Suara Kristina
Perry mengalun lembut. Kujejakan kaki di pedal gas dan rem bergantian begitu city car-ku
menikung membelah jalan. Ada perasaan cemas dan bahagia yang membungkusku,
kombinasi dua rasa kontras hinggap memenuhi rongga dada ini.
Kulihat jam di
tangan, masih sempat, jadwal kedatangan pesawat masih bisa kukejar. Aku sudah
bangun sejak subuh tadi, saat matahari malu-malu mengintip, saat embun-embun
meranum.
BB-ku
berdering, Sella.
“Halo?”
“Kamu pagi
banget? Lagi ngga kerasukan jin apa-apa kan?”
“He he,” aku nenyipitkan
mata.
“Hahaha,
becanda kali. Nanti mampir ke rumah dulu ya, jemput aku.”
“Iya, tapi pas
aku sampai ngga ada lala lala yeye yeye dulu ya? kita langsung berangkat,” aku
menegaskan.
“Iya ah,
cerewet! Udah ya, bye.”
Terdengar nada statis.
Sella sahabatku
ini sejenis manusia yang sangat-amat-selalu rajin telat. Aku akan benar-benar bersujud
padanya kalau ia bisa datang tepat waktu sekali saja. Kebanyakan orang telat
untuk rentang wajar yang maksimalnya setengah jam, tapi Sella akan membuat
orang menunggu sampai dua jam, dan datang dengan wajah tanpa dosa.
Jalanan mulai
ramai, anak-anak sekolah nampak di kanan-kiri jalan. Ada hawa hangat yang
merebak pelan-pelan, tak sadar bibirku melengkung. Seutas senyum tipis muncul di
sana. Masa-masa seragam putih-abu kelas tiga ketika Sella merayu guru
matematika kami agar mau memberi kunci jawaban UN meresap, dan masih banyak lagi. Juga saat anak-anak
sekelas kompakan membeli nomer HP baru untuk menyebaran kunci jawaban ujian.
Aku menggeleng geli.
Mobil berbelok,
memasuki pekarangan sebuah rumah. Aku memutuskan untuk marah kalau ia masih
belum siap berangkat. Kali ini aku harus berhasil marah, biar aku tidak dikareti terus.
“Pagi,” Sella
menyapaku saat aku keluar dari mobil. Kepalanya masih ditempeli roll, dia belum mandi. Bagus.
“Maap, tadi aku
telat bangun. Tadi malam nonton DVD Korea dari kamu, filmnya bagus banget, ngga
bisa berhenti,” katanya buru-buru setelah melihat wajahku mengkerut. Sekarang
ia menggunakan Korea sebagai pembenaran keterlambatannya.
“Hahaha, aktornya
ganteng banget kan!” Aku kalah lagi, aku tak bisa memarahi anak ini. Masih jauh
rasanya di mana aku akan benar-benar bersujud di hadapan anak ini.
Rumahnya masih
kosong, aku curiga ayah dan ibunya Sella masih tidur. Pantas saja, dididik
dalam keluarga telat akan menciptakan anak-anak ber-life style ngaret seperti
Sella.
“Iyaaa.
Pokoknya pas mereka peluk-pelukan itu. ‘aku tak butuh gadis cantik dan kaya,
aku hanya butuh dirimu untuk mengisi hariku’, aduuuh romantis bangeeet,” mata Sella
bersinar-sinar. Kami sudah duduk berhadapan di atas tempat tidurnya. Anak ini masih
ekspresif seperti biasa.
“Sell..” kataku
pelan sambil menggenggam tangannya. Sella menahan banyak kata yang ingin dia
muntahkan.
“Ha?” Sella
nampak bingung. “Kok aku merinding ya, kamu mendadak serius begini.”
Aku menatapnya
lekat-lekat. Sella menegakkan punggungnya lalu membalas tatapanku. “Kayaknya,
aku kena beneran deh.” Kataku akhirnya.
Sella menutup
mulutnya, geliginya yang berlapis behel akan terlihat jelas jika tangan
mungilnya beranjak dari situ. Matanya melotot tak percaya, aku jadi kaget
sendiri.
“Rudi?” masih
dalam pose yang sama.
Aku mengangguk
pelan, memandangi jemariku yang sekarang sedang kupilin sendiri di atas pahaku.
“Serius?”
Aku mengangguk
lagi. Entah mengapa menerima tatapan itu aku merasa kalau rasa ini salah,
benar-benar salah. Sesalah musim hujan yang masih turun di bulan kemarau,
membuat banyak manusia kesusahan.
