20170130

Rabu ......


Katanya, ada sekitar 7 milyar manusia yang hidup di dunia.

Jika peluang dua orang saling bertemu adalah 1 banding 7 milyar, maka peluang dua orang itu bertemu, lalu saling kenal, kemudian saling suka satu sama lain, dengan memperhitungkan faktor eksponensialnya, kejadian itu menjadi nyaris mustahil.

Karenanya, jika ada dua orang memiliki perasaan yang sama, pastilah itu sebuah keajaiban. Mereka berdua adalah dua orang yang benar-benar sangat beruntung.

Malam ini bulan bersinar lembut, gemintang berbaris membentuk gugus. Kerlipannya akan membuai siapa saja yang menyaksikannya. Angin sopan berhembus, tidak pelan tidak juga kencang. Kursi dan meja juga rangkaian lampu hias kerlap-kerlip membuat malam ini menjadi sempurna.

“Dari begitu luasnya dunia…” Zul berdehem lembut.

“Aku ngga nyangka kita bakal ketemu lagi. Kalau kamu ngga ingetin, aku kayanya ngga bakal sadar kalau kita pernah satu SMA. Aku ngerasa beruntung banget bisa ketemu kamu lagi.” Pandangan Zul jatuh pada permukaan meja yang mengkilap.

Kemudian Ia mendongak, berusaha menatap mata itu.

“Ratih, “ wajah itu terlihat kaget karena namanya tiba-tiba saja disebut.

“Aku suka sama kamu…“

Wajah itu memerah, mungkin sedang menutup mulut dengan kedua tangannya yang lentik.

“Kamu mau jadi pacar aku?”  

Zul menanti, menunggu jawaban dari sosok dihadapannya.

Angin malam dengan nakal menggerak-gerakkan anak rambutnya.

“Mau pesan apa mas?”

Zul mendongak kaget.

“Air mineral ngga dingin,” katanya akhirnya.

“Makanannya nanti, saya masih menunggu teman saya,” kata Zul serak.

Peramusaji itu pergi saat Zul meremas tangannya yang dingin.

Sial! Dia merasa gugup sekali. Kata video yang dia tonton di youtube, salah satu tips sukses nembak adalah datang sejam lebih awal lalu berlatih mengucapkan kalimat penembakannya.

Belum ada orangnya saja Zul segugup ini, bagaimana kalau dia sudah muncul. Kadang Zul merasa dikutuk karena semasa kuliah malah menjadi temanya Dody yang bangga akan ke jombloannya itu. Dia jadi ngga punya jam terbang. Padahal pengalaman itu sangat diperlukan untuk saat-saat seperti ini.

Sepasang kekasih muncul dari balik anak tangga. Saling bergadengan tangan dan bertukar senyum. Si gadis bergelayut manja dilengan sang laki-laki. Mereka menunjuk sebuah meja lalu melangkah riang menuju meja tersebut.

Zul mendesah.

Ada segumpal iri yang mengambang di dadanya. Seumur-umur dia belum pernah mengalami hal seperti tadi. Terima kasih untuk masa SMA yang cupu dan masa kuliah yang penuh dengan tugas dan hura-hura ngga jelas.

Detik selanjutnya, Dian muncul dari baloik anak tangga. Rasanya Zul belum pernah melihat Dian memakai make up seperti ini. Ayolah, mascara itu, lipstick itu, taburan bedak itu, tambah lagi gaun dan heels nya.

Yang membuat Zul tambah kaget adalah, Jonathan ada di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali tertawa.

Zul terpaku menatap mereka berdua.

“Hai, Zul ngapain di sini?” Tanya Jonathan.

Dian terlihat keget menemukan Zul dengan dandanan rapi di café ini.

“Rapi banget Zul, sendirian?” Kata Dian setelah mengusuir kekagetannya.

“Ada janji sama temen, “ kata Zul. Dia menelan ludah, dan rasanya sangat sakit di tenggorokan.  

