Selembar daun mengalir jatuh ditengah udara, terbalut angin lembut membentuk jalur elips tak beraturan yang mengereknya ke bawah. Kemudian mendarat di atas tanah yang lembab, berbau lumut segar, di hamparan dedaunan tua lainnya.
Di kanan kiri depan belakang berdiri tegak satu, dua, tiga, ribuan pohon besar. Hamparan tanah itu ditumbuhi pohon-pohon raksasa, memayungi tanah membentuk sebuah hamparan hutan megah. Mirip karpet hijau turki yang hijaunya menghilang di batas horizontal. Bertemu dengan biru lazuardi muda di dasar-dasar langit, menghubungkannya pada mahakarya lukisan yang lebih indah, berpendar biru lembut becorak awan-awan kecil di bagian yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.
Tiba-tiba angkasa biru itu meredup menjadi kelam, tak ada lagi rona biru merekah yang dihiasi simpul-simpul awan. Makin menuju dasar, makin gelap dan kotor. Kemudian menyentuh lantai bumi yang ternyata telah ditutupi jamur-jamur bangunan yang berwarna orange kelam dan terbelit semraut kabel-kebel hitam. Sungai yang dulu mengalir ceria, kini nampak murung dalam kotor dan bau. Hamparan itu terasa gelap, panas dan menyedihkan.
Cahaya matahari tak bisa lagi menyinari tulang-tulang dedaunan yang kering. Ia hanya mampu jatuh tak rela diatas kotak-kotak kecil rumah petak yang memagari pinggiran kali Ciliwung yang beberapa masa silam pernah menjadi komplek paling mirip surga. Begitulah kawan, dunia terlalu cepat berubah, meninggalkan kejayaan masa lalu dan menghadirkan kesunyian yang teredam kebisingan zaman.
Tuti, ibu 2 orang anak yang baru berumur 20 tahun sedang berusaha menidurkan Dian anak termudanya di depan kontrakannya, di salah satu sudut di komplek rumah petak itu. Walaupun Tuti sudah berusaha dari tadi, namun tangisan Dian malah makin menjadi.
“ Kenapa Ti, dari tadi aku perhatikan anakmu makin kencang saja tangisannya?”
“ Oh, Bi Ida, dari mana Bi? Silahkan mampir dulu” sambil membukakan pintu yang kemudian menampilkan ruangan yang hanya muat untuk empat orang berbaring, dengan satu kasur kapuk terlipat di pojoknya dan lantai tanah yang hanya berbalutkan kardus-kardus bekas.
“ Tidak usah repot-repot. Beneran Tut, suara tangisan Dian tidak seperti biasanya, sudah kau beri makan?”
Tuti tertunduk, ada sebongkah ludah yang menyekat tenggorokannya
“ Kenapa malah senyam-senyum? kasihan lho anak mu ini nangis terus”
Sambil masih tertunduk tuti bersuara, “ Sudah Bi tadi pagi, siang ini saya memang belum masak apa-apa”
Bi Ida memandang jam dinding, sudah jam dua siang. “Sudah jam segini, wajar saja kalau dia sudah lapar. Terus kamu bagaimana? Kamu juga makin hari terlihat makin kurus. Kamu sudah makan?”
Tuti makin menunduk. Sekat ludah di tenggorokannya makin menebal. ” Dari kemarin saya dan Mas Iwan memang belum makan Bi. Uang dari Mas Iwan digunakan untuk menutupi biaya sekolah Doni dan sewa kontrakan, sisanya hanya cukup untuk masak sarapan saja, itu pun hanya cukup untuk Dian dan Doni. Dian masih kecil, dan Doni harus belajar di sekolah, mereka lebih perlu makan ketimbang saya dan Mas Iwan”
“ Sudah sejak kapan kalian berdua tidak makan?”
