“Itu ya anak yang kemarin jalan bareng Ryan?”
“Ih, ngga banget ah,”
“Biasa aja,”
Tiba-tiba pagi itu sekolah ramai oleh celotehan dengan nada sama seperti di atas. Kaget, tak percaya melecehkan dan sejenisnya.
Becca sebenarnya tak terlalu peduli. Ia lebih memilih memasang ear set ketika memasuki kelas lalu bersegera duduk di kursinya, di pojok belakang dekat jendela. Ia mengencangkan volume HP yang lagunya sudah di update tadi malam. Ayahnya akhirnya mengizinkannya mengakses fasilitas internet di rumahnya.
Ia menyibukkan diri menunggu bel masuk dengan mengecek PR yang tadi malam ia kerjakan, ia menghalangi dunia luar mengusik dirinya. Ia tidak mau ambil pusing, toh di sekolahnya yang lama juga ia diperlakukan sama. Anak-anak ‘normal’ lainnya sering membicarakannya di belakang. kadang lebih pedas.
Ada satu lagi kejadian pagi itu yang membuat sekolah lebih heboh.
Seorang anak kelas X (dia tinggal kelas, harusnya sudah kelas XI) yang baru keluar dari rumah sakit dan kena sanksi skors masuk sekolah.
Bahkan pak satpam terlihat muak ketika anak ini melangkah melewati gerbang sekolah. Anak-anak yang tak sengaja berpapasan dengannya terpaksa menunduk. Tak ada yang berani menatap langsung wajahnya. Kalau bisa memilih mereka lebih suka mengambil jalan memutar atau bahkan berhenti agar tidak berpapasan atau searah dengan anak ini.
“Yogi!” Pak Seno berteriak dari ruang guru.
Yang dipanggil Yogi menoleh, mencari sumber suara.
“Sini kamu!” agak membentak, sambil melambaikan tangan.
Anak itu beringsut kesal.
“Ya pak,” katanya.
Sekali lihat kau tidak akan suka mendapat tatapan seperti itu. Ada sesuatu yang salah dengan anak ini. Pak Seno bisa merasakannya. Bertahun-tahun menjadi Guru BP ia menjadi tahu mana anak yang masih bisa ‘diperbaiki’ mana yang tidak. Yogi adalah yang terakhir.
“Kamu tahu kan ini peringatan terakhir dari sekolah?”
Yogi mengangguk, malas menjawab.
“Bapak ngga mau memanggil kamu ke ruang BP lagi, karena itu artinya kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini. Itu perjanjiannya dengan orang tuamu,”
Pak Seno mengeluarkan semua aura intimidatifnya, berusaha agar Yogi mau menurut. Ia sudah bersiap marah kalau ternyata anak ini masih sulit diatur.
“Baik pak,” Jawab Yogi.
Pak Seno mengerjap, tak siap dengan jawaban Yogi, sehingga terdiam. Nampak kebingungan dan kehilangan wibawanya sejenak.
“Saya sudah boleh ke kelas?” tanyanya, sopan.
Pak Seno mengangguk akhirnya, setelah terdiam beberapa detik.
Yogi mencium tangan Pak Seno lalu melangkah menuju kelasnya, meninggalkan wajah pak Seno yang masih terkejut.
Pintu kelas terbuka, Yogi melangkah.
Kepalanya plontos potongan Tamtama. Badannya tidak bisa dibilang tinggi besar, tapi seperti rata-rata anak laki-laki lainnya. Namun dari balik seragam putih abu yang tak pernah ia masukkan itu ototnya terlihat padat. Mungkin karena sering tawuran dan berantem badannya terbentuk seperti itu.
Menurut desas desus, tahun lalu dia pernah memasukkan empat kakak kelasnya yang hendak memberinya pelajaran karena tidak ikut MOS ke rumah sakit, dan baru keluar seminggu kemudian. Bagaimanapun ‘menangani’ empat orang sekaligus bukan perkara mudah. Walau ia juga mendapat luka di mana-mana.
Entah benar atau salah desas desus itu, yang pasti, sebulan yang lalu ia memimpin penyerangan ke sekolah tetangga. Hasilnya ia masuk rumah sakit karena luka-luka yang serius. Itu membuatnya di rawat selama tiga minggu, plus skors seminggu sebagai hukuman.
Hal itu cukup membuat seisi sekolah menjauh dan tak mau mencari masalah dengan anak ini. Ia melangkah, menembus barisan kursi menuju kursi belakang.
“Ini kursi gua,” katanya.
Becca mendongak.
Anak-anak di kelas terdiam.
Becca dengan tenang melepas headsetnya, “sorry?” katanya.
Yogi menatap tajam anak ini. Mood-nya sedang tidak enak gara-gara tadi Pak seno membentaknya pagi-pagi. Jangan sampai anak ini jadi korban.
“Ini kursi Gua!” katanya, kali ini agak membentak.
Beberapa anak yang kebetulan lewat situ berhenti, menonton.
“Aku sudah duduk di sini sejak sebulan yang lalu, pojok sana kosong, kalau kamu mau,” jawab Becca.
Kelas terdiam.
Wajah Yogi memerah. Ubun-ubunnya terasa panas.
“Tahu ngga, si Yogi itu udah masuk hari ini katanya,” kata Rudi.
“Yogi mana?” tanya Ryan.
“Yogi yang itu, masa ngga tahu?”
“Ooh,” Ryan mengangguk pura-pura tahu, padahal tidak.
“Eh Lu tau Becca ngga?” Tanya Ryan.
“Becca mana?”
“Yang pindahan itu,”
“Oh Rebecca anak X-B, yang namanya bule tapi tampangnnya ngga?”
