Aroma tanah yang dijilati gerimis
menrambat naik, nafas orang-orang yang menghembus dibalik punggungku terasa
hangat, rasa lembab karena keringat orang lain berbaur dengan bau parfum yang bercampur dengan aroma pelembut
pakaian. Seperti pagi yang lain, di jam-jam ini aku sedang berdiri di dalam
salah satu kopaja yang berusaha menembus kemacetan Jakarta.
Biasanya telingaku sedang di
sumbat headset, mendengar playlist yang ku buat asal untuk mengusir kejengahan
karena standar kenyamanan angkutan umum yang hancur lebur (kalau memang ada
yang namanya standar untuk kenyamanan angkutan umum di Indonesia). Sembari
mengedarkan pandangan menyusuri perjalanan yang selalu sama di setiap pagi
(kecuali weekend, aku bersyukur masih
ada yang namanya weekend) aku
mengangguk-anggukan kepala dan mengetuk-ngetuk kaki.
Hey, ternyata banyak sekali
siluet perjuangan hidup yang bisa disusuri bahkan saat kita sedang dalam
sebongkah perjalanan menuju kantor. Seperti tukang nasi uduk di trotoar itu,
bapak pedagang asongan yang sudah siap menyerbu saat lampu merah menyala, atau
bapak-bapak gojek yang sedang membonceng anaknya menuju sekolah di belakang
kopaja ini. Mereka seperti halnya diriku, bangun pagi-pagi untuk melakukan
rutinitas—yang menurutku terkutuk—setiap harinya, bertarung melawan jahatnya
Jakarta yang tidak pernah bisa dikalahkan.
Sudah beberapa hari ini Indera
perasaku menjadi begitu tumpul hingga kemeriahan itu semua tak membuatku
begidik lagi. Kopaja berhenti karena lampu lalu lintas di depan memerah. Aku melompat,
mendaratkan sepatuku di aspal hitam yang setengah basah karena hujan semalam, menyatu
dengan kerumunan manusia yang akan menyembrang jalan raya. Kantorku ada di
ujung simpangan ini, menjulang tinggi dan pongah.
Langkah kakiku membawaku menembus
orang-orang ini. Langit terlihat agak gelap pagi ini, membuatku merapatkankan
jaket. Sisa hujan semalam masih mengambang di atas kepala kami, pantas air
kostan pagi tadi terasa lebih dingin dari biasanya. Jakarta sudah mulai memasuki
musim penghujan.
HP ku bergetar. Aku merogoh saku.
‘Sarapan bareng? Udah di meja nih J ‘
bunyi pesan WA itu.
Aku memasukkan HP-ku ke dalam saku
celana, kali ini kubenamkan lebih dalam.
Aku memasuki lobi, hembusan AC
menerpa ujung kepalaku. Tapi tidak terasa dingin. Sudah beberapa hari ini Indera perasaku menjadi begitu tumpul
“Gimana sama si Ratih?” seseorang menyenggol
pundakku. Aku menoleh, Dody nyengir nakal.
Aku mendengus malas.
“Kenapa? Acara beli baju kemaren
itu ngga berjalan lancar?”
Minggu kemarin Ratih mengajakku
menemaninya membeli baju di salah satu mall di Sudirman, katanya sih mau
dipakai untuk arisan keluarganya minggu depan. Kami menghabiskan sisa hari
dengan nonton di bioskop lalu diakhiri dengan mengobrol di salah satu gerai
coffee hingga senja.
“Ngga juga,” kataku menimpali.
“Terus gimana? Lu ngga mau maju?”
Aku terdiam.
Aku teringat tawa Ratih yang
renyah saat mendengar guyonan konyolku sore itu. Anak itu, ramah dan manis. Dia
terlasa menyenangkan diajak mengobrol. Apa yang kami bahas selalu menyenangkan.
“Jalanin aja dulu. Apa yang kuran gcoba dari seorang Ratih. Siapa tahu anak ini bisa bikin lo
lupain Dian,”
Mendengar nama itu di sebut aku
kesal minta ampun.
Aku juga bingung, efek ditolak
bisa membuat kita kesal bahkan ketika nama orang yang nolak kita itu di sebut.
Setidaknya itu yang terjadi denganku.
