20110127

gerimis

Di luar angin deras menerpa apa saja yang ia lewati tanpa ampun. Walaupun di dalam sini hangat, dia menutup retsleting jaketnya sampai habis kemudian menaikkan kerah hingga menutupi lehernya yang kurus dan hitam oleh lingkaran daki. Ia menyeruput secangkir kopi hitam yang ada di hadapannya. Cairan hangat berwarna hitam yang agak pahit dan mengandung banyak caffeine menerobos sela-sela kerongkongannya, berakhir di dalam perut di antara lantai dan langit-langit lambung. Hangat, nikmat dan pahit.

Rambutnya hitam tak terurus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Memang akhir-akhir ini hidupnya tidak tenang hingga dia tidak bisa menikmati mewahnya tidur delapan jam. Dan seperti kebanyakan temannya, sejumput kecil janggut bertengger di ujung dagunya. Tentu saja tak selebat teman-temannya. Milikinya tipis, lembut dan jantan menawan.

Mungkin gara-gara janggutnya yang tipis dan tak ketara itu lah dia masih bisa menikmati kopi hangat di hari yang mendung ini. Berbeda dengan teman-temanya yang lain, beberapa sudah tertembak mati. Mereka tidak rela digelandang ke kantor polisi untuk diintrogasi, dipaksa menyebutkan nama-nama sahabat seperjuangan mereka. Lebih baik mati ditembak dari pada mengkhianati sahabat sendiri. Tak terasa senyum getir tersungging di wajahnya, hal itu berlangsung beberapa detik kemudian wajahnya datar lagi.

Ia menatap tas ranselnya, memegangnya kemudian beralih menyeruput kopi hangatnya lagi. Lambungnya kembali terisi. Tapi kenikmatan seruputan yang ke dua ini berkurang ketimbang yang pertama tadi.

Warung kopi ini ramai. Memang dia harus berada di tempat yang ramai. Bangku panjang yang ada di depannya terlihat reot, tapi tak ada satupun orang yang peduli, padahal bangku itu telah terisi tiga pantat penarik ojeg. Mereka tertawa lepas karena celotehan temannya. Gigi-gigi hitam dan kuning yang terbakar caffeine dan nikotin mereka perlihatkan tanpa malu, karena semua orang di sini pun begitu.

Ironi. Banyak orang di luar sana yang hoby menumpuk harta, hingga tak akan habis dimakannya sendiri, tetapi kebahagiaan jijik untuk mendekap mereka. Justru tukang ojek ini, yang hidupnya pas-pasan lah yang menjadi sahabat karib sang kebahagiaan itu. Laki-laki itu tersenyum lagi.

Obrolan meraka macam-macam. Mula dari gosip murahan tentang janda kembang yang tempo hari terlihat bersama seorang laki-laki yang mereka sebut pacar barunya hingga tingkah laku anggota dewan yang dilakukan di gedung aneh yang disebut gedung MPR RI. Jika ada mahasiswa yang mendengar tema mereka yang terakhir itu, pasti akan geleng-gelang kepala sambil tersenyum, betapa so tahunya mereka tentang perpolitikan. Walau begitu tetap saja hidup meraka bahagia.

Laki-laki ini ingin segera beranjak dari warkop, karena sebentar lagi keretanya akan berangkat. Tetapi kopi di depannya masih setengah penuh. Ia enggan meninggalkan godaan ini. Jarang sekali ia bisa berada di tempat kesukaannya. Duduk melamun di temani secangkir kopi sambil mendengarkan celotehan di sekitarnya. Sebenarnya ia suka sekali berada di tempat ramai. Ia merasa aman karena ia tidak sendirian, banyak orang di sekitarnya. Dan tentu saja, yang paling menarik adalah banyak orang yang bisa dia amati.

Ia bisa menebak-nebak apa yang orang pikirkan dari raut wajahnya. Apa saja yang meraka bawa, dari golongan mana mereka. Dan apakah meraka bahagia….Hmmm, bahagia. Kata yang sangat abstrak baginya. Selama ini dia sulit menemukan kebahagiaan. Sudah letih dia. Mungkin dulu pernah satu kali pernah merasakan kebahagiaan. Waktu Iedul fitri terakhir bersama orang tuanya. Namun itu sudah lama sekali. Pingin rasanya pulang ke rumah lagi. Menyantap masakan ibu. Memancing bersama ayah. Senyum terajut lagi di bibirnya yang kering, namun matanya berair. Ah sudah lama sekali. Tapi untuk saat-saat ini ia tidak bisa pulang. Setidaknya ia tahu orang tuanya masih hidup sehat di rumah. Itu pun cukup.

. . .

“ Saya sudah sampai di stasiun, sekarang harus kemana?” seharusnya suaranya terdengar ringan dan renyah. Mungkin karena beban yang sangat berat yang telah ia pikul sejak lama, suaranya terdengar sangat menderita lebih mirip jeritan.

“ Beli tiket ke arah jawa timur, sejauh mungkin ke timur ” kata seseorang di balik HP satunya lagi.

“ Tapi kemana? “

“ Pokoknya jauhi Jakarta dulu. Nanti setelah masuk jawa timur akan ditelpon lagi.”

Hening sejenak. Laki-laki berjanggut itu menengadah ke langit. Cakrawala semakin kelabu. Kilat mulai menjilat-jilat tanah di kaki langit sebelah timur. Sekarang aku harus menuju kilat itu bisiknya dalam hati.

“ Kamu mengerti kan?”

Di cakrawala timur sana awan terlihat lebih tebal dan hitam, samar-samar awan terlihat tumpah ruah. Di sini pun sepasukan tetesan gerimis nangkal mulai melompat-lompat dari angkasa. Memercik di permukaan rambutnya yang tipis dan jidatnya yang sedikit menghitam.

“ Halo? Sidiq? Kamu masih di sana kan?”

“ Iya pak, saya masih di sini” sekarang suara Sidiq merintih, seperti sedang melakukan pengaduan dosa.

Ada apa anak ku?” suara itu mencoba menenangkan, rasanya ia memahami rintihan Sidiq.

