Aku tersudut, kepalaku berkedut, bokongku menegang tak kuat. Bajuku kebasahan mebendung keringat dingin. Yang tersisan hanya senyum getir yang berat. aku berharap bisa keluar dari situasi ini secepatnya. detik-detik ini benar-benar menyiksa, meremas harapan ku yang sudah tipis.
Tak butuh waktu lama, satu menit pertama telah berbisik pada petaka yang tengah sedang menggantung di langit untuk segera menciduk ku. Jahat, semuanya jahat! keringat, detak jantung dan semua kesunyian ini bekerja sama memasung semua keinginan ku yang tak pernah sepadan.
Semua orang di sini, dengan ajaibnya bekumpul padahal masing-masing sedang mengambang ke dalam dunia pikirannya masing-masing. Buktinya adalah bunyi goresan kemenangan dan kekalahan ballpoint di atas kertas tiap-tiap mereka. Dari sana terdengar jeritan kemenangan disela sela senyuman dan rintihan tangisan kekalahan diantara gemeretakan gerigi yang kesal, frustasi dan sedih. Sedangkan aku, sendirian terjebak diantara kerumunan ini. Menunggu nasib itu mengecup basah ubun-ubun ku.
Di hadapan ku, seperti semua orang yang duduk di bawah atap ini, selembar kertas ini dengan angka yang nantinya akan melingkar di atasnya berencana membawa ku pada suatu nasib yang mentukan selamanya. Namun bayanganya telah nampak amat jelas sekarang. Tak terbendung dan tergoyahkan. Ia nampak begitu kokoh sekuat apapun aku mengacak-acak seluruh isi kepalaku untuk merubahnya.
Sial! Ulangan ini membuat ku gila!
Ada banyak nomor yang mesti ku jawab, sialnya tangan dan kepala yang luar biasa bebal ini sama sekali tak mau bahu membahu untuk mengisi kosongnya. Begitu juga waktu, ia senang sekali mengianati ku berlari begitu saja menertawakan kebodohan ku karena jasad lemahku justru tidur tadi malam.
Ini semua karena kutukan dosen jahat itu, ia begitu sukanya mencoret mahasiswa yang "tidak disukai" nya. Ya tidak disukainya. Hanya karena aku selalau gagal dalam setiap test yang dia berikan, mendadak aku menjadi terkenal dalam setiap kuliah nya, nama ku selalu jadi kambing hitam menjawab ocehannya dan begitu sadar, aku telah masuk dalam kategori yang "tidak disukai" nya.
Aku sama sekali tidak suka gelagatnya! siapa dia sehingga dengan arogannya membuat test yang sebagian besar kami tidak bisa mengerjakan, kemudian seolah-olah dapat menyetir masa depan ku dengan coretan-coretan angka buruk di lembar nilai itu. Tidak pernahkah dia mendengar cerita si genius Enstein yang baru bisa membaca sekitar setelah 10 tahun, Bethoven sang musisi yang pernah di hina gurunya karena tak punya bakat musik, Walt Disney yang gagasan tentang mickey mouse nya ditolak dimana-mana, bahkan nabi Muhammad yang dibilang gila dengan agama kebenarannya.
Tidakkah dia mengetahui bahwa aku memiliki bakat lain—aku sendiri belum tahu apa itu—yang akan mengukir namaku di altar peradaban dunia dunia seperti mereka-mereka itu kelak? Sombong benar hanya denga title professor yang ia dapatkan dengan menjilat itu menumbangkan masa depan ku yang seharusnnya menjadi cerah.
Sialan! apa ini ??!, masa aku harus menyerah tunduk dibawah ketiak arogansinya?? Tidak!!!, tentu tidak. Masih ada cara, pasti masih ada. Gunakan otak mu, buka mata mu, manfaatkan semua, pasti masih ada yang tersisa!!! Jangan pernah panggil aku laki-laki jika menyerah hanya dengan keadaan ini. Bagi calon orang besar ini, ujian ini hanya kerikil kecil yang harus bisa disingkirkan.
