Denting cangkir terdengar
di antara suara celoteh. Aroma teh manis hangat mengembang meraba-raba bulu hidung.
Opor ayam hangat yang masih mengepul tumpah membasahi ketupat yang sudah
dipotong kecil-kecil. Anak kecil yang sedang memegang mangkuk berbinar, antara
bahagia baru mendapat “persen” dari keluarga jauh atau sebentar lagi bisa
menyantap opor ayam yang hanya muncul sekali setahun ini. Yang jelas pipinya
tembem merah sekali.
Gerombolan laki-laki sedang
berkumpul di ruang depan, membahas siapa yang akan segera menyusul punya anak
tahun ini, atau kalau sedang sial, yang masih jomblo akan “diancam” jangan
berani-berani kumpul lagi tahun depan, kecuali membawa pasangan.
Kumpulan wanita, ramai di dapur
memamerkan kue-kue apa saja yang dibuat tahun ini, sambil tersenyum lebar
mengeluarkan semua yang masih rapi tersegel di dalam toples.
Alunan takbir menggema dari pengeras suara di menara masjid.
Iedul Fitri tahun ini nampaknya
sama ramainya dengan tahun lalu.
HP ku berdering.
Aku tersenyum melihat nama yg tertera di layarnya. Sambil menggantung
Peci dan sarung kudekatkan ketelinga.
“Iya Bu?”
Aku diam sejenak, meresapi suara
yang sangat aku rindukan.
“Iya, Alhamdulillah sehat. Ibu sehat kan? “
“Ibu uda sarapan belum”
“Baru mau, ini ada ketupat, sama opor
ayam”
“Baru beli tadi malam takbiran di
pasar”
“Diangetin lah Bu, mana enak opor
ayam dingin-dingin”
“Hehehe. Iya, makanya doain biar cepet keliatan jodohnya” aku nyengir.
“Bapak sehat bu?”
“Alhamdulillah. Pengen ngobrol sih,
tapi nanti ajalah kalau masih nyambut tamu”
“Kakak ada disana juga ya?”
“Udah bisa jalan si kecilnya bu?”
“Tau nih kangen banget”
Di rumah sebelah terdengar samar
celotehan mereka sekeluarga. Aku pelan menutup tirai jendela.
Tanpa sadar mataku berair.
“Bu, maaf ya tahun ini ngga bisa
pulang”
“Iya makan mah selalu nomer satu
kok. Udah buncitan nih. Hehehe” menarik ingus.
“Tahun depan lah Insya Alloh
pulang”
“Makanya doain dapet kerjaan yang
deket-deket rumah, hehehe”
...
“Bu, maafin Adek ya kalau pernah
buat ibu sakit hati. Kiriman juga ngga pernah lancar”
“Pokoknya ibu sehat-sehat. Gaboleh
sakit lagi. Tau sendiri Adek susah banget ijin pulangnya”
...
“Amiiiin”
...
“Udah dulu ya, bentar lagi harus masuk kerja lagi, shift pagi, mau siap-siap”
“Titip salam buat Bapak , kakak, mba Yuni
sama si kecil juga”
“Iya... iya.. InsyaAllah”
“Taqobalallohuminna waminkum. Assalamu’alaikum”
Aku menatap meja makan. Sebilah piring,
sepasang sendok dan garpu. Semangkuk opor ayam dan potongan ketupat.
Aku menggeser kursi lalu duduk.
Jemariku mengusap air mata,
sambil menahan gemuruh di dada [.]
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)