20130131

Sore di Saat Senja



Sore masih muda saat kamu tiba-tiba mengetuk pintu rumah. Kamu menyapaku ramah dengan tersenyum. Aku menatapmu lekat-lekat seperti anak kecil di toko mainan saat dirimu menjelajahkan pandanganmu mengelilingi seluruh rumah. Ada aroma kangen dari pancaran matamu.
“Kamu masih berjualan empek-empek?” katamu sambil menghempas tubuh ke kursi, sekaligus mengusik tampang bingung dan kaget aku.
Aku berjalan menuju dapur.
Ma’ mano[1]? Stroek-mu?” katamu khawatir, melihat cara berjalanku yang makin aneh.
Aku berhenti sejenak, “cak[2] ini lah,” sambil tersenyum.
Kamu meremas empek-empek dengan telunjuk dan ibu jarimu, makanan itu merekah mengepulkan asap putih, aroma ikan giling lembut menyelinap ke hidung. Kamu buru-buru membenamkannya ke dalam cairan cuko hitam kental pekat.
“Kangen nian aku, rasanyo idak[3] berubah sama sekali,” katamu senang. Lidahmu beberapa kali menjilati bibir yang basah. Kamu makan lahap sekali.
“Lapar?” kataku sambil tersenyum. Kamu mengangguk, masih sibuk melahap.
Sebuah getek[4] melintas melintang membelah sungai, menghasilkan gelombang agak tinggi yang merambat lembut hingga menggoyang-goyangkan lapisan lumut hijau yang menempeli tunggak[5] gelam rumah panggung kami, membuat pantat kita sedikit bergetar. Kamu  tersenyum, merindu getaran ini rupanya.
Atapnyo belum kau ganti? Nda bocor kalu hujan?” dengan mulut penuh. Aku menggeleng, sumringah menatapmu yang lahap makan.
Seperti rumah-rumah yang berjajar tak beraturan di sepanjang anak Sungai Musi ini, rumah ini memiliki dinding dari kayu yang dipaku-paku dan atap dari daun kelapa yang dianyam. Walau warna kayunya sudah luntur keabuan diredam cuaca dan lumut-lumut lembab, rumah ini masih kokoh.
Mano Panji?” katamu setelah melihat ke seberang, gerombolan berseragam merah-putih pecah menyebar keluar dari rumah sekolah.   
“Sebentar lagi pulang,” kataku.
Tatapanmu menyapu kawasan seberang lebih teliti, memandangi rumah sekolah yang pernah menjadi tempat belajar kita. Kamu masih terus mengikuti titik-titik merah-putih yang bergerak-gerak, sebagian membentuk segaris antrian menyusuri pinggiran sungai, sisanya menaiki sampan bergerak menyembrang. Kamu tersenyum lalu menghirup lebih banyak aroma sungai yang pekat kecoklatan dan ramai oleh ikan.
Atap langit masih biru pucat, dengan utas-utas awan perak tipis yang berdesakan di dinding langit mengingatkanmu pada kegiatan kita berdua saat masih berseragam. Kita sering meminjam sampan kakek untuk menyusuri pepohonan bakau yang memagari pinggiran sungai. Sambil membawa alat pancing, kita mencari pojokan akar bakau yang menjadi tempat berkumpul ikan-ikan juwaro.
“Ganti dulu lah seragammu itu, kage[6] kena marah emak,” katamu sambil melotot. Aku melompat begitu saja ke atas sampan. Benda mengapung itu bergoyang di atas permukaan air yang hijau, hijau karena musim hujan. Detik berikutnya sampan yang kita naiki terbalik, kita berdua tenggelam.
Kepala kita muncul basah, berkilau-kilau dihujani cahaya senja. Kepalaku tiba-tiba  sakit kena pukul.
“Baju tidurku jadi basah!!” Katamu marah sambil menyemburkan air dari mulut, matamu merah kemasukan air keruh.
“Baju seragamku juga,” kataku tertawa sambil mengelus-elus kepalaku. Kita berkecipakan berusaha tetap mengapung.
Senja itu kita habiskan dengan bercerita sambil memancing diantara akar bakau tua hingga gelap turun. Sepulangnya kita kena marah karena baju kita sama-sama basah. Esoknya kita juga sama-sama tidak masuk sekolah karena masuk angin.    
