Lonceng pulang sekolah berdering.
Tanpa perintah seisi kelas menutup buku lalu memasukan semua yang ada di atas
meja ke dalam tas. Lorong kelas menjadi penuh dan berisik.
“Habis ini mau ngapain?” Kian menyapaku.
"Kantin, laper,” kataku. Suasana Senin selalu membuatku tak nyaman. Minggu harusnya digandakan saja. Kenapa setiap Senin selalu penuh dengan tugas? Mereka seperti janjian dikumpulkan di Senin yang tidak bersalah.
“Selalu begitu. Semangat sedikit dong, lihat fans-fansmu ngedadahin terus tuh. Eh katanya kemarin ada yang nembak lagi ya?” Kian sok heran.
“Anak kelas satu,” kataku acuh. Mempercepat langkah menuju kantin, risih atas segala tingkah menjengkelkan anak kelas satu itu. Kian tersenyum sambil iri, masih bingung kenapa aku tidak bisa bersikap sedikit saja ramah. Kalau punya fans sebanyak itu ia akan dengan senang hati memurahkan senyumnya. Setengah berlari ia mengejar langkahku.
Kantin agak sepi sepulang sekolah, anak-anak kebanyakan memilih pulang ke rumah atau mampir ke sekret eskul masing-masing untuk sekedar menghabiskan sisa hari. Dinding kantin penuh tempelan poster Pensi Osis yang akan diadakan minggu besok. Beberapa pasangan menguasai meja pojokan saling bergenggaman tangan dan bercerita-cerita. Sedangkan aku dan Kian, duduk berhadapan seperti sepasang homo bego.
“Ikut rapat ngga?” Kacamata Kian mengembun kena uap mie rebus.
“Hari ini rapat lagi ya?” kataku malas, kentang goreng berlapis saus kumasukan asal ke dalam mulut.
“Acaranya kan akhir pekan ini, wajar kalau sering rapat,” Kian menghisap jus tomatnya. “Nanti jadi kan sama Dira? Kerjaan kalian harus kelar besok lho.”
“Ngga bisa aku aja sendiri yang ngerjain ya?” setengah memelas.
Kian menggeleng, “Pokoknya kalau
ide kalian digabung bakal bagus banget buat konsep dekor dan desain backdrop acara kita. Kenapa? Kamu ngga
nyaman kerja sama dia. Dira kan manis, kalian kan sama-sama jomblo juga.”
Nyaris aku menyemburkan kentang kunyahanku. Anak ini suka sembarangan kalau bicara. Kian tertawa puas melihat wajahku yang seperti sapi nahan kentut. Aku meninju lengan Kian pelan. Ia cekikikan.
“Ada apa-ada apa? rame bener?” Dira tiba tiba saja sudah menubruk badanku dari samping. Kami dekat sekali, suara hembusan nafasnya bisa aku dengar dari sini.
“Panjang umur. Kita lagi ngomongin kamu Dir, kamu masih jomblo kan?” kata Kian enteng sekali.
“Iyah jomblo, kenapa? Ada yang minat ya?” katanya asal sambil mencomot kentang gorengku lalu melahapnya. Ketika tubuhnya merenggang menyilang dadaku aku bisa dengan sangat jelas menghirup parfumnya.
“Tuh kan, Gu, kamu juga jomblo kan?” Wajahku memerah. Tanya Dira dan Kian cekikikan.
“Gugu ya?“ Dira sok mikir-mikir.
“Tuh wajah Gugu jadi merah!!” olok Kian.
“Ayo lah!” aku melengking. Tawa anak-anak pecah.
“Eh Gugu, kita jadi kan ngerjain desain abis ini? Aku sudah bela-belain cabut les lho. Awas aja kalo ngga jadi!” Ia lalu menyerang es teh manisku yang baru tiba.
“Iya jadi, di rumah siapa nih?” kataku, sambil menenangkan diri.
“Rumah aku ajah, cuman ada si Embo doang. Mamah lagi arisan.” Kata Dira sambil tersenyum.
Aku mengangguk, pipiku memerah
dan merasa gerah.
Dira, dengan rabut pendek berelombangnya mulai mengganggu tidurku akhir-akhir ini. Anak baru ini langsung mencuri perhatian semua anak Osis. Setiap ia berjalan melintas ruang Osis mendadak bungkam. Ia menjadi pusat gravitasi perhatian anak-anak, tapi seperti telaga biru yang menghampar luas, dia tidak peduli. Bahkan dia tidak menyadari kalau dia sebegitu menariknya. Tidak ada gerakan angkuh, hanya tawa renyah dan cuek. Kian memasangkan aku dan Dira dalam kepanitiaan Pensi ini. Alasannya karena kami sama-sama bisa desain.
