20170130

Rabu ......


Katanya, ada sekitar 7 milyar manusia yang hidup di dunia.

Jika peluang dua orang saling bertemu adalah 1 banding 7 milyar, maka peluang dua orang itu bertemu, lalu saling kenal, kemudian saling suka satu sama lain, dengan memperhitungkan faktor eksponensialnya, kejadian itu menjadi nyaris mustahil.

Karenanya, jika ada dua orang memiliki perasaan yang sama, pastilah itu sebuah keajaiban. Mereka berdua adalah dua orang yang benar-benar sangat beruntung.

Malam ini bulan bersinar lembut, gemintang berbaris membentuk gugus. Kerlipannya akan membuai siapa saja yang menyaksikannya. Angin sopan berhembus, tidak pelan tidak juga kencang. Kursi dan meja juga rangkaian lampu hias kerlap-kerlip membuat malam ini menjadi sempurna.

“Dari begitu luasnya dunia…” Zul berdehem lembut.

“Aku ngga nyangka kita bakal ketemu lagi. Kalau kamu ngga ingetin, aku kayanya ngga bakal sadar kalau kita pernah satu SMA. Aku ngerasa beruntung banget bisa ketemu kamu lagi.” Pandangan Zul jatuh pada permukaan meja yang mengkilap.

Kemudian Ia mendongak, berusaha menatap mata itu.

“Ratih, “ wajah itu terlihat kaget karena namanya tiba-tiba saja disebut.

“Aku suka sama kamu…“

Wajah itu memerah, mungkin sedang menutup mulut dengan kedua tangannya yang lentik.

“Kamu mau jadi pacar aku?”  

Zul menanti, menunggu jawaban dari sosok dihadapannya.

Angin malam dengan nakal menggerak-gerakkan anak rambutnya.

“Mau pesan apa mas?”

Zul mendongak kaget.

“Air mineral ngga dingin,” katanya akhirnya.

“Makanannya nanti, saya masih menunggu teman saya,” kata Zul serak.

Peramusaji itu pergi saat Zul meremas tangannya yang dingin.

Sial! Dia merasa gugup sekali. Kata video yang dia tonton di youtube, salah satu tips sukses nembak adalah datang sejam lebih awal lalu berlatih mengucapkan kalimat penembakannya.

Belum ada orangnya saja Zul segugup ini, bagaimana kalau dia sudah muncul. Kadang Zul merasa dikutuk karena semasa kuliah malah menjadi temanya Dody yang bangga akan ke jombloannya itu. Dia jadi ngga punya jam terbang. Padahal pengalaman itu sangat diperlukan untuk saat-saat seperti ini.

Sepasang kekasih muncul dari balik anak tangga. Saling bergadengan tangan dan bertukar senyum. Si gadis bergelayut manja dilengan sang laki-laki. Mereka menunjuk sebuah meja lalu melangkah riang menuju meja tersebut.

Zul mendesah.

Ada segumpal iri yang mengambang di dadanya. Seumur-umur dia belum pernah mengalami hal seperti tadi. Terima kasih untuk masa SMA yang cupu dan masa kuliah yang penuh dengan tugas dan hura-hura ngga jelas.

Detik selanjutnya, Dian muncul dari baloik anak tangga. Rasanya Zul belum pernah melihat Dian memakai make up seperti ini. Ayolah, mascara itu, lipstick itu, taburan bedak itu, tambah lagi gaun dan heels nya.

Yang membuat Zul tambah kaget adalah, Jonathan ada di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali tertawa.

Zul terpaku menatap mereka berdua.

“Hai, Zul ngapain di sini?” Tanya Jonathan.

Dian terlihat keget menemukan Zul dengan dandanan rapi di café ini.

“Rapi banget Zul, sendirian?” Kata Dian setelah mengusuir kekagetannya.

“Ada janji sama temen, “ kata Zul. Dia menelan ludah, dan rasanya sangat sakit di tenggorokan.  

“Kita ke sana dulu ya,” kata Jonathan, kali ini dia meraih tangan Dian lalu membawanya menjauh ke arah meja mereka di tengah.

Minuman Zul datang. Airnya terlihat mengkilap diterpa cahaya neon.

Dada Zul memanas. Mungkin karena tangan Jonathan sedang merangkul pinggang Dian seperti itu.

“Sory telat, dari tadi banget ya?”

Zul mendongak kaget. Menemukan Ratih berdiri di hadapannya.

Ratih jelas-jelas mempersiapkan dirinya untuk malam ini. Jarang Zul melihat Ratih bermake up seperti ini. Walau Zul adalah tipe laki-laki yang tidak terlalu suka dengan cewek ber make up, kali ini dia harus menyerah. 

Malam ini Ratih terlihat ayu sekali, seperti putri keraton. Zul kenal gaun itu, itu gaun yang waktu itu mereka beli bersama. Warna Biru itu cocok sekali dengan warna kulitnya yang putih bersih.

Di tengah keterpukauan Zul, dan nyaris semua laki-laki di café menolehkan pandangannya pada Ratih, dia segera berdiri, lalu buru-buru menarikkan kursi untuk Ratih.

“Ngga, baru aja nyampe kok,” kata Zul bohong.

“Terima Kasih,” Ratih merona, Zul gentle sekali.

Zul melihat Jonathan sedikit salah tingkah, dan Dian terlihat kaget karena teman yang ternyata di tunggu Zul adalah Ratih.

“Taksi tadi?”

Ratih mengangguk. Ia merasa tidak enak jadi pusat perhatian seperti ini.

“Dandananku berlebihan ya, Zul?” katanya.

“Ngga ah, kamu cantik kok,” kemudian wajahnya memerah. Amboi, cantik sekali! apalah yang lebih cantik dari seorang gadis yang pipinya bersemu merah karena menahan malu karena dipuji? 

Sayangnya gadis jelita yang ada dihadapan Zul entah kenapa terlihat biasa saja baginya.

“Jadi makan apa kita malam ini?” kata Ratih setelah berhasil membuat dirinya terbiasa, ia mengangkat tangan memanggil pramusaji.

“Aku belum pesen sih, bagaimana kalau kita coba steik nya?”

“Aku ikut deh, tapi jangan yang ada lemaknya yah,” katanya riang.

Dari sini Zul bisa melihat tempat duduk Dian dan Jonathan dengan jelas. Mereka sedang saling tertawa, terlihat mesra dan bahagia. Cahaya lampu hias kerlap kerlip yang berjatuhan di wajahnya, membuat Dian terlihat sangat cantik. Matanya terlihat bercahaya dan berbinar.

“Kamu pesan minum apa?”

Zul menoleh.

“Eh?”

“Kamu kenapa sih ngga fokus gitu, lagi banyak pikiran ya?” tanya Ratih.

Zul mengeleng, “Ngga ada apa-apa kok. Kamu tanya apa tadi, sorry?“

“Kamu mau minum apa?” Ratih tersenyum maklum.

“Milk shake,” kata Zul.