“Lu tahu?” Ryan antusias.
“Hmm, dia anak aneh yang ngga punya temen kan? Di kelas juga ngga ada yang nyapa, katanya kalau diajak ngobrol juga ngga nyambung. Gitu sih,” Rudi selalu bisa diandalkan kalau mengenai hal-hal seperti ini. Bagi Ryan yang kuper, berteman dengan Rudi adalah berkah yang tiada tara.
Mereka berbelok dari arah kantin lalu menemukan ada kelas yang ramai dijejali anak-anak.
“Ada apaan sih?” bisik Ryan.
“Gatau, “ Rudi bergegas, ia tak ingin ketinggalan, pasti ada hal yang seru.
Ryan mengintip dibalik kerumunan, menemukan Becca sedang berhadapan dengan seorang anak laki-laki berambut cepak.
“Ini Kursi Gua!” bentak anak cepak itu.
“Aku sudah duduk di sini sejak sebulan yang lalu, pojok sana kosong, kalau kamu mau,” jawab Becca.
Yogi mencengkram lengan kanan Becca!
Pulpen yang tadi ia peganng terpental ke lantai.
“Pindah ngga lu!” geram Yogi.
Seisi kelas dan anak-anak di luar yang menonton terdiam, tak ada yang bergerak.
Becca meringis kesakitan.
“Woy panggil guru, “ seseorang berbisik.
“Lu mau mati?” sesorang lagi berbisik.
Kemudian mereka sama-sama sadar, jangan ikut campur jika ingin selamat.
“Mati tuh anak…” Rudi berbisik.
“Pokoknya lu jangan berurusan sama anak cepak itu ya, Yan,” bisik Rudi lagi.
“Cowok ngga boleh nyakitin perempuan,” Ryan sudah berdiri di antara Becca dan Yogi.
Tangannya mencengkram tangan Yogi yang mencengkram tangan Becca.
Becca masih meringis, dia hampir nangis.
Rudi menjerit tertahan. sejak kapan Ryan ada disana!
“Lepasin!” suara Ryan terdengar serius, cengkaramannya mengencang.
Yogi menegadah menahan sakit, menatap tajam Ryan yang beberapa centi lebih tinggi darinya.
Detik berikutnya, kerah Baju Ryan dijambak Yogi, walau tubuhnya besar ia terdorong ke belakang, menabrak meja. Ryan terkesiap kaget. Tenaga anak ini ngga main-main.
“Mau cari gara-gara?!” desis Yogi didepan hidung Ryan penuh nafsu.
Ryan nyaris jatuh untungnya dia masih bisa menahan kuda-kudanya.
Ryan bisa melihat jelas guratan wajah Yogi, matanya tajam seringainya mengerikan dan mengintimidatif. Cukup membuat anak cupu kencing di celana.
“A.. aku pindah, “ desis Becca. Air mata tipis melapisi bola matanya.
Ia buru-buru membereskan tasnya lalu pergi ke kursi lain.
Bell masuk berdering.
Ryan dan Yogi masih saling bersitatap tegang.
Yogi melepas cengkramannya, Ryan terbatuk. Yogi kemudian menaruh tasnya dan duduk.
Ryan berusaha membenarkan nafasnya, lehernya terasa sakit. Yogi ini, walau badannya lebih kecil, nyalinya besar sekali. Beberapa kali Ryan menghadapi berandal di SMP, biasanya anak yang lebih pendek darinya akan merasa gentar, tapi anak ini tidak sama sekali.
Kali ini Ryan tak peduli, ia tak meu memperpanjang urusan dengan Yogi. Ia segera menuju Becca.
“Kamu ngga apa-apa?”
Becca menggeleng, ia sudah manghapus air matanya.
“Kamu harusnya nurut saja pindah, ngga perlu kaya gini,” bisik Ryan.
Becca mengangguk. Ia masih bergetar karena ketakutan.
Rudi menghampiri.
“Lu ngga apa-apa, Yan?” tanya Rudi khawatir.
Guru masuk ke kelas itu, anak-anak mulai mengisi kursinya masing-masing. Kerumunan depan kelas membubarkan diri.
“Nanti istirahat aku ke sini lagi,” kata Ryan sambil mengelus kepala Becca, kemudian pergi.
“Beneran ngga apa-apa?” suara Rudi terdengar menjauh.
Becca masih kaget. Dia tidak takut pada Yogi, ia hanya kaget tiba-tiba dibentak lalu tangannya dicengkram seperti itu. Ia mengelus lengannya yang memerah bekas dicengkram.
Ia juga merasa tidak enak karena nyaris ada perkelahian karena dirinya, untung dia langsung bilang segera pindah kalau tidak, akan jadi apa tadi. Tangannya masih gemetar padahal ia sudah berusaha menormalkan nafasnya.
Yogi menghembuskan nafas. Tangannya masih bergetar, sisa adrenalin masih mengaliri darahnya.
Sialan!
Ia kira barusan ia akan benar-benar berkelahi lagi.Tangannya sudah tinggal sedikit lagi mengayun menonjok anak bongsor tadi. Untung bisa ia tahan. Sebenarnya Ia tak mau dikeluarkan dari sekolah. cukup sudah ia di marahi guru-guru, tak mau hingga Ayahnya juga ikut-ikutan marah.
Tapi anak perempuan ini benar-benar mebuatnya kesal. Tambah lagi anak bongsor sialan yang sok jadi pahlawan kesiangan itu. Untung bell masuk segera berbunyi dan anak itu mau pindah.
Benar-benar deh. Padahal ini hari pertama Yogi masuk sekolah.
Yogi menghembuskan nafas (lagi).