“Kita ke sana dulu ya,” kata Jonathan, kali ini dia meraih tangan Dian lalu membawanya menjauh ke arah meja mereka di tengah.

Minuman Zul datang. Airnya terlihat mengkilap diterpa cahaya neon.

Dada Zul memanas. Mungkin karena tangan Jonathan sedang merangkul pinggang Dian seperti itu.

“Sory telat, dari tadi banget ya?”

Zul mendongak kaget. Menemukan Ratih berdiri di hadapannya.

Ratih jelas-jelas mempersiapkan dirinya untuk malam ini. Jarang Zul melihat Ratih bermake up seperti ini. Walau Zul adalah tipe laki-laki yang tidak terlalu suka dengan cewek ber make up, kali ini dia harus menyerah. 

Malam ini Ratih terlihat ayu sekali, seperti putri keraton. Zul kenal gaun itu, itu gaun yang waktu itu mereka beli bersama. Warna Biru itu cocok sekali dengan warna kulitnya yang putih bersih.

Di tengah keterpukauan Zul, dan nyaris semua laki-laki di café menolehkan pandangannya pada Ratih, dia segera berdiri, lalu buru-buru menarikkan kursi untuk Ratih.

“Ngga, baru aja nyampe kok,” kata Zul bohong.

“Terima Kasih,” Ratih merona, Zul gentle sekali.

Zul melihat Jonathan sedikit salah tingkah, dan Dian terlihat kaget karena teman yang ternyata di tunggu Zul adalah Ratih.

“Taksi tadi?”

Ratih mengangguk. Ia merasa tidak enak jadi pusat perhatian seperti ini.

“Dandananku berlebihan ya, Zul?” katanya.

“Ngga ah, kamu cantik kok,” kemudian wajahnya memerah. Amboi, cantik sekali! apalah yang lebih cantik dari seorang gadis yang pipinya bersemu merah karena menahan malu karena dipuji? 

Sayangnya gadis jelita yang ada dihadapan Zul entah kenapa terlihat biasa saja baginya.

“Jadi makan apa kita malam ini?” kata Ratih setelah berhasil membuat dirinya terbiasa, ia mengangkat tangan memanggil pramusaji.

“Aku belum pesen sih, bagaimana kalau kita coba steik nya?”

“Aku ikut deh, tapi jangan yang ada lemaknya yah,” katanya riang.

Dari sini Zul bisa melihat tempat duduk Dian dan Jonathan dengan jelas. Mereka sedang saling tertawa, terlihat mesra dan bahagia. Cahaya lampu hias kerlap kerlip yang berjatuhan di wajahnya, membuat Dian terlihat sangat cantik. Matanya terlihat bercahaya dan berbinar.

“Kamu pesan minum apa?”

Zul menoleh.

“Eh?”

“Kamu kenapa sih ngga fokus gitu, lagi banyak pikiran ya?” tanya Ratih.

Zul mengeleng, “Ngga ada apa-apa kok. Kamu tanya apa tadi, sorry?“

“Kamu mau minum apa?” Ratih tersenyum maklum.

“Milk shake,” kata Zul.

Harusnya malam ini menjadi malam yang menyenangkan. Di bawah langit biru gelap yang cerah, tempat makan yang romantis diiringi alunan piano lembut (dari sound system), mereka harusnya bisa saling tertawa, bertukar cerita, membahas banyak hal, dan harusnya terasa Indah dan sempurna. Zul justru tidak bisa merasakan itu semua. Bahkan fokusnya tak bisa pada Ratih, gadis cantik yang sedang duduk di hadapannya. Sepanjang obrolan Ia lebih banyak mengintip ke meja di seberang, memperhatikan pasangan itu. Memastikan Jonathan tidak melakukan ‘sesuatu’ pada Dian.

 “Zul?” kata Ratih.

 “Ya?”

