Setelah 14 jam perjalanan naik pesawat aku memberanikan diri
menyetop taxi lalu menuju ke sini. Koperku masih penuh dengan baju kotor karena
seminggu lalu aku tak sempat loundry. Belum lagi badan lelah karena jet lag.
Langkahku gugup sekali ketika melewati gerbang itu.
Sebuah gedung bergaya
tahun 70-an menjulang tinggi, beberapa anak berseragam putih abu masih
berkeliaran di beberapa tempat (yang segar dalam ingatanku sebagai tempat) kumpul-kumpul.
Gedung sekolah ini dulunya adalah rumah sakit belanda.
Makanya jendela dan atap-atapnya tinggi-tinggi. Beberapa kusen masih
mempertahankan bentuk awalnya. Kalau menurutku sih sekolah kami lebih mirip
museum dari pada rumah sakit. Satu misteri yang sampai sekarang belum
terpecahkan adalah di mana letak kamar mayat bangunan ini.
Sempat dulu beberapa kakak kelas eskul pencinta alam yang
kurang kerjaan melakukan ekspedisi malam di sekolah kami. Desas-desus bilang
mereka menemukan hantu tentara belanda, suster bule dan hantu belanda lainnya, karena
keesokannya mereka mendadak sakit. Kalau ingat masa itu aku ingin ketawa sendiri, betapa bodohnya kami. Walau memang
setelah lewat magrib sangat terasa ke angkeran gedung ini.
Aku menemukan sosok pak satpam yang sedang duduk di pos nya.
“Pak, masih ingat saya?”
Lelaki yang ku sapa menolah, lalu mulai mencerna wajahku.
Ah sudah 4 tahun, mungkin dia sudah lupa tampangku.
“Neng Raven?” sambil bergegas setengah berteriak.
Aku tersenyum, rupanya tmapangku masih diingat. Aku mencium
tangannya takzim.
“Sehat pak?” sambil mengedarkan pandangan. Benar, sudah 4
tahun aku tidak main kesini, ada beberapa gedung baru di sayap kanan.
“Alhamdulillah, katanya kuliah di luar negeri? Sudah selesai
apa sedang liburan?” tanyanya antusias.
Kebetulan kami dulu lumayan akrab dengan bapak satpam.
“Sudah selesai pak, kemarin baru wisuda,” aku nyengir lebar.
Kalau ingat perjuangan menyusun tugas akhir dan serangkaian penelitian
yang membuat setengah gila, aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa bebas dan menjadi manusia
normal lagi. Kemarin adalah hari paling bersejarah buatku, nyaris nangis sih.
“Ke sini sendirian apa janjian dengan yang lain?” tanyanya.
Dulu kami selalu berempat kemana-mana. Dudi , Tias dan Adji.
Si Dudi dan si Tias diam-diam akan menikah
bulan depan. Aku kaget setengah mati ketika minggu lalu menerima paket
dari indonesia yang isinya undagan atas nama mereka berdua.
Dasar dua anak itu, aku tahu Tias memang menyimpan rasa pada
Dudi. Tapi si Dudi bebal itu memang tak pernah peka. Mereka pasti akan cocok
sekali.
Setelah beberapa patah kata di pos satpam, dan menitip
koper, aku melanjutkan langkahku ke dalam. Ketika menginjak bangunan utama, saat melewati lorong aku
mencium aroma dan suasana yang sudah sangat aku kenal. Bersamaan dengan itu semua
memori manis bertubi-tubi memenuhi kepalaku.
Aku ingat saat pertama kali menginjakan kaki di sini dulu,
hari pertama MOS. Aku malah salah pakai kostum, harusnya kala itu kami semua
mengenakan seragam batik bukannya seragam putih biru. Selain aku untungnya ada
tiga orang lain yang juga salah kostum. Dudi, Tias dan Adji. Itulah awal kami
menjadi sahabat.
Aku tersenyum-senyum melihat mading sekolah. Sekarang
papannya lebih lebar dua kali lipat dan rubriknya lebih ramai dan menarik
dibanding dulu. Dulu Dudi selalu berisik agar kita mengajukan perluasan papan
mading ke kepala sekolah, karena dengan lebar papan yang seperti itu hanya muat
4 artikel. Namun ide tersebut selalu
ditolak. Sekolah tak punya dana lagi, alasannya.
