Siang itu, sepulang sekolah, dari
lorong-lorong kelas masih terdengar celotehan anak-anak, langkah-langkah kaki
dan detik jam yang menggantung di dinding kelas.
Sejam yang lalu bel pulang
sekolah berdering. Kebanyakan anak langsung pulang untuk langsung ke rumah,
sebagian pergi ke tempat les, sebagian pergi kerja kelompok ke rumah teman,
sebagian lagi tetep tinggal untuk
melakukan aktifitas eskul.
Di bagian selatan lapangan
upacara berdiri pohon beringin tua yang memayungi sekolah. dahannya yang lebar
dan daunnya yang rimbun sangat membantu memayungi beberapa bagian gedung
sekolah dari terpaan sinar matahari siang. Kepsek yang baru baru sadar kenapa
mendiang kepala sekolah lama bersikeras mempertahnkan agar pohon ini tidak di
tebang.
“Ayo, nanti kita telat!”
Ryan menutup komik yang ia baca
lalu memasukkan ke dalam ranselnya. Ia berdiri. Walaupun wajahnya ngga
ganteng-ganteng amat, dengan perawakan yang lumayan manly, tinggi di atas 175 dan cukup kekar, karena rajin push up dan sit up di rumahnya, membuat anak-anak gadis enggan melewatkan anak
ini. Ryan cukup popular di sekolah, bahkan ada beberapa kakak kelas yang katanya berusaha mendekatinya.
Tapi karena hanya peduli dengan
main musik, dia tidak terlalu memperdulikan tingkah gadis-gadis di sekitarnya. Dia
hanya berusaha bersikap ramah sebisanya, keseringan sih cuek karena agak risih. anehnya, karena
sikap cueknya itu cewek-cewek makin penasaran padanya.
“Bentar-bentar,” katanya sambil
melesat mengikuti Rudi yang memanggilnya dari depan pintu kelas. Mereka melangkah beriringan
menyusuri lorong sekolah.
“Hari ini kita latihan lagu apa?”
tanya Ryan.
“Gatau Gue, kita anak kelas X
cuman bisa ngikut par akakak kelas itu bukan?”
“Padahal tinggal sebulan lagi
kompetisinya, tapi lagunya masih belum ditentuin,” Ryan mendesah.
Ruang eskul ada di bagian
belakang sekolah, anak-anak harus menyebrangi lapangan olah raga, yang sekarang
sedang dipakai latihan anak sepak bola, gedung green house lalu belok ke kanan, baru bisa mencapai ruang eskul.
Kadang kalau hujan, ngga ada yang mau ke sana karena tak ada tempat berteduh
dan tanahnya pasti basah sehingga membuat sepatu kotor.
“Gedung itu masih kepake apa ngga
ya? Kok keliatanya rada-rada spooky?” tanya Ryan.
Rudi menoleh, yang dimaksud
adalah gedung green house.
“Ngga tahu, kata kakakku yang
alumni sekolah ini sih dulu ada eskul berkebun, green house itu dibangun oleh anggotanya waktu itu.”
“Jaman sekarang, mana ada anak
yang mau berkebun, paling juga eskulnya mati gaada peminat,” tambah Rudi.
Tapi detik berikutnya, seorang
anak keluar dari gedung itu, berlari-lari kecil membawa ember kemudian mengisi
air di keran di samping green house tersebut.
“Buset! Ternyata masih ada anak
yang hobinya berkebun,”
Anak perempuan itu tidak sadar
kalau dirinya sedang diperhatikan walau sekilas, kedua anak laki-laki tadi
mempercepat langkahnya menuju ruang eskul karena mendengar gemuruh petir di kejauhan.
Anak perempuan itu mendongak.
Memandang langit barat yang mulai kelabu di gulung awan.
Ia memeriksa ember yang ternyata sudah meluap.
Kemudian buru-buru mematikan keran lalu membawa ember itu ke dalam.
Sebenarnya ini hanyalah green house sederhana. Bukan green house
besar yang semua dinding dan atapnya terbuat dari kaca seperti di filem-film Jepang.