Oke, aku mulai bisa berkonsentrasi lagi sekarang. Walau sudah setengah jatah waktu ujian kulewati tanpa satu soal pun yang berhasil ku jawab. Nafasku sudah bersahabat, degup jantungku pun mulai bersantai.
Oke(*lagii) kita telan realitasnya. Ini adalah ujian hafalan. Bodohnya tadi malam aku malah tidur karena kebanyakan ngemil, memang kurang ajar cemilan, itu hasilnya adalah otak ku masih suci dari materi ujian itu. Kabar baiknya aku jadi punya cukup hemoglobin untuk tetap terjaga dengan konsentrasi penuh hingga satangah jam ke depan. Intinya aku tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup dengan cara biasa.
Yap, jalan terakhir adalah nyontek. Hey jangan merendahkan aku hanya karena mencontek, manusia mana yang belum pernah mencontek, beri tau aku, pasti tidak ada. Mungkin hanya para nabi, dan kau begitu juga aku bukanlah nabi, jadi tolong jangan rendahkan aku.
Kabar baiknya lagi adalah semua soalnya adalah pilihan ganda, memberikan kemudahan dalam mencontek. Teman sebelah ku adalah gadis cerdas, yang walaupun tampangnya agak rusak, dia menggilai ku mati-matian. Tampang ku yang tampan ini memang selalu berguna, hahaha! Dengan sedikir rayuan dan senyuman dia akan layu dan akan memberikan jawabannya tanpa syarat. Hahaha, seperti mengambil permen dari anak TK yang di tinggal ibunya.
Tapi kabar buruknya, karena keasyikan tidur aku tidak sempat datang pagi-pagi untuk nge-take tempat yang strategis. Walhasil terdeportasilah diri ini di kursi yang tepat berada di depan meja pengawas. Praharanya tidak sampai di situ saja, pengawas ini adalah dosen yang hobi memanggil namaku ketika kuliah itu, dosen yang memsukkan ku dalam kategori "tidak disukai" nya.
Bodoh ! cari kekuatan yang kau miliki, jangan fokus pada kelemahan. Baiklah-baiklah, pasti ada..
10 menit kemudian….
Setelah sedikit observasi, kesimpulannya adalah sebagai berikut : dosen ini memiliki kebiasaan yang unik, dia akan berkeliling kelas tiap 10 menit. Berdasarkan luas ruangan dan kecepatan langkah kakinya, dia akan selesai memutari seluruh ruangan dalam waktu 5 menit. Dan saat posisik ku berada di sudut mati pandangannya yaitu sekitar 50, bukan! 45 detik lebih tepatnya, (bagian ini harus benar-benar akurat, jika terlalu lama, aku akan dipergokinya, namun jika kurang aku tidak akan punya cukup waktu untuk melihat semua jawaban) Aku mengukurnya dari kecepatan ayunan dan lebar langkahnya, ukuran kramik lantai ruangan ini dan panjang jajaran bangku ke belakang. Sebagai pengaman aku menggunakan jam tangan ku untuk melihat pantulan bayangan punggungnya, aku bersukur kaca jamtangan ini cukup besar juga berlatar hitam, sehingga memantulkan bayangan dengn baik. Intinya saat emas itu terjadi saat dia berjalan melewati ku menuju jajaran kursi di belakang ku. Ketika dia memunggungi ku itulah 45 detik emas itu, saat yang tepat, saat aku berada dalam sudut mati nya.
Aku telah membuat kode pada target contekan ku, yaitu ketika aku memegang hidung ku, ia akan memberikan sedikit ruang pandang pada ku ke lembar jawabnnya. Ini cukup aman, mengingat tanpa suara dan gerakanya cukup wajar, jika ketahuan, aku bisa berpura-pura bersin. Dosen benar-benar jahat, ancamannya akan mengeluarkan siswa yang curang bukan gertakan semata, sejak tadi ada dua siswa yang diusir keluar Karena ketahuan mencontek, bukan! Bukan karena mereka mencontek, tapi karena mereka mencontek tanpa kecerdikan, tidak seperti yang akan aku lakukan. senyum ku mengembang dalam hati.
