandi. Menyegarkan diri sebelum bergadang menebus skripsiku, rasanya itu ide yang bagus.

Laki-laki itu, kamu, masih di sana. Di bawah pohon mahoni raksaksa, yang batangnya kekar dan daunnya lebar-lebar. Beberapa deret karikatur wajah orang-orang terkenal dijajarkan di sebelah kursi lipatmu (aku curiga kamu membeli kursi itu di gerbong kereta ekonomi).
Seperti seniman jalanan pada umumnya, kamu terlalu cuek untuk memperhatikan dandananmu. Wajahmu kusut, dengan bewok dan kumis lebat tak terurus. Juga mata sayu, namun dari sepasang mata sayu itu, memancar sesuatu yang berbeda. Entah apa itu. Hari ini rambut ikalmu yang panjang diikat dibawah topi baseball yang lusuh. Lusuh karena sering kamu pakai saat hujan.
Tanganmu kurus dan pucat. Pucat untuk ukuran orang yang bekerja di luaran. Jemarimu yang panjang-panjang berlumur cat minyak, juga kemeja yang menjuntai sengaja tidak kamu kancingkan. Artistik sekali, dan kaus oblong...
Bukk!!
“Ah maaf,” berkas data penelitianku jatuh ke tanah, berserakan, parah!
“Kalau jalan lihat-lihat, Mba,“ hardik orang itu. Kami bertabrakan keras sekali. Es krim miliknya sempat menempel di bajunya sebelum jatuh.
Aduh, sial sekali! Kenapa aku bisa begitu bodoh memperhatikan orang yang bahkan aku tak kenal, hingga menabrak orang lain seperti ini? Aku berkali-kali mengucapkan maaf, sambil menundukkan kepala.
Beberapa orang tersenyum, beberapa yang berdiri lebih dekat membantu mengumpulkan berkas-berkasku. Aku berkali-kali menundukan kepala, mengucapkan terima kasih. Ketika orang yang aku tabrak pergi, aku masih sempat mendengar gerutuan kesalnya. Aiih, malunya.
Melalui sudut mataku, aku melihat kamu hendak berlari ke arahku, mungkin ingin membantu, tapi urung, mungkin karena orang-orang ini. Ah kenapa aku bisa sebegitu ge-er nya? Kenapa kamu harus berlari menembus kerumunan ini untuk menolongku? Kita bahkan tidak saling kenal.
Lama sekali rasanya aku membereskan kertas-kertas ini. Orang-orang pasti bisa melihat kupingku memerah.

Nenek  itu menyerahkan selembar foto. Kamu meraih lembaran itu sambil tersenyum. Kamu berbicara sambil mengangguk-ngangguk santun, sopan sekali.
Matahari yang jingga sudah nyaris menyentuh lantai bumi. Bilah-bilah cahayanya menerobos sela-sela dedaunan mahoni tua, menyinari batangnya yang kekar dan kasar, berjatuhan di antara kanvas-kanvasmu. Hari ini Bogor sedang tersenyum rupanya. Jarang sekali sore hari Bogor memiliki matahari seindah ini.
Teh botol yang sedang kugenggam terasa dingin. Aku menghisap cairan gelap ini, segar dan sejuk di kerongkongan, manis sekali rasanya. Apalagi sambil mengamati gerak-gerikmu.
Kuraih Nikon 3100-ku. Aku memotret sambil tersenyum—aku yang tersenyum. Beberapa foto dengan latar senja indah ini akan menambah koleksiku. Bukan-bukan. Aku bukan secret admirer gila yang mengumpulkan foto orang yang aku kagumi secara diam-diam, pengecut sekali kalau aku begitu. Aku bahkan baru tahu kamu ada seminggu yang lalu.
Hujan yang mempertemukan kita. Aku berdesakan di bawah kanopi dekat patung ganesha, seperti tempo hari, dan hari-hari sebelumnya saat hujan. Aku memperhatikanmu berlari-lari menembus hujan, mencari tempat berteduh, dengan seekor anak kucing di pelukanmu.
Manis sekali, kamu cowok termanis yang pernah aku temui.
Sejak itu, tiap kemari, aku selalu menyempatkan diri memandangimu, dari jauh. Yah, dari jauh sudah cukup rasanya. Mau apa lagi? Walaupun makin hari aku merasa makin aneh, berlarian ke sini, kadang di tengah hujan, dan padahal tanpa membawa kertas-kertas kuisioner itu. Mungkin aku sudah berubah menjadi orang aneh, atau mungkin kamu yang terlalu manis sehingga aku jadi tidak bisa untuk tidak selalu memandangimu.

