Jalan semen itu masih menyisakan
genangan airnya, keruh bercampur tanah merah.
Katak-katak keluar berenang-renang. Angin menyusup di antara
kolong-kolong pasak rumah. Perahu yang tertambat masih basah dan bergoyang
pelan naik turun. Langit kelabu, terpantul di atas hamparan sungai yang
beriak-riak.
Beberapa burung memilih melayang
memeriksa permukaan sungai yang mulai dipenuhi lagi anak-anak ikan. Tampaknya
hujan besar sudah reda, menyisakan gerimis-gerimis ramah. Aku berdiri, bertalanjang
dada dengan celana club Juventus kumal yang setengah basah. Kakiku memijak jeramba
kayu yang mulai lapuk berpadu air hujan.
Di kejauhan muncul titik bergerak
mendekat dan membesar. Sebuah perahu dari kayu berukuran sedang, cepat membelah
sungai besar kami yang lebarnya tak kurang dari satu lapangan sepak bola,
meninggalkan gelombang yang merambat menggerak-gerakkan permukaan sungai.
Anak-anak yang sedang berenang-renang kesenangan karena ombak buatan itu.
Ibu-ibu berteriak memarahi anaknya yang nekat melompat ke air. Yang dimarahi
malah kesenangan di tabrak-tabrak gelombang. Kakek-kekek mengeratkan
pegangannya pada jamban, berharap tidak jatuh lagi seperti sore kemarin.
Aku tersenyum senang. Berlari ke
ujung jeramba, sambil berjinjit melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Di atas atap perahu itu Ayah
duduk dengan rambut terbawa angin. Kemejanya sengaja tida kia kancingkan,
menampakkan singlet putih. Terlihat gagah. Senyum dari wajahnya, ada aroma hangat
yang menembus paru-parunya. Aroma yang muncul dari suasana yang sangat ia
rindukan. Suasana rumah.
Aroma pulang.
“Ayah lupa ya pesananku?” aku
merajuk. Anak 6 tahun yang menunduk karena merasa dikhianati dihadapan
laki-laki 40-an yang hendak melompat dari perahu ke darat. Satu bulan penuh aku
menunggu hari ini. Menunggu ayah pulang membawakan set crayon lengkap yang jumlahnya
56 warna itu. Aku sudah membayangkan akan menjadi anak paling dikagumi di kelas
karena benda itu.
Ayah menoleh, baru saja ia
menurunkan barang-barangnya. Dari wajahnya kau bisa tahu kalau ia lupa akan
janjinya itu.
“Orang baru datang sudah ditagih
macam-macam,” kakek buru-buru menyambut tas dan karung besar yang di bawa ayah.
Perahu dibelakangnya bertolak pelan setelah ayah menyerahkan uang lembaran biru
pada kenek-nya. Benda itu lalu
melesat cepat menghasilkan gelombang yang membuat jeramba kami bergetar.
Aku buru-buru beringsut mengambil
ransel dari tangan ayah kasar sebagai bentuk protesku.
“Ayah lupo belikan Ujang crayon tu?” terdengar suara ibu dari dapur.
Aroma goreng ikan memenuhi isi rumah.
Nenek meraih kresek yang aku tahu
itu adalah baju kotor Ayah. Membawa benda itu ke sumur lalu terdengar suara air
mengucur.
“Emang Ujang titip ya?” Ayah
duduk di kursi setelah menanggalkan kemejanya, mencari buku untuk kipas-kipas.
Matanya berkeliling, walau hanya sebulan, rasa kangennya selalu sama. Ia selalu
merindukan rumah panggung miliknya, yang ia bangun sedikit demi sedikin
menggunakan papan-papan dari hutan.
“Lah, bukannya Ayah yang janji
kemarin?” ibu keluar sambil membawa teh hangat. Setelah meletakkan di atas meja
ia mencium tangan ayah takjim.
Betapa kecewanya aku. Padahal aku
sudah membayangkan akan mendapat nilai paling bagus dalam pelajaran menggambar.
Di kampung kami hanya ada yang jual crayon 12 warna, itu pun seminggu sekali
setiap kamis saat ada pasar keliling. Selainnya warung-warung di sini hanya
jualan barang kebutuhan sehari-hari. Itu lah sulitnya hidup di desa terpencil,
kalau butuh barang yang aneh-aneh harus menyebrang ke kota yang ongkosnya lebih
mahal dari barangnya.
Nilaiku tidak ada yang bagus.
Bahasa, IPS, IPA, apalagi MTK. Hanya pelajaran menggambarlah satu-satunya
kesempatanku mendapat nilai 8, nilai paling besar yang diberikan pak Eka dalam
sejarah pelajaran menggambar di sekolah SD kami.
Ayah menatapku lamat-lamat. Aku
sedang meringkuk di pojok ruang tamu. Melalui jendela yang tebuka memandang
burung-burung walet yang sesekali terbang menukik menuju permukaan sungai.
“Itu nanti saja, kamu masih ado pensil warna itu kan. Mari makan
dulu, ayah sudah pegang-pegang perut dari tadi,” kata nenek sambil tersenyum.
Seketika sudah terhampar makanan di meja. mengepul-ngepul hangat. Andai hatiku
sedang tidak kesal, makanan hangat ini cocok sekali dengan suasana cuaca yang
baru saja beres hujan ini.
Nenek tidak paham, kualitas warna
dari pinsil warna berbeda jauh dengan crayon. Warna dari pinsil warna tidak
secerah crayon, kesannya pun tidak sedalam crayon. Gambar dari pinsil warna
terlalu hampa untuk membuat pak Eka memberi nilai 8.
