20140327

Sempur


“Sudah berapa putaran?” lelaki busuk itu melewatiku.
Ini sudah yang ketiga kali orang ini  bertanya hal yang sama, dengan nada yang sama.
Aku memasang tampang semanis yang kubisa, “baru satu,” kataku. Ia memutar badannya, berlari mundur. Aku sudah tiga, bibirnya menganga tanpa suara.
Aku tahu!
Seharian dimarahi dosen pembimbing membuat mood-ku  berantakan, total. Tak butuh orang aneh ini untuk membuat suasana hatiku makin hancur.
Matahari makin condong dan aku baru dapat satu setengah putaran. Satu setengah putaran dari tadi. Mulai sore ini dan seterusnya aku bertekad rutin jogging di sini, di Sempur, lapangan publik satu-satunya yang dimiliki Bogor. Aku memilih sore karena biasanya—biasanya ya, sore itu sepi.
Aku tak mau ada yang menertawai buntalan kentut, gajah bengkak, paus dufan, pesut ancol atau sebutan lain yang sudah dan belum terfikir oleh orang-orang tidak gendut itu untuk menamai jenis manusia tambun seperti aku. Apa salahnya kalau kami berusaha menguruskan badan, membakar lemak dengan ber-jogging seperti yang aku lakukan sekarang? Kami juga sebenarnya tidak nyaman memiliki ukuran tubuh seperti ini. Siapa yang mau?!
Aku benci laki-laki ini. Wajahnya tampan, badannya bagus—maco banget malah—dan orang kaya; dari sepatu, kaus kaki hingga t-shirt dan celana training-nya Nike original semua—aku  yakin pasti pacarnya cantik—dengan badan seatletis itu, rasanya tak perlu lah dia jogging lagi, di depanku pula.
Aku sangat iri!
Dipikir-pikir, dari pada sibuk memikirkan orang lain yang bahkan aku belum kenal, aku harusnya lebih fokus pada postur lebarku ini. 2 putaran belum rampung, kakiku sudah berat, bajuku basah dan pandanganku mulai berkunang-kunang. Sulit sekali berlari dengan tumpukan lemak di paha yang terus bergesekan saat berusaha mati-matian mengayunkan kaki, belum lagi gumpalan di perut  serupa semangka yang bergetar naik turun. Aku pasti lucu sekali kalau divideokan. Benar kata orang-orang, sulit sekali menurunkan berat badan—sulitnya benar-benar sulit—padahal menaikannya hanya butuh sedikit usaha; makan saja junkfood sebanyak yang kau bisa.
Nafasku sudah nyaris habis dan tenggorokanku mengering.
Aku tak mau kalah dengan diriku sendiri. Perut ini—aku mengusap-usap perutku yang makin hari-makin maju. Sialan, kemarin rasanya belum sebesar ini—harus segera kukempeskan. Kalau tidak, seumur hidup aku akan menjomblo.
Mana ada jaman sekarang cewek yang suka sama cowok gendut nan tambun. Kata Toni, teman baikku sejak SMA, wajahku sebenarnya lumayan tampan. Sayangnya tumpukan lemak-lemak ini mengubur ketampananku. Kalau saja aku bisa mengembalikan posturku kembali seperti masa-masa keemasan saat umur 17-an dulu, aku yakin masih punya harapan untuk punya pacar.
Makannya aku kesal sekali saat orang tadi bilang dia sudah dapat tiga putaran. Men, aku sudah berusaha keras, dan baru menyelesaikan satu setengah putaran. Bukan salahku kalau lariku lamban, salahkan lipatan-lipatan lemak ini.
Langkahku makin berat. Mataku makih sayu. Kacamataku berembun, entah dari mana, mungkin keringatku menguap. Letih sekali. Kakiku seperti diikat dengan beban seberat masing-masing 10 ton. Aku sudah lupa  seperti apa nyamannya baju kering. Yang paling menyiksa adalah dadaku, terasa makin sesak dan makin sempit saja rasanya.
Kakiku benar-benar sangat berat untuk diayunkan. Kenapa orang-orang di sekelilingku ini bisa begitu terlihat sangat menikmati tiap ayunan kaki mereka? Dengan headset tersangkut di telinga dan butiran-butiran keringat di dahi juga kaus yang agak basah, mereka terlihat begitu keren.
Sedangkan aku, rasanya sudah tak kuat lagi. Mungkin saatnya untuk menyerah. Ini pastilah batas ketahanan tubuhku yang melar ini. Kursi kayu di bawah pohon itu sangat teduh kelihatnnya. Pasti nyaman sekali duduk di sana, memandangi langit sore sambil minum softdrink dingin, dari pada menyiksa diri seperti ini.
Apa aku harus menerima takdir kalau aku memang selamanya harus berperut tambun? Tiap langkah yang kupaksakan malah makin mencekik paru-paruku.
 Aku tak kuat lagi.
Hari ini sampai di sini saja dulu, mungkin besok aku bisa mencapai target putaranku...
 “Hai,” seseorang menyapaku dari samping. Laki-laki jelek tadi telah menyusulku (lagi)? Tapi anehnya ini bukan suara orang itu, ini suara wanita. Tanpa ba bi bu aku menoleh.
Sinar senja berjatuhan di atas rambut hitamnya yang diikat simple di belakang. Alisnya tebal, nyaris nyambung. Dengan sepasang mata itu, siapa pun akan dengan senang hati terhisap ke dalamnya, tambah lagi senyumnya. Segaris lengkung di bibirnya itu, gadis ini cantik sekali.