“Sial!” aku mendesis. Beberapa kali melihat jam tangan. Kakiku berderap-derap di atas sol sepatu yang bahkan belum kering, menembus kerumunan. Draft skripsiku kupeluk erat di dada.
Hari ini aku ada janji dengan dosen pembimbing. Sialnya, revisi bab dua tadi malam menuntutku bekerja hingga jam empat subuh. Mataku masih pedas.  
Aku berlari, menuju ke arahmu. Lapakmu harus aku lewati—dengan senang hati aku lewati—karena itu jalan tercepat menuju kantor. Makin dekat, entah kenapa jantungku makin tak mau diam, bukan karena lariku makin cepat, tapi karena aku terus makin dekat ke arahmu. Bagaimana kalau kamu memperhatikanku, bagaimana kalau kamu mengenaliku, gadis kuliahan tingkat akhir yang mondar-mandir di sekitar pelataran gerbang Kebun Raya setiap hari? Bagaimana kalau kamu tahu aku selalu mengamatimu, dari jauh, dan pernah mengambil fotomu diam-diam?
Aku tiba, kamu sedang duduk di sana, di sebelahku, pada detik ini, pada ayunan kaki yang ini.
Sekelebat aku melihat sesuatu. Jantungku seperti berhenti.
Kanvas itu. Aku benar-benar berhenti, terpaku, tak meneruskan lariku, tak peduli janjiku.
Kenapa ada di sana? Di kanvas itu, walau masih sketsa dari pensil.
Wajahku?
Wajahku yang sedang tersenyum. Mata yang menyipit, bintik matahari, juga sebuah topi rajut yang selalu aku kenakan.
Kamu yang sedang melukis, ada kanvas di antara kita, menemukanku.
Kamu memandangiku, juga nampak kaget. Pastinya kamu kaget melihat pemilik wajah ini memandangi gambar wajahnya. Mata kita berpapasan. Ada hawa aneh yang menjalar dalam tubuhku.
Kita terdiam, beberapa orang lewat begitu saja di antara kita. Daun-daun juga tidak peduli, mereka berayun-ayun turun di antara udara, mendarat di atas sepatuku.
Dengan gerakan kikuk, kamu menyodorkan telapak tanganmu, “Maaf menggambarmu tanpa ijin,” suaramu parau dan dalam, tapi terdengar renyah di telingaku.

Tanganku mengembang di udara. Cahaya bulan menembus sela-sela jemariku. Kasur pegas berderit-derit membendung dadaku yang naik turun. Angin malam menembus kisi-kisi jendela, membuat jemariku kedinginan.
Aku tak percaya, hari ini aku menjabat tanganmu. Kupingku memerah. Aku berguling-guling tak karuan sambil menjerit-jerit. Senyumku tak henti-hentinya mengembang. Malam ini aku tak akan bisa tidur. Dan mungkin aku tak akan pernah lagi mencuci tangan.