Ini hanyalah bangunan 6x10 meter yang atap nya terbuat dari asbes plastic
transparan dan dindingnya dari semacam kerangka kayu yang di lapisi pelastik
transparan, walau sekarang tidak transparan lagi karena sudah tua dan kotor
karena debu dan sarang laba-laba. Dari luar bangunan ini terlihat tak terurus
dan menyeramkan.
Di dalamnya ada petakan-petakan
yang tiap petak diisi oleh tanaman yang berbeda-beda. Beberapa bahkan sudah
berbuah, menunggu di panen.
“Bulan depan, kalian pasti sudah tumbuh
besar dengan buah-buah yang mungil,” anak itu berbisik riang. Ia bergerak kepojokan,
menghubungkan bluetooth HP nya pada semacam speaker portable lalu terdengar
musik mengalun.
Ia mulai menabur pupuk lalu
menyiram tanamannya satu per satu. Walau kelelahan, tapi wajahnya terlihat
ceria dan puas.
“Apaan sih tadi, katanya mau ikut kompetisi tapi ngga ada yang dateng,” Rudi mengeluh.
Ryan memandang langit, gerimis
turun. Berdua, mereka otomatis mempercepat langkah sambil menaruh tas di atas
kepala.
"Ditungguin sampe se jam, ngga ada yang muncul!"
Rudi berlari, makin cepat.
“Tungguin!” teriak Ryan.
Tapi Rudi malah makin menjauh,
kayanya dia ngga denger.
Anak-anak yang barusan latihan sepak bola juga membubarkan diri, mereka ngga ada rencana ujan-ujanan hari ini.
Ketika melewati green house, Ryan
mendengar sesuatu.
Ada lantunan musik.
Rian mengingat-ingat sejenak.
Ini kan cannon in D?
Ini kan cannon in D?
Ryan memperlambat larinya, lalu
bergerak menuju ke green house, sumber suara.
Siapa yang memasang musik klasik begini?
Ryan berjalan pelan mengitari
bangunan, setelah bersusah payah menembus ilalang tinggi yang mengelilingi
bangunan.
Ia mengintip ke balik plastic yang
beberapa bolong di berbagai sisinya. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Ryan
menemukan speaker portable kecil dan sebuah HP yang tergeletak di dekat
tumpukan karung di pojokan ruangan menyeramkan itu.
Rasa panasarannya mengalahkan
rasa takutnya, Ryan melangkah pelan memasuki bangunan tua itu, mendorong pelan pintu.
Terdengar bunyi berderik menyeramkan.
Terdengar bunyi berderik menyeramkan.
Ini kali
pertama dia menginjakan kaki di bangunan itu. Ia akan merasa sangat bersyukur ketika
kelak dia mengingat hari pertama dia menginjak bangunan itu.
Ia mengedarkan pandangannya, tidak menemukan
siapa-siapa.
Ada beberapa petakan yang
terhampar di dalam bangunan itu. Beberapa sudah terlihat seperti sudah digarap, satu petak sudah memiliki tanaman yang rimbun, tapi kebanyakan berupa
tanah kering tak terawat.
“Hei”
Ryan melompat demi
mendengar suara itu. Ia kaget bukan main.
Seorang gadis muncul di
belakangnya. Untung bukan hantu, padahal dia sudah siap-siap kabur tadi,
“Sory, aku mau masuk, jangan
menghalangi pintu,” katanya.
Praktis Ryan bergeser, memberi
jalan gadis itu masuk.
Ryan memperhatikan sosok itu. Dia belum
pernah melihat anak ini di sekolah. maksudnya, walau baru kelas X, harusnya dia
hafal wajah semua penghuni sekolahnya, toh
sekolahnya ngga gede-gede amat.
Gadis itu bergerak cekatan, menaburkan
sesuatu ke tanah, yang diduga Ryan adalah pupuk. Kemudian menyiram air ke
atasnya.
Ketika sadar, ternyata ember nya
telah kosong. Gadis itu bergerak keluar sambil membawa ember itu.
Sama sekali tidak mengajak Ryan
bicara.
Ryan juga kagok, dia ingin
mengajak bicara anak ini namun tak tahu namanya. Baru kali ini dia sadar
ternyata keberadaan sebuah nama itu sangat penting bagi seorang manusia, agar
kita bisa saling bertegur sapa dengan lebih mudah.
