20161117

Selasa ...


Aroma tanah yang dijilati gerimis menrambat naik, nafas orang-orang yang menghembus dibalik punggungku terasa hangat, rasa lembab karena keringat orang lain berbaur dengan  bau parfum yang bercampur dengan aroma pelembut pakaian. Seperti pagi yang lain, di jam-jam ini aku sedang berdiri di dalam salah satu kopaja yang berusaha menembus kemacetan Jakarta.

Biasanya telingaku sedang di sumbat headset, mendengar playlist yang ku buat asal untuk mengusir kejengahan karena standar kenyamanan angkutan umum yang hancur lebur (kalau memang ada yang namanya standar untuk kenyamanan angkutan umum di Indonesia). Sembari mengedarkan pandangan menyusuri perjalanan yang selalu sama di setiap pagi (kecuali weekend, aku bersyukur masih ada yang namanya weekend) aku mengangguk-anggukan kepala dan mengetuk-ngetuk kaki.

Hey, ternyata banyak sekali siluet perjuangan hidup yang bisa disusuri bahkan saat kita sedang dalam sebongkah perjalanan menuju kantor. Seperti tukang nasi uduk di trotoar itu, bapak pedagang asongan yang sudah siap menyerbu saat lampu merah menyala, atau bapak-bapak gojek yang sedang membonceng anaknya menuju sekolah di belakang kopaja ini. Mereka seperti halnya diriku, bangun pagi-pagi untuk melakukan rutinitas—yang menurutku terkutuk—setiap harinya, bertarung melawan jahatnya Jakarta yang tidak pernah bisa dikalahkan.

Sudah beberapa hari ini Indera perasaku menjadi begitu tumpul hingga kemeriahan itu semua tak membuatku begidik lagi. Kopaja berhenti karena lampu lalu lintas di depan memerah. Aku melompat, mendaratkan sepatuku di aspal hitam yang setengah basah karena hujan semalam, menyatu dengan kerumunan manusia yang akan menyembrang jalan raya. Kantorku ada di ujung simpangan ini, menjulang tinggi dan pongah.

Langkah kakiku membawaku menembus orang-orang ini. Langit terlihat agak gelap pagi ini, membuatku merapatkankan jaket. Sisa hujan semalam masih mengambang di atas kepala kami, pantas air kostan pagi tadi terasa lebih dingin dari biasanya. Jakarta sudah mulai memasuki musim penghujan.

HP ku bergetar. Aku merogoh saku.

‘Sarapan bareng? Udah di meja nih J bunyi pesan WA itu.

Aku memasukkan HP-ku ke dalam saku celana, kali ini kubenamkan lebih dalam.

Aku memasuki lobi, hembusan AC menerpa ujung kepalaku. Tapi tidak terasa dingin. Sudah beberapa hari ini Indera perasaku menjadi begitu tumpul

“Gimana sama si Ratih?” seseorang menyenggol pundakku. Aku menoleh, Dody nyengir nakal.
Aku mendengus malas.

“Kenapa? Acara beli baju kemaren itu ngga berjalan lancar?”

Minggu kemarin Ratih mengajakku menemaninya membeli baju di salah satu mall di Sudirman, katanya sih mau dipakai untuk arisan keluarganya minggu depan. Kami menghabiskan sisa hari dengan nonton di bioskop lalu diakhiri dengan mengobrol di salah satu gerai coffee hingga senja.

“Ngga juga,” kataku menimpali.

 “Terus gimana? Lu ngga mau maju?”

Aku terdiam.
Aku teringat tawa Ratih yang renyah saat mendengar guyonan konyolku sore itu. Anak itu, ramah dan manis. Dia terlasa menyenangkan diajak mengobrol. Apa yang kami bahas selalu menyenangkan.

“Jalanin aja dulu. Apa yang kuran gcoba dari seorang Ratih. Siapa tahu anak ini bisa bikin lo lupain Dian,”

Mendengar nama itu di sebut aku kesal minta ampun.

Aku juga bingung, efek ditolak bisa membuat kita kesal bahkan ketika nama orang yang nolak kita itu di sebut. 

Setidaknya itu yang terjadi denganku.

Di hadapan kami terlihat pintu lift, di depannya sudah banyak kerumunan orang mengantri.
Aku menarik tangan Dodi, berbelok mengambil lorong yang lain.

“Tangga Jul? meja kita di lantai lima kan?” kata Dody panik. Aku masih menyeretnya menemaniku menuju tangga.

“Haduh mau sampai kapan lu begini? Udah seminggu lebih Zul,”

Aku malas menjawab. Aku masih belum berani menatap sosok itu. Di depan lift tadi sekilas aku menemukan sosok Dian.

“Gapapa, sekali-sekali biar sehat, Dod,” kataku berkilah.

“Gila lu, besok-besok jangan ajak gua lagi kalau mau olah raga naik tangga lagi, ini kali ke tiga lu nyeret-nyeret gue,” katanya sambil menghempaskan punggungnya di kursi kerja nya ketika kami sampai. Tangannya sibuk mengipas-kipaskan kertas, kegerahan.

Aku membuka laptop, lalu merogoh saku, mengeluarkan HP.

‘Gua baru nyampe, lagi banyak nih, lain kali ya’ Aku menekan enter. Pesan WA terkirim.
Beberapa kali Ratih ngajak makan bareng, entah sarapan, seperti barusan, makan siang atau dinner kalau kami sedang lembur. Tapi yang bisa aku lakukan hanya menghindar seperti tadi.
Aku melirik jam tangan. Kemudian berdiri.

“Kalo ada yg nyari, bilangin gua ‘setor’ dulu,” kataku.

Dody menatapku dalam.

“Lo ngga bisa selamanya kaya gini, “ katanya akhirnya.

Aku melengos. Dody paham betul kalau sebenarnya perutku belum kontraksi. Ia tahu lima menit lagi, jam 08.05, Dian akan naik dari lantai satu seperti biasa. Hari in aku sedang tidak ingin menemuinya. Sama sekali.

Aku menatap wajahku yang terpantul di cermin wastafel. Membasuhnya berkali-kali, wajah menyedihkan itu balik menatapku. Aku meghembuskan nafas yang malah membuat wajah itu makin terlihat menyedihkan. Benar kata Dody, sampai kapan aku akan terus seperti ini? Mengindar dan menghindar. Walau terlihat simple, namun aku tidak tau apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya lagi. Aku tidak bisa lagi berlaku seperti biasa terhadapnya. Aku sama sekali tak mengerti harus bersikap seperti apa. Benar-benar menyebalkan.

Wajahku kembali basah, sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah 10 menit. Lama juga aku mematung di sini, membasahi wajahku berkali-kali seperti orang gila. Aku membuka pintu toilet, segera menuju meja, teringat beberapa laporan yang belum sempat aku garap.

Betapa kagetnya ketika aku berbelok, ada Dian di koridor, dia sedang berbicara dengan salah seorang temannya. Aku mematung, sekejap mata kami saling bertatapan. Dalam sepersekian detik itu, aku, entah kenapa, memutuskan meneruskan langkahku tanpa menyapanya. Aku memalingkan pandanganku seketika ke lantai lalu berjalan lurus-lurus.