Aku tersenyum mengingat masa itu. Kamu menangkap senyumanku.
“Kamu kelihatan lebih bahagia sekarang?” katamu. Kamu mengusap-usapkan jemarimu pada pegangan kursi, membersihkan minyak empek-empek.
“Kamu juga,” kataku. Kita saling tersenyum.
Matahari perlahan surut, membuat lantai sungai makin memerah. Pasang sungai membuat jarak lantai rumah dengan permukaan air tinggal beberapa jengkal saja, getarannya makin terasa.
Kamu mengawasi wajahku lekat-lekat tiba-tiba. Alismu yang dijatuhi remah-remah senja mengkerut pelan.
Apo dio?” kataku bingung. Kamu beranjak masuk kamar, lalu keluar lagi dengan alat cukur di genggaman, rupanya masih hafal isi rumah ini.
“Kamu idak pernah ngaca lagi ya?” katamu ketus, lalu berlutut dan meraih daguku lembut-lembut.
Wajahku menegang kaget, ada sesuatu yang dingin medarat di rahangku. Satu tanganmu bergrilya pelan-pelan, jemarimu yang lain menopang rahangku lembut.
“Jangan janggutnya,” kataku berhati-hati berharap wajahku tidak tergores. Kamu mengangguk dikuti beberapa helai kumisku yang berjatuhan ke lantai kayu yang karpet plastiknya bolong di sana-sini.
Tanganmu diam, rupanya telah selesai, memeriksa hasil kerjamu. Sejenak kemudian tatapan kamu dan aku bertemu. Bola mata beningmu berkilauan, dengan iris cokelat pekat bergerigi dan alis hitam melengkung tipis. Mata paling indah yang pernah kulihat.
Tiba-tiba ada sesuatu yang meresap hangat di dadaku.
Kamu berdehem sambil melepas jemarimu. Aku buru-buru melempar tatapanku ke sungai, sambil meraba-raba kumisku yang sudah rata. Sudah lama kita tidak melakukan ini, ada hawa bahagia menjalariku. Aku tersenyum tipis.
Pintu diketuk, kita berdua menoleh. Sosok berseragam berlari, menimbulkan bunyi “duk-duk” keras di lantai lalu menubruk memeluk tubuhmu.
“Emaak!!” Suara Panji hilang dalam dadamu. Ada genangan haru di mata cokelatmu. Kamu merengkuh anak kita dalam-dalam.
Panji mendorong tubuhnya pelan, memeriksa ransel hitamnya yang nyaris putus, mengeluarkan sebuah ‘mbem’—sejenis buah mangga—yang masih mentah. Getahnya yang mengering berkilat-kilat kuning di permukaannya yang hijau.
“Untuk emak,” katanya sambil tersenyum.
Dulu, di desa kita ini banyak pohon mbem tua yang menjulang tinggi-tinggi ke langit. Saking tingginya, hanya beberapa orang saja yang berani naik hingga pucuk[7]. Kita, anak-anak ingusan, hanya bisa mandangi buah-buah mbem yang lezat itu dari bawah, berharap pohon kekar itu mau merunduk untuk kita. Kabar baiknya, buah-buah itu biasa barjatuhan saat tertiup angin husim hujan. Anak-anak akan berlarian sumringah saat hujan dan angin besar turun, menuju kebun pohon mbem, sambil tertawa cekikikan saling berebut saat mbem-mbem itu berjatuhan ke bumi.
Suatu sore, hujan turun lebat bersama angin kencang. Aku izin ke toilet pada guruku, padahal jelas-jelas berlari melintasi halaman sekolah, menembus hujan lebat dan angin kencang menuju kebun. Berebut mbem dengan anak-anak lain dan kembali dengan seragam basah dan lutut kotor oleh tanah. Aku kena tampar pak guru.
“Kau sih lolo[8], ngapo[9] hujan-hujanan?” katamu saat pulang sekolah. Aku masih memegangi pipiku yang masih panas. Lembayung masih terhalang gumpalan awan yang sedang bergerimis di atas kepala kita.
Aku merogoh kantong, dan menyerahkan mbem yang kudapat dengan penuh perjuangan itu. Kamu tesenyum sambil menggenggam mbem hasil usahaku. Sejak itu, di bawah hujan rintik-rintik dan sinar lembayung yang menyelinap malu-malu di antara awan sore, kita resmi berpacaran.
