Wajahmu memerah ketika menghampiri aku di dalam coffee shop kesayangan kita. Jelas
sekali kamu baru saja berlari-lari menuju kemari. Sambil menautkan rambut
pendekmu ke belakang telinga, kamu tersenyum. Senyum manis yang sudah lama aku
nanti.
“Bagaimana?” kataku tiba-tiba. Kamu menoleh.
“Apanya?” Kamu bingung, masih sibuk berbenah diri.
Aku tertawa, bahkan aku belum tahu maksud
‘bagaimana’ tadi itu untuk apa.
“Dasar Aneh,” sambil mengerutkan alis nakal. Sekarang
tangan kamu mengusap celana jeans pinsilmu dengan selembar tissu. Tersisa
beberapa percikan gerimis di sana-sini, termasuk di atas jaket kulit coklatmu.
Aku menyeruput vanilla
late-ku. Ditemani lagu jazz lembut yang baru saja menggema dari sudut
ruangan. Minuman hangat ini terasa lebih nikmat, apa lagi sambil memperhatikan
parasmu.
“Empat tahun ya?” kataku lagi. Sambil terus
memeriksa tiap jengkal wajahmu. Empat tahun adalah waktu yang terlalu cukup
untuk membuat penampilan seseorang berubah.
Dulu kamu sangat sederhana, dengan jeans dan kaos
berkerah sekenanya, bahkan kamu tak pernah lupa mengenakan topi nike hitam
kesayanganmu. Tomboy sekali.
Machiato pesananmu tiba, dihantarkan seorang waitress cantik. Sambil tersenyum ia
beranjak pergi.
“Cantik ya?” kataku. Kamu mengangkat muka lalu
memperhatikan waitress tadi lebih
seksama.
“Jujur, iya,” wajahmu datar.
Aku jadi kesal karenanya, kupalingkan wajahku ke
jendela.
Gerimis masih menari-nari di luar, menjadikan ruangan
yang kita duduki, dengan beberapa pengunjung yang sibuk dengan obrolan mereka
masing-masing, terasa lebih nyaman.
Bel berbunyi, seseorang masuk, tampangnya kusut.
“Hot Cappucino!” bentaknya. Beberapa kepala menoleh
ke arahnya.
Ia balik melotot, menantang semua wajah yang menuju
ke arahnya. Ia melipat tangannya, kemudian menghentak-hentakkan kakinya di
lantai.
Kenyamanan yang beberapa detik lalu masih terjaga diganggu
orang baru ini.
“Aku berani bertaruh kalau dia baru saja putus
dengan pacarnya,” kataku.
“Dia hanya sedang buru-buru. Ketinggalan jadwal
selalu membuat orang-orang stress.” katamu, sambil menghirup machiato.
“Mirip kamu dulu ya?” tambahmu, bibirmu penuh foam,
aku usap dengan selembar tissu. Kamu tersenyum.
Pikiranku berkelana pada saat kita masih kuliah.
Hari itu hujan dan kita terpaksa berteduh dalam sebuah warkop sederhana di
kisaran Bogor.
“Uuh, hujan terus. Alamat gagal lagi minta tanda
tangan dosen,” aku menaruh tumpukan skripsi di atas pangkuanku yang lembab.
“Sebel ngga sih? Hujan terus, naek angkot, mana
macet, dan sekarang...” Aku mulai memelankan suaraku, “kita terjebak di sini,
di warkop reot ini.” Aku yakin wajahku
nampak kesal setengah mati waktu itu.
Kamu dengan malas mengaduk kopi tubruk pekat yang
ada di hadapanmu. Aroma kopi hangat menyeruak mendesak hidung.
“Kalau aku sih, selalu berusaha mensyukuri setiap
keadaan yang aku alami.”
Aku menopang dagu, sengaja memasang tampang bosan, menyiapkan
diri mendengarkan kuliah panjang yang sering kamu lantunkan saat sedang bersamaku.
Entah karena kamu penceramah yang baik atau aku yang terlalu suka mendengarkan
suaramu.
“Aku akan selalu berusaha mensyukuri dan menikmati
setiap level dari hidupku. Hujan-hujanan, berdesak-desakan di dalam angkot, terjebak
macet, berlari-lari menembus hujan, mengejar tanda tangan dosen, pokoknya
semua, apapun itu. Karena aku sadar, suatu hari nanti, ketika kita sudah berada
pada level yang berbeda, kita tidak akan lagi bisa menikmati apa yang kita
lakukan sekarang.
“Mungkin nanti kita terlalu sibuk untuk sekedar
duduk-duduk di warkop seperti ini, terlalu mobile
hingga harus punya mobil sendiri, telah menjadi orang penting sehingga
orang-orang yang mencari-cari tanda
tangan kita.”
Aku menegakkan posisi dudukku, tiap katamu memukul-mukul
pangkal benakku.
“Contohnya, sekarang kita sedang duduk dalam sebuah
warkop,” memelankan suara, “yang katamu reot,”
kembali menormalkan suara mungilmu, “dengan segelas kopi yang harganya seribu
atau dua ribu rupiah. Mungkin suatu saat, kita tidak bisa lagi menikmati kopi
dengan harga segini. Bisa saja kopi yang kita nikmati harganya sepuluh sampai
dua puluh kali lipat dari kopi kita sekarang.”
Aku tersenyum, sejak saat itu entah kenapa dirimu
terlihat begitu berkilau.
Kamu tersenyum lagi, menangkap wajahku yang baru selesai
menerawang.
“Apa sih? Aneh banget dari tadi,” katamu jengkel,
sebuah cubitan mendarat di lenganku.
“Kamu salah, “ kataku tiba-tiba.
“Kopi kita ini, lima puluh kali lebih mahal dari
kopi kita di warkop dulu,” tambahku.
Kamu lagi-lagi tersenyum, memahami apa maksudku.
“Sekarang aku sudah punya mobil,” katamu nakal.
Aku meraih tanganmu, menautkan jemarimu di antara
jemariku. Menara Eiffle menatap kita dari seberang jalan. Kita berdua tersenyum
(lagi). []