20160120

REUNION



Setelah 14 jam perjalanan naik pesawat aku memberanikan diri menyetop taxi lalu menuju ke sini. Koperku masih penuh dengan baju kotor karena seminggu lalu aku tak sempat loundry. Belum lagi badan lelah karena jet lag.

Langkahku gugup sekali ketika melewati gerbang itu.

Sebuah gedung bergaya  tahun 70-an menjulang tinggi, beberapa anak berseragam putih abu masih berkeliaran di beberapa tempat (yang segar dalam ingatanku sebagai tempat) kumpul-kumpul.

Gedung sekolah ini dulunya adalah rumah sakit belanda. Makanya jendela dan atap-atapnya tinggi-tinggi. Beberapa kusen masih mempertahankan bentuk awalnya. Kalau menurutku sih sekolah kami lebih mirip museum dari pada rumah sakit. Satu misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan adalah di mana letak kamar mayat bangunan ini.

Sempat dulu beberapa kakak kelas eskul pencinta alam yang kurang kerjaan melakukan ekspedisi malam di sekolah kami. Desas-desus bilang mereka menemukan hantu tentara belanda, suster bule dan hantu belanda lainnya, karena keesokannya mereka mendadak sakit. Kalau ingat masa itu aku ingin ketawa sendiri, betapa bodohnya kami. Walau memang setelah lewat magrib sangat terasa ke angkeran gedung ini.

Aku menemukan sosok pak satpam yang sedang duduk di pos nya.

“Pak, masih ingat saya?”

Lelaki yang ku sapa menolah, lalu mulai mencerna wajahku.

Ah sudah 4 tahun, mungkin dia sudah lupa tampangku.

“Neng Raven?” sambil bergegas setengah berteriak.

Aku tersenyum, rupanya tmapangku masih diingat. Aku mencium tangannya takzim.

“Sehat pak?” sambil mengedarkan pandangan. Benar, sudah 4 tahun aku tidak main kesini, ada beberapa gedung baru di sayap kanan.

“Alhamdulillah, katanya kuliah di luar negeri? Sudah selesai apa sedang liburan?” tanyanya antusias.

Kebetulan kami dulu lumayan akrab dengan bapak satpam.

“Sudah selesai pak, kemarin baru wisuda,” aku nyengir lebar.

Kalau ingat perjuangan menyusun tugas akhir dan serangkaian penelitian yang membuat setengah gila, aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa bebas dan menjadi manusia normal lagi. Kemarin adalah hari paling bersejarah buatku, nyaris nangis sih.

“Ke sini sendirian apa janjian dengan yang lain?” tanyanya.

Dulu kami selalu berempat kemana-mana. Dudi , Tias dan Adji. Si Dudi dan si Tias diam-diam akan menikah  bulan depan. Aku kaget setengah mati ketika minggu lalu menerima paket dari indonesia yang isinya undagan atas nama mereka berdua.

Dasar dua anak itu, aku tahu Tias memang menyimpan rasa pada Dudi. Tapi si Dudi bebal itu memang tak pernah peka. Mereka pasti akan cocok sekali.

Setelah beberapa patah kata di pos satpam, dan menitip koper, aku melanjutkan langkahku ke dalam. Ketika menginjak bangunan utama, saat melewati lorong aku mencium aroma dan suasana yang sudah sangat aku kenal. Bersamaan dengan itu semua memori manis bertubi-tubi memenuhi kepalaku.

Aku ingat saat pertama kali menginjakan kaki di sini dulu, hari pertama MOS. Aku malah salah pakai kostum, harusnya kala itu kami semua mengenakan seragam batik bukannya seragam putih biru. Selain aku untungnya ada tiga orang lain yang juga salah kostum. Dudi, Tias dan Adji. Itulah awal kami menjadi sahabat.

Aku tersenyum-senyum melihat mading sekolah. Sekarang papannya lebih lebar dua kali lipat dan rubriknya lebih ramai dan menarik dibanding dulu. Dulu Dudi selalu berisik agar kita mengajukan perluasan papan mading ke kepala sekolah, karena dengan lebar papan yang seperti itu hanya muat  4 artikel. Namun ide tersebut selalu ditolak. Sekolah tak punya dana lagi, alasannya.