Ngapo kamu tiba-tiba ke sini?” Sayup terdengar riak air memukul-mukul lantai jeramba belakang rumah kami. Malam ini ranjang reotku terisi tiga orang, Panji yang sudah terlelap terbaring di antara kita, memeluk erat kamu.
Aku menengadah memandang atap yang daun kelapanya berjuntai-juntai diterangi lampu teplok. “Sudah tiga tahun,” tambahku. Serangga bersayap bergerak-gerak sunyi dekat corong lampu.
Bibirmu diam.
Stroek hanya membolehkanku berjualan empek-empek dari rumah. Aku tak tega membiarkanmu hidup nelangs. Dengan berat hati aku menceraikanmu. Kamu merelakan Panji tinggal bersamaku, kamu tahu aku tak punya siapa-siapa lagi.
“Aku hanya rindu,” suaramu terdengar kering dan dingin.
Setelah itu kita saling diam, ditemani suara jangkrik yang menyelinap pelan dari semak kolong rumah.
Paginya aku bangun dan tubuhmu sudah tidak ada di situ. Kamu mungkin pergi ikut speed[10] subuh tadi. Pergi sendirian, di tengah gelap, kedinginan dan tanpa pamit.

Di suatu senja yang sama HP-ku berbunyi. SMS masuk, dengan tanggal pengiriman kemarin. Bagi desa kami yang sinyalnya datang dan pergi bersamaan angin, SMS telat sehari dua hari adalah biasa.
Aku berjalan pelan menuju beranda dengan senyum terkulum. Cahaya senja berjatuhan lembut menyapu dedaunan bakau dan atap-atap daun kelapa. Langit yang ranum berpantulan pada coklat pekat air sungai yang bergerak-gerak, membentuk hamparan nan meriah. Suara tunggak gelam yang dipukul-pukul gelombang berbaur dengan kicau riang sekawanan burung walet yang terbang ringan di atas.

Aku akan menikah besok.[]






[1] Bagaimana. Orang Palembang biasa mengganti akhiran ‘a’ menjadi ‘o’ pada bahasa mereka
[2] Seperti
[3] Tidak
[4] Semacam perahu kecil dengan mesin tempel, sering digunakan untuk menyebrangi sungai
[5] Kayu bulat yang ditancapkan ke dasar sungai, biasanya untuk tiang rumah panggung
[6] Nanti
[7] Atas
[8] Bodoh
[9] Mengapa
[10] Perahu cepat, dikota disebut speed boat

20130125

Nina



Dulu Ketika semua perhatian orang-orang mulai beralih dariku padanya, bayi yang masih merah itu seperti mengerti. Seolah berkata “Maaf ya Kak,” dengan seutas senyum lembut, persis senyumnya sekarang. Senyum yang selalu berhasil menaklukanku.
Nina berlari ke arahku lalu menubruk dan memelukku erat-erat. Dia tak berubah, bahkan aroma rambutnya. Hari ini adikku pulang.
 “AC mobilnya sudah cukup dingin?” Kataku setelah mobil kami meninggalkan bandara. Matanya menyipit, bibirnya mengkerut, “bisa kan tidak memperlakukanku seperti anak kecil terus?” Sambil melipat tangannya di dada. Ia merajuk.
Aku tertegun, kemudian tersenyum. Benar juga, Nina yang sekarang seorang dokter masih saja serasa adik kecil buatku. Adik mungil yang wajib kulindungi. Dulu anak manja ini selalu ingin satu sekolahan denganku.
“Oh iya, kenapa pulang? Lebaran kan masih lama,” kataku, mencoba mengurai rajukannya.
Kangen saja sama semua. Ayah dan Ibu sehat kan?” Suaranya tertahan. Tak biasanya Nina pulang menyalahi jadwalnya. Nina sendiri yang minta ditempatkan di pedalaman, jauh dari Ayah dan Ibu, jauh dariku, jauh dari kami. Katanya Nina merasa lebih berguna di sana, di Papua.
“Sehat, mereka begitu senang ketika mendengar kabar kamu pulang lebih awal. Kamu sendiri? Mukamu pucat begitu,” kataku menekan suara. Nina menjawab dengan senyuman hening. Aku menelan ludah getir.
