Sore itu sebenarnya sama saja seperti senja-senja lain yang
sering aku lewati. Langitnya masih sama
cemberut, awan centilnya masih terpapar cahaya jingga, burung-burung yang entah
nama species-nya apa masih sedang kembali ke peraduan mereka seperti biasa,
jalanan juga mulai mampat oleh mobil dan motor seperti sore-sore kemarinnya.
Semuanya terlihat sama saja.
Kecuali, ya kecuali, mungkin hanya perasaanku saja yang
sedikit menjadi pengecualian.
Aneh. Sepercik perasaan karena sepersekian detik kejadian
yang bahkan tidak kita duga membuat dunia yang keadaanya persis sama seperti
hari lainnya terasa sangat berbeda.
Seorang anak kecil yang baru mendapat hadiah lolypop dari
orang tuanya akan melihat dunia yang ia tempati menjadi bak taman bermain. Begitu juga
seorang istri yang baru mendapat transferan gaji dari suaminya akan tersenyum sangat
lebar dan merasakan rumah yang sebelumnya pengap dan sempit menjadi istana
indah nan luas.
Dalam kasusku, kejadian kecil tadi siang membuatku tak
bernafsu melakukan apa-apa hari ini. Beberapa kali dibentak bos karena satu dua hal luput dari perhatianku sehingga data yang ia
sajikan dalam rapat direksi tidak akurat. Dodi sahabat baikku yang selalu
bersedia mengejekku tanpa diminta menjadi tak berhasrat meledekku hari ini.
“Hhhh… “ aku menghela nafas panjang.
Dodi muncul di sebelahku sambil membawa dua mug kopi hitam yang
masih mengepul ditangannya, menyerahkan salah
satunya.
Aku menerimanya, menggengam mug hangat itu.
Tanpa kata, tanpa suara, Ia berdiri di sana, mengikuti arah
pandanganku dan menghirup udara yang aku hirup, turut merasakan suasana yang sedang
kurasakan. Walau mungkin cara dia merasa berbeda denganku.
Hadirnya sahabatku di situ merupakan dukungan yang membuatku merasa jauh lebih baik. Membuatku merasa tidak sendirian.
Aku menghirup aroma kopi ini. Bau khas menggelitik rongga hidung. Setelah
kuisap sedikit, kubiarkan cairan kental
pekat pahit itu menggenang di antara lidah hingga dingin, lalu ku biarkan meluncur
membasahi pipa kerongkongan yang berakhir di dasar lambung.
Dodi menyalakan filternya. Kemudian menawarkan sebatang
padaku.
“Sekali-sekali, “ katanya menghembuskan keraguanku karena sudah lama absen.
Aku membiarkan api merah itu menjilat ujungnya. Sensasi itu
muncul lagi, hirupan itu merambat
melalui mulut yang barusan basah oleh pekatnya kopi hingga menelusurii seluruh rongga
dada. Hembusan berikutnya menghasilkan paparan asap putih yang sangat kukenal.
Harus kuakui, sensasi nikotin nakal itu muncul lagi tanpa
bisa dibendung. Menari-nari sambil menertawakan periode keabsenanku selama ini.
“Mendingan?” tanya Dodi sambil memandang hamparan jalan raya
yang makin sesak di bawah.
Aku mengangguk pelan, sambil menghembuskan asap ke duaku
sore ini, membuat sebentuk huruf O.
Bunyi klakson bersahutan dari bawah. Lampu merah sudah
menghijau tapi mobil paling depan tak kunjung bergerak. Jumat sore memang gila.
“Sakit, Dod,” kataku akhirnya.
Pengakuan itu seperti mengeluarkan semua sesak yang menyumbat
dadaku seharian tadi.
Yang diajak bicara diam saja.
Sama seperti semua orang yang sedang patah hati, sebenarnya
kami tak perlu jawaban. Hanya butuh yang mendengarkan.
“Mungkin gua salah baca sinyal, atau terlalu cepat ambil
inisiatif, ya?”
“Atau kualitas gua yang masih kurang untuk seorang yang
sempurna kaya dia?” tambahku.
Dodi mengesap mug kopinya.
“Cowok emang gampang Geer. Kampret!” umpatku kesal, kesal
pada diriku sendiri.
“Kampretnya, harapan yang gua bayangin itu indah banget, terlalu
indah malahan. Jadi, pas ngga kejadian kaya gini, rasanya….” Kalimatku tersangkut,
entah dimana.
“Harusnya gua ngga usah bilang.”