Ryan mengikuti gadis itu yang
sekarang sedang mingisi ember dengan air dari keran.
“Kamu lagi ngapain?” tanya Ryan
akhirnya.
Anak itu menoleh.
“Ngisi air,” katanya singkat,
padat dan cukup menjelaskan sebenarnya. Tapi Ryan belum puas.
“Bukaan, maksudku di sini, di green
house ini?”
“Kelihatannya?”
“Kerkebun?” Ryan ngga yakin.
Anak itu mengangguk pelan, lalu
kembali mengawasi embernya.
“Sendirian?”
“Kelihatannya?”
Ryan agak kaget ketika
pertanyaanya dijawab dengan pertanyaan juga. Baginya, yang dididik di keluarga
dengan penuh sopan santun, hal itu sedikit tidak sopan. Harusnya yang ditanya
tidak boleh balik bertanya.
“Sendiri, sih” jawabnya sendiri,
agak ragu.
“Ngapain nanya kalo udah tahu,”
kata gadis itu, tapi dengan wajah datar dan tanpa dosa.
Ryan terdiam. adarasa jengkel yang menggelitik muncul jengkelnya. Kesan pertama anak ini ngga asik.
“Yah siapa tahu, ada kawan kamu
yang aku belum lihat,” Ryan masih belum puas.
“Ngga ada, cuman aku sendiri kok. Kalau kamu liat orang lain selain aku, mungkin itu hantu penunggu banguna ini,”
Ryan merinding. Untung dia ngga liat siapa-siapa lagi.
Anak itu memutar keran lalu mengangkat ember yang sudah penuh berisi air itu. Namun terlihat kerepotan karena ember yang dibawa berukuran besar.
Ryan kemudian mendekat dan
membantu, tanpa meminta izin dia meraih ember lalu mengangkatnya.
Ryan merinding. Untung dia ngga liat siapa-siapa lagi.
Anak itu memutar keran lalu mengangkat ember yang sudah penuh berisi air itu. Namun terlihat kerepotan karena ember yang dibawa berukuran besar.
“Biar aku bantu,” katanya. Mudah bagi
Ryan dengan tubuh besarnya mengangkat ember penuh air itu, ia berjalan
hati-hati agar isinya tidak tumpah.
Gadis itu terdiam, setengah kaget
anak itu membantunya.
“Hey, jangan bengong, ini mau ditaruh
di mana? Berat nih,” kata Ryan dari dalam.
“Taruh dekat tumpukan pot, “
katanya akhirnya, kemudian buru-buru masuk.
Setelah itu Ryan menonton anak
itu berkebun, menurut dia tidak apa-apa menghabiskan waktu di sana. Toh masih
hujan, kalau dipaksa menyebrangi lapangan olah raga ke gedung utama, pakaiannya
akan basah.
“Nih, “ Gadis itu mengasongkan
sebuah tomat merah.
“Baru dipanen hari ini,” gadis
itu menunjuk petak tanaman yang paling rimbun. Di dekatnya ada keranjang berisi
beberapa buah tomat yang baru di petik.
Ryan menerimanya ragu-ragu. Kaget
dia, ternyata gadis ini walau agak aneh ternyata baik hati.
“Aku ngga pake pupuk kimia di
sini, semuanya alami. Jadi buah nya lebih sehat,” tambahnya.
Pantas ada bau tak sedap sedari
tadi di sini, itu pasti bau pupuk alami atau apalah yang dibilang gadis
itu.
“Dan udah di cuci, jadi kamu ngga
akan sakit perut.” Tambahnya lagi.
Ryan tersenyum.
“Makasih,” katanya akhirnya lalu
mulai mengunyah.
“Hmm, enak,” katanya Ryan, mulutnya setengah penuh.
“Ko yang di rumahku ngga seenak
ini rasanya?” katanya lebih ke dirinya sendiri.
“Kan sudah aku bilang, ini pake
pupuk alami. Wajar kalau rasanya lebih enak,” kata gadis itu datar.
Ryan nyaris keselek.
Kemudian tersenyum, ia mulai
terbiasa. Mungkin memang tabiatnya seperti itu. Gadis ini sama sekali
tidak ada niat menyakiti perasaan Ryan
dengan kata-katanya yang tajam itu.