“Ini ke lima kalinya kamu melamun seperti itu dan mengacuhkan pertanyaanku, ”

“Eh?”

“Malam ini entah kenapa kamu aneh, aku lagi kaya duduk sama orang lain.”

Zul terdiam.

“Gimana kerjaan kamu, akhir-akhir ini kayaknya sibuk banget?” Zul berusaha mengembalikan suasana.

Zul melihat sekilas tangan Jonathan mulai bergerak memegang tangan Dian, kemudian jemari mereka bertautan. Darahnya mendidih. Ada yang membuat dada Zul panas dan kesal hingga ubun-ubun. Untungnya kemudian  Dian menarik tangannya dengan lembut, ia meraih gelas lalu mulai minum.

Zul menghembuskan nafas lega.

“Kita pulang aja yuk,” kata Ratih serak.

“Hah?”

Ratih tertunduk. Tangannya meremas gaunnya. Zul melihat matanya berair. Sepanjang diamnya Zul, Ratih menyadari sesuatu. Sejak tadi lelaki di hadapannya selalu melihat meja seberang. Seorang gadis yang juga ia kenal, yang dia dengar rumor di kantor kalau Zul pernah suka dengan gadis itu.

“Kamu sama sekali ngga dengerin aku,”

“Eh?”

“Apa karena gadis di meja seberang itu...” suaranya lirih.

Zul tersentak.

Ratih masih menunduk. Menunggu.

Detik itu saat Zul sedang memikirkan kalimat untuk diucapkan pada Ratih, Dian dan Jonathan berdiri, mereka berjalan meninggalkan café. Jonathan merangkul pinggang Dian. Gigi Zul gemeletuk, dadanya kembali panas melihat adegan itu.

Ratih melihat bagaimana Zul terlihat kesal, mengepalkan tangan, sesaat terlihat tidak sabar dan hendak meledak. Semua itu karena ada laki-laki lain bersama gadis itu. Itu terjadi di hadapannya. Ratih kesakitan. Ada sesuatu yang mebuat dadanya perih.

Zul mendengar Ratih terisak. Butir-butir air mata jatuh di atas gaunnya. Ratih tak kuat lagi, pertahannya roboh, air matanya berguguran.

Saat itu Zul sadar, apa yang telah ia lakukan benar-benar salah. Dia merasa menjadi laki-laki paling bajingan sedunia. Membiarkan seorang gadis yang telah berdandan cantik untuknya malam ini menangis seperti itu.

“Ada yang mau kamu katakan?” kata Ratih akhirnya lirih. Dia masih memberi Zul kesempatan.

Zul menunduk, kemudian menelan ludah. Ia paling tidak bisa melihat seorang perempuan menangis.

“Aku merasa sangat senang bisa bareng kamu seperti ini. Makan, nonton, jalan. Melihat kamu tertawa, tersenyum. Baru kali ini ada wanita yang mau berbagi kebahagiaan seperti ini padaku. Kamu bahkan ngga segan-segan menceritakan mengenai keluargamu dan pengalaman bodohmu padaku.

“Awalnya aku bingung. Ketika kamu menelpon untuk menemani membeli baju yang kamu kenakan sekarang. Juga ajakan-ajakan lain untuk sarapan maupun makan bareng. Baru kali ini ada seorng gadis yang mengajukan dirinya padaku seperti ini. Aku mengerti ini akan mengarah ke mana. Saat itu aku berfikir, apa yang harus aku lakukan? Bolehkan aku membiarkan gadis baik ini masuk ke dalam kehidupanku? Karena sebenarnya saat itu ada gadis lain yang sedang aku perhatikan.

“Aku khawatir kalau perasaan ini bukan yang sebenarnya. Aku takut ini hanya pelarian. Aku sangat  takut nantinya akan menyakiti kamu. 