Nina anak yang tabah, dia terlalu sering memikul apa yang seharusnya belum boleh dia pikul. Ia terlahir premature. Pertama kali melihatnya, hatiku menjerit keras sekali. Bagaimana bisa seorang bayi dilahirkan dengan tubuh sekecil itu? Kepalanya, lengannya, kakinya, semuanya terlalu kecil untuk ukuran bayi merah sekalipun.
Segera setelah lahir dia langsung masuk incubator. Ia tak pernah menangis, tidak rewel, tidak manja. Ketika menatap tubuh ringkih yang terperangkap dalam kotak oven itu, aku justru mendapat tatapan yang meneduhkan, aroma tubuh yang menenangkan, yang membuatku sangat nyaman. Ingin sekali aku menggenggam jemari mungilnya, mengecup pipinya, mengusap keningnya, mengelus rambutnya, menimang tubuhnya.
Ketika mata kami berpapasan Ia nampak selalu tersenyum, lembut sekali senyumnya, selembut kecupan ibu. Melalui senyum itu ia berkata dengan bahasanya “Aku baik-baik saja kok Kak, sebentar lagi aku akan keluar dari sini. Nanti kita main bareng ya.”
Sejak itu aku berjanji pada diriku kalau aku harus menjadi seorang kakak yang baik. Kakak yang kuat agar bisa melindunginya dari apapun, kakak yang pintar untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanya, kakak yang kokoh agar bisa menaikannya ke pundakku ketika balonnya tersangkut di pohon.
Aku harusnya merasa sangat senang dengan kepulangannya yang lebih cepat ini, tapi ada perasaan lain. Sesuatu yang tidak beres, rasa yang menahan ledakan bahagia, firasat aneh menggantung entah sejak kapan yang menyeret ke dalam dinding-dinding beku di lubang hatiku, sesuatu yang tak kufahami dan dingin.
Ke pantai sebentar Kak, aku rindu suara ombak,” ketika biru laut memantul di kaca mobil. Suaranya makin meringkus semangatku. Aku mengangguk.
Kami sampai, wangi laut menyapa hidung, alunan ombak merekah di udara, tanah berselimut hamparan pasir putih, lazuardi langit terpantul di permukaan laut, matahari senja bersinar lembut. Binar cahayanya gemerlapan bak taburan bintang di atas lautan bergoyang-goyang.
Nina duduk di atas pasir, melipat kaki di depan dadanya, kemudian melingkarkan tangannya di sana. Mata beningnya menerawang layu. Aku tak bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan. Tak ada yang bisa kucapai.
“Kakak tahu bagaimana rasanya berhasil menyembuhkan seseorang?” Kata Nina memecah bisu, lebih terdengar monolog dari pada bertanya. Aku diam.
“Saat mereka berterima kasih, rona senyum mereka, gelak tawa mereka, ceria dari sanak-saudara mereka, bahkan air mata bahagia mereka. Suasana itu menyenangkan, sangat menyenangkan. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia.
Orang-orang lugu itu, aku ingin berguna untuk mereka, aku ingin melihat mereka tersenyum lagi.”
Sapuan angin membimbing serpihan aroma garam menusuk hidung, membelai lembut rambut Nina, berhasil menerbangkan beberapa helai ke udara. Mengulum suara Nina yang berakhir serak.
Nina melonggarkan tatapannya dari lautan, memalingkan wajahnya menatapku, lalu tersenyum ramah. Namun ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kuraih. Perlahan, dari balik senyumnya, matanya memerah perlahan, air mata menggenang di sana, makin banyak, tak tertahan lalu meleleh jatuh dan mengalir lembut membelai pipinya.
Beberapa tetes berikutnya meluncur lebih deras. Ia cegukan, meninggalkanku dalam ekpsresi tak mengerti.
“Aku tak bisa sembuh Kak,” suaranya lirih. Matanya makin merah. Air matanya makin deras. Tubuhnya menggigil. Ia kalah.
Aku mematung tak percaya. Semua memori masa kecil kami seperti tertarik paksa, berdesing cepat tak karuan dalam benakku. Aku tersenyum, bukan senyum bahagia, tapi senyum tak percaya sambil menatapnya ketakutan. Aku sendiri tak mengerti mengapa ada seutas senyum itu.
