20260506

Pasti Karena 'Ujub'

Rasanya perasaan itu masih mengambang di dalam lambungku. 

 

"Kita udah ngga akan ada posisi kamu lagi, Juni kita sudah pake struktur yang baru" 

 

Kalimat itu lah yang membuat ulu hati ku tertonjok telak. sangat mual.

Kalimat itu memanggil sekelebat hal yang ada di belakangku. Istri, anak, sekolah anak, tagihan KPR dan hal-hal lain yang terimbas dari kalimat tersebut. 

Kalimat itu membuat bertahun-tahun karir yang kususun seperti runtuh.

Umur segini, dengan pengeluaran yang besar dan tanggung jawab yang tidak sedikit.

Mau kemana aku mencari pendapatan setelah ini.

 

Ko aku yang kena ya, 

Kan kerjaku bagus,

Peraturan perusahaan pun tak ada satupun yang ku langgar.

Kenapa aku yang kena sikat?

 

Masuk lah aku ke fase 'denial'

 

Menolak kenyataan dan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku. 

Berhari-hari aku marah, mengutuk dan menyalahkan perusahaan. Punya hak apa mereka memecatku. Bukankanh beberapa tahun ini aku punya andil besar dalam bisnis mereka, enak aja memecat aku! 

 

Kemudian masuk ke fase 'accaptence', penerimaan. 

 

Ya, aku mulai menerima kenyataan. 

Salah sendiri terlalu menggantungkan pendapatan pada perusahaan.

Bagaimanapun aku adalah babu perusahaan, kalau majikan tidak butuh aku lagi, ya tinggal aku didepak.

Sesimpel itu. 

 

Hari itu ada mobil calya lewat didepanku yang baru saja memakir mobil (kantor).

Aku tersentak.

Kayanya selama ini aku kena penyakit ujub.

Sombong dan merendahkan orang lain.

FYI, aku kerja di perusahaan yang lumayan bonafid. Gaji lumayan, posisi menagerial yang oke, bonus bagus, dapet asuransi kesehatan juga, dan salah satu fasilitasnya lagi aku dapet mobil kantor, Honda HRV terbaru.

Saat jalan di mall, dan tempat umum, tanpa sadar aku menilai penampilan orang-orang yang lewat.

Posisinya apa ya, bajunya branded gitu

Mobilnya bagus ya, Pajero, mungkin udah jadi 'Head of" 

Bukan kagum, malah membandingakan diri. 

Ada beberapa moment saat keluar dari mobil di parkiran, tanpa sadar dadaku membusung. 

'Mobilku HRV lho, bukan mpv 7 seater yang pasaran itu, apa lagi mobil LCGC' 

 

Aku beristigfar dan menarik nafas.

Betapa ujub dan sombong diri ini. 

Sungguh sudah melampaui batas.  

 

Mungkin ini alasannya.

 

Allah nyentilku dengan ini.

Biar aku ngga sombong dan kembali sadar diri.

'Semua itu bukan punya kamu lho, titipan aja.'

'Kalau Aku mau, semua yang menepel pada mu, bisa Aku ambil semua tanpa terkecuali dengan sangat mudah.' 

 

Lalu ketakutan-ketakutan itu,

Takut ngg bsa bayar KPR, 

Takut ngg bisa bayar sekolah anak,

Takut ngg bisa ngasih uang bulanan ke istri 

 

Tanpa sadar aku merasa aman karena bergantung pada pekerjaan, 

Pada perusahaan itu.

Padahal kita semua tau, rizki itu berasal dari Sang Ar Rahim, Sang Ar Razzaq.

 

Syirik ngga sih selama ini?

Menduakan sifat Mu, Ar Razzak, Sang Pemberi Rizki, dengan pekerjaan yang setiap bulan memberi gaji yang tetap.

 

Astagfirullahaladziim

Ya Rabb, ampuni hamba yg melewati batas ini.

Alhamdulillah Engkau ingatkan hamba sehingga saat ini hamba sadar

Ya Rabb, hamba berpasrah dan menyerahkan segalanya

Hamba tahu skenario-Mu adalah yang terbaik

Bantu Hamba ya Rabb, 

Cukupkan semua kebutuhan Hamba, keluarga hamba

Jagalah hamba dari segala penyakit hati yang masuk tanpa sadar

Tiada daya dan upaya selain dari Engkau ya Rabb 

Amiin  

20240309

Kangen masa SMA itu..


Angin mengusap wajahku, cahaya pagi matahari membelai ujung helm yang warna birunya pudar,

Ban motorku berdecak-decak saat menggilas jalanan yang kurang rata.