"Tapi akhirnya, di satu titik aku memutuskan untuk membiarkan kamu masuk. mencoba menjalani semuanya terlebih dahulu tanpa terlalu memikirkan banyak hal. Ah, mungkin ini jalannya, pikirku waktu itu.

“Senyum mu itu, tatapan mu itu, tawa mu itu, aku merasa sangat beruntung bisa berbagi itu bersama mu. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi laki-laki yang berada di samping gadis sebaik dan secantik kamu.

“Hingga aku merasa begitu yakin akan perasaanku. Perasaan yang perlahan tumbuh dan mulai mekar. Sudah seminggu aku memikirkan malam ini untuk menyatakan perasaanku. Aku bahkan terus-terusan menghafal redaksinya sejak seminggu lalu. Datang sejam lebih awal ke tempat ini untuk kemudian berlatih.

“Namun, aku keliru …”

Tenggorokan Zul tercekat. Ia tak ingin melanjutkan, ia tak mampu membuat Ratih tersakiti lebih dari ini.

Mereka terdiam.

“Ngga bisa kah kamu memilih aku?”

Zul mendongak. Suara Ratih terdengar bergetar.

“Aku sudah menyukaimu sejak SMA. Aku begitu bahagia ketika ternyata kita berada di perusaan yang sama. Dari sekian banyak perusahaan di Jakarta aku bisa satu kantor denganmu, bukankah itu suatu pertanda? Itu suatu pertanda kan?! Karenanya aku berusaha menyusuri 'tanda' ini, mengusahakan 'pertanda' yang semesta buat untukku. Aku berusaha keras agar kamu bisa menoleh padaku”

Mata Ratih terasa hangat dan berembun, hidungnya merah. butir air matanya bagai untaian mutiara yang berjatuhan ke tanah. Hati Zul perih melihat Ratih seperti ini.

“Dian…

“Apa aku ngga lebih baik dari dia?”

Zul tercenung. Ia baru mengerti, ternyata dalam cinta kita tidak bisa membandingkan seseorang dengan orang yang lain. Tidak bisa, tak akan pernah bisa. Kita tidak bisa berpindah suka karena dia lebih cantik, dia lebih baik, dia lebih anggun dan sebagainya. Faktor-faktor pembanding itu menjadi tidak berlaku dan menjadi tidak terbandingkan.

“Apa kamu ngga mengerti, setiap kali aku mengajakmu jalan duluan, ngajak makan duluan, WA duluan dan berusaha membuatmu mengakui aku, saat itu aku sedang menanggalkan gengsiku sebagai seorang perempuan?

“Apa itu semua belum cukup buatmu?

Air matanya jatuh makin banyak. Ratih terlihat sangat kesakitan.

“Aku harus apa lagi Zul? Aku harus ngapain lagi agar kamu mau melihat aku?

Ratih menarik nafas, berusaha menenangkan dirinya.

“Itukah pilihan kamu? Gadis itu?”

Zul menunduk.

Ratih terdiam. Kecewa sekali. Ia membuang muka, tak sudi melihat wajah Zul, lalu tersenyum, menertawakan kebodohannya selama ini.

Zul hanya bisa diam, ia tak mampu lagi menjawab. Ia bak terdakwa yang sudah dijatuhkan hukuman mati. Tak sanggup melawan lagi.

Ratih mengangkat pandangannya ke langit malam, berusaha mengembalikan tetesan air mata yang sia-sia keluar, namun tetap saja tak bisa. Malah air matanya makin deras mengalir, membuatnya kesal setengah mati. Ngapain dia menangis untuk seorang laki-laki  yang tak pantas ditangisi!

Ratih tak tahan lagi. Merasa bodoh jika terus berada di sini, akhirnya ia berdiri, kemudian berjalan cepat-cepat pergi setelah menaruh beberapa lembar uang seratus ribuan di meja.

Biar aku yang bayar semua! Aku ngga butuh traktiran kamu! Mungkin itu maksudnya. Dignity Zul compang-camping sudah.

