Malam itu hujan rintik. Seperti malam-malam Desember lainnya, yang membedakan hanyalah malam ini adalah malam
minggu. Trotoar dijejali orang-orang dan
jalan raya dipadati kendaraan. Café-café
juga terlihat lebih penuh dari biasanya. Di salah-satunya aku sedang duduk,
menunggu kopi kentalku datang.
Seharusnya malam
minggu bukan malam yang istimewa, setidaknya buatku. Tidak ada yang harus dirayakan karena, sederhana saja, aku tidak punya pacar. Sayangnya malam ini sedikit berbeda. Di hadapanku ada seorang gadis
sedang duduk. Dia cantik, sangat cantik. Rambutnya hitam merambat menutupi punggung dengan poni tipis, alisnya pekat, hidungnya mancung, alur wajahnya manis, posisi duduknya tegak, sangat anggun. Tak
aneh kalau saat SMA dulu banyak anak lelaki yang suka.
Hingga sekarang, pesonanya tidak juga pudar, malah bertambah cantik.
Hanya saja tatapannya berbias sendu, cahayanya meredup tidak berkilau seperti dulu. Padahal mata itu adalah pusat pesonanya.
Setelah lulus SMA, ia pindah bersama keluarganya ke
luar kota. Ia melanjutkan kuliah di sana. Selanjutnya yang aku tahu selang satu tahun
perusahaan ayahnya bangkrut. Ia mulai kesulitan membiayai kuliahnya. Nasib tak bisa selalu
ramah pada setiap orang
Setelah itu aku sering mendengar kabar miring
mengenainya. Banyak yang bilang dia menjadi ayam kampus. Selain wajah yang cantik, ia memiliki tubuh
yang bagus. Kalau pun ia benar-benar melakukan pekerjaan itu, ia tidak akan kosong pelanggan.
Mungkin itu alasan kenapa matanya tak lagi
bercahaya, kata abahku yang kiai di
kampung, mata merupakan cerminan hati, ketika terlalu sering berbuat dosa, apa
lagi yang berat-berat, maka hatinya akan menghitam, dan itu akan membuat cahaya
di mata kita pudar.
Atau, jangan-jangan ada hal lain yang membuatnya demikian?
Aku tidak bisa menerka. Aku berharap bukan alasan pertama yang benar.
Kopi kami tiba. Seorang pelayan berseragam
membawakannya plus seutas senyum manis, kemudian ia pergi lagi. Aku mempersilahkannya
minum, ia hanya tersenyum. Manis sekali. Apapun yang terjadi selama masa kuliahnya, bagiku dia masih seperti yang aku kenal ketika kami
sekelas di SMA.
Kami tidak pernah dekat. Satu-satunya percakapan yang pernah kami
lakukan adalah ketika seseorang (jangan tanya siapa, aku saja sudah lupa)
menambrakku di tangga, saat itu aku sedang membawa guci (kalau bisa di sebut
guci, karena bentuknya yang tak karuan) prakarya tugas pelajaran kesenian.
Hasilnya benda itu jatuh
dan pecah berkeping-keping. Saat itu tiba-tiba dia muncul, berjongkok kemudian membantu ku memunguti pecahan
guci itu, dia bilang bahwa ketua kelas yang baik adalah yang selalu ada untuk teman
sekelas yang membutuhkannya. Kalimat seperti itu sudah lebih dari cukup untuk
membuatnya terlihat "berkilauan" di mata seorang
anak kelas satu pendiam
seperti aku.
Kau tak perlu bertanya berapa banyak fotonya yang kupunya.
Semua dinding kamar bahkan hingga langit-langit, telah tertutup habis oleh
gambar wajahnya, tidak ada lapak lagi untuk kalender. Ketika banyak orang tak
bisa tidur karena insomnia, kau harus tahu kalau aku tak bisa tidur karena
wajahnya terus berbayang di benakku. Ini membuat aku gila, karenanya nilai-nilaiku selalu
jatuh bebas.
Kau pernah mendapat sms dari orang yang kau suka?
aku pernah, setiap minggu aku selalu dapat sms dari dia. Itu adalah sms jarkoman rutin list PR yang
dia kirim ke semua anak-anak kelas (maklum, kan dia ketua kelas). Bahagianya
bukan main aku mendapatkan sms itu. Selaluku baca sms itu tiap sebelum tidur,
Kau harus mengalami sendiri rasanya menyukai seorang gadis sekelas, tempat
duduk mu ada di belakangnya akibatnya dia akan selalu terlihat setiap hari di
tiap mata pelajaran, dia akan selalu ada di depanmu mengbunuh konsentarasimu dan entah kenapa wajahnya akan selalu terlihat
makin cantik setiap paginya. Selama tiga tahun penuh, kawan, itu semua menderaku selama 3 tahun penuh.