“ Sejak empat hari yang lalu”
“ MasyaAllah Tut, kenapa kau bersikeras menyekolahkan doni? Bukannya biaya sekolah itu mahal, andai doni tidak sekolah, ia bisa kan membantu ayahnya bekerja kan? Hidup kalian tidak akan seperti ini kalau Doni ikut bekerja “
Tuti tersenyum. “ Mas Iwan selalu menekankan, kalau Doni harus jadi anak yang pintar, lebih pintar dari kedua orang tuanya ini. Sehingga Doni bisa mendapat pekerjaan yang layak, agar hidupnya lebih baik kelak”
Bi Ida menelan ludah, namun tak ada yang tertelan. Air liur yang selalu membasahi rongga mulutnya kini terasa kering. “ Kalian begitu tabah ya, walau hidup susah masih saja memperhatikan sekolah anak-anak mu” sambil tersenyum getir.
“ Kami hanya tak ingin membuat Doni dan Dian kelak mengalami kehidupan yang saya dan Mas Iwan rasakan saat ini ”. Bi Ida menarik nafas dalam-dalam. Kemudiania mengelus-elus kepala Dian. Tangisnya kini mereda, sekarang ia tertidur. Wajahnya begitu damai dan tentram tak mempedulikan keadaan ekonomi keluarganya. Bi Ida kemudian mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah hendak memberikannya pada Tuti.
“ Apa ini Bi?” Tuti tahu orang-orang yang tinggal di komplek rumah petak ini, tak ada yang berkecukupan, malah banyak yang lebih parah dari Tuti, Ada yang dua hari sekali baru bisa makan. Begitu pun Bi Ida yang pekerjaan suaminya sama seperti suami Tuti, sebagai pemulung. Pasti penghasilannya juga tidak banyak.
“ Ini upah dari mencuci pakaian Bu RT. Nih kamu pakai dulu, anggap saja kau meminjam, pulangkan kalau kau sudah ada uang, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Lagi pula anak mu ini sangat kurus, kalau nanti sakit bagaimana? Kamu juga terlihat pucat. Malah butuh uang yang lebih banyak untuk berobat kalau kalian berdua sakit. Pantang bagi orang miskin seperti kita ini untuk sakit Tut, obat itu mahal.”
“ Tapi Bi…“ sebelum Tuti berkata, Bi Ida menyela.
“ Tak apalah Tut, saat ini keluargamu lah yang lebih membutuhkan ketimbang keluarga ku, terima saja yah, aku kasihan sama Dian ini, sama kamu juga. Nanti sore juga suami ku pulang, kami masih punya uang untuk masak. Sudah nih diterima ya. Aku taruh di atas lantai, aku mau pulang dulu, mau cuci piring ”
Tuti hanya bisa menundukan pandangannya. Sebagai seorang ibu dan istri, ia sangat ingin walau hanya sekali seumur hidup menghidangkan masakan yang enak untuk keluarganya. Agar suaminya lebih giat bekerja, dan agar anaknya lebih rajin belajar. Namun hingga saat ini, hal itu masih merupakan khayalan belaka. Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali di waktu sarapan, Itu pun hanya cukup untuk membeli beras saja, mereka terbiasa makan nasi dengan garam.
Tuti menyambar tangan Bi Ida, kemudian menciumnya. Bi Ida merasakan puggung tangannya basah oleh air mata Tuti.
* * *
Punggungnya basah oleh keringat. Baju kumal yang ia kenakan sudah tidak mau menunjukan warna aslinya. Ia mengenakan celana panjang yang terpotong hingga lutut, memperlihatkan bonggol betis yang besar berbalut kulit hitam legam dan kotor akibat panjangnya jarak, derasnya terik dan kerasnya debu jalanan yang ia tempuh. Peluh bercucuran dari keningnya, mengalir jatuh melalui keriput yang mulai menganyam ketuaan dan pahatan gurat-gurat kesusahan di wajahnya. Wajahnya nampak lebih tua ketimbang umurnya.
