Di luar angin deras menerpa apa saja yang ia lewati tanpa ampun. Walaupun di dalam sini hangat, dia menutup retsleting jaketnya sampai habis kemudian menaikkan kerah hingga menutupi lehernya yang kurus dan hitam oleh lingkaran daki. Ia menyeruput secangkir kopi hitam yang ada di hadapannya. Cairan hangat berwarna hitam yang agak pahit dan mengandung banyak caffeine menerobos sela-sela kerongkongannya, berakhir di dalam perut di antara lantai dan langit-langit lambung. Hangat, nikmat dan pahit.
Rambutnya hitam tak terurus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Memang akhir-akhir ini hidupnya tidak tenang hingga dia tidak bisa menikmati mewahnya tidur delapan jam. Dan seperti kebanyakan temannya, sejumput kecil janggut bertengger di ujung dagunya. Tentu saja tak selebat teman-temannya. Milikinya tipis, lembut dan jantan menawan.
Mungkin gara-gara janggutnya yang tipis dan tak ketara itu lah dia masih bisa menikmati kopi hangat di hari yang mendung ini. Berbeda dengan teman-temanya yang lain, beberapa sudah tertembak mati. Mereka tidak rela digelandang ke kantor polisi untuk diintrogasi, dipaksa menyebutkan nama-nama sahabat seperjuangan mereka. Lebih baik mati ditembak dari pada mengkhianati sahabat sendiri. Tak terasa senyum getir tersungging di wajahnya, hal itu berlangsung beberapa detik kemudian wajahnya datar lagi.
Ia menatap tas ranselnya, memegangnya kemudian beralih menyeruput kopi hangatnya lagi. Lambungnya kembali terisi. Tapi kenikmatan seruputan yang ke dua ini berkurang ketimbang yang pertama tadi.
Warung kopi ini ramai. Memang dia harus berada di tempat yang ramai. Bangku panjang yang ada di depannya terlihat reot, tapi tak ada satupun orang yang peduli, padahal bangku itu telah terisi tiga pantat penarik ojeg. Mereka tertawa lepas karena celotehan temannya. Gigi-gigi hitam dan kuning yang terbakar caffeine dan nikotin mereka perlihatkan tanpa malu, karena semua orang di sini pun begitu.
Ironi. Banyak orang di luar sana yang hoby menumpuk harta, hingga tak akan habis dimakannya sendiri, tetapi kebahagiaan jijik untuk mendekap mereka. Justru tukang ojek ini, yang hidupnya pas-pasan lah yang menjadi sahabat karib sang kebahagiaan itu. Laki-laki itu tersenyum lagi.
Obrolan meraka macam-macam. Mula dari gosip murahan tentang janda kembang yang tempo hari terlihat bersama seorang laki-laki yang mereka sebut pacar barunya hingga tingkah laku anggota dewan yang dilakukan di gedung aneh yang disebut gedung MPR RI . Jika ada mahasiswa yang mendengar tema mereka yang terakhir itu, pasti akan geleng-gelang kepala sambil tersenyum, betapa so tahunya mereka tentang perpolitikan. Walau begitu tetap saja hidup meraka bahagia.
Laki-laki ini ingin segera beranjak dari warkop, karena sebentar lagi keretanya akan berangkat. Tetapi kopi di depannya masih setengah penuh. Ia enggan meninggalkan godaan ini. Jarang sekali ia bisa berada di tempat kesukaannya. Duduk melamun di temani secangkir kopi sambil mendengarkan celotehan di sekitarnya. Sebenarnya ia suka sekali berada di tempat ramai. Ia merasa aman karena ia tidak sendirian, banyak orang di sekitarnya. Dan tentu saja, yang paling menarik adalah banyak orang yang bisa dia amati.
Ia bisa menebak-nebak apa yang orang pikirkan dari raut wajahnya. Apa saja yang meraka bawa, dari golongan mana mereka. Dan apakah meraka bahagia….Hmmm, bahagia. Kata yang sangat abstrak baginya. Selama ini dia sulit menemukan kebahagiaan. Sudah letih dia. Mungkin dulu pernah satu kali pernah merasakan kebahagiaan. Waktu Iedul fitri terakhir bersama orang tuanya. Namun itu sudah lama sekali. Pingin rasanya pulang ke rumah lagi. Menyantap masakan ibu. Memancing bersama ayah. Senyum terajut lagi di bibirnya yang kering, namun matanya berair. Ah sudah lama sekali. Tapi untuk saat-saat ini ia tidak bisa pulang. Setidaknya ia tahu orang tuanya masih hidup sehat di rumah. Itu pun cukup.