Harusnya malam ini menjadi malam yang menyenangkan. Di bawah langit biru gelap yang cerah, tempat makan yang romantis diiringi alunan piano lembut (dari sound system), mereka harusnya bisa saling tertawa, bertukar cerita, membahas banyak hal, dan harusnya terasa Indah dan sempurna. Zul justru tidak bisa merasakan itu semua. Bahkan fokusnya tak bisa pada Ratih, gadis cantik yang sedang duduk di hadapannya. Sepanjang obrolan Ia lebih banyak mengintip ke meja di seberang, memperhatikan pasangan itu. Memastikan Jonathan tidak melakukan ‘sesuatu’ pada Dian.

 “Zul?” kata Ratih.

 “Ya?”

“Ini ke lima kalinya kamu melamun seperti itu dan mengacuhkan pertanyaanku, ”

“Eh?”

“Malam ini entah kenapa kamu aneh, aku lagi kaya duduk sama orang lain.”

Zul terdiam.

“Gimana kerjaan kamu, akhir-akhir ini kayaknya sibuk banget?” Zul berusaha mengembalikan suasana.

Zul melihat sekilas tangan Jonathan mulai bergerak memegang tangan Dian, kemudian jemari mereka bertautan. Darahnya mendidih. Ada yang membuat dada Zul panas dan kesal hingga ubun-ubun. Untungnya kemudian  Dian menarik tangannya dengan lembut, ia meraih gelas lalu mulai minum.

Zul menghembuskan nafas lega.

“Kita pulang aja yuk,” kata Ratih serak.

“Hah?”

Ratih tertunduk. Tangannya meremas gaunnya. Zul melihat matanya berair. Sepanjang diamnya Zul, Ratih menyadari sesuatu. Sejak tadi lelaki di hadapannya selalu melihat meja seberang. Seorang gadis yang juga ia kenal, yang dia dengar rumor di kantor kalau Zul pernah suka dengan gadis itu.

“Kamu sama sekali ngga dengerin aku,”

“Eh?”

“Apa karena gadis di meja seberang itu...” suaranya lirih.

Zul tersentak.

Ratih masih menunduk. Menunggu.

Detik itu saat Zul sedang memikirkan kalimat untuk diucapkan pada Ratih, Dian dan Jonathan berdiri, mereka berjalan meninggalkan café. Jonathan merangkul pinggang Dian. Gigi Zul gemeletuk, dadanya kembali panas melihat adegan itu.

Ratih melihat bagaimana Zul terlihat kesal, mengepalkan tangan, sesaat terlihat tidak sabar dan hendak meledak. Semua itu karena ada laki-laki lain bersama gadis itu. Itu terjadi di hadapannya. Ratih kesakitan. Ada sesuatu yang mebuat dadanya perih.

Zul mendengar Ratih terisak. Butir-butir air mata jatuh di atas gaunnya. Ratih tak kuat lagi, pertahannya roboh, air matanya berguguran.

Saat itu Zul sadar, apa yang telah ia lakukan benar-benar salah. Dia merasa menjadi laki-laki paling bajingan sedunia. Membiarkan seorang gadis yang telah berdandan cantik untuknya malam ini menangis seperti itu.

“Ada yang mau kamu katakan?” kata Ratih akhirnya lirih. Dia masih memberi Zul kesempatan.

Zul menunduk, kemudian menelan ludah. Ia paling tidak bisa melihat seorang perempuan menangis.

“Aku merasa sangat senang bisa bareng kamu seperti ini. Makan, nonton, jalan. Melihat kamu tertawa, tersenyum. Baru kali ini ada wanita yang mau berbagi kebahagiaan seperti ini padaku. Kamu bahkan ngga segan-segan menceritakan mengenai keluargamu dan pengalaman bodohmu padaku.

“Awalnya aku bingung. Ketika kamu menelpon untuk menemani membeli baju yang kamu kenakan sekarang. Juga ajakan-ajakan lain untuk sarapan maupun makan bareng. Baru kali ini ada seorng gadis yang mengajukan dirinya padaku seperti ini. Aku mengerti ini akan mengarah ke mana. Saat itu aku berfikir, apa yang harus aku lakukan? Bolehkan aku membiarkan gadis baik ini masuk ke dalam kehidupanku? Karena sebenarnya saat itu ada gadis lain yang sedang aku perhatikan.

“Aku khawatir kalau perasaan ini bukan yang sebenarnya. Aku takut ini hanya pelarian. Aku sangat  takut nantinya akan menyakiti kamu. 

"Tapi akhirnya, di satu titik aku memutuskan untuk membiarkan kamu masuk. mencoba menjalani semuanya terlebih dahulu tanpa terlalu memikirkan banyak hal. Ah, mungkin ini jalannya, pikirku waktu itu.

“Senyum mu itu, tatapan mu itu, tawa mu itu, aku merasa sangat beruntung bisa berbagi itu bersama mu. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi laki-laki yang berada di samping gadis sebaik dan secantik kamu.

“Hingga aku merasa begitu yakin akan perasaanku. Perasaan yang perlahan tumbuh dan mulai mekar. Sudah seminggu aku memikirkan malam ini untuk menyatakan perasaanku. Aku bahkan terus-terusan menghafal redaksinya sejak seminggu lalu. Datang sejam lebih awal ke tempat ini untuk kemudian berlatih.

“Namun, aku keliru …”

Tenggorokan Zul tercekat. Ia tak ingin melanjutkan, ia tak mampu membuat Ratih tersakiti lebih dari ini.

Mereka terdiam.

“Ngga bisa kah kamu memilih aku?”

Zul mendongak. Suara Ratih terdengar bergetar.

“Aku sudah menyukaimu sejak SMA. Aku begitu bahagia ketika ternyata kita berada di perusaan yang sama. Dari sekian banyak perusahaan di Jakarta aku bisa satu kantor denganmu, bukankah itu suatu pertanda? Itu suatu pertanda kan?! Karenanya aku berusaha menyusuri 'tanda' ini, mengusahakan 'pertanda' yang semesta buat untukku. Aku berusaha keras agar kamu bisa menoleh padaku”

Mata Ratih terasa hangat dan berembun, hidungnya merah. butir air matanya bagai untaian mutiara yang berjatuhan ke tanah. Hati Zul perih melihat Ratih seperti ini.

“Dian…

“Apa aku ngga lebih baik dari dia?”

Zul tercenung. Ia baru mengerti, ternyata dalam cinta kita tidak bisa membandingkan seseorang dengan orang yang lain. Tidak bisa, tak akan pernah bisa. Kita tidak bisa berpindah suka karena dia lebih cantik, dia lebih baik, dia lebih anggun dan sebagainya. Faktor-faktor pembanding itu menjadi tidak berlaku dan menjadi tidak terbandingkan.

“Apa kamu ngga mengerti, setiap kali aku mengajakmu jalan duluan, ngajak makan duluan, WA duluan dan berusaha membuatmu mengakui aku, saat itu aku sedang menanggalkan gengsiku sebagai seorang perempuan?

“Apa itu semua belum cukup buatmu?

Air matanya jatuh makin banyak. Ratih terlihat sangat kesakitan.

“Aku harus apa lagi Zul? Aku harus ngapain lagi agar kamu mau melihat aku?

Ratih menarik nafas, berusaha menenangkan dirinya.

“Itukah pilihan kamu? Gadis itu?”

Zul menunduk.

Ratih terdiam. Kecewa sekali. Ia membuang muka, tak sudi melihat wajah Zul, lalu tersenyum, menertawakan kebodohannya selama ini.