Setelah berjalan dari pagi hingga siang ini karung yang bersandar di punggungnya nyaris masih kosong. Ia tengah beristirahat. Duduk di bawah pohon di pinggir jalan berlindung dari deburan terik matahari. Keringat yang tadi mengerumuni pori-pori kulitnya mulai menguap, meninggalkan jejak-jejak daki hitam lengket yang melingkar di sekeliling lehernya.
Mas Iwan sudah menggeluti pekerjaan ini sejak pertama kali ia bertarung nasib ke Jakarta bersama istrinya. Jakarta yang kata orang-orang adalah kota metropolitan dan sangat ia kagumi dulu, kini hanya nampak seperti tempat di mana manusia-manusia miskin berkumpul berebut makanan.
Waktu masih di kampung, ia begitu tertarik mendengar cerita para perantauan yang pulang kampung dengan membawa banyak barang-barang canggih dari kota . Mereka dengan bangganya menceritakan kesuksesan mereka di Jakarta kepada orang-orang di kampung. Cerita akan hingar bingar kota Jakarta membuat mas Iwan yang hanya lulusan SD dan buruh tani waktu itu benar-benar ingin pergi ke Jakarta . Penghasilannya sebagai buruh tani tidak membuatnya puas, ia ingin membahagiakan istrinya. Setelah beberapa bulan menabung, berbekal mimpi dan keberanian ia dan istrinya memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta, walaupun sanak-saudaranya banyak yang melarangnya, ia tetap bersikeras ingin pergi.
Sekarang sudah lima tahun ia di Jakarta, harapan dan mimpinya telah pupus. Ia tidak pernah berani kembali ke kampung halamannya. Ia terlampau malu pulang dengan keadaan yang babak belur seperti ini. Jakarta yang kejam hanya mengizinkannya menjadi pemulung. Setiap hari ia harus menyusuri jalan-jalan dan pasar-pasar di Jakarta . Menembus terik matahari yang panas, menghirup udara yang penuh asap knalpot, bahkan ketika hujan deras, ia harus tetap berjalan menuyusuri jalan-jalan ibu kota memunguti sampah-sampah, mengobrak-abrik tong sampah dan mengacak-ngacak got yang dipenuhi tahik-tahik manusia untuk menghidupi keluarganya. Sekarang ia sadar, agar hidup sejahtera, seseorang harus mengenyam pendidikan yang cukup. Oleh karena itu ia bertekad ia harus mampu menyekolahkan anak-anaknya bagaimanapun caranya. Ia tidak ingin Doni dan Dian mengalami kehidupan miskin seperti yang ia alami sekarang.
Terik hari ini begitu menyengat. Capek dan lelah telah menumpuk dari pagi. Memang bukan perkara mudah bagi tubuh yang sudah letih oleh umur ini untuk berjalan-jalan dari pagi hingga nyaris sore. Mas iwan terbatuk-batuk, tapi suara batuknya terdengar aneh karena lendir diparu-parunya. Sudah beberapa hari ini ia sakit. Nafasnya terasa makin hari makin berat, mungkin akibat terlalu banyak menghirup udara Jakarta yang penuh timbal dan karbon.
Di hadapannya, beberapa meter diseberang jalan raya ada sebuah gedung pertemuan besar. Di halamannya banyak mobil berbaris rapi. Beberapa orang berseragam satpam sambil memegang handy talky bulak-balik menembus kerumunan bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengenakan batik dan kebaya. Beberapa ada yang menggandeng anaknya namun lebih banyak yang tidak. Ada juga beberapa lelaki berkemeja yang menggantungkan kamera dilehernya. Namun itu semua sama sekali tidak menarik perhatian Mas Iwan. Ia begitu lemas karena belum makan, perutnya terasa perih karena kosong. Terasa sangat berat untuk meneruskan perjalanan. Matanya begitu berat, rasanya tak ada tenaga lagi yang tersisa. Nafasnya makin melambat, kelopak matanya mulai berat, rasa lapar dan keletihan yang terakumulasi membuatnya mengantuk.