Detik-detik ketika kaki ini melangkah terasa sangat lama, aku tidak sepenuhnya mengerti, hanya saja ada sesuatu yang bergemeletuk keras dalam dadaku, bergemuruh seperti awan hitam pekat yang sudah menggulung menunggu badai. Juga rasa  perih yang menyayat-nyayat tajam.

“Kamu ngga papasan sama Dian? Aku lihat dia tadi jalan ke arah toilet, ” Kata Dody ketika 
menemukanku muncul dari lorong.

Aku menggeleng, “ngga ah.” Kataku pendek. Aku membuka laptop, berusaha sekuat tenaga mengusir bayangan wajahnya pagi itu. Sial, kenapa sepagi ini aku harus berpapasan dengannya, pake acara saling tatap-tatapan segala. Yang paling kubenci adalah gemuruh ini benar-benar tak bisa kutahan. Benar-benar membuat tidak nyaman.

Dody menatapku perihatin. Dia tau benar kalau aku bohong.

“Siang ke warung padang depan yuk, gua lagi pengen ayam pop nya,” kata Dody akhirnya setelah menghembuskan nafas panjang.

Aku tersenyum, dia sedang berusaha menghiburku. Kita sama-sama tahu kalau aku sangat suka rendang di warung padang legendaris depan kantor itu.

“Gitu dong, pusing tau liat wajah lu yang dari kemaren ditekuk. Senyum dikit ngapa kaya gitu,” Dody nyengir.

Aku melempar penghapus ke wajahnya.



‘Lunch di mana?’ Aku mengusap layar HP lalu kembali menjejalkan dalam-dalam ke saku.

“Ratih?” Dody menyembul berusaha mencuri pandang layar HP ku.
Aku tersenyum pahit.

“Zul, Zul, cewek manis baik hati gitu lu cuekin. Giliran yang ini pergi aja, ntar uring-uringan lagi,” desisnya.

Seringnya cibiran Dody selalu untuk kebaikan ku, contohnya seperti saat aku sedang kecewa dengan bos ku yang lama sehingga projekku terbengkalai. Waktu itu dia bilang, “Gimana mau pomote, ketemu bos kaya gitu aja udah nyerah. Kalo lu udah jadi bos, lu bakal ketemu anak buah yang resenya lebih parah dari diri lu sendiri,” aku kesal waktu itu, tapi karenanya aku jadi bisa menyelesaikan projek ku dengan baik dan mendapat kredit dari si bos.

“Gua udah coba ke Ratih, tapi rasanya lain, ada sesuatu yang ganjal di gua,” kataku akhirnya.

“Dian?”

Aku diam. Tak menjawab.

“Gua tahu banget kalau lu itu type cowo yang ngga mungkin nyeleweng. Tipe cowok super setia. Cowok yang terlalu baik yang entah kenapa ngga menarik buat cewek-cewek. Dan karena itu lah ketika lu jatuh hati sama seseorang, jatuh nya lu itu selalu lebih dalam. Itu yang bikin lu uring-uringan kaya gini.”

Pesanan kami tiba. Aku berusaha tak menghiraukan ocehan Dody, walau kali ini ia terlihat sangat serius. Manusia sejenis Dody jarang banget ngomong serius.

“Lu tau kenapa seminggu ini lu selalu menghindar, selalu takut ketemu Dian? Bahkan pagi ini berusaha mati-matian jutek sama dia di toilet tadi?”

Aku melipat lengan kemejaku, bersiap makan. Masih berusaha tak peduli.

“Karena di hati terdalam lu, lu masih sangat sayang sama dia, dan lu entah kenapa masih berharap dia mau sama lu suatu saat nanti, padahal logikalu bilang kenyataannya itu ngga akan pernah terjadi. Makanya lu memilih untuk lari.”

“Dengan kata lain lu milih lari dari kenyataan. Dan itu pengecut Zul.”

Kalimat itu seperti menohok dalam. Seperti mendapat pukulan telak di ulu hati. Aku nyaris marah, tapi sayangnya yang Dody katakan adalah benar.

Aku mati-matian menghindar ketemu Dian, karena pada kenyataanya aku sedang menghindar dari kenyataan. Ini menunjukan bahwa gua sangat kerdil. Pengecut.

“Gua udah berusaha untuk bertingkah biasa, tapi gua tetep ngga bisa Dod, susah buat gua,” kataku akhirnya. Rendang dengan balutan bumbu gurih dan seporsi nasi putih yang masih mengepul-ngepul di hadapan gua tidak lagi menarik minat. Mendadak aku jadi ngga lapar lagi.

“Ekspektasi lu yang bikin lu kaya gini. Emang perasaan suka itu apa sih? Kalau kita suka seseorang, emang kita boleh maksain perasaan kita ke orang itu. Dengan kita suka, apakah orang yang kita suka harus serta merta jadi milik kita? Betapa egoisnya?”

“Kalau perasaan lu kaya gitu ke Dian, itu bukan suka Zul, itu nafsu namanya.”

“Bukannya dengan lu suka sama Dian, hiduplu kembali berwarna? Lu jadi semangat ke kantor tiap Senin? Lu jadi lebih suka merhatiin dandanan lu di cermin, beli baju bagus, mulai rajin olah raga? Yang itu semua membuatlu jadi orang yang lebih baik?”

“Bukannya rasa suka itu aja udah sebuah anugrah?”

Gua terdiam. Seratus persen semua kalimatnya tepat sasaran.

“Gua…” ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.

“Gua udah lama suka sama Ratih. Sejak anak itu keliling di kenalin sama HR ke tim kita setahun lalu. Tapi lihat kenyataannya, Gua sama sekali ngga ada dalam orbitnya dia. Cuman ada elu di sana,” Kata Dody akhirnya.
Aku tertegun.

Aku menelan ludah. Tak menyangka. Pasti sakit rasanya.

Dody tersenyum. Tapi ini bukan senyum pahit, tapi senyum kelegaan.

“Gua udah berdamai sama diri gua,” kata Dody. “Bagi gua, pernah punya rasa sama dia aja 
merupakan sebuah kebahagian. Bisa diem-diem merhatiin dia, ngeliatin dia ketawa-tawa sama temen-temennya, merhatiin pas dia benerin poni dan iketan rambutnya. Dengan kenyataan dia ngga bakal jadi milik gua, Itu udah cukup buat gua.”

Sore itu angin semilir mengelus rambutku. Jeritan klakson dan deru knalpot kendaraan yang berebut menembus lampu merah kembali bisa aku dengarkan dengan jernih. Senja oranye di barat mengambang menemani matahari yang sudah menjilati kaki langit.

Kopi di tanganku sudah dingin sejak tadi. Sebatang rokok masih utuh di antara jemariku, sisanya masih penuh menyesaki saku kemeja. Aku tadi beli saat pagi di warung depan kostan. Asap kendaraan samar menyusuri rongga hidungku. Sisanya, burung-burung berkoak samar di antara awan dan langit.