Karena tak sabaran, anak itu menggalang iuran siswa untuk
penambahan papan mading yang membuatnya di hukum mengepel AULA karena iuran itu
dianggap ilegal.
Si Dudi itu, sejak
SMA sudah jadi pemberontak seperti itu pantas saja kemarin dia jadi
ketua BEM di fakultasnya.
Aku berbelok, menuju kelas kami. Sudah tidak ada orang. Perasaan kangen itu menyeruak. Suasana kelas
kami yang selalu berisik oleh celotehan anak-anak, sampai beberapa guru minta
tukar gara-gara stress.
Susunan kursinya tidak berubah sama sekali. Papan tulisnya
pun sama. Hanya saja ada beberapa tambahan seperti sound system dan layar LCD
portable terparkir di depan.
Aku menyusuri jajarna kursi itu, lalu mengambil kursi ku
dulu. Aku duduk di sana. Coretan tipe-x Tias masih ada di sana. Aku menghirup nafas dan membayangkan hari-hari
saat masih berseragam putih abu dulu.
Aku melihat Dudi sang ketua kelas yang selalu berkeliaran
dari kursi ke kursi manggangu yang lain. Aku meihat Tias yang duduk di
sebelahku sedang tersenyum memperhatikan tingkah Dudi.
Terbentuk siluet punggung Adji di hadapanku. Dia memang
duduk di depan mejaku persis. Adji yang selalu rajin dan pendiam adalah sumber
segala PR dan (kadang) contekan ulangan kami. Sebenarnya ia tak pernah setuju
dengan cara kami yang mencontek. Tapi akhirnya ia selalu luruh dan membiarkan
kami menyalin sebagian jawabannya saat ulangan.
Adji memperlakukan kami seperti adik-adiknya. Dewasa di atas
umurnya, dan selalu bisa menenangkan Dudi yang suka meledak-ledak.
“Raven?” suara itu melengking tinggi. Aku menoleh.
Aku sangat hafal suara siapa ini.
“Bu Dewi?!” aku berlari lalu memeluknya yang sedang berdiri
di ambang pintu.
“Aduh bu kangen banget! Ibu jahat email aku jarang dibalas,”
aku merengek.
“Aduh, nenek-nenek begini di suruh belajar internet. Aku
ngga ngerti-ngerti Ven pake yang begitu-begitu,” katanya terkekeh.
Beliau adalah walikelas kami waktu kelas tiga. Guru Matematika
sekaligus guru paling galak di sekolah.
Walau begitu aku selalu paling sayang
pada beliau.
“Sehat bu?”
“Yah, beginilah nenek-nenek. Sudah bisa pulang pergi ke sekolah
saja sudah alhamdulillah,” timpalnya sambil terkekeh.
Sebotol teh dingin sudah ada digenggamanku. Bu Dewi
lebih memilih minum air mineral, tuntutan umur katanya. Aku digiring untuk
duduk di pelataran ruang guru. Di hadapan kami adalah lapangan upacara,
sekaligus lapangan futsal, sekaligus lapangan basket dan lapangan-lapangan
lainnya. Satu lapangan untuk semua. Pokoknya semua kegiatan eskul berpusat di
sini.
Beberapa anak pramuka dan anak paskibra sendang berlatih
berbaris di sisi berseberangan. Di tengah-tengah dua kelompok itu eskul PMR
yang sedang latihan membuat tandu. Sama seperti masaku sekolah dulu, tiga eskul
yang paling sering menyumbang piala itu masih menguasai lapangan.
Diantara hiruk-pikuk itu aku menumpahkan kerinduanku pada Bu Dewi. Kami
bercerita banyak hal. Mengingat-ingat kejadian lucu di masa lalu dan
saling bertanya kabar anak-anak lain.
“Jadi, hubungan kalian bagaimana?”
Aku mematung.
Sebenarnya itu pertanyanyaan yang paling aku hindari dari tadi.
“Kalian padahal sangat cocok. Adji memang kurang peka sih,”
Ada desiran kuat ketika nama itu disebut.