Karena tak sabaran, anak itu menggalang iuran siswa untuk penambahan papan mading yang membuatnya di hukum mengepel AULA karena iuran itu dianggap ilegal.

Si Dudi itu, sejak  SMA sudah jadi pemberontak seperti itu pantas saja kemarin dia jadi ketua BEM di fakultasnya.

Aku berbelok, menuju kelas kami. Sudah tidak ada orang.  Perasaan kangen itu menyeruak. Suasana kelas kami yang selalu berisik oleh celotehan anak-anak, sampai beberapa guru minta tukar gara-gara stress.

Susunan kursinya tidak berubah sama sekali. Papan tulisnya pun sama. Hanya saja ada beberapa tambahan seperti sound system dan layar LCD portable terparkir di depan.

Aku menyusuri jajarna kursi itu, lalu mengambil kursi ku dulu. Aku duduk di sana. Coretan tipe-x Tias masih ada di sana.  Aku menghirup nafas dan membayangkan hari-hari saat masih berseragam putih abu dulu.
Aku melihat Dudi sang ketua kelas yang selalu berkeliaran dari kursi ke kursi manggangu yang lain. Aku meihat Tias yang duduk di sebelahku sedang tersenyum memperhatikan tingkah Dudi.

Terbentuk siluet punggung Adji di hadapanku. Dia memang duduk di depan mejaku persis. Adji yang selalu rajin dan pendiam adalah sumber segala PR dan (kadang) contekan ulangan kami. Sebenarnya ia tak pernah setuju dengan cara kami yang mencontek. Tapi akhirnya ia selalu luruh dan membiarkan kami menyalin sebagian jawabannya saat ulangan.

Adji memperlakukan kami seperti adik-adiknya. Dewasa di atas umurnya, dan selalu bisa menenangkan Dudi yang suka meledak-ledak.

“Raven?” suara itu melengking tinggi. Aku menoleh.

Aku sangat hafal suara siapa ini.

“Bu Dewi?!” aku berlari lalu memeluknya yang sedang berdiri di ambang pintu.

“Aduh bu kangen banget! Ibu jahat email aku jarang dibalas,” aku merengek.

“Aduh, nenek-nenek begini di suruh belajar internet. Aku ngga ngerti-ngerti Ven pake yang begitu-begitu,” katanya terkekeh.

Beliau adalah walikelas kami waktu kelas tiga. Guru Matematika sekaligus guru paling galak di sekolah. 

Walau begitu aku selalu paling sayang pada beliau.

“Sehat bu?”

“Yah, beginilah nenek-nenek. Sudah bisa pulang pergi ke sekolah saja sudah alhamdulillah,” timpalnya sambil terkekeh.

Sebotol teh dingin sudah ada digenggamanku. Bu Dewi lebih memilih minum air mineral, tuntutan umur katanya. Aku digiring untuk duduk di pelataran ruang guru. Di hadapan kami adalah lapangan upacara, sekaligus lapangan futsal, sekaligus lapangan basket dan lapangan-lapangan lainnya. Satu lapangan untuk semua. Pokoknya semua kegiatan eskul berpusat di sini.

Beberapa anak pramuka dan anak paskibra sendang berlatih berbaris di sisi berseberangan. Di tengah-tengah dua kelompok itu eskul PMR yang sedang latihan membuat tandu. Sama seperti masaku sekolah dulu, tiga eskul yang paling sering menyumbang piala itu masih menguasai lapangan.

Diantara hiruk-pikuk itu  aku menumpahkan kerinduanku pada Bu Dewi. Kami bercerita banyak hal. Mengingat-ingat kejadian lucu di masa lalu dan saling bertanya kabar anak-anak lain.

“Jadi, hubungan kalian bagaimana?”

 Aku mematung. Sebenarnya itu pertanyanyaan yang paling aku hindari dari tadi.

“Kalian padahal sangat cocok. Adji memang kurang peka sih,”

Ada desiran kuat ketika nama itu disebut.