Aku memutuskan kembali ke mejaku. Rasanya sudah cukup merenung sendirian sore ini di atap kantor. Ketika di sipanng lorong, aku melempar semua rokok yang aku punya ke tong sampah. Lumayan, skill three point-ku masih tersisa sedikit.

Aku menekan tombol lantai 5 di lift, benda itu kemudian bergerak menuju lantai meja kerjaku berada. Di lantai 9 lift berhenti. Pintu lift perlahan terbuka, wajah Dian berdiri di sana. Aku, juga dia terlihat kaget.

Nafasku entah kenapa tercekat ketika dia melangkah dan berdiri di sebelahku. Aroma shampoo dan parfumnya menggelitik ujung hidungku. Masih ada 4 lantai sebelum aku turun. Sama sepertiku, Dian pun terlihat kikuk. Aku lah yang membuat kami kikuk seperti ini.

Dua lantai berlalu tanpa ada yang bersuara. Kami saling diam. Mungkin masing-masing kami menganggap salah satu dari kami tak ada.

“Habis ngapain dari lantai sembilan?” kataku akhirnya. Terdengar canggung dan serak.

Dian menoleh, terlihat kaget mendengar aku bersuara. Dia nampaknya tak menyangka aku akan memulai pembicaraan.

“Ini nih, abis meeting sama tim Legal, besok ada konfrensi Pers,” katanya. Suaranya masih saja terdengar renyah dan ramah.

Aku berusaha tersenyum, “Sibuk ya kamu?”

Dian tersenyum, “biasa aja ah,” senyum yang, ah sudah lah.

Lalu pintu lift terbuka. Sudah lantai lima.

See ya,” kataku sambil melangkah.

Aku sempat melihat Dian mengangguk di antara pintu lift yang perlahan menutup.

Aku tersenyum lega. Bahagia untuk diriku sendiri.

Ku raih HP,

Malam kosong ngga? makan kwetiau depan yuk?

Aku melangkah ringan menuju meja kerja. Kayanya malam ini bakal lembur nih.


(bersambung...)

20160313

Jum'at ..


Sore itu sebenarnya sama saja seperti senja-senja lain yang sering aku lewati.  Langitnya masih sama cemberut, awan centilnya masih terpapar cahaya jingga, burung-burung yang entah nama species-nya apa masih sedang  kembali ke peraduan mereka seperti biasa, jalanan juga mulai mampat oleh mobil dan motor seperti sore-sore kemarinnya.

Semuanya terlihat sama saja.

Kecuali, ya kecuali, mungkin hanya perasaanku saja yang sedikit menjadi pengecualian.

Aneh. Sepercik perasaan karena sepersekian detik kejadian yang bahkan tidak kita duga membuat dunia yang keadaanya persis sama seperti hari lainnya terasa sangat berbeda.

Seorang anak kecil yang baru mendapat hadiah lolypop dari orang tuanya akan melihat dunia yang ia tempati menjadi bak taman bermain. Begitu juga seorang istri yang baru mendapat transferan gaji dari suaminya akan tersenyum sangat lebar dan merasakan rumah yang sebelumnya pengap dan sempit menjadi istana indah nan luas.

Dalam kasusku, kejadian kecil tadi siang membuatku tak bernafsu melakukan apa-apa hari ini. Beberapa kali dibentak bos  karena satu dua hal luput dari perhatianku sehingga data yang ia sajikan dalam rapat direksi tidak akurat. Dodi sahabat baikku yang selalu bersedia mengejekku tanpa diminta menjadi tak berhasrat meledekku hari ini.

“Hhhh… “ aku menghela nafas panjang.

Dodi muncul di sebelahku sambil membawa dua mug kopi hitam yang masih mengepul  ditangannya, menyerahkan salah satunya.

Aku menerimanya, menggengam mug hangat itu.

Tanpa kata, tanpa suara, Ia berdiri di sana, mengikuti arah pandanganku dan menghirup udara yang aku hirup, turut merasakan suasana yang sedang kurasakan. Walau mungkin cara dia merasa berbeda denganku.

Hadirnya sahabatku di situ merupakan dukungan yang  membuatku merasa jauh lebih baik. Membuatku merasa tidak sendirian.

Aku menghirup aroma  kopi ini. Bau khas menggelitik rongga hidung. Setelah kuisap sedikit, kubiarkan cairan kental pekat pahit itu menggenang di antara lidah hingga dingin, lalu ku biarkan meluncur membasahi pipa kerongkongan yang berakhir di dasar lambung.    

Dodi menyalakan filternya. Kemudian menawarkan sebatang padaku.

“Sekali-sekali, “ katanya menghembuskan keraguanku karena sudah lama absen.

Aku membiarkan api merah itu menjilat ujungnya. Sensasi itu muncul lagi, hirupan  itu merambat melalui mulut yang barusan basah oleh pekatnya kopi hingga menelusurii seluruh rongga dada. Hembusan berikutnya menghasilkan paparan asap putih yang sangat kukenal.

Harus kuakui, sensasi nikotin nakal itu muncul lagi tanpa bisa dibendung. Menari-nari sambil menertawakan periode keabsenanku selama ini.

“Mendingan?” tanya Dodi sambil memandang hamparan jalan raya yang makin sesak di bawah.

Aku mengangguk pelan, sambil menghembuskan asap ke duaku sore ini, membuat sebentuk huruf O.

Bunyi klakson bersahutan dari bawah. Lampu merah sudah menghijau tapi mobil paling depan tak kunjung bergerak. Jumat sore memang gila.

“Sakit, Dod,” kataku akhirnya.

Pengakuan itu seperti mengeluarkan semua sesak yang menyumbat dadaku seharian tadi.

Yang diajak bicara diam saja.

Sama seperti semua orang yang sedang patah hati, sebenarnya kami tak perlu jawaban. Hanya butuh yang mendengarkan.

“Mungkin gua salah baca sinyal, atau terlalu cepat ambil inisiatif, ya?”

“Atau kualitas gua yang masih kurang untuk seorang yang sempurna kaya dia?” tambahku.

Dodi mengesap mug kopinya.

“Cowok emang gampang Geer. Kampret!” umpatku kesal, kesal pada diriku sendiri.

“Kampretnya, harapan yang gua bayangin itu indah banget, terlalu indah malahan. Jadi, pas ngga kejadian kaya gini, rasanya….” Kalimatku tersangkut, entah dimana.

“Harusnya gua ngga usah bilang.”

“Harusnya…. Sekalian ngga usah suka sejak awal,”

“Ngga usah merhatiin dia tiap jam 8 lewat 5 pagi mampir ke lantai kita, ngga usah tau nomer HP nya, ngga usah stalking-in path sama IG nya, malam itu ngga usah nerima ajakan dia naik taksi bareng, ngga usah ngajak ngobrol, ngga usah PDKT sana-sini, ngga usah ngajak jalan, ngga usah ngajak nonton. “

“Ngga usah ngelakuin itu semua,” tandasku kesal.

