20170108

Sabtu ....

Jadi kan?

Senja mengulum biru langit. Sore perlahan turun dibarengi tumpah ruah kendaraan yang memadati  jalan raya. Bunyi derum knalpot ditambah jeritan klakson memantul diantara trotoar dan aspal yang disinari cahaya dari lampu penerang jalan yang mulai menyala satu per satu. Jumat sore selalu seperti ini. 

Oke, aku tunggu di Lobby ya

Aku menutup laptop bersiap menyudahi kerjaku hari ini.

“Ke mana?” Dody menoleh, Nampak heran melihatku bersiap pulang lebih dahulu.

Aku nyengir.

“Kampret!” dia melempar segumpal tisu yang aku yakin bekas ingusnya ke arahku. Aku cekikikan sambil menghindar.

Malam ini aku mengajak Ratih makan bareng.

Sejak kuliah dulu, mungkin ini pertama kali aku mengajak seorang wanita makan keluar dalam 5 tahun terakhir. Maklum sudah kelamaan jomblo (heh, ngga usah pada ketawa ya!). Ada semacam perasaan yang meletup-letup di dalam dada.

Setiap tanggal tua seperti ini biasanya tim finance akan melakukan pembukuan, dan itu selalu menghabiskan waktu hingga malam, bahkan sampai pagi. Aku juga ngga ngerti kenapa bisa selarut itu mereka bekerja. Dan di perusahaan kami, itu akan berlangsung minggu depan.

Jadi, sangat tidak apa-apa jika para karyawan menghabiskan malam sabtu ini untuk bersenang-senang (malah dianjurkan), karena minggu depan sudah akan dipaksa focus mengerjakan pembukuan. Kakiku ringan melangkah membawaku menuju lift. Kami janjian di lobby jam 5 lewat 10.

Aku menekan tombol G di pintu lift, kemudian masuk dan mekanisme canggih itu membawaku menuju lantai dasar. Pintu terbuka lalu aku menemukan Ratih sedang berdiri memandangi HP nya di salah satu pojok lobby.

Aku tak pernah sadar kalau anak ini sangat cantik. Bukannya aku laki-laki berengsek yang cuman tertarik pada wanita karena fisik saja ya, tapi laki-laki manapun akan mengakui kalau Ratih memiliki air wajah yang mempesona.

Lihatlah alis hitamnya yang nyaris bertemu, wajah tirus yang membingkai hidung mungil dan bibir tipis itu, bola mata cokelat pekat miliknya mendominasi itu semua. Selintas saja, kau akan tahu kalau Ratih ini istimewa.

“Hai, lama?” kataku.

Ratih mengangkat wajahnya, lalu secercah senyuman terbit dari sana (wajahku menghangat hebat).

“Ngga ah, baru aja,” katanya renyah. Aku bisa melihat jajaran geligi putih yang dirawat rapi.

“Yuk,” aku mendahului lalu sambil berusaha menyelaraskan langkah agar kami berjalan beriringan.

“Hmm, kita ke sana naik apaan?”

“Kita naksi aja, udah aku pesenin. Abangnya udah nunggu di depan,” kataku.

Well prepare banget kamu,” katanya

Aku mengedipkan mata.

“Ngga enak ada cewe lucu disuruh nunggu lama-lama, entar dandanannya luntur,” kataku renyah.

“Aku ngga dandan kok, ngga suka malah,” kami berjalan menuju pintu lobby.

“Masa?”

“Asal kamu tahu ya, aku kentor aja wangi, kalo di rumah mah boro-boro,” Ratih cekikikan.

“Serius?” Aku melongo.

“Ngga lah, enak aja. Kata Mama, cewek itu kudu resik biar enak diliat.”

“Udah enak di liat kok,” sial kelepasan!

“Hah?”

“Ngga jadi, yuk ah bapak taksi nya udah di depan tuh.” Untung dia ngga denger.



“Gimana kemaren?” Dody merapat ke mejaku pagi besoknya.

“Lancar, kita makan, cerita-cerita terus nonton,”

“Seneng?”

“Seneng lah!”

“Giliran kemaren-kemaren aja murung, cemberut, galau, sekarang sering senyum-senyum gajelas sambil ngeliatan HP. Kayanya intens banget WA an nya,”

“Berisik, ngapain cape-capein mikirin yang udah ngga bisa diapa-apain,”

“Ciyee, udah move on nih yeeee,”

Aku memeletkan lidah.

