20141201

Ayah Pulang

Jalan semen itu masih menyisakan genangan airnya, keruh bercampur tanah merah.  Katak-katak keluar berenang-renang. Angin menyusup di antara kolong-kolong pasak rumah. Perahu yang tertambat masih basah dan bergoyang pelan naik turun. Langit kelabu, terpantul di atas hamparan sungai yang beriak-riak.  

Beberapa burung memilih melayang memeriksa permukaan sungai yang mulai dipenuhi lagi anak-anak ikan. Tampaknya hujan besar sudah reda, menyisakan gerimis-gerimis ramah. Aku berdiri, bertalanjang dada dengan celana club Juventus kumal yang setengah basah. Kakiku memijak jeramba kayu yang mulai lapuk berpadu air hujan.

Di kejauhan muncul titik bergerak mendekat dan membesar. Sebuah perahu dari kayu berukuran sedang, cepat membelah sungai besar kami yang lebarnya tak kurang dari satu lapangan sepak bola, meninggalkan gelombang yang merambat menggerak-gerakkan permukaan sungai. Anak-anak yang sedang berenang-renang kesenangan karena ombak buatan itu. Ibu-ibu berteriak memarahi anaknya yang nekat melompat ke air. Yang dimarahi malah kesenangan di tabrak-tabrak gelombang. Kakek-kekek mengeratkan pegangannya pada jamban, berharap tidak jatuh lagi seperti sore kemarin.

Aku tersenyum senang. Berlari ke ujung jeramba, sambil berjinjit melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Di atas atap perahu itu Ayah duduk dengan rambut terbawa angin. Kemejanya sengaja tida kia kancingkan, menampakkan singlet putih. Terlihat gagah. Senyum dari wajahnya, ada aroma hangat yang menembus paru-parunya. Aroma yang muncul dari suasana yang sangat ia rindukan. Suasana rumah.

Aroma pulang.


“Ayah lupa ya pesananku?” aku merajuk. Anak 6 tahun yang menunduk karena merasa dikhianati dihadapan laki-laki 40-an yang hendak melompat dari perahu ke darat. Satu bulan penuh aku menunggu hari ini. Menunggu ayah pulang membawakan set crayon lengkap yang jumlahnya 56 warna itu. Aku sudah membayangkan akan menjadi anak paling dikagumi di kelas karena benda itu.
Ayah menoleh, baru saja ia menurunkan barang-barangnya. Dari wajahnya kau bisa tahu kalau ia lupa akan janjinya itu.

“Orang baru datang sudah ditagih macam-macam,” kakek buru-buru menyambut tas dan karung besar yang di bawa ayah. Perahu dibelakangnya bertolak pelan setelah ayah menyerahkan uang lembaran biru pada kenek-nya. Benda itu lalu melesat cepat menghasilkan gelombang yang membuat jeramba kami bergetar.

Aku buru-buru beringsut mengambil ransel dari tangan ayah kasar sebagai bentuk protesku.

“Ayah lupo belikan Ujang crayon tu?” terdengar suara ibu dari dapur. Aroma goreng ikan memenuhi isi rumah.

Nenek meraih kresek yang aku tahu itu adalah baju kotor Ayah. Membawa benda itu ke sumur lalu terdengar suara air mengucur.

“Emang Ujang titip ya?” Ayah duduk di kursi setelah menanggalkan kemejanya, mencari buku untuk kipas-kipas. Matanya berkeliling, walau hanya sebulan, rasa kangennya selalu sama. Ia selalu merindukan rumah panggung miliknya, yang ia bangun sedikit demi sedikin menggunakan papan-papan dari hutan.

“Lah, bukannya Ayah yang janji kemarin?” ibu keluar sambil membawa teh hangat. Setelah meletakkan di atas meja ia mencium tangan ayah takjim.

Betapa kecewanya aku. Padahal aku sudah membayangkan akan mendapat nilai paling bagus dalam pelajaran menggambar. Di kampung kami hanya ada yang jual crayon 12 warna, itu pun seminggu sekali setiap kamis saat ada pasar keliling. Selainnya warung-warung di sini hanya jualan barang kebutuhan sehari-hari. Itu lah sulitnya hidup di desa terpencil, kalau butuh barang yang aneh-aneh harus menyebrang ke kota yang ongkosnya lebih mahal dari barangnya.

Nilaiku tidak ada yang bagus. Bahasa, IPS, IPA, apalagi MTK. Hanya pelajaran menggambarlah satu-satunya kesempatanku mendapat nilai 8, nilai paling besar yang diberikan pak Eka dalam sejarah pelajaran menggambar di sekolah SD kami.