Di lampu merah persipangan aku berhenti, menunggu giliran jalan saat warnanya kembali hijau.

"Besok jadi kan?!" setengah berteriak.

"Ayok, di rumah Acil yak!!"

Samar-samar aku mendengar suara berahutan mendahuluiku. segerombol anak SMA mengendarai motor. 

Cekikikan bahagia mereka membahas acara yang kayaknya seru itu.

....

Tadinya mau bikin cerpen, cuman dari pada lama langsung curhat aja kali ya.

Entah kenapa dua tiga hari ini gw ke ingetan masa-masa gua lagi SMA dulu. Oh iya, ini gara-gaa pas rabu or selasa kemarin (sekarang udah minggu subuh, btw) gw liat ada kaya acara internal gitu di SMA deket TK anak gua.

Gua liat di panggung ada kaya acara talk show gitu, ada MC, terus deretan sofa, percis pas dulu gua lakuin sebagai panitia waktu masih di Ithri smanli.

Sekelebatan gua langsung ingettemen-temen gua, yang akhwatnya yang masih pada pake kerudung polos yang sesua norma, ahahaha, nutup dada gitu lah, setelan anak rohis SMA. Terus yang ikhwan nya ya pada sopan gitu, baju di masukin, beberapa celana nya ngitung kan, biar nyunah.

Makanya masih pada polos, badannya amsih pada kurus, dan senyum nya masih pada lebar.

Sekelebatan gua keinget selembar foto di mana kita semua di capture saat itu, tau deh yang pas event apa. Kita tersenyum bahagianya saat itu.

Kalo di tanya kapan masa keemas an gua, ya pas SMA itu sih. Gua ngg pernah merasa menyesal seumur hidup gua ya itu pas lagi SMA itu. Gua telah merasa puas karena telah bisa mengabiskan masa-masa itu to the fullest!

Gua telah mengukir kisah persahabatan, cinta, ekspresi dan semua hal menyenangkan di masa itu.

Really miss that moments.

Dibading dengan semua tanggung jawab yang sedang kami-gua jalanin saat ini.

Dengan istri, anak, pekerjaan, orang tua, Masyarakat

Masa itu beneran masa yang benar-benar menyenangkan. Ngga ada beban sama sekali.

Masa dimana tiap harinya gua merasa beneran hidup. Selalu bersemangat untuk ke sekolah, ketemu temen-temen, beraktifitas di organisasi. Bene-bener menyenangkan. Mungkin mement pas lagi IM juga masih kalah hebat ya.

Mudah-mudahan mereka--temen-temen gua pada sehat, pada bahagia dengan kehidupan dewasanya masing-masing. Kangen banget rasanya bisa kumpul-kumpul lagi.

Miss you guys, really 😊

20181218

Di Titik Ini

Masa sudah semakin tua
Benar-benar tak terasa

Di titik ini, ketika menoleh kebelakang, begitu banyak hal yang masih ingin dilakukan,
tapi nampaknya realistis adalah benar-benar makhluk yang nyata

Ia berdiri kokoh menghalangi beberapa hal yang masih ingin diraih

Banyak hal,
Naik gunung, sekolah, olah raga, hobi
Banyak hal

Bahtera sudah melaju, sauh telah diayun, arah sudah harus segera ditentukan.

Nampaknya banyak hal yang harus mulai dipilih dengan tanggung jawab yang sekarang turut bersama

Mana yang amat penting, mana yang penting dan mana yang tidak penting untuk kemudian disisihkan.

Memang,
Banyak yang sudah dicapai, dan nampaknya sujud syukur ini masih amat kurang banyak jika di bandingkan  dengan segalah anugrah atas segala pencapaian tersebut

Namun, masih juga segudang hal yang ingin dikejar, digapai, diperjuangkan.


- - -


Atau, ini hanya alasan saja

Mencar-cari pembenaran karena walaupun sudah di umur ini, capaian masih jauh dari harapan?


- - -


Wahai diri, sadarlah
Jangan jadi membatasi potensi


- - -


Melajulah,

20170416

Green House 2

“Itu ya anak yang kemarin jalan bareng Ryan?”

“Ih, ngga banget ah,”

“Biasa aja,”

Tiba-tiba pagi itu sekolah ramai oleh celotehan dengan nada sama seperti di atas. Kaget, tak percaya melecehkan dan sejenisnya.