Aku menghisap rokok ini, kali ini lebih kuat, rona merah menyala lebih terang diujungnya, asap yang keluar menjadi lebih banyak dan lebih pekat.

Angin yang menggerakkan ujung dasiku juga mengacak-acak rambutku. Besok mungkin aku butuh cukur rambut, bisikku.

“Jadinya gua ngga usah ngerasa sesakit ini,” desahku akhirnya, menyerah.

“Kampretnya, udah ditolak kaya gitu lu masih aja suka,”  Dodi angkat bicara.

“Kampret!” umpatku.

Dodi menatapku sambil tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum. Kami berdua saling nyengir.

Lucu memang perkara perasaan ini. Sudah tersakiti masih saja mengharap. Sudah jelas-jelas tak ada harapan, masih saja mengharap akan harapan. Sesak sekali rasanya.

“Yang kaya gini ngga bisa dipaksain,” imbuh Dodi.

“Mau seganteng apapun, sebaik apapun, seberharap apapun, sengebet apapun, seindah apapun bayangan lo, perasaan kaya gitu ngga bisa lo paksain,”

“Ngga ada yang bisa maksain perasaan,” tambahnya.

Aku tahu itu, aku paham diluar kepala. Aku sudah khatam banyak buku tentang cinta, versi psikolog, kimia, sastra, bahkan versi religi. Name it lah. Tapi rasanya masih aja tetep sakit. Ngga bisa dilawan.

“Coba lu diposisi dia,” kata Dodi ringan. “Emang lu mau maksain perasaan lo?”

Gua terdiam.

Berusaha mengurai pertanyaan Dodi. Ego membantah, harusnya dia mau coba dulu. Toh tidak akan rugi. Aku akan sekuat tenaga untuk tidak membuat kecewa. Lagi pula, kata teman-temanku aku baik, gentle, jujur, humoris, setia. Semua kriteria cowok baik ada padaku. Apa lagi yang dicari seorang cewek?

Ketika hendak membalas pertanyaan Dodi, HP ku berdering.

Ratih?

“Halo, sore Tih? Ada yang bisa gua bantu?” kataku, kaget juga anak bagian Media ini tiba-tiba menelpon. Seingatku, kami hanya pernah beberapa kali ikut acara nonton bareng dan pernah sekali satu taxi. Tapi itu sekitar 3 bulan yang lalu. Sisanya hanya chit-chat hambar via office communicator, itu pun di jam kantor.

“Nemenin beli baju?”

Dodi memasang pandangan menyelidik ke arahku. Aku tak suka pandangan itu.

“Oke. Nanti gua yang jemput atau...”

“Ow, okay…. Yap.”

“Bye.” Akhirnya sambungan terputus.

Aku menatap Dodi. Dodi menunggu.

“Ratih ngajak jalan besok.”

“Berdua doang,” tambahku masih tak percaya.

Seberkas senyum terbit di bibir Dodi. Sial, aku tidak suka senyumnya kali ini.

“Perlu gua jelasin maksud ‘berdua’ nya?” Dengan penekanan di kata ‘berdua’.

Aku melempar padanganku pada jingganya langit. Ujung matahari mulai mencium dasar langit. 

Aroma sore itu makin redup. Burung-burung sudah menghilang. Malam sedang pada persiapan akhir untuk tampil.

Laki-laki waras manapun tahu arti ‘berdua’ itu.

“Bisa kah lo seketika maksain untuk suka sama Ratih? Dia lucu, baik... ” tandas Dodi sambil menerawang langit senja itu.

Aku diam. Kali ini lebih memilih untuk menghabiskan bantang rokok yang tinggal setengah ini. Aku tak sanggup menjawab pertanyaan barusan.

Kopi di dalam mug sudah dingin. Hembusan asap rokokku terurai terkena hembusan angin sore.


Perkara perasaan ini. Kenapa menjadi rumit begini?

(Bersambung...)

20160220

Senin .

“Ngelamun terus nih,” pagi itu Dodi membuat sendok yang penuh dengan bubur  di tangan gua tumpah ke kemeja yang baru gua beri minggu kemarin dengan menepuk punggung gua kenceng banget.

Bukannya minta maaf dia malah ketawa-ketawa.

Sambil memeletkan lidah gua mengambil beberapa lembar tissu lalu berusaha sebisa mungkin membersihkan sisa-sisa bubur yang bertebaran di kemeja baru ini kemudian buru-buru ke toilet.  Sudah jelas lah ya di toilet gua ngapain. Bersihin kemeja! Jangan mikir yang lain!

Gua kembali dengan kemeja basah, beberapa teman dari meja lain bertanya basa-basi yang kujawab juga dengan basa-basi. 

“Makanya kalau suka sama orang jangan dipendem-pendem,” 

Kali ini aku tersedak. Gumpalan bubur yang harusnya masuk ke saluran kerongkongan, malah nyasar ke tenggorokan. Seketika respon pertahanan tubuh menolak benda asing tersebut. Setelah batuk-batuk hebat, gua meraih botol minum, berusaha lolos dari kematian. Eh ada lho orang yang meninggal gara-gara keselek.

Si Dodi sialan ini malah ketawa tambah keras, seluruh lantai melihat kami yang pagi-pagi di hari senin sudah berlaku konyol.

“Gua udah kenal lo dari kuliah Jul. Ga usah nyewa detektif buat tau kalo lo lagi suka sama anak lantai satu,”

Anjrit!

Si Dodi sialan ini malah ketawa tanpa dosa. Kalo si Tuti yang duduk di meja seberang ngedenger bisa berabe dunia akirat gua. Tau sendiri bibir nya bocor sebocor-bocornya. Kemaren aja si Susan baru mau rencana nge-apply ke perusahaan sebelah sempet di panggil atasan berkat bibir bocornya.

“So Tahu lu!” gua berusaha cool dengan menyantap sisa-sisa bubur ayam mamang depan yang harusnya enak banget ini.

“Elaah, belaga bohong lagi sama gue. Jul Jul, lu tuh hari ini pake celana dalem warna apa juga gua tahu,”

Gua menoleh penasaran.

“Warna apa coba?” gua rada tertarik.

“Putih kan, boxer yang ada bintang-bintangnya itu.”

Kali ini gua bisa menahan ketersedakan gua. Tapi  ini anak kok bisa tau?

“Kan kita belinya bareng kemaren, sama kemeja baru lo ini. Lo kan kalo punya barang baru pasti besoknya langsung di pake.”

Sial, masa gua segampang itu ditebak.

“Saran gua ya Jul, kalo lo punya perasaan jangan kelamaan di pendem. Pertama, itu ga sehat buat kita yang kerjaannya udah kaya romusha jaman jepang. Yang ke dua, Jangan sampe keduluan di samber orang.”

“Iya, iya. Kaya emak-emak lu, berisik!” gua berusaha tak peduli.

 Dodi nyengir kemudian berhadapan dengan laptop kerjanya.