“Harusnya…. Sekalian ngga usah suka sejak awal,”
“Ngga usah merhatiin dia tiap jam 8 lewat 5 pagi mampir ke
lantai kita, ngga usah tau nomer HP nya, ngga usah stalking-in path sama IG nya, malam itu ngga usah nerima ajakan dia
naik taksi bareng, ngga usah ngajak ngobrol, ngga usah PDKT sana-sini, ngga
usah ngajak jalan, ngga usah ngajak nonton. “
“Ngga usah ngelakuin itu semua,” tandasku kesal.
Aku menghisap rokok ini, kali ini lebih kuat, rona merah
menyala lebih terang diujungnya, asap yang keluar menjadi lebih banyak dan
lebih pekat.
Angin yang menggerakkan ujung dasiku juga mengacak-acak
rambutku. Besok mungkin aku butuh cukur rambut, bisikku.
“Jadinya gua ngga usah ngerasa sesakit ini,” desahku
akhirnya, menyerah.
“Kampretnya, udah ditolak kaya gitu lu masih aja suka,” Dodi angkat bicara.
“Kampret!” umpatku.
Dodi menatapku sambil tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum. Kami
berdua saling nyengir.
Lucu memang perkara perasaan ini. Sudah tersakiti masih saja
mengharap. Sudah jelas-jelas tak ada harapan, masih saja mengharap akan
harapan. Sesak sekali rasanya.
“Yang kaya gini ngga bisa dipaksain,” imbuh Dodi.
“Mau seganteng apapun, sebaik apapun, seberharap apapun, sengebet
apapun, seindah apapun bayangan lo, perasaan kaya gitu ngga bisa lo paksain,”
“Ngga ada yang bisa maksain perasaan,” tambahnya.
Aku tahu itu, aku paham diluar kepala. Aku sudah khatam
banyak buku tentang cinta, versi psikolog, kimia, sastra, bahkan versi religi.
Name it lah. Tapi rasanya masih aja
tetep sakit. Ngga bisa dilawan.
“Coba lu diposisi dia,” kata Dodi ringan. “Emang lu mau
maksain perasaan lo?”
Gua terdiam.
Berusaha mengurai pertanyaan Dodi. Ego membantah, harusnya
dia mau coba dulu. Toh tidak akan rugi. Aku
akan sekuat tenaga untuk tidak membuat kecewa. Lagi pula, kata teman-temanku aku baik,
gentle, jujur, humoris, setia. Semua kriteria cowok baik ada padaku. Apa lagi
yang dicari seorang cewek?
Ketika hendak membalas pertanyaan Dodi, HP ku berdering.
Ratih?
“Halo, sore Tih? Ada yang bisa gua bantu?” kataku, kaget
juga anak bagian Media ini tiba-tiba menelpon. Seingatku, kami hanya pernah
beberapa kali ikut acara nonton bareng dan pernah sekali satu taxi. Tapi itu
sekitar 3 bulan yang lalu. Sisanya hanya chit-chat
hambar via office communicator, itu
pun di jam kantor.
“Nemenin beli baju?”
Dodi memasang pandangan menyelidik ke arahku. Aku tak suka pandangan
itu.
“Oke. Nanti gua yang jemput atau...”
“Ow, okay…. Yap.”
“Bye.” Akhirnya sambungan terputus.
Aku menatap Dodi. Dodi menunggu.
“Ratih ngajak jalan besok.”
“Berdua doang,” tambahku masih tak percaya.
Seberkas senyum terbit di bibir Dodi. Sial, aku tidak suka
senyumnya kali ini.
“Perlu gua jelasin maksud ‘berdua’ nya?” Dengan penekanan di
kata ‘berdua’.
Aku melempar padanganku pada jingganya langit. Ujung matahari
mulai mencium dasar langit.
Aroma sore itu makin redup. Burung-burung sudah
menghilang. Malam sedang pada persiapan akhir untuk tampil.
Laki-laki waras manapun tahu arti ‘berdua’ itu.
“Bisa kah lo seketika maksain untuk suka sama Ratih? Dia lucu,
baik... ” tandas Dodi sambil menerawang langit senja itu.
Aku diam. Kali ini lebih memilih untuk menghabiskan bantang rokok
yang tinggal setengah ini. Aku tak sanggup menjawab pertanyaan barusan.
Kopi di dalam mug sudah dingin. Hembusan asap rokokku
terurai terkena hembusan angin sore.
Perkara perasaan ini. Kenapa menjadi rumit begini?
(Bersambung...)
(Bersambung...)
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)