“Bercanda kan? Kamu bohong kan?” Aku takut, aku benar-benar takut. Aku bingung, wajahku pucat menunggu jawabannya. Hidung Nina basah, ia diam tak menjawab.
Nina sedang sakit, ada kanker bersemayam di pankreasnya. Ini rahasia kami berdua. Bahkan ayah dan ibu tidak tahu. Setahun yang lalu, ketika Nina memberitahuku, nyawaku seperti direnggut, tubuhku lemas. Nina yang terlihat selalu ceria dan segar bugar tiba-tiba mengaku mengidap kanker.
Siapa yang akan percaya?! Nina bahkan mengaku sambil tersenyum. Katanya kankernya masih bisa disembuhkan, ia akan meminta bantuan kolega-koleganya. Ia berjanji akan kembali sehat, sambil tersenyum. Senyum itu yang mengalahkan ketakutanku, aku percaya ia akan sembuh kala itu, sangat percaya. Aku tak punya pilihan lain.
Sekarang Nina ada di hadapanku, melontarkan kenyataan mengerikan ini, mengingkari janjinya setahun lalu. Aku mencengkram pundaknya, mengguncang-guncang tubuhnya. Mengapa harus dia? Mengapa bukan aku saja?
“Bohong kan Na?! Mana ada dokter yang kena kanker?! Ini tidak lucu Na! Jangan becanda dong, kamu sehat kan!?” Nadaku meninggi. ”Ramadhan tahun depan kamu masih harus pulang ke rumah, kita masih harus sahur dan buka dengan masakan ibu. Kamu tahu sendiri ibu kalau masak pasti banyak, mana sanggup aku dan ayah menghabiskan semuanya? Kamu juga masih harus menemani ibu Shalat Ied tahun depan?
Nina tak menjawab. Pundaknya makin bergetar, hanya isak tangis yang terdengar dari bibir mungilnya, wajahnya sudah basah. Ia sangat ingin melakukan banyak hal, praktik di pedalaman lagi, sahur dan buka di hari pertama Ramadhan bersama lagi, Sholat Ied bersama lagi. Tapi Nina sadar, hidupnya tinggal sebentar lagi.
Kami dibalut sunyi akhirnya, Nina berusaha menguasai tangisannya. Aku mengendurkan cengkramanku, tersungkur lemas dan menyerah. Angin lembut menyentuh dedaunan kelapa, melambai pelan di ujung sana. Serangga yang tadinya hinggap terpaksa bubar, mencari tempat hinggap yang lebih tenang.
Karenanya aku ingin bertemu ibu dan ayah, mungkin untuk terakhir kalinya,” kata Nina, matanya masih basah.
“Tolong bantu aku agar tidak menangis ketika bertemu mereka. Sudah cukup mereka menghawatirkan aku waktu kecil dulu. Sekarang tak perlu lagi.”
Di sana, dalam sunyi yang pekat, kami sempat menyaksikan sunset bersama. Kemilau lembayung jingga membalut wajah Nina yang tenang seperti telaga, di sudut wajahnya aku menangkap seberkas kelegaan. Hal ini mungkin sudah dia simpan lama, ia tutup rapat dalam peti hatinya.
Begitu mobil berhenti, menyambut kami sebuah bangunan tua dan lusuh namun masih kokoh dengan halaman luas dan dikelilingi banyak tanaman. Nina berdiri agak lama, memandangi rumah kami lekat-lekat. Membayangkan kenangan yang pernah kami lewati di dalamnya. Ia beralih menatap pohon mangga besar yang berdiri jemawa di samping rumah. Tepat pada cabang kekarnya itu, Nina pernah menangis sangat keras memanggil-manggil aku. Aku yang ada di dapur kala itu melompat keluar. Aku menemukan ada seekor helder besar menyalak nyaring ke arah Nina kecil.
Nina meraih lengan kananku, meraba-raba halus, mencari sesuatu. Telunjuknya menemukan bekas luka delapan jahitan, jejak gigitan anjing yang tak pernah bisa dihilangkan. Ia menatapku, memelas meminta maaf. Aku tersenyum, menggenggam pundaknya dan mengajaknya masuk.
Di dalam, ayah dan ibu sudah menunggu kami. Ibu dan ayah memeluk Nina bersamaan, aku melihat ada genangan haru di mata mereka bertiga. Tangis Nina nyaris pecah, aku mengusap punggungnya, mengingatkannya untuk tidak menangis.