. . .
“ Saya sudah sampai di stasiun, sekarang harus kemana?” seharusnya suaranya terdengar ringan dan renyah. Mungkin karena beban yang sangat berat yang telah ia pikul sejak lama, suaranya terdengar sangat menderita lebih mirip jeritan.
“ Beli tiket ke arah jawa timur, sejauh mungkin ke timur ” kata seseorang di balik HP satunya lagi.
“ Tapi kemana? “
“ Pokoknya jauhi Jakarta dulu. Nanti setelah masuk jawa timur akan ditelpon lagi.”
Hening sejenak. Laki-laki berjanggut itu menengadah ke langit. Cakrawala semakin kelabu. Kilat mulai menjilat-jilat tanah di kaki langit sebelah timur. Sekarang aku harus menuju kilat itu bisiknya dalam hati.
“ Kamu mengerti kan ?”
Di cakrawala timur sana awan terlihat lebih tebal dan hitam, samar-samar awan terlihat tumpah ruah. Di sini pun sepasukan tetesan gerimis nangkal mulai melompat-lompat dari angkasa. Memercik di permukaan rambutnya yang tipis dan jidatnya yang sedikit menghitam.
“ Halo? Sidiq? Kamu masih di sana kan ?”
“ Iya pak, saya masih di sini” sekarang suara Sidiq merintih, seperti sedang melakukan pengaduan dosa.
“ Ada apa anak ku?” suara itu mencoba menenangkan, rasanya ia memahami rintihan Sidiq.
“ Saya tak kuat lagi pak. Rasanya sejak saya memulai ini, saya tak pernah merasakan bahagia lagi pak…” katanya mendesah
“ Anakku Sidiq, kau tahukan di dunia ini tak ada kebahagiaan yang hakiki. Ingat surga bagi para mujahid yang Allah janjikan? Surga yang diliputi semua kebahagiaan. Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Surga dimana kita akan dapat kebahagiaa terbesar yaitu melihat Allah. Kau masih ingatkan anakku“
“ Iya pak saya ingat “
“ Baiklah, sekarang lakukan instruksi tadi, semoga Allah bersama mu. Assalamu’alaikum” lalu terdengar bunyi ‘nuuuut’ di kejauhan
Wa’alaikum salam, katanya dalam hati.
Sidiq segera bergegas menuju stasiun. Hujan sudah mulai menggila mendera tanah. Aroma debu dan tanah yang basah mulai tercium di mana-mana. Orang-orang seperti semut mengerubuti gula berebut menuju tempat-tempat teduh. Jika dilihat dari atas, bermunculan lingkaran-lungkaran payung warna-warni. Warna-warninya sangat tidak cocok dengan kelabunya hati Sidiq dan warna langit saat ini.
Ketika berlari menembus orang-orang yang sibuk berteduh menuju stasiun, ada seorang pengemis cacat yang kesulitan bergerak. Tampangnnya sangat mengenaskan. Ia juga hendak pergi berteduh. Tangannya terlihat tidak wajar dengan ukuran tubuhnya yang terlalu kecil. Dan kakinya buntung sebelah. Ketika Sidiq memandangnya. Tiba-tiba wajahnya memucat, kepalanya pusing luar biasa. Dalam benaknya, sperti slide presentasi power pointnya dulu waktu kuliah, bermunculan kelebatan wajah teman-temannya, gedung yang rusak, arang di mana-mana, bau daging hangus, potongan-potongan tubuh manusia, mayat-mayat dengan tatapan kosong, onggokan daging, cipratan darah di mana-mana. Memorinya akan peledakan sebelumnya kembali muncul, entah sudah ratusan kali tetapi rasa berdosanya malah makin menjadi. Mendesak ke ubun-ubunnya.
Perutnya mual, segelas kopi pekat tadi ingin menerobos keluar lagi. Tubuhnya menggigil hebat. Dadanya bergemuruh. Lututnya lemas. Ia segera mencari pegangan agar tidak jatuh. Hujan makin deras. Tapi dia tidak peduli. Bajunya mulai basah di sana-sini. Air hujan mengalir melalui guratan-guratan wajahnya yang terlihat tua dan menderita, tatapannya kosong, aliran airnya berakhir di ujung janggutnya yang tipis kemudian melompat terjun ke tanah.
