20130131

Sore di Saat Senja



Sore masih muda saat kamu tiba-tiba mengetuk pintu rumah. Kamu menyapaku ramah dengan tersenyum. Aku menatapmu lekat-lekat seperti anak kecil di toko mainan saat dirimu menjelajahkan pandanganmu mengelilingi seluruh rumah. Ada aroma kangen dari pancaran matamu.
“Kamu masih berjualan empek-empek?” katamu sambil menghempas tubuh ke kursi, sekaligus mengusik tampang bingung dan kaget aku.
Aku berjalan menuju dapur.
Ma’ mano[1]? Stroek-mu?” katamu khawatir, melihat cara berjalanku yang makin aneh.
Aku berhenti sejenak, “cak[2] ini lah,” sambil tersenyum.
Kamu meremas empek-empek dengan telunjuk dan ibu jarimu, makanan itu merekah mengepulkan asap putih, aroma ikan giling lembut menyelinap ke hidung. Kamu buru-buru membenamkannya ke dalam cairan cuko hitam kental pekat.
“Kangen nian aku, rasanyo idak[3] berubah sama sekali,” katamu senang. Lidahmu beberapa kali menjilati bibir yang basah. Kamu makan lahap sekali.
“Lapar?” kataku sambil tersenyum. Kamu mengangguk, masih sibuk melahap.
Sebuah getek[4] melintas melintang membelah sungai, menghasilkan gelombang agak tinggi yang merambat lembut hingga menggoyang-goyangkan lapisan lumut hijau yang menempeli tunggak[5] gelam rumah panggung kami, membuat pantat kita sedikit bergetar. Kamu  tersenyum, merindu getaran ini rupanya.
Atapnyo belum kau ganti? Nda bocor kalu hujan?” dengan mulut penuh. Aku menggeleng, sumringah menatapmu yang lahap makan.
Seperti rumah-rumah yang berjajar tak beraturan di sepanjang anak Sungai Musi ini, rumah ini memiliki dinding dari kayu yang dipaku-paku dan atap dari daun kelapa yang dianyam. Walau warna kayunya sudah luntur keabuan diredam cuaca dan lumut-lumut lembab, rumah ini masih kokoh.
Mano Panji?” katamu setelah melihat ke seberang, gerombolan berseragam merah-putih pecah menyebar keluar dari rumah sekolah.   
“Sebentar lagi pulang,” kataku.
Tatapanmu menyapu kawasan seberang lebih teliti, memandangi rumah sekolah yang pernah menjadi tempat belajar kita. Kamu masih terus mengikuti titik-titik merah-putih yang bergerak-gerak, sebagian membentuk segaris antrian menyusuri pinggiran sungai, sisanya menaiki sampan bergerak menyembrang. Kamu tersenyum lalu menghirup lebih banyak aroma sungai yang pekat kecoklatan dan ramai oleh ikan.
Atap langit masih biru pucat, dengan utas-utas awan perak tipis yang berdesakan di dinding langit mengingatkanmu pada kegiatan kita berdua saat masih berseragam. Kita sering meminjam sampan kakek untuk menyusuri pepohonan bakau yang memagari pinggiran sungai. Sambil membawa alat pancing, kita mencari pojokan akar bakau yang menjadi tempat berkumpul ikan-ikan juwaro.
“Ganti dulu lah seragammu itu, kage[6] kena marah emak,” katamu sambil melotot. Aku melompat begitu saja ke atas sampan. Benda mengapung itu bergoyang di atas permukaan air yang hijau, hijau karena musim hujan. Detik berikutnya sampan yang kita naiki terbalik, kita berdua tenggelam.
Kepala kita muncul basah, berkilau-kilau dihujani cahaya senja. Kepalaku tiba-tiba  sakit kena pukul.
“Baju tidurku jadi basah!!” Katamu marah sambil menyemburkan air dari mulut, matamu merah kemasukan air keruh.
“Baju seragamku juga,” kataku tertawa sambil mengelus-elus kepalaku. Kita berkecipakan berusaha tetap mengapung.
Senja itu kita habiskan dengan bercerita sambil memancing diantara akar bakau tua hingga gelap turun. Sepulangnya kita kena marah karena baju kita sama-sama basah. Esoknya kita juga sama-sama tidak masuk sekolah karena masuk angin.    
Aku tersenyum mengingat masa itu. Kamu menangkap senyumanku.
“Kamu kelihatan lebih bahagia sekarang?” katamu. Kamu mengusap-usapkan jemarimu pada pegangan kursi, membersihkan minyak empek-empek.
“Kamu juga,” kataku. Kita saling tersenyum.
