“Sudah berapa putaran?” lelaki busuk itu melewatiku.
Ini sudah yang ketiga kali orang ini bertanya hal yang sama, dengan nada yang
sama.
Aku memasang tampang semanis yang kubisa, “baru satu,”
kataku. Ia memutar badannya, berlari mundur. Aku sudah tiga, bibirnya menganga
tanpa suara.
Aku tahu!
Seharian dimarahi dosen pembimbing membuat mood-ku berantakan, total. Tak butuh orang aneh ini untuk
membuat suasana hatiku makin hancur.
Matahari makin condong dan aku baru dapat satu setengah putaran.
Satu setengah putaran dari tadi. Mulai sore ini dan seterusnya aku bertekad rutin
jogging di sini, di Sempur, lapangan
publik satu-satunya yang dimiliki Bogor. Aku memilih sore karena
biasanya—biasanya ya, sore itu sepi.
Aku tak mau ada yang menertawai buntalan kentut, gajah
bengkak, paus dufan, pesut ancol atau sebutan lain yang sudah dan belum
terfikir oleh orang-orang tidak gendut itu untuk menamai jenis manusia tambun
seperti aku. Apa salahnya kalau kami berusaha menguruskan badan, membakar lemak
dengan ber-jogging seperti yang aku
lakukan sekarang? Kami juga sebenarnya tidak nyaman memiliki ukuran tubuh
seperti ini. Siapa yang mau?!
Aku benci laki-laki ini. Wajahnya tampan, badannya bagus—maco
banget malah—dan orang kaya; dari sepatu, kaus kaki hingga t-shirt dan celana training-nya
Nike original semua—aku yakin pasti pacarnya cantik—dengan badan
seatletis itu, rasanya tak perlu lah dia jogging
lagi, di depanku pula.
Aku sangat iri!
Dipikir-pikir, dari pada sibuk memikirkan orang lain yang
bahkan aku belum kenal, aku harusnya lebih fokus pada postur lebarku ini. 2
putaran belum rampung, kakiku sudah berat, bajuku basah dan pandanganku mulai
berkunang-kunang. Sulit sekali berlari dengan tumpukan lemak di paha yang terus
bergesekan saat berusaha mati-matian mengayunkan kaki, belum lagi gumpalan di
perut serupa semangka yang bergetar naik
turun. Aku pasti lucu sekali kalau divideokan. Benar kata orang-orang, sulit
sekali menurunkan berat badan—sulitnya benar-benar sulit—padahal menaikannya
hanya butuh sedikit usaha; makan saja junkfood
sebanyak yang kau bisa.
Nafasku sudah nyaris habis dan tenggorokanku mengering.
Aku tak mau kalah dengan diriku sendiri. Perut ini—aku
mengusap-usap perutku yang makin hari-makin maju. Sialan, kemarin rasanya belum
sebesar ini—harus segera kukempeskan. Kalau tidak, seumur hidup aku akan menjomblo.
Mana ada jaman sekarang cewek yang suka sama cowok gendut nan
tambun. Kata Toni, teman baikku sejak SMA, wajahku sebenarnya lumayan tampan. Sayangnya
tumpukan lemak-lemak ini mengubur ketampananku. Kalau saja aku bisa mengembalikan
posturku kembali seperti masa-masa keemasan saat umur 17-an dulu, aku yakin
masih punya harapan untuk punya pacar.
Makannya aku kesal sekali saat orang tadi bilang dia sudah
dapat tiga putaran. Men, aku sudah
berusaha keras, dan baru menyelesaikan satu setengah putaran. Bukan salahku
kalau lariku lamban, salahkan lipatan-lipatan lemak ini.
Langkahku makin berat. Mataku makih sayu. Kacamataku
berembun, entah dari mana, mungkin keringatku menguap. Letih sekali. Kakiku
seperti diikat dengan beban seberat masing-masing 10 ton. Aku sudah lupa seperti apa nyamannya baju kering. Yang
paling menyiksa adalah dadaku, terasa makin sesak dan makin sempit saja
rasanya.
Kakiku benar-benar sangat berat untuk diayunkan. Kenapa
orang-orang di sekelilingku ini bisa begitu terlihat sangat menikmati tiap
ayunan kaki mereka? Dengan headset tersangkut
di telinga dan butiran-butiran keringat di dahi juga kaus yang agak basah,
mereka terlihat begitu keren.
Sedangkan aku, rasanya sudah tak kuat lagi. Mungkin saatnya
untuk menyerah. Ini pastilah batas ketahanan tubuhku yang melar ini. Kursi kayu
di bawah pohon itu sangat teduh kelihatnnya. Pasti nyaman sekali duduk di sana,
memandangi langit sore sambil minum softdrink
dingin, dari pada menyiksa diri seperti ini.
Apa aku harus menerima takdir kalau aku memang selamanya
harus berperut tambun? Tiap langkah yang kupaksakan malah makin mencekik
paru-paruku.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini sampai di sini saja dulu, mungkin besok aku bisa
mencapai target putaranku...
“Hai,” seseorang
menyapaku dari samping. Laki-laki jelek tadi telah menyusulku (lagi)? Tapi
anehnya ini bukan suara orang itu, ini suara wanita. Tanpa ba bi bu aku
menoleh.
Sinar senja berjatuhan di atas rambut hitamnya yang diikat simple di belakang. Alisnya tebal,
nyaris nyambung. Dengan sepasang mata itu, siapa pun akan dengan senang hati
terhisap ke dalamnya, tambah lagi senyumnya. Segaris lengkung di bibirnya itu,
gadis ini cantik sekali.
Dadaku mendadak berdebar tak karuan.
“H—haai” kataku kikuk. Jarang sekali ada cewek cantik
menyapaku duluan. Jujur, aku minder setiap bertemu cewek cantik.