“ Saya tak kuat lagi pak. Rasanya sejak saya memulai ini, saya tak pernah merasakan bahagia lagi pak…” katanya mendesah

“ Anakku Sidiq, kau tahukan di dunia ini tak ada kebahagiaan yang hakiki. Ingat surga bagi para mujahid yang Allah janjikan? Surga yang diliputi semua kebahagiaan. Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Surga dimana kita akan dapat kebahagiaa terbesar yaitu melihat Allah. Kau masih ingatkan anakku“

“ Iya pak saya ingat “

“ Baiklah, sekarang lakukan instruksi tadi, semoga Allah bersama mu. Assalamu’alaikum” lalu terdengar bunyi ‘nuuuut’ di kejauhan

Wa’alaikum salam, katanya dalam hati.

Sidiq segera bergegas menuju stasiun. Hujan sudah mulai menggila mendera tanah. Aroma debu dan tanah yang basah mulai tercium di mana-mana. Orang-orang seperti semut mengerubuti gula berebut menuju tempat-tempat teduh. Jika dilihat dari atas, bermunculan lingkaran-lungkaran payung warna-warni. Warna-warninya sangat tidak cocok dengan kelabunya hati Sidiq dan warna langit saat ini.

Ketika berlari menembus orang-orang yang sibuk berteduh menuju stasiun, ada seorang pengemis cacat yang kesulitan bergerak. Tampangnnya sangat mengenaskan. Ia juga hendak pergi berteduh. Tangannya terlihat tidak wajar dengan ukuran tubuhnya yang terlalu kecil. Dan kakinya buntung sebelah. Ketika Sidiq memandangnya. Tiba-tiba wajahnya memucat, kepalanya pusing luar biasa. Dalam benaknya, sperti slide presentasi power pointnya dulu waktu kuliah, bermunculan kelebatan wajah teman-temannya, gedung yang rusak, arang di mana-mana, bau daging hangus, potongan-potongan tubuh manusia, mayat-mayat dengan tatapan kosong, onggokan daging, cipratan darah di mana-mana. Memorinya akan peledakan sebelumnya kembali muncul, entah sudah ratusan kali tetapi rasa berdosanya malah makin menjadi. Mendesak ke ubun-ubunnya.

Perutnya mual, segelas kopi pekat tadi ingin menerobos keluar lagi. Tubuhnya menggigil hebat. Dadanya bergemuruh. Lututnya lemas. Ia segera mencari pegangan agar tidak jatuh. Hujan makin deras. Tapi dia tidak peduli. Bajunya mulai basah di sana-sini. Air hujan mengalir melalui guratan-guratan wajahnya yang terlihat tua dan menderita, tatapannya kosong, aliran airnya berakhir di ujung janggutnya yang tipis kemudian melompat terjun ke tanah.

“ Kenapa pak?” Sidiq tersentak. Kesadarannya mulai pulih. Ia mulai bisa menguasai dirinya. Ternyata yang bertanya adalah pengemis cacat tadi. Ia menatap Sidiq penuh kasihan. Tatapan meraka bertemu, saling menerobos benak lawan bicaranya masing-masing. Sungguh hina hidup ku pikir Sidiq, sampai pengemis cacat ini mengasihani dirinya. Ia mengangkat tubuhnya, menegakkan badannya. “ Ga apa-apa ko mas” katanya. Kemudian bergegas menuju stasiun.

Jarak tempat dia nyaris roboh tadi dengan stasiun hanya beberapa meter. Namun bagi Sidiq, itu adalah jalan kaki yang paling melelahkan selama hidupnya. Semua gambaran kengerian itu muncul dengan jelasnya. Sejak bom Bali dulu, sekarang dia lah kurir untuk setiap operasi organisasi. Rasa bersalah terus menghantui hidupnya. Teriakan orang-orang sekarat waktu itu, onggokan daging hangus itu, bau anyir dari darah itu. Walaupun ada yang selamat, cacat adalah hal yang harus mereka tanggung tanpa tahu apa sebab mereka menerima itu. Semua bayangan mengerikan itu selalu menghantui kehidupannya. Makanya ketika berpapasan dengan orang cacat tadi, bayangan yang selalu menghantuinya menjelma menjadi monster yang benar-benar nyata baginya.

Sudah sekitar lima tahun ia terus bersembunyi. Melarikan diri dan membaur dengan manusia. Tidak hanya dari polisi, tetapi juga dari batinnya yang berontak. Ini lah yang paling membuatnya kelelahan. Ketika dia bekerja, berarti akan ada operasi lagi. Operasi menandakan akan ada orang yang mati lagi. Perutnya semakin mual.

Operasi mereka di Bali boleh di bilang sukses. Dari perencanaan, supplyer jaringan hingga eksekusi operasi semuanya tidak tercuim oleh polisi dan intel. Waktu itu aparat masih belum ngeh. Sehingga semua rangkaian operasi mereka lakukan dengan leluasa tanpa hambatan yang berarti. Tapi sekarang keadaannya jauh berbeda. Polisi dan intel di mana-mana. Jika mereka tidak berhati-hati maka semua akan terbongkar, mirip petasan berantai. Ketika satu tersulut api, maka petasan yang lainnya tinggal menunggu untuk tersulut juga. Intel Indonesia sangat cerdas. Semuanya harus sempurna. Tidak boleh ada celah. Begitulah prinsip kerja mereka untuk menghukum orang-orang barat. Padahal Sidiq tahu bahwa orang-orang itu tidak tahu apa-apa sama sekali.

Ketika sampai di pintu masuk stasiun ternyata ada dua polisi. Sidiq berhenti sejenak. Menunggu dan mengawasi. Ada seorang ibu masuk ke stasiun, kemudian polisi memerintahkan sesuatu. Wanita itu menyerahkan tasnya lalu membuka dan memperlihatkan isinya. Kemudian polisi itu mempersilahkan masuk.

Ini pun telah diperkirakan oleh bagian perencanaan. Ia masuk ke satasiun. Lalu polisi menyuruhnya membuka tasnya. Mereka memeriksa isinya dan mendekatkan sebilah logam ke tas Sidiq. Di dalamnya ada al-quran, kitab-kitab dan sebuah kantong plastik yang berisi banyak mainan dan boneka anak. “ saya penjual mainan pak” kata Sidiq tenang, sudah sering dia berakting di depan petugas.