Di hadapan kami terlihat pintu
lift, di depannya sudah banyak kerumunan orang mengantri.
Aku menarik tangan Dodi, berbelok
mengambil lorong yang lain.
“Tangga Jul? meja kita di lantai
lima kan?” kata Dody panik. Aku masih menyeretnya menemaniku menuju tangga.
“Haduh mau sampai kapan lu
begini? Udah seminggu lebih Zul,”
Aku malas menjawab. Aku masih
belum berani menatap sosok itu. Di depan lift tadi sekilas aku menemukan sosok
Dian.
“Gapapa, sekali-sekali biar
sehat, Dod,” kataku berkilah.
“Gila lu, besok-besok jangan ajak
gua lagi kalau mau olah raga naik tangga lagi, ini kali ke tiga lu
nyeret-nyeret gue,” katanya sambil menghempaskan punggungnya di kursi kerja nya
ketika kami sampai. Tangannya sibuk mengipas-kipaskan kertas, kegerahan.
Aku membuka laptop, lalu merogoh
saku, mengeluarkan HP.
‘Gua baru nyampe, lagi banyak nih, lain kali ya’ Aku menekan enter.
Pesan WA terkirim.
Beberapa kali Ratih ngajak makan
bareng, entah sarapan, seperti barusan, makan siang atau dinner kalau kami
sedang lembur. Tapi yang bisa aku lakukan hanya menghindar seperti tadi.
Aku melirik jam tangan. Kemudian
berdiri.
“Kalo ada yg nyari, bilangin gua ‘setor’
dulu,” kataku.
Dody menatapku dalam.
“Lo ngga bisa selamanya kaya
gini, “ katanya akhirnya.
Aku melengos. Dody paham betul
kalau sebenarnya perutku belum kontraksi. Ia tahu lima menit lagi, jam 08.05,
Dian akan naik dari lantai satu seperti biasa. Hari in aku sedang tidak ingin
menemuinya. Sama sekali.
Aku menatap wajahku yang
terpantul di cermin wastafel. Membasuhnya berkali-kali, wajah menyedihkan itu
balik menatapku. Aku meghembuskan nafas yang malah membuat wajah itu makin terlihat menyedihkan. Benar kata Dody, sampai kapan aku akan terus seperti ini?
Mengindar dan menghindar. Walau terlihat simple, namun aku tidak tau apa yang
harus aku lakukan jika bertemu dengannya lagi. Aku tidak bisa lagi berlaku
seperti biasa terhadapnya. Aku sama sekali tak mengerti harus bersikap seperti
apa. Benar-benar menyebalkan.
Wajahku kembali basah, sambil
melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah 10 menit. Lama juga aku
mematung di sini, membasahi wajahku berkali-kali seperti orang gila. Aku
membuka pintu toilet, segera menuju meja, teringat beberapa laporan yang belum
sempat aku garap.
Betapa kagetnya ketika aku berbelok,
ada Dian di koridor, dia sedang berbicara dengan salah seorang temannya. Aku
mematung, sekejap mata kami saling bertatapan. Dalam sepersekian detik itu,
aku, entah kenapa, memutuskan meneruskan langkahku tanpa menyapanya. Aku
memalingkan pandanganku seketika ke lantai lalu berjalan lurus-lurus.
Detik-detik ketika kaki ini melangkah terasa sangat lama, aku tidak sepenuhnya mengerti, hanya saja ada sesuatu yang
bergemeletuk keras dalam dadaku, bergemuruh seperti awan hitam pekat yang sudah
menggulung menunggu badai. Juga rasa perih yang menyayat-nyayat tajam.
“Kamu ngga papasan sama Dian? Aku
lihat dia tadi jalan ke arah toilet, ” Kata Dody ketika
menemukanku muncul dari
lorong.
Aku menggeleng, “ngga ah.” Kataku
pendek. Aku membuka laptop, berusaha sekuat tenaga mengusir bayangan wajahnya
pagi itu. Sial, kenapa sepagi ini aku harus berpapasan dengannya, pake acara
saling tatap-tatapan segala. Yang paling kubenci adalah gemuruh ini benar-benar
tak bisa kutahan. Benar-benar membuat tidak nyaman.