Zul hanya bisa diam, ia tak mampu lagi menjawab. Ia bak terdakwa yang sudah dijatuhkan hukuman mati. Tak sanggup melawan lagi.

Ratih mengangkat pandangannya ke langit malam, berusaha mengembalikan tetesan air mata yang sia-sia keluar, namun tetap saja tak bisa. Malah air matanya makin deras mengalir, membuatnya kesal setengah mati. Ngapain dia menangis untuk seorang laki-laki  yang tak pantas ditangisi!

Ratih tak tahan lagi. Merasa bodoh jika terus berada di sini, akhirnya ia berdiri, kemudian berjalan cepat-cepat pergi setelah menaruh beberapa lembar uang seratus ribuan di meja.

Biar aku yang bayar semua! Aku ngga butuh traktiran kamu! Mungkin itu maksudnya. Dignity Zul compang-camping sudah.

Zul menyaksikan punggung Ratih yang bergetar menghilang di balik anak tangga. Menyisakan tatapan cemooh dan heran seisi penghuni café.  

Hari ini Zul benar-benar sukses menjadi laki-laki paling berengsek di dunia.

Menyedihkan.

Langit cerah membiarkan bintang-gemintang mengintip dari balik awan yang mengambang tipis-tipis. Walau kata orang cantik, Zul tidak pernah suka malam. Secerah dan seramai apapun, malam tetap saja gelap. Gemerlapan bintang dan cerianya rembulan hanya tipuan mata.

Baginya malam tetap saja dingin dan penyendiri.



“Makan di mana?”

Dody menoleh pada Zul Rabu siang itu.

“Padang depan. Aku makan sama Ratih. Lebih baik lu ngga ikut,” kemudian berlalu.

Zul mengeluarkan kotak bekal.

“Ngga biasanya lu bawa bekal Bang Zul,” Denry si anak magang menghampiri mejaku.

“Iya nih, mulai minggu ini gua bakal bawa bekel terus, mesen ke bibi kosan. Lumayan hemat,”

“Itu muka lu kenapa benjut gitu?”

Zul terkekeh, “Biasa lah anak muda,” dia tidak bisa menceritakan kalau kemarin, tiba-tiba Dody merangsek ke kamar kosannya lalu memukul wajahnya.

Anjing lu ya! Tega bikin Ratih nangis kaya gitu! Dia masih kurang apa lagi hah!

Satu pukulan lagi mendarat di wajah Zul. Untung setelah itu satpam kosan datang dan melerai mereka. Jika tidak, bisa rontok gigi Zul. Dody kalau lagi ngamuk ngeri.

Ninda bergabung membawa tas bekal. Ninda anak magang juga tapi dia di tempatkan di lantai satu (fyi, Denry dan Ninda pacaran). Sudah seminggu mereka magang, sekalian mengumpulkan data untuk skripsi meraka. Mereka satu almamater denganku, makanya cepat akrab.

“Enak ya tiap hari dimasakin,” kata Zul usil. Ninda membuka tas bekalnya, terhamparlah nasi Goreng dengan lauk ayam dan telur dadar. Wanginya harum luar biasa, pasti enak.

“Tahu nih si Abi, manja banget,”

“Habisnya masakan Umi enak sih, lagian kalau beli di luar kan mahal,“ dan mereka udah saling panggil abi dan umi, bikin selera makan Zul menguap.

“Ehm. Nin,”

“Ya?”

“Katanya kamu satu divisi sama Dian ya?” Zul berusaha terdengar biasa.

“Mba Dian yang cantik itu? Iya,“ katanya rada acuh, mereka sedang suap-suapan mesra. Zul pun menutup kotak bekalnya.

“Dian sama Jonathan itu jadian ya?”

Denry dan Ninda menoleh, menyodorkan wajah beku. Dua detik berikutnya mereka tersenyum. Senyum nakal.

“Kasih tau ngga ya? kenapa emang kalau mereka jadian?” ledek Ninda.

Wajah Zul memerah, malu.

“Aduh, kita punya senior gampang banget dibacanya yah. Umi jangan jahilin Bang Zul gitu dong,” 
Denry terkekeh geli.

“Asem kalian, sama senior ngga ada sopan-sopannya,” Zul mencibir, dia kembali membuka bekal yang dibawanya. Melahap banyak-banyak .

“Ngga kok bang, belum jadian. Tapi mereka sempet ke gap jalan bareng sabtu kemarin, “ Kata Ninda.

“Hah masa sih Mi?” tanya Denry.

“Iya Bi, mana katanya Mba Dian dandannanya full make up plus pake heel segala waktu itu. Pokoknya lagi cantik abis,”

“Udah deket dong mereka berarti,”

“Wah itu ngga tau, tapi emang mereka satu projek sih, wajar lah kalo deket. Tapi yang Sabtu kemarin itu mereka emang abis ketemu klien, jadi sekalian dinner,”

“Wah gawat bang, udah bentar lagi itu mah,”

“Abi-Abi, barang bagus mana ada yang nganggur,”

Ada perasaan lega yang mengaliri dada Zul. Informasi itu sangat berharga baginya.

“Abang naksir ya sama Mba Dian?” bisik Ninda.

“Apaan sih,” bentak Zul judes, sambil wajahnya memerah.

“Kalau mau, nanti aku bantuin. Aku kan satu divisi tuh, nanti aku kasih tau apa kesukaan dia, kapan dia pulang, kapan dia lembur. Sesama almamater kita harus bahu-membahu,” bisik Ninda.

Zul tampak tak peduli. Tapi senyumnya mekar kali itu.
 

Hari itu berlalu dengan cepat, tahu-tahu matahari sudah rendah. Orang-orang sudah berbenah menutup laptop dan mematikan PC bersiap pulang.

Dody turun ketika Zul masih membereskan isi ransel nya. Jam di dinding kantor menunjukan jam setengah enam. Zul sengaja memperlambat berkemas. Dia masih meresa tidak enak pada Dody, anak itu masih belum mengajaknya bicara sejak minggu.

Aku udah di Lobby. Aku traktir makan es krim deh, abisnya murung mulu dari kemarin.

Dody menekan tombol enter.

HP Ratih bergetar. Ia membuka notifikasi, kemudian tersenyum.

Senyum pertamanya hari ini.

Aku kalo makan es krim suka ngga kira-kira, jangan nyesel lho.
Thanks ya. 

Dody memeriksa HP nya yang bergetar. Lalu tersenyum.

Sekitar sepulih menit kemudian Zul memasuki Lift. Benda itu bergerak perlahan, kemudian berhenti di lantai dasar. Zul berjalan pelan-pelan, mengendap-endap di balik tembok dan menarik nafas lega ketika Dody dan Ratih sudah tidak di sana.

“Ngapain ngendap-ngendap gitu?” Zul kaget bukan main, ia menolah dan menemukan Dian berdiri di belakangnya.

“Ngga kok, “ sambil memasang senyum bego.

Dian tersenyum maklum. “Aku ngga tau kalau kamu jadian sama Ratih.”

“Ngga, kita ngga jadian kok,” Zul menggeleng salah tingkah.

Terdengar bungi klakson dari depan Loby, sebuah mobil berhenti. Kepala Jonathan menyembul dari kaca depan yang perlahan terbuka.

