20140331

Big Guy

Jam makan siang itu cafe kami ramai seperti biasa. Lantunan musik mengalun pelan menghantarkan para pelanggan menikmati makan siang mereka. Cafe yang ¾ nya penuh seperti ini artinya kesibukan buatku.
“Mohon tunggu maksimal 10 menit ya,” kataku dengan senyum terlatih. Pelanggan di hadapanku membalas senyum, kemudian aku melesat menuju jendela koki. Senyumku selalu berhasil. Kata Kyle, senyumku berhasil menarik lebih banyak pelanggan mengunjungi cafe kami.
“Menu 10 untuk meja 9, jangan terlalu pedas plus tambahan sayur,” teriakku sambil menjepit kertas pesanan pada tali yang menjuntai di sana.
“Oke!!” kata orang di sebelah.
Aku hendak bergegas menuju meja lain, Kyle menahan lenganku. Aku menoleh, anak rambutku terjatuh menutupi mata. Dengan gerakan tangan kiri singkat aku menyangkutkannya ke telinga sambil menarik ballpoint dari saku dengan tangan kanan dan menekan ujungnya  sehingga siap dipakai menulis.
“Lihat, raksasa itu datang lagi,” katanya setengah berbisik.
Lelaki besar, sekitar 180 cm dengan punggung agak bungkuk, stelan jas kusam, tas bahu, berjalan pelan sambil menunduk memasuki cafe kemudian mengambil kursi di pojokan dekat piano tua.
“Kenapa dia selalu duduk di sana ya?” tanyaku. Sejak sebulan di sini hanya lelaki ini yang selalu datang di saat makan siang dan selalu mengambil tempati duduk di tempat yang sama.
“Aku berani taruhan kalau pesanannya pasti akan sama. Air mineral botol tidak dingin.” Kata Kayle malas. Ia bergegas mendekati lelaki itu. Aku bergerak menuju meja lain yang diisi sepasang karyawan bank. Ekor mataku terus mengikuti Kyle, entah mengapa raksasa ini menarik perhatianku. 
“Sudah kubilangkan,” Kyle menujukan kertas pesanan raksasa itu di depan hidungku saat kami berpapasan di jendela dapur. Air mineral botol tidak dingin. Kyle menuju tempat minuman, mengambil air mineral lalu meletakkannya di atas nampan.
Kyle hendak bergegas menuju meja lain, aku menahan lengannya. Ia menoleh. “Biar aku saja,” kataku. “ Kau urus meja 9, harusnya pesanannya sudah siap,” Kyle mengangkat bahu.
Aku maraih nampan dengan air mineral botol tadi, lalu bergegas menuju meja pojok, melewati celoteh bercampur alunan radio dan deretan meja-meja yang penuh. Saat aku tiba lelaki ini sedang mengeluarkan sendok dan garpu pelastik dari plastik transparan yang membungkusnya, lalu membuka kotak bekalnya.
 Dari sini aku bisa melihat menu makan siangnya; nasi merah, sayur-entah namanya apa-rebus, seiris daging yang juga direbus dan sebuah jeruk yang terletak dalam petakan-petakannya. Aku mengerjap, menu orang ini sehat sekali, bahkan alat makannya steril dengan bungkus plastik itu.
Ia masih  sibuk mengeluarkan garpunya hingga tidak menyadari kedatanganku. Aku berdehem yang membuatnya mendongak. Dengan posisi yang seperti itu aku bisa melihat seluruh air wajahnya. Tidak ada yang istimewa. Maksudku, bentuk mata, hidung bibir dan apapun yang ada di sana sama dengan orang kebanyakan. Wajahnya adalah tipe wajah yang akan segera kau lupakan 5 menit setelah kau berpapasan. Hanya saja rambutnya tersisir rapi ke belakang, dan sangat klimis. Berapa banyak minyak rambut yang ia pakai ya?
“Sebotol air mineral tidak dingin,” kataku sambil tersenyum. Orang itu menunjuk samping kotak makannya acuh lalu kembali dengan garpunya yang belum beres.
Aku tersentak, lelaki ini tidak membalas senyumku. lelaki besar ini ia bahkan tidak melihat wajahku sama sekali  saat aku tersenyum tadi. Hanya menyuruhku meletakkan air mineralnya dengan isyarat telunjuknya.
Aku meletakkan air mineralnya, lalu memasang senyum yang lebih lebar dari tadi. Kali ini dia harus membalas senyumku.
”Selamat menikmati pesanannya, ” kataku masih sambil tersenyum.
Lelaku ini mulai menyantap makanannya, tanpa suara, serbet di kerah, dengan punggung tegak dan benar-benar mempraktikkan table manner. Tidak menggubrisku sama sekali. Aku berbalik lalu menuju Kyle dengan wajah kesal.
“Kau kenapa?” tanya Kayle.
“Raksasa itu menyebalkan sekali,” kataku ketus sambil mengencangkan ikatan rambut ekor kudaku. Kyle tertawa.