Ayah menatapku lamat-lamat. Aku sedang meringkuk di pojok ruang tamu. Melalui jendela yang tebuka memandang burung-burung walet yang sesekali terbang menukik menuju permukaan sungai.
“Itu nanti saja, kamu masih ado pensil warna itu kan. Mari makan dulu, ayah sudah pegang-pegang perut dari tadi,” kata nenek sambil tersenyum. Seketika sudah terhampar makanan di meja. mengepul-ngepul hangat. Andai hatiku sedang tidak kesal, makanan hangat ini cocok sekali dengan suasana cuaca yang baru saja beres hujan ini.

Nenek tidak paham, kualitas warna dari pinsil warna berbeda jauh dengan crayon. Warna dari pinsil warna tidak secerah crayon, kesannya pun tidak sedalam crayon. Gambar dari pinsil warna terlalu hampa untuk membuat pak Eka memberi nilai 8.

Aku beringsut menuju meja makan. Sudah ada Ibu, ayah, kakek dan nenek. Di bawah si putih sudah duduk manis menanti tulang, nasi, daging, pokoknya sisa-sisa makana yang akan jatuh. Ia tak pernah pilih-pilih menu, kangkung goreng pun dilahapnya.

Aku tak selera makan. Hanya mengambil setengah jatah nasi, setengah ikan goreng. Padahal ini adalah menu kesenangan kami, aku bisa sampai tiga kali nambah. Tapi perut ini tak mau diisi penuh-penuh. Ibu melirikku, ia sadar tingkahku yang sedang merajuk ini. Matanya lalu terlempar pada ayah. Ayah menelan ludah.

Setelah selesai Ayah kembali pada teh manisnya, duduk di kursi dan bersandar pada dinding papan. Belum habis, ia menyalakan rokok lalu menghisapnya dalam-dalam, asapnya berlomba terurai keluar jendela.

Tak berapa lama listrik nyala, itu artinya sudah jam 5 sore. Di desa kami listrik hanya ada dari jam 5 sore hingga jam 7 pagi, itu pun kalau tidak mati lampu. Akhir-akhir ini dalam satu minggu bisa 2-3 malam mati lampu. Ayah otomatis sibuk mencari remot TV.

Saking kesalnya melihat tingkah ayah aku buru-buru masuk kamar. Padahal kakek sudah berteriak agar aku segera mandi. Sebentar lagi magrib dan aku harus sembahyang ke masjid dan mengaji setelahnya. Aku tak peduli, ku kunci pintu kamar dari dalam.

Aku kesal sekali, jelas-jelas sebulan yang lalu ayah sudah janji akan membawakan aku crayon 52 warna. Setelah lelah menunggu sebulan penuh, membayangkan angka 8 tertera di buku menggambarku, kecewa sekali rasanya ketika ayah pulang tanpa janjinya.

Aku membenamkan wajahku ke atas bantal. Kesal bercampur marah membuatku nangis seguk-segukan.

Lama tak keluar kamar akhirnya ibu iba juga. Ia mengetuk-ngetuk kamar.

“Jang, jangan merajuk gitu laah. Kamu kan lah besar, Ayah mungkin lupa karena banyak gawe di Pelembang. Kau tak lihat apa banya pesanan uwa-uwa yang harus di beli, jangan begitu lah sama Ayahmu,” Bisik ibu di belakang daun pintu. Aku tak mau menjawab.

“Mandu dulu lah ya, sebentar lagi haji Gede ngebang di masjid. Masa sembahyang badannya kotor kaya gitu.”

“Bujang nda mau mandi kalau ngga ada crayon tu!” aku berteriak saking kesalnya. Orang-orang dewasa itu sama sekali tak ada yang mengerti betapa besarnya perkara crayon ini bagiku. Ibu terkaget mendengar suaraku. Ia menatap Ayah.

Ayah urung mengesap tehnya yang mulai dingin. Batang rokok yang masih setengah di buangnya ke sungai. Layar TV yang menyiarkan lagu dangdut tidak lagi menarik perhatiannya. Ia beringsut pelan menuju kamarku.

“Jang, mandi dulu lah, nanti terlambat sembahyang kamu,” kata Ayah. Suaranya lembut dan dalam.

“Ayah tukang bohong, ingkar janji, munafik,” tambahku.

Kakek geleng-geleng kepala sambil tersenyum, bisa-bisanaya anak 6 tahun bilang kata munafik. Rupanya materi cermah sholat jumat kemarin benar-benar disimaknya anak ini dengan baik.

“Buka pintunya dulu, Bapak ada omongan,” kata Ayah berusaha.

Paling-paling ia berjanji akan membelikannya bulan depan saat pulang seperti sekarang ini. Pintu terbuka, wajahku yang sembab muncul antara celah pintu kayu. 

“Mandi dulu yuk, nanti malam kan Ujang ngga berani ke sumur karena gelap,” ejek ayah sambil tertawa. Ia mengusap kepalaku pelan-pelang. Aku masih memasang wajah kusut karena kesal, tak mau aku tertawa.

“Kenapa sih?”