“Yuk, Dian,” Jonathan setengah berteriak.

“Kencan lagi?” tanya Zul sambil tersenyum.

Dian menggeleng. “ Dinner sama klien 'lagi',” katanya kemudian bergegas.

Zul mengangguk saat Dian melambaikan tangan.

Zul mengeratkan tali ranselnya, kemudian memasukan tangannya ke dalam saku. Ketika kakinya melewati pintu kaca otomatis loby dan sepatunya menginjak aspal parkiran, senja sudah turun.

Langit menjingga hebat. Suiran awan menemani burung-burung yang kembali ke sarang mereka.

Senja selalu menyenangkan. Detik-detik di mana matahari mengundurkan diri, sopan tapi gagah, menyentuh lantai bumi, membagikan rona keemasan pada awan-awan. Senja menghantarkan manusia-manusia yang kelelahan ke peraduan. Mengabarkan bahwa hari ini mereka telah berusaha dengan baik. Mempersilahkan orang-orang untuk kembali ke rumah di mana keluarga mereka menunggu.

Senja selalu menjanjikan bahwa masih ada esok, masih ada harapan.

HP Zul bergetar, WA Ninda masuk.

Besok mba Dian lembur. Boleh tuh diajak diner bareng (Pak Jonathan meeting ke luar kota).


(end.) 

20170122

Minggu ......


Pagi-pagi burung mematuk-matuk kaca jendela rumah gua. Sory, ralat ini rumah paman gua, cuman karena pamannya sudah setahun ini dinas di Surabaya, jadilah gua anggap ini adalah rumah gua.

Mata gua yang masih lengket berusaha membuka. Memeriksa berapa banyak burung sialan itu yang pagi-pagi begini sudah mematuk kaca jendela rumah gua. Yes, rasanya nyaman banget pas nyebut rumah ini sebagai rumah gua. Lagi pula paman gua ini masih bujang walau udah tua. Kayanya sih kalau dia sukses membujang dan kemudian meninggal, rumah ini bakalan diwarisin ke gua juga, sepupu yang paling dekat sama dia (amit-amit ah!).

Ada dua pagi ini. Kemarin tiga. Sepasang burung itu, yang gua ngga tahu mereka pacaran apa ngga sedang bergelayutan di salah satu ranting yang melambai ke dekat jenedela kamar gua. Mungkin ranting itu semacam ranting VIP yang nyaman banget sehingga setiap pagi akan selalu ada burung yang nangkring di sana. Lalu mungkin merasa bosan karena VIP tapi ngga ada fasilitas home theater-nya, jadilah burung sialan itu matuk-matukin kaca jendela kamar gua.

Gua terperanjat. Memeriksa jam yang masih melingkar di pergelangan tangan.

Jam 8!

Kampret, telat!

Gua sontak loncat menuju kamar mandi. Oh iya, kemaren malem gua kecapean jadi ngga sempet ngapa-ngapain. Jadi jangan kaget pagi-pagi gini nemuin anak laki-laki bujang, dengan dandanan eksekutif muda; kemeja kerja tangan panjang kusut slim fit, celana bahan stretch lengkap  dengan sabuk dan kaos kaki bau yang gua udah lupa kapan terakhir kali dicuci, berkeliaran nyari-nyari handuk di rumah kosong begini.

Oh iya, kemaren gua taro handuk di atas kulkas, ruang makan. Melasatlah gua menyambar handuk yang  posisinya selalu berubah-rubah tiap pagi karena kebodohan gua sendiri dan mendestinasikan diri ke kamar mandi.

Gua banting pintu kamar mandi dan mulai melakukan ritual melepas pakaian untuk lanjut ke aktifitas mandi pagi. Men! Airnya dingin banget.

Gua berhenti setelah kemeja slim fit yang mulai sempit di perut ini tersampai di gantungan kamar mandi.

Gua menarik nafas panjang supaya ubun-ubun ngga meledak saking kesalnya.

Njir, sekarang hari minggu!

Pintu kamar mandi terbuka perlahan, keluarlah gua dengan telanjang dada. Bulu-bulu halus di dada  dan area perut menyembul minta dicukur. Aku mampir sejenak di depan cermin. Memeriksa perkembangan six pack  di perut yang malah menunjukan tanda-tanda pembuncitan.

Sebuah penghinaan besar terhadap hari Minggu jika gua bangun pagi kemudian mandi. Hari Minggu harus dirayakan dengan ngga mandi sama sekali atau minimal mandinya harus di atas jam 12.

Gua merajang air. Serbuk kopi meluncur dari bungkus plastiknya kemudian mendarat di dasar gelas biru bertuliskan ‘Jomblo w Pride’ kesayangan gua. Dua menit lima belas detik kemudian air matang yang masih mendidih melelehkan gula dan kopi menjadi larutan dengan aroma mantap yang memenuhi ruangan kamar makan.

Tangan kanan sibuk mengaduk menimbulkan dentingan nyaring antara dinding gelas dan ujung sendok, jemari tangan kiriku serius membantu mataku berselancar di dunia maya.

Mengecek notifikasi di WA. Kosong. Line, kosong. Path, kosong. Instagram, kosong. Facebook, kosong. Oh iya, gua kan jomblo jadi harusnya gua ngga usah meriksa notif di lini masa lagi besok-besok dari pada ngerusak mood kaya gini.

Gua membawa gelas ke meja makan kemudian menyalakan TV, mencari serial kartun yang masih tersisa  di antara acara music ngga jelas.

Hari ini gua ngga ada acara. Mungkin gua akan habiskan dengan balik ke kamar untuk meneruskan tidur. Paling banter ya buka laptop terus nonton film di hardisk external yang belum di tonton. Sebagai perjaka jomblo, itu lah kira-kira bagaimana hari minggu gua dihabiskan.

Please jangan bersimpati atau merasa kasihan. Gua bukan lah manusia jomblo mengenaskan seperti yang sering disindir meme atau komik strip yang sering bergentayangan di lini Instagram setiap malam minggu. Ngga sama sekali.

Gua begini karena ini adalah pilihan gua.

Tuh kan, cibiran itu lho yang entah kenapa gua ngga suka. Kalian harus tahu bahwa di dunia yang makin padat ini ada juga orang yang nyaman dan cukup bahagia sama kesendiriannya. Toh ngga semua orang yang punya pacar hidupnya bahagia juga.

Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrd!

HP gua bergetar.

“Yo, ada apa Zul?”

Hebat jam segini udah bangun lu? Biasanya baru idup di atas jam 12.

“Iya nih, gara-gara burung sialan yang matuk-matukin kaca jendela gua. Mana acara TV paginya ngga jelas semua begini,” sambil memindah-mindahkan saluran TV dengan remote.

Hahahaha. Eh kerjaan gua yang kemren lu minta udah gua email ya.

“Kapan lu ngerjain nya?”

Kemaren lah dul, dari kostan gua kerjain. Harusnya gua dapet duit lembur tuh, sabtu-sabtu kerja.

“Hahaha, anggep aja sedekah, lu kan anak sholeh Zul. Hehehe.”

Kupret lah. Pokoknya besok traktir gua makan siang di padang depan yak.

“Ngga ada yang lebih mahal apa?”

Preet lah! Okeh. Gua ngabarin itu aja. Lu cek ya, takut-takut gua ada salah-salah.

