20130407

3 Bulan


Suara Kristina Perry mengalun lembut. Kujejakan kaki di pedal gas dan rem bergantian begitu  city car-ku menikung membelah jalan. Ada perasaan cemas dan bahagia yang membungkusku, kombinasi dua rasa kontras hinggap memenuhi rongga dada ini.
Kulihat jam di tangan, masih sempat, jadwal kedatangan pesawat masih bisa kukejar. Aku sudah bangun sejak subuh tadi, saat matahari malu-malu mengintip, saat embun-embun meranum.
BB-ku berdering, Sella.
“Halo?”
“Kamu pagi banget? Lagi ngga kerasukan jin apa-apa kan?”
“He he,” aku nenyipitkan mata.
“Hahaha, becanda kali. Nanti mampir ke rumah dulu ya, jemput aku.”
“Iya, tapi pas aku sampai ngga ada lala lala yeye yeye dulu ya? kita langsung berangkat,” aku menegaskan.
“Iya ah, cerewet! Udah ya, bye.”
Terdengar nada statis.
Sella sahabatku ini sejenis manusia yang sangat-amat-selalu rajin telat. Aku akan benar-benar bersujud padanya kalau ia bisa datang tepat waktu sekali saja. Kebanyakan orang telat untuk rentang wajar yang maksimalnya setengah jam, tapi Sella akan membuat orang menunggu sampai dua jam, dan datang dengan wajah tanpa dosa.
Jalanan mulai ramai, anak-anak sekolah nampak di kanan-kiri jalan. Ada hawa hangat yang merebak pelan-pelan, tak sadar bibirku melengkung. Seutas senyum tipis muncul di sana. Masa-masa seragam putih-abu kelas tiga ketika Sella merayu guru matematika kami agar mau memberi kunci jawaban UN meresap, dan masih banyak lagi. Juga saat anak-anak sekelas kompakan membeli nomer HP baru untuk menyebaran kunci jawaban ujian. Aku menggeleng geli.
Mobil berbelok, memasuki pekarangan sebuah rumah. Aku memutuskan untuk marah kalau ia masih belum siap berangkat. Kali ini aku harus berhasil marah, biar aku tidak dikareti terus.
“Pagi,” Sella menyapaku saat aku keluar dari mobil. Kepalanya  masih ditempeli roll, dia belum mandi. Bagus.
“Maap, tadi aku telat bangun. Tadi malam nonton DVD Korea dari kamu, filmnya bagus banget, ngga bisa berhenti,” katanya buru-buru setelah melihat wajahku mengkerut. Sekarang ia menggunakan Korea sebagai pembenaran keterlambatannya.
“Hahaha, aktornya ganteng banget kan!” Aku kalah lagi, aku tak bisa memarahi anak ini. Masih jauh rasanya di mana aku akan benar-benar bersujud di hadapan anak ini.
Rumahnya masih kosong, aku curiga ayah dan ibunya Sella masih tidur. Pantas saja, dididik dalam keluarga telat akan menciptakan anak-anak ber-life style ngaret seperti Sella.
“Iyaaa. Pokoknya pas mereka peluk-pelukan itu. ‘aku tak butuh gadis cantik dan kaya, aku hanya butuh dirimu untuk mengisi hariku’, aduuuh romantis bangeeet,” mata Sella bersinar-sinar. Kami sudah duduk berhadapan di atas tempat tidurnya. Anak ini masih ekspresif seperti biasa.
“Sell..” kataku pelan sambil menggenggam tangannya. Sella menahan banyak kata yang ingin dia muntahkan.
“Ha?” Sella nampak bingung. “Kok aku merinding ya, kamu mendadak serius begini.”
Aku menatapnya lekat-lekat. Sella menegakkan punggungnya lalu membalas tatapanku. “Kayaknya, aku kena beneran deh.” Kataku akhirnya.
Sella menutup mulutnya, geliginya yang berlapis behel akan terlihat jelas jika tangan mungilnya beranjak dari situ. Matanya melotot tak percaya, aku jadi kaget sendiri.
“Rudi?” masih dalam pose yang sama.
Aku mengangguk pelan, memandangi jemariku yang sekarang sedang kupilin sendiri di atas pahaku.
“Serius?”
Aku mengangguk lagi. Entah mengapa menerima tatapan itu aku merasa kalau rasa ini salah, benar-benar salah. Sesalah musim hujan yang masih turun di bulan kemarau, membuat banyak manusia kesusahan.
“Tapi Ra...” terdengar nada menyesal dari Sella.
“Aku ngerti...” kataku.
“Sejak kapan?” kata Sella lagi. Aku terhenyak lalu diam. Tak tahu jawabannya apa.
Kami bertiga sudah sahabat dari SMA, dari kelas 2 SMA hingga sekarang kami di kampus yang sama. Rudi sudah seperti penasehat spiritual kami. Ketika kami ada masalah dengan gebetan kami masing-masing di SMA, kami akan lari pada Rudi.
Beberapa kali aku jatuh cinta, selalu itulah aku meminta sarannya. Saat menjomblo sekarang ini pun aku sering sekali menumpahkan segala kegundahan dan kegelisahanku kenapa aku belum bisa jatuh cinta lagi, juga rasa iri dan kesal saat melihat pasangan-pasangan mesra melintas di depan hidungku.
Kami begitu dekat hingga seperti keluarga; jalan bareng, nonton bareng, karokean bareng, curhat-curhatan bareng, tertawa bareng bahkan nangis bareng. Semuanya nyaris kami lakukan bersama-sama. Sepertinya tak ada malam yang kami lewatkan tanpa membahas sesuatu di chat room. Tidak ada lagi rahasia di antara kami, setidaknya sampai saat ini.
Tiga bulan lalu Rudi harus pergi ke sebuah pulau di pedalaman untuk mengambil data skripsinya. Di sana tidak ada sinyal dan listrik. Aku masih ingat ketika punggungnya menghilang saat menghantarkannya berangkat di bandara.
Aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang kosong. Ada celah yang menganga sangat lebar setelah Rudi pergi. Bukannya Sella tidak asik lagi, tapi serasa ada yang kurang kalau Rudi tidak ada, kami menjadi tidak lengkap. Dia selalu menjadi bapak bijak saat kami mulai melantur, dan sekarang sosok itu hilang.
Diam-diam aku merindukannya.
Rindu yang tanpa penawar. Penawarnya baru tiba 3 bulan lagi.
Dan hari ini tiba. Kekosongan di 3 bulan itu seakan mengajarkan padaku kalau lelaki inilah orangnya. Ia meyakinkanku dengan bijaknya kalau lelaki yang kusukai sebenarnya adalah lelaki yang sudah sangat dekat. Dahaga karena ingin dicintai nampaknya akan berakhir pada sebuah nama.
“Aku mesti gimana Sel?”
“Gimana ya? kalau kamu nembak, terus kalian jadian mah ngga apa-apa. Tapi kalau Rudi  cuman nganggap kamu sahabat doang, kamu ditolak? Pasti nanti ngga nyaman lagi kita bertiga, bakal awkward banget,”
“Nah itu dia,” aku mengacak-acak rambut, betul-betul frustasi dan kebingungan.
Sella menggenggam tanganku.
“Kamu hanya akan merusak dandananmu kalau begitu.” Katanya. “Setelah aku membereskan roll ini kita ke bandara ya? Kita pikirkan di perjalanan.” Sambil menunjuk roll rambut di kepalanya.