“Tiga, dua, satu,” Kyle sambil melihat jam tangannya. Raksasa itu berdiri lalu berjalan menuju pintu dan menghilang di jalanan. “Selalu 15 menit, tidak pernah lebih atau kurang sama sekali.”
“Dia tidak bayar?”
“Ia menaruh uangnya di bawah botol air mineral yang sudah kosong, dan selalu tanpa tips,” cafe sudah lumayan sepi, aku dan Kyle sedikit santai. “Tuh kan,” kami berdua mengangkat  bekas  makan raksasa itu. Semuanya bersih, tak ada remah apapun yang jatuh. Hanya ada sisa botol air mineral yang telah kosong sama sekali.
“Dia ini robot atau apa sih,” aku mengekerutkan dahi. Kyle lagi-lagi tertawa melihatku.

Besoknya di jam yang sama raksasa itu datang lagi. Aku mengencangkan ikat rambutku, menyangkutkan anak rambut ke telinga, lalu menaikkan lengan panjangku hingga siku. Kali ini aku harus bisa membuatnya membalas senyumku. Aku sudah sikat gigi tiga kali pagi ini.
“Apapun yang akan kau lakukan, jangan sampai membuatnya ketakutan ya,” Kyle nyengir. Tau betul aku akan melakukan apa saja kalau sudah menginginkan sesuatu.
Lelaki itu mendongak, “Sebotol air mineral tidak dingin,” kataku sebelum ia membuka mulutnya. Aku sengaja  memasang senyum selebar yang aku bisa. “Ada lagi?” senyum itu masih tersangkuti di sana.
Lelaki itu gelagapan lalu menggeleng. Dan ia tidak membalas senyumku. Malah mulai sibuk dengan peralatan makannya lagi, seperti kemarin.
Aku mengerjap tak percaya.
Aku berbalik dan melangkah cepat. “Gagal ya?” Kayle terkekeh melihat wajahku. Aku bergegas mengambil air mineral lalu mengangkatnya ke atas nampan dan menuju ke meja itu lagi.
“Silahkan, ada tambahan lagi?” laki-laki itu mendongak, menggeleng, melanjutkan menyantap bekalnya.
Kekesalanku sudah di ujung ubun-ubun.
“Tidak bisa kah anda membalas senyumku atau bilang terima kasih?” bentakku, aku keceplosan. Haram hukuknya menghardik pelanggan. Untungnya kata-kataku hanya cukup untuk didengar kami berdua, kalau Kyle dengar, dia bisa marah besar.
Lelaki itu mendongak lalu mengerjap.
“Maafkan saya, saya tidak bermaksud tidak sopan,” bukannya marah karena diperlakukan tidak sopan, ia malah memasang ekspresi menyesal.
Aku mematung, bukan karena ekspresinya yang aneh tapi karena suaranya yang amat kecil dan lebih terdengar seperti suara perempuan dari pada suara laki-laki. Bagaimanapun dengan badan sebesar ini, kenapa suaranya malah aneh.
Detik berikutnya aku berlari kamudian tertawa habis-habisan hingga terduduk bersandar di balik pintu toilet. Si raksasa kebingungan ditinggal, Kyle menyernyit mendengar tawaku samar.