“Okay!”

Sip. Udah yak, gua mau beres-beres kosan nih.

Tuuuut. Sambungan terputus.

Oh iya, di dengar dari nadanya yang riang gembira, harusnya hari ini tu anak berdua udah jadian.

Gua kenal Zul setelah acara ospek kuliahan. Almamater kita kuning waktu itu. Dan jujur, gua waktu lagi mahasiswa pendiemnya minta ampun, jadi rada susah dapet temen. Pas ada tugas mata kuliah tiba-tiba tu anak nepuk pundak gua dari belakang, terus nyengir.

“Lu mau sekelompok sama gua ngga? Gua belum ada buku pegangannya. Lu Dody kan? Gua Zul,” sambil menyodorkan tangan.

Itu obrolan pertama kami. Rada lebay emang, tapi kalo waktu itu Zul ngga ngajak gua sekelompok, mungkin masa kuliah gua hanya akan habis di perpustakaan kita yang kece itu. 

Gua belajar banyak dari Zul. Dia tipe orang yang entah karena keramahan atau ketulusan sikapnya orang-orang selalu berkeliling di sekitarnya. Dia begitu supel dan banyak teman. Dia ngga pernah ngecewain temen-temennya. Dia bisa begitu ngga egois dan selalau ada untuk kawannya. Gua banyak belajar dari dia agar bisa diterima orang lain.

Dan gua bersyukur bisa terpilih jadi sahabat terdekatnya.

Untung lah kita kerja di tempat yang sama dan ditempatin di divisi yang sama. Itu kenapa orang kantor bilang kalo kita itu duo yang paling kompak.

“Aduh, males banget hari ini ada meeting dadakan.” Gua mendadak Bete.

“Katanya ada anak baru yang lucu tuh,” kata Zul santai.

“Lu bisa bilang lucu juga. Lucu nya elu mah si Dian doang, ngga ada yang lain,” gua terkekeh.

“Kampret!” Zul ngelempar gumpalan tisu ka arah gua.

“Hari ini kita berkumpul untuk membahas Produksi barang A yang  rencananya akan launching di kuartal 3. Karena ini lintas divisi, kayanya kita harus perkenalan diri masing-masing, “ kata pak projek leader (gua sih ngga hapal namanya siapa, yang jelas mukanya ngeselin).

“Nama saya Ratih Kirana, baru join minggu lalu di Finance,”

Selama ini gua selalu cuek sama cewek. Sejak kuliah pun gua selalu menjunjung prinsip ‘Jomblo with Pride’ gua, namun pagi itu, mungkin karena suaranya yang renyah, senyumnya yang manis, wajahnya yang nyejukin, atau kombinasi itu semua, entah kenapa gua pengen merevisi prinsip gua tersebut.

Meeting itu gua ngga bisa focus. Sama sekali! Wajah itu menyita dunia gua dengan telak, di pertemuan pertama. Sialan!

Anak itu masih duduk di kursinya ketika meeting kami selesai. Nampak sibuk dengan laptopnya.

“Ehmm…” gua berdiri di sebelahnya, berusaha mengalihkan perhatiannya.

Dia medongak dengan wajah kosong, yang demi seluruh penduduk planet pluto, seluruh bola matanya yang bulat itu memandang gua dengan sempurna. Efeknya gua merasa sedikit sesak.

“Dody, Creative team, kalo butuh gua cari di lantai 5,” gua menyodorkan tangan.

Dia menjabat tangan gua. Aiiih, betapa kecil dan lembutnya tangannya.

“Ratih, sory aku anak baru jadi bakal sedikit jet lag, “

Jet lag?

“Adaptasi awal, jadi bakal agak selow,” wajahnya sedikit memerah.

Gua ngga bisa ngga tersenyum. Mungkin itu bahasa di kantor lamanya.

“Boleh minta nomer kamu? Tenang-tenang, gua ngga bakal macem-macem. Kita kan satu tim, kayanya gua bakal banyak urusan sama finance,”

Dia menyebutkan nomernya lalu bertukar miscall.

“Save ya,” gua terkekeh.

“Oke, jangan macem-macem ya,” katanya sambil tersenyum.

Betapa bahagianya hati gua ketika dapet senyuman itu sekaligus dapet nomernya. 

Lalu Zul bangkit dari kursinya, “Oh Iya, ini partner gua,”

Zul mendongak ke arah Ratih.

Mereka berdua saling tatap dan saling terdiam.

Agak lama.

Apa hanya perasaanku atau sepertinya Ratih menunggu sesuatu.

Akhirnya Zul menyodorkan tangannya.

“Zul, creative team, gua di lantai 5,” katanya.

“Ratih, “ ia menjabat tangan Zul.

“Okeh, duluan yaa,” kataku. kami berdua berbalik kemudian melanjutkan dengan langkah kebahagiaan.

“Boleh…, “ tiba tiba Ratih bersuara, dengan nada agak ragu. Aku menoleh.

“Boleh bagi nomernya…? Zul?” katanya akhirnya, seperti memuntahkan biji kedondong yang telah lama menyangkut di tenggorokannya.

Zul mendongak, lalu menyebutkan nomernya dan bertukar miscall.

“Duluan ya, “ kata Zul mengakhiri pembicaran pagi itu.


Tih reportnya udah gua kirim yak.

Gua memberanikan diri mengirim WA malam itu juga.

Badan gua berguling-guling di atas tempat tidur. Jendela kaca sengaja dibiarkan setengah terbuka supaya bisa mendinginkan malam yang panas ini.

HP gua masih belum bergetar. Mungkin dia masih di kantor. Mungkin dia masih sibuk sama kerjaan barunya. Mungkin dia lagi di jalan, naek Bus way, ngga sempet buka HP.

DRRRRRRRRRRR! Jam 11 malem. Gua bangun dari tidur. Sial, ampe ketiduran gua nungguin balesan Ratih.

Sory, baru cek HP. Tadi banyak banget yang mesti di beresin. Iya udah aku cek, maksih ya. Padalah Deadlinenya masih lusa.

Gua menguap sambil menggosok tepian dagu yang agak basah. Bener kan, emang dia lagi banyak kerjaan makanya balesnya agak lama.

Lagi senggang tadi, jadi cepet beresnya. Baru pulang, jam segini lho. Finance kejam juga ya. Emang rumah kamu di mana?

Sepik-sepik modus telah dikerahkan sodara-sodara, apakah dia akan merespon?

DRRRRRRRRRRRRRRRRRRD! 

Ga nyampe lima menit.

Gua melakukan pose selebrasi bak striker habis cetak gol!

Hahaha, kantor lama aku lebih kejam, ini mah itungannya masih sore. Rumah di daerah Kelapa Gading.

Anak ini nice, seenggaknya dia ramah dan selalu mau di ganggu via WA. Yellow light!


“Halo, Ratih. Siang ini udah ada temen makan belum?”

Hmm, belum tuh. Kenapa? Mau ngajak makan?

“Kalo kamu ngga keberatan makan sama gua dan Zul sih, kita mau makan rending super lezat di warung padang depan kantor.”

Rendang super lezat? Lemak dong.

“Oooh,  kamu itu sejenis cewek-cewek yang suka nahan lapar supaya lingkar pinggannya tetep kecil ya?”