Gua memilih beresin sisa-sisa sarapan pagi gua lalu membuka halaman email. Gila, jum’at kemarin gua udah berusaha balik jam 8 malem aja email yang masuk udah ada 300-aja, gimana gua balik jam 5 teng?!

Lama-lama gua mulai nyesel masuk dunia korporasi. Sebelum ini gua sempet kerja di semacam NGO gitu. Ngembangin semacam program untuk nge-develop daerah-daerah tertinggal di pedalaman Indonesia. Dua tahun keluar masuk hutan bikin gua bosen dan memilih untuk memanfaatkan ijazah akuntansi gua.

Dan di sini lah gua berakhir.

Dikejar-kejar Dead Line, literally dead line, garis kematian. Soalnya kalau kerjaan kita belum kelar pas DL-nya, siap-siap aja kena SP. Baru sebulan gua di sini, 3 hari gua kena tipus gara-gara jam makan lewat terus. Abis 3 hari rumah sakit yang menyiksa itu, fyi gua paling ngga bisa sama baunya obat dan alkohol rumah sakit, gua berusaha benerin pola makan gua. Salah satunya sarapan ini.

Gua benci banget Senin. Pertama karena pas senin itu pasti email lu numpuk tiga kali lipat dari hari lain. Yang kedua adalah macet. Sumpah, macetnya jakarta di Senin pagi itu disaster banget! Gua ngga ngerti lagi kenapa kota ini masih ada penghuninya. Beda banget sama hutan kalimantan atau pantai nya Papua.

Kenapa orang pada ngga mau ikutan program transmigrasi dan tiap tahun malah urbanisasi ke Jakarta yang udah jelas-jelas menjadi  kota yang udah ngga manusiawi lagi untuk  dihuni. Padahal  banyak banget untung nya kalau ikut transmigrasi. Lu bakal dapet tanah berhektar-hektar, tahun pertama dapet uang gratis. Yang terpenting udara di sana bersih dan ngga ada yang namanya macet.

Tuh kan, Senin gini nih yang selalu berhasil buat  gua ngelantur. Sok-sok komentar dan ngeritisi sesuatu pake idealisme yang cuman bisa diteriakin dan terlihat bisa diterapin dari sudut pandang  gua waktu masih pake jaket almamater dulu.

“Kerja-kerja, ngelamun mulu,” celetuk Dodi.

Ni anak usil banget, lamunan gua jadi buyar.

Jam di dinding nunjukin jam 8.05.

Gua meriksa jam tangan gua. Setengah tersenyum.

Dari pintu masuk seseorang melangkah masuk, menuju mejanya Tuti,  ngasih semaca berkas.

Gua menahan nafas.

Sosok ini yang membuat gua harus sedikit merevisi kebencian gua terhadap hari Senin. Karena hanya tiap Senin, kira-kira jam 8.05 sekarang ini, Dian akan naik ke lantai ini untuk nyerahin laporan mingguan ke mejanya Tuti. Ini lah yang membuat gua bangun subuh-subuh buat ngejar bis kalau perlu naik taksi agar gua ngga telat ngantor.

“Dian, dapet salam dari Jul!” tereak si kampret Dodi.

Seketika itu satu lantai bergemuruh. Mungkin lo pernah dalam situasi waktu lo masih SD dulu, pas lo diledekin suka sama anak kelas sebelah yang tiba-tiba masuk kelas lu. Nah itu lah posisi gua sekarang.
Dan sialnya, gua ini kalo di ledekin public begini, muka gua akan memerah bak kepiting rebus.

Dian cuman senyum, dan bilang “Salam balik buat Zul,” sambil ke dua sorot matanya terarah ke gua.

Ahhh, kalo suatu saat gua buat biografi, gua kudu banget memasukan moment ini ke dalamnya di bab  Moment Terindah Dalam Hidup Gua.

Dan nampaknya sekarang muka gua udah mirip banget tomat mateng.

***

“Udah tau nomer HP nya belum?”

Gua menggelang pelan.

“Dia ngekost apa PP?”

Gua diem.

“Dulu dia ngampus di mana?”

Gua menggaruk-garuk kepala, senyum kaya orang bego.

Man, lu kacau banget. At least lu harus tau yang gitu-gitu,” Dodi sewot.

“Gua bingung Dod.”

“Bingung gimana?”

“Gua bingung sama perasaan gua”

“Lu bingung lu suka apa ngga sama dia?”

Gua mengangguk lemah.

Dodi menegakkan duduknya lalu menarik badan gua supanya ngadep ke dia sepennuhnya,

“Zulkarnain al Kautsar, Sekarang gua tanya pertanyaan yang beda. Apa lo beneran ngga suka sama dia?”

Gua diam. Berusaha nyari bukti kalo gua emang ngga ada rasa sama dia.
Akhirnya gua benar-benar gabisa jawab.

“Itu artinya lu ada rasa sama dia Jul.”

Admit it,” kalimatnya telak.

“Gua kasih info sebagai balasan lu jebak gua malem minggu cuman nonton bola di kostan lu ini. Dian lagi dideketin Jonathan.”

Gua melongo.

“Yang bener?”

Dodi angkat bahu.

“Yang jelas, barang bagus pasti cepet lakunya. “

“Udah ah, gua mau fokus nonton Arsenal,”  Dodi membesarkan volume TV.

Sial, kenapa harus Jonathan si kampret itu?!

Perselisihan gua dengan si Jonatahn itu adalah karena suatu pagi gua ada ide dan coba sharing dan diskusi sama dia mengenai model untuk pemecahan masalah salah satu projek gede perusahaan kami. Kebetulan saat itu gua dan dia sama-sama ada di projek tersebut.

Sorenya pas meeting sama atasan dia dengan PD-nya jelasin sebuah ide yang kami diskusiin pagi itu. It’s originally my own idea. Dia menjelaskan dengan cara seolah-olah itu adalah idenya sendiri, dia ngga nyinggung-nyinggung nama gua di sana.

Yang bikin gua kesel sekesel-keselnya adalah setelah meeting itu dia sama sekali ngga mau bahas ide itu ke gua. Basa basi pun ngga, kaya, ‘eh yang barusan gua jelasin udah oke kan?’ or semacemnya. Oke lah kalo dia cuman mau sekedar show off, gua juga bukan orang yang suka spot light. Gua dengan rela bisa ngaku kalau itu emang ide dia, ngga ada masalah sama sekali buat gua.

Yang buat gua kesel sampai ubun-ubun waktu itu adalah setelah meeting itu dia sama sekali buang muka ke gua. Semua orang juga tahu kalau itu berarti  dia benar-benar bermaksud nyuri ide itu dari gua.

Sejak saat itu gua sama sekali ngga  mau berhubungan sama si kucing kampret ini. Kalo dia makan di kantin, gua akan tarik Dodi buat cabut makan ke luar. Kalau di lift ada dia, gua akan millih naik tangga. Kalau dia ada di lorong depan gua, gua akan sekuat tenaga cari jalan memutar. Gua ngga tahan deket-deketan sama si kucing kampret ini.