Ia di persilahkan masuk. Kemudian bergegas membeli tiket jurusan paling ujung di jawa timur. Pemberitahuan di speaker menggema di seantero stasiun. Ia pergi mengikuti petunjuk suara speaker tersebut menuju peron ke-5. Kali ini, karena gundah yang sangat ia tidak memperhatikan sekitar dulu. Ia langsung naik kereta. Mencari tempat duduk yang kosong dan duduk di kursi dekat jendela yang terletak dekat dengan pintu belakang gerbong ini.

Secara keseluruhan gerbong itu ramai. Begitu juga di luarnya. Terlihat dari kaca jendela samping banyak orang berjalan lalu lalang. Beberapa orang berjalan cepat sambil memandangi jam tangannya. Di depan tempat duduknya ada seorang laki-laki berjanggut lebat sedang merapihkan isi ransel besarnya. Orang-orang lain di dalam sini juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Beberapa saat kemudian ada seorang pemuda beransel masuk melalui pintu yang ada di depan Sidiq, berdiri sejenak menyapu seluruh gerbong dengan pandangannya, berjalan melewati Sidiq dan duduk di pojokan paling belakang, aroma parfum paris tercium jelas. Ia kemudian membentangkan Koran untuk mebacanya, wajahnya lenyap di balik Koran tersebut.

Sidiq merebahkan punggungnya ke kursi. Menarik nafas panjang dan berusaha menghilangkan was-was dan segala macam hal yang bertautan kusut di benaknya. Amanah yang ia bawa harus tersampaikan katanya menegaskan dalam hati. Suara speaker menggema lagi, tak jelas terdengar dari dalam gerbong. Bersamaan dengan gemanya, terdengar gema sol sepatu prajurit berlarian memantul-mantul di kejauhan. Sidiq tersentak kaget. Di luar terlihat beberapa polisi dan tentara berpakaian gelap berlarian ke arah gerbongnya, menerobos kerumunan. Kejadiannya sangat cepat hingga ia tak sempat melakukan sesuatu. Pasukan itu langsung menerobos masuk gerbong melalui ke dua pintunya yang berada di belakang dan depan siddiq, lalu masing-masing menodongkan sebilah revolver dan sejenis magnum ke arah Sidiq. Dia kaget setengah mati. Jantungnya memberontak. Adrenalin memompa menderu memaksa darahya menyerobot pembulu darah yang menyusup melewati seluruh lipatan daging. Dia sudah terkepung. Polisi berhasil melacaknya, setelah lima tahun menyembunyikan diri dan lari. Dia terjebak di antara polisi dan tentara di dalam gerbong kereta kotor ini. Sidiq menyerah, ia pasrah akan apapun yang akan menimpa dirinya beberapa detik lagi. Akhirnya ia tertangkap.

“ Angkat tangan!!!! Jangan bergerak!!!” kata seorang petugas. Detik berikutnya, dua orang petugas menghantam pundaknya dan meringkus laki-laki berjanggut tebal yang duduk di depannya. Sidiq membatu hingga petugas tadi berhasil menggelandang laki-laki tadi keluar dari gerbang sedangakan satu petugas lain mengamankan bawaannya. Ia bingung sesaat. Hawa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya. Bak tersengat halilintar, tubuhnya kaku. Bahkan paru-parunya enggan disuruh bernafas. Orang berjanggut tebal itu terus meronta-ronta. Menjerit dan berteriak membela diri namun tidak ada petugas yang peduli.

Ketika agak bisa menguasai tubuhnya, ia merebahkan punggungnya lagi dan memperbaiki nafasnya. Ia sangat shock dan kelelahan. Setelah semua yang dialaminya, tubuhnya merasa amat letih. Ia memeluk erat ranselnya. Ia berusaha mencerna apa yang terjadi. Mereka salah tangkap. Ia lega tidak harus menyebutkan nama-nama sahabat-sahabatnya di ruang introgasi, tapi ini berarti beban yang ia pikul masih belum bisa ia letakkan.

Matanya terus mengawasi pemandangannya yang disuguhkan jendela kereta. Tiang listrik satu persatu muncul dan menghilang, pepohonan, rumah penduduk seakan melakukan tarian pengiring tidur di bawah naungan hujan. Mereka mengantri menunggu untuk mampir dalam pandangan Sidiq. Beberapa menit kemudian, matanya terasa sangat berat. Sekarang ia benar-benar kelelahan. Tubuhnya menagih untuk diistirahatkan. Nafasnya berangsur-angsur mulai teratur. Tak lama Ia benar-benar terlelap.

Wajahnya terlihat sangat kelelahan, keberatan menanggung beban dan terlihat lebih tua dari umurnya. Tentu saja janggut tipisnya masih menghiasai wajahnya yang secara keseluruhan kurus dan terlihat menderita. Tapi kali ini ketenangan dan kedamaian membungkus itu semua. Entah sampai kapan, dia takan pernah tahu apa setelahnya dia akan lolos lagi atau tertangkap petugas.

. . .

“ Target ada di gerbong yang saya naiki, meminta instruksi selanjutnya”

“ Sidah di cek apa benar-benar positif?”

“ Positif pak!”

“ Jangan lakukan apa-apa, sebuah tim sedang disiapkan di stasiun selanjutnya. Kita sudah berminggu-minggu menguntitnya. Komandan ingin dia hidup-hidup untuk di introgasi”

“ Siap pak!”

Kemudian ia mematikan alat kominikasi dua arahnya. Wajah orang itu masih tak terlihat dari arah Sidiq karena tertutup kertas koran yang lebar. Sedangkan Sidiq, dia sedang menikmati hidangan makan malam di ruang makan rumahnya, bersama ayah, ibu dan semua sahabatnya di alam mimpi. []

*ini cerpen  pertama saya :)


Nyanyian Hutan



Selembar daun mengalir jatuh ditengah udara, terbalut angin lembut membentuk jalur elips tak beraturan yang mengereknya ke bawah. Kemudian mendarat di atas tanah yang lembab, berbau lumut segar, di hamparan dedaunan tua lainnya.