Aku beringsut menuju meja makan.
Sudah ada Ibu, ayah, kakek dan nenek. Di bawah si putih sudah duduk manis
menanti tulang, nasi, daging, pokoknya sisa-sisa makana yang akan jatuh. Ia tak
pernah pilih-pilih menu, kangkung goreng pun dilahapnya.
Aku tak selera makan. Hanya
mengambil setengah jatah nasi, setengah ikan goreng. Padahal ini adalah menu
kesenangan kami, aku bisa sampai tiga kali nambah. Tapi perut ini tak mau diisi
penuh-penuh. Ibu melirikku, ia sadar tingkahku yang sedang merajuk ini. Matanya
lalu terlempar pada ayah. Ayah menelan ludah.
Setelah selesai Ayah kembali pada
teh manisnya, duduk di kursi dan bersandar pada dinding papan. Belum habis, ia
menyalakan rokok lalu menghisapnya dalam-dalam, asapnya berlomba terurai keluar
jendela.
Tak berapa lama listrik nyala,
itu artinya sudah jam 5 sore. Di desa kami listrik hanya ada dari jam 5 sore
hingga jam 7 pagi, itu pun kalau tidak mati lampu. Akhir-akhir ini dalam satu
minggu bisa 2-3 malam mati lampu. Ayah otomatis sibuk mencari remot TV.
Saking kesalnya melihat tingkah
ayah aku buru-buru masuk kamar. Padahal kakek sudah berteriak agar aku segera
mandi. Sebentar lagi magrib dan aku harus sembahyang ke masjid dan mengaji
setelahnya. Aku tak peduli, ku kunci pintu kamar dari dalam.
Aku kesal sekali, jelas-jelas
sebulan yang lalu ayah sudah janji akan membawakan aku crayon 52 warna. Setelah
lelah menunggu sebulan penuh, membayangkan angka 8 tertera di buku
menggambarku, kecewa sekali rasanya ketika ayah pulang tanpa janjinya.
Aku membenamkan wajahku ke atas
bantal. Kesal bercampur marah membuatku nangis seguk-segukan.
Lama tak keluar kamar akhirnya ibu
iba juga. Ia mengetuk-ngetuk kamar.
“Jang, jangan merajuk gitu laah.
Kamu kan lah besar, Ayah mungkin lupa karena banyak gawe di Pelembang. Kau tak
lihat apa banya pesanan uwa-uwa yang harus di beli, jangan begitu lah sama Ayahmu,”
Bisik ibu di belakang daun pintu. Aku tak mau menjawab.
“Mandu dulu lah ya, sebentar lagi
haji Gede ngebang di masjid. Masa
sembahyang badannya kotor kaya gitu.”
“Bujang nda mau mandi kalau ngga
ada crayon tu!” aku berteriak saking kesalnya. Orang-orang dewasa itu sama
sekali tak ada yang mengerti betapa besarnya perkara crayon ini bagiku. Ibu
terkaget mendengar suaraku. Ia menatap Ayah.
Ayah urung mengesap tehnya yang
mulai dingin. Batang rokok yang masih setengah di buangnya ke sungai. Layar TV
yang menyiarkan lagu dangdut tidak lagi menarik perhatiannya. Ia beringsut
pelan menuju kamarku.
“Jang, mandi dulu lah, nanti
terlambat sembahyang kamu,” kata Ayah. Suaranya lembut dan dalam.
“Ayah tukang bohong, ingkar
janji, munafik,” tambahku.
Kakek geleng-geleng kepala sambil
tersenyum, bisa-bisanaya anak 6 tahun bilang kata munafik. Rupanya materi
cermah sholat jumat kemarin benar-benar disimaknya anak ini dengan baik.
“Buka pintunya dulu, Bapak ada
omongan,” kata Ayah berusaha.
Paling-paling ia berjanji akan membelikannya
bulan depan saat pulang seperti sekarang ini. Pintu terbuka, wajahku yang
sembab muncul antara celah pintu kayu.
“Mandi dulu yuk, nanti malam kan
Ujang ngga berani ke sumur karena gelap,” ejek ayah sambil tertawa. Ia mengusap
kepalaku pelan-pelang. Aku masih memasang wajah kusut karena kesal, tak mau aku
tertawa.
“Kenapa sih?”
“Ayah bohong. Katanya nda boleh
bohong, dosa. Tapi ayah sendiri bohong terus.”
“Kan kalau lupa bukan bohong
namanya,”
“Alasan saja, aku juga bisa
alasan lupa setiap bohong biar ngga dosa,”
Ayah tergelak. Di tangannya
tiba-tiba ada sebuah kotak berbungkus kado yang sangat bagus. Ayah
menyodorkanya padaku.
Aku mendongak tak mengerti.
“Ujang hari ini 7 tahun kan?”
Aku terdiam, sama sekali tak
sadar kalau hari ini aku berulang tahun. Kakek, nenek dan ibu menyanyikan lagu
ulang tahun sambil bertepuk tangan berirama. Tak kusangka seisi rumah
berkomplot mengerjaiku habis-habisan.
Setalah meraih kado itu cepat aku
buru-buru masuk kamar sambil membanting pintu.
“Mungkin dia baru mau mandi nanti
malam,” Ibu berbisik yang dibalas senyum oleh Ayah.
Cerpen yang bagus gan, nice info ^^
ReplyDeleteMakasih banyak gan :)
Delete