Yang bikin gua sakit hati adalah, baru-baru ini dia dapat promosi karena ide gua yang dia curi itu ngehasilin profit yang bagus buat perusahaan. Dia dianggap berjasa karena itu.

Kan kampret!

Dan lu bayangin kalo si kampret sialan ini sekarang juga deketin Dian.

Kan Super Kampret!

Senin malam itu Hujan deras, dan si Dodi sialan udah pulang duluan sejak jam 5 tadi.
“Udah balik aja. Lu lagi setengah sakit gitu. Kalo lu beresin semua kerjaan itu sekarang, besok lo ngga ada kerjaan lagi,” lalu dia kabur sambil terkekeh.

Iya sih, dari tadi pagi badan gua emang udah ngga enak. Bersin-bersin mulu. Ini aja gua masih pake masker, syal sama jaket tebel.

Jam 9 malem gua tutup laptop dan beres-beres mau balik ke kostan. Pas turun ke bawah ngga sengaja ada Dian baru  keluar dari ruangan lantai satu.

“Lagi banyak ya, baru balik jam segini?” Dian menyapa. (Masker udah gua buang ke tong sampah)

“Iya nih, lu juga. Jam 9 baru beres biasanya jam 5 udah ciau.”

“Tau banget gua balik jam 5 mulu,”

Gua nelen ludah, masa iya dia tahu gua selalu merhatiin pas dia balik kerja.

“Anak lantai satu kan rata-rata balik cepet,” gua berkilah.

“Iya, tadi bos minta revisi banyak banget. Besok mau dipake meeting.

Tak terasa sepanjang jalan ke loby kita ngobrol banyak. Dan entah kenapa gua yang tadinya canggung dibuat nyantai sama pembawaan Dian yang ramah banget.

“Lu lagi sakit?”

“Keliatan ya?”

“Iya, pucet gitu,”

“Biasa lah, penyakit keseringan balik malem,”

“Iya nih, mana malem ini hujan lagi,”

Saat di depan pintu lobby sebuah mobil bergerak perlahan lalu berhenti di hadapan kami. Kaca hitamnya terbuka. Muncul wajah si Jonathan tersenyum ramah.

Si kampret ngapain muncul saat-saat begini. Gua menggerutu kesal.

“Dian, mau aku anterin balik?” tanya nya sopan, tanpa menghiraukan ada gua di sana.
Dian menoleh ke gua.

“Duluan aja, ujan lho nanti lu sakit,” kata gua sok-sok gentle.

“Hmm, lain kali aja deh Jo. Maksih banget ya udah nawarin,” kata Dian akhirnya
Hati gua loncat-loncat. Kalo boleh abis ini gua mau bakar kembang api yang banyak saking senengnya.

“Yakin? Ujannya  bakal lama lho. Ini udah kali ke tiga gua nawarin lo. Masa masih ngga mau juga?”

Gua mau muntah saking muaknya.

“Hahaha, bisa aja lo. Gaapa-apa Jo. Gua manggil Taxi aja,”

“Oh gitu. Oke lah. Hati-hati baliknya. Gua duluan ya, Di…. Jul,” kaca hitamnya menutup lalu berjalan perlahan menjauh.

“Lu yakin ngga mau ikut Jonathan?” gua senang bercampur heran.

“Ga ah, anak nya arogan. Ga cocok gua. Lagian, masa gua ninggalin lo yang lagi sakit sendirian,” katanya sambil meraih HP lalu menelpon seseorang.

Gua udah mau nangis bahagia mendengar ini. Mampus lu Jonatha kampret. Makan tuh!

“Kita naik taxi bareng ya, udah gua telpon barusan. “

“Seriusan?!”

Buset mimpi apa gua semalem, dapet banyak duren runtuh begini. Gua lagi ngga mimpi kan? Sambil cubit-cubit pipi. Sakit.

Beberapa menit kami saling terdiam. Dian terlihat sibuk dengan gadgetnya.

“Di...” gua menelan ludah.

"Eh sory, temen-temen gua legi rame di grup, mau bikin surprice buat si teja, besok dia ulang tahun."
“Gua boleh nanya sesuatu ngga?”  Dian yang barusan masih sibuk dengan HP nya menoleh. Memberikan semua wajahnya pada gua. Anjrit, gua baru tau kalau wajahnya manis banget.

“Bole minta no HP lu ngga, Lo ngekost  apa PP, dulu ngampus di mana?”

Dian nahan ketawa.

Anjrit, goblok banget pertanyaan gua. Ini pasti gara-gara si Dodi sialan. Awas lu Dod, besok gua masukin garem banyak-banyak ke kopi lu!

“Gua bisa jawab kalo lo nanya nya satu-satu,”  

Dian tersenyum.

Gua ga tau lagi, muka gua pasti lebih parah dari tomat mateng.

(bersambung...)

20160120

REUNION



Setelah 14 jam perjalanan naik pesawat aku memberanikan diri menyetop taxi lalu menuju ke sini. Koperku masih penuh dengan baju kotor karena seminggu lalu aku tak sempat loundry. Belum lagi badan lelah karena jet lag.

Langkahku gugup sekali ketika melewati gerbang itu.

Sebuah gedung bergaya  tahun 70-an menjulang tinggi, beberapa anak berseragam putih abu masih berkeliaran di beberapa tempat (yang segar dalam ingatanku sebagai tempat) kumpul-kumpul.

Gedung sekolah ini dulunya adalah rumah sakit belanda. Makanya jendela dan atap-atapnya tinggi-tinggi. Beberapa kusen masih mempertahankan bentuk awalnya. Kalau menurutku sih sekolah kami lebih mirip museum dari pada rumah sakit. Satu misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan adalah di mana letak kamar mayat bangunan ini.

Sempat dulu beberapa kakak kelas eskul pencinta alam yang kurang kerjaan melakukan ekspedisi malam di sekolah kami. Desas-desus bilang mereka menemukan hantu tentara belanda, suster bule dan hantu belanda lainnya, karena keesokannya mereka mendadak sakit. Kalau ingat masa itu aku ingin ketawa sendiri, betapa bodohnya kami. Walau memang setelah lewat magrib sangat terasa ke angkeran gedung ini.

Aku menemukan sosok pak satpam yang sedang duduk di pos nya.

“Pak, masih ingat saya?”

Lelaki yang ku sapa menolah, lalu mulai mencerna wajahku.

Ah sudah 4 tahun, mungkin dia sudah lupa tampangku.

“Neng Raven?” sambil bergegas setengah berteriak.

Aku tersenyum, rupanya tmapangku masih diingat. Aku mencium tangannya takzim.

“Sehat pak?” sambil mengedarkan pandangan. Benar, sudah 4 tahun aku tidak main kesini, ada beberapa gedung baru di sayap kanan.

“Alhamdulillah, katanya kuliah di luar negeri? Sudah selesai apa sedang liburan?” tanyanya antusias.

Kebetulan kami dulu lumayan akrab dengan bapak satpam.

“Sudah selesai pak, kemarin baru wisuda,” aku nyengir lebar.