Di kanan kiri depan belakang berdiri tegak satu, dua, tiga, ribuan pohon besar. Hamparan tanah itu ditumbuhi pohon-pohon raksasa, memayungi tanah membentuk sebuah hamparan hutan megah. Mirip karpet hijau turki yang hijaunya menghilang di batas horizontal. Bertemu dengan biru lazuardi muda di dasar-dasar langit, menghubungkannya pada mahakarya lukisan yang lebih indah, berpendar biru lembut becorak awan-awan kecil di bagian yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Tiba-tiba angkasa biru itu meredup menjadi kelam, tak ada lagi rona biru merekah yang dihiasi simpul-simpul awan. Makin menuju dasar, makin gelap dan kotor. Kemudian menyentuh lantai bumi yang ternyata telah ditutupi jamur-jamur bangunan yang berwarna orange kelam dan terbelit semraut kabel-kebel hitam. Sungai yang dulu mengalir ceria, kini nampak murung dalam kotor dan bau. Hamparan itu terasa gelap, panas dan menyedihkan.

Cahaya matahari tak bisa lagi menyinari tulang-tulang dedaunan yang kering. Ia hanya mampu jatuh tak rela diatas kotak-kotak kecil rumah petak yang memagari pinggiran kali Ciliwung yang beberapa masa silam pernah menjadi komplek paling mirip surga. Begitulah kawan, dunia terlalu cepat berubah, meninggalkan kejayaan masa lalu dan menghadirkan kesunyian yang teredam kebisingan zaman.

Tuti, ibu 2 orang anak yang baru berumur 20 tahun sedang berusaha menidurkan Dian anak termudanya di depan kontrakannya, di salah satu sudut di komplek rumah petak itu. Walaupun Tuti sudah berusaha dari tadi, namun tangisan Dian malah makin menjadi.

“ Kenapa Ti, dari tadi aku perhatikan anakmu makin kencang saja tangisannya?”

“ Oh, Bi Ida, dari mana Bi? Silahkan mampir dulu” sambil membukakan pintu yang kemudian menampilkan ruangan yang hanya muat untuk empat orang berbaring, dengan satu kasur kapuk terlipat di pojoknya dan lantai tanah yang hanya berbalutkan kardus-kardus bekas.

“ Tidak usah repot-repot. Beneran Tut, suara tangisan Dian tidak seperti biasanya, sudah kau beri makan?”

Tuti tertunduk, ada sebongkah ludah yang menyekat tenggorokannya

“ Kenapa malah senyam-senyum? kasihan lho anak mu ini nangis terus”

Sambil masih tertunduk tuti bersuara, “ Sudah Bi tadi pagi, siang ini saya memang belum masak apa-apa”

Bi Ida memandang jam dinding, sudah jam dua siang. “Sudah jam segini, wajar saja kalau dia sudah lapar. Terus kamu bagaimana? Kamu juga makin hari terlihat makin kurus. Kamu sudah makan?”

Tuti makin menunduk. Sekat ludah di tenggorokannya makin menebal. ” Dari kemarin saya dan Mas Iwan memang belum makan Bi. Uang dari Mas Iwan digunakan untuk menutupi biaya sekolah Doni dan sewa kontrakan, sisanya hanya cukup untuk masak sarapan saja, itu pun hanya cukup untuk Dian dan Doni. Dian masih kecil, dan Doni harus belajar di sekolah, mereka lebih perlu makan ketimbang saya dan Mas Iwan”

“ Sudah sejak kapan kalian berdua tidak makan?”

“ Sejak empat hari yang lalu”

“ MasyaAllah Tut, kenapa kau bersikeras menyekolahkan doni? Bukannya biaya sekolah itu mahal, andai doni tidak sekolah, ia bisa kan membantu ayahnya bekerja kan? Hidup kalian tidak akan seperti ini kalau Doni ikut bekerja “

Tuti tersenyum. “ Mas Iwan selalu menekankan, kalau Doni harus jadi anak yang pintar, lebih pintar dari kedua orang tuanya ini. Sehingga Doni bisa mendapat pekerjaan yang layak, agar hidupnya lebih baik kelak”

Bi Ida menelan ludah, namun tak ada yang tertelan. Air liur yang selalu membasahi rongga mulutnya kini terasa kering. “ Kalian begitu tabah ya, walau hidup susah masih saja memperhatikan sekolah anak-anak mu” sambil tersenyum getir.

“ Kami hanya tak ingin membuat Doni dan Dian kelak mengalami kehidupan yang saya dan Mas Iwan rasakan saat ini ”. Bi Ida menarik nafas dalam-dalam. Kemudiania mengelus-elus kepala Dian. Tangisnya kini mereda, sekarang ia tertidur. Wajahnya begitu damai dan tentram tak mempedulikan keadaan ekonomi keluarganya. Bi Ida kemudian mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah hendak memberikannya pada Tuti.

“ Apa ini Bi?” Tuti tahu orang-orang yang tinggal di komplek rumah petak ini, tak ada yang berkecukupan, malah banyak yang lebih parah dari Tuti, Ada yang dua hari sekali baru bisa makan. Begitu pun Bi Ida yang pekerjaan suaminya sama seperti suami Tuti, sebagai pemulung. Pasti penghasilannya juga tidak banyak.

“ Ini upah dari mencuci pakaian Bu RT. Nih kamu pakai dulu, anggap saja kau meminjam, pulangkan kalau kau sudah ada uang, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Lagi pula anak mu ini sangat kurus, kalau nanti sakit bagaimana? Kamu juga terlihat pucat. Malah butuh uang yang lebih banyak untuk berobat kalau kalian berdua sakit. Pantang bagi orang miskin seperti kita ini untuk sakit Tut, obat itu mahal.”

“ Tapi Bi…“ sebelum Tuti berkata, Bi Ida menyela.

“ Tak apalah Tut, saat ini keluargamu lah yang lebih membutuhkan ketimbang keluarga ku, terima saja yah, aku kasihan sama Dian ini, sama kamu juga. Nanti sore juga suami ku pulang, kami masih punya uang untuk masak. Sudah nih diterima ya. Aku taruh di atas lantai, aku mau pulang dulu, mau cuci piring ”

Tuti hanya bisa menundukan pandangannya. Sebagai seorang ibu dan istri, ia sangat ingin walau hanya sekali seumur hidup menghidangkan masakan yang enak untuk keluarganya. Agar suaminya lebih giat bekerja, dan agar anaknya lebih rajin belajar. Namun hingga saat ini, hal itu masih merupakan khayalan belaka. Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali di waktu sarapan, Itu pun hanya cukup untuk membeli beras saja, mereka terbiasa makan nasi dengan garam.