Dira mengeratkan tengannya di pinggangku. Kami berangkat bersama ke rumahnya selepas rapat usai. Kian sempat mengedipkan matanya ke arahku sesaat Dira menaiki skuter vespaku. Aku paham sekali apa maksudnya. Jangan-jangan dia sengaja membuatku kerja bareng Dira.
Tapi mau tak mau, senang merayap, walaupun pelan, memenuhi dadaku. Bisa berdekatan seperti ini, mencium aroma tubuhnya dan ngobrol ngalor-kidul sepanjang jalan membuat wajahku yang tertutup helm ini terus-terusan memerah. Untung dia tak bisa melihatnya. Andai dia tahu detak jantungku yang begitu derasnya.
Kami tiba di rumahnya. Rumahnya besar, besar sekali. Banyak benda mewah di dalamnya. Isi garasinya saja 4 mobil. 2 mobil lain sedang dipakai keluar.
“Kenapa?” kata Dira.
“Ngga kok.” Menutupi rasa heran.
“Punya Papaku semua, aku ngga punya apa-apa, cuman numpang di sini,” Dira sambil nyengir.
Tanpa sadar aku meninju lengannya,
Dira nyaris terjatuh. Aku panik, sejak kapan kami sedekat ini hingga aku boleh
memperlakukannya seperti aku memperlakukan Kian.
Dira menatapku aneh, aku gelagapan. “Maaf Dir, kamu ngga apa-apa?” aku ingin membantunya berdiri, tapi takut menyinggung perasaanya lagi kalau menyentuhnya.
Sejurus kemudian, Dira melompat ke arahku lalu mengacak-ngacak rambutku sambil tertawa-tawa. Aku ikut tertawa. Lega sekali. Kami tertawa lepas hingga Dira kecapean sendiri, tingginya yang hanya sebatas pundakku membuatnya harus melompat-lompat untuk meraih kepalaku.
“Masuk yuk,” ajak Dira. Kami berdua terduduk kehabisan nafas. Dia berdiri sambil meraih ransel biru mudanya lalu membukakan pintu. Ia berdiri di sana melempar senyum ke arahku. Senyum itu membuatku meleleh hingga aku enggan beranjak. Ingin aku terus disuguhi senyum indah seperti itu.
“Cepet, haus nih!” sambil nyengir. Mau tak mau aku berdiri, menyambut senyumnya.
What a beautifull day, Thanks @Gugu
Itu tweet terakhirnya untuk malam ini. Seutas senyum mengembang di wajahku semalaman itu. Gelap hari mendadak romatis, walau langit pelit sekali menampakkan kerlip bintang, juga cahaya keemasan sang bulan, semilir angin malam mengelus-elus hatiku. Wajah Dira yang imut itu membayang sepanjang malam.
Kakiku mengayun ringan menyusuri lorong saat jam istirahat. Tak berhenti aku mendendangkan kepala ditemani musik yang mengalun melewati headset yang menggantung di telingaku. Hari ini mood-ku sedang bagus. Beberapa anak kelas satu masih saja cekikikan ketika aku lewat. Aku melambaikan salam dan melempar seutas senyum kecil. Mereka histeris, lalu berlarian menjauh.
Aku bingung sendiri.
"Cieee, pangeran yang dingin sudah menghangat sekarang!!” Kian menubruk punggungku keras sekali, aku nyaris jatuh. Ia buru-buru menuju lenganku.
“Aww!”
“Mau kemana? Ngga biasanya istirahat keluar-keluar. Bisanya tidur di kelas.” Tambahnya.
Aku terdiam tak menjawab. Tanpa
sadar aku sudah berada di depan kelasnya Dira.
“Ke sekret Osis yuk, anak-anak lagi pada di sana. Desainnya oke banget, anak-anak pada suka! Kita cetak hari ini.” Tanpa basa-basi, Kian menyeretku.
Ruang Osis yang sempit itu penuh dengan panitia. Kian melempar senyum menyapa anak buahnya. Ketua Osis kita ini memang ramah sekali, aku yang wakil malah diam-diam saja. Hatiku seperti meloncat saat Dira menyeruak keluar dari ruangan menyambut kami.
