20160313

Jum'at ..


Sore itu sebenarnya sama saja seperti senja-senja lain yang sering aku lewati.  Langitnya masih sama cemberut, awan centilnya masih terpapar cahaya jingga, burung-burung yang entah nama species-nya apa masih sedang  kembali ke peraduan mereka seperti biasa, jalanan juga mulai mampat oleh mobil dan motor seperti sore-sore kemarinnya.

Semuanya terlihat sama saja.

Kecuali, ya kecuali, mungkin hanya perasaanku saja yang sedikit menjadi pengecualian.

Aneh. Sepercik perasaan karena sepersekian detik kejadian yang bahkan tidak kita duga membuat dunia yang keadaanya persis sama seperti hari lainnya terasa sangat berbeda.

Seorang anak kecil yang baru mendapat hadiah lolypop dari orang tuanya akan melihat dunia yang ia tempati menjadi bak taman bermain. Begitu juga seorang istri yang baru mendapat transferan gaji dari suaminya akan tersenyum sangat lebar dan merasakan rumah yang sebelumnya pengap dan sempit menjadi istana indah nan luas.

Dalam kasusku, kejadian kecil tadi siang membuatku tak bernafsu melakukan apa-apa hari ini. Beberapa kali dibentak bos  karena satu dua hal luput dari perhatianku sehingga data yang ia sajikan dalam rapat direksi tidak akurat. Dodi sahabat baikku yang selalu bersedia mengejekku tanpa diminta menjadi tak berhasrat meledekku hari ini.

“Hhhh… “ aku menghela nafas panjang.

Dodi muncul di sebelahku sambil membawa dua mug kopi hitam yang masih mengepul  ditangannya, menyerahkan salah satunya.

Aku menerimanya, menggengam mug hangat itu.

Tanpa kata, tanpa suara, Ia berdiri di sana, mengikuti arah pandanganku dan menghirup udara yang aku hirup, turut merasakan suasana yang sedang kurasakan. Walau mungkin cara dia merasa berbeda denganku.

Hadirnya sahabatku di situ merupakan dukungan yang  membuatku merasa jauh lebih baik. Membuatku merasa tidak sendirian.

Aku menghirup aroma  kopi ini. Bau khas menggelitik rongga hidung. Setelah kuisap sedikit, kubiarkan cairan kental pekat pahit itu menggenang di antara lidah hingga dingin, lalu ku biarkan meluncur membasahi pipa kerongkongan yang berakhir di dasar lambung.    

Dodi menyalakan filternya. Kemudian menawarkan sebatang padaku.

“Sekali-sekali, “ katanya menghembuskan keraguanku karena sudah lama absen.

Aku membiarkan api merah itu menjilat ujungnya. Sensasi itu muncul lagi, hirupan  itu merambat melalui mulut yang barusan basah oleh pekatnya kopi hingga menelusurii seluruh rongga dada. Hembusan berikutnya menghasilkan paparan asap putih yang sangat kukenal.

Harus kuakui, sensasi nikotin nakal itu muncul lagi tanpa bisa dibendung. Menari-nari sambil menertawakan periode keabsenanku selama ini.

“Mendingan?” tanya Dodi sambil memandang hamparan jalan raya yang makin sesak di bawah.

Aku mengangguk pelan, sambil menghembuskan asap ke duaku sore ini, membuat sebentuk huruf O.

Bunyi klakson bersahutan dari bawah. Lampu merah sudah menghijau tapi mobil paling depan tak kunjung bergerak. Jumat sore memang gila.

“Sakit, Dod,” kataku akhirnya.

Pengakuan itu seperti mengeluarkan semua sesak yang menyumbat dadaku seharian tadi.

Yang diajak bicara diam saja.

Sama seperti semua orang yang sedang patah hati, sebenarnya kami tak perlu jawaban. Hanya butuh yang mendengarkan.

“Mungkin gua salah baca sinyal, atau terlalu cepat ambil inisiatif, ya?”

“Atau kualitas gua yang masih kurang untuk seorang yang sempurna kaya dia?” tambahku.

Dodi mengesap mug kopinya.

“Cowok emang gampang Geer. Kampret!” umpatku kesal, kesal pada diriku sendiri.

“Kampretnya, harapan yang gua bayangin itu indah banget, terlalu indah malahan. Jadi, pas ngga kejadian kaya gini, rasanya….” Kalimatku tersangkut, entah dimana.

“Harusnya gua ngga usah bilang.”