Kalau ingat perjuangan menyusun tugas akhir dan serangkaian penelitian yang membuat setengah gila, aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa bebas dan menjadi manusia normal lagi. Kemarin adalah hari paling bersejarah buatku, nyaris nangis sih.

“Ke sini sendirian apa janjian dengan yang lain?” tanyanya.

Dulu kami selalu berempat kemana-mana. Dudi , Tias dan Adji. Si Dudi dan si Tias diam-diam akan menikah  bulan depan. Aku kaget setengah mati ketika minggu lalu menerima paket dari indonesia yang isinya undagan atas nama mereka berdua.

Dasar dua anak itu, aku tahu Tias memang menyimpan rasa pada Dudi. Tapi si Dudi bebal itu memang tak pernah peka. Mereka pasti akan cocok sekali.

Setelah beberapa patah kata di pos satpam, dan menitip koper, aku melanjutkan langkahku ke dalam. Ketika menginjak bangunan utama, saat melewati lorong aku mencium aroma dan suasana yang sudah sangat aku kenal. Bersamaan dengan itu semua memori manis bertubi-tubi memenuhi kepalaku.

Aku ingat saat pertama kali menginjakan kaki di sini dulu, hari pertama MOS. Aku malah salah pakai kostum, harusnya kala itu kami semua mengenakan seragam batik bukannya seragam putih biru. Selain aku untungnya ada tiga orang lain yang juga salah kostum. Dudi, Tias dan Adji. Itulah awal kami menjadi sahabat.

Aku tersenyum-senyum melihat mading sekolah. Sekarang papannya lebih lebar dua kali lipat dan rubriknya lebih ramai dan menarik dibanding dulu. Dulu Dudi selalu berisik agar kita mengajukan perluasan papan mading ke kepala sekolah, karena dengan lebar papan yang seperti itu hanya muat  4 artikel. Namun ide tersebut selalu ditolak. Sekolah tak punya dana lagi, alasannya.

Karena tak sabaran, anak itu menggalang iuran siswa untuk penambahan papan mading yang membuatnya di hukum mengepel AULA karena iuran itu dianggap ilegal.

Si Dudi itu, sejak  SMA sudah jadi pemberontak seperti itu pantas saja kemarin dia jadi ketua BEM di fakultasnya.

Aku berbelok, menuju kelas kami. Sudah tidak ada orang.  Perasaan kangen itu menyeruak. Suasana kelas kami yang selalu berisik oleh celotehan anak-anak, sampai beberapa guru minta tukar gara-gara stress.

Susunan kursinya tidak berubah sama sekali. Papan tulisnya pun sama. Hanya saja ada beberapa tambahan seperti sound system dan layar LCD portable terparkir di depan.

Aku menyusuri jajarna kursi itu, lalu mengambil kursi ku dulu. Aku duduk di sana. Coretan tipe-x Tias masih ada di sana.  Aku menghirup nafas dan membayangkan hari-hari saat masih berseragam putih abu dulu.
Aku melihat Dudi sang ketua kelas yang selalu berkeliaran dari kursi ke kursi manggangu yang lain. Aku meihat Tias yang duduk di sebelahku sedang tersenyum memperhatikan tingkah Dudi.

Terbentuk siluet punggung Adji di hadapanku. Dia memang duduk di depan mejaku persis. Adji yang selalu rajin dan pendiam adalah sumber segala PR dan (kadang) contekan ulangan kami. Sebenarnya ia tak pernah setuju dengan cara kami yang mencontek. Tapi akhirnya ia selalu luruh dan membiarkan kami menyalin sebagian jawabannya saat ulangan.

Adji memperlakukan kami seperti adik-adiknya. Dewasa di atas umurnya, dan selalu bisa menenangkan Dudi yang suka meledak-ledak.

“Raven?” suara itu melengking tinggi. Aku menoleh.

Aku sangat hafal suara siapa ini.

“Bu Dewi?!” aku berlari lalu memeluknya yang sedang berdiri di ambang pintu.

“Aduh bu kangen banget! Ibu jahat email aku jarang dibalas,” aku merengek.

“Aduh, nenek-nenek begini di suruh belajar internet. Aku ngga ngerti-ngerti Ven pake yang begitu-begitu,” katanya terkekeh.

Beliau adalah walikelas kami waktu kelas tiga. Guru Matematika sekaligus guru paling galak di sekolah. 

Walau begitu aku selalu paling sayang pada beliau.

“Sehat bu?”

“Yah, beginilah nenek-nenek. Sudah bisa pulang pergi ke sekolah saja sudah alhamdulillah,” timpalnya sambil terkekeh.

Sebotol teh dingin sudah ada digenggamanku. Bu Dewi lebih memilih minum air mineral, tuntutan umur katanya. Aku digiring untuk duduk di pelataran ruang guru. Di hadapan kami adalah lapangan upacara, sekaligus lapangan futsal, sekaligus lapangan basket dan lapangan-lapangan lainnya. Satu lapangan untuk semua. Pokoknya semua kegiatan eskul berpusat di sini.

Beberapa anak pramuka dan anak paskibra sendang berlatih berbaris di sisi berseberangan. Di tengah-tengah dua kelompok itu eskul PMR yang sedang latihan membuat tandu. Sama seperti masaku sekolah dulu, tiga eskul yang paling sering menyumbang piala itu masih menguasai lapangan.

Diantara hiruk-pikuk itu  aku menumpahkan kerinduanku pada Bu Dewi. Kami bercerita banyak hal. Mengingat-ingat kejadian lucu di masa lalu dan saling bertanya kabar anak-anak lain.

“Jadi, hubungan kalian bagaimana?”

 Aku mematung. Sebenarnya itu pertanyanyaan yang paling aku hindari dari tadi.

“Kalian padahal sangat cocok. Adji memang kurang peka sih,”

Ada desiran kuat ketika nama itu disebut.

Ya, selain Tias yang diam-diam menyukai Dudi. Aku juga memendam perasaan pada Adji.

Aku baru sadar saat kami di kelas dua. Dua tahun aku menahan diri. Sejujurnya aku takut sekali persahabatan kami rusak gara-gara perasaan bodoh itu.

Aku panik ketika mendapat kabar kalau keluargaku harus pindah ke Jepang setelah lulus. Itu artinya aku tak bisa menepati janji kami untuk kuliah di UI.

“Kamu ngga mau bilang apa-apa?” tanya Tias pagi itu saat pelajaran olahraga.

Aku menoleh bingung.

“Kamu suka sma Adji kan?”

Wajahku memerah.

“Cara kamu menatap, itu ngga bisa disembunyiin Ven, “ katanya, di hadapan kami Dudi sedang main bola bersama Adji. Anak itu, terlihat kaku saat berolah raga.

“Kamu juga, sama Dudi… ”

Giliran Tias yang kaget dengan wajah memerah.

Aku tertawa, rupanya seperti itu tampangku barusan. Tias ikut tertawa.