Ya, selain Tias yang diam-diam menyukai Dudi. Aku juga memendam perasaan pada Adji.

Aku baru sadar saat kami di kelas dua. Dua tahun aku menahan diri. Sejujurnya aku takut sekali persahabatan kami rusak gara-gara perasaan bodoh itu.

Aku panik ketika mendapat kabar kalau keluargaku harus pindah ke Jepang setelah lulus. Itu artinya aku tak bisa menepati janji kami untuk kuliah di UI.

“Kamu ngga mau bilang apa-apa?” tanya Tias pagi itu saat pelajaran olahraga.

Aku menoleh bingung.

“Kamu suka sma Adji kan?”

Wajahku memerah.

“Cara kamu menatap, itu ngga bisa disembunyiin Ven, “ katanya, di hadapan kami Dudi sedang main bola bersama Adji. Anak itu, terlihat kaku saat berolah raga.

“Kamu juga, sama Dudi… ”

Giliran Tias yang kaget dengan wajah memerah.

Aku tertawa, rupanya seperti itu tampangku barusan. Tias ikut tertawa.

“Masa kelas tiga kita tinggal satu bulan. Setelah itu kita pisah. Kamu ke Jepang. Mungkin kami bertiga bisa satu kampus, tapi pasti di jurusan berbeda. Dudi sudah bulat di Sastra Indonesia, Adji tampaknya Teknik Sipil. Kita tau dia maniak Fisika.” Tawa renyahnya terdengar tipis. “ Aku mungkin mau coba Arsitektur. “ 

Tias menghela nafas.

“Walau satu kampus tak ada jaminan kami bertiga masih bisa kumpul-kumpul seperti sekarang.  Di tambah kau yang keluar negeri, kita ngga akan pernah bisa lengkap lagi. Tinggal satu bulan, kadang aku berfikir kenapa SMA ngga 5 tahun aja sekalian. “ katanya lirih.

“Aku takut kalian melupakanku. Aku takut kalian menemukan orang-orang yang membuat kalian lebih nyaman sehingga melupakanku, ”Aku memeluk lututku erat.

“Aku takut Adji melupakanku.” Akhirnya aku mengucapkan ketakutan terbesarku.

Tias memelukku, “sahabat terbaik tak akan tergantikan, Ven.”

“Untuk si Adji, nanti kita cari cara,” suaranya berhembus diantara rambutku.

“Kamu ngga tukar-tukaran, apa benda internet itu, ah, Email, sama Adji?” pertanyaan Bu dewi membuyarkan lamunanku.

Aku menggelang pelan. Bu Dewi tersenyum sambil memegang pundakku. Entah karena mengerti atau kasihan.

Suars bell memantul diantara gedung sekolah. Setiap jam 5 sore bell akan berdering lebih lama dari biasanya. Itu tandanya semua penghuni sekolah harus segera pulang. Tidak boleh ada kegiatan apapun di atas jam 5 sore.

Bu Dewi berdiri, kami berpisah. Aku titip pesan agar gerbang jangan dulu di tutup. Aku minta 15 menit lagi. 

Bu Dewi mengangguk faham.

Ada satu tempat lagi yang ingin aku datangi di sekolah ini. Kebun belakang. Itu tempat kami biasa kabur saat ada guru menyebalkan, atau saat kami belum membuat tugas. Tempatnya ada di bagian paling belakang sekolah. Karena tempatnya agak jauh, jarang ada guru yang ke sana, jadi kami selalu aman setiap kabur.

Di tengah-tengah kebun itu ada sebatang pohon mahoni tinggi besar, sehingga suasana di sana selalu sejuk. Membuat kami betah berlama-lama di sana.

Pohon itu masih bertengger gagah di sana. Aroma dan semilir anginnya masih sama. Masih segar saat hari kelulusan itu, hari terakhir aku di Indonesia, Tias dan Dudi mengajakku ke sini.

Aku ikut saja.  Di sana sudah ada Adji sedang duduk di antara akarnya. Tampangnya gusar sekali.

“Ngapain di sini?” tanyaku bingung. Baju kami berantakan kena pilox warna-warni di mana-mana.