“Yah hujan, gimana nih?” tetesan air mengetuk-ngetuk ubun-ubun kepalaku pelan.
“Ini namanya gerimis, bukan hujan,”
“Sama aja!”
“Iya deh, sama.” Kamu berlari kecil membimbingku ke selter terdekat, gerimis berubah hujan deras. Sella telatnya benar-benar keterlaluan, padahal kami sudah datang telat satu jam.
Rudi melepas jaketnya, ia melakukan itu dengan perlahan melalui jemarinya yang kurus dan pucat, kemudian memakaikan jaket itu ke tubuhku. Mendadak aku merasa kikuk.
“Ngga usah juga ngga apa-apa,” kataku gugup, saat ia membetulkan kerah jaket.
“Baju kamu basah begitu, nanti kalau masuk angin aku kena marah Mama kamu. Tadi kan Mama kamu nitipin kamu ke aku,” sambil tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku terima dari seorang laki-laki.
Aku mengangguk sambil menunduk. Pipiku memerah, mungkin sampai kuping. 
“Tiga bulan lama ngga ya?”
“Ha?” kamu yang tiba-tiba loncat topik membuatku sedikit kaget.
“Dasar, ngelamun terus. Kayaknya nanti aku bakal kangen hujan di Bogor deh,” Matamu menerawang, menyerap setiap detail suasana yang Bogor suguhkan saat hujan turun seperti ini. Kilat yang sesekali membuat langit kemilau perak, angin yang berhembus menusuk-nusuk kulit, untaian air hujan yang menetes dari perut awan-awan, juga aroma kumpulan orang-orang yang berdesakan di bawah selter. Kita berbeda, tapi hujan membuat kita berhimpun bersama.
Setengah jam kemudian baru Sella tiba, ia membawa dua bungkus coklat; sesajen permintaan maaf. Setelah makan, kita tidak jadi nonton dan karokean. Perayaan kepergian Rudi gagal karena Rudi masuk angin. kamu harus segera pulang, besok  harus terbang ke pulau tempat penelitianmu.