“Halo, namaku Fani?” katanya riang, aku yakin larinya bisa
lebih cepat dari ini, tapi dia lebih memlilih menyelaraskan langkahnya dengan
ayunan kakiku (yang lambat).
“Budi,” jawabku polos, setelah berusaha keras mengendalikan
diri.
“Pantes, pake kaca mata. Kamu pinter ya?” Ini yang membuat aku
benci kenapa aku diberi nama Budi. Semua anak rajin dan pintar di buku ‘Mari
Belajar Membaca Jilid 1 untuk SD kelas 1’ diberi nama Budi semua, aku jadi kena
imbasnya.
“Ngga juga kok,” wajahku memerah, pandangan jatuh ke tanah,
ekspresi normal saat malu. “Lagi program diet? Badan kamu bagus banget ah,” aku
berusaha membelokkan topik. Rugi kalau ngobrol dengan cewek cantik hanya membahas
namaku.
Dia tersenyum sambil menggeleng, “Udah kebiasaan sejak
kuliah. Pas pindah ke Bogor sempet khawatir ngga bisa jogging, untung aku pindah ke dekat sini.”
Ooh, rumahnya dekat sini.
“Sejak kuliah? Berarti sudah kerja?”
Ia menggeleng. “Baru
lulus, pengennya sih langsung kerja. Tapi belum ada yang pas. Mungkin mau
ngambil S2.“ Fani mengangkat bahu tak yakin. Umur kami sepantaran.
“Ooh,” ada semacam perasaan nyaman yang mampir. Dan, hey aku sudah dapat dua setengah putaran.
Aku lupa kalau pada dua putaran yang lalu aku sudah nyaris
menyerah karena saking lelahnya. Sekarang Aku malah makin semangat, satu lagi. Lima
putaran untuk awalan, besok nambah jadi 6. Sedikit-sedikit asal rutin.
Asik sekali ngobrol dengan Fani, orangnya sangat
menyenangkan. Terakhir kali aku merasakan sensasi ini saat masih bersama Tanya,
mantanku, sayangnya sekarang dia sudah bertunangan.
“Budi, masih kuliah apa sudah kerja?” Dia bahkan langsung
menyebut namaku, padahal kita baru saja kenalan.
“Sedang Skripsi,” kataku
jujur. Kuisionerku gagal terus, tadi siang saja aku kena marah lagi.
“Ah, masa?! Aku kira masih tingkat 2,” katanya serius tak
percaya.
“Banyak yang bilang aku baby
face,” kataku asal, diam-diam wajahku memerah senang.
Tiba-tiba dia melambatkan langkahnya, lalu berangsur-angsur
berhenti. Aku mengikuti dari samping.
“Bisa saja kamu,” katanya sambil tergelak. Bahkan saat tertawa,
pancaran keindahannya tidak pudar.
Sinar senja menerangi wajahnya, ia mengelap butir-butir
keringat yang membentuk seperti mahligai mutiara keemasan di sekitar dahinya
dengan selembar handuk putih. Ia tersenyum lagi ke arahku.
“Terima kasih banyak
ya, lariku hari jadi tidak terasa karena kamu ngajak ngobrol. Thaks banget .” aku jujur, tanpa sadar
seluruh t-shirt-ku kuyup oleh keringat.
“Anytime. Besok jogging
lagi ngga?” aku kaget mendengar Fani bertanya.
“Tentu saja, maksudku, aku memang sedang program. Mungkin
akan sering jogging sore di sini.” Kataku, berusah untuk tidak berlari satu
keliling lagi saking senangnya.
“Oke, besok jam yang sama? Habisnya kamu asik diajak
ngobrolnya, padahal kita baru bertemu. Jarang lho aku langsung cocok sama orang,
” katanya. Ia menarik ikat rambutnya, rambut hitamnya tergerai mengembang. Kau
pernah melihat bunga mawar yang benar-benar baru mekar? Seperti itulah Fani
sekarang.
“Sudah jogging-nya?”
laki-laki six-pack—yang menyebalkan tadi tiba-tiba muncul di belakangku, ia
tanpa izin apapun menyentuh pundakku dengan santainya. Aku menoleh siap-siap
menunjukan wajah masam, kali ini dia benar-benar keterlaluan. Sudah memegang
pundakku seenaknya, mengganggu acara berdua kami pula.
“Kenalkan, ini kakakku,” Fani melemparkan handuk putihnya
pada laki-laki di sampingku sambil tertawa jahil. Ia menangkap benda itu sambil
cekikikan nakal.
Rasanya ada listrik jutaan kilowatt menyetrumku.
“Roy,” ia menjulurkan lengannya. Aku menatapnya tak percaya.
“Budi,” kataku setelah merekonstruksi semua sel otot wajah
menjadi senyum-senyum iklan pasta gigi.
“Kamu pinter, ya?” kata Rio polos. Rasanya besok aku harus ganti
nama nih.
“Ngga juga,” kataku.
Setelah itu kami mulai ngobrol basa-basi, mencairkan
suasana.
Hari ini tidak seburuk yang aku kira. Fani akan jadi teman jogging-ku mulai besok. Dan aku sudah
tidak sabar menunggu esok sore tiba. Mungkin besok aku harus mengajaknya minum
Pocari Sweat setelah lari di kursi bawah pohon itu.
Aku tersenyum, ada yang harus aku ceritakan pada Toni di
kostan nanti, dia pasti tak akan percaya.
“Fani, baru seminggu putus dari pacarnya tuh Bud,” aku
tersentak.
Roy terkekeh nakal menerima pukulan Fani. Aku tersenyum, antara
senang, bahagia, dan sangat bahagia.[]
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)