Tetiba Tias dan Dudi kabur, katanya mereka dipanggil ke ruang guru sama Bu Dewi. Kali itu aku baru sadar apa yang sedang terjadi. Aku di jebak.

Sumpah, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menatap wajah kikuk anak laki-laki yang kusukai ada dihadapanku. Wajahku memerah, dan jantungku berdegup kasar sekali.

“Jadi, “ katanya bersusah payah.

Aku setengah mati bersikap normal.

“Hari ini terakhir lo di indonesia?”

“Iya, nanti malam gua berangkat. Last flight, tiket murah,” aku terkikik, berusaha terdengar lucu.

Adji nyengir, tapi masih saja kaku.

“Suka, “ katanya tiba-tiba.

Aku kaget setengah mati.

“Gua suka sama lo,” kalimat itu akhirnya muntah dari bibirnya.

Lututku lemas mendengar itu. Entah kenapa mataku kemudian berair. Kami berdua mematung.

Seekor tupai berlari turun menyambar sesuatu, mungkin biji-bijian, kemudian berlari secepat kilat kembali ke lubangnya di antara batang pohon.

Saat itu kami berdua sadar. Pernyataan itu tidak akan pernah menjadi apa-apa. Kami akan berpisah. Dipisahkan lautan yang tidak satupun dari kami bisa melawannya.

Di antara batang phon itu, Adji mengukir sebuah tanggal dan dua buah huruf, V & A. Inisial kami dengan pisau lipat yang ia pinjam dari Dudi. Anak iitu selalu punya benda-benda aneh.

Tanggal yang terukir di sana adalah hari ini.

Sebenarnya tujuanku ke sini untuk menepati janji kami.

Aku menatap jam tanganku. 5 lewat 13. Waktuku tinggal 2 menit. Tidak ada tanda-tanda Adji akan datang.

Menyedihkan.

Konyol sekali aku ini. Mungkin Adji memang  tak akan datang. Pasti dia ngga akan datang. Tidak ada apa-apa di antara kami. Harusnya aku sadar itu. Ia pastilah sudah menemukan orang lain. Berbagi tawa dengan orang itu, seperti dulu ia berbagi tawa dengan ku, dengan Tias dan Dudi.

Ia pasti sudah menemukan cinta yang lain.

Tanganku menyusuri ukiran itu. Tanpa kutahu, mataku menghangat. Bulir-bulir itu jatuh begitu saja, tak terbendung lagi. Sesuatu menggigit dadaku. Sakit.

RRRRRRRRRRRRR!

HP ku berdering.

Bingung, tidak ada yang tahu nomer baruku, kecuali orang rumah.

“Halo?”

“Ven, masih di sekolah?”

“Tias!!!!” Bercampur bahagia, kaget dan bingung.

“Hehehe, kok suara kamu bindeng gitu? Sakit?”

“Ah ngga, pilek dikit doang,” kataku sambil menarik ingus, berusaha terdengar sedang pilek.

Ada suara laki-laki berisik di belakangnya.

“Itu Dudi? kalian sedang berdua? “ aku terpekik bahagia.

“Iya nih, calon suamiku ngga bisa diem,” ia terkekeh.

“Nikahan kalian jadi?” tanyaku antusias.

“Sialan! Jadi lah! kamu harus jadi pendamping pengantin wanitanya ya!?”

Aku tertawa.

“Kamu di sekolah kan?”

“Ah? Kok tahu, ini lagi di pohon Mahoni,” kataku.

“Sudah aku duga, tunggu ya, kita lagi nganterin seseorang nih,” kalimat ini membuat aku bingung.

“RAVIIN!!!” seseorang menaggilku dari kejauhan. Aku mengedarkan pandanganku mencari sumber suara itu.

“Kami di belakangmu,” bimbing Tias.

Ketika aku menoleh ke belakang, Tias dan Dudi sedang melambaikan tangan dari arah gedung sekolah. Di sebelah mereka berdua ada seorang laki-laki yang sangat aku kenal.

Agak telat, Adji melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Menemukan sosok itu, semuanya campur aduk. 

Aku balas melambai sambil tersenyum. air mataku runtuh.


No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)