Becca sebenarnya tak terlalu peduli. Ia lebih memilih memasang ear set ketika memasuki kelas lalu bersegera duduk di kursinya, di pojok belakang dekat jendela.  Ia mengencangkan volume HP yang lagunya sudah di update tadi malam. Ayahnya akhirnya mengizinkannya mengakses fasilitas internet di rumahnya.

Ia menyibukkan diri menunggu bel masuk dengan mengecek PR yang tadi malam ia kerjakan, ia menghalangi dunia luar mengusik dirinya. Ia tidak mau ambil pusing, toh di sekolahnya yang lama juga ia diperlakukan sama. Anak-anak ‘normal’ lainnya sering membicarakannya di belakang. kadang lebih pedas.  

Ada satu lagi kejadian pagi itu yang membuat sekolah lebih heboh.

Seorang anak kelas X (dia tinggal kelas, harusnya sudah kelas XI) yang baru keluar dari rumah sakit dan kena sanksi skors masuk sekolah.

Bahkan pak satpam terlihat muak ketika anak ini melangkah melewati gerbang sekolah. Anak-anak yang tak sengaja berpapasan dengannya terpaksa menunduk. Tak ada yang berani menatap langsung wajahnya. Kalau bisa memilih mereka lebih suka mengambil jalan memutar atau bahkan berhenti agar tidak berpapasan atau searah dengan anak ini.

“Yogi!” Pak Seno berteriak dari ruang guru.

Yang dipanggil Yogi menoleh, mencari sumber suara.

“Sini kamu!” agak membentak, sambil melambaikan tangan.

Anak itu beringsut kesal.

“Ya pak,” katanya. 

Sekali lihat kau tidak akan suka mendapat tatapan seperti itu. Ada sesuatu yang salah dengan anak ini. Pak Seno bisa merasakannya. Bertahun-tahun menjadi Guru BP ia menjadi tahu mana anak yang masih bisa ‘diperbaiki’ mana yang tidak. Yogi adalah yang terakhir.

“Kamu tahu kan ini peringatan terakhir dari sekolah?”

Yogi mengangguk, malas menjawab.

“Bapak ngga mau memanggil kamu ke ruang BP lagi, karena itu artinya kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini. Itu perjanjiannya dengan orang tuamu,”

Pak Seno mengeluarkan semua aura intimidatifnya, berusaha agar Yogi mau menurut. Ia sudah bersiap marah kalau ternyata anak ini masih sulit diatur.

“Baik pak,” Jawab Yogi.

Pak Seno mengerjap, tak siap dengan jawaban Yogi, sehingga terdiam. Nampak kebingungan dan kehilangan wibawanya sejenak.

“Saya sudah boleh ke kelas?” tanyanya, sopan.

Pak Seno mengangguk akhirnya, setelah terdiam beberapa detik.

Yogi mencium tangan Pak Seno lalu melangkah menuju kelasnya, meninggalkan wajah pak Seno yang masih terkejut.

Pintu kelas terbuka, Yogi melangkah.

Kepalanya plontos potongan Tamtama. Badannya tidak bisa dibilang tinggi besar, tapi seperti rata-rata anak laki-laki lainnya. Namun dari balik seragam putih abu yang tak pernah ia masukkan itu ototnya terlihat padat. Mungkin karena sering tawuran dan berantem badannya terbentuk seperti itu.

Menurut desas desus, tahun lalu dia pernah memasukkan empat kakak kelasnya yang hendak memberinya pelajaran karena tidak ikut MOS ke rumah sakit, dan baru keluar seminggu kemudian. Bagaimanapun ‘menangani’ empat orang sekaligus bukan perkara mudah. Walau ia juga mendapat luka di mana-mana.

Entah benar atau salah desas desus itu, yang pasti, sebulan yang lalu ia memimpin penyerangan ke sekolah tetangga. Hasilnya ia masuk rumah sakit karena luka-luka yang serius. Itu membuatnya di rawat selama tiga minggu, plus skors seminggu sebagai hukuman.  

Hal itu cukup membuat seisi sekolah menjauh dan tak mau mencari masalah dengan anak ini. Ia melangkah, menembus barisan kursi menuju kursi belakang.

“Ini kursi gua,” katanya.

Becca mendongak.

Anak-anak di kelas terdiam.

Becca dengan tenang melepas headsetnya, “sorry?” katanya.

Yogi menatap tajam anak ini. Mood-nya sedang tidak enak gara-gara tadi Pak seno membentaknya pagi-pagi. Jangan sampai anak ini jadi korban.

“Ini kursi Gua!” katanya, kali ini agak membentak.