Dody menatapku perihatin. Dia tau benar kalau aku bohong.
“Siang ke warung padang depan
yuk, gua lagi pengen ayam pop nya,” kata Dody akhirnya setelah menghembuskan
nafas panjang.
Aku tersenyum, dia sedang
berusaha menghiburku. Kita sama-sama tahu kalau aku sangat suka rendang di
warung padang legendaris depan kantor itu.
“Gitu dong, pusing tau liat wajah
lu yang dari kemaren ditekuk. Senyum dikit ngapa kaya gitu,” Dody nyengir.
Aku melempar penghapus ke
wajahnya.
‘Lunch di mana?’ Aku mengusap layar HP lalu kembali menjejalkan
dalam-dalam ke saku.
“Ratih?” Dody menyembul berusaha
mencuri pandang layar HP ku.
Aku tersenyum pahit.
“Zul, Zul, cewek manis baik hati
gitu lu cuekin. Giliran yang ini pergi aja, ntar uring-uringan lagi,” desisnya.
Seringnya cibiran Dody selalu
untuk kebaikan ku, contohnya seperti saat aku sedang kecewa dengan bos ku yang
lama sehingga projekku terbengkalai. Waktu itu dia bilang, “Gimana mau pomote,
ketemu bos kaya gitu aja udah nyerah. Kalo lu udah jadi bos, lu bakal ketemu
anak buah yang resenya lebih parah dari diri lu sendiri,” aku kesal waktu itu,
tapi karenanya aku jadi bisa menyelesaikan projek ku dengan baik dan mendapat
kredit dari si bos.
“Gua udah coba ke Ratih, tapi
rasanya lain, ada sesuatu yang ganjal di gua,” kataku akhirnya.
“Dian?”
Aku diam. Tak menjawab.
“Gua tahu banget kalau lu itu
type cowo yang ngga mungkin nyeleweng. Tipe cowok super setia. Cowok yang
terlalu baik yang entah kenapa ngga menarik buat cewek-cewek. Dan karena itu
lah ketika lu jatuh hati sama seseorang, jatuh nya lu itu selalu lebih dalam. Itu
yang bikin lu uring-uringan kaya gini.”
Pesanan kami tiba. Aku berusaha
tak menghiraukan ocehan Dody, walau kali ini ia terlihat sangat serius. Manusia
sejenis Dody jarang banget ngomong serius.
“Lu tau kenapa seminggu ini lu selalu
menghindar, selalu takut ketemu Dian? Bahkan pagi ini berusaha mati-matian
jutek sama dia di toilet tadi?”
Aku melipat lengan kemejaku,
bersiap makan. Masih berusaha tak peduli.
“Karena di hati terdalam lu, lu
masih sangat sayang sama dia, dan lu entah kenapa masih berharap dia mau sama
lu suatu saat nanti, padahal logikalu bilang kenyataannya itu ngga akan pernah
terjadi. Makanya lu memilih untuk lari.”
“Dengan kata lain lu milih lari
dari kenyataan. Dan itu pengecut Zul.”
Kalimat itu seperti menohok dalam.
Seperti mendapat pukulan telak di ulu hati. Aku nyaris marah, tapi sayangnya
yang Dody katakan adalah benar.
Aku mati-matian menghindar ketemu
Dian, karena pada kenyataanya aku sedang menghindar dari kenyataan. Ini menunjukan
bahwa gua sangat kerdil. Pengecut.
“Gua udah berusaha untuk
bertingkah biasa, tapi gua tetep ngga bisa Dod, susah buat gua,” kataku
akhirnya. Rendang dengan balutan bumbu gurih dan seporsi nasi putih yang masih mengepul-ngepul
di hadapan gua tidak lagi menarik minat. Mendadak aku jadi ngga lapar lagi.
“Ekspektasi lu yang bikin lu kaya gini. Emang perasaan
suka itu apa sih? Kalau kita suka seseorang, emang kita boleh maksain perasaan
kita ke orang itu. Dengan kita suka, apakah orang yang kita suka harus serta
merta jadi milik kita? Betapa egoisnya?”
“Kalau perasaan lu kaya gitu ke
Dian, itu bukan suka Zul, itu nafsu namanya.”