“Tapi Ra...”
terdengar nada menyesal dari Sella.
“Aku ngerti...”
kataku.
“Sejak kapan?” kata
Sella lagi. Aku terhenyak lalu diam. Tak tahu jawabannya apa.
Kami bertiga
sudah sahabat dari SMA, dari kelas 2 SMA hingga sekarang kami di kampus yang
sama. Rudi sudah seperti penasehat spiritual kami. Ketika kami ada masalah
dengan gebetan kami masing-masing di SMA, kami akan lari pada Rudi.
Beberapa kali
aku jatuh cinta, selalu itulah aku meminta sarannya. Saat menjomblo sekarang
ini pun aku sering sekali menumpahkan segala kegundahan dan kegelisahanku
kenapa aku belum bisa jatuh cinta lagi, juga rasa iri dan kesal saat melihat
pasangan-pasangan mesra melintas di depan hidungku.
Kami begitu
dekat hingga seperti keluarga; jalan bareng, nonton bareng, karokean bareng, curhat-curhatan
bareng, tertawa bareng bahkan nangis bareng. Semuanya nyaris kami lakukan
bersama-sama. Sepertinya tak ada malam yang kami lewatkan tanpa membahas
sesuatu di chat room. Tidak ada lagi
rahasia di antara kami, setidaknya sampai saat ini.
Tiga bulan lalu
Rudi harus pergi ke sebuah pulau di pedalaman untuk mengambil data skripsinya.
Di sana tidak ada sinyal dan listrik. Aku masih ingat ketika punggungnya
menghilang saat menghantarkannya berangkat di bandara.
Aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang kosong. Ada celah yang menganga sangat
lebar setelah Rudi pergi. Bukannya Sella tidak asik lagi, tapi serasa ada yang
kurang kalau Rudi tidak ada, kami menjadi tidak lengkap. Dia selalu menjadi
bapak bijak saat kami mulai melantur, dan sekarang sosok itu hilang.
Diam-diam aku
merindukannya.
Rindu yang
tanpa penawar. Penawarnya baru tiba 3 bulan lagi.
Dan hari ini
tiba. Kekosongan di 3 bulan itu seakan mengajarkan padaku kalau lelaki inilah
orangnya. Ia meyakinkanku dengan bijaknya kalau lelaki yang kusukai sebenarnya
adalah lelaki yang sudah sangat dekat. Dahaga karena ingin dicintai nampaknya
akan berakhir pada sebuah nama.
“Aku mesti
gimana Sel?”
“Gimana ya?
kalau kamu nembak, terus kalian jadian mah ngga apa-apa. Tapi kalau Rudi cuman nganggap kamu sahabat doang, kamu
ditolak? Pasti nanti ngga nyaman lagi kita bertiga, bakal awkward banget,”
“Nah itu dia,”
aku mengacak-acak rambut, betul-betul frustasi dan kebingungan.
Sella
menggenggam tanganku.
“Kamu hanya
akan merusak dandananmu kalau begitu.” Katanya. “Setelah aku membereskan roll
ini kita ke bandara ya? Kita pikirkan di perjalanan.” Sambil menunjuk roll
rambut di kepalanya.
“Yah hujan,
gimana nih?” tetesan air mengetuk-ngetuk ubun-ubun kepalaku pelan.
“Ini namanya
gerimis, bukan hujan,”
“Sama aja!”
“Iya deh,
sama.” Kamu berlari kecil membimbingku ke selter terdekat, gerimis berubah
hujan deras. Sella telatnya benar-benar keterlaluan, padahal kami sudah datang
telat satu jam.
Rudi melepas
jaketnya, ia melakukan itu dengan perlahan melalui jemarinya yang kurus dan
pucat, kemudian memakaikan jaket itu ke tubuhku. Mendadak aku merasa kikuk.
“Ngga usah juga
ngga apa-apa,” kataku gugup, saat ia membetulkan kerah jaket.
“Baju kamu
basah begitu, nanti kalau masuk angin aku kena marah Mama kamu. Tadi kan Mama
kamu nitipin kamu ke aku,” sambil tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku
terima dari seorang laki-laki.
Aku mengangguk
sambil menunduk. Pipiku memerah, mungkin sampai kuping.
“Tiga bulan
lama ngga ya?”
“Ha?” kamu yang
tiba-tiba loncat topik membuatku sedikit kaget.
