Sore masih muda
saat kamu tiba-tiba mengetuk pintu rumah. Kamu menyapaku ramah dengan tersenyum.
Aku menatapmu lekat-lekat seperti anak kecil di toko mainan saat dirimu menjelajahkan
pandanganmu mengelilingi seluruh rumah. Ada aroma kangen dari pancaran matamu.
“Kamu masih
berjualan empek-empek?” katamu sambil menghempas tubuh ke kursi, sekaligus
mengusik tampang bingung dan kaget aku.
Aku berjalan
menuju dapur.
“Ma’ mano[1]?
Stroek-mu?” katamu khawatir, melihat
cara berjalanku yang makin aneh.
Aku berhenti
sejenak, “cak[2]
ini lah,” sambil tersenyum.
Kamu meremas
empek-empek dengan telunjuk dan ibu jarimu, makanan itu merekah mengepulkan
asap putih, aroma ikan giling lembut menyelinap ke hidung. Kamu buru-buru
membenamkannya ke dalam cairan cuko
hitam kental pekat.
“Kangen nian aku, rasanyo idak[3]
berubah sama sekali,” katamu senang. Lidahmu beberapa kali menjilati bibir yang
basah. Kamu makan lahap sekali.
“Lapar?” kataku
sambil tersenyum. Kamu mengangguk, masih sibuk melahap.
Sebuah getek[4]
melintas melintang membelah sungai, menghasilkan gelombang agak tinggi yang
merambat lembut hingga menggoyang-goyangkan lapisan lumut hijau yang menempeli tunggak[5]
gelam rumah panggung kami, membuat pantat kita sedikit bergetar. Kamu tersenyum, merindu getaran ini rupanya.
“Atapnyo belum kau ganti? Nda bocor kalu hujan?” dengan mulut penuh. Aku menggeleng, sumringah
menatapmu yang lahap makan.
Seperti
rumah-rumah yang berjajar tak beraturan di sepanjang anak Sungai Musi ini, rumah
ini memiliki dinding dari kayu yang dipaku-paku dan atap dari daun kelapa yang
dianyam. Walau warna kayunya sudah luntur keabuan diredam cuaca dan lumut-lumut
lembab, rumah ini masih kokoh.
“Mano Panji?” katamu setelah melihat ke
seberang, gerombolan berseragam merah-putih pecah menyebar keluar dari rumah sekolah.
“Sebentar lagi
pulang,” kataku.
Tatapanmu
menyapu kawasan seberang lebih teliti, memandangi rumah sekolah yang pernah menjadi tempat belajar kita. Kamu masih
terus mengikuti titik-titik merah-putih yang bergerak-gerak, sebagian membentuk
segaris antrian menyusuri pinggiran sungai, sisanya menaiki sampan bergerak menyembrang.
Kamu tersenyum lalu menghirup lebih banyak aroma sungai yang pekat kecoklatan dan
ramai oleh ikan.
Atap langit
masih biru pucat, dengan utas-utas awan perak tipis yang berdesakan di dinding
langit mengingatkanmu pada kegiatan kita berdua saat masih berseragam. Kita
sering meminjam sampan kakek untuk menyusuri pepohonan bakau yang memagari
pinggiran sungai. Sambil membawa alat pancing, kita mencari pojokan akar bakau
yang menjadi tempat berkumpul ikan-ikan juwaro.
“Ganti dulu lah
seragammu itu, kage[6]
kena marah emak,” katamu sambil melotot. Aku melompat begitu saja ke atas
sampan. Benda mengapung itu bergoyang di atas permukaan air yang hijau, hijau
karena musim hujan. Detik berikutnya sampan yang kita naiki terbalik, kita berdua
tenggelam.
Kepala kita muncul
basah, berkilau-kilau dihujani cahaya senja. Kepalaku tiba-tiba sakit kena pukul.
“Baju tidurku
jadi basah!!” Katamu marah sambil menyemburkan air dari mulut, matamu merah
kemasukan air keruh.
“Baju seragamku
juga,” kataku tertawa sambil mengelus-elus kepalaku. Kita berkecipakan berusaha
tetap mengapung.
Senja itu kita habiskan
dengan bercerita sambil memancing diantara akar bakau tua hingga gelap turun. Sepulangnya
kita kena marah karena baju kita sama-sama basah. Esoknya kita juga sama-sama
tidak masuk sekolah karena masuk angin.
Aku tersenyum
mengingat masa itu. Kamu menangkap senyumanku.
“Kamu kelihatan
lebih bahagia sekarang?” katamu. Kamu mengusap-usapkan jemarimu pada pegangan
kursi, membersihkan minyak empek-empek.
“Kamu juga,”
kataku. Kita saling tersenyum.
Matahari
perlahan surut, membuat lantai sungai makin memerah. Pasang sungai membuat jarak
lantai rumah dengan permukaan air tinggal beberapa jengkal saja, getarannya
makin terasa.
Kamu mengawasi wajahku
lekat-lekat tiba-tiba. Alismu yang dijatuhi remah-remah senja mengkerut pelan.
“Apo dio?” kataku bingung. Kamu beranjak
masuk kamar, lalu keluar lagi dengan alat cukur di genggaman, rupanya masih
hafal isi rumah ini.
“Kamu idak pernah ngaca lagi ya?” katamu
ketus, lalu berlutut dan meraih daguku lembut-lembut.
Wajahku menegang
kaget, ada sesuatu yang dingin medarat di rahangku. Satu tanganmu bergrilya
pelan-pelan, jemarimu yang lain menopang rahangku lembut.
“Jangan
janggutnya,” kataku berhati-hati berharap wajahku tidak tergores. Kamu
mengangguk dikuti beberapa helai kumisku yang berjatuhan ke lantai kayu yang
karpet plastiknya bolong di sana-sini.