Sayangnya rasa cinta yang besar tidak berbanding
lurus dengan keberanian yang kupunya. Aku
tidak melakukan apa-apa. Untuk menatap langsung matanya saja, sudah menyusutkan ukuran jantungku. Tatapannya mengunci mati lidahku. Aku tak pernah beranik berkenalan lebih dekat.
Sudah banyak tukang bunga yang menjadi langganan ku. Kata orang para wanita senang sekali diberi sekuntum bunga. Aku sangat menggebu-gebu untuk memberikan sekuntum bunga kepadanya. Sialnya, ketika sosok
itu terlihat, detik berikutnya aku otomatis kabur. Sehingga pada akhirnya kuntum-kuntum bungaitu layu di
laci meja belajarku.
Tindakan yang paling berani yang pernah aku lakukan
(dan paling bodoh kalau dipikir-pikir) adalah mengirim sms semacam: selamat pagi, selamat malam, jangan lupa makan dan
sejenisnya menggunakan nomer tak dikenal. Apa boleh buat, kalau tidak, aku bisa benar-benar mati karena tidak melakukan apa-apa. Bagiku saat itu, mengamati dari jauh, menjadi pengagum rahasia
sudah terlalu cukup.
Nampaknya perasaan itu tak berubah hingga kini. Bahkan setelah berita miring yang aku dengar,
ketika saat ini dia sedang duduk dihadapanku menatap cangkir kopinya dengan
pandangan redup pun, aku masih sangat yakin 100% bahwa perasaanku padanya masih
sama.
Ketika ada reuni kelas, tahun kemarin, katanya ada
temanya anak kelasku yang pernah benar-benar menjadi "pelanggannya". Bahkan
ada teman kami yang satu kampus denganannya pernah melihat dia masuk ke sebuah
hotel bersama seorang laki-laki berjas. "Kalau bukan ayam kampus, apa tuh
namanya?!!" katanya bersungut-sungut penuh kemarahan. "Malu-maluin
almamater aja" suara sumbang dari yang lainnya.
Lama-kelamaan kabar itu makin menyebar di
kalangan alumni dan kampusnya. Telingaku panas dibuatnya.
Karena tidak tahan lagi, sore ini aku pergi ke
kota ini, meninggalkan tugas-tugas dan kuesioner skripsi yang belum aku sentuh
sama sekali. Berkat bantuan teman yang satu kampus dengannya, aku mendapatkan nomernya
hingga kami berakhir duduk berhadap-hadapan di dalam sebuah kafe sekarang.
Aku sudah lupa dari mana aku mendapat semua keberanian itu.
Dari tadi belum ada sepatah pun yang terucap, Ia
memandangi cangkirnya. Aku mengamati tetes hujan yang terperangkap di kaca
jendela. Kami merangkai kata dalam benak, satu sama lain.
Hp nya berdering. Mengurai masing-masing lamunan
kami. Ia membuka tasnya, mengambil dan melihat layar HP di genggamannya. Lama. Aku bingung kenapa panggilan itu
tidak di jawabnya. Aku mengamati wajahnya berharap menemukan sesuatu.
Ketika sadar sedang diamati, ia buru-buru meraih cangkir kopinya, kemudian menghirup
tegukan pertama, menggenggam cangkirnya kemudian memandangi langit hujan di luar,
tangannya menyerap hangat dari cangkir kopi, membiarkan hpnya berdering
sendirian.
Aku tersentak, betapa tidak sopannya aku. Wajah ku
memerah. Ia tahu apa yang aku pikirkan. ia tersenyum manis, seakan berkata
"Tidak apa-apa". Sial! Wajahku makin merah. Untung dia tidak membuka
obrolan, karena lima belas menit berikutnya aku sedang berusaha keras meredakan
rona merah di wajahku.
Pintu café
terbuka, ada seorang tamu laki-laki datang, berpakaian rapi perlente. Ia
menghampiri kami. Aku kira dia akan mengambil meja sebelah yang sedang kosong,
namun dia benar-benar menghampiri kami. Aku mendongak, memeras otak mencocokan
wajahnya dengan wajah yang telah terekam dalam memoriku, namun percuma, aku
memang tak mengenalnya.