Tapi tiba-tiba matanya langsung terjaga, mirip ketika selesai pertandingan sepakbola di sebuah stadion, gedung yang tadi pintunya tertutup kini dibuka, lalu sedetik kemudian tumpah manusia-manusia berjubah aneh mengenakan topi segilima bertali sambil menggenggam silinder lucu. Gerombolan berpakaian toga itu menyeruak ke halaman gedung, seperti ada yang memberi aba-aba, mereka semua melempar topi segilima itu ke udara serentak! Riuh rendah terdengar, ada yang menangis ada yang tertawa, ada yang bertepuk tangan, semua sarjana baru itu nampak benar-benar bahagia. Setelah ceremonial melampar topi itu, mendadak gerombolan itu pecah, masing-masing menyebar mencari orang tua mereka. Saat itulah para tukang foto beraksi, menawarkan jasanya pada kerumunan sarjana muda itu. Banyak lulusan yang langsung berhamburan memeluk anggota keluarga mereka. Dari wajahnya nampak begitu bahagia. Wajah ayah dan ibu mereka memancarkan aura bangga yang sangat.
Ada seseorang yang menarik perhatian Mas Iwan. Seorang anak laki-laki yang nampak kebingungan berkeliling menembus kerumunan, nampaknya sedang mencari keluarganya, kemudian mukanya kembali ceria, serta merta ia memeluk seorang laki-laki tua, badannya agak bungkuk dan lebih pendek dari anaknya. Nampak kulit wajah laki-laki itu begitu hitam terpanggang terik matahari, mengenakan sepotong batik lusuh dibadannya yang kurus (Iwan berani bertaruh, pasti pekerjaan orang ini adalah kuli sama seperti ia dulu dikampung). Ayah yang sudah tua itu begitu terharu, bangga dan bahagia menyaksikan anaknya diwisuda. Keriput yang tadinya mengerut diwajahnya nampak terurai, untuk beberapa detik wajahnya terlihat muda kembali. Derai air mata tak tertahankan, pipinya lembab oleh air mata. Begitupun anaknya, lelaki muda ganteng yang berbadan tegap itu menangis haru didepan ayahnya. Ia tidak perduli walau ayahnya nampak kampungan, namun ia begitu bangga memiliki ayah seperti itu, laki-laki tua itu mampu menyekolahkan dirinya hingga menjadi sarjana. Seorang pahlawan sejati baginya. Mereka berpelukan begitu lama. Setelah puas melepas rasa bangga dan bahagia, anaknya menggandengnya pada seorang tukang foto. Ayahnya hanya mampu menurut saking bahagianya. Setelah menyiapkan latar yang bagus, dengan senyum mengembang diwajah masing-masing (ayahnya nampak agak canggung berpose dihadapan kamera) momen itu terabadikan dengan sangat baik.
Berkas kebahagiaan dari ayah dan anak itu mengendap dalam benak Mas Iwan. Tanpa sadar bibirnya mengurai senyum. Matanya mulai berair. Dadanya bergetar. Ingin sekali rasanya ia memiliki momen itu bersama keluarganya. Berfoto sekeluarga bersama Doni yang sedang mengenakan toga.
Seperti mendapat tenaga baru, Mas Iwan berdiri. Lutut, punggung dan kelopak mata yang tadi letih kini terasa sangat ringan akibat pemandangan tadi. Namun tiba-tiba ia terbatuk. Batuknya sangat keras, hingga ia harus mengepalkan tanganya di depan mulutnya untuk mengurangi rasa sakit akibat batuk itu. Batuknya makin keras, sekarang ia terpaksa menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba saja tenggorokan dan dadanya seperti disengat tawon, sakitnya minta ampun, lalu seberkas merah lengket menyembur dari dadanya meluncur melalui mulutnya kemudian mendarat di genggaman tangannya. Darah merah segar. Matanya memerah kaget. Lututnya langsung lemas, nyaris saja ia tumbang, namun kemudian ia mendengar tawa riang dari kerumunan serjana tadi. Ia memandangi bapak dan anak yang dari tadi ia perhatikan, kali ini anaknya dengan bangganya mengenalkan ayahnya kepada teman-temannya. Mas Iwan menarik nafas dalam-dalam dan membersikan darah dengan bajunya yang kumal. Terbayang dirinya dan Doni yang ada disana saat itu. Kemudian ia meneruskan perjalannannya, kembali berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Sepanjang perjalanan terkadang ia terbatuk-batuk kecil.
