Dingin menggigit. Hahaha. Bisa-bisanya aku buka tulisan ini
dengan dua kata pasaran. Apa karena jemariku sudah tidak lentik lagi di antara
tuts-tus ini. Atau memang sulit bagi jari ini untuk berpadu padan dengan
imajina.
Alah, so so kepingin terlihat pandai merangkai kata saja kau
ini. Mengaku saja kalau pingin nya saja punya tulisan bagus, di baca banyak
orang dan mendapat pujian dari mereka, tapi malasnya ngga ketulungan untuk
menulis.
Toh pujian itu hanya akan terasa beberapa detik saja. Hanya teresap
sekejap, lalu menghilang tawar lagi. tak merubah aroma tulisanmu sama sekali. Seperti
kabut di pagi hari. Ada tidak ada kabut, pagi tetap saja dingin. Dan pendiam.
Tuh kan ngaco lagi, malah bahas pagi yang pendiam. Lebih pendiam
malam lah dari pada pagi. Apa lagi malam-malamku. Sepulang bekerja hanya
sepetak kamar yang menyambut. Jengkerik pun enggan berderik. Apa lagi petasan
dan hingar bingar lainnya.
Halah, malah curhat.
Ya sudah. Lumayan juga ya tulisan ngelantur ini. Padahal baru
duduk kemudian membiarkan jemari—ah mulai agak kembali lentik lagi dia—ini menari,
sudah banyak kata yang ditelurkan dan menetas menjadi serangkaian kalimat yang
agak bersahutan.
Lumayan lah. Setidaknya malam minggu ini tidak sekosong
malam minggu-malam minggu sebelumnya.
Kosong sekosong suara hembusan nafas dan debar jantung, yang
menggaung sendirian tanpa ada yang mendengar, juga tidak saling dengar, juga tidak
saling peduli. Dan memang mereka tak pernah perduli. Walau jarak paru dan
jantung hanya setengah langkah anak semut saja.
Tuh kan ngaco lagi, Malah sekarang jadi melankoli.
Biar lah, Sekali-sekali.
(Di ketik dalam waktu kurang dari 5 menit di dalam ruangan,
di atas pulau Batam. Sekali sunting, lalu posting. Hehehe, keterangan ini ga
penting)