Zul menyaksikan punggung Ratih yang bergetar menghilang di balik anak tangga. Menyisakan tatapan cemooh dan heran seisi penghuni café.  

Hari ini Zul benar-benar sukses menjadi laki-laki paling berengsek di dunia.

Menyedihkan.

Langit cerah membiarkan bintang-gemintang mengintip dari balik awan yang mengambang tipis-tipis. Walau kata orang cantik, Zul tidak pernah suka malam. Secerah dan seramai apapun, malam tetap saja gelap. Gemerlapan bintang dan cerianya rembulan hanya tipuan mata.

Baginya malam tetap saja dingin dan penyendiri.



“Makan di mana?”

Dody menoleh pada Zul Rabu siang itu.

“Padang depan. Aku makan sama Ratih. Lebih baik lu ngga ikut,” kemudian berlalu.

Zul mengeluarkan kotak bekal.

“Ngga biasanya lu bawa bekal Bang Zul,” Denry si anak magang menghampiri mejaku.

“Iya nih, mulai minggu ini gua bakal bawa bekel terus, mesen ke bibi kosan. Lumayan hemat,”

“Itu muka lu kenapa benjut gitu?”

Zul terkekeh, “Biasa lah anak muda,” dia tidak bisa menceritakan kalau kemarin, tiba-tiba Dody merangsek ke kamar kosannya lalu memukul wajahnya.

Anjing lu ya! Tega bikin Ratih nangis kaya gitu! Dia masih kurang apa lagi hah!

Satu pukulan lagi mendarat di wajah Zul. Untung setelah itu satpam kosan datang dan melerai mereka. Jika tidak, bisa rontok gigi Zul. Dody kalau lagi ngamuk ngeri.

Ninda bergabung membawa tas bekal. Ninda anak magang juga tapi dia di tempatkan di lantai satu (fyi, Denry dan Ninda pacaran). Sudah seminggu mereka magang, sekalian mengumpulkan data untuk skripsi meraka. Mereka satu almamater denganku, makanya cepat akrab.

“Enak ya tiap hari dimasakin,” kata Zul usil. Ninda membuka tas bekalnya, terhamparlah nasi Goreng dengan lauk ayam dan telur dadar. Wanginya harum luar biasa, pasti enak.

“Tahu nih si Abi, manja banget,”

“Habisnya masakan Umi enak sih, lagian kalau beli di luar kan mahal,“ dan mereka udah saling panggil abi dan umi, bikin selera makan Zul menguap.

“Ehm. Nin,”

“Ya?”

“Katanya kamu satu divisi sama Dian ya?” Zul berusaha terdengar biasa.

“Mba Dian yang cantik itu? Iya,“ katanya rada acuh, mereka sedang suap-suapan mesra. Zul pun menutup kotak bekalnya.

“Dian sama Jonathan itu jadian ya?”

Denry dan Ninda menoleh, menyodorkan wajah beku. Dua detik berikutnya mereka tersenyum. Senyum nakal.

“Kasih tau ngga ya? kenapa emang kalau mereka jadian?” ledek Ninda.

Wajah Zul memerah, malu.

“Aduh, kita punya senior gampang banget dibacanya yah. Umi jangan jahilin Bang Zul gitu dong,” 
Denry terkekeh geli.

“Asem kalian, sama senior ngga ada sopan-sopannya,” Zul mencibir, dia kembali membuka bekal yang dibawanya. Melahap banyak-banyak .

“Ngga kok bang, belum jadian. Tapi mereka sempet ke gap jalan bareng sabtu kemarin, “ Kata Ninda.

“Hah masa sih Mi?” tanya Denry.