“Dasar,
ngelamun terus. Kayaknya nanti aku bakal kangen hujan di Bogor deh,” Matamu
menerawang, menyerap setiap detail suasana yang Bogor suguhkan saat hujan turun
seperti ini. Kilat yang sesekali membuat langit kemilau perak, angin yang
berhembus menusuk-nusuk kulit, untaian air hujan yang menetes dari perut awan-awan,
juga aroma kumpulan orang-orang yang berdesakan di bawah selter. Kita berbeda,
tapi hujan membuat kita berhimpun bersama.
Setengah jam
kemudian baru Sella tiba, ia membawa dua bungkus coklat; sesajen permintaan
maaf. Setelah makan, kita tidak jadi nonton dan karokean. Perayaan kepergian
Rudi gagal karena Rudi masuk angin. kamu harus segera pulang, besok harus terbang ke pulau tempat penelitianmu.
“Ada yang
ketinggalan ngga?” kataku sambil meremas jemariku.
“Kayanya ngga
ada,” katamu. Kamu memasukkan tanganmu ke dalam saku jaket, lalu mengeluarkan
selembar tiket pesawat di sana. Tiket itu kamu gigit diantara bibir merahmu
selagi kamu mengeluarkan sebuah topi dari ransel.
Kakiku
terhentak ke belakang. Aku tak mengira begitu lemas melihat lembar tiket itu.
Lemas karena kamu akan benar-benar menghilang.
“Beneran ngga
ada yang ketinggalan?” tanya Sella.
Kamu
mengangguk, kemudian kamu memeriksa jam tanganmu.
“Harus check-in nih,” sambil tersenyum.
Aku tak
menemukan sama sekali kesedihan dalam air mukamu. Seperti ada selembar silet
pipih menggores pelan di balik kulitku. Sakit.
Setelah
melambaikan tangan, kamu berbalik. Berjalan pelan sambil menyeret kopermu, menembus
kerumunan, melewati palang pemeriksaan. Kamu sempat berbalik, melambaikan tangan
pelan sambil tersenyum lalu lenyap ditelan kerumunan. Malah seutas senyum
lebar yang kamu goreskan dibenakku kala itu.
Hatiku
menganga.
Kamu tersenyum,
terlihat bahagia saat berpisah denganku.
“Nih,” Sella
menyodorkan sebotol air mineral.
Aku menerimanya
lesu.
“Ditahan ngga
bisa ya?” katanya.
“Tiga bulan
Sel. Bisa mati kalau aku terus-terusan ngeliat tampangnya tanpa bilang apa-apa,
pura-pura kalau rasa aku ke dia cuman sebatas ‘teman’. Bisa-bisa bisulan hatiku
ini,” kataku sambil meremas botol airm mineral gemas.
Sella meraih
tanganku. “Jadi, mau bilang?”
Aku menatapnya
dengan tatapan memelas, tak mengerti lagi ekspresi apa yang harus aku sodorkan.
Aku mengangguk
pelan.
“Kok ngga yakin
begitu?”
Aku mengangguk sekali
lagi dengan mantap, sambil tersenyum.
BB-ku bergetar.
Sella juga mengecek BB-nya.
Udah ngambil bagasi nih, tunggu bentar ya!
BBM dari Rudi,
aku dan Sella tersenyum.
Gerbang
kedatangan mulai ramai, banyak orang keluar sambil menyeret-nyeret koper,
beberapa membawa ransel di punggung mereka.
Kemudian sosok
itu terlihat. Terlihat lebih tinggi dan lebih hitam dari 3 bulan yang lalu.
Kamu menyeret kopermu pelan-pelan, ketika menyadari ada kami senyummu merekah
lebar, gigi putihmu terlihat.
Jantungku
berdegup keras. Sosok ini yang membuat gelisah tiga bulanku, instantly menawarkan rasa perih hatiku. Melihat
sosokmu berjalan pelan ke arahku seperti ini membuat penantianku terasa
sebanding. Bahagianya begitu pekat hingga tak henti-hentinya aku tersenyum.
“Tambah item
nih?” kate Sella.
“Masa?
Panas-panasan terus di pantai nih,” kamu cekikikan.
“Bagaimana
rasanya kembali ke rumah?” kataku, dengan susah payah.
“Bahagia
sekali!” kamu nyengir.
“Oh iya,
kenalin nih,” sesosok wanita manis berlari kecil menuju kami. Dengan rambut
pendek yang diikat dan kaca mata kotak mungil, di lehernya tergantung kamera
DSLR.
“Tania, cewe aku,” katamu tanpa dosa.
Aku mematung. (end)
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)