Jam di tugu menara
segitiga itu tak berdetak lagi. Untungnya banyak muda-mudi duduk di bawahnya
sambil tertawa dan saling mengobrol yang membuat suasana ramai. Lalu lintas di
sekitar situ masih sesak karena malam ini adalah malam minggu, atau malahan
lebih dari biasanya. Dengan warna keperakan yang dipantulkan semburan air
mancur yang naik turun, suasana jadi tambah meriah. Itulah alasan kenapa aku senang
menikmati malam minggu di sini, di Putaran Air Mancur Bogor.
Banyak motor dan mobil
terparkir memenuhi halaman kedai-kedai tenda, tak heran jalanan tersendat. Aku duduk
menunggu bansus pesananku di salah satu sudut kedainya ditemani suara gitar
yang di mainkan pengamen-pengamen jalanan. Di sini kita boleh duduk di tenda
siapa saja, dan memesan bansus dari tenda lain. Tak ada aturan ‘kalau duduk di
sini, wajib beli makanan dari sini juga!’
Seseorang yang baru
tiba kemudian duduk di hadapanku. Aku masih menahan nafas saat menatap wajah Mei.
Ia tersenyum padaku, manis sekali.
“Sory telat,” ia menaruh
tas jinjingnya di atas meja. “Macet tadi.”
Aku tersenyum sambil
menggeleng. Mei tak berubah sama sekali, ia masih selalu berusaha tepat waktu.“Ke
sini naik apa?”
“Dianter Tanya,” katanya
sambil merapikan rambutnya. Aku senang sekali melihat dia melakukan itu, terlihat
anggun.
Ia menatapku
lekat-lekat, membuatku harus melonggarkan kerah.
“Kamu makin kurus Dan?”
suaranya lembut sarap perhatian. Tangannya mengusap pipiku. Hangat. Ada aliran
yang membuat dadaku berdebar keras. Aku menggenggam tangannya, lalu mengecupnya
pelan.
“Biasa, banyak kerjaan
kantor,” kataku. Dia menarik tangannya.
“Kamu selalu begitu.
Kerjaan terus, kalau masuk rumah sakit lagi baru tahu rasa,” ia membuang
mukanya.
“Bukan begitu, tender sedang banyak. Kliennya penting
semua, kami harus benar-benar serius,” tanganku perlahan bergerak menuju
jemarinya yang ada di atas meja. “Aku masih rutin jogging kok,” tambahku.
Ia menatapku. “Dani, Kamu
tuh kalau sudah kerja suka lupa waktu. Aku takut kamu roboh lagi,” jemari kami
bertautan. Kehangatan meresapi tubuhku. Aku tersenyum kecil, membalas
tatapannya.
Pesanan kami tiba, dua
gelas bansus panas, dibawakan oleh seorang remaja dengan senyum ramah.
Karenanya, Mei menarik tangannya cepat-cepat. Aku menahan senyumku. Mei agak
pemalu, apa lagi menunjukan kemesraan kecil seperti ini—yang sebenarnya sangat
aku rindukan—di depan orang lain.
Angin malam berhembus
kencang, menggerakkan beberapa helai rambutnya. Ia menggosok pundaknya,
kedinginan. Aku berdiri, melepas jaketku lalu memakaikan di pundaknya. Ia
tersipu, aku suka sekali melihat pipinya memerah seperti itu.
“Sudah makan? Apa kita
pesan roti bakar?” kataku setelah duduk kembali di hadapannya.
“Boleh, kebetulan aku
belum makan. Jangan lupa...”
“Kejunya yang banyak?“
aku memotong.
“Kamu masih hafal
rupanya,” Ia tersenyum.
“Tentu saja,” aku
mengangguk, lalu memanggil pelayan tadi, memesan pesanan kami.
Kami saling diam. Ada
semacam sekat yang terbentuk perlahan sejak tadi. Angin malam berhambur makin deras.
Dia sibuk mengaduk-aduk bansus dengan sedotan di tangannya. Rautnya mendingin.