“Ayah bohong. Katanya nda boleh bohong, dosa. Tapi ayah sendiri bohong terus.”

“Kan kalau lupa bukan bohong namanya,”

“Alasan saja, aku juga bisa alasan lupa setiap bohong biar ngga dosa,”

Ayah tergelak. Di tangannya tiba-tiba ada sebuah kotak berbungkus kado yang sangat bagus. Ayah menyodorkanya padaku.

Aku mendongak tak mengerti.

“Ujang hari ini 7 tahun kan?”

Aku terdiam, sama sekali tak sadar kalau hari ini aku berulang tahun. Kakek, nenek dan ibu menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan berirama. Tak kusangka seisi rumah berkomplot mengerjaiku habis-habisan.

Setalah meraih kado itu cepat aku buru-buru masuk kamar sambil membanting pintu.

“Mungkin dia baru mau mandi nanti malam,” Ibu berbisik yang dibalas senyum oleh Ayah.



20140331

Big Guy

Jam makan siang itu cafe kami ramai seperti biasa. Lantunan musik mengalun pelan menghantarkan para pelanggan menikmati makan siang mereka. Cafe yang ¾ nya penuh seperti ini artinya kesibukan buatku.
“Mohon tunggu maksimal 10 menit ya,” kataku dengan senyum terlatih. Pelanggan di hadapanku membalas senyum, kemudian aku melesat menuju jendela koki. Senyumku selalu berhasil. Kata Kyle, senyumku berhasil menarik lebih banyak pelanggan mengunjungi cafe kami.
“Menu 10 untuk meja 9, jangan terlalu pedas plus tambahan sayur,” teriakku sambil menjepit kertas pesanan pada tali yang menjuntai di sana.
“Oke!!” kata orang di sebelah.
Aku hendak bergegas menuju meja lain, Kyle menahan lenganku. Aku menoleh, anak rambutku terjatuh menutupi mata. Dengan gerakan tangan kiri singkat aku menyangkutkannya ke telinga sambil menarik ballpoint dari saku dengan tangan kanan dan menekan ujungnya  sehingga siap dipakai menulis.
“Lihat, raksasa itu datang lagi,” katanya setengah berbisik.
Lelaki besar, sekitar 180 cm dengan punggung agak bungkuk, stelan jas kusam, tas bahu, berjalan pelan sambil menunduk memasuki cafe kemudian mengambil kursi di pojokan dekat piano tua.
“Kenapa dia selalu duduk di sana ya?” tanyaku. Sejak sebulan di sini hanya lelaki ini yang selalu datang di saat makan siang dan selalu mengambil tempati duduk di tempat yang sama.
“Aku berani taruhan kalau pesanannya pasti akan sama. Air mineral botol tidak dingin.” Kata Kayle malas. Ia bergegas mendekati lelaki itu. Aku bergerak menuju meja lain yang diisi sepasang karyawan bank. Ekor mataku terus mengikuti Kyle, entah mengapa raksasa ini menarik perhatianku. 
“Sudah kubilangkan,” Kyle menujukan kertas pesanan raksasa itu di depan hidungku saat kami berpapasan di jendela dapur. Air mineral botol tidak dingin. Kyle menuju tempat minuman, mengambil air mineral lalu meletakkannya di atas nampan.
Kyle hendak bergegas menuju meja lain, aku menahan lengannya. Ia menoleh. “Biar aku saja,” kataku. “ Kau urus meja 9, harusnya pesanannya sudah siap,” Kyle mengangkat bahu.
Aku maraih nampan dengan air mineral botol tadi, lalu bergegas menuju meja pojok, melewati celoteh bercampur alunan radio dan deretan meja-meja yang penuh. Saat aku tiba lelaki ini sedang mengeluarkan sendok dan garpu pelastik dari plastik transparan yang membungkusnya, lalu membuka kotak bekalnya.
 Dari sini aku bisa melihat menu makan siangnya; nasi merah, sayur-entah namanya apa-rebus, seiris daging yang juga direbus dan sebuah jeruk yang terletak dalam petakan-petakannya. Aku mengerjap, menu orang ini sehat sekali, bahkan alat makannya steril dengan bungkus plastik itu.
Ia masih  sibuk mengeluarkan garpunya hingga tidak menyadari kedatanganku. Aku berdehem yang membuatnya mendongak. Dengan posisi yang seperti itu aku bisa melihat seluruh air wajahnya. Tidak ada yang istimewa. Maksudku, bentuk mata, hidung bibir dan apapun yang ada di sana sama dengan orang kebanyakan. Wajahnya adalah tipe wajah yang akan segera kau lupakan 5 menit setelah kau berpapasan. Hanya saja rambutnya tersisir rapi ke belakang, dan sangat klimis. Berapa banyak minyak rambut yang ia pakai ya?
“Sebotol air mineral tidak dingin,” kataku sambil tersenyum. Orang itu menunjuk samping kotak makannya acuh lalu kembali dengan garpunya yang belum beres.
Aku tersentak, lelaki ini tidak membalas senyumku. lelaki besar ini ia bahkan tidak melihat wajahku sama sekali  saat aku tersenyum tadi. Hanya menyuruhku meletakkan air mineralnya dengan isyarat telunjuknya.
Aku meletakkan air mineralnya, lalu memasang senyum yang lebih lebar dari tadi. Kali ini dia harus membalas senyumku.
”Selamat menikmati pesanannya, ” kataku masih sambil tersenyum.
Lelaku ini mulai menyantap makanannya, tanpa suara, serbet di kerah, dengan punggung tegak dan benar-benar mempraktikkan table manner. Tidak menggubrisku sama sekali. Aku berbalik lalu menuju Kyle dengan wajah kesal.
“Kau kenapa?” tanya Kayle.
“Raksasa itu menyebalkan sekali,” kataku ketus sambil mengencangkan ikatan rambut ekor kudaku. Kyle tertawa.