*
“Terima kasih. Kakak adalah kakak paling hebat sedunia,” kata Nina. Kami sedang terlentang di halaman, menikmati suguhan megah gemintang di langit malam. Ritual ketika Nina kecil tak bisa tidur, kami sengaja mengulangnya.
“Jangan buat aku menangis lagi dong,” kataku. ”Tapi apa itu benar-banar tidak bisa disembuhkan? Kamu bohong kan? Mungkin masih ada cara lain yang terlewat?” 
Nina tertawa geli, aku paham.
“Besok aku akan berangkat lagi. Kalau di sini terus aku tidak akan tahan terus-menerus berbohong di depan ayah dan ibu,” wajahku mengkerut.
“Kenapa kamu memilih bertugas di pedalaman Papua segala?Kataku sewot. Nina diam.
“Aku tidak mau menjadi anak yang manja, yang selalu bersembunyi di belakang kakak terus. Aku ingin seperti kakak. Kuat, dewasa, mandiri dan disayang banyak orang. Kalau kakak jadi guru yang disayang murid kakak, aku juga ingin jadi dokter yang disayang pasienku,” senyumnya merekah, dadanya membusung sombong. Aku tergelak, Nina ikut tertawa. Setelah kelelahan tertawa kami saling terdiam, menyelami benak masing-masing. Mengingat sebanyak mungkin kenangan berharga yang telah kami lewati bersama, merapihkannya, kemudian menyimpannya baik-baik di suatu tempat istimewa di ruang hati masing-masing.
Terima kasih Kak.
Aku memejamkan mata, memaksa air mataku kembali masuk, tapi ia malah mengalir, basah dan hangat. Nina juga terisak.
Esoknya langit di luar cerah, angin mengarak awan berbaris menjadi lukisan keperakan sederhana. Aku berada di bandara, duduk di sebuah kursi panjang, di sebelahku ada Nina yang diapit ayah dan ibu. Aku menatap wajah Nina, ia terus tersenyum lebar kepada ayah dan ibu, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Kamu tahu Na? Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kamu yang telah mengajarkan banyak hal padaku. Kalau bukan karena kamu yang tidak pernah rewel padahal premature, aku pasti jadi anak laki-laki cengeng yang manja. Kalau bukan karena kamu yang menangis ketakutan di atas pohon mangga, aku tak akan mungkin jadi anak nekat yang berani menerjang anjing helder raksaksa itu. Aku juga tak akan mungkin mati-matian belajar hingga bisa masuk SMP, SMA bahkan kampus favorit, karena kamu ingin selalu satu sekolah bersamaku.
Ketika kamu berhasil meraih gelar dokter, sebenarnya aku malu karena aku hanya mampu menjadi seorang guru. Kemudian ketika kamu memutuskan bertugas ke Papua, aku lebih malu lagi. Hatimu telah tumbuh mejadi begitu besar dan luas, hingga tak mampu kugapai lagi.
Lobby bandara masih ramai, acuh pada kami berempat. Suara bergema memanggil penumpang yang akan berangkat selanjutnya. Aku berdiri gontai, diikuti Nina, ayah kemudian ibu. Nina pamit, meminta agar ayah ibu menjaga kesehatan. Nina memeluk erat-erat kedua orang tuanya, lalu mengecup tangan mereka lembut-lembut. Setelahnya dia menatapku.
Aku menemukan sosok yang letih dalam pantulan matanya, ada sedikit genangan di sana. Kami berpelukan, saling menghirup aroma masing-masing. Lama, lebih lama dari biasanya.
Nina menguatkan hatinya, kemudian tersenyum padaku. Senyum itu yang menahan air mataku luruh. Dari belakang, sesekali terlihat ia mengusap matanya, meninggalkan aku dengan dada penuh gemuruh dan mata hangat
Ayah menepuk pundakku, “Kamu baik-baik saja?” Aku mengerjapkan mata.
“Kamu jadi begitu melankolis sejak kemarin,” katanya. “Ramadhan tahun depan kan Nina masih akan pulang ke rumah,” Ia tertawa mengejek sambil beranjak mendahului.
Aku mematung hampa, menatap perih punggung adik kesayanganku menjauh. []