Jadi kan?
Senja mengulum biru langit. Sore
perlahan turun dibarengi tumpah ruah kendaraan yang memadati jalan raya. Bunyi derum knalpot ditambah
jeritan klakson memantul diantara trotoar dan aspal yang disinari cahaya dari
lampu penerang jalan yang mulai menyala satu per satu. Jumat sore selalu
seperti ini.
Oke, aku tunggu di Lobby ya
Aku menutup laptop bersiap
menyudahi kerjaku hari ini.
“Ke mana?” Dody menoleh, Nampak
heran melihatku bersiap pulang lebih dahulu.
Aku nyengir.
“Kampret!” dia melempar segumpal
tisu yang aku yakin bekas ingusnya ke arahku. Aku cekikikan sambil menghindar.
Malam ini aku mengajak Ratih
makan bareng.
Sejak kuliah dulu, mungkin ini
pertama kali aku mengajak seorang wanita makan keluar dalam 5 tahun terakhir.
Maklum sudah kelamaan jomblo (heh, ngga usah pada ketawa ya!). Ada semacam perasaan
yang meletup-letup di dalam dada.
Setiap tanggal tua seperti ini
biasanya tim finance akan melakukan
pembukuan, dan itu selalu menghabiskan waktu hingga malam, bahkan sampai pagi.
Aku juga ngga ngerti kenapa bisa selarut itu mereka bekerja. Dan di perusahaan
kami, itu akan berlangsung minggu depan.
Jadi, sangat tidak apa-apa jika
para karyawan menghabiskan malam sabtu ini untuk bersenang-senang (malah
dianjurkan), karena minggu depan sudah akan dipaksa focus mengerjakan
pembukuan. Kakiku ringan melangkah membawaku menuju lift. Kami janjian di lobby
jam 5 lewat 10.
Aku menekan tombol G di pintu
lift, kemudian masuk dan mekanisme canggih itu membawaku menuju lantai dasar.
Pintu terbuka lalu aku menemukan Ratih sedang berdiri memandangi HP nya di
salah satu pojok lobby.
Aku tak pernah sadar kalau anak
ini sangat cantik. Bukannya aku laki-laki berengsek yang cuman tertarik pada
wanita karena fisik saja ya, tapi laki-laki manapun akan mengakui kalau Ratih
memiliki air wajah yang mempesona.
Lihatlah alis hitamnya yang
nyaris bertemu, wajah tirus yang membingkai hidung mungil dan bibir tipis itu,
bola mata cokelat pekat miliknya mendominasi itu semua. Selintas saja, kau akan
tahu kalau Ratih ini istimewa.
“Hai, lama?” kataku.
Ratih mengangkat wajahnya, lalu
secercah senyuman terbit dari sana (wajahku menghangat hebat).
“Ngga ah, baru aja,” katanya
renyah. Aku bisa melihat jajaran geligi putih yang dirawat rapi.
“Yuk,” aku mendahului lalu sambil
berusaha menyelaraskan langkah agar kami berjalan beriringan.
“Hmm, kita ke sana naik apaan?”
“Kita naksi aja, udah aku
pesenin. Abangnya udah nunggu di depan,” kataku.
“Well prepare banget kamu,” katanya
Aku mengedipkan mata.
“Ngga enak ada cewe lucu disuruh
nunggu lama-lama, entar dandanannya luntur,” kataku renyah.
“Aku ngga dandan kok, ngga suka
malah,” kami berjalan menuju pintu lobby.
“Masa?”
“Asal kamu tahu ya, aku kentor
aja wangi, kalo di rumah mah boro-boro,” Ratih cekikikan.
“Serius?” Aku melongo.
“Ngga lah, enak aja. Kata Mama,
cewek itu kudu resik biar enak diliat.”
“Udah enak di liat kok,” sial kelepasan!
“Hah?”
“Ngga jadi, yuk ah bapak taksi
nya udah di depan tuh.” Untung dia ngga
denger.
“Gimana kemaren?” Dody merapat ke
mejaku pagi besoknya.
“Lancar, kita makan,
cerita-cerita terus nonton,”
“Seneng?”
“Seneng lah!”
“Giliran kemaren-kemaren aja
murung, cemberut, galau, sekarang sering senyum-senyum gajelas sambil ngeliatan
HP. Kayanya intens banget WA an nya,”
“Berisik, ngapain cape-capein
mikirin yang udah ngga bisa diapa-apain,”
“Ciyee, udah move on nih yeeee,”
Aku memeletkan lidah.
“Woy, Si Zul udah move on!