“Tiga, dua, satu,” Kyle sambil melihat jam tangannya. Raksasa itu berdiri lalu berjalan menuju pintu dan menghilang di jalanan. “Selalu 15 menit, tidak pernah lebih atau kurang sama sekali.”
“Dia tidak bayar?”
“Ia menaruh uangnya di bawah botol air mineral yang sudah kosong, dan selalu tanpa tips,” cafe sudah lumayan sepi, aku dan Kyle sedikit santai. “Tuh kan,” kami berdua mengangkat  bekas  makan raksasa itu. Semuanya bersih, tak ada remah apapun yang jatuh. Hanya ada sisa botol air mineral yang telah kosong sama sekali.
“Dia ini robot atau apa sih,” aku mengekerutkan dahi. Kyle lagi-lagi tertawa melihatku.

Besoknya di jam yang sama raksasa itu datang lagi. Aku mengencangkan ikat rambutku, menyangkutkan anak rambut ke telinga, lalu menaikkan lengan panjangku hingga siku. Kali ini aku harus bisa membuatnya membalas senyumku. Aku sudah sikat gigi tiga kali pagi ini.
“Apapun yang akan kau lakukan, jangan sampai membuatnya ketakutan ya,” Kyle nyengir. Tau betul aku akan melakukan apa saja kalau sudah menginginkan sesuatu.
Lelaki itu mendongak, “Sebotol air mineral tidak dingin,” kataku sebelum ia membuka mulutnya. Aku sengaja  memasang senyum selebar yang aku bisa. “Ada lagi?” senyum itu masih tersangkuti di sana.
Lelaki itu gelagapan lalu menggeleng. Dan ia tidak membalas senyumku. Malah mulai sibuk dengan peralatan makannya lagi, seperti kemarin.
Aku mengerjap tak percaya.
Aku berbalik dan melangkah cepat. “Gagal ya?” Kayle terkekeh melihat wajahku. Aku bergegas mengambil air mineral lalu mengangkatnya ke atas nampan dan menuju ke meja itu lagi.
“Silahkan, ada tambahan lagi?” laki-laki itu mendongak, menggeleng, melanjutkan menyantap bekalnya.
Kekesalanku sudah di ujung ubun-ubun.
“Tidak bisa kah anda membalas senyumku atau bilang terima kasih?” bentakku, aku keceplosan. Haram hukuknya menghardik pelanggan. Untungnya kata-kataku hanya cukup untuk didengar kami berdua, kalau Kyle dengar, dia bisa marah besar.
Lelaki itu mendongak lalu mengerjap.
“Maafkan saya, saya tidak bermaksud tidak sopan,” bukannya marah karena diperlakukan tidak sopan, ia malah memasang ekspresi menyesal.
Aku mematung, bukan karena ekspresinya yang aneh tapi karena suaranya yang amat kecil dan lebih terdengar seperti suara perempuan dari pada suara laki-laki. Bagaimanapun dengan badan sebesar ini, kenapa suaranya malah aneh.
Detik berikutnya aku berlari kamudian tertawa habis-habisan hingga terduduk bersandar di balik pintu toilet. Si raksasa kebingungan ditinggal, Kyle menyernyit mendengar tawaku samar.

Aku menaruh air mineral botol di hadapannya (hari berikutnya).
Dia mendongak bingung.
“Pesananmu ini saja kan?” kataku sambil tersenyum.
Wajahnya memerah malu, lalu mengangguk pelan.
Aku menarik kursi lalu duduk di hadapannya. Memperhatikannya dengan penuh antusias. Hey wajarkan kalau aku tertarik dengan orang ini. Jam makan yang selalu tepat waktu, menu makan yang selalu sehat, alat-alat makan yang steril. Jarang sekali ada orang yang seperti ini. Lagi pula siang ini aku tidak terlalu sibuk, cafe sedang sepi.
Dia mendongak, lalu wajahnya memerah karena malu. Aku tersenyum.
“Kau kerja di sekitar sini ya?”
Ia mengangguk, tangannya kikuk memotong sayuran rebusnya kecil-kecil.
“Di mana?”
“Kantor akuntan, dua blok dari sini,” katanya.
“Ooh akuntan, pantas saja,” kataku.
Ia meneruskan kegiatan memotongnya. Kali ini telur mata sapinya yang sedang ia potong kecil-kecil.
“Kau selalu menggunakan sendok dan garpu steril itu ya?” ia mengangguk, masih sambil memotong.
Orang ini benar-benar sulit diajak ngobrol. Masa hanya bicara saat ditanya saja.
“Kenapa?”
“Higienis, jadi aku bisa makan tanpa takut kena diare,” katanya polos.
Aku melongo. Orang ini benar-benar deh.
“Kalau seluruh orang sepertimu, rumah sakit akan kosong,” komentarku.
Wajahnya memerah.
“Kenapa kau hanya memesan air mineral tiap kali ke sini?”  aku penasaran.
“Aku suka suasana di sini, tapi aku sudah membawa bekal, jadi satu-satunya cara agar aku bisa menyantap makan siangku di sini adalah dengan memesan air mineral,” katanya polos.
Aku tercenung. Lalu tersenyum. Bahagia sekali ada yang merasa betah di cafe kami.
“Baiklah, aku harus bekerja lagi nih. Selamat menikmati makan siang nya,” aku tersenyum riang.
Ia mengangguk lalu membalas senyumku.
Aku terdiam, ini kali pertama ia membalas senyumku.
“Akrab banget,” Kyle melengos membawa piring-piring kosong ketika tiba di counter.
“Apaan sih,” aku tersenyum malu sambil merapihkan ikatan rambut.

“Mba ngga pernah keliatan kalau malam,” raksasa itu bertanya, agak gugup, saat aku mengantarkan pesanan rutinnya. Ntah sejak kapan orang ini mulai memanggilku ‘mba’.
“Mas nya juga ke sini kalau makan malam?” tanyaku. Dan entah sejak kapan aku memanggilnya ’mas’.
Ia mengangguk malu.
“Terima kasih telah menjadi pelanggan loyal cafe kami,” kataku. “Mas nya ngga mau coba menu andalan kami? Roosted chicken belly?” kataku. Rasanya sangat enak, aku ingin orang ini merasakan menu cafe kami yang lain selain air mineral.
Ia menggeleng. Orang ini benar-benar sekokoh tebing batu.
“Kenapa musiknya berhenti?” tanyanya.
Kepalaku berkeliling mencari sosok Kyle, ia sedang memanggil teknisi untuk memperbaiki sistem streo Cafe kami. Mungkin ada kabel yang copot.
“Mungkin ada masalah pada sound sistemnya, sedang kami usahakan agar bisa normal kembali. Maafkan kami ,” kataku.
“Piano ini rusak ya?” tanyanya tiba-tiba.
“Hah?” aku kaget ditanya dengan pertanyaan tak terduga itu. “Aku tidak tahu, sejak aku mulai bekerja di sini sebulan yang lalu, piano itu sudah ada di sana. Dan tak ada seorang pun yang pernah  menyentuhnya,” jelasku.
Lelaki itu berdiri lalu bergerak mendekati piano itu.
“Kau mau apa?” kataku panik. Aku takut lelaki ini merusak benda itu. Piano kan tak ada yang murah.
Ting!!
Sebuah tuts di tekan, suaranya menggema memenuhi ruangan. Semua orang menoleh.
Aku segera berlari menuju lelaki itu. Apa yang dia lakukan? Aduh, jangan membuat pelanggan lain terganggu dong.
Jemari  tangannya mulai menari. Sebuah lantunan mengalun. Lembut, tenang dan indah. Langkahku terhenti.
Lelaki itu, dengan mata terpejam memainkan sebuah simfoni yang aku tak tahu apa tapi jelas-jelas sangat indah dan membuat semua pelanggan di sini terpesona. Bahkan mulut Kyle menganga. Jangan-jangan akuntan hanya pekerjaan sampingannya. 
Permainan selesai, tepuk tangan bergemuruh. Lelaki itu turun dengan kikuk dan wajah memerah.
“Aku tak menyangka kau bisa main piano,” kataku terpukau.
Ia menggaruk-garuk kepalanya, “waktu kuliah aku ikut club musik klasik,” katanya.