Tuti menyambar tangan Bi Ida, kemudian menciumnya. Bi Ida merasakan puggung tangannya basah oleh air mata Tuti.

* * *

Punggungnya basah oleh keringat. Baju kumal yang ia kenakan sudah tidak mau menunjukan warna aslinya. Ia mengenakan celana panjang yang terpotong hingga lutut, memperlihatkan bonggol betis yang besar berbalut kulit hitam legam dan kotor akibat panjangnya jarak, derasnya terik dan kerasnya debu jalanan yang ia tempuh. Peluh bercucuran dari keningnya, mengalir jatuh melalui keriput yang mulai menganyam ketuaan dan pahatan gurat-gurat kesusahan di wajahnya. Wajahnya nampak lebih tua ketimbang umurnya.

Setelah berjalan dari pagi hingga siang ini karung yang bersandar di punggungnya nyaris masih kosong. Ia tengah beristirahat. Duduk di bawah pohon di pinggir jalan berlindung dari deburan terik matahari. Keringat yang tadi mengerumuni pori-pori kulitnya mulai menguap, meninggalkan jejak-jejak daki hitam lengket yang melingkar di sekeliling lehernya.

Mas Iwan sudah menggeluti pekerjaan ini sejak pertama kali ia bertarung nasib ke Jakarta bersama istrinya. Jakarta yang kata orang-orang adalah kota metropolitan dan sangat ia kagumi dulu, kini hanya nampak seperti tempat di mana manusia-manusia miskin berkumpul berebut makanan.

Waktu masih di kampung, ia begitu tertarik mendengar cerita para perantauan yang pulang kampung dengan membawa banyak barang-barang canggih dari kota. Mereka dengan bangganya menceritakan kesuksesan mereka di Jakarta kepada orang-orang di kampung. Cerita akan hingar bingar kota Jakarta membuat mas Iwan yang hanya lulusan SD dan buruh tani waktu itu benar-benar ingin pergi ke Jakarta. Penghasilannya sebagai buruh tani tidak membuatnya puas, ia ingin membahagiakan istrinya. Setelah beberapa bulan menabung, berbekal mimpi dan keberanian ia dan istrinya memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta, walaupun sanak-saudaranya banyak yang melarangnya, ia tetap bersikeras ingin pergi.

Sekarang sudah lima tahun ia di Jakarta, harapan dan mimpinya telah pupus. Ia tidak pernah berani kembali ke kampung halamannya. Ia terlampau malu pulang dengan keadaan yang babak belur seperti ini. Jakarta yang kejam hanya mengizinkannya menjadi pemulung. Setiap hari ia harus menyusuri jalan-jalan dan pasar-pasar di Jakarta. Menembus terik matahari yang panas, menghirup udara yang penuh asap knalpot, bahkan ketika hujan deras, ia harus tetap berjalan menuyusuri jalan-jalan ibu kota memunguti sampah-sampah, mengobrak-abrik tong sampah dan mengacak-ngacak got yang dipenuhi tahik-tahik manusia untuk menghidupi keluarganya. Sekarang ia sadar, agar hidup sejahtera, seseorang harus mengenyam pendidikan yang cukup. Oleh karena itu ia bertekad ia harus mampu menyekolahkan anak-anaknya bagaimanapun caranya. Ia tidak ingin Doni dan Dian mengalami kehidupan miskin seperti yang ia alami sekarang.

Terik hari ini begitu menyengat. Capek dan lelah telah menumpuk dari pagi. Memang bukan perkara mudah bagi tubuh yang sudah letih oleh umur ini untuk berjalan-jalan dari pagi hingga nyaris sore. Mas iwan terbatuk-batuk, tapi suara batuknya terdengar aneh karena lendir diparu-parunya. Sudah beberapa hari ini ia sakit. Nafasnya terasa makin hari makin berat, mungkin akibat terlalu banyak menghirup udara Jakarta yang penuh timbal dan karbon.

Di hadapannya, beberapa meter diseberang jalan raya ada sebuah gedung pertemuan besar. Di halamannya banyak mobil berbaris rapi. Beberapa orang berseragam satpam sambil memegang handy talky bulak-balik menembus kerumunan bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengenakan batik dan kebaya. Beberapa ada yang menggandeng anaknya namun lebih banyak yang tidak. Ada juga beberapa lelaki berkemeja yang menggantungkan kamera dilehernya. Namun itu semua sama sekali tidak menarik perhatian Mas Iwan. Ia begitu lemas karena belum makan, perutnya terasa perih karena kosong. Terasa sangat berat untuk meneruskan perjalanan. Matanya begitu berat, rasanya tak ada tenaga lagi yang tersisa. Nafasnya makin melambat, kelopak matanya mulai berat, rasa lapar dan keletihan yang terakumulasi membuatnya mengantuk.

Tapi tiba-tiba matanya langsung terjaga, mirip ketika selesai pertandingan sepakbola di sebuah stadion, gedung yang tadi pintunya tertutup kini dibuka, lalu sedetik kemudian tumpah manusia-manusia berjubah aneh mengenakan topi segilima bertali sambil menggenggam silinder lucu. Gerombolan berpakaian toga itu menyeruak ke halaman gedung, seperti ada yang memberi aba-aba, mereka semua melempar topi segilima itu ke udara serentak! Riuh rendah terdengar, ada yang menangis ada yang tertawa, ada yang bertepuk tangan, semua sarjana baru itu nampak benar-benar bahagia. Setelah ceremonial melampar topi itu, mendadak gerombolan itu pecah, masing-masing menyebar mencari orang tua mereka. Saat itulah para tukang foto beraksi, menawarkan jasanya pada kerumunan sarjana muda itu. Banyak lulusan yang langsung berhamburan memeluk anggota keluarga mereka. Dari wajahnya nampak begitu bahagia. Wajah ayah dan ibu mereka memancarkan aura bangga yang sangat.