Maksudnya apa tuh. Ngeledek ya, ahahahah. Ngga lah, aku ngga segitunya. Sekali-sekali makan mewah kan ngga apa-apa. Hayu lah aku join.

“Okeh, nanti aku WA ya.” telpon gua tutup.

“Kenapa lu nyengir mulu?” Zul noyor kepala gua. Ngga ridho amat dia liat gua bahagia.

“Siang ke Nasi padang yak, nanti si Ratih mau gabung.”

“Ooh. Okeh. Tapi gua ngutang dulu yak. Duit gua abis buat beli baju kemaren,” Zul memeletkan lidah. Gua balas toyor kepalanya.

Warung padang itu biasanya ngga pernah sepi. Tapi kali ini entah berkah dari langit atau orang-orang lagi pada ngga punya duit karena tanggal tua, kami bisa langsung mendapat tempat duduk paling nyaman di dekat kipas angin.

“Rendang di sini juara!” saat kami bertiga sudah duduk.

“Iya tah?” kata Ratih.

“Iya, dari jaman awal-awal kerja di sini, gua sih udah jatuh cinta sama bumbu rendangnya. Syedap, kamu kudu coba,” kata Zul.

“Jadi kamu mau pesen apa?” tanya gua. Si mamang sudah berdiri dekat meja kami bersiap mencatat.

“Rendang juga deh,” akhirnya Ratih memutuskan.

“Rendang 3, mang!”

“Gimana kerjaan kantor lama kamu? Seserem itu kah?” kemudian obrolan mengalir hangat.

Siang itu kita ngobrolin banyak hal. Dan untuk pertama kalinya gua ngelihat ketawanya Ratih yang lepas. Maksud gua, mungkin divisinya memang rada setan atau karena dia anak baru, sehingga gua merasa selama di kantor ia selalu merasa tertekan, bahkan ketika tersenyum ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya.

Kali ini berbeda sekali.

Matanya yang menyipit, otot pipinya, dan jajaran geligi putihnya. Itu tawa tulus dan ekspresi terindah yan gpernah gua saksikan seumur hidup gua. Men, gua merasa sangat beruntung bisa menyaksikan ini dari dekat. Entah kenapa gua ingin selalu melihat tawa itu. Gua ingin tawa itu selalu datang dari gua.

“Kamu, waktu kuliah ambil UKM apaan?” Ratih membuka pertanyaan.

Aku hendak menjawab dengan amat semangat.

“… Zul?” badannya seratus persen condong pada sahabat di sebelah gua.

“Gua mah kaya anak laki-laki kebanyakan, Futsal. Sama Korpus. Cuman ya dua-duanya ngga ada yang awet, gua cuman tahan dua bulan. Abis itu ngga ikut latihan lagi. Ahahaha,”

“Korpus, Koran kampus? Jago nulis dong, artikel kamu pernah tembus koran?”

Gua merasa ada kilatan-kilatan di kedua bola matanya saat dia menyimak apa yang dikatakan Zul. Binar matanya berbeda. Terlihat lebih hidup dan penuh ketertarikan.

Seperti…

Sepeti mata gua saat menatap dia.

Mata orang yang lagi…

Hei, Jangan bilang…


Beberapa minggu berajalan. Gua masih sering WA an sama Ratih, dan sikapnya sama seklai ngga berubah, masih ramah dan baik hatinya seperti dulu. Namun ngga butuh detektif macem Sherlock Holmes untuk tahu kalau gua sejak awal ngga ada dalam orbitnya.

Ngga pernah ada sama sekali.

Malam itu gua iseng main ke lantai tiga tempat finance. Kebetulan di mejanya hanya tinggal dia, bosnya sudah pulang.

Aku memberanikan diri. “Kamu suka sama Zul yah?”

Ratih menoleh kaget. Wajahnya memerah padam. Seperti maling yang lagi ketangkap tangan. Dari sini gua bisa lihat tulisan segede gaban diwajahnya; Gimana kamu bisa tahu?!

“Sudah sampai mana hubungan kalian?”

“Belum sampai mana-mana.” Ratih menunduk sedih. Sungguh hati gua teriris ngelihat ekspresinya kaya gitu.

“Mau aku bantu comblangin?” kalimat itu mencelos begitu saja. Yang selanjutnya gua bakal sangat menyesal  pernah ngucapin kalimat ini.

Ratih mendongak. Senyum berangsur terbit di wajahnya. Matanya berbinar. Ia mengangguk kuat-kuat. Hatiku sakit sekali.

Aku akhirnya tahu, aku sudah kalah start sejak awal. Ratih sudah suka Zul sejak SMA. Gara-gara insiden di Jogja. Sejak itu ia jatuh hati pada Zul. Ratih menumpahkan isi hatinya padaku. Aku malah jadi tempat curhatnya.

“Pokoknya kamu ikutin instruksiku ya. Si Zul itu bebalnya minta ampun kalau masalah cewek. Kamu harus rada agresif dan kasih kode super keras supaya dia nyadar. Dia aja ngga nyadar kamu temen SMA nya kan?”

Ratih mengangguk patuh.

Besok pagi Wa dia ya, ajakin sarapan bareng sambil modus bahas projek kita. Nanti gua pura-pura sakit perut.

Malem ini kamu lembur kan? si Zul juga. Ajakin makan di warung tenda depan, dia suka banget kwetiaunya. Nanti gua pura-pura di panggil bos deh.


“Gua suka sama Dian,” malam itu sehabis lembur Zul cerita tentang isi hatinya.

Gua tersentak! Yang ada di benak gua ketika itu adalah gimana caranya supaya Ratih ngga usah tahu hal ini. Gua ngga mau dia sedih. Gua ngga rela air matanya jatuh.


“Njir, coba ngga gua tembak si Dian. Ngga sesakit ini rasanya!” sore itu gua dengerin curhatannya Zul yang barusan di tolak sama Dian. Gua tawarin dia ngerokok. Ada perasaan lega di pojokan hati gua. Jahat emang gua.

Ajakin zul jalan besok. Minta temenin beli baju buat arisan keluarga gitu. Telpon sekarang, buru! jangan WA. Gua yakin kali ini bakal sukses.

Malamnya WA ratih masuk.

Makasih banyak ya, pas di telpon dia beneran mau diajak jalan.

Good luck ya.

Makasih banyak ya Dod, it means a lot for me.


Bunyi OST nya Doraemon menggema di udara, berpadu dengan aroma kopi yang setengah dingin. Bilah-bilah cahaya matahari sudah tercecer berjatuhan di lantai. Udara terasa menghangat. Cicitan burung yang barusan mematuki kaca jendela kamar gua masih riang terdengar sayup.

Mareka pasti udah resmi tadi malem. Yap, pasti!

Zul nembak dan pasti Ratih nerima dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Kayanya hari ini mereka akan jalan deh, an officially first dating.

Gua sadar kalau tawa itu ngga akan pernah jadi milik gua, makanya gua pengen tawa itu selalu ada di sana (walau ngga dari gua).

Dada gua entah kenapa bergemuruh hebat. Nafas gua tersengal. Mata gua mulai berembun. Ada segumpal rasa sakit yang selama ini bisa gua tahan tapi kali ini rasanya menjadi berlipat-lipat sakitnya.