Ya, selain Tias yang diam-diam menyukai Dudi. Aku juga
memendam perasaan pada Adji.
Aku baru sadar saat kami di kelas dua. Dua tahun aku menahan
diri. Sejujurnya aku takut sekali persahabatan kami rusak gara-gara perasaan bodoh
itu.
Aku panik ketika mendapat kabar kalau keluargaku harus
pindah ke Jepang setelah lulus. Itu artinya aku tak bisa menepati janji kami
untuk kuliah di UI.
“Kamu ngga mau bilang apa-apa?” tanya Tias pagi itu saat
pelajaran olahraga.
Aku menoleh bingung.
“Kamu suka sma Adji kan?”
Wajahku memerah.
“Cara kamu menatap, itu ngga bisa disembunyiin Ven, “
katanya, di hadapan kami Dudi sedang main bola bersama Adji. Anak itu, terlihat
kaku saat berolah raga.
“Kamu juga, sama Dudi… ”
Giliran Tias yang kaget dengan wajah memerah.
Aku tertawa, rupanya seperti itu tampangku barusan. Tias
ikut tertawa.
“Masa kelas tiga kita tinggal satu bulan. Setelah itu kita
pisah. Kamu ke Jepang. Mungkin kami bertiga bisa satu kampus, tapi pasti di
jurusan berbeda. Dudi sudah bulat di Sastra Indonesia, Adji tampaknya Teknik
Sipil. Kita tau dia maniak Fisika.” Tawa renyahnya terdengar tipis. “ Aku
mungkin mau coba Arsitektur. “
Tias menghela nafas.
“Walau satu kampus tak ada jaminan kami bertiga masih bisa
kumpul-kumpul seperti sekarang. Di
tambah kau yang keluar negeri, kita ngga akan pernah bisa lengkap lagi. Tinggal
satu bulan, kadang aku berfikir kenapa SMA ngga 5 tahun aja sekalian. “ katanya
lirih.
“Aku takut kalian melupakanku. Aku takut kalian menemukan
orang-orang yang membuat kalian lebih nyaman sehingga melupakanku, ”Aku memeluk
lututku erat.
“Aku takut Adji melupakanku.” Akhirnya aku mengucapkan
ketakutan terbesarku.
Tias memelukku, “sahabat terbaik tak akan tergantikan, Ven.”
“Untuk si Adji, nanti kita cari cara,” suaranya berhembus
diantara rambutku.
“Kamu ngga tukar-tukaran, apa benda internet itu, ah, Email,
sama Adji?” pertanyaan Bu dewi membuyarkan lamunanku.
Aku menggelang pelan. Bu Dewi tersenyum sambil memegang
pundakku. Entah karena mengerti atau kasihan.
Suars bell memantul diantara gedung sekolah. Setiap jam 5
sore bell akan berdering lebih lama dari biasanya. Itu tandanya semua penghuni sekolah
harus segera pulang. Tidak boleh ada kegiatan apapun di atas jam 5 sore.
Bu Dewi berdiri, kami berpisah. Aku titip pesan agar gerbang
jangan dulu di tutup. Aku minta 15 menit lagi.
Bu Dewi mengangguk faham.
Ada satu tempat lagi yang ingin aku datangi di sekolah ini.
Kebun belakang. Itu tempat kami biasa kabur saat ada guru menyebalkan, atau
saat kami belum membuat tugas. Tempatnya ada di bagian paling belakang sekolah.
Karena tempatnya agak jauh, jarang ada guru yang ke sana, jadi kami selalu aman
setiap kabur.
Di tengah-tengah kebun itu ada sebatang pohon mahoni tinggi
besar, sehingga suasana di sana selalu sejuk. Membuat kami betah berlama-lama
di sana.
Pohon itu masih bertengger gagah di sana. Aroma dan semilir
anginnya masih sama. Masih segar saat hari kelulusan itu, hari terakhir aku di
Indonesia, Tias dan Dudi mengajakku ke sini.
Aku ikut saja. Di
sana sudah ada Adji sedang duduk di antara akarnya. Tampangnya gusar sekali.
“Ngapain di sini?” tanyaku bingung. Baju kami berantakan
kena pilox warna-warni di mana-mana.