“Kamu sendirian?” tanya Ryan
setelah beberapa menit sunyi.
“Maksudku, ngga ada temen lain
yang juga ikut berkebun. Kamu semacam melakukan eskul kan di sini?” tambah Ryan
sebelum anak ini menjawab dengan kalimat tajam nya.
Gadis itu mengangguk.
“Cuman aku sendiri,” katanya.
"Kenapa?"
“Kayanya ngga ada yang mau gabung eskul berkebun. Apa ya kata mereka kemarin itu? Oh, ngga keren. Mungkin itu alasannya. Padahal aku sudah menempel pengumuman di mading sekolah,”
Ryan mengangguk.
Iya sih, jaman sekarang mana ada
yang menganggap berkebun itu keren.
Paling juga paskibra, band, basket
atau futsal. Kebanyakan cewek pasti akan lebih memilih ikut cheers atau padus
sekolah. Eskul berkebun tak akan pernah ada dalam benak mereka.
“Makasih, udah angkat air tadi,” kata
gadis itu akhirnya.
Ryan mendekat.
“Kenalin, namaku Ryan. Kamu?”
Gadis itu menoleh.
Lalu menyambut acungan tangan
Ryan.
“Beca, Rebeca,”
“Agak bule namanya, aku lahir di Amerika
soalnya. Baru pindah awal semester ini ke Indonesia,” tambahnya.
Ryan memperhatikan anak di
depannya. Rambutnya hitam. Matanya cokelat. Hidungnya pesek. Kulitnya putih tapi
bukan putih bule, putih langsat kaya orang pribumi kebanyakan.
Tidak ada tanda-tanda bule pada penampakannya.
Tidak ada tanda-tanda bule pada penampakannya.
“Ayah ibuku asli Indonesia kok,
cuman karena kerja di Kedubes, aku kebetulan ngga lahir di indonesia. Aku juga
bingung kenapa dikasih nama orang bule. Karena udah kepalang ada di
akta lahir aku ngga bisa ganti lagi, ” kata Becca.
Ryan menahan senyum. Anak ini
bisa baca pikiran orang.
“Kamu, tiap hari ke sini? Maksudku
eskulnya, apa kah ada hari khusus?”
“Tiap hari kok. Kalau sehari ngga
diurus, kasihan nanti meraka kelaparan. Kecuali minggu, kan libur,” Becca melepas
sarung tangannya lalu duduk di atas tumpukan karung. Di situ ngga ada kursi.
“Lalu musik ini? Biar tanamannya
tumbuh lebih subur gitu, dengan dikasih musik?”
“Ngga,” Becca menggeleng.
“Hah?” mau ngga mau Ryan
bingung.
“Biar rame aja. Soalnya bangunan
ini tua dan rada menyeramkan. Kubesarkan musiknya supaya aku ngga merasa
sendirian,” katanya.
“Ha ha ha!” Ryan ketawa.
“Terus kenapa klasik, kamu
penggemar aliran musik klasik? Bethoven, Chopin?”
“Ngga juga, ini kan tugas pelajaran
kesenian minggu lalu, suruh pelajarin musik klasik. Aku sebenarnya lebih suka
musik-musik yang mainstream. Ini lagi belum nambah kuota aja buat download,”
Ryan ketawa lebih keras.
“Kenapa ketawa?”
“Kamu lucu yah? Ngga ketebak!”
lebih ke pada dirinya sendiri.
Langit berhenti hujan. Awan
masih kelabu tapi tak ada lagi rintik yang turun. Mungkin bosan.
“Oke deh, Aku cabut duluan ya,”
kata Ryan.
“Bareng, aku juga sudah selesai. Mau
les abis ini, “ kata Becca sambil mengambil tas lalu menyampaikan ke pundaknya.
“Oke, “ akhirnya setelah agak
kaget.
“Kamu masih mau tomatnya? Kalo ngga
mau aku kasih ke penjaga sekolah semua,”
Ryan mengambil dua buah, satu
dimakan saat perjalanan ke gedung utama, satu dimasukan ke dalam tas. Buat di
rumah pikirnya.
Sore itu mereka pulang beriringan
berdua. Yang karenanya besoknya jadi ramai. Anak-anak sekolah mengira mereka
jadian, padahal ngga.
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)