Aku
tak suka tempat ini.
Baru
beberapa detik menginjakkan kaki, aku sudah merasa tidak nyaman. Lantai dari
ubin yang dipel seadanya juga dinding-dinding berkerut yang kusam memandangiku
lekat-lekat hingga kelam. Langit-langit dan bilah kipas angin yang berputar
seenaknya bekerja sama membuat perutku mual. Aku mengambil kursi lalu duduk.
Sengaja melipat tangan di atas meja, menjauhkan aura dingin yang mendesak entah
dari mana, mungkin dari semua hal yang ada di sini.
Seseorang
berseragam lusuh melewati jeruji diantar seorang sipir. Laki-laki itu, wajahnya
bahkan masih sama. Kerutannya saja yang betambah, itu pun hanya sedikit. Kamu
mengambil kursi tepat di hadapanku. Belum lagi hilang kaget dan bahagia dari
air mukamu, mungkin aku orang pertama yang mengunjungimu. Yang membuatmu
berbeda hanyalah berat badanmu yang turun drastis juga dagu yang tidak lagi
licin.
Kita
terdiam masing-masing.
Di
antara suara detak-detik jam dinding bulat besar, kamu memandangiku tidak
percaya. Bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba mendatangimu setelah lima tahun
menyingkir.
Aku,
sejak perjalanan, bukan, bahkan sejak tadi malam sebelum tidur aku telah merangkai
kalimat-kalimat sedemikian rupa untuk menyatakan maksudku kemari. Sayangnya
rangkaian itu luruh begitu saja, hilang ditelan bola mata bergerigi hijaumu.
Senyumanmu
di sana. Masih menunggu dengan setia.
“Kamu
tidak berubah sama-sekali,” kamu lah yang memecah kebuntuanku.
Selalu
seperti itu. Bahkan sejak kejadian malam itu di kamar kita, saat aku sudah tidak
mendapatkan diriku sendiri, kamu hanya cukup mengeluarkan beberapa potong kata
sambil diiringi dengan seutas senyum, persis sekarang, aku bisa menemukan
kembali keberanianku.
Aku
tersenyum, mau tak mau. Pipiku memerah. Kalimat itu seperti pujian. Secara
tidak langsung berkata kalau aku masih cantik seperti dulu.
“Kamu
yang berubah. Menyedihkan sekali melihat tubuhmu yang kurus,” aku serius
khawatir. Yang aku tahu, kamu tak pernah punya masalah selera makan.
“Dari
pada makanan penjara, masih mending masakanmu kemana-mana,” katamu.
Aku
tersenyum lagi, kalau yang ini hinaan.
“Sekarang
masakanku sudah enak. Serius. Andai boleh membawa makanan ke sini, pasti sudah
kumasakan sesuatu.” Kamu tersenyum geli.
Kamu
perlahan mengendurkan punggung. Terdengar suara berderit peran.
“Rupanya
kamu sudah membuang kebiasaan menggosok gigimu itu, tidak lagi tiga kali
sehari,” kataku.
Kamu
menyelipkan kuku kelingking kanan di antara gigi seri, mengorek-ngorek. Terkumpul
sejumput onggokan kuning dan busuk di ujung kelingking. Kamu buru-buru mengelap
dengan seragammu.
Aku
menyernyit jijik. Kamu tertawa. Tawamu, walau terdengar hambar dan kosong, membuat
perasaanku sedikit menjadi ringan.
Kamu
meraih tanganku, menyentuh pelan sekali.
“Terima
kasih sudah mau menengokiku,” tatapanmu berbinar. Kamu serius.
“Sudah
lama aku membayangkan bagaimana rasanya mendapat pengunjung. Aku tak lagi heran
mengapa teman-teman di sini menjadi begitu berseri-seri setelah dikunjungi
keluarga dan teman. Ternyata sangat menyenangkan bisa bercerita-cerita pada
orang yang kita kenal, terutama di tempat ini,
di antara dinding-dinding ini,” pundakku merosot, kalimatmu membuatku lemas. Kamu
pasti sangat menderita di sini.
Aku
menatap matamu. Mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Sangat kejam rasanya
memberitahukan maksudku setelah melihat keadaanmu di sini.