Ada seseorang yang menarik perhatian Mas Iwan. Seorang anak laki-laki yang nampak kebingungan berkeliling menembus kerumunan, nampaknya sedang mencari keluarganya, kemudian mukanya kembali ceria, serta merta ia memeluk seorang laki-laki tua, badannya agak bungkuk dan lebih pendek dari anaknya. Nampak kulit wajah laki-laki itu begitu hitam terpanggang terik matahari, mengenakan sepotong batik lusuh dibadannya yang kurus (Iwan berani bertaruh, pasti pekerjaan orang ini adalah kuli sama seperti ia dulu dikampung). Ayah yang sudah tua itu begitu terharu, bangga dan bahagia menyaksikan anaknya diwisuda. Keriput yang tadinya mengerut diwajahnya nampak terurai, untuk beberapa detik wajahnya terlihat muda kembali. Derai air mata tak tertahankan, pipinya lembab oleh air mata. Begitupun anaknya, lelaki muda ganteng yang berbadan tegap itu menangis haru didepan ayahnya. Ia tidak perduli walau ayahnya nampak kampungan, namun ia begitu bangga memiliki ayah seperti itu, laki-laki tua itu mampu menyekolahkan dirinya hingga menjadi sarjana. Seorang pahlawan sejati baginya. Mereka berpelukan begitu lama. Setelah puas melepas rasa bangga dan bahagia, anaknya menggandengnya pada seorang tukang foto. Ayahnya hanya mampu menurut saking bahagianya. Setelah menyiapkan latar yang bagus, dengan senyum mengembang diwajah masing-masing (ayahnya nampak agak canggung berpose dihadapan kamera) momen itu terabadikan dengan sangat baik.

Berkas kebahagiaan dari ayah dan anak itu mengendap dalam benak Mas Iwan. Tanpa sadar bibirnya mengurai senyum. Matanya mulai berair. Dadanya bergetar. Ingin sekali rasanya ia memiliki momen itu bersama keluarganya. Berfoto sekeluarga bersama Doni yang sedang mengenakan toga.

Seperti mendapat tenaga baru, Mas Iwan berdiri. Lutut, punggung dan kelopak mata yang tadi letih kini terasa sangat ringan akibat pemandangan tadi. Namun tiba-tiba ia terbatuk. Batuknya sangat keras, hingga ia harus mengepalkan tanganya di depan mulutnya untuk mengurangi rasa sakit akibat batuk itu. Batuknya makin keras, sekarang ia terpaksa menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba saja tenggorokan dan dadanya seperti disengat tawon, sakitnya minta ampun, lalu seberkas merah lengket menyembur dari dadanya meluncur melalui mulutnya kemudian mendarat di genggaman tangannya. Darah merah segar. Matanya memerah kaget. Lututnya langsung lemas, nyaris saja ia tumbang, namun kemudian ia mendengar tawa riang dari kerumunan serjana tadi. Ia memandangi bapak dan anak yang dari tadi ia perhatikan, kali ini anaknya dengan bangganya mengenalkan ayahnya kepada teman-temannya. Mas Iwan menarik nafas dalam-dalam dan membersikan darah dengan bajunya yang kumal. Terbayang dirinya dan Doni yang ada disana saat itu. Kemudian ia meneruskan perjalannannya, kembali berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Sepanjang perjalanan terkadang ia terbatuk-batuk kecil.

* * *

“ Mau coba merk baru ?”

Ia mengambil sebatang rokok fiter dari kotaknya. Lalu mengambil korek gas kuning dari sakunya. Memilin tembakau dan rempah yang terbungkus kertas dengan ujung-ujung jarinya. Lalu menghimpit batang rokok kecil itu dengan bibirnya. Tangan kanan mematikkan pelatuk geretan sehingga sesaat muncul percikan api kecil yang langsung disambut aliran uap gas yang kemudian menjadi pendaran api merah kecil, tangan kirinya menghadang angin dengan agak menguncupkan telapak dan jari-jarinya menutupi bibir dan rokoknya. Ujung rokok itu terbakar, melalui rokok tersebut, oksigen yang ingin memasuki paru-paru digandeng oleh nikotin dan ribuan racun lainnya, meluncur melalui tenggorokan yang kemudian memenuhi dinding-dinding paru-paru. Mengendap di dalam sana hingga menghitam. Detik berikutnya asap putih berlomba keluar dari lubang hidungnya, setelah berpapasan dengan udara luar asap-asap itu membentuk semacam pita yang melayang, sedikit demi sedikit bergerak naik dan terurai hilang dari pandangan.

Ia menarik nafas dalam-dalam melalui rongga rokok tersebut. Bunga api yang bertengger diujung rokoknya menari-nari dengan meriah. Ada perasaan menentramkan setelah menghisap rokok itu.

TEEEET !!!!! bel berbunyi, pertanda jam istirahat selesai. Pintu WC belakang sekolah terbuka, empat anak berseragam SMP dengan dandanan berantakan keluar dari ruang bau itu, salah satunya Doni. Seorang anak memanjat tembok, kemudian diikuti oleh tiga yang lainnya. Detik berikutnya mereka sudah berada di kebun belakang tembok sekolah, lalu berlarian menjauh entah kemana.

* * *

Di rumah (andai masih layak disebut rumah) Tuti sedang memasakkan dua bungkus mi untuk suami dan anaknya. Mas iwan yang telah bekerja seharian pasti lapar. Doni juga, pasti dia kelaparan setelah seharian sekolah apalagi kalau ada PR, Doni akan butuh tenaga ekstra untuk mengerjakan PRnya. Betapa terkejutnya mereka ketika pulang nanti sudah ada hidangan hangat tersedia. Dian sudah tidur kekenyangan setelah tadi di beri makan semangkuk bubur hangat. Tuti senyum-senyum kecil karena bahagia. Walaupun bukan makanan mahal, namun bagi keluarganya ini sudah merupakan makanan yang mewah. Pasti mereka akan makan dengan lahap nantinya. Doni akan lebih besemangat belajar sehingga mendapat juara kelas dan Mas Iwan lebih bersemangat bekerja sehingga mendapat barang bekas yang lebih banyak. Lagi-lagi tersungging rekahan senyum dari bibir Tuti.

