Langkah kaki takdir memantul-mantul di sana.
Aku tak pernah merasakan jantungku berdegup begitu kerasnya
hingga saat ini. Di antara lalu-lalang orang-orang, Koper yang mereka seret, desiran
udara dingin yang ditata AC dan kursi-kursi panjang berwarna merah berjajar,
dia melewatiku begitu saja. Melangkah di hadapanku yang sedang mengantri
membeli roti karena siang itu aku belum sempat sarapan dari pagi.
Hidung ini gemelitik disapa harum parfum yang ia kenakan. Ringan,
segar juga membelai.
Pandangku seperti magnet kepada sebongkah besi. Tak mau
beralih. Entah ia merasa risih karena kutelanjangi dengan pandangan ini, aku
menjadi tak peduli.
Ada rasa penasaran yang begitu besar, yang diantaranya menyelinap
rasa tertarik.
Sudah lama aku termenung dalam kesendirian. Di sebuah sudut
di mana hanya aku saja. Sambil berusaha terbahak saat semua orang terbahak, berusaha
berpadu dalam kerumunan. Yang sesungguhnya dingin itu masih ada di sana. Di sudut
yang membiarkanku duduk memeluk lutut. Sendirian dan kedinginan.
“Mas, ini kembaliannya,” aku menoleh setengah kaget.
mungkin ini kali kelima dia menegurku. Entahlah.
Aku meraih lembar-lembar itu, memasukannya ke dalam saku, mengunyah
roti sambil berjalan pelan-pelan mencari tempat terbaik untuk mengamati sosok
itu.
Sepatu keds tiga garis, celana jeans biru gelap, sebuah ransel dengan tali longgar di punggun, kedua tangannya memeluk sebuah kantung berwarna ungu. Di antara itu semua sebuah wajah lah yang menjadi pusat keindahan itu semua.
Tidak-tidak. Tidak cantik. Hidung dan mata itu adalah hidung
dan mata yang bisa kau temukan di mana saja. Dan aku bisa bilang kalau terlalu
banyak yang lebih indah apa lagi dengan orang-orang di dalam televisi.
Maafkan aku kawanku, kita tidak sedang membicarakan
semena-mena keindahan fisik. bukan, bukan sama sekali.
Ada keteduhan dan ketentraman yang memancar lembut dari
sana. Dan aku, yang
sedang terbius, begitu terbuai pancaran lembut itu.
Betapa senang dan bahagia ternyata tujuan kami sama. Kami sama-sama
memasuki gate yang sama. Apa lagi kabar yang lebih baik dari ini kawan. Bisa satu
ruangan dan mengawasi lebih lama dari yang kau duga.
Dan senyumku tak mau surut saat ternyata tempat duduknya
dalam pesawat tepat di belakangku. Hatiku berdesir saat telinga ini mendengar
ia berbicara melalu telpon genggamnya. Entahlah, mungkin orang tua atau
kakaknya, agar mendoakan agar dia dan kami semua satu pesawat selamat sampai
tujuan.
Dadaku menghangat. Betapa baiknya malaikat ini. Ia tidak
egois mendoakan dirinya sendiri, tapi kami semua. Berapa dari kita yang mampu seperti
itu?
Ketika berjalan keluar tubuh pesawat, menyusuri lorong
airport, dan menunggu bagasi, aku masih bisa melihat sosoknya.
“Bro, jemputannya udah nunggu di depan”
Teman seperjalannaku mengalihkanku, konsentrasiku
buyar, dan sosok itu benar-benar lenyap
dari sana. Butuh agak lama mata ini menjelajah panik mencar-cari diantara
kerumuna itu. Begitu ku temukan, sosok itu sudah berjalan menjauh.
Pundakku merosot. Menyisakan kecewa dan mengembalikanku pada
pojok dingin dan gelap itu lagi.
Dari pojok itu aku mendongak, seberkas cahaya kecil jatuh di
lantai di hadapanku. Berkas tipis yang sangat redup. Aku tersenyum. Tersenyum lebar
sekali, seperti anak kecil sedang berhadapan dengan lolipop besar yang
sebentarlagi bisa ia raih.
Setidaknya kami satu
kota saat ini. Itulah satu-satunya informasi yang kupunya saat ini.
Biar lah kawan. Biarkan langkah-langkah, alunan waktu dan
jalinan sang takdir bergurau dengan caranya. Seperti saat dia membiarkanku
kelaparan siang ini. Membuat aku harus mengantri di depan penjual roti dan
sosok itu melangkah di sana.
Biarkan sang takdir bermain dan tertawa-tawa. Yang nantinya
akan membuat kami saling bertemu dan mengingatkan, atau harus saling melupakan.
Aku terlalu naif?
Ah biarlah.
Yang ku tahu sekarang, dari sudutku ini. Berkas cahaya itu
sangat redup, tapi cukup terang untuk membuat wajahku berseri.
(27 malam hari di bulan ke 8 th ke-15)