“ Kenapa pak?” Sidiq tersentak. Kesadarannya mulai pulih. Ia mulai bisa menguasai dirinya. Ternyata yang bertanya adalah pengemis cacat tadi. Ia menatap Sidiq penuh kasihan. Tatapan meraka bertemu, saling menerobos benak lawan bicaranya masing-masing. Sungguh hina hidup ku pikir Sidiq, sampai pengemis cacat ini mengasihani dirinya. Ia mengangkat tubuhnya, menegakkan badannya. “ Ga apa-apa ko mas” katanya. Kemudian bergegas menuju stasiun.
Jarak tempat dia nyaris roboh tadi dengan stasiun hanya beberapa meter. Namun bagi Sidiq, itu adalah jalan kaki yang paling melelahkan selama hidupnya. Semua gambaran kengerian itu muncul dengan jelasnya. Sejak bom Bali dulu, sekarang dia lah kurir untuk setiap operasi organisasi. Rasa bersalah terus menghantui hidupnya. Teriakan orang-orang sekarat waktu itu, onggokan daging hangus itu, bau anyir dari darah itu. Walaupun ada yang selamat, cacat adalah hal yang harus mereka tanggung tanpa tahu apa sebab mereka menerima itu. Semua bayangan mengerikan itu selalu menghantui kehidupannya. Makanya ketika berpapasan dengan orang cacat tadi, bayangan yang selalu menghantuinya menjelma menjadi monster yang benar-benar nyata baginya.
Sudah sekitar lima tahun ia terus bersembunyi. Melarikan diri dan membaur dengan manusia. Tidak hanya dari polisi, tetapi juga dari batinnya yang berontak. Ini lah yang paling membuatnya kelelahan. Ketika dia bekerja, berarti akan ada operasi lagi. Operasi menandakan akan ada orang yang mati lagi. Perutnya semakin mual.
Operasi mereka di Bali boleh di bilang sukses. Dari perencanaan, supplyer jaringan hingga eksekusi operasi semuanya tidak tercuim oleh polisi dan intel. Waktu itu aparat masih belum ngeh. Sehingga semua rangkaian operasi mereka lakukan dengan leluasa tanpa hambatan yang berarti. Tapi sekarang keadaannya jauh berbeda. Polisi dan intel di mana-mana. Jika mereka tidak berhati-hati maka semua akan terbongkar, mirip petasan berantai. Ketika satu tersulut api, maka petasan yang lainnya tinggal menunggu untuk tersulut juga. Intel Indonesia sangat cerdas. Semuanya harus sempurna. Tidak boleh ada celah. Begitulah prinsip kerja mereka untuk menghukum orang-orang barat. Padahal Sidiq tahu bahwa orang-orang itu tidak tahu apa-apa sama sekali.
Ketika sampai di pintu masuk stasiun ternyata ada dua polisi. Sidiq berhenti sejenak. Menunggu dan mengawasi. Ada seorang ibu masuk ke stasiun, kemudian polisi memerintahkan sesuatu. Wanita itu menyerahkan tasnya lalu membuka dan memperlihatkan isinya. Kemudian polisi itu mempersilahkan masuk.
Ini pun telah diperkirakan oleh bagian perencanaan. Ia masuk ke satasiun. Lalu polisi menyuruhnya membuka tasnya. Mereka memeriksa isinya dan mendekatkan sebilah logam ke tas Sidiq. Di dalamnya ada al-quran, kitab-kitab dan sebuah kantong plastik yang berisi banyak mainan dan boneka anak. “ saya penjual mainan pak” kata Sidiq tenang, sudah sering dia berakting di depan petugas.
Ia di persilahkan masuk. Kemudian bergegas membeli tiket jurusan paling ujung di jawa timur. Pemberitahuan di speaker menggema di seantero stasiun. Ia pergi mengikuti petunjuk suara speaker tersebut menuju peron ke-5. Kali ini, karena gundah yang sangat ia tidak memperhatikan sekitar dulu. Ia langsung naik kereta. Mencari tempat duduk yang kosong dan duduk di kursi dekat jendela yang terletak dekat dengan pintu belakang gerbong ini.
Secara keseluruhan gerbong itu ramai. Begitu juga di luarnya. Terlihat dari kaca jendela samping banyak orang berjalan lalu lalang. Beberapa orang berjalan cepat sambil memandangi jam tangannya. Di depan tempat duduknya ada seorang laki-laki berjanggut lebat sedang merapihkan isi ransel besarnya. Orang-orang lain di dalam sini juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Beberapa saat kemudian ada seorang pemuda beransel masuk melalui pintu yang ada di depan Sidiq, berdiri sejenak menyapu seluruh gerbong dengan pandangannya, berjalan melewati Sidiq dan duduk di pojokan paling belakang, aroma parfum paris tercium jelas. Ia kemudian membentangkan Koran untuk mebacanya, wajahnya lenyap di balik Koran tersebut.