* * *
“ Mau coba merk baru ?”
Ia mengambil sebatang rokok fiter dari kotaknya. Lalu mengambil korek gas kuning dari sakunya. Memilin tembakau dan rempah yang terbungkus kertas dengan ujung-ujung jarinya. Lalu menghimpit batang rokok kecil itu dengan bibirnya. Tangan kanan mematikkan pelatuk geretan sehingga sesaat muncul percikan api kecil yang langsung disambut aliran uap gas yang kemudian menjadi pendaran api merah kecil, tangan kirinya menghadang angin dengan agak menguncupkan telapak dan jari-jarinya menutupi bibir dan rokoknya. Ujung rokok itu terbakar, melalui rokok tersebut, oksigen yang ingin memasuki paru-paru digandeng oleh nikotin dan ribuan racun lainnya, meluncur melalui tenggorokan yang kemudian memenuhi dinding-dinding paru-paru. Mengendap di dalam sana hingga menghitam. Detik berikutnya asap putih berlomba keluar dari lubang hidungnya, setelah berpapasan dengan udara luar asap-asap itu membentuk semacam pita yang melayang, sedikit demi sedikit bergerak naik dan terurai hilang dari pandangan.
Ia menarik nafas dalam-dalam melalui rongga rokok tersebut. Bunga api yang bertengger diujung rokoknya menari-nari dengan meriah. Ada perasaan menentramkan setelah menghisap rokok itu.
TEEEET !!!!! bel berbunyi, pertanda jam istirahat selesai. Pintu WC belakang sekolah terbuka, empat anak berseragam SMP dengan dandanan berantakan keluar dari ruang bau itu, salah satunya Doni. Seorang anak memanjat tembok, kemudian diikuti oleh tiga yang lainnya. Detik berikutnya mereka sudah berada di kebun belakang tembok sekolah, lalu berlarian menjauh entah kemana.
* * *
Di rumah (andai masih layak disebut rumah) Tuti sedang memasakkan dua bungkus mi untuk suami dan anaknya. Mas iwan yang telah bekerja seharian pasti lapar. Doni juga, pasti dia kelaparan setelah seharian sekolah apalagi kalau ada PR, Doni akan butuh tenaga ekstra untuk mengerjakan PRnya. Betapa terkejutnya mereka ketika pulang nanti sudah ada hidangan hangat tersedia. Dian sudah tidur kekenyangan setelah tadi di beri makan semangkuk bubur hangat. Tuti senyum-senyum kecil karena bahagia. Walaupun bukan makanan mahal, namun bagi keluarganya ini sudah merupakan makanan yang mewah. Pasti mereka akan makan dengan lahap nantinya. Doni akan lebih besemangat belajar sehingga mendapat juara kelas dan Mas Iwan lebih bersemangat bekerja sehingga mendapat barang bekas yang lebih banyak. Lagi-lagi tersungging rekahan senyum dari bibir Tuti.
Hamparan rumah petak itu kemudian kembali menjadi hutan belantara hijau. Pohon-pohon tiba-tiba berjatuhan dari langit kemudian menancap berjajar tak beraturan ditanah yang diselimuti lelumutan. Membentuk mozaik alam yang indah, apalagi dihiasi dengan aliran sungai yang jernih dan segar, membentang berkelok di sepanjang reliefnya, lalu menghilang di ujung batas horozontal, bersentuhan dengan sang lazuardi, lukisan paling megah yang menjulang tanpa batas dengan percikan-percikan awan putih menari membentuk pola-pola artistik alami. Agungcahyanugraha/h24070049
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)