“Bagaimana skripsimu?” suara kamu masih saja renyah.
Aku mengangkat bahu pasrah, “belum ada kemajuan.”
Kamu tertawa, memamerkan gigi putihmu di depanku begitu saja. Aku menunduk, kupingku terasa panas. Malu sekali, kenapa kamu tertawa puas sekali. Lantas kenapa pula telingaku memerah seperti ini? Padahal baru kemarin kita berkenalan, tapi kamu sudah bisa tertawa begitu lepas, seakan-akan kita kawan lama yang sudah sangat akrab.
“Eh, sehari biasanya kamu mendapat berapa orderan?” tanyaku serius, berusaha mengalihkan topik.
Kamu menggenggam dagu, dan memasang tampang berfikir keras.
“Tergantung. Kadang bisa sampai lima, kadang nol sama sekali.” Seperti biasa, saat kamu bicara, tanganmu selalu bergerak-gerak, meriah sekali.
Di hadapan kita, segerombolan anak-anak berseragam baru saja keluar dari gerbang Kebun Raya. Mungkin rombongan TK yang baru selesai karya wisata.
“Mereka akan kerepotan.”
“Hah?”
“Sebentar lagi akan hujan, dan mereka tidak membawa payung,” aku hanya merespon dengan mengangguk.
“Eh.” Aku mendongak. Teh botol kita tinggal setengah.
“Topi rajutmu bagus, beli di mana?”
“Hadiah dari ibu...”
Beberapa kata baru saja akan keluar, hujan sudah mengguyur. Tanpa permisi, tanpa peringatan.
Aku tersenyum, pasrah mendapati ratusan tetesan hujan serempak mendarat di ubun-ubunku. Sekejap saja pakaianku basah dan tubuhku disergap dingin. Hujannya tidak main-main.
Anak-anak berseragam itu berlarian menuju kanopi, beberapa malah tertawa-tawa riang. Kita, kamu dan aku, kemudian berlarian sambil juga tertawa-tawa lalu berdesak-desakan bersama gerombolan ini.
Aku menatapmu, ada senyum di sana. Senyum kemenangan. “Tuh kan,” katamu.
Tanah basah, tangga dan patung ganesha apa lagi. Jalanan mengeluarkan asap. Air hujan mengguyur semua, tanpa ampun, tapi sopan. Pepohonan menurut ketika dedaunan dan batang-batangnya dibasuh. Sebuah mekasinme ajaib milik alam untuk membersihkan diri.
Aku tersenyum. Tak pernah membayangkan bisa berdesak-desakan di sampingmu, di bawah hujan seperti sekarang ini. Agak lebay sih, tapi ini romantis sekali buatku.
“Ada yang lucu?” kamu memergoki wajahku yang sedang merekah merah.
“Eh,” kataku tiba-tiba, meneteralkan galagapku. “Awalnya aku benci Bogor, hujan terus nyaris setiap hari. Berbeda sekali dengan Garut yang taat musim, dan lebih dingin. Tapi aku mulai suka kota ini. Aku mulai suka aroma yang dibawa hujan di sini.”
“Sejak pertama, aku sudah suka kota ini, aku suka sekali hujan di sini,” kamu seperti meresapi setiap titik-titik hujan yang menyentuh tanah, dan menghirup setiap harumnya. Matamu memejam dan kamu tersenyum. Damai sekali.
Aku juga. Aku mulai suka. Setelah mengenalmu aku mulai suka kota ini. Aku mulai suka hujan di kota ini.
“Eh,“ ada sesuatu yang melintas di benakku. 
“Apa?” bahkan kepalaku hanya mencapai pundakmu.
“Kenapa, kamu menggambar wajahku?” Aku tak tahu asal kalimat itu keluar. Sial, malu sekali. Tapi aku penasaran. Aku menunduk, memandangi ujung sepatuku yang digigiti air hujan.
Kamu diam. Tapi tidak lama.
Detik berikutnya, kamu menautkan jemarimu di antara jemariku.
Aku kaget bukan main.Wajahku mendongak, mencari-cari wajahmu.
Di wajahmu ada senyum, senyum lembut, dan pipimu memerah. Pandanganmu lurus ke depan, tak menghiraukanku—sengaja tak menghiraukanku.
Juntaian air hujan keperakan yang meluncur dari ujung kanopi di atas kita terpantul jelas pada mata sayu milikmu.
Aku tersenyum, pipi dan kupingku memerah. Diam-diam, aku mengeratkan genggaman kita. (con't)