Matahari perlahan surut, membuat lantai sungai makin memerah. Pasang sungai membuat jarak lantai rumah dengan permukaan air tinggal beberapa jengkal saja, getarannya makin terasa.
Kamu mengawasi wajahku lekat-lekat tiba-tiba. Alismu yang dijatuhi remah-remah senja mengkerut pelan.
Apo dio?” kataku bingung. Kamu beranjak masuk kamar, lalu keluar lagi dengan alat cukur di genggaman, rupanya masih hafal isi rumah ini.
“Kamu idak pernah ngaca lagi ya?” katamu ketus, lalu berlutut dan meraih daguku lembut-lembut.
Wajahku menegang kaget, ada sesuatu yang dingin medarat di rahangku. Satu tanganmu bergrilya pelan-pelan, jemarimu yang lain menopang rahangku lembut.
“Jangan janggutnya,” kataku berhati-hati berharap wajahku tidak tergores. Kamu mengangguk dikuti beberapa helai kumisku yang berjatuhan ke lantai kayu yang karpet plastiknya bolong di sana-sini.
Tanganmu diam, rupanya telah selesai, memeriksa hasil kerjamu. Sejenak kemudian tatapan kamu dan aku bertemu. Bola mata beningmu berkilauan, dengan iris cokelat pekat bergerigi dan alis hitam melengkung tipis. Mata paling indah yang pernah kulihat.
Tiba-tiba ada sesuatu yang meresap hangat di dadaku.
Kamu berdehem sambil melepas jemarimu. Aku buru-buru melempar tatapanku ke sungai, sambil meraba-raba kumisku yang sudah rata. Sudah lama kita tidak melakukan ini, ada hawa bahagia menjalariku. Aku tersenyum tipis.
Pintu diketuk, kita berdua menoleh. Sosok berseragam berlari, menimbulkan bunyi “duk-duk” keras di lantai lalu menubruk memeluk tubuhmu.
“Emaak!!” Suara Panji hilang dalam dadamu. Ada genangan haru di mata cokelatmu. Kamu merengkuh anak kita dalam-dalam.
Panji mendorong tubuhnya pelan, memeriksa ransel hitamnya yang nyaris putus, mengeluarkan sebuah ‘mbem’—sejenis buah mangga—yang masih mentah. Getahnya yang mengering berkilat-kilat kuning di permukaannya yang hijau.
“Untuk emak,” katanya sambil tersenyum.
Dulu, di desa kita ini banyak pohon mbem tua yang menjulang tinggi-tinggi ke langit. Saking tingginya, hanya beberapa orang saja yang berani naik hingga pucuk[7]. Kita, anak-anak ingusan, hanya bisa mandangi buah-buah mbem yang lezat itu dari bawah, berharap pohon kekar itu mau merunduk untuk kita. Kabar baiknya, buah-buah itu biasa barjatuhan saat tertiup angin husim hujan. Anak-anak akan berlarian sumringah saat hujan dan angin besar turun, menuju kebun pohon mbem, sambil tertawa cekikikan saling berebut saat mbem-mbem itu berjatuhan ke bumi.
Suatu sore, hujan turun lebat bersama angin kencang. Aku izin ke toilet pada guruku, padahal jelas-jelas berlari melintasi halaman sekolah, menembus hujan lebat dan angin kencang menuju kebun. Berebut mbem dengan anak-anak lain dan kembali dengan seragam basah dan lutut kotor oleh tanah. Aku kena tampar pak guru.
“Kau sih lolo[8], ngapo[9] hujan-hujanan?” katamu saat pulang sekolah. Aku masih memegangi pipiku yang masih panas. Lembayung masih terhalang gumpalan awan yang sedang bergerimis di atas kepala kita.
Aku merogoh kantong, dan menyerahkan mbem yang kudapat dengan penuh perjuangan itu. Kamu tesenyum sambil menggenggam mbem hasil usahaku. Sejak itu, di bawah hujan rintik-rintik dan sinar lembayung yang menyelinap malu-malu di antara awan sore, kita resmi berpacaran.
Ngapo kamu tiba-tiba ke sini?” Sayup terdengar riak air memukul-mukul lantai jeramba belakang rumah kami. Malam ini ranjang reotku terisi tiga orang, Panji yang sudah terlelap terbaring di antara kita, memeluk erat kamu.
Aku menengadah memandang atap yang daun kelapanya berjuntai-juntai diterangi lampu teplok. “Sudah tiga tahun,” tambahku. Serangga bersayap bergerak-gerak sunyi dekat corong lampu.
Bibirmu diam.
Stroek hanya membolehkanku berjualan empek-empek dