20130203

Coffee Shop



Wajahmu memerah ketika menghampiri aku di dalam coffee shop kesayangan kita. Jelas sekali kamu baru saja berlari-lari menuju kemari. Sambil menautkan rambut pendekmu ke belakang telinga, kamu tersenyum. Senyum manis yang sudah lama aku nanti.
“Bagaimana?” kataku tiba-tiba. Kamu menoleh.
“Apanya?” Kamu bingung, masih sibuk berbenah diri.
Aku tertawa, bahkan aku belum tahu maksud ‘bagaimana’ tadi itu untuk apa.
“Dasar Aneh,” sambil mengerutkan alis nakal. Sekarang tangan kamu mengusap celana jeans pinsilmu dengan selembar tissu. Tersisa beberapa percikan gerimis di sana-sini, termasuk di atas jaket kulit coklatmu.
Aku menyeruput vanilla late-ku. Ditemani lagu jazz lembut yang baru saja menggema dari sudut ruangan. Minuman hangat ini terasa lebih nikmat, apa lagi sambil memperhatikan parasmu.
“Empat tahun ya?” kataku lagi. Sambil terus memeriksa tiap jengkal wajahmu. Empat tahun adalah waktu yang terlalu cukup untuk membuat penampilan seseorang berubah.
Dulu kamu sangat sederhana, dengan jeans dan kaos berkerah sekenanya, bahkan kamu tak pernah lupa mengenakan topi nike hitam kesayanganmu. Tomboy sekali. 
Machiato pesananmu tiba, dihantarkan seorang waitress cantik. Sambil tersenyum ia beranjak pergi.
“Cantik ya?” kataku. Kamu mengangkat muka lalu memperhatikan waitress tadi lebih seksama.
“Jujur, iya,” wajahmu datar.
Aku jadi kesal karenanya, kupalingkan wajahku ke jendela.
Gerimis masih menari-nari di luar, menjadikan ruangan yang kita duduki, dengan beberapa pengunjung yang sibuk dengan obrolan mereka masing-masing, terasa lebih nyaman.
Bel berbunyi, seseorang masuk, tampangnya kusut.
“Hot Cappucino!” bentaknya. Beberapa kepala menoleh ke arahnya.
Ia balik melotot, menantang semua wajah yang menuju ke arahnya. Ia melipat tangannya, kemudian menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
Kenyamanan yang beberapa detik lalu masih terjaga diganggu orang baru ini.
“Aku berani bertaruh kalau dia baru saja putus dengan pacarnya,” kataku.
“Dia hanya sedang buru-buru. Ketinggalan jadwal selalu membuat orang-orang stress.” katamu, sambil menghirup machiato.
“Mirip kamu dulu ya?” tambahmu, bibirmu penuh foam, aku usap dengan selembar tissu. Kamu tersenyum.
Pikiranku berkelana pada saat kita masih kuliah. Hari itu hujan dan kita terpaksa berteduh dalam sebuah warkop sederhana di kisaran Bogor.
“Uuh, hujan terus. Alamat gagal lagi minta tanda tangan dosen,” aku menaruh tumpukan skripsi di atas pangkuanku yang lembab.
“Sebel ngga sih? Hujan terus, naek angkot, mana macet, dan sekarang...” Aku mulai memelankan suaraku, “kita terjebak di sini, di warkop reot ini.” Aku yakin wajahku nampak kesal setengah mati waktu itu.
Kamu dengan malas mengaduk kopi tubruk pekat yang ada di hadapanmu. Aroma kopi hangat menyeruak mendesak hidung.
“Kalau aku sih, selalu berusaha mensyukuri setiap keadaan yang aku alami.”
Aku menopang dagu, sengaja memasang tampang bosan, menyiapkan diri mendengarkan kuliah panjang yang sering kamu lantunkan saat sedang bersamaku. Entah karena kamu penceramah yang baik atau aku yang terlalu suka mendengarkan suaramu.
“Aku akan selalu berusaha mensyukuri dan menikmati setiap level dari hidupku. Hujan-hujanan, berdesak-desakan di dalam angkot, terjebak macet, berlari-lari menembus hujan, mengejar tanda tangan dosen, pokoknya semua, apapun itu. Karena aku sadar, suatu hari nanti, ketika kita sudah berada pada level yang berbeda, kita tidak akan lagi bisa menikmati apa yang kita lakukan sekarang.
“Mungkin nanti kita terlalu sibuk untuk sekedar duduk-duduk di warkop seperti ini, terlalu mobile hingga harus punya mobil sendiri, telah menjadi orang penting sehingga orang-orang  yang mencari-cari tanda tangan kita.”
Aku menegakkan posisi dudukku, tiap katamu memukul-mukul pangkal benakku.
“Contohnya, sekarang kita sedang duduk dalam sebuah warkop,” memelankan suara, “yang katamu reot,” kembali menormalkan suara mungilmu, “dengan segelas kopi yang harganya seribu atau dua ribu rupiah. Mungkin suatu saat, kita tidak bisa lagi menikmati kopi dengan harga segini. Bisa saja kopi yang kita nikmati harganya sepuluh sampai dua puluh kali lipat dari kopi kita sekarang.”
Aku tersenyum, sejak saat itu entah kenapa dirimu terlihat begitu berkilau.
Kamu tersenyum lagi, menangkap wajahku yang baru selesai menerawang.
“Apa sih? Aneh banget dari tadi,” katamu jengkel, sebuah cubitan mendarat di lenganku.
“Kamu salah, “ kataku tiba-tiba.
“Kopi kita ini, lima puluh kali lebih mahal dari kopi kita di warkop dulu,” tambahku.
Kamu lagi-lagi tersenyum, memahami apa maksudku.
“Sekarang aku sudah punya mobil,” katamu nakal.
Aku meraih tanganmu, menautkan jemarimu di antara jemariku. Menara Eiffle menatap kita dari seberang jalan. Kita berdua tersenyum (lagi). []    



No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)