* * *

20130407

3 Bulan


Suara Kristina Perry mengalun lembut. Kujejakan kaki di pedal gas dan rem bergantian begitu  city car-ku menikung membelah jalan. Ada perasaan cemas dan bahagia yang membungkusku, kombinasi dua rasa kontras hinggap memenuhi rongga dada ini.
Kulihat jam di tangan, masih sempat, jadwal kedatangan pesawat masih bisa kukejar. Aku sudah bangun sejak subuh tadi, saat matahari malu-malu mengintip, saat embun-embun meranum.
BB-ku berdering, Sella.
“Halo?”
“Kamu pagi banget? Lagi ngga kerasukan jin apa-apa kan?”
“He he,” aku nenyipitkan mata.
“Hahaha, becanda kali. Nanti mampir ke rumah dulu ya, jemput aku.”
“Iya, tapi pas aku sampai ngga ada lala lala yeye yeye dulu ya? kita langsung berangkat,” aku menegaskan.
“Iya ah, cerewet! Udah ya, bye.”
Terdengar nada statis.
Sella sahabatku ini sejenis manusia yang sangat-amat-selalu rajin telat. Aku akan benar-benar bersujud padanya kalau ia bisa datang tepat waktu sekali saja. Kebanyakan orang telat untuk rentang wajar yang maksimalnya setengah jam, tapi Sella akan membuat orang menunggu sampai dua jam, dan datang dengan wajah tanpa dosa.
Jalanan mulai ramai, anak-anak sekolah nampak di kanan-kiri jalan. Ada hawa hangat yang merebak pelan-pelan, tak sadar bibirku melengkung. Seutas senyum tipis muncul di sana. Masa-masa seragam putih-abu kelas tiga ketika Sella merayu guru matematika kami agar mau memberi kunci jawaban UN meresap, dan masih banyak lagi. Juga saat anak-anak sekelas kompakan membeli nomer HP baru untuk menyebaran kunci jawaban ujian. Aku menggeleng geli.
Mobil berbelok, memasuki pekarangan sebuah rumah. Aku memutuskan untuk marah kalau ia masih belum siap berangkat. Kali ini aku harus berhasil marah, biar aku tidak dikareti terus.
“Pagi,” Sella menyapaku saat aku keluar dari mobil. Kepalanya  masih ditempeli roll, dia belum mandi. Bagus.
“Maap, tadi aku telat bangun. Tadi malam nonton DVD Korea dari kamu, filmnya bagus banget, ngga bisa berhenti,” katanya buru-buru setelah melihat wajahku mengkerut. Sekarang ia menggunakan Korea sebagai pembenaran keterlambatannya.
“Hahaha, aktornya ganteng banget kan!” Aku kalah lagi, aku tak bisa memarahi anak ini. Masih jauh rasanya di mana aku akan benar-benar bersujud di hadapan anak ini.
Rumahnya masih kosong, aku curiga ayah dan ibunya Sella masih tidur. Pantas saja, dididik dalam keluarga telat akan menciptakan anak-anak ber-life style ngaret seperti Sella.
“Iyaaa. Pokoknya pas mereka peluk-pelukan itu. ‘aku tak butuh gadis cantik dan kaya, aku hanya butuh dirimu untuk mengisi hariku’, aduuuh romantis bangeeet,” mata Sella bersinar-sinar. Kami sudah duduk berhadapan di atas tempat tidurnya. Anak ini masih ekspresif seperti biasa.
“Sell..” kataku pelan sambil menggenggam tangannya. Sella menahan banyak kata yang ingin dia muntahkan.
“Ha?” Sella nampak bingung. “Kok aku merinding ya, kamu mendadak serius begini.”
Aku menatapnya lekat-lekat. Sella menegakkan punggungnya lalu membalas tatapanku. “Kayaknya, aku kena beneran deh.” Kataku akhirnya.
Sella menutup mulutnya, geliginya yang berlapis behel akan terlihat jelas jika tangan mungilnya beranjak dari situ. Matanya melotot tak percaya, aku jadi kaget sendiri.
“Rudi?” masih dalam pose yang sama.
Aku mengangguk pelan, memandangi jemariku yang sekarang sedang kupilin sendiri di atas pahaku.
“Serius?”
Aku mengangguk lagi. Entah mengapa menerima tatapan itu aku merasa kalau rasa ini salah, benar-benar salah. Sesalah musim hujan yang masih turun di bulan kemarau, membuat banyak manusia kesusahan.
“Tapi Ra...” terdengar nada menyesal dari Sella.
“Aku ngerti...” kataku.
“Sejak kapan?” kata Sella lagi. Aku terhenyak lalu diam. Tak tahu jawabannya apa.
Kami bertiga sudah sahabat dari SMA, dari kelas 2 SMA hingga sekarang kami di kampus yang sama. Rudi sudah seperti penasehat spiritual kami. Ketika kami ada masalah dengan gebetan kami masing-masing di SMA, kami akan lari pada Rudi.
Beberapa kali aku jatuh cinta, selalu itulah aku meminta sarannya. Saat menjomblo sekarang ini pun aku sering sekali menumpahkan segala kegundahan dan kegelisahanku kenapa aku belum bisa jatuh cinta lagi, juga rasa iri dan kesal saat melihat pasangan-pasangan mesra melintas di depan hidungku.
Kami begitu dekat hingga seperti keluarga; jalan bareng, nonton bareng, karokean bareng, curhat-curhatan bareng, tertawa bareng bahkan nangis bareng. Semuanya nyaris kami lakukan bersama-sama. Sepertinya tak ada malam yang kami lewatkan tanpa membahas sesuatu di chat room. Tidak ada lagi rahasia di antara kami, setidaknya sampai saat ini.
Tiga bulan lalu Rudi harus pergi ke sebuah pulau di pedalaman untuk mengambil data skripsinya. Di sana tidak ada sinyal dan listrik. Aku masih ingat ketika punggungnya menghilang saat menghantarkannya berangkat di bandara.
Aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang kosong. Ada celah yang menganga sangat lebar setelah Rudi pergi. Bukannya Sella tidak asik lagi, tapi serasa ada yang kurang kalau Rudi tidak ada, kami menjadi tidak lengkap. Dia selalu menjadi bapak bijak saat kami mulai melantur, dan sekarang sosok itu hilang.
Diam-diam aku merindukannya.
Rindu yang tanpa penawar. Penawarnya baru tiba 3 bulan lagi.
Dan hari ini tiba. Kekosongan di 3 bulan itu seakan mengajarkan padaku kalau lelaki inilah orangnya. Ia meyakinkanku dengan bijaknya kalau lelaki yang kusukai sebenarnya adalah lelaki yang sudah sangat dekat. Dahaga karena ingin dicintai nampaknya akan berakhir pada sebuah nama.
“Aku mesti gimana Sel?”
“Gimana ya? kalau kamu nembak, terus kalian jadian mah ngga apa-apa. Tapi kalau Rudi  cuman nganggap kamu sahabat doang, kamu ditolak? Pasti nanti ngga nyaman lagi kita bertiga, bakal awkward banget,”
“Nah itu dia,” aku mengacak-acak rambut, betul-betul frustasi dan kebingungan.
Sella menggenggam tanganku.
“Kamu hanya akan merusak dandananmu kalau begitu.” Katanya. “Setelah aku membereskan roll ini kita ke bandara ya? Kita pikirkan di perjalanan.” Sambil menunjuk roll rambut di kepalanya.