Dadaku mendadak berdebar tak karuan.
“H—haai” kataku kikuk. Jarang sekali ada cewek cantik menyapaku duluan. Jujur, aku minder setiap bertemu cewek cantik.
“Halo, namaku Fani?” katanya riang, aku yakin larinya bisa lebih cepat dari ini, tapi dia lebih memlilih menyelaraskan langkahnya dengan ayunan kakiku (yang lambat).
“Budi,” jawabku polos, setelah berusaha keras mengendalikan diri.
“Pantes, pake kaca mata. Kamu pinter ya?” Ini yang membuat aku benci kenapa aku diberi nama Budi. Semua anak rajin dan pintar di buku ‘Mari Belajar Membaca Jilid 1 untuk SD kelas 1’ diberi nama Budi semua, aku jadi kena imbasnya.
“Ngga juga kok,” wajahku memerah, pandangan jatuh ke tanah, ekspresi normal saat malu. “Lagi program diet? Badan kamu bagus banget ah,” aku berusaha membelokkan topik. Rugi kalau ngobrol dengan cewek cantik hanya membahas namaku.
Dia tersenyum sambil menggeleng, “Udah kebiasaan sejak kuliah. Pas pindah ke Bogor sempet khawatir ngga bisa jogging, untung aku pindah ke dekat  sini.”
Ooh, rumahnya dekat sini.
“Sejak kuliah? Berarti sudah kerja?”
Ia menggeleng.  “Baru lulus, pengennya sih langsung kerja. Tapi belum ada yang pas. Mungkin mau ngambil S2.“ Fani mengangkat bahu tak yakin. Umur kami sepantaran.
“Ooh,” ada semacam perasaan nyaman yang mampir. Dan, hey  aku sudah dapat dua setengah putaran.
Aku lupa kalau pada dua putaran yang lalu aku sudah nyaris menyerah karena saking lelahnya. Sekarang Aku malah makin semangat, satu lagi. Lima putaran untuk awalan, besok nambah jadi 6. Sedikit-sedikit asal rutin.
Asik sekali ngobrol dengan Fani, orangnya sangat menyenangkan. Terakhir kali aku merasakan sensasi ini saat masih bersama Tanya, mantanku, sayangnya sekarang dia sudah bertunangan.
“Budi, masih kuliah apa sudah kerja?” Dia bahkan langsung menyebut namaku, padahal kita baru saja kenalan.
“Sedang  Skripsi,” kataku jujur. Kuisionerku gagal terus, tadi siang saja  aku kena marah lagi.
“Ah, masa?! Aku kira masih tingkat 2,” katanya serius tak percaya.
“Banyak yang bilang aku baby face,” kataku asal, diam-diam wajahku memerah senang.
Tiba-tiba dia melambatkan langkahnya, lalu berangsur-angsur berhenti. Aku mengikuti dari samping.
“Bisa saja kamu,” katanya sambil tergelak. Bahkan saat tertawa, pancaran keindahannya tidak pudar.
Sinar senja menerangi wajahnya, ia mengelap butir-butir keringat yang membentuk seperti mahligai mutiara keemasan di sekitar dahinya dengan selembar handuk putih. Ia  tersenyum lagi ke arahku.
 “Terima kasih banyak ya, lariku hari jadi tidak terasa karena kamu ngajak ngobrol. Thaks banget .” aku jujur, tanpa sadar seluruh t-shirt-ku kuyup oleh keringat.
Anytime. Besok  jogging lagi ngga?” aku kaget mendengar Fani bertanya.
“Tentu saja, maksudku, aku memang sedang program. Mungkin akan sering  jogging sore di sini.” Kataku, berusah untuk tidak berlari satu keliling lagi saking senangnya.
“Oke, besok jam yang sama? Habisnya kamu asik diajak ngobrolnya, padahal kita baru bertemu. Jarang lho aku langsung cocok sama orang, ” katanya. Ia menarik ikat rambutnya, rambut hitamnya tergerai mengembang. Kau pernah melihat bunga mawar yang benar-benar baru mekar? Seperti itulah Fani sekarang.
“Sudah jogging-nya?” laki-laki six-pack—yang menyebalkan tadi tiba-tiba muncul di belakangku, ia tanpa izin apapun menyentuh pundakku dengan santainya. Aku menoleh siap-siap menunjukan wajah masam, kali ini dia benar-benar keterlaluan. Sudah memegang pundakku seenaknya, mengganggu acara berdua kami pula.
“Kenalkan, ini kakakku,” Fani melemparkan handuk putihnya pada laki-laki di sampingku sambil tertawa jahil. Ia menangkap benda itu sambil cekikikan nakal.
Rasanya ada listrik jutaan kilowatt menyetrumku.
“Roy,” ia menjulurkan lengannya. Aku menatapnya tak percaya.
“Budi,” kataku setelah merekonstruksi semua sel otot wajah menjadi senyum-senyum iklan pasta gigi.     
“Kamu pinter, ya?” kata Rio polos. Rasanya besok aku harus ganti nama nih.
“Ngga juga,” kataku.
Setelah itu kami mulai ngobrol basa-basi, mencairkan suasana.
Hari ini tidak seburuk yang aku kira. Fani akan jadi teman jogging-ku mulai besok. Dan aku sudah tidak sabar menunggu esok sore tiba. Mungkin besok aku harus mengajaknya minum Pocari Sweat setelah lari di kursi bawah pohon itu.
Aku tersenyum, ada yang harus aku ceritakan pada Toni di kostan nanti, dia pasti tak akan percaya.
“Fani, baru seminggu putus dari pacarnya tuh Bud,” aku tersentak.

Roy terkekeh nakal menerima pukulan Fani. Aku tersenyum, antara senang, bahagia, dan sangat bahagia.[]

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)