Beberapa anak yang kebetulan lewat situ berhenti, menonton.

“Aku sudah duduk di sini sejak sebulan yang lalu, pojok sana kosong, kalau kamu mau,” jawab Becca.

Kelas terdiam.

Wajah Yogi memerah. Ubun-ubunnya terasa panas.



“Tahu ngga, si Yogi itu udah masuk hari ini katanya,” kata Rudi.

“Yogi mana?” tanya Ryan.

“Yogi yang itu, masa ngga tahu?”

“Ooh,” Ryan mengangguk pura-pura tahu, padahal tidak.

“Eh Lu tau Becca ngga?” Tanya Ryan.

“Becca mana?”

“Yang pindahan itu,”

“Oh Rebecca anak X-B, yang namanya bule tapi tampangnnya ngga?”

“Lu tahu?” Ryan antusias.

“Hmm, dia anak aneh yang ngga punya temen kan? Di kelas juga ngga ada yang nyapa, katanya kalau diajak ngobrol juga ngga nyambung. Gitu sih,” Rudi selalu bisa diandalkan kalau mengenai hal-hal seperti ini. Bagi Ryan yang kuper, berteman dengan Rudi adalah berkah yang tiada tara.

Mereka berbelok dari arah kantin lalu menemukan ada kelas yang ramai dijejali anak-anak.

“Ada apaan sih?” bisik Ryan.

“Gatau, “ Rudi bergegas, ia tak ingin ketinggalan, pasti ada hal yang seru.    

Ryan mengintip dibalik kerumunan, menemukan Becca sedang berhadapan dengan seorang anak laki-laki berambut cepak.

“Ini Kursi Gua!” bentak anak cepak itu.

“Aku sudah duduk di sini sejak sebulan yang lalu, pojok sana kosong, kalau kamu mau,” jawab Becca.

Yogi mencengkram lengan kanan Becca!

Pulpen yang tadi ia peganng terpental ke lantai.

“Pindah ngga lu!” geram Yogi.

Seisi kelas dan anak-anak di luar yang menonton terdiam, tak ada yang bergerak.

Becca meringis kesakitan.

“Woy panggil guru, “ seseorang berbisik.

“Lu mau mati?” sesorang lagi berbisik.

Kemudian mereka sama-sama sadar, jangan ikut campur jika ingin selamat.

“Mati tuh anak…” Rudi berbisik.

“Pokoknya lu jangan berurusan sama anak cepak itu ya, Yan,” bisik Rudi lagi.

“Cowok ngga boleh nyakitin perempuan,” Ryan sudah berdiri di antara Becca dan Yogi.

Tangannya mencengkram tangan Yogi yang mencengkram tangan Becca.

Becca masih meringis, dia hampir nangis.

Rudi menjerit tertahan. sejak kapan Ryan ada disana!

“Lepasin!” suara Ryan terdengar serius, cengkaramannya mengencang.

Yogi menegadah menahan sakit, menatap tajam Ryan yang beberapa centi lebih tinggi darinya.

Detik berikutnya, kerah Baju Ryan dijambak Yogi, walau tubuhnya besar ia terdorong ke belakang, menabrak meja. Ryan terkesiap kaget. Tenaga anak ini ngga main-main.

“Mau cari gara-gara?!” desis Yogi didepan hidung Ryan penuh nafsu.

Ryan nyaris jatuh untungnya dia masih bisa menahan kuda-kudanya.

Ryan bisa melihat jelas guratan wajah Yogi, matanya tajam seringainya mengerikan dan mengintimidatif. Cukup membuat anak cupu kencing di celana.

“A.. aku pindah, “ desis Becca. Air mata tipis melapisi bola matanya.

Ia buru-buru membereskan tasnya lalu pergi ke kursi lain.

Bell masuk berdering.

Ryan dan Yogi masih saling bersitatap tegang.

Yogi melepas cengkramannya, Ryan terbatuk. Yogi kemudian menaruh tasnya dan duduk. 

Ryan berusaha membenarkan nafasnya, lehernya terasa sakit. Yogi ini, walau badannya lebih kecil, nyalinya besar sekali. Beberapa kali Ryan menghadapi berandal di SMP, biasanya anak yang lebih pendek darinya akan merasa gentar, tapi anak ini tidak sama sekali.

Kali ini Ryan tak peduli, ia tak meu memperpanjang urusan dengan Yogi. Ia segera menuju Becca.

“Kamu ngga apa-apa?”

Becca menggeleng, ia sudah manghapus air matanya.