Tanganmu diam, rupanya
telah selesai, memeriksa hasil kerjamu. Sejenak kemudian tatapan kamu dan aku
bertemu. Bola mata beningmu berkilauan, dengan iris cokelat pekat bergerigi dan
alis hitam melengkung tipis. Mata paling indah yang pernah kulihat.
Tiba-tiba ada
sesuatu yang meresap hangat di dadaku.
Kamu berdehem
sambil melepas jemarimu. Aku buru-buru melempar tatapanku ke sungai, sambil meraba-raba
kumisku yang sudah rata. Sudah lama kita tidak melakukan ini, ada hawa bahagia
menjalariku. Aku tersenyum tipis.
Pintu diketuk, kita
berdua menoleh. Sosok berseragam berlari, menimbulkan bunyi “duk-duk” keras di
lantai lalu menubruk memeluk tubuhmu.
“Emaak!!” Suara
Panji hilang dalam dadamu. Ada genangan haru di mata cokelatmu. Kamu merengkuh
anak kita dalam-dalam.
Panji mendorong
tubuhnya pelan, memeriksa ransel hitamnya yang nyaris putus, mengeluarkan
sebuah ‘mbem’—sejenis buah mangga—yang masih mentah. Getahnya yang mengering
berkilat-kilat kuning di permukaannya yang hijau.
“Untuk emak,”
katanya sambil tersenyum.
Dulu, di desa kita
ini banyak pohon mbem tua yang menjulang tinggi-tinggi ke langit. Saking
tingginya, hanya beberapa orang saja yang berani naik hingga pucuk[7].
Kita, anak-anak ingusan, hanya bisa mandangi buah-buah mbem yang lezat itu dari
bawah, berharap pohon kekar itu mau merunduk untuk kita. Kabar baiknya,
buah-buah itu biasa barjatuhan saat tertiup angin husim hujan. Anak-anak akan
berlarian sumringah saat hujan dan angin besar turun, menuju kebun pohon mbem, sambil
tertawa cekikikan saling berebut saat mbem-mbem itu berjatuhan ke bumi.
Suatu sore,
hujan turun lebat bersama angin kencang. Aku izin ke toilet pada guruku, padahal
jelas-jelas berlari melintasi halaman sekolah, menembus hujan lebat dan angin
kencang menuju kebun. Berebut mbem dengan anak-anak lain dan kembali dengan seragam
basah dan lutut kotor oleh tanah. Aku kena tampar pak guru.
“Kau sih lolo[8],
ngapo[9]
hujan-hujanan?” katamu saat pulang sekolah. Aku masih memegangi pipiku yang
masih panas. Lembayung masih terhalang gumpalan awan yang sedang bergerimis di
atas kepala kita.
Aku merogoh
kantong, dan menyerahkan mbem yang kudapat dengan penuh perjuangan itu. Kamu
tesenyum sambil menggenggam mbem hasil usahaku. Sejak itu, di bawah hujan
rintik-rintik dan sinar lembayung yang menyelinap malu-malu di antara awan sore,
kita resmi berpacaran.
“Ngapo kamu tiba-tiba ke sini?” Sayup
terdengar riak air memukul-mukul lantai jeramba belakang rumah kami. Malam ini
ranjang reotku terisi tiga orang, Panji yang sudah terlelap terbaring di antara
kita, memeluk erat kamu.
Aku menengadah
memandang atap yang daun kelapanya berjuntai-juntai diterangi lampu teplok.
“Sudah tiga tahun,” tambahku. Serangga bersayap bergerak-gerak sunyi dekat
corong lampu.
Bibirmu diam.
Stroek hanya membolehkanku berjualan
empek-empek dari rumah. Aku tak tega membiarkanmu hidup nelangs. Dengan berat
hati aku menceraikanmu. Kamu merelakan Panji tinggal bersamaku, kamu tahu aku
tak punya siapa-siapa lagi.
“Aku hanya
rindu,” suaramu terdengar kering dan dingin.
Setelah itu kita
saling diam, ditemani suara jangkrik yang menyelinap pelan dari semak kolong
rumah.
Paginya aku
bangun dan tubuhmu sudah tidak ada di situ. Kamu mungkin pergi ikut speed[10]
subuh tadi. Pergi sendirian, di tengah gelap, kedinginan dan tanpa pamit.
Di suatu senja
yang sama HP-ku berbunyi. SMS masuk, dengan tanggal pengiriman kemarin. Bagi
desa kami yang sinyalnya datang dan pergi bersamaan angin, SMS telat sehari dua
hari adalah biasa.
Aku berjalan
pelan menuju beranda dengan senyum terkulum. Cahaya senja berjatuhan lembut
menyapu dedaunan bakau dan atap-atap daun kelapa. Langit yang ranum berpantulan
pada coklat pekat air sungai yang bergerak-gerak, membentuk hamparan nan meriah.
Suara tunggak gelam yang
dipukul-pukul gelombang berbaur dengan kicau riang sekawanan burung walet yang
terbang ringan di atas.
Aku akan menikah besok.[]
[1]
Bagaimana. Orang Palembang biasa mengganti akhiran ‘a’ menjadi ‘o’ pada bahasa
mereka
[2] Seperti
[3] Tidak
[4] Semacam
perahu kecil dengan mesin tempel, sering digunakan untuk menyebrangi sungai
[5] Kayu
bulat yang ditancapkan ke dasar sungai, biasanya untuk tiang rumah panggung
[6] Nanti
[7] Atas
[8] Bodoh
[9] Mengapa
[10] Perahu
cepat, dikota disebut speed boat