“Aku
sudah menikah. Dengan seorang bule, kau tahu kan? “ kata-kataku keluar juga.
Ada perasaan pedih yang kemudian membumbung dalam dadaku. “Sebulan setelah kamu
ditahan.” Mataku menghangat, aku menunduk.
Kamu
mematung, ternyata baru tahu. Kemudian menautkan jemarimu di depan batang
hidungmu yang bengkok dengan kikuk. Aku diam, menunggu reaksimu.
Beberapa
saat kemudian kamu tersenyum. Aku lega sekali, kukira kamu akan kecewa atau
apa.
“Baguslah,”
terdengar sangat tulus, menggema dalam pipa tenggorokanmu yang serak.
“Dia
seorang Arsitek. Gajinya cukup untuk kami.” Kataku menambahkan, memastikan kalau
aku baik-baik saja. Kamu selalu khawatir aku hidup melarat.
Mendengar
kata ‘kami’, telinganya naik. Tapi ia tak langsung bersuara.
Aku
menunggu, sedang kamu diam.
“Bagaimana?”
akhirnya. Kalimatmu terdengar mengerang dan kering.
Aku
mendongak pelan, mengerti maksudmu. Tapi dari dalam raut itu tertoreh ekspresi
manusia hina yang tak berhak bertanya. Padahal aku tahu kamu sudah mengumpulkan
semua keberanianmu.
“Kamu
berhak tahu, dia sangat sehat.” Aku menggenggam jemarimu.
Ada
senyum yang terbit di sana, senyum kelegaan yang sangat. Juga kerinduan.
HP-ku
berdering. Kamu mengalihkan pandangan, membiarkan aku berbicara dengan leluasa.
“Iya...
masuk saja, sudah kutunggu.” Aku memasukkan HP-ku ke dalam tas.
Kamu
memandangku, mungkin hendak bertanya
perihal telpon tadi, namun urung. Seorang anak kecil berumur lima tahun tiba-tiba
berlari ke arahku.
Aku
berdiri dari kursi, berjongkok menyambutnya. Gadis cilik ini menubruk dadaku
keras sekali, Gita memang selalu bersemangat.
Wajahmu
tiba-tiba sudah sembab memandangi anak ini, tak percaya. Kamu bahkan berdiri, mulutmu
menganga.
Aku
mengangguk.
Kamu
memandangi Gita dengan penuh cinta, rindu juga takjub.
“Ibu
kenapa ninggalin Gita di sekolah?” katanya, ada gurat-gurat biru halus di pipinya
yang tembam kemerahan.
Aku
tersenyum, “Ibu ada janji sama...” aku beralih memandangmu, “paman ini.”
Suaraku terdengar serak.
Gita
mendongak, pandangan menyelidik, dan takut-takut.
“Salaman
dulu dong sama paman, kenalkan nama kamu,” kataku sambil menepuk punggungnya
pelan.
“Perkenalkan
nama saya Gita Ayuni, umur saya 5 tahun. Sekarang masih TK.” Gita menjulurkan
tangan mungilnya.
Kamu
terdiam. Aku tak mengerti maksud ekspresimu, hanya saja matamu yang mulai merah
itu makin berair.
“Pintar
sekali,” katamu akhirnya. Kamu memejamkan mata, menyerap semua emosi yang ada.
Kamu berusaha keras tidak menangis saat Gita menempelkan tanganmu di keningnya.
Aku tahu kamu ingin merengkuhnya, tapi kamu tidak bisa.
Betapa
menderitanya kamu.
Gita
terlihat tidak nyaman dipandangi dengan ekspresi itu, ia menarik rokku dan
mendongak menatap wajahku. Aku menatap wajahmu, meminta izin. Di wajahmu ada
perasaan bersalah, kamu akhirnya duduk, mengangguk pelan lalu mengalihkan
pandanganmu pada kisi-kisi jendela.
“Gita
ke bibi dulu yah, nanti ibu nyusul,” kataku. Setelah salim padamu, anak manis
itu berlari pergi, tas kuningnya bergerak-gerak bagai sayap kupu-kupu di
punggungnya. Diam-diam sudut matamu terus mengikuti anak kita.