“Kamu harusnya nurut saja pindah, ngga perlu kaya gini,” bisik Ryan.

Becca mengangguk. Ia masih bergetar karena ketakutan.

Rudi menghampiri.

“Lu ngga apa-apa, Yan?” tanya Rudi khawatir.

Guru masuk ke kelas itu, anak-anak mulai mengisi kursinya masing-masing. Kerumunan depan kelas membubarkan diri.

“Nanti istirahat aku ke sini lagi,” kata Ryan sambil mengelus kepala Becca, kemudian pergi.

“Beneran ngga apa-apa?” suara Rudi terdengar menjauh.

Becca masih kaget. Dia tidak takut pada Yogi, ia hanya kaget tiba-tiba dibentak lalu tangannya dicengkram seperti itu. Ia mengelus lengannya yang memerah bekas dicengkram.

Ia juga merasa tidak enak karena nyaris ada perkelahian karena dirinya, untung dia langsung bilang segera pindah kalau tidak, akan jadi apa tadi. Tangannya masih gemetar padahal ia sudah berusaha menormalkan nafasnya.

Yogi menghembuskan nafas. Tangannya masih bergetar, sisa adrenalin masih mengaliri darahnya.

Sialan! 
Ia kira barusan ia akan benar-benar berkelahi lagi.Tangannya sudah tinggal sedikit lagi mengayun menonjok anak bongsor tadi. Untung bisa ia tahan. Sebenarnya  Ia tak mau dikeluarkan dari sekolah. cukup sudah ia di marahi guru-guru, tak mau hingga Ayahnya juga ikut-ikutan marah.

Tapi anak perempuan ini benar-benar mebuatnya kesal. Tambah lagi anak bongsor sialan yang sok jadi pahlawan kesiangan itu. Untung bell masuk segera berbunyi dan anak itu mau pindah.

Benar-benar deh. Padahal ini hari pertama Yogi masuk sekolah.


Yogi menghembuskan nafas (lagi).

20170401

Green House 1

Siang itu, sepulang sekolah, dari lorong-lorong kelas masih terdengar celotehan anak-anak, langkah-langkah kaki dan detik jam yang menggantung di dinding kelas.

Sejam yang lalu bel pulang sekolah berdering. Kebanyakan anak langsung pulang untuk langsung ke rumah, sebagian pergi ke tempat les, sebagian pergi kerja kelompok ke rumah teman, sebagian lagi tetep tinggal untuk  melakukan aktifitas eskul.

Di bagian selatan lapangan upacara berdiri pohon beringin tua yang memayungi sekolah. dahannya yang lebar dan daunnya yang rimbun sangat membantu memayungi beberapa bagian gedung sekolah dari terpaan sinar matahari siang. Kepsek yang baru baru sadar kenapa mendiang kepala sekolah lama bersikeras mempertahnkan agar pohon ini tidak di tebang.

“Ayo, nanti kita telat!”

Ryan menutup komik yang ia baca lalu memasukkan ke dalam ranselnya. Ia berdiri. Walaupun wajahnya ngga ganteng-ganteng amat, dengan perawakan yang lumayan manly, tinggi di atas 175 dan cukup kekar, karena rajin push up dan sit up di rumahnya, membuat anak-anak gadis enggan melewatkan anak ini. Ryan cukup popular di sekolah, bahkan ada beberapa kakak kelas yang katanya berusaha mendekatinya.

Tapi karena hanya peduli dengan main musik, dia tidak terlalu memperdulikan tingkah gadis-gadis di sekitarnya. Dia hanya berusaha bersikap ramah sebisanya, keseringan sih cuek karena agak risih. anehnya, karena sikap cueknya itu cewek-cewek makin penasaran padanya.

“Bentar-bentar,” katanya sambil melesat mengikuti Rudi yang memanggilnya dari depan pintu kelas. Mereka melangkah beriringan menyusuri lorong sekolah.

“Hari ini kita latihan lagu apa?” tanya Ryan.

“Gatau Gue, kita anak kelas X cuman bisa ngikut par akakak kelas itu bukan?”

“Padahal tinggal sebulan lagi kompetisinya, tapi lagunya masih belum ditentuin,” Ryan mendesah.
Ruang eskul ada di bagian belakang sekolah, anak-anak harus menyebrangi lapangan olah raga, yang sekarang sedang dipakai latihan anak sepak bola, gedung green house lalu belok ke kanan, baru bisa mencapai ruang eskul. Kadang kalau hujan, ngga ada yang mau ke sana karena tak ada tempat berteduh dan tanahnya pasti basah sehingga membuat sepatu kotor.