“Ah masa?”
“Ia nampaknya merasa sangat menyesal kau tak ada. Ia bahkan tetap di sini lebih dari setengah jam, ini baru pertama kalinya,”
Aku mengerjap. Masa iya?
“Kali ini kau harus menghantarkan air mineral ini padanya, sebentar lagi jam makan siang,” Kata Kyle.
“Kemarin mba ke mana?” katanya, tatapannya membuatku merasa benar-benar bersalah.
“Ada urusan mendesak. Pesanannya ini saja?” kataku sambil tersenyum tidak enak.
“Kau tahu, raksasa itu terlihat kecewa saat aku mengantarkan pesanannya kemarin, bukan kamu,” kata Kyle saat aku menuju jendela koki. “Ia bahkan duduk di sana lebih lama dari biasanya.”
“Mungkin ia suka padamu,” tambahnya.
Pipiku menghangat. Ada apa ini?

“Saya pesan Roosted chicken belly,” katanya polos.
Aku mendongak tak percaya. Air mineral itu hampir saja jatuh menggelinding dari meja.
“Masnya tidak membawa bekal?”
“Tadi saya buru-buru. Lagi pula, sekali-sekali keluar dari kebiasaan kan tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum.
Aku tersenyum, senang sekali rasanya.
“Omong-omong, nama saya Jeri,” katanya gugup.
“Saya, Julian,” kataku. Sudah sekitar satu bulan kami saling mengobrol, tapi baru kali ini saling memberi tahu nama masing-masing.
“Malam ini, kalau kau ada waktu,” katanya terbata-bata.
Perutku mendadak mual, jantungku berdeta kencang dan wajahku memerah.
“Maafkan aku,” kataku. “Ada yang harus aku kerjakan,” kataku.
“Malam besoknya?”
“Tiap malam,” suaraku terdengar berat.
“Baiklah,” katanya akhirnya. Nampak agak kecewa.
“Kenapa tak kau katakan?” kata Kyle saat aku kembali menaruh kertas pesanan.
“Apanya?”
“Jelas-jelas dia menyukaimu.”
Aku menggeleng pasrah. Kyle menatapku dalam, tanganya bergerak lembut merapikan anak rambutku.
“Kau harus jujur sayang, kalau dia benar-benar mencintaimu dia akan menerimamu apa adanya.”

Angin taman berhembus hangat, menerbangkan rambutku pelan-pelan.
“Dari tadi?” seseorang menyapaku, aku menoleh lalu menggeleng sambil menunduk.
“Baiklah, ayo.” Kata Jeri sambil tersenyum.
“Tunggu, aku tidak sendiri,” kataku takut-takut.
“MAMA!!!!” anak gadis kecil berumur 4 tahun berlari ke arahku dengan seutas balon ditangannya. Aku berjongkok lalu menyambutnya.
“Ini Tanya,” kataku begitu berdiri sambil menggendong Tanya. Begitu berat rasanya menatap mata Jeri.
Jeri tersentak kaget, ia memeriksa kami dengan kedua matanya. Wajahnya kaku. Aku merasa sangat khawatir.
“Itu siapa, mah?” kata Tanya, suaranya yang mungil berdesing-desing antara kami .
“Paman Jeri, sahabat mamanya Tanya,” Jeri menyodorkan lengannya mengajak berkenalan Tanya. Sebuah senyum terbit di wajahnya.
Tanya minta turun lalu bersalaman dengan Jeri.
“Paman, jangan nakal sama mama ya,” wajahnya serius.
Aku, entah mengapa tergelak menemukan tingkah Tanya, begitu juga Jeri.
Sore itu kami berdua saling tertawa untuk pertama kalinya.


  