Sidiq merebahkan punggungnya ke kursi. Menarik nafas panjang dan berusaha menghilangkan was-was dan segala macam hal yang bertautan kusut di benaknya. Amanah yang ia bawa harus tersampaikan katanya menegaskan dalam hati. Suara speaker menggema lagi, tak jelas terdengar dari dalam gerbong. Bersamaan dengan gemanya, terdengar gema sol sepatu prajurit berlarian memantul-mantul di kejauhan. Sidiq tersentak kaget. Di luar terlihat beberapa polisi dan tentara berpakaian gelap berlarian ke arah gerbongnya, menerobos kerumunan. Kejadiannya sangat cepat hingga ia tak sempat melakukan sesuatu. Pasukan itu langsung menerobos masuk gerbong melalui ke dua pintunya yang berada di belakang dan depan siddiq, lalu masing-masing menodongkan sebilah revolver dan sejenis magnum ke arah Sidiq. Dia kaget setengah mati. Jantungnya memberontak. Adrenalin memompa menderu memaksa darahya menyerobot pembulu darah yang menyusup melewati seluruh lipatan daging. Dia sudah terkepung. Polisi berhasil melacaknya, setelah lima tahun menyembunyikan diri dan lari. Dia terjebak di antara polisi dan tentara di dalam gerbong kereta kotor ini. Sidiq menyerah, ia pasrah akan apapun yang akan menimpa dirinya beberapa detik lagi. Akhirnya ia tertangkap.
“ Angkat tangan!!!! Jangan bergerak!!!” kata seorang petugas. Detik berikutnya, dua orang petugas menghantam pundaknya dan meringkus laki-laki berjanggut tebal yang duduk di depannya. Sidiq membatu hingga petugas tadi berhasil menggelandang laki-laki tadi keluar dari gerbang sedangakan satu petugas lain mengamankan bawaannya. Ia bingung sesaat. Hawa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya. Bak tersengat halilintar, tubuhnya kaku. Bahkan paru-parunya enggan disuruh bernafas. Orang berjanggut tebal itu terus meronta-ronta. Menjerit dan berteriak membela diri namun tidak ada petugas yang peduli.
Ketika agak bisa menguasai tubuhnya, ia merebahkan punggungnya lagi dan memperbaiki nafasnya. Ia sangat shock dan kelelahan. Setelah semua yang dialaminya, tubuhnya merasa amat letih. Ia memeluk erat ranselnya. Ia berusaha mencerna apa yang terjadi. Mereka salah tangkap. Ia lega tidak harus menyebutkan nama-nama sahabat-sahabatnya di ruang introgasi, tapi ini berarti beban yang ia pikul masih belum bisa ia letakkan.
Matanya terus mengawasi pemandangannya yang disuguhkan jendela kereta. Tiang listrik satu persatu muncul dan menghilang, pepohonan, rumah penduduk seakan melakukan tarian pengiring tidur di bawah naungan hujan. Mereka mengantri menunggu untuk mampir dalam pandangan Sidiq. Beberapa menit kemudian, matanya terasa sangat berat. Sekarang ia benar-benar kelelahan. Tubuhnya menagih untuk diistirahatkan. Nafasnya berangsur-angsur mulai teratur. Tak lama Ia benar-benar terlelap.
Wajahnya terlihat sangat kelelahan, keberatan menanggung beban dan terlihat lebih tua dari umurnya. Tentu saja janggut tipisnya masih menghiasai wajahnya yang secara keseluruhan kurus dan terlihat menderita. Tapi kali ini ketenangan dan kedamaian membungkus itu semua. Entah sampai kapan, dia takan pernah tahu apa setelahnya dia akan lolos lagi atau tertangkap petugas.
. . .
“ Target ada di gerbong yang saya naiki, meminta instruksi selanjutnya”
“ Sidah di cek apa benar-benar positif?”
“ Positif pak!”
“ Jangan lakukan apa-apa, sebuah tim sedang disiapkan di stasiun selanjutnya. Kita sudah berminggu-minggu menguntitnya. Komandan ingin dia hidup-hidup untuk di introgasi”
“ Siap pak!”
Kemudian ia mematikan alat kominikasi dua arahnya. Wajah orang itu masih tak terlihat dari arah Sidiq karena tertutup kertas koran yang lebar. Sedangkan Sidiq, dia sedang menikmati hidangan makan malam di ruang makan rumahnya, bersama ayah, ibu dan semua sahabatnya di alam mimpi. []
*ini cerpen pertama saya :)
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)