“Gedung itu masih kepake apa ngga ya? Kok keliatanya rada-rada spooky?”  tanya Ryan.

Rudi menoleh, yang dimaksud adalah gedung green house.

“Ngga tahu, kata kakakku yang alumni sekolah ini sih dulu ada eskul berkebun, green house itu dibangun oleh anggotanya waktu itu.”

“Jaman sekarang, mana ada anak yang mau berkebun, paling juga eskulnya mati gaada peminat,” tambah Rudi.

Tapi detik berikutnya, seorang anak keluar dari gedung itu, berlari-lari kecil membawa ember kemudian mengisi air di keran di samping green house tersebut.

“Buset! Ternyata masih ada anak yang hobinya berkebun,”

Anak perempuan itu tidak sadar kalau dirinya sedang diperhatikan walau sekilas, kedua anak laki-laki tadi mempercepat langkahnya menuju ruang eskul karena mendengar gemuruh petir di kejauhan.

Anak perempuan itu mendongak. Memandang langit barat yang mulai kelabu di gulung awan.

Ia memeriksa ember yang ternyata sudah meluap. Kemudian buru-buru mematikan keran lalu membawa ember itu ke dalam.

Sebenarnya ini hanyalah green house sederhana. Bukan green house besar yang semua dinding dan atapnya terbuat dari kaca seperti di filem-film Jepang. Ini hanyalah bangunan 6x10 meter yang atap nya terbuat dari asbes plastic transparan dan dindingnya dari semacam kerangka kayu yang di lapisi pelastik transparan, walau sekarang tidak transparan lagi karena sudah tua dan kotor karena debu dan sarang laba-laba. Dari luar bangunan ini terlihat tak terurus dan menyeramkan.

Di dalamnya ada petakan-petakan yang tiap petak diisi oleh tanaman yang berbeda-beda. Beberapa bahkan sudah berbuah, menunggu di panen.

“Bulan depan, kalian pasti sudah tumbuh besar dengan buah-buah yang mungil,” anak itu berbisik riang. Ia bergerak kepojokan, menghubungkan bluetooth HP nya pada semacam speaker portable lalu terdengar musik mengalun.

Ia mulai menabur pupuk lalu menyiram tanamannya satu per satu. Walau kelelahan, tapi wajahnya terlihat ceria dan puas.


“Apaan sih tadi, katanya mau ikut kompetisi tapi ngga ada yang dateng,” Rudi mengeluh.
Ryan memandang langit, gerimis turun. Berdua, mereka otomatis mempercepat langkah sambil menaruh tas di atas kepala.

"Ditungguin sampe se jam, ngga ada yang muncul!"

Rudi berlari, makin cepat.

“Tungguin!” teriak Ryan.

Tapi Rudi malah makin menjauh, kayanya dia ngga denger.

Anak-anak yang barusan latihan sepak bola juga membubarkan diri, mereka ngga ada rencana ujan-ujanan hari ini.

Ketika melewati green house, Ryan mendengar sesuatu.

Ada lantunan musik.

Rian mengingat-ingat sejenak. 

Ini kan cannon in D?

Ryan memperlambat larinya, lalu bergerak menuju ke green house, sumber suara.
Siapa yang memasang musik klasik begini?  

Ryan berjalan pelan mengitari bangunan, setelah bersusah payah menembus ilalang tinggi yang mengelilingi bangunan.

Ia mengintip ke balik plastic yang beberapa bolong di berbagai sisinya. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Ryan menemukan speaker portable kecil dan sebuah HP yang tergeletak di dekat tumpukan karung di pojokan ruangan menyeramkan itu.

Rasa panasarannya mengalahkan rasa takutnya, Ryan melangkah pelan memasuki bangunan tua itu, mendorong pelan pintu.

Terdengar bunyi berderik menyeramkan.

Ini kali pertama dia menginjakan kaki di bangunan itu. Ia akan merasa sangat  bersyukur ketika kelak dia mengingat hari pertama dia menginjak bangunan itu.

Ia mengedarkan pandangannya, tidak menemukan siapa-siapa.

Ada beberapa petakan yang terhampar di dalam bangunan itu. Beberapa sudah terlihat seperti sudah digarap, satu petak sudah memiliki tanaman yang rimbun, tapi kebanyakan berupa tanah kering tak terawat.

“Hei”

Ryan melompat demi mendengar suara itu. Ia kaget bukan main.