Aku sudah melakukannya satu kali tadi, dilihat dari ekspresi mukanya saat menatap wajah ku, aku bisa menjamin di tidak mencurigai ku sama sekali. Sekarang tinggal mencari jawaban sisanya.
Baiklah, sekarang dia sedang duduk di depan ku, menyapu seluruh kelas dengan mata di balik kacamata tebalnya. Sebentar lagi dia akan bergerak lagi. 3, 2, 1. Yap, dia akan berdiri. Dia berdiri, sesuai dugaan ku, dia bergerak mendekati ku, kemudian melewati bahu ku. Dalam tiga langkah lagi, aku akan berada dalam sudut matinya. Satu, dua, tiga.
Yap sekarang, aku memegang hidung ku, sambil menghitung melalui jam tangan dan mendengarkan langkah kakinya. Yap tidak ada masalah, langkah kakinya menjauh. Punggung nya pun masih hterlihat jelas dari balik jam tangan ku. Lembar jawabannya, Jelas sekali terlihat dari sini. Aku cukup melirikan mata untuk menyapu semua jawabannya. Jantungku beregup keras karena mengingat risiko yang ku ambil. Haha namun ini mudah sekali. Baiklah, tinggal sedikit lagi, Sial jantungku makin keras degupannya. Punggungnya masih terlihat jelas, dan langkah kakinya makin menjauh. Proses penyalinan ini lebih cepat dari yang ku duga ternyata. Waktu emas ku masih sekitar 15 detik lagi.. Degupannya makin menggila, padahal aku tidak minum kopi pagi ini. Sesaat aku kaget, dosen itu berhenti sejenak, namun masih memunggungi ku, pasti dibelakangku ada siswa yang mencurigakannya sehingga dia berhenti untuk memastikannya. Haha itu bukan urusan ku. Sekarang aku nyaris selesai...dan satu nomer lagi dan… Baik lah, ini sudah cukup, aku sudah mendapatkan semua jawabannya
Tinggal langkah terakhir, yaitu membedakan sedikit jawabannya, aku tak mau jawaban kami kembar, akan sangat mencurigakan jika ada siswa yang duduk bersebelahan dengan jawaban yang sama, aku tak mau mengambil risiko itu. 10 jawaban yang di bedakan akan lebih dari cukup sebagai pengecoh. Baik lah aku selesai. Haha mudah sekali. Mudah sekali. Aku tak bisa menahan senyum ku, dosen itu pasti tidak berani mengkambinghitamkan aku lagi di kelas. Rasakan itu! Hahahahaha! lihat lah nilai ku.
Sesuatu diluar perkiraan ku terjadi berikutnya. Langkah kaki itu, sial! kenapa ia menuju ke sini. Aku tak percaya, bagian mana dari rencana ku yang cacat?? Bayangan wajahnya makin membesar di kaca jam tangan ku, dia benar-benar menuju ke sini. Sial sial!! tiba-tiba ia berdiri tepat di depan ku, seharusnya masih ada sekitar 4 menit waktu dia berkeliling sebelum kembali ke tempat duduk nya. Namun dia benar-benar berdiri di sana, melemparkan pandangan hina ke arah ku. Wajahnya nampak sangat suram, aku benar-benar merasa ketakutan. Takdir yang dari tadi menggantung telah benar-benar menjilati ubun-ubun ku. Liurnya benar-benar lengket dan merembes cepat kemudian menyekat denyut jantung dan paru-paru ku. Mata itu, benar-benar telah menampar-nampar ku telak dangan tatapannya. Sesuatu yang tidak beres benar-benar telah terjadi, di luar perkiraan, pantas saja jantung ku tak mau bersantai.
Bagian mana yang salah dari rencanna ku?? Aku telah benar-benar meremehkan orang ini. Sekarang bayangan nasib itu benar-benar jelas di depan ku berubah sekelebat menjadi dosen ini.
"bagaimana bapa tahu?"
" tadi bayangan mu terpantul di kaca mata ini ketika akan bapa bersihkan karena berdebu"
aku terdiam......semuanya terkunci, nasib ini benar-benar telah menggulung ku telak.
_fin_
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)