Beberapa saat kemudian
sepasang pengamen—aku yakin mereka sepasang kekasih—masuk ke tenda kami.
“Permisi,” kata si
perempuan bertopi sambil tersenyum. Si lelaki mulai memetik gitarnya.
Ketika mereka akan
memulai lagunya, Mei mengangkat tangannya. Pasangan artis jalanan itu menoleh.
“A hole new world, bisa?” kata dia. Aku lalu tersenyum. Dia masih
ingat lagu itu.
Artis jalanan itu
tersenyum sambil mengangguk.
“Request dari pasangan di pojok sana, A whole new world mudah-mudahan bisa menambah romantis malam minggu
anda semua.” Dan mulai lah mereka menyanyikan lagu favorit kami.
Aku bersyukur lagu kami
dimainkan, suasana antara kami cair kembali. Kami mulai bisa membicarakan
banyak hal, saling tarsenyum dan saling menatap mesra. Beberapa kali aku melihat dia tertawa hingga gerahamnya terlihat, terdengar agak mengada-ada memang tapi saat sedang begitu dia terlihat manis sekali.
HP Mei berdering, ia
meminta izin untuk memeriksa HP-nya. Aku mengangguk.
“Dari Tanya, “ katanya.
Lalu dia memeriksa jam tangannya. “Tak terasa sudah dua jam kita di sini,”
tambahnya.
Aku mengangguk, sedih.
Pertemuan kami akan segera berakhir.
“Boleh aku antar sampai
mobil?” pintaku. Mei mengangguk.
Aku membantunya berdiri
setelah membayar pesanan kami. Ia ingin bayar, tentu saja aku bersikeras
menolak.
Kami berjalan
pelan-pelan. Diam-diam dia menggandeng tanganku. Aku mengeratkan jemariku
diantara jemarinya. Angin malam tidak begitu dingin lagi.
“Langitnya cerah,” kata
Mei, wajahnya menerawang ke atas.
“Iya, “ kataku lirih.
Lalu kami saling diam
lagi.
“Tak bisakah kita rujuk
saja,” Mei mulai berbicara, lebih pada dirinya sendiri. Dan aku tahu kali ini
ia tak ingin disela.
“Maksudku, umur kita
sudah nyaris lima puluh. Mau apa lagi dengan perceraian besok?” ia menoleh
padaku.
Aku hanya bisa menunduk, memperhatikan aspal hitam kasar dan ujung sepatuku.
Dia masih menatapku,
dan aku tak berani membalas tatapannya.
Akhirnya aku menggeleng
lemah.
“Maafkan aku, “ kataku
lirih. Aku tahu Mei sedang mati-matian membendung air matanya.
Mobil Tanya ada di
depan kami, ia keluar dari mobilnya, lalu setengah berlari ke arah kami.
“Maafkan aku,“ kataku
lagi, sambil mengusap pipinya. “Jangan menangis, sayang,” tambahku. Aku menatap
matanya lekat-lekat. Ada embun di sana.
Ia menegakkan tubuhnya, mencoba kuat.
“Kamu harus janji untuk
tidak masuk rumah sakit lagi,” katanya. “Jangan lupa lari pagi dan jaga pola
makanmu,” tambahnya.
Tanya tiba, ia kaget
memasuki atmosfir kami. Kemudian aku tersenyum padanya. Tanya membalas senyumanku.
Mei berbalik, lalu berjalan mendekat ke arahku. Sedikit kikuk ia melepas jeketnya dan menyerahkan padaku.
Aku melangkah pelan,
lalu merengkuh tubuh mungil istriku. Aku memeluknya erat-erat, meresapi saat-saat
terakhir kami masih suami-istri. Air matanya tumpah di dadaku. Mataku hangat. Sebelum
berpisah, aku sempat mengecup keningnya. Ia berbalik dengan pundak bergetar dan
Tanya di samping memapahnya.
Mei meninggalkan aku mematung di aspal hitam jalanan. Kedinginan, sendirian.[]