Perih, 
Perih banget rasanya.


(bersambung…)

20170119

Kamis .....

“Kamu tahu apa yang menarik dari mu?”

Derak ranting saling beradu di sela-sela hembusan angin. Titik-titik hujan sudah bosan turun, toh tanah dan batang pepohonan sudah basah dari tadi. Awan-awan  mengalah sejenak, giliran bulan dan gemintang meramaikan angkasa malam ini.

Dari jendela yang setengah terbuka di lantai dua, terlihat seorang anak perempuan sedang berbaring telungkup di atas tempat tidur di dalam kamarnya. Bantal, laptop dan selimut bertebaran tak beraturan di antara tubuhnya yang tergeletak di sana.

“Ah kamu selalu diam tiap aku tanya." 

"Biar aku yang jawab deh.”

“Kamu itu selalu baik pada orang lain, walau terkadang menyusahkan diri kamu sendiri. Kadang aku ngga suka kamu yang seperti itu, walau tetap saja menurutku itu keren.”

“Oh iya, kamu selalu pelupa. Ngga pernah ingat hal atau tanggal penting. Menurutku nyebelin sih. Soalnya kalau kamu ngga hafal yang gitu-gitu gimana kamu mau ngasih kejutan. cewek kan seneng sama kejutan-kejutan. Walau kecil dan simple, tetap saja kejutan itu membahagiakan. Karena dia datang ngga disangka-sangka.”

“Kamu juga simple, ngga pernah terlihat wah. Maksudku dandananmu biasa aja, ngga pernah keliatan gimana-gimana. Kamu juga serang yang gentle, ketika naik lift dan penuh kamu akan mengalah, tak pernah segan membukakan pintu untuk perempuan. Ketika di kereta atau bis, kalau ada orang tua berdiri, kamu akan mempersilakan mereka mengambil tempat dudukmu.”

“Kamu itu tukang ngeluh kalau lagi bete, tapi selalu jujur dan berusaha untuk ngga syusahin orang lain. Itu kenapa kadang kamu pulang lebih malem. Karena kamu sering dimintain tolong dan kamu ngga bisa nolak. Walau menggerutu, tapi toh kamu kerjain juga permintaan mereka. Mungkin itu yang bikin temen kamu banyak. Kayaknya satu lantai kenal kamu semua. Mereka ngga segan-segan ngeledekin kamu, karena kamu dan mereka sudah saling akrab, dan mereka tahu kamu itu ngga bakal marah kalau diledekin segimana juga.”

Boneka Twetty kuning yang selalu menemani Ratih tidur menatapnya.

“Kamu kok ngeliatin aku nya gitu?”

“Ah, aku juga yang aneh, malam-malam gini ngobrol sama boneka, ya iya lah ngga bakalan nyahut.”

Ratih memeriksa HP di meja sebelah tempat tidur.

Tidak ada notifikasi.

Mungkin Zul udah tidur, dia suka tidur cepet soalnya.

Ratih merapikan bantal, menaruh laptop kemudian menarik selimut.

DRRRRRRRRRRRRRRRRRD!

HPnya bergetar.

Ratih meloncat, terpogoh-pogoh menuju tepian tempat tidur lalu meraih HP yang masih menancap kabel chargernya.

Sabtu malem dinner yuk, di Roof Top café. Bosen makan warung tenda depan kantor mulu. Bisa ngga?

Ah, tu anak panjang umur. Ratih tersenyum sumringah.

Boleh2. Aku berangkat sendiri aja tapi ya, ngga usah di jemput. Emang anak manja pake jemput-jemput. Jam 8 kan?

Dia menekan enter setelah beberapa kali ketik-edit.

HP-nya bergetar lagi.

Yakin? Oke deh. Sleep tight.

Tuh kan, dia tuh lurus banget orangnya. Nyoba-nyoba ngebujuk supaya Aku mau dijemput kek. Bisik Ratih rada kesal dalam hati.

Walau begitu, senyum di wajahnya entah kenapa tidak mau luntur. Mungkin malam ini dia bakal tidur dengan penuh senyum kaya gini.
  
“Bahagia banget hari ini?” Ratih menoleh. Bosnya muncul di belakangnya, baru tiba rupanya.

Kebetulan ditimnya, hanya ada mereka berdua. Ratih dan Bosnya. Seharusnya sih mereka bertiga, hanya saja satu orang lagi baru saja mengajukan resign sebulan yang lalu, katanya sih HRD lagi nyari penggantinya, tapi tak kunjung ada. Akibantnya mereka (Ratih dan atasannya) semakin kompak karena mau ngga mau harus berbagi pekerjaan.

“Biasa aja kok Bu, “ Ratih berusaha telihat biasa. 

“Anak lantai 5 itu ya?”

Ratih menoleh kaget. Apa iya wajahnya gampang ditebak?

“Aku sering lihat kalian makan di warung tenda depan kantor,”

 Ratih diam saja, ia berusaha focus pada layar laotop dihadapannya, berusaha terlihat serius.

“Ciyeeee, sok-sok serius gitu,”

“Apa sih Bu,” nyengir-nyengir ngga enak.

“Udah jauh hubungan kalian? Kamu udah kasih kode keras belum? Cowok jaman sekarang mah ngga ada yang peka. Kalo ngga dikode-in ngga ada yang nyadar. kadang yang udah dikasih kode super keras juga masih bebal-bebal aja.”

Umur Ratih dan Bosnya sebenarnya tidak terpaut cukup jauh, mereka hanya beda tiga tahun. Jadi seharusnya dunia perasmaraan mereka tidak terlalu berbeda.

“Aku juga bingung, apa IQ laki-laki yang makin ke sini makin bodoh atau gimana ya, kok ngga peka-peka.”

“Ibu curhat suami ibu ya?” celetuk Ratih.

“Kamu bisa aja ah,” kemudian dia berlalu menyembunyikan wajahnya yang memerah, mungkin ke kamar kecil.

Ratih terdiam.

Beberapa minggu yang lalu ia nekat mengajak Zul makan. Jaman sekarang walau katanya sudah jaman emansipasi, sudah banyak cewek ngambil inisiatif duluan, tetap saja  malunya bukan main. Entah kenapa rasanya seperti dia melawan kodratnya sendiri.

Untuk Zul sangat baik, dia bilang Oke, jadi Ratih ngga jadi malu. Coba kalo Zul bilang ngga bisa, mau ditaro di mana mukanya Ratih coba.

kali itu mereka jadi makan malam bareng dengan modus bahas kerjaan, walau cuman di warung tenda depan kantor (oh iya, Zul dan Ratih masih satu project waktu itu).

Beberapa hari berlalu, Ratih menunggu. Harusnya Zul mengerti apa yang dimau Ratih. Sayangnya setelah itu tidak ada pergerakan dari Zul. Bukankah ngajak makan itu adalah salah satu bentuk kode yang amat sangat jelas. Dengan ngajak makan duluan, semua cowok dari pelanet Namex juga harusnya ngerti. tapi si Zul ngga ada manufer apa-apa setelah itu. Ratih gemes bukan main. 

Mungkin Kodenya kurang keras. akhirnya setelah mengumpulkan keberanian selama seminggu lebih, Ratih memberanikan diri menelpon Zul, memintanya menemani membeli baju, alasananya sih untuk arisan (ini mah murni modus). 