“Yah hujan, gimana nih?” tetesan air mengetuk-ngetuk ubun-ubun kepalaku pelan.
“Ini namanya gerimis, bukan hujan,”
“Sama aja!”
“Iya deh, sama.” Kamu berlari kecil membimbingku ke selter terdekat, gerimis berubah hujan deras. Sella telatnya benar-benar keterlaluan, padahal kami sudah datang telat satu jam.
Rudi melepas jaketnya, ia melakukan itu dengan perlahan melalui jemarinya yang kurus dan pucat, kemudian memakaikan jaket itu ke tubuhku. Mendadak aku merasa kikuk.
“Ngga usah juga ngga apa-apa,” kataku gugup, saat ia membetulkan kerah jaket.
“Baju kamu basah begitu, nanti kalau masuk angin aku kena marah Mama kamu. Tadi kan Mama kamu nitipin kamu ke aku,” sambil tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku terima dari seorang laki-laki.
Aku mengangguk sambil menunduk. Pipiku memerah, mungkin sampai kuping. 
“Tiga bulan lama ngga ya?”
“Ha?” kamu yang tiba-tiba loncat topik membuatku sedikit kaget.
“Dasar, ngelamun terus. Kayaknya nanti aku bakal kangen hujan di Bogor deh,” Matamu menerawang, menyerap setiap detail suasana yang Bogor suguhkan saat hujan turun seperti ini. Kilat yang sesekali membuat langit kemilau perak, angin yang berhembus menusuk-nusuk kulit, untaian air hujan yang menetes dari perut awan-awan, juga aroma kumpulan orang-orang yang berdesakan di bawah selter. Kita berbeda, tapi hujan membuat kita berhimpun bersama.
Setengah jam kemudian baru Sella tiba, ia membawa dua bungkus coklat; sesajen permintaan maaf. Setelah makan, kita tidak jadi nonton dan karokean. Perayaan kepergian Rudi gagal karena Rudi masuk angin. kamu harus segera pulang, besok  harus terbang ke pulau tempat penelitianmu.