Aku menaruh air mineral botol di hadapannya (hari berikutnya).
Dia mendongak bingung.
“Pesananmu ini saja kan?” kataku sambil tersenyum.
Wajahnya memerah malu, lalu mengangguk pelan.
Aku menarik kursi lalu duduk di hadapannya. Memperhatikannya dengan penuh antusias. Hey wajarkan kalau aku tertarik dengan orang ini. Jam makan yang selalu tepat waktu, menu makan yang selalu sehat, alat-alat makan yang steril. Jarang sekali ada orang yang seperti ini. Lagi pula siang ini aku tidak terlalu sibuk, cafe sedang sepi.
Dia mendongak, lalu wajahnya memerah karena malu. Aku tersenyum.
“Kau kerja di sekitar sini ya?”
Ia mengangguk, tangannya kikuk memotong sayuran rebusnya kecil-kecil.
“Di mana?”
“Kantor akuntan, dua blok dari sini,” katanya.
“Ooh akuntan, pantas saja,” kataku.
Ia meneruskan kegiatan memotongnya. Kali ini telur mata sapinya yang sedang ia potong kecil-kecil.
“Kau selalu menggunakan sendok dan garpu steril itu ya?” ia mengangguk, masih sambil memotong.
Orang ini benar-benar sulit diajak ngobrol. Masa hanya bicara saat ditanya saja.
“Kenapa?”
“Higienis, jadi aku bisa makan tanpa takut kena diare,” katanya polos.
Aku melongo. Orang ini benar-benar deh.
“Kalau seluruh orang sepertimu, rumah sakit akan kosong,” komentarku.
Wajahnya memerah.
“Kenapa kau hanya memesan air mineral tiap kali ke sini?”  aku penasaran.
“Aku suka suasana di sini, tapi aku sudah membawa bekal, jadi satu-satunya cara agar aku bisa menyantap makan siangku di sini adalah dengan memesan air mineral,” katanya polos.
Aku tercenung. Lalu tersenyum. Bahagia sekali ada yang merasa betah di cafe kami.
“Baiklah, aku harus bekerja lagi nih. Selamat menikmati makan siang nya,” aku tersenyum riang.
Ia mengangguk lalu membalas senyumku.
Aku terdiam, ini kali pertama ia membalas senyumku.
“Akrab banget,” Kyle melengos membawa piring-piring kosong ketika tiba di counter.
“Apaan sih,” aku tersenyum malu sambil merapihkan ikatan rambut.

“Mba ngga pernah keliatan kalau malam,” raksasa itu bertanya, agak gugup, saat aku mengantarkan pesanan rutinnya. Ntah sejak kapan orang ini mulai memanggilku ‘mba’.
“Mas nya juga ke sini kalau makan malam?” tanyaku. Dan entah sejak kapan aku memanggilnya ’mas’.
Ia mengangguk malu.
“Terima kasih telah menjadi pelanggan loyal cafe kami,” kataku. “Mas nya ngga mau coba menu andalan kami? Roosted chicken belly?” kataku. Rasanya sangat enak, aku ingin orang ini merasakan menu cafe kami yang lain selain air mineral.
Ia menggeleng. Orang ini benar-benar sekokoh tebing batu.
“Kenapa musiknya berhenti?” tanyanya.
Kepalaku berkeliling mencari sosok Kyle, ia sedang memanggil teknisi untuk memperbaiki sistem streo Cafe kami. Mungkin ada kabel yang copot.
“Mungkin ada masalah pada sound sistemnya, sedang kami usahakan agar bisa normal kembali. Maafkan kami ,” kataku.
“Piano ini rusak ya?” tanyanya tiba-tiba.
“Hah?” aku kaget ditanya dengan pertanyaan tak terduga itu. “Aku tidak tahu, sejak aku mulai bekerja di sini sebulan yang lalu, piano itu sudah ada di sana. Dan tak ada seorang pun yang pernah  menyentuhnya,” jelasku.
Lelaki itu berdiri lalu bergerak mendekati piano itu.
“Kau mau apa?” kataku panik. Aku takut lelaki ini merusak benda itu. Piano kan tak ada yang murah.
Ting!!
Sebuah tuts di tekan, suaranya menggema memenuhi ruangan. Semua orang menoleh.
Aku segera berlari menuju lelaki itu. Apa yang dia lakukan? Aduh, jangan membuat pelanggan lain terganggu dong.
Jemari  tangannya mulai menari. Sebuah lantunan mengalun. Lembut, tenang dan indah. Langkahku terhenti.
Lelaki itu, dengan mata terpejam memainkan sebuah simfoni yang aku tak tahu apa tapi jelas-jelas sangat indah dan membuat semua pelanggan di sini terpesona. Bahkan mulut Kyle menganga. Jangan-jangan akuntan hanya pekerjaan sampingannya. 
Permainan selesai, tepuk tangan bergemuruh. Lelaki itu turun dengan kikuk dan wajah memerah.
“Aku tak menyangka kau bisa main piano,” kataku terpukau.
Ia menggaruk-garuk kepalanya, “waktu kuliah aku ikut club musik klasik,” katanya.