“Makasih ya Gu,” kata Dira. Aku tersenyum. Senang sekali.
Sepanjang sisa jam pelajaran aku
terus merasa tidak enak. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Sebuah nama
yang terus mengganggu. Sepulang sekolah kami rapat lagi, semua panitia kumpul,
kami membahas persiapan Pensi. Sepanjang rapat itu tatapanku serasa lengket
pada Dira.
Sore ini balik bareng yuk?
Aku mengirim SMS, nekat! Rasanya campur aduk mengirim SMS modus seperti ini. Harap-harap cemas menggerogoti ulu hatiku.
HP-ku bergetar.
OK. Nanti aku di sekret ya!
Aku melompat! Senyum tak henti-hentinya mengembang terus di wajahku di sisa hari itu.
Seminggu kerja bareng membuat
perasaanku tumbuh subur sesubur-suburnya. Dan kabar baiknya kami jadi makin
dekat. Kami sering berbagi banyak hal, dan itu sangat membahagiakan. Pulang
bareng jadi agenda wajib kami sepulang rapat, dia juga sering menanyakan tugas
padaku—tak percuma aku sepuluh besar di
kelas--, kami sering mention-mention-an
dan SMS-an.
Hingga suatu detik aku memutuskan akan menyatakan perasaanku setelah kepanitiaan kami selesai. Aku ingin dia menjadi orang pertama yang aku sayangi. Aku ingin dia jadi gadisku.
“Gu, Dira cantik banget ya?” kalimat
itu menusuk ulu hatiku.
Kian menerawang memandangi backdrop yang mulai anak-anak turunkan.
Sore ini angin berhembus pelan, tapi tentu saja kami tak mampu merasakannya.
Aku, dan Kian sedang di aula sekolah. Pensi kami baru saja selesai dengan
sukses.
Aku menatap wajah Kian. Anak ini serius. Dia benar-benar jatuh hati pada Dira.
“Kamu, mulai normal ya?” aku terkekeh.
“Masa?! Masih mending lah dari pada pangeran dingin yang ngga bisa senyum sama penggemarnya, ” Kian nyengir lebar.
“Nah, kan! Kamu yang kena!!!” tapi Kian tak membalas, dia menggaruk-garuk kepalanya pasrah.
“Tembak lah, Siapa tahu dia juga ada rasa?” kataku mantap akhirnya. Aku menelan ludah.
“Seriusan? Baru kali ini aku sengebet ini sama cewek soalnya.”
“Bodoh. Kalau cowok punya perasaan, dia harus ungkapkan ke orang yang dia suka. Lelaki sejati pantang memendam perasaan!” aku sedang menggigit lidahhku sendiri.
Kian menatap wajahku lekat-lekat.
Sepasang matanya yang cokelat itu terlihat agak buram di balik kacamatanya.
“Oke,” katanya akhirnya. Dia kemudian menepuk pundakku lalu bergabung bersama anak-anak panitia, meninggalkan sebongah kecut di dadaku.
Tapi melihat Kian yang bertampang serius seperti tadi aku sedikit gentar. Apa aku haru s benar-benar mundur? Apa yang harus aku lakukan kalau Dira malah memilih Kian? Akan jadi apa hubungan persahabatan kamI?
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bergerak mencari Dira. Ketika lewat lorong aula, beberapa anak kelas satu berbisik-bisik di belakangku, beberapa ada yang mendadahi. Aku menunduk dan mempercepat langkahku, meresa tidak nyaman.
“Hei Gu!“ hatiku melompat.
“Dira!!!” aku setengah berlari menyongsongnya. Dira menyambutku dengan senyum lebar. Begitu juga aku.
HP-ku bergetar. Ada SMS dari Kian. Aku terduduk memegang HP sambil tersenyum.
Gu, aku jadian sama Dira!
Aku mematung.
Aku mendongak. Dira benar-benar menganggapku sebagai sahabatnya.
"Sory, aku masih ada kerjaan di sekret,"
"Oh, oke. See you besok ya, " Dira beranjak sambil tersenyum melambaikan tangannya. nampak sangat bahagia.
Angin malam berhembus
menggoyang-goyangkan jendela sekret yang sengaja tak kututup rapat. Aku tepekur sendirian.
Aku menarik kursi, menundukkan kepalaku dalam-dalam. Sialnya dadaku tak mau selesai bergemuruh.
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)