“Ada yang ketinggalan ngga?” kataku sambil meremas jemariku.
“Kayanya ngga ada,” katamu. Kamu memasukkan tanganmu ke dalam saku jaket, lalu mengeluarkan selembar tiket pesawat di sana. Tiket itu kamu gigit diantara bibir merahmu selagi kamu mengeluarkan sebuah topi dari ransel.
Kakiku terhentak ke belakang. Aku tak mengira begitu lemas melihat lembar tiket itu. Lemas karena kamu akan benar-benar menghilang.
“Beneran ngga ada yang ketinggalan?” tanya Sella.
Kamu mengangguk, kemudian kamu memeriksa jam tanganmu.
“Harus check-in nih,” sambil tersenyum.
Aku tak menemukan sama sekali kesedihan dalam air mukamu. Seperti ada selembar silet pipih menggores pelan di balik kulitku. Sakit.
Setelah melambaikan tangan, kamu berbalik. Berjalan pelan sambil menyeret kopermu, menembus kerumunan, melewati palang pemeriksaan. Kamu sempat berbalik, melambaikan tangan pelan sambil tersenyum lalu lenyap ditelan kerumunan. Malah seutas senyum lebar yang kamu goreskan dibenakku kala itu.
Hatiku menganga.
Kamu tersenyum, terlihat bahagia saat berpisah denganku.

“Nih,” Sella menyodorkan sebotol air mineral.
Aku menerimanya lesu.
“Ditahan ngga bisa ya?” katanya.
“Tiga bulan Sel. Bisa mati kalau aku terus-terusan ngeliat tampangnya tanpa bilang apa-apa, pura-pura kalau rasa aku ke dia cuman sebatas ‘teman’. Bisa-bisa bisulan hatiku ini,” kataku sambil meremas botol airm mineral gemas.
Sella meraih tanganku. “Jadi, mau bilang?”
Aku menatapnya dengan tatapan memelas, tak mengerti lagi ekspresi apa yang harus aku sodorkan.
Aku mengangguk pelan.
“Kok ngga yakin begitu?”
Aku mengangguk sekali lagi dengan mantap, sambil tersenyum.
BB-ku bergetar. Sella juga mengecek BB-nya.
Udah ngambil bagasi nih, tunggu bentar ya!
BBM dari Rudi, aku dan Sella tersenyum.
Gerbang kedatangan mulai ramai, banyak orang keluar sambil menyeret-nyeret koper, beberapa membawa ransel di punggung mereka.
Kemudian sosok itu terlihat. Terlihat lebih tinggi dan lebih hitam dari 3 bulan yang lalu. Kamu menyeret kopermu pelan-pelan, ketika menyadari ada kami senyummu merekah lebar, gigi putihmu terlihat.
Jantungku berdegup keras. Sosok ini yang membuat gelisah tiga bulanku, instantly menawarkan rasa perih hatiku. Melihat sosokmu berjalan pelan ke arahku seperti ini membuat penantianku terasa sebanding. Bahagianya begitu pekat hingga tak henti-hentinya aku tersenyum.
“Tambah item nih?” kate Sella.
“Masa? Panas-panasan terus di pantai nih,” kamu cekikikan.
“Bagaimana rasanya kembali ke rumah?” kataku, dengan susah payah.
“Bahagia sekali!” kamu nyengir.
“Oh iya, kenalin nih,” sesosok wanita manis berlari kecil menuju kami. Dengan rambut pendek yang diikat dan kaca mata kotak mungil, di lehernya tergantung kamera DSLR.
 “Tania, cewe aku,” katamu tanpa dosa.
Aku mematung. (end)