20140327

Sempur


“Sudah berapa putaran?” lelaki busuk itu melewatiku.
Ini sudah yang ketiga kali orang ini  bertanya hal yang sama, dengan nada yang sama.
Aku memasang tampang semanis yang kubisa, “baru satu,” kataku. Ia memutar badannya, berlari mundur. Aku sudah tiga, bibirnya menganga tanpa suara.
Aku tahu!
Seharian dimarahi dosen pembimbing membuat mood-ku  berantakan, total. Tak butuh orang aneh ini untuk membuat suasana hatiku makin hancur.
Matahari makin condong dan aku baru dapat satu setengah putaran. Satu setengah putaran dari tadi. Mulai sore ini dan seterusnya aku bertekad rutin jogging di sini, di Sempur, lapangan publik satu-satunya yang dimiliki Bogor. Aku memilih sore karena biasanya—biasanya ya, sore itu sepi.
Aku tak mau ada yang menertawai buntalan kentut, gajah bengkak, paus dufan, pesut ancol atau sebutan lain yang sudah dan belum terfikir oleh orang-orang tidak gendut itu untuk menamai jenis manusia tambun seperti aku. Apa salahnya kalau kami berusaha menguruskan badan, membakar lemak dengan ber-jogging seperti yang aku lakukan sekarang? Kami juga sebenarnya tidak nyaman memiliki ukuran tubuh seperti ini. Siapa yang mau?!
Aku benci laki-laki ini. Wajahnya tampan, badannya bagus—maco banget malah—dan orang kaya; dari sepatu, kaus kaki hingga t-shirt dan celana training-nya Nike original semua—aku  yakin pasti pacarnya cantik—dengan badan seatletis itu, rasanya tak perlu lah dia jogging lagi, di depanku pula.
Aku sangat iri!
Dipikir-pikir, dari pada sibuk memikirkan orang lain yang bahkan aku belum kenal, aku harusnya lebih fokus pada postur lebarku ini. 2 putaran belum rampung, kakiku sudah berat, bajuku basah dan pandanganku mulai berkunang-kunang. Sulit sekali berlari dengan tumpukan lemak di paha yang terus bergesekan saat berusaha mati-matian mengayunkan kaki, belum lagi gumpalan di perut  serupa semangka yang bergetar naik turun. Aku pasti lucu sekali kalau divideokan. Benar kata orang-orang, sulit sekali menurunkan berat badan—sulitnya benar-benar sulit—padahal menaikannya hanya butuh sedikit usaha; makan saja junkfood sebanyak yang kau bisa.
Nafasku sudah nyaris habis dan tenggorokanku mengering.
Aku tak mau kalah dengan diriku sendiri. Perut ini—aku mengusap-usap perutku yang makin hari-makin maju. Sialan, kemarin rasanya belum sebesar ini—harus segera kukempeskan. Kalau tidak, seumur hidup aku akan menjomblo.
Mana ada jaman sekarang cewek yang suka sama cowok gendut nan tambun. Kata Toni, teman baikku sejak SMA, wajahku sebenarnya lumayan tampan. Sayangnya tumpukan lemak-lemak ini mengubur ketampananku. Kalau saja aku bisa mengembalikan posturku kembali seperti masa-masa keemasan saat umur 17-an dulu, aku yakin masih punya harapan untuk punya pacar.
Makannya aku kesal sekali saat orang tadi bilang dia sudah dapat tiga putaran. Men, aku sudah berusaha keras, dan baru menyelesaikan satu setengah putaran. Bukan salahku kalau lariku lamban, salahkan lipatan-lipatan lemak ini.
Langkahku makin berat. Mataku makih sayu. Kacamataku berembun, entah dari mana, mungkin keringatku menguap. Letih sekali. Kakiku seperti diikat dengan beban seberat masing-masing 10 ton. Aku sudah lupa  seperti apa nyamannya baju kering. Yang paling menyiksa adalah dadaku, terasa makin sesak dan makin sempit saja rasanya.
Kakiku benar-benar sangat berat untuk diayunkan. Kenapa orang-orang di sekelilingku ini bisa begitu terlihat sangat menikmati tiap ayunan kaki mereka? Dengan headset tersangkut di telinga dan butiran-butiran keringat di dahi juga kaus yang agak basah, mereka terlihat begitu keren.
Sedangkan aku, rasanya sudah tak kuat lagi. Mungkin saatnya untuk menyerah. Ini pastilah batas ketahanan tubuhku yang melar ini. Kursi kayu di bawah pohon itu sangat teduh kelihatnnya. Pasti nyaman sekali duduk di sana, memandangi langit sore sambil minum softdrink dingin, dari pada menyiksa diri seperti ini.
Apa aku harus menerima takdir kalau aku memang selamanya harus berperut tambun? Tiap langkah yang kupaksakan malah makin mencekik paru-paruku.
 Aku tak kuat lagi.
Hari ini sampai di sini saja dulu, mungkin besok aku bisa mencapai target putaranku...
 “Hai,” seseorang menyapaku dari samping. Laki-laki jelek tadi telah menyusulku (lagi)? Tapi anehnya ini bukan suara orang itu, ini suara wanita. Tanpa ba bi bu aku menoleh.
Sinar senja berjatuhan di atas rambut hitamnya yang diikat simple di belakang. Alisnya tebal, nyaris nyambung. Dengan sepasang mata itu, siapa pun akan dengan senang hati terhisap ke dalamnya, tambah lagi senyumnya. Segaris lengkung di bibirnya itu, gadis ini cantik sekali.