“Masa kelas tiga kita tinggal satu bulan. Setelah itu kita pisah. Kamu ke Jepang. Mungkin kami bertiga bisa satu kampus, tapi pasti di jurusan berbeda. Dudi sudah bulat di Sastra Indonesia, Adji tampaknya Teknik Sipil. Kita tau dia maniak Fisika.” Tawa renyahnya terdengar tipis. “ Aku mungkin mau coba Arsitektur. “ 

Tias menghela nafas.

“Walau satu kampus tak ada jaminan kami bertiga masih bisa kumpul-kumpul seperti sekarang.  Di tambah kau yang keluar negeri, kita ngga akan pernah bisa lengkap lagi. Tinggal satu bulan, kadang aku berfikir kenapa SMA ngga 5 tahun aja sekalian. “ katanya lirih.

“Aku takut kalian melupakanku. Aku takut kalian menemukan orang-orang yang membuat kalian lebih nyaman sehingga melupakanku, ”Aku memeluk lututku erat.

“Aku takut Adji melupakanku.” Akhirnya aku mengucapkan ketakutan terbesarku.

Tias memelukku, “sahabat terbaik tak akan tergantikan, Ven.”

“Untuk si Adji, nanti kita cari cara,” suaranya berhembus diantara rambutku.

“Kamu ngga tukar-tukaran, apa benda internet itu, ah, Email, sama Adji?” pertanyaan Bu dewi membuyarkan lamunanku.

Aku menggelang pelan. Bu Dewi tersenyum sambil memegang pundakku. Entah karena mengerti atau kasihan.

Suars bell memantul diantara gedung sekolah. Setiap jam 5 sore bell akan berdering lebih lama dari biasanya. Itu tandanya semua penghuni sekolah harus segera pulang. Tidak boleh ada kegiatan apapun di atas jam 5 sore.

Bu Dewi berdiri, kami berpisah. Aku titip pesan agar gerbang jangan dulu di tutup. Aku minta 15 menit lagi. 

Bu Dewi mengangguk faham.

Ada satu tempat lagi yang ingin aku datangi di sekolah ini. Kebun belakang. Itu tempat kami biasa kabur saat ada guru menyebalkan, atau saat kami belum membuat tugas. Tempatnya ada di bagian paling belakang sekolah. Karena tempatnya agak jauh, jarang ada guru yang ke sana, jadi kami selalu aman setiap kabur.

Di tengah-tengah kebun itu ada sebatang pohon mahoni tinggi besar, sehingga suasana di sana selalu sejuk. Membuat kami betah berlama-lama di sana.

Pohon itu masih bertengger gagah di sana. Aroma dan semilir anginnya masih sama. Masih segar saat hari kelulusan itu, hari terakhir aku di Indonesia, Tias dan Dudi mengajakku ke sini.

Aku ikut saja.  Di sana sudah ada Adji sedang duduk di antara akarnya. Tampangnya gusar sekali.

“Ngapain di sini?” tanyaku bingung. Baju kami berantakan kena pilox warna-warni di mana-mana.

Tetiba Tias dan Dudi kabur, katanya mereka dipanggil ke ruang guru sama Bu Dewi. Kali itu aku baru sadar apa yang sedang terjadi. Aku di jebak.

Sumpah, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menatap wajah kikuk anak laki-laki yang kusukai ada dihadapanku. Wajahku memerah, dan jantungku berdegup kasar sekali.

“Jadi, “ katanya bersusah payah.

Aku setengah mati bersikap normal.

“Hari ini terakhir lo di indonesia?”

“Iya, nanti malam gua berangkat. Last flight, tiket murah,” aku terkikik, berusaha terdengar lucu.

Adji nyengir, tapi masih saja kaku.

“Suka, “ katanya tiba-tiba.

Aku kaget setengah mati.

“Gua suka sama lo,” kalimat itu akhirnya muntah dari bibirnya.

Lututku lemas mendengar itu. Entah kenapa mataku kemudian berair. Kami berdua mematung.

Seekor tupai berlari turun menyambar sesuatu, mungkin biji-bijian, kemudian berlari secepat kilat kembali ke lubangnya di antara batang pohon.

Saat itu kami berdua sadar. Pernyataan itu tidak akan pernah menjadi apa-apa. Kami akan berpisah. Dipisahkan lautan yang tidak satupun dari kami bisa melawannya.

Di antara batang phon itu, Adji mengukir sebuah tanggal dan dua buah huruf, V & A. Inisial kami dengan pisau lipat yang ia pinjam dari Dudi. Anak iitu selalu punya benda-benda aneh.

Tanggal yang terukir di sana adalah hari ini.

Sebenarnya tujuanku ke sini untuk menepati janji kami.

Aku menatap jam tanganku. 5 lewat 13. Waktuku tinggal 2 menit. Tidak ada tanda-tanda Adji akan datang.

Menyedihkan.

Konyol sekali aku ini. Mungkin Adji memang  tak akan datang. Pasti dia ngga akan datang. Tidak ada apa-apa di antara kami. Harusnya aku sadar itu. Ia pastilah sudah menemukan orang lain. Berbagi tawa dengan orang itu, seperti dulu ia berbagi tawa dengan ku, dengan Tias dan Dudi.

Ia pasti sudah menemukan cinta yang lain.

Tanganku menyusuri ukiran itu. Tanpa kutahu, mataku menghangat. Bulir-bulir itu jatuh begitu saja, tak terbendung lagi. Sesuatu menggigit dadaku. Sakit.

RRRRRRRRRRRRR!

HP ku berdering.

Bingung, tidak ada yang tahu nomer baruku, kecuali orang rumah.

“Halo?”

“Ven, masih di sekolah?”

“Tias!!!!” Bercampur bahagia, kaget dan bingung.

“Hehehe, kok suara kamu bindeng gitu? Sakit?”

“Ah ngga, pilek dikit doang,” kataku sambil menarik ingus, berusaha terdengar sedang pilek.

Ada suara laki-laki berisik di belakangnya.

“Itu Dudi? kalian sedang berdua? “ aku terpekik bahagia.

“Iya nih, calon suamiku ngga bisa diem,” ia terkekeh.

“Nikahan kalian jadi?” tanyaku antusias.

“Sialan! Jadi lah! kamu harus jadi pendamping pengantin wanitanya ya!?”

Aku tertawa.

“Kamu di sekolah kan?”

“Ah? Kok tahu, ini lagi di pohon Mahoni,” kataku.

“Sudah aku duga, tunggu ya, kita lagi nganterin seseorang nih,” kalimat ini membuat aku bingung.

“RAVIIN!!!” seseorang menaggilku dari kejauhan. Aku mengedarkan pandanganku mencari sumber suara itu.

“Kami di belakangmu,” bimbing Tias.

Ketika aku menoleh ke belakang, Tias dan Dudi sedang melambaikan tangan dari arah gedung sekolah. Di sebelah mereka berdua ada seorang laki-laki yang sangat aku kenal.

Agak telat, Adji melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Menemukan sosok itu, semuanya campur aduk. 

Aku balas melambai sambil tersenyum. air mataku runtuh.