Hamparan rumah petak itu kemudian kembali menjadi hutan belantara hijau. Pohon-pohon tiba-tiba berjatuhan dari langit kemudian menancap berjajar tak beraturan ditanah yang diselimuti lelumutan. Membentuk mozaik alam yang indah, apalagi dihiasi dengan aliran sungai yang jernih dan segar, membentang berkelok di sepanjang reliefnya, lalu menghilang di ujung batas horozontal, bersentuhan dengan sang lazuardi, lukisan paling megah yang menjulang tanpa batas dengan percikan-percikan awan putih menari membentuk pola-pola artistik alami. Agungcahyanugraha/h24070049

20110124

kaca mata

Aku tersudut, kepalaku berkedut, bokongku menegang tak kuat. Bajuku kebasahan mebendung keringat dingin. Yang tersisan hanya senyum getir yang berat. aku berharap bisa keluar dari situasi ini secepatnya. detik-detik ini benar-benar menyiksa, meremas harapan ku yang sudah tipis.

Tak butuh waktu lama, satu menit pertama telah berbisik pada petaka yang tengah sedang menggantung di langit untuk segera menciduk ku. Jahat, semuanya jahat! keringat, detak jantung dan semua kesunyian ini bekerja sama memasung semua keinginan ku yang tak pernah sepadan.

Semua orang di sini, dengan ajaibnya bekumpul padahal masing-masing sedang mengambang ke dalam dunia pikirannya masing-masing. Buktinya adalah bunyi goresan kemenangan dan kekalahan ballpoint di atas kertas tiap-tiap mereka. Dari sana terdengar jeritan kemenangan disela sela senyuman dan rintihan tangisan kekalahan diantara gemeretakan gerigi yang kesal, frustasi dan sedih. Sedangkan aku, sendirian terjebak diantara kerumunan ini. Menunggu nasib itu mengecup basah ubun-ubun ku.

Di hadapan ku, seperti semua orang yang duduk di bawah atap ini, selembar kertas ini dengan angka yang nantinya akan melingkar di atasnya berencana membawa ku pada suatu nasib yang mentukan selamanya. Namun bayanganya telah nampak amat jelas sekarang. Tak terbendung dan tergoyahkan. Ia nampak begitu kokoh sekuat apapun aku mengacak-acak seluruh isi kepalaku untuk merubahnya.

Sial! Ulangan ini membuat ku gila!

Ada banyak nomor yang mesti ku jawab, sialnya tangan dan kepala yang luar biasa bebal ini sama sekali tak mau bahu membahu untuk mengisi kosongnya. Begitu juga waktu, ia senang sekali mengianati ku berlari begitu saja menertawakan kebodohan ku karena jasad lemahku justru tidur tadi malam.

Ini semua karena kutukan dosen jahat itu, ia begitu sukanya mencoret mahasiswa yang "tidak disukai" nya. Ya tidak disukainya. Hanya karena aku selalau gagal dalam setiap test yang dia berikan, mendadak aku menjadi terkenal dalam setiap kuliah nya, nama ku selalu jadi kambing hitam menjawab ocehannya dan begitu sadar, aku telah masuk dalam kategori yang "tidak disukai" nya.

Aku sama sekali tidak suka gelagatnya! siapa dia sehingga dengan arogannya membuat test yang sebagian besar kami tidak bisa mengerjakan, kemudian seolah-olah dapat menyetir masa depan ku dengan coretan-coretan angka buruk di lembar nilai itu. Tidak pernahkah dia mendengar cerita si genius Enstein yang baru bisa membaca sekitar setelah 10 tahun, Bethoven sang musisi yang pernah di hina gurunya karena tak punya bakat musik, Walt Disney yang gagasan tentang mickey mouse nya ditolak dimana-mana, bahkan nabi Muhammad yang dibilang gila dengan agama kebenarannya.

Tidakkah dia mengetahui bahwa aku memiliki bakat lain—aku sendiri belum tahu apa itu—yang akan mengukir namaku di altar peradaban dunia dunia seperti mereka-mereka itu kelak? Sombong benar hanya denga title professor yang ia dapatkan dengan menjilat itu menumbangkan masa depan ku yang seharusnnya menjadi cerah.

Sialan! apa ini ??!, masa aku harus menyerah tunduk dibawah ketiak arogansinya?? Tidak!!!, tentu tidak. Masih ada cara, pasti masih ada. Gunakan otak mu, buka mata mu, manfaatkan semua, pasti masih ada yang tersisa!!! Jangan pernah panggil aku laki-laki jika menyerah hanya dengan keadaan ini. Bagi calon orang besar ini, ujian ini hanya kerikil kecil yang harus bisa disingkirkan.

Oke, aku mulai bisa berkonsentrasi lagi sekarang. Walau sudah setengah jatah waktu ujian kulewati tanpa satu soal pun yang berhasil ku jawab. Nafasku sudah bersahabat, degup jantungku pun mulai bersantai.

Oke(*lagii) kita telan realitasnya. Ini adalah ujian hafalan. Bodohnya tadi malam aku malah tidur karena kebanyakan ngemil, memang kurang ajar cemilan, itu hasilnya adalah otak ku masih suci dari materi ujian itu. Kabar baiknya aku jadi punya cukup hemoglobin untuk tetap terjaga dengan konsentrasi penuh hingga satangah jam ke depan. Intinya aku tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup dengan cara biasa.

Yap, jalan terakhir adalah nyontek. Hey jangan merendahkan aku hanya karena mencontek, manusia mana yang belum pernah mencontek, beri tau aku, pasti tidak ada. Mungkin hanya para nabi, dan kau begitu juga aku bukanlah nabi, jadi tolong jangan rendahkan aku.

Kabar baiknya lagi adalah semua soalnya adalah pilihan ganda, memberikan kemudahan dalam mencontek. Teman sebelah ku adalah gadis cerdas, yang walaupun tampangnya agak rusak, dia menggilai ku mati-matian. Tampang ku yang tampan ini memang selalu berguna, hahaha! Dengan sedikir rayuan dan senyuman dia akan layu dan akan memberikan jawabannya tanpa syarat. Hahaha, seperti mengambil permen dari anak TK yang di tinggal ibunya.

Tapi kabar buruknya, karena keasyikan tidur aku tidak sempat datang pagi-pagi untuk nge-take tempat yang strategis. Walhasil terdeportasilah diri ini di kursi yang tepat berada di depan meja pengawas. Praharanya tidak sampai di situ saja, pengawas ini adalah dosen yang hobi memanggil namaku ketika kuliah itu, dosen yang memsukkan ku dalam kategori "tidak disukai" nya.