“Woy, Si Zul udah move on! Sekarang lagi deket sama Ratih!!!!” Dody tereak kenceng banget, satu lantai kedengeran kali!

“Kampret!!!!!!” pas mau gua cekek lehernya dia ngacir ke WC!

Lalu bersahut-sahutan lah ‘cie-ciean’ dari seluruh lantai. Terima kasih lho Dod, bibir bocor lu emang sangat mujarab! Gua jadi sangat beken!!!

“Kamu ngga berubah ya?”

“Eh maksudnya?” aku sedang ngitung bungkusan kerupuk yang barusan kubeli.

“Inget ngga waktu study tour SMA dulu, kamu kan pernah minjem duit ke aku,”

“SMA?“

 “Lupa ya?”

“Emang kita satu SMA ya?” dengan wajah polos dan dongo.

“Iiish jahat banget si!”

“Ih beneran, aku ngga inget sama sekali lho,”

“Kelas kita kan sebelahan, dulu aku pake kacamata sama rambut kepang,”

“Iya ya? aku sama sekali ngga inget,”

Dan terbitlah cemberut di wajah Ratih.

“Hehehehe,” dan gua ngga ngerti kudu gimana. Mampus, salah banget ini gue!

“Iya pokoknya kamu waktu itu gatau kenapa ngabisin duit di saku kamu bela-belain buat beli gantungan kunci yang di jual sama nenek-nenek di pinggir jalan. Eh tau nya dompet kamu ketinggalan di hotel. Jadilah kamu pinjem duit ke aku buat makan siang. Inget ngga?”

“Hahaha, itu juga aku lupa,” dengan polosnya.

“Dasar dodol!”

“Yah SMA Tih, aku ngga inget lagi. Udah lama banget, apa lagi yang study tour ke Yogya itu.”

“Itu kerupuk banyak banget buat apaan?” timpal Ratih tak acuh.

“Barusan ada kakek di sana, kasian udah malem tapi jualannya masih banyak. Nanti mau di kasih ke satpam kosan buat istrinya di rumah.”

Setelah itu ratih terdiam. Entah kenapa cemberutnya hilang. Terus senyumnya ngga mau berhenti.

“Kamu kenapa senyum-senyum mulu?”

“Ngga apa-apa,” apa perasaanku saja, tapi aku merasakan kalau wajahnya sedikit memerah malam itu.



“Bego, kalo udah gitu artinya dia udah kesem-sem ama elu, minta ditembak itu.”

“HAH!” gua keget sendiri. “Masa sih?!”

“Iya lah dodol!”

“Gua takut ditolak lagi,”

“Aduuuh,” Dody mengusap wajahnya stress.

“Kalian udah berapa kali makan bareng?”

“Sama kemarin, tujuh kali”

“Jalan berdua?”

“Tiga kali kalo ngga salah,”

“WA lu di bales terus ngga?”

“Iya, kalo ngga dia yang duluan WA,”

“Kalo ada apa-apa siapa yang dia datengin?”

“Gua..” dan gua kaget sendiri! “Masa sih Dod, kok gua jadi gimana gitu ya…”

“Dasar bego! Udah, weekend ini lu ajak dia makan ke tempat special, abis itu lu tembak.”

“Ngga bisa, minggu ini dia lagi banyak kerjaan, paling dua minggu lagi,”

“Ya udah, lu atur lah, kali ini pasti diterima! Awas lu ya, jangan sampe berantakan!”

“Lu masih suka sama Ratih ya?”

“Ngomong lagi gua kepret nih,” dan gua nyengir lemes. Gile si Dody kalo lagi kesel nyeremin juga.



Hari-hari selanjutnya kami jarang bertemu. Karena aku sedang banyak-banyaknya kerjaan dan dia juga sendang handle banyak hal karena bosnya sedang cuti. Paling WA-an itu juga hanya pertanyaan-pertanyaan hambar dan biasanya sebentar. Kami kayanya kelelahan karena pekerjaan masing.

Senin itu juga sama seperti Senin yang lain. Aku datang agak awal. Lantai lima masih kosong, Dody bahkan belum sampai kantor.

“Zul, Mba Tuti belum datang ya?”

Aku mendongak. Dian ada di depan Mejaku. Ada sesuatu yang… tapi aku usir jauh-jauh.

“Hmm, kayanya belum dateng deh,” berusaha keras terlihat normal.

“Aduh gimana ya,”

“Sini duduk dulu,” aku menyodorkan kursi Dody ke arahnya, dia kelihatan cemas.

“Kamu kenapa sih, keliatan cemas gitu?” aku bisa melihat jelas bintik matahari halus yang menyebar di area pipi dan pangkal hidungnya.

“Iya nih, aku mau meeting tapi report-ku belum selesai semua. Mana meetingnya sejam lagi,” matanya yang bulat berkilauan di sana.

“Meeting apaan si?”

“Project A. Tau nih banyak banget yang kudu disiapin.” Dian mendesah, poninya bergerak-gerak lucu saat ia bercerita.

“Projek A kan yang project leadernya si Jonathan? Kok kamu ikutan?”

“Aku di Tarik sama Mas Jonathan, katanya dia butuh satu orang lagi,” aku bisa mencium aroma parfumnya walau samar.

“Emang bisa ya, maen tarik-tarikin orang kaya gitu,” tanganku mengepal. Dada ini panas rasanya.

“Ngga apa-apa ko Zul, lumayan nambah experience sama relasi dari divisi lain,” ia tersenyum, manis sekali.

Kemudian si Tuti muncul, “Pagi Dian!” ini lebih pagi dari biasanya si Tuti datang ke kantor.

Dian Menoleh, lalu merapikan berkas yang ia bawa, memeluk di dadanya kemudian berdiri dengan anggun.

“Makasih ya Zul udah nemenin ngobrol, daah,” dia tersenyum lagi, kali ini geliginya terlihat dan matanya menyipit kemudian telingaku menghangat.


Café itu terasa hangat. Suara music piano mengalun lembut di antara api lilin dan meja juga kursi yang tertata rapi. Beberapa orang sedang duduk, untungnya tidak penuh. Langit malam terlihat jelas dari sini. Kelabu, berbintik namun Indah. Aku sengaja memilih café di roof top ini karena aku tahu Ratih sangat menyukai langit dan bintang. Kami memesan meja di pojok sana, pemandangan ke jalan raya dan langit luas benar-benar sempurna terlihat di sana. (aku gerogi bukan main karena Sabtu ini akan menjadi malam yang besar buatku)

Aku udah di TKP ya, aku mengirim WA.

Kali ini Ratih tak mau dijemput, dia ingin aku langsung ke sini. Ngga enak katanya, dijemput-jemput kaya anak manja. Aku cuman bisa tertawa mendengar alasannya. Terserah kamu aja, kataku, yang penting kamu jangan ngaret, sambil terkekeh. Ia mengangguk malu-malu. Oh iya ratih orangnya memang rada suka ngaret. Hahaha.

Lucu memang, katika menyukai seseorang, terkadang kita bisa melebarkan zona penerimaan kita dan mengerti kekurangan dari orang yang kita suka. Asalkan senyum itu selalu ada untuk kita, rasanya yang lain bisa dikompromi kan.

Hmmmm. Suka ya? Apa aku benar-benar suka dengan Ratih. Apakah dia hanya pelarian saja? Apa rasa nyaman ini adalah suka? Dengan semua proses yang sudakh kami lalui ini, apa rasa yang aku rasakan ini adalah suka?

Aku menggeleng kuat, ini bukan saatnya mempertanyakan hal konyol. Bagaimanapun ini adalah pilihan yang telah aku ambil. Seorang laki-laki harus tegas akan pilihannya.
Aku mereguk segelas air dan menenggak isinya.

Terasa sedikit baikan.

Detik selanjutnya, entah aku minpi atau apa, Dian muncul di arah pintu café, berjalan anggun ke arahku. Aku ngga tau, rasanya aku belum pernah melihat Dia dengan full dandan seperti ini. Maksudku, ayolah, mascara itu, lipstick itu, taburan bedak itu, apalagi kalu bukan full dandan mode, tambah lagi gaun dan heels nya.

Yang membuatku kaget adalah, Jonathan ada di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali tertawa.

Aku terpaku menatap mereka berdua.

“Hei, Zul ngapain di sini?” Tanya Jonathan.

Dian terlihat keget menemukanku dengan dandanan rapi di café ini.

“Rapi banget Zul, sendirian?” Kata Dian setelah mengusuir kekagetannya.

“Ada janji sama temen,“ kataku. Aku menalan ludah, dan rasanya sangat sakit di tenggorokan.   

“Kita ke sana dulu ya,” kata Jonathan, kali ini dia meraih tangan Dian lalu membawanya menjauh ke arah meja mereka di tengah.

Aku terhenyak.

Bingung, kesal, sedih. Campur aduk.

(bersambung)

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)