Dadaku mendadak berdebar tak karuan.
“H—haai” kataku kikuk. Jarang sekali ada cewek cantik menyapaku duluan. Jujur, aku minder setiap bertemu cewek cantik.
“Halo, namaku Fani?” katanya riang, aku yakin larinya bisa lebih cepat dari ini, tapi dia lebih memlilih menyelaraskan langkahnya dengan ayunan kakiku (yang lambat).
“Budi,” jawabku polos, setelah berusaha keras mengendalikan diri.
“Pantes, pake kaca mata. Kamu pinter ya?” Ini yang membuat aku benci kenapa aku diberi nama Budi. Semua anak rajin dan pintar di buku ‘Mari Belajar Membaca Jilid 1 untuk SD kelas 1’ diberi nama Budi semua, aku jadi kena imbasnya.
“Ngga juga kok,” wajahku memerah, pandangan jatuh ke tanah, ekspresi normal saat malu. “Lagi program diet? Badan kamu bagus banget ah,” aku berusaha membelokkan topik. Rugi kalau ngobrol dengan cewek cantik hanya membahas namaku.
Dia tersenyum sambil menggeleng, “Udah kebiasaan sejak kuliah. Pas pindah ke Bogor sempet khawatir ngga bisa jogging, untung aku pindah ke dekat  sini.”
Ooh, rumahnya dekat sini.
“Sejak kuliah? Berarti sudah kerja?”
Ia menggeleng.  “Baru lulus, pengennya sih langsung kerja. Tapi belum ada yang pas. Mungkin mau ngambil S2.“ Fani mengangkat bahu tak yakin. Umur kami sepantaran.
“Ooh,” ada semacam perasaan nyaman yang mampir. Dan, hey  aku sudah dapat dua setengah putaran.
Aku lupa kalau pada dua putaran yang lalu aku sudah nyaris menyerah karena saking lelahnya. Sekarang Aku malah makin semangat, satu lagi. Lima putaran untuk awalan, besok nambah jadi 6. Sedikit-sedikit asal rutin.
Asik sekali ngobrol dengan Fani, orangnya sangat menyenangkan. Terakhir kali aku merasakan sensasi ini saat masih bersama Tanya, mantanku, sayangnya sekarang dia sudah bertunangan.
“Budi, masih kuliah apa sudah kerja?” Dia bahkan langsung menyebut namaku, padahal kita baru saja kenalan.
“Sedang  Skripsi,” kataku jujur. Kuisionerku gagal terus, tadi siang saja  aku kena marah lagi.
“Ah, masa?! Aku kira masih tingkat 2,” katanya serius tak percaya.
“Banyak yang bilang aku baby face,” kataku asal, diam-diam wajahku memerah senang.
Tiba-tiba dia melambatkan langkahnya, lalu berangsur-angsur berhenti. Aku mengikuti dari samping.
“Bisa saja kamu,” katanya sambil tergelak. Bahkan saat tertawa, pancaran keindahannya tidak pudar.
Sinar senja menerangi wajahnya, ia mengelap butir-butir keringat yang membentuk seperti mahligai mutiara keemasan di sekitar dahinya dengan selembar handuk putih. Ia  tersenyum lagi ke arahku.
 “Terima kasih banyak ya, lariku hari jadi tidak terasa karena kamu ngajak ngobrol. Thaks banget .” aku jujur, tanpa sadar seluruh t-shirt-ku kuyup oleh keringat.
Anytime. Besok  jogging lagi ngga?” aku kaget mendengar Fani bertanya.
“Tentu saja, maksudku, aku memang sedang program. Mungkin akan sering  jogging sore di sini.” Kataku, berusah untuk tidak berlari satu keliling lagi saking senangnya.
“Oke, besok jam yang sama? Habisnya kamu asik diajak ngobrolnya, padahal kita baru bertemu. Jarang lho aku langsung cocok sama orang, ” katanya. Ia menarik ikat rambutnya, rambut hitamnya tergerai mengembang. Kau pernah melihat bunga mawar yang benar-benar baru mekar? Seperti itulah Fani sekarang.
“Sudah jogging-nya?” laki-laki six-pack—yang menyebalkan tadi tiba-tiba muncul di belakangku, ia tanpa izin apapun menyentuh pundakku dengan santainya. Aku menoleh siap-siap menunjukan wajah masam, kali ini dia benar-benar keterlaluan. Sudah memegang pundakku seenaknya, mengganggu acara berdua kami pula.
“Kenalkan, ini kakakku,” Fani melemparkan handuk putihnya pada laki-laki di sampingku sambil tertawa jahil. Ia menangkap benda itu sambil cekikikan nakal.
Rasanya ada listrik jutaan kilowatt menyetrumku.
“Roy,” ia menjulurkan lengannya. Aku menatapnya tak percaya.
“Budi,” kataku setelah merekonstruksi semua sel otot wajah menjadi senyum-senyum iklan pasta gigi.     
“Kamu pinter, ya?” kata Rio polos. Rasanya besok aku harus ganti nama nih.
“Ngga juga,” kataku.
Setelah itu kami mulai ngobrol basa-basi, mencairkan suasana.
Hari ini tidak seburuk yang aku kira. Fani akan jadi teman jogging-ku mulai besok. Dan aku sudah tidak sabar menunggu esok sore tiba. Mungkin besok aku harus mengajaknya minum Pocari Sweat setelah lari di kursi bawah pohon itu.
Aku tersenyum, ada yang harus aku ceritakan pada Toni di kostan nanti, dia pasti tak akan percaya.
“Fani, baru seminggu putus dari pacarnya tuh Bud,” aku tersentak.

Roy terkekeh nakal menerima pukulan Fani. Aku tersenyum, antara senang, bahagia, dan sangat bahagia.[]