Bodoh ! cari kekuatan yang kau miliki, jangan fokus pada kelemahan. Baiklah-baiklah, pasti ada..

10 menit kemudian….

Setelah sedikit observasi, kesimpulannya adalah sebagai berikut : dosen ini memiliki kebiasaan yang unik, dia akan berkeliling kelas tiap 10 menit. Berdasarkan luas ruangan dan kecepatan langkah kakinya, dia akan selesai memutari seluruh ruangan dalam waktu 5 menit. Dan saat posisik ku berada di sudut mati pandangannya yaitu sekitar 50, bukan! 45 detik lebih tepatnya, (bagian ini harus benar-benar akurat, jika terlalu lama, aku akan dipergokinya, namun jika kurang aku tidak akan punya cukup waktu untuk melihat semua jawaban) Aku mengukurnya dari kecepatan ayunan dan lebar langkahnya, ukuran kramik lantai ruangan ini dan panjang jajaran bangku ke belakang. Sebagai pengaman aku menggunakan jam tangan ku untuk melihat pantulan bayangan punggungnya, aku bersukur kaca jamtangan ini cukup besar juga berlatar hitam, sehingga memantulkan bayangan dengn baik. Intinya saat emas itu terjadi saat dia berjalan melewati ku menuju jajaran kursi di belakang ku. Ketika dia memunggungi ku itulah 45 detik emas itu, saat yang tepat, saat aku berada dalam sudut mati nya.

Aku telah membuat kode pada target contekan ku, yaitu ketika aku memegang hidung ku, ia akan memberikan sedikit ruang pandang pada ku ke lembar jawabnnya. Ini cukup aman, mengingat tanpa suara dan gerakanya cukup wajar, jika ketahuan, aku bisa berpura-pura bersin. Dosen benar-benar jahat, ancamannya akan mengeluarkan siswa yang curang bukan gertakan semata, sejak tadi ada dua siswa yang diusir keluar Karena ketahuan mencontek, bukan! Bukan karena mereka mencontek, tapi karena mereka mencontek tanpa kecerdikan, tidak seperti yang akan aku lakukan. senyum ku mengembang dalam hati.

Aku sudah melakukannya satu kali tadi, dilihat dari ekspresi mukanya saat menatap wajah ku, aku bisa menjamin di tidak mencurigai ku sama sekali. Sekarang tinggal mencari jawaban sisanya.

Baiklah, sekarang dia sedang duduk di depan ku, menyapu seluruh kelas dengan mata di balik kacamata tebalnya. Sebentar lagi dia akan bergerak lagi. 3, 2, 1. Yap, dia akan berdiri. Dia berdiri, sesuai dugaan ku, dia bergerak mendekati ku, kemudian melewati bahu ku. Dalam tiga langkah lagi, aku akan berada dalam sudut matinya. Satu, dua, tiga.

Yap sekarang, aku memegang hidung ku, sambil menghitung melalui jam tangan dan mendengarkan langkah kakinya. Yap tidak ada masalah, langkah kakinya menjauh. Punggung nya pun masih hterlihat jelas dari balik jam tangan ku. Lembar jawabannya, Jelas sekali terlihat dari sini. Aku cukup melirikan mata untuk menyapu semua jawabannya. Jantungku beregup keras karena mengingat risiko yang ku ambil. Haha namun ini mudah sekali. Baiklah, tinggal sedikit lagi, Sial jantungku makin keras degupannya. Punggungnya masih terlihat jelas, dan langkah kakinya makin menjauh. Proses penyalinan ini lebih cepat dari yang ku duga ternyata. Waktu emas ku masih sekitar 15 detik lagi.. Degupannya makin menggila, padahal aku tidak minum kopi pagi ini. Sesaat aku kaget, dosen itu berhenti sejenak, namun masih memunggungi ku, pasti dibelakangku ada siswa yang mencurigakannya sehingga dia berhenti untuk memastikannya. Haha itu bukan urusan ku. Sekarang aku nyaris selesai...dan satu nomer lagi dan… Baik lah, ini sudah cukup, aku sudah mendapatkan semua jawabannya

Tinggal langkah terakhir, yaitu membedakan sedikit jawabannya, aku tak mau jawaban kami kembar, akan sangat mencurigakan jika ada siswa yang duduk bersebelahan dengan jawaban yang sama, aku tak mau mengambil risiko itu. 10 jawaban yang di bedakan akan lebih dari cukup sebagai pengecoh. Baik lah aku selesai. Haha mudah sekali. Mudah sekali. Aku tak bisa menahan senyum ku, dosen itu pasti tidak berani mengkambinghitamkan aku lagi di kelas. Rasakan itu! Hahahahaha! lihat lah nilai ku.

Sesuatu diluar perkiraan ku terjadi berikutnya. Langkah kaki itu, sial! kenapa ia menuju ke sini. Aku tak percaya, bagian mana dari rencana ku yang cacat?? Bayangan wajahnya makin membesar di kaca jam tangan ku, dia benar-benar menuju ke sini. Sial sial!! tiba-tiba ia berdiri tepat di depan ku, seharusnya masih ada sekitar 4 menit waktu dia berkeliling sebelum kembali ke tempat duduk nya. Namun dia benar-benar berdiri di sana, melemparkan pandangan hina ke arah ku. Wajahnya nampak sangat suram, aku benar-benar merasa ketakutan. Takdir yang dari tadi menggantung telah benar-benar menjilati ubun-ubun ku. Liurnya benar-benar lengket dan merembes cepat kemudian menyekat denyut jantung dan paru-paru ku. Mata itu, benar-benar telah menampar-nampar ku telak dangan tatapannya. Sesuatu yang tidak beres benar-benar telah terjadi, di luar perkiraan, pantas saja jantung ku tak mau bersantai.

Bagian mana yang salah dari rencanna ku?? Aku telah benar-benar meremehkan orang ini. Sekarang bayangan nasib itu benar-benar jelas di depan ku berubah sekelebat menjadi dosen ini.

"bagaimana bapa tahu?"

" tadi bayangan mu terpantul di kaca mata ini ketika akan bapa bersihkan karena berdebu"

aku terdiam......semuanya terkunci, nasib ini benar-benar telah menggulung ku telak.
_fin_