“Bukannya dengan lu suka sama
Dian, hiduplu kembali berwarna? Lu jadi semangat ke kantor tiap Senin? Lu jadi
lebih suka merhatiin dandanan lu di cermin, beli baju bagus, mulai rajin olah
raga? Yang itu semua membuatlu jadi orang yang lebih baik?”
“Bukannya rasa suka itu aja udah
sebuah anugrah?”
Gua terdiam. Seratus persen semua
kalimatnya tepat sasaran.
“Gua…” ada sesuatu yang
menyangkut di tenggorokannya.
“Gua udah lama suka sama Ratih. Sejak
anak itu keliling di kenalin sama HR ke tim kita setahun lalu. Tapi lihat kenyataannya,
Gua sama sekali ngga ada dalam orbitnya dia. Cuman ada elu di sana,” Kata Dody
akhirnya.
Aku tertegun.
Aku menelan ludah. Tak menyangka. Pasti sakit rasanya.
Dody tersenyum. Tapi ini bukan
senyum pahit, tapi senyum kelegaan.
“Gua udah berdamai sama diri gua,”
kata Dody. “Bagi gua, pernah punya rasa sama dia aja
merupakan sebuah
kebahagian. Bisa diem-diem merhatiin dia, ngeliatin dia ketawa-tawa sama
temen-temennya, merhatiin pas dia benerin poni dan iketan rambutnya. Dengan kenyataan
dia ngga bakal jadi milik gua, Itu udah cukup buat gua.”
Sore itu angin semilir mengelus
rambutku. Jeritan klakson dan deru knalpot kendaraan yang berebut menembus
lampu merah kembali bisa aku dengarkan dengan jernih. Senja oranye di barat
mengambang menemani matahari yang sudah menjilati kaki langit.
Kopi di tanganku sudah dingin
sejak tadi. Sebatang rokok masih utuh di antara jemariku, sisanya masih penuh menyesaki
saku kemeja. Aku tadi beli saat pagi di warung depan kostan. Asap kendaraan
samar menyusuri rongga hidungku. Sisanya, burung-burung berkoak samar di antara
awan dan langit.
Aku memutuskan kembali ke mejaku.
Rasanya sudah cukup merenung sendirian sore ini di atap kantor. Ketika di
sipanng lorong, aku melempar semua rokok yang aku punya ke tong sampah. Lumayan,
skill three point-ku masih tersisa
sedikit.
Aku menekan tombol lantai 5 di
lift, benda itu kemudian bergerak menuju lantai meja kerjaku berada. Di lantai 9 lift berhenti. Pintu
lift perlahan terbuka, wajah Dian berdiri di sana. Aku, juga dia terlihat
kaget.
Nafasku entah kenapa tercekat
ketika dia melangkah dan berdiri di sebelahku. Aroma shampoo dan parfumnya menggelitik
ujung hidungku. Masih ada 4 lantai sebelum aku turun. Sama sepertiku, Dian pun
terlihat kikuk. Aku lah yang membuat kami kikuk seperti ini.
Dua lantai berlalu tanpa ada yang
bersuara. Kami saling diam. Mungkin masing-masing kami menganggap salah satu dari kami tak ada.
“Habis ngapain dari lantai sembilan?”
kataku akhirnya. Terdengar canggung dan serak.
Dian menoleh, terlihat kaget
mendengar aku bersuara. Dia nampaknya tak menyangka aku akan memulai
pembicaraan.
“Ini nih, abis meeting sama tim
Legal, besok ada konfrensi Pers,” katanya.
Suaranya masih saja terdengar renyah dan ramah.
Aku berusaha tersenyum, “Sibuk ya
kamu?”
Dian tersenyum, “biasa aja ah,”
senyum yang, ah sudah lah.
Lalu pintu lift terbuka. Sudah lantai
lima.
“See ya,” kataku sambil melangkah.
Aku sempat melihat Dian
mengangguk di antara pintu lift yang perlahan menutup.
Aku tersenyum lega. Bahagia untuk
diriku sendiri.
Ku raih HP,
Malam kosong ngga? makan kwetiau depan yuk?
Aku melangkah ringan menuju meja
kerja. Kayanya malam ini bakal lembur nih.
(bersambung...)
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)