Walau sambil membaca contekan dan agak terbata-bata saking groginya Ratih saat menelpon waktu itu, Zul akhirnya mengiyakan. Ratih mau melompat dari kamarnya di lantai dua waktu itu, tapi membayangkan kakinya patah dan dia harus pake kruk saat weekend besok, Ratih mengurungkan niatnya. Ia bergegas membongkar lemari dan memilih baju yang akan dikenakan untuk acara weekendnya bersama Zul (semalaman itu ia mematut-matut di depan cermin memilih baju mana yang paling pas).

“Kalian pernah makan di mana aja?” Bos nya baru balik dari kamar kecil. Tuh bibirnya makin merah, dia pasti baru benerin dandananya di kamar mandi.

“Warung tenda depan, sama pernah sekali kali ke mall,” kata Ratih, pura-pura tak acuh.

“Waah, anak itu ngga ngajak kamu makan ke tempat yang bagusan dikit?”

“Dia belum nembak? Kalian belum jadian?”

Ratih berat menggeleng. Kadang dia juga bingung. Dia sudah mati-matian menunjukan perasaannya dengan segala per-kode-an nya pada Zul. Tapi Zul tetap biasa saja. 

Sebenarnya Zul itu baik pada Ratih, sangat baik malahan. Tapi hanya sampai di situ saja.

Apa Zul hanya menganggap dirinya teman doang?

Tiba-tiba Ratih merinding. Dia tidak mau memikirkan kemungkinan itu.

“Apa sih yang bikin kamu kesem-sem gitu sama dia, Tih? Kalau dilihat-lihat yah, dia ngga charming-charming amat, tampang sama dandananya juga biasa aja. Kamu itu cantik lho, kalo kamu mau kamu bisa dapetin yang lebih ganteng dari dia,”

Aduh ini emak-emak, untung atasannya, kalau bukan sudah dipites-pites dari tadi.

Sabaar-sabaar, ini ujiaan.

Mungkin enam tahun lalu, saat langit Yogya tidak sepengap sekarang karena banyaknya kendaraan di atas kota yang selalu bikin kangen itu.

Ratih yang masih SMA terpogoh-pogoh mencari bis. Mereka baru saja menjelajahi jalan Malioboro. Ini adalah salah satu runtutan kegiatan study tour mereka ke kota istimewa ini. Bagi Ratih, yang anak satu-satunya di keluarganya, ini adalah kali pertama dia jauh dari rumah tanpa ayah atau ibunya.

Sialnya lagi, saat dia sedang asyik memilih oleh-oleh untuk neneknya di rumah ia terpisah dengan teman-teman sekelasnya. Ketika sadar teman-temannya sudah tidak ada di sana. Padahal sebentar lagi sudah jam berkumpul untuk pulang ke Hotel.

Sudah kelelahan, kepanasan, wajah merah karena peluh dan ketakutan, Ratih terpogoh-pogoh menyusuri jalanan mencari teman-temannya. Ia tak berani bertanya karena ia tidak mengerti Bahasa jawa dan dia tidak diajarkan untuk berbicara pada orang yang belum ia kenal.

Ratih sudah nyaris menangis karena ia sudah sangat ketakutan akan di tinggal rombogan bis dan haru sudah makin sore. Tiba-tiba seseorang mencolek punggungnya. Ratih menoleh, ia menemukan Zul, yang kepalanya botak dan jerawatnya banyak, di hadapannya.

“Anu, kita satu sekolah kan?” Ratih melihat Zul sangat gugup dan malu-malu. Anak itu bahkan berbicara sambil menunduk.

Ratih mengangguk. Menemukan teman yang memakai seragam yang sama, walau bukan teman ceweknya, Ratih merasa sangat lega.

“Boleh pinjem duit?”

“Ah?”

Anak itu menggaruk kepalanya, lalu memainkan ujung sepatunya.

“Tadi aku membeli gantungan kunci dari nenek itu,” ia menunjuk seorang nenek di perempatan jalan. “Ternyata uangku hanya yang ada di saku celana, dompetku ketinggalan di kamar hotel. Aku kelaparan belum makan dari pagi karena tadi bangun kesiangan jadi ngga sempet sarapan di hotel,” wajahnya memerah malu.

Ratih memperhatikan kantung keresek hitam di tangan anak itu. Itu jelas-jelas terlalu banyak untuk dimakannya sendiri. Ratih melempar pandangannya pada nenek-nenek yang dimaksud. Nenek itu terlihat kepanasan dan kelelahan dengan dagangan yang masih sisa banyak.

Ratih mengerjapkan matanya.

“Kenapa kamu beli banyak-banyak gitu gantungan kunci nya?” sambil menunjuk keresek hitam yang di tenteng Zul.

“Habis, kasian nenek itu, sudah sore begini tapi dagangannya masih banyak. Jadi aku habiskan uangku untuk beli gantungan kunci ini. Aku kira aku bawa dompet, ternyata ketinggalan.” Ia menepuk kepalanya kesal.

Sejak hari itu, Ratih selalu memperhatikan anak botak berjerawat itu. kejadian di Marioboro itu menimbulkan perasaan aneh pada Ratih. Diam-diam Ratih menyelidiki kegiatan Zul. dari eskul, les hingga teman mainnya. Sayangnya mereka harus berpisah setelah lulus. Ratih memutuskan untuk kuliah di Jogja sedangkan Zul di Jakarta. 

Hingga takdir kembali mengatur, ketika pindah ke perusahaan ini setengah tahun lalu Ratih secara tidak sengaja berpapasan dengan Zul di lobby di hari pertamanya di kantor ini.

Tapi Zul tidak menyapanya. Mungkin dia lupa. Lagi pula mereka tidak pernah sekelas dan tampang Ratih dulu dan sekarang beda sekali. Berada satu kantor dengan cinta pertamanya membuat Ratih bahagia minta ampun.

Ia menganggap pertemuannya kembali dengan Zul merupakan pertanda langit. Tambah lagi sebulan yang lalu mereka berada dalam satu projek yang sama. Bayangkan betapa indahnya dunia ini bagi Ratih sebulan yang lalu.

Orang bilang cinta pertama itu tak bisa dilupakan.

Ratih mengiya kan. Karenanya, kali ini ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Dia ngga pernah ngajak kamu makan keluar gitu?”

“Besok, ke Roof top café,”

“Wah, café baru yang katanya romantis banget itu?”

Ratih mengangguk.

“Ini pertema kali dia ngajak keluar dan langsung ke Café keren?”

Ratih mengangguk (lagi).

“Kami siap-siap ya, dandan yang cantik,”

“Hah? Emang kenapa bu?”

“Aduh, kamu itu polos banget ya. Kalau ada cowok yang lagi PDKT lalu tiba-tiba ngajak ke tempat romantis nan istimewa, kira-kira dia mau ngapain?”

Ratih masih memasang wajah tak mengerti.

“Dia mau nembak kamu,”

Ratih terdiam.

Detik berikutnya terdengar suara setengah menjerit. Seluruh ruangan menatap Ratih heran. Ratih buru-buru menutup mulutnya, kaget sendiri dia.

Wajahnya semerah tomat masak.


(bersambung...)