“Iya Bi, mana katanya Mba Dian dandannanya full make up plus pake heel segala waktu itu. Pokoknya lagi cantik abis,”

“Udah deket dong mereka berarti,”

“Wah itu ngga tau, tapi emang mereka satu projek sih, wajar lah kalo deket. Tapi yang Sabtu kemarin itu mereka emang abis ketemu klien, jadi sekalian dinner,”

“Wah gawat bang, udah bentar lagi itu mah,”

“Abi-Abi, barang bagus mana ada yang nganggur,”

Ada perasaan lega yang mengaliri dada Zul. Informasi itu sangat berharga baginya.

“Abang naksir ya sama Mba Dian?” bisik Ninda.

“Apaan sih,” bentak Zul judes, sambil wajahnya memerah.

“Kalau mau, nanti aku bantuin. Aku kan satu divisi tuh, nanti aku kasih tau apa kesukaan dia, kapan dia pulang, kapan dia lembur. Sesama almamater kita harus bahu-membahu,” bisik Ninda.

Zul tampak tak peduli. Tapi senyumnya mekar kali itu.
 

Hari itu berlalu dengan cepat, tahu-tahu matahari sudah rendah. Orang-orang sudah berbenah menutup laptop dan mematikan PC bersiap pulang.

Dody turun ketika Zul masih membereskan isi ransel nya. Jam di dinding kantor menunjukan jam setengah enam. Zul sengaja memperlambat berkemas. Dia masih meresa tidak enak pada Dody, anak itu masih belum mengajaknya bicara sejak minggu.

Aku udah di Lobby. Aku traktir makan es krim deh, abisnya murung mulu dari kemarin.

Dody menekan tombol enter.

HP Ratih bergetar. Ia membuka notifikasi, kemudian tersenyum.

Senyum pertamanya hari ini.

Aku kalo makan es krim suka ngga kira-kira, jangan nyesel lho.
Thanks ya. 

Dody memeriksa HP nya yang bergetar. Lalu tersenyum.

Sekitar sepulih menit kemudian Zul memasuki Lift. Benda itu bergerak perlahan, kemudian berhenti di lantai dasar. Zul berjalan pelan-pelan, mengendap-endap di balik tembok dan menarik nafas lega ketika Dody dan Ratih sudah tidak di sana.

“Ngapain ngendap-ngendap gitu?” Zul kaget bukan main, ia menolah dan menemukan Dian berdiri di belakangnya.

“Ngga kok, “ sambil memasang senyum bego.

Dian tersenyum maklum. “Aku ngga tau kalau kamu jadian sama Ratih.”

“Ngga, kita ngga jadian kok,” Zul menggeleng salah tingkah.

Terdengar bungi klakson dari depan Loby, sebuah mobil berhenti. Kepala Jonathan menyembul dari kaca depan yang perlahan terbuka.

“Yuk, Dian,” Jonathan setengah berteriak.

“Kencan lagi?” tanya Zul sambil tersenyum.

Dian menggeleng. “ Dinner sama klien 'lagi',” katanya kemudian bergegas.

Zul mengangguk saat Dian melambaikan tangan.

Zul mengeratkan tali ranselnya, kemudian memasukan tangannya ke dalam saku. Ketika kakinya melewati pintu kaca otomatis loby dan sepatunya menginjak aspal parkiran, senja sudah turun.

Langit menjingga hebat. Suiran awan menemani burung-burung yang kembali ke sarang mereka.

Senja selalu menyenangkan. Detik-detik di mana matahari mengundurkan diri, sopan tapi gagah, menyentuh lantai bumi, membagikan rona keemasan pada awan-awan. Senja menghantarkan manusia-manusia yang kelelahan ke peraduan. Mengabarkan bahwa hari ini mereka telah berusaha dengan baik. Mempersilahkan orang-orang untuk kembali ke rumah di mana keluarga mereka menunggu.

Senja selalu menjanjikan bahwa masih ada esok, masih ada harapan.

HP Zul bergetar, WA Ninda masuk.

Besok mba Dian lembur. Boleh tuh diajak diner bareng (Pak Jonathan meeting ke luar kota).


(end.) 

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)