20150207

Catatan Ngelantur (a.k.a. malam minggu sepi)

Dingin menggigit. Hahaha. Bisa-bisanya aku buka tulisan ini dengan dua kata pasaran. Apa karena jemariku sudah tidak lentik lagi di antara tuts-tus ini. Atau memang sulit bagi jari ini untuk berpadu padan dengan imajina.

Alah, so so kepingin terlihat pandai merangkai kata saja kau ini. Mengaku saja kalau pingin nya saja punya tulisan bagus, di baca banyak orang dan mendapat pujian dari mereka, tapi malasnya ngga ketulungan untuk menulis.

Toh pujian itu hanya akan terasa beberapa detik saja. Hanya teresap sekejap, lalu menghilang tawar lagi. tak merubah aroma tulisanmu sama sekali. Seperti kabut di pagi hari. Ada tidak ada kabut, pagi tetap saja dingin. Dan pendiam.

Tuh kan ngaco lagi, malah bahas pagi yang pendiam. Lebih pendiam malam lah dari pada pagi. Apa lagi malam-malamku. Sepulang bekerja hanya sepetak kamar yang menyambut. Jengkerik pun enggan berderik. Apa lagi petasan dan hingar bingar lainnya.
Halah, malah curhat.

Ya sudah. Lumayan juga ya tulisan ngelantur ini. Padahal baru duduk kemudian membiarkan jemari—ah mulai agak kembali lentik lagi dia—ini menari, sudah banyak kata yang ditelurkan dan menetas menjadi serangkaian kalimat yang agak bersahutan.

Lumayan lah. Setidaknya malam minggu ini tidak sekosong malam minggu-malam minggu sebelumnya.

Kosong sekosong suara hembusan nafas dan debar jantung, yang menggaung sendirian tanpa ada yang mendengar, juga tidak saling dengar, juga tidak saling peduli. Dan memang mereka tak pernah perduli. Walau jarak paru dan jantung hanya setengah langkah anak semut saja.

Tuh kan ngaco lagi, Malah sekarang jadi melankoli.

Biar lah, Sekali-sekali.


(Di ketik dalam waktu kurang dari 5 menit di dalam ruangan, di atas pulau Batam. Sekali sunting, lalu posting. Hehehe, keterangan ini ga penting)