Ia tersenyum merendahkan, "Kau kira kau siapa
tidak menjawab panggilan ku!!" kemudian mengelus-elus pipi 'nya'. Aku
tersentak!
"Kau tak punya hak menolak panggilanku, kau itu
milikku tahu, kau masih punya hutang pada ku!!"
kali ini memegang kepala 'nya' sambil membentak-bentak. 'dia' menatapnya, ada air di mata 'nya'.
"Hei kau???" yang dimaksudnya adalah aku,
"Kau pikir kau sedang kencan dengan siapa?? Dia ini hanya seorang
pelacur!", suaranya meninggi, seluruh pengunjung café terdiam, dan detik
berukutnya kami menjadi pusat perhatian di sana, semuanya memalingkan pandangan
ke arah kami. Ada yang memandang jijik, aneh, kesal, tersenyum bahkan ada yang
menahan tawa.
"Ngapain kau di sini? Kami baru kemarin malam kami
bersenang-senang, kau tau?? Ku beri tahu, sebagai pemula, dia tidak buruk!, hahahahaha!"
ia terbahak-bahak, aku tau dia
sedang mabuk, dari mukanya yang merah dan dari pandangan belernya, itu jelas
sekali. Ada bau alkohol dari mulutnya.
Air mata 'nya' mengalir, 'ia' malu. Aku tersentak,
melihat ekspresi 'nya', sebuah lubang menganga
di hatiku.
"Ayo pergi! aku sedang ingin nih!!"
menjambak rambutnya menyeretnya pergi, seakan 'dia' itu binatang. Gadis itu
terjatuh dari kursi, begitu juga kursinya, terdengar bunyi 'klontang!' yang
keras. Ia berjuang, ia tidak ingin pergi, ia menjerit kesakitan.
Detik berikutnya yang aku ingat, aku menerjangnya
sekuat tenaga. Lelaki itu terpental di lantai, orang-orang menjerit kaget. Kemudian
bangkit dan terlihat akan melawan, tapi itu tak terjadi, segera ku sarangkan
tinjuku tepat di tengah wajahnya. Ia terjatuh, ku pukuli wajahnya hingga tulang
hidungnya patah dan wajahnya ringsek. Aku benar-benar panas.
Aku kelelahan, keringat mengucur deras, sedangkan dia
tersungkur kesakitan, memegangi wajahnya. Aku tak peduli, kutendangi perutnya,
sekuat tenaga! Tak beda massa yang sedang menghakimi pencuri ayam. Di sela-sela
deru nafas ku yang berat, aku mendengar 'dia' menangis sambil terduduk. Ada ngarai
air mata yang menganga di wajahnya. Kalau 'dia' tidak memeluk kakiku dan menyuruhku
berhenti, aku akan masih kalap menghabisi laki-laki itu.
"Hentikan..." kata'nya' lemah sambil menangis.
"Jauhi 'dia' kalau kau masih ingin hidup!"
teriakku akhirnya. nafasku memburu, mataku merah, darah mengalir deras. Ini
pertama kalinya emosiku meledak. Tinjuku merah berdarah, Aku tak tau lagi mana darahku dan mana darah
laki-laki sial itu. Sial!, kenapa harus di tempat ramai begini, besok pasti aku
benar-benar terkenal. Sedangkan lai-laki itu, masih saja tersungkur di lantai,
uring-uringan memegangi perutnya yang kesakitan. Mungkin tulang rusuknya patah,
tulang hidungnya juga. Aku tak peduli
lagi. Aku menarik lengan 'nya', kami pergi.
Masih terdengar isakan 'nya'. Kami terus berjalan,
cepat, menembus kerumunan trotoar, menyebrang menembus jalan raya yang padat
oleh motor dan mobil-mobil, menembus malam yang hujannya menderas. Titik-titiknya
membasahi wajah kami, menyamarkan air mata'nya'.
Ketika kami mulai berlari, "Terima kasih"
ia membuka pembicaraan yang seharusnya telah dibuka sejak kami membisu bersama
di café.
"Untuk apa?" aku gugup, masih saja gugup,
seperti saat dia membantu ku memunguti pecahan guci. Kami tak pernah berjarak
sedekat ini sejak itu.
"Karena masih ada lelaki yang menganggapku
manusia" sambil berlari, aku menelan ludah. Ternyata alasan pertama yang benar.
Sial! umpat ku, tapi wajahku memerah. []
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)