Seorang gadis muncul di belakangnya. Untung bukan hantu, padahal dia sudah siap-siap kabur tadi,

“Sory, aku mau masuk, jangan menghalangi pintu,” katanya.

Praktis Ryan bergeser, memberi jalan gadis itu masuk.

Ryan memperhatikan sosok itu. Dia belum pernah melihat anak ini di sekolah. maksudnya, walau baru kelas X, harusnya dia hafal wajah semua penghuni sekolahnya, toh sekolahnya ngga gede-gede amat.

Gadis itu bergerak cekatan, menaburkan sesuatu ke tanah, yang diduga Ryan adalah pupuk. Kemudian menyiram air ke atasnya.

Ketika sadar, ternyata ember nya telah kosong. Gadis itu bergerak keluar sambil membawa ember itu.
Sama sekali tidak mengajak Ryan bicara.

Ryan juga kagok, dia ingin mengajak bicara anak ini namun tak tahu namanya. Baru kali ini dia sadar ternyata keberadaan sebuah nama itu sangat penting bagi seorang manusia, agar kita bisa saling bertegur sapa dengan lebih mudah.

Ryan mengikuti gadis itu yang sekarang sedang mingisi ember dengan air dari keran.

“Kamu lagi ngapain?” tanya Ryan akhirnya.

Anak itu menoleh.

“Ngisi air,” katanya singkat, padat dan cukup menjelaskan sebenarnya. Tapi Ryan belum puas.

“Bukaan, maksudku di sini, di green house ini?”

“Kelihatannya?”

“Kerkebun?” Ryan ngga yakin.

Anak itu mengangguk pelan, lalu kembali mengawasi embernya.

“Sendirian?”

“Kelihatannya?”

Ryan agak kaget ketika pertanyaanya dijawab dengan pertanyaan juga. Baginya, yang dididik di keluarga dengan penuh sopan santun, hal itu sedikit tidak sopan. Harusnya yang ditanya tidak boleh balik bertanya.

“Sendiri, sih” jawabnya sendiri, agak ragu.

“Ngapain nanya kalo udah tahu,” kata gadis itu, tapi dengan wajah datar dan tanpa dosa.

Ryan terdiam. adarasa jengkel yang menggelitik muncul jengkelnya. Kesan pertama anak ini  ngga asik.

“Yah siapa tahu, ada kawan kamu yang aku belum lihat,” Ryan masih belum puas.

“Ngga ada, cuman aku sendiri kok. Kalau kamu liat orang lain selain aku, mungkin itu hantu penunggu banguna ini,”

Ryan merinding. Untung dia ngga liat siapa-siapa lagi.

Anak itu memutar keran lalu mengangkat ember yang sudah penuh berisi air itu. Namun terlihat kerepotan karena ember yang dibawa berukuran besar.

Ryan kemudian mendekat dan membantu, tanpa meminta izin dia meraih ember lalu mengangkatnya.

“Biar aku bantu,” katanya. Mudah bagi Ryan dengan tubuh besarnya mengangkat ember penuh air itu, ia berjalan hati-hati agar isinya tidak tumpah.

Gadis itu terdiam, setengah kaget anak itu membantunya.

“Hey, jangan bengong, ini mau ditaruh di mana? Berat nih,” kata Ryan dari dalam.

“Taruh dekat tumpukan pot, “ katanya akhirnya, kemudian buru-buru masuk.

Setelah itu Ryan menonton anak itu berkebun, menurut dia tidak apa-apa menghabiskan waktu di sana. Toh masih hujan, kalau dipaksa menyebrangi lapangan olah raga ke gedung utama, pakaiannya akan basah.

“Nih, “ Gadis itu mengasongkan sebuah tomat merah.

“Baru dipanen hari ini,” gadis itu menunjuk petak tanaman yang paling rimbun. Di dekatnya ada keranjang berisi beberapa buah tomat yang baru di petik.

Ryan menerimanya ragu-ragu. Kaget dia, ternyata gadis ini walau agak aneh ternyata baik hati.

“Aku ngga pake pupuk kimia di sini, semuanya alami. Jadi buah nya lebih sehat,” tambahnya.
Pantas ada bau tak sedap sedari tadi di sini, itu pasti bau pupuk alami atau apalah yang dibilang gadis itu.

“Dan udah di cuci, jadi kamu ngga akan sakit perut.” Tambahnya lagi.

Ryan tersenyum.

“Makasih,” katanya akhirnya lalu mulai mengunyah.

“Hmm, enak,” katanya Ryan, mulutnya setengah penuh.

“Ko yang di rumahku ngga seenak ini rasanya?” katanya lebih ke dirinya sendiri.