“Ada yang ketinggalan ngga?” kataku sambil meremas jemariku.
“Kayanya ngga ada,” katamu. Kamu memasukkan tanganmu ke dalam saku jaket, lalu mengeluarkan selembar tiket pesawat di sana. Tiket itu kamu gigit diantara bibir merahmu selagi kamu mengeluarkan sebuah topi dari ransel.
Kakiku terhentak ke belakang. Aku tak mengira begitu lemas melihat lembar tiket itu. Lemas karena kamu akan benar-benar menghilang.
“Beneran ngga ada yang ketinggalan?” tanya Sella.
Kamu mengangguk, kemudian kamu memeriksa jam tanganmu.
“Harus check-in nih,” sambil tersenyum.
Aku tak menemukan sama sekali kesedihan dalam air mukamu. Seperti ada selembar silet pipih menggores pelan di balik kulitku. Sakit.
Setelah melambaikan tangan, kamu berbalik. Berjalan pelan sambil menyeret kopermu, menembus kerumunan, melewati palang pemeriksaan. Kamu sempat berbalik, melambaikan tangan pelan sambil tersenyum lalu lenyap ditelan kerumunan. Malah seutas senyum lebar yang kamu goreskan dibenakku kala itu.
Hatiku menganga.
Kamu tersenyum, terlihat bahagia saat berpisah denganku.

“Nih,” Sella menyodorkan sebotol air mineral.
Aku menerimanya lesu.
“Ditahan ngga bisa ya?” katanya.
“Tiga bulan Sel. Bisa mati kalau aku terus-terusan ngeliat tampangnya tanpa bilang apa-apa, pura-pura kalau rasa aku ke dia cuman sebatas ‘teman’. Bisa-bisa bisulan hatiku ini,” kataku sambil meremas botol airm mineral gemas.
Sella meraih tanganku. “Jadi, mau bilang?”
Aku menatapnya dengan tatapan memelas, tak mengerti lagi ekspresi apa yang harus aku sodorkan.
Aku mengangguk pelan.
“Kok ngga yakin begitu?”
Aku mengangguk sekali lagi dengan mantap, sambil tersenyum.
BB-ku bergetar. Sella juga mengecek BB-nya.
Udah ngambil bagasi nih, tunggu bentar ya!
BBM dari Rudi, aku dan Sella tersenyum.
Gerbang kedatangan mulai ramai, banyak orang keluar sambil menyeret-nyeret koper, beberapa membawa ransel di punggung mereka.
Kemudian sosok itu terlihat. Terlihat lebih tinggi dan lebih hitam dari 3 bulan yang lalu. Kamu menyeret kopermu pelan-pelan, ketika menyadari ada kami senyummu merekah lebar, gigi putihmu terlihat.
Jantungku berdegup keras. Sosok ini yang membuat gelisah tiga bulanku, instantly menawarkan rasa perih hatiku. Melihat sosokmu berjalan pelan ke arahku seperti ini membuat penantianku terasa sebanding. Bahagianya begitu pekat hingga tak henti-hentinya aku tersenyum.
“Tambah item nih?” kate Sella.
“Masa? Panas-panasan terus di pantai nih,” kamu cekikikan.
“Bagaimana rasanya kembali ke rumah?” kataku, dengan susah payah.
“Bahagia sekali!” kamu nyengir.
“Oh iya, kenalin nih,” sesosok wanita manis berlari kecil menuju kami. Dengan rambut pendek yang diikat dan kaca mata kotak mungil, di lehernya tergantung kamera DSLR.
 “Tania, cewe aku,” katamu tanpa dosa.
Aku mematung. (end)

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)