“Dia,
sudah besar sekali,” katamu. Kamu menekan hidungmu yang sudah memerah, menyeka
cairan bening yang keluar.
“Matanya
mirip matamu,” kamu tersenyum.
Malam
itu bahkan pernikahan kita baru satu bulan saat pintu kontrakan kita diketuk
dari luar. Harusnya malam itu adalah malam paling bahagia, malam itu kita tahu
aku telah hamil.
Seorang
laki-laki masuk. Rupanya dia sedang mabuk, begitu melangkah masuk dia langsung
teriak-teriak menagih uang sewa. Kamu bilang akan bayar bulan depan. Laki-laki
itu tertawa, lalu begitu saja ia menarik lenganku dan memelukku paksa.
Aku
masih ingat kata-kata yang membuatmu malam itu gelap mata. “Bayar saja pakai
istrimu, semalam saja cukup.” Bibirnya kemudian menjamah wajahku beringas. Aku masih
ingat bau alkohol campur birahi dari nafasnya yang berhembus di dekat hidungku.
Kamu
kemudian menerjangnya. Selanjutnya aku melihat tubuhnya terkapar, wajahnya
hancur dan kepalanya sudah berumuran darah, juga batang kayu di tanganmu.
Kamu
menyuruhku pulang ke rumah ayahku malam itu juga. Besoknya kamu digelandang
petugas. Setelah lima tahun yang lalu, baru hari ini kita bertemu lagi.
“Benarkah?
Aku tidak terlalu memperhatikan matanya tadi,” katamu. Matamu makin berair.
“Dia...”
kamu kehabisan kata. Sulit mendeskripsikan hartamu satu-satunya. Belahan jiwa kita.
Entah kenapa mataku ikut hangat dan dadaku sakit sekali. Mengingat kamu
sendirian yang menanggung semuanya.
“Indah,”
kataku.
“Indah.
Ya, indah sekali,” kamu mengangguk setuju. Takjup pada anakmu sendiri.
Aku
menyesal kenapa waktu itu aku sangat pengecut. Ayah menyuruhmu menceraikanku. Dia
tidak mau punya menantu napi, lalu menjodohkan aku pada kenalannya. Dan aku
hanya diam saja.
Bell
berbunyi. Seorang sipir mendekat.
“Waktu
kunjungan sudah habis,”katanya.
Aku,
dengan berat hati berdiri. Cepat sekali.
“Jangan
biarkan dia tahu siapa ayahnya,” katamu ketika aku berbalik.
Berikutnya
entah kenapa, kakiku melangkah sendiri, kemudian memelukmu erat. Aku rindu
sekali aroma tubuhmu. Aku rindu saat tanganmu menyentuh kepalaku, seperti
sekarang ini. Aku merasa sangat dilindungi.
“Makan
yang banyak,” kataku. Aku menangis, sejadi-jadinya. Pertahanan yang sejak tadi
kujaga runtuh.
“Rawat
Gita untukku,”katamu. Kamu mendekapku erat sekali. Aku tahu kamu juga ingin menangis.
Tapi kamu menahannya, selalu begitu.
“Besok
kami akan ke Australia, tak tahu pulang kapan.” Kamu mengusap air mataku dengan
ibu jarimu, dan tersenyum. Dari sini aku tersadar kalau aku salah, ada lebih
banyak hal yang berubah dalam dirimu. Dan kita sama-sama tahu mungkin ini
pertemuan terakhir kita, juga pertemuan terakhirmu dengan anakmu.
Kamu
berbalik lalu melangkah menjauh.
Aku
terus memandangi punggungmu yang ringkih, berharap kamu menoleh, menemukan
wajahmu untuk terakhir kalinya untuk kemudian aku ingat selamanya. Lelaki yang
paling aku cintai, lelaki yang telah melindungi (mantan) istrinya.
Tapi kamu terus saja berjalan, tak pernah
menoleh lagi. Hanya saja punggungmu bergetar. []
Cerpennya, ga pernah gagal bikin raut wajah gw beriak.
ReplyDelete