Tetiba Tias dan Dudi kabur, katanya mereka dipanggil ke ruang
guru sama Bu Dewi. Kali itu aku baru sadar apa yang sedang terjadi. Aku di
jebak.
Sumpah, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya
bisa menatap wajah kikuk anak laki-laki yang kusukai ada dihadapanku. Wajahku
memerah, dan jantungku berdegup kasar sekali.
“Jadi, “ katanya bersusah payah.
Aku setengah mati bersikap normal.
“Hari ini terakhir lo di indonesia?”
“Iya, nanti malam gua berangkat. Last flight, tiket murah,”
aku terkikik, berusaha terdengar lucu.
Adji nyengir, tapi masih saja kaku.
“Suka, “ katanya tiba-tiba.
Aku kaget setengah mati.
“Gua suka sama lo,” kalimat itu akhirnya muntah dari
bibirnya.
Lututku lemas mendengar itu. Entah kenapa mataku kemudian
berair. Kami berdua mematung.
Seekor tupai berlari turun menyambar sesuatu, mungkin
biji-bijian, kemudian berlari secepat kilat kembali ke lubangnya di antara
batang pohon.
Saat itu kami berdua sadar. Pernyataan itu tidak akan pernah
menjadi apa-apa. Kami akan berpisah. Dipisahkan lautan yang tidak satupun dari
kami bisa melawannya.
Di antara batang phon itu, Adji mengukir sebuah tanggal dan dua
buah huruf, V & A. Inisial kami dengan pisau lipat yang ia pinjam dari
Dudi. Anak iitu selalu punya benda-benda aneh.
Tanggal yang terukir di sana adalah hari ini.
Sebenarnya tujuanku ke sini untuk menepati janji kami.
Aku menatap jam tanganku. 5 lewat 13. Waktuku tinggal 2
menit. Tidak ada tanda-tanda Adji akan datang.
Menyedihkan.
Konyol sekali aku ini. Mungkin Adji memang tak akan datang. Pasti dia ngga akan datang. Tidak
ada apa-apa di antara kami. Harusnya aku sadar itu. Ia pastilah sudah menemukan
orang lain. Berbagi tawa dengan orang itu, seperti dulu ia berbagi tawa dengan
ku, dengan Tias dan Dudi.
Ia pasti sudah menemukan cinta yang lain.
Tanganku menyusuri ukiran itu. Tanpa kutahu, mataku
menghangat. Bulir-bulir itu jatuh begitu saja, tak terbendung lagi. Sesuatu
menggigit dadaku. Sakit.
RRRRRRRRRRRRR!
HP ku berdering.
Bingung, tidak ada yang tahu nomer baruku, kecuali orang
rumah.
“Halo?”
“Ven, masih di sekolah?”
“Tias!!!!” Bercampur bahagia, kaget dan bingung.
“Hehehe, kok suara kamu bindeng gitu? Sakit?”
“Ah ngga, pilek dikit doang,” kataku sambil menarik ingus,
berusaha terdengar sedang pilek.
Ada suara laki-laki berisik di belakangnya.
“Itu Dudi? kalian sedang berdua? “ aku terpekik bahagia.
“Iya nih, calon suamiku ngga bisa diem,” ia terkekeh.
“Nikahan kalian jadi?” tanyaku antusias.
“Sialan! Jadi lah! kamu harus jadi pendamping pengantin
wanitanya ya!?”
Aku tertawa.
“Kamu di sekolah kan?”
“Ah? Kok tahu, ini lagi di pohon Mahoni,” kataku.
“Sudah aku duga, tunggu ya, kita lagi nganterin seseorang
nih,” kalimat ini membuat aku bingung.
“RAVIIN!!!” seseorang menaggilku dari kejauhan. Aku
mengedarkan pandanganku mencari sumber suara itu.
“Kami di belakangmu,” bimbing Tias.
Ketika aku menoleh ke belakang, Tias dan Dudi sedang
melambaikan tangan dari arah gedung sekolah. Di sebelah mereka berdua ada
seorang laki-laki yang sangat aku kenal.
Agak telat, Adji melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Menemukan sosok itu, semuanya campur aduk.
Aku balas melambai sambil tersenyum. air mataku runtuh.
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)