“Harusnya…. Sekalian ngga usah suka sejak awal,”

“Ngga usah merhatiin dia tiap jam 8 lewat 5 pagi mampir ke lantai kita, ngga usah tau nomer HP nya, ngga usah stalking-in path sama IG nya, malam itu ngga usah nerima ajakan dia naik taksi bareng, ngga usah ngajak ngobrol, ngga usah PDKT sana-sini, ngga usah ngajak jalan, ngga usah ngajak nonton. “

“Ngga usah ngelakuin itu semua,” tandasku kesal.

Aku menghisap rokok ini, kali ini lebih kuat, rona merah menyala lebih terang diujungnya, asap yang keluar menjadi lebih banyak dan lebih pekat.

Angin yang menggerakkan ujung dasiku juga mengacak-acak rambutku. Besok mungkin aku butuh cukur rambut, bisikku.

“Jadinya gua ngga usah ngerasa sesakit ini,” desahku akhirnya, menyerah.

“Kampretnya, udah ditolak kaya gitu lu masih aja suka,”  Dodi angkat bicara.

“Kampret!” umpatku.

Dodi menatapku sambil tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum. Kami berdua saling nyengir.

Lucu memang perkara perasaan ini. Sudah tersakiti masih saja mengharap. Sudah jelas-jelas tak ada harapan, masih saja mengharap akan harapan. Sesak sekali rasanya.

“Yang kaya gini ngga bisa dipaksain,” imbuh Dodi.

“Mau seganteng apapun, sebaik apapun, seberharap apapun, sengebet apapun, seindah apapun bayangan lo, perasaan kaya gitu ngga bisa lo paksain,”

“Ngga ada yang bisa maksain perasaan,” tambahnya.

Aku tahu itu, aku paham diluar kepala. Aku sudah khatam banyak buku tentang cinta, versi psikolog, kimia, sastra, bahkan versi religi. Name it lah. Tapi rasanya masih aja tetep sakit. Ngga bisa dilawan.

“Coba lu diposisi dia,” kata Dodi ringan. “Emang lu mau maksain perasaan lo?”

Gua terdiam.

Berusaha mengurai pertanyaan Dodi. Ego membantah, harusnya dia mau coba dulu. Toh tidak akan rugi. Aku akan sekuat tenaga untuk tidak membuat kecewa. Lagi pula, kata teman-temanku aku baik, gentle, jujur, humoris, setia. Semua kriteria cowok baik ada padaku. Apa lagi yang dicari seorang cewek?

Ketika hendak membalas pertanyaan Dodi, HP ku berdering.

Ratih?

“Halo, sore Tih? Ada yang bisa gua bantu?” kataku, kaget juga anak bagian Media ini tiba-tiba menelpon. Seingatku, kami hanya pernah beberapa kali ikut acara nonton bareng dan pernah sekali satu taxi. Tapi itu sekitar 3 bulan yang lalu. Sisanya hanya chit-chat hambar via office communicator, itu pun di jam kantor.

“Nemenin beli baju?”

Dodi memasang pandangan menyelidik ke arahku. Aku tak suka pandangan itu.

“Oke. Nanti gua yang jemput atau...”

“Ow, okay…. Yap.”

“Bye.” Akhirnya sambungan terputus.

Aku menatap Dodi. Dodi menunggu.

“Ratih ngajak jalan besok.”

“Berdua doang,” tambahku masih tak percaya.

Seberkas senyum terbit di bibir Dodi. Sial, aku tidak suka senyumnya kali ini.

“Perlu gua jelasin maksud ‘berdua’ nya?” Dengan penekanan di kata ‘berdua’.

Aku melempar padanganku pada jingganya langit. Ujung matahari mulai mencium dasar langit. 

Aroma sore itu makin redup. Burung-burung sudah menghilang. Malam sedang pada persiapan akhir untuk tampil.

Laki-laki waras manapun tahu arti ‘berdua’ itu.

“Bisa kah lo seketika maksain untuk suka sama Ratih? Dia lucu, baik... ” tandas Dodi sambil menerawang langit senja itu.

Aku diam. Kali ini lebih memilih untuk menghabiskan bantang rokok yang tinggal setengah ini. Aku tak sanggup menjawab pertanyaan barusan.

Kopi di dalam mug sudah dingin. Hembusan asap rokokku terurai terkena hembusan angin sore.


Perkara perasaan ini. Kenapa menjadi rumit begini?

(Bersambung...)