“Kan sudah aku bilang, ini pake pupuk alami. Wajar kalau rasanya lebih enak,” kata gadis itu datar.

Ryan nyaris keselek.

Kemudian tersenyum, ia mulai terbiasa. Mungkin memang tabiatnya seperti itu. Gadis ini sama sekali tidak  ada niat menyakiti perasaan Ryan dengan kata-katanya yang tajam itu.

“Kamu sendirian?” tanya Ryan setelah beberapa menit sunyi.

“Maksudku, ngga ada temen lain yang juga ikut berkebun. Kamu semacam melakukan eskul kan di sini?” tambah Ryan sebelum anak ini menjawab dengan kalimat tajam nya.

Gadis itu mengangguk.

“Cuman aku sendiri,” katanya.

"Kenapa?"

“Kayanya ngga ada yang mau gabung eskul berkebun. Apa ya kata mereka kemarin itu? Oh, ngga keren. Mungkin itu alasannya. Padahal aku sudah menempel pengumuman di mading sekolah,”

Ryan mengangguk.

Iya sih, jaman sekarang mana ada yang menganggap berkebun itu keren.
Paling juga paskibra, band, basket atau futsal. Kebanyakan cewek pasti akan lebih memilih ikut cheers atau padus sekolah. Eskul berkebun tak akan pernah ada dalam benak mereka.

“Makasih, udah angkat air tadi,” kata gadis itu akhirnya.

Ryan mendekat.

“Kenalin, namaku Ryan. Kamu?”

Gadis itu menoleh.

Lalu menyambut acungan tangan Ryan.

“Beca, Rebeca,”

“Agak bule namanya, aku lahir di Amerika soalnya. Baru pindah awal semester ini ke Indonesia,” tambahnya.

Ryan memperhatikan anak di depannya. Rambutnya hitam. Matanya cokelat. Hidungnya pesek. Kulitnya putih tapi bukan putih bule, putih langsat kaya orang pribumi kebanyakan.

Tidak ada tanda-tanda bule pada penampakannya.

“Ayah ibuku asli Indonesia kok, cuman karena kerja di Kedubes, aku kebetulan ngga lahir di indonesia. Aku juga bingung kenapa dikasih nama orang bule. Karena udah kepalang ada di akta lahir aku ngga bisa ganti lagi, ” kata Becca.

Ryan menahan senyum. Anak ini bisa baca pikiran orang.

“Kamu, tiap hari ke sini? Maksudku eskulnya, apa kah ada hari khusus?”

“Tiap hari kok. Kalau sehari ngga diurus, kasihan nanti meraka kelaparan. Kecuali minggu, kan libur,” Becca melepas sarung tangannya lalu duduk di atas tumpukan karung. Di situ ngga ada kursi.

“Lalu musik ini? Biar tanamannya tumbuh lebih subur gitu, dengan dikasih musik?”

“Ngga,” Becca menggeleng.

“Hah?” mau ngga mau Ryan bingung.

“Biar rame aja. Soalnya bangunan ini tua dan rada menyeramkan. Kubesarkan musiknya supaya aku ngga merasa sendirian,” katanya.

“Ha ha ha!” Ryan ketawa.

“Terus kenapa klasik, kamu penggemar aliran musik klasik? Bethoven, Chopin?”

“Ngga juga, ini kan tugas pelajaran kesenian minggu lalu, suruh pelajarin musik klasik. Aku sebenarnya lebih suka musik-musik yang mainstream. Ini lagi belum nambah kuota aja buat download,”

Ryan ketawa lebih keras.

“Kenapa ketawa?”

“Kamu lucu yah? Ngga ketebak!” lebih ke pada dirinya sendiri.

Langit berhenti hujan. Awan masih kelabu tapi tak ada lagi rintik yang turun. Mungkin bosan.

“Oke deh, Aku cabut duluan ya,” kata Ryan.

“Bareng, aku juga sudah selesai. Mau les abis ini, “ kata Becca sambil mengambil tas lalu menyampaikan ke pundaknya.

“Oke, “ akhirnya setelah agak kaget.

“Kamu masih mau tomatnya? Kalo ngga mau aku kasih ke penjaga sekolah semua,”
Ryan mengambil dua buah, satu dimakan saat perjalanan ke gedung utama, satu dimasukan ke dalam tas. Buat di rumah pikirnya.

Sore itu mereka pulang beriringan berdua. Yang karenanya besoknya jadi ramai. Anak-anak sekolah mengira mereka jadian, padahal ngga.