“Ah masa?”
“Ia nampaknya merasa sangat menyesal kau tak ada. Ia bahkan tetap di sini lebih dari setengah jam, ini baru pertama kalinya,”
Aku mengerjap. Masa iya?
“Kali ini kau harus menghantarkan air mineral ini padanya, sebentar lagi jam makan siang,” Kata Kyle.
“Kemarin mba ke mana?” katanya, tatapannya membuatku merasa benar-benar bersalah.
“Ada urusan mendesak. Pesanannya ini saja?” kataku sambil tersenyum tidak enak.
“Kau tahu, raksasa itu terlihat kecewa saat aku mengantarkan pesanannya kemarin, bukan kamu,” kata Kyle saat aku menuju jendela koki. “Ia bahkan duduk di sana lebih lama dari biasanya.”
“Mungkin ia suka padamu,” tambahnya.
Pipiku menghangat. Ada apa ini?

“Saya pesan Roosted chicken belly,” katanya polos.
Aku mendongak tak percaya. Air mineral itu hampir saja jatuh menggelinding dari meja.
“Masnya tidak membawa bekal?”
“Tadi saya buru-buru. Lagi pula, sekali-sekali keluar dari kebiasaan kan tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum.
Aku tersenyum, senang sekali rasanya.
“Omong-omong, nama saya Jeri,” katanya gugup.
“Saya, Julian,” kataku. Sudah sekitar satu bulan kami saling mengobrol, tapi baru kali ini saling memberi tahu nama masing-masing.
“Malam ini, kalau kau ada waktu,” katanya terbata-bata.
Perutku mendadak mual, jantungku berdeta kencang dan wajahku memerah.
“Maafkan aku,” kataku. “Ada yang harus aku kerjakan,” kataku.
“Malam besoknya?”
“Tiap malam,” suaraku terdengar berat.
“Baiklah,” katanya akhirnya. Nampak agak kecewa.
“Kenapa tak kau katakan?” kata Kyle saat aku kembali menaruh kertas pesanan.
“Apanya?”
“Jelas-jelas dia menyukaimu.”
Aku menggeleng pasrah. Kyle menatapku dalam, tanganya bergerak lembut merapikan anak rambutku.
“Kau harus jujur sayang, kalau dia benar-benar mencintaimu dia akan menerimamu apa adanya.”

Angin taman berhembus hangat, menerbangkan rambutku pelan-pelan.
“Dari tadi?” seseorang menyapaku, aku menoleh lalu menggeleng sambil menunduk.
“Baiklah, ayo.” Kata Jeri sambil tersenyum.
“Tunggu, aku tidak sendiri,” kataku takut-takut.
“MAMA!!!!” anak gadis kecil berumur 4 tahun berlari ke arahku dengan seutas balon ditangannya. Aku berjongkok lalu menyambutnya.
“Ini Tanya,” kataku begitu berdiri sambil menggendong Tanya. Begitu berat rasanya menatap mata Jeri.
Jeri tersentak kaget, ia memeriksa kami dengan kedua matanya. Wajahnya kaku. Aku merasa sangat khawatir.
“Itu siapa, mah?” kata Tanya, suaranya yang mungil berdesing-desing antara kami .
“Paman Jeri, sahabat mamanya Tanya,” Jeri menyodorkan lengannya mengajak berkenalan Tanya. Sebuah senyum terbit di wajahnya.
Tanya minta turun lalu bersalaman dengan Jeri.
“Paman, jangan nakal sama mama ya,” wajahnya serius.
Aku, entah mengapa tergelak menemukan tingkah Tanya, begitu juga Jeri.
Sore itu kami berdua saling tertawa untuk pertama kalinya.


  

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)