Sekarang lagi deket sama Ratih!!!!” Dody tereak kenceng banget, satu lantai
kedengeran kali!
“Kampret!!!!!!” pas mau gua cekek
lehernya dia ngacir ke WC!
Lalu bersahut-sahutan lah ‘cie-ciean’
dari seluruh lantai. Terima kasih lho Dod, bibir bocor lu emang sangat mujarab!
Gua jadi sangat beken!!!
“Kamu ngga berubah ya?”
“Eh maksudnya?” aku sedang
ngitung bungkusan kerupuk yang barusan kubeli.
“Inget ngga waktu study tour SMA dulu, kamu kan pernah
minjem duit ke aku,”
“SMA?“
“Lupa ya?”
“Emang kita satu SMA ya?” dengan
wajah polos dan dongo.
“Iiish jahat banget si!”
“Ih beneran, aku ngga inget sama
sekali lho,”
“Kelas kita kan sebelahan, dulu
aku pake kacamata sama rambut kepang,”
“Iya ya? aku sama sekali ngga
inget,”
Dan terbitlah cemberut di wajah
Ratih.
“Hehehehe,” dan gua ngga ngerti
kudu gimana. Mampus, salah banget ini gue!
“Iya pokoknya kamu waktu itu
gatau kenapa ngabisin duit di saku kamu bela-belain buat beli gantungan kunci yang di jual
sama nenek-nenek di pinggir jalan. Eh tau nya dompet kamu ketinggalan di hotel.
Jadilah kamu pinjem duit ke aku buat makan siang. Inget ngga?”
“Hahaha, itu juga aku lupa,”
dengan polosnya.
“Dasar dodol!”
“Yah SMA Tih, aku ngga inget
lagi. Udah lama banget, apa lagi yang study
tour ke Yogya itu.”
“Itu kerupuk banyak banget buat apaan?” timpal
Ratih tak acuh.
“Barusan ada kakek di sana,
kasian udah malem tapi jualannya masih banyak. Nanti mau di kasih ke satpam
kosan buat istrinya di rumah.”
Setelah itu ratih terdiam. Entah
kenapa cemberutnya hilang. Terus senyumnya ngga mau berhenti.
“Kamu kenapa senyum-senyum mulu?”
“Ngga apa-apa,” apa perasaanku saja, tapi aku merasakan kalau wajahnya sedikit memerah malam itu.
“Bego, kalo udah gitu artinya dia
udah kesem-sem ama elu, minta ditembak itu.”
“HAH!” gua keget sendiri. “Masa
sih?!”
“Iya lah dodol!”
“Gua takut ditolak lagi,”
“Aduuuh,” Dody mengusap wajahnya
stress.
“Kalian udah berapa kali makan
bareng?”
“Sama kemarin, tujuh kali”
“Jalan berdua?”
“Tiga kali kalo ngga salah,”
“WA lu di bales terus ngga?”
“Iya, kalo ngga dia yang duluan
WA,”
“Kalo ada apa-apa siapa yang dia
datengin?”
“Gua..” dan gua kaget sendiri!
“Masa sih Dod, kok gua jadi gimana gitu ya…”
“Dasar bego! Udah, weekend ini lu
ajak dia makan ke tempat special, abis itu lu tembak.”
“Ngga bisa, minggu ini dia lagi
banyak kerjaan, paling dua minggu lagi,”
“Ya udah, lu atur lah, kali ini
pasti diterima! Awas lu ya, jangan sampe berantakan!”
“Lu masih suka sama Ratih ya?”
“Ngomong lagi gua kepret nih,”
dan gua nyengir lemes. Gile si Dody kalo lagi kesel nyeremin juga.
Hari-hari selanjutnya kami jarang
bertemu. Karena aku sedang banyak-banyaknya kerjaan dan dia juga sendang handle
banyak hal karena bosnya sedang cuti. Paling WA-an itu juga hanya
pertanyaan-pertanyaan hambar dan biasanya sebentar. Kami kayanya kelelahan
karena pekerjaan masing.
Senin itu juga sama seperti Senin
yang lain. Aku datang agak awal. Lantai lima masih kosong, Dody bahkan belum
sampai kantor.
“Zul, Mba Tuti belum datang ya?”
Aku mendongak. Dian ada di depan
Mejaku. Ada sesuatu yang… tapi aku usir jauh-jauh.
“Hmm, kayanya belum dateng deh,”
berusaha keras terlihat normal.
“Aduh gimana ya,”
“Sini duduk dulu,” aku
menyodorkan kursi Dody ke arahnya, dia kelihatan cemas.
“Kamu kenapa sih, keliatan cemas
gitu?” aku bisa melihat jelas bintik matahari halus yang menyebar di area pipi
dan pangkal hidungnya.
“Iya nih, aku mau meeting tapi report-ku belum selesai semua. Mana
meetingnya sejam lagi,” matanya yang bulat berkilauan di sana.
“Meeting apaan si?”
“Project A. Tau nih banyak banget
yang kudu disiapin.” Dian mendesah, poninya bergerak-gerak lucu saat ia
bercerita.
“Projek A kan yang project
leadernya si Jonathan? Kok kamu ikutan?”
“Aku di Tarik sama Mas Jonathan,
katanya dia butuh satu orang lagi,” aku bisa mencium aroma parfumnya walau
samar.
“Emang bisa ya, maen
tarik-tarikin orang kaya gitu,” tanganku mengepal. Dada ini panas rasanya.
“Ngga apa-apa ko Zul, lumayan
nambah experience sama relasi dari divisi lain,” ia tersenyum, manis sekali.
Kemudian si Tuti muncul, “Pagi
Dian!” ini lebih pagi dari biasanya si Tuti datang ke kantor.
Dian Menoleh, lalu merapikan
berkas yang ia bawa, memeluk di dadanya kemudian berdiri dengan anggun.
“Makasih ya Zul udah nemenin
ngobrol, daah,” dia tersenyum lagi, kali ini geliginya terlihat dan matanya
menyipit kemudian telingaku menghangat.
Café itu terasa hangat. Suara
music piano mengalun lembut di antara api lilin dan meja juga kursi yang
tertata rapi. Beberapa orang sedang duduk, untungnya tidak penuh. Langit malam
terlihat jelas dari sini. Kelabu, berbintik namun Indah. Aku sengaja memilih café di roof top ini karena aku tahu Ratih
sangat menyukai langit dan bintang. Kami memesan meja di pojok sana,
pemandangan ke jalan raya dan langit luas benar-benar sempurna terlihat di
sana. (aku gerogi bukan main karena Sabtu ini akan menjadi malam yang besar
buatku)
Aku udah di TKP ya, aku mengirim WA.
Kali ini Ratih tak mau dijemput,
dia ingin aku langsung ke sini. Ngga enak katanya, dijemput-jemput kaya anak
manja. Aku cuman bisa tertawa mendengar alasannya. Terserah kamu aja,
kataku, yang penting kamu jangan ngaret, sambil terkekeh. Ia mengangguk
malu-malu. Oh iya ratih orangnya memang rada suka ngaret. Hahaha.
Lucu memang, katika menyukai
seseorang, terkadang kita bisa melebarkan zona penerimaan kita dan mengerti
kekurangan dari orang yang kita suka. Asalkan senyum itu selalu ada untuk kita,
rasanya yang lain bisa dikompromi kan.
Hmmmm. Suka ya? Apa aku
benar-benar suka dengan Ratih. Apakah dia hanya pelarian saja? Apa rasa nyaman
ini adalah suka? Dengan semua proses yang sudakh kami lalui ini, apa rasa yang
aku rasakan ini adalah suka?
Aku menggeleng kuat, ini bukan
saatnya mempertanyakan hal konyol. Bagaimanapun ini adalah pilihan yang telah
aku ambil. Seorang laki-laki harus tegas akan pilihannya.
Aku mereguk segelas air dan menenggak
isinya.
Terasa sedikit baikan.
Detik selanjutnya, entah aku
minpi atau apa, Dian muncul di arah pintu café, berjalan anggun ke arahku. Aku
ngga tau, rasanya aku belum pernah melihat Dia dengan full dandan seperti ini.
Maksudku, ayolah, mascara itu, lipstick itu, taburan bedak itu, apalagi kalu
bukan full dandan mode, tambah lagi
gaun dan heels nya.
Yang membuatku kaget adalah,
Jonathan ada di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali tertawa.
Aku terpaku menatap mereka
berdua.
“Hei, Zul ngapain di sini?” Tanya
Jonathan.
Dian terlihat keget menemukanku
dengan dandanan rapi di café ini.
“Rapi banget Zul, sendirian?”
Kata Dian setelah mengusuir kekagetannya.
“Ada janji sama temen,“ kataku.
Aku menalan ludah, dan rasanya sangat sakit di tenggorokan.
“Kita ke sana dulu ya,” kata
Jonathan, kali ini dia meraih tangan Dian lalu membawanya menjauh ke arah meja
mereka di tengah.
Aku terhenyak.
Bingung, kesal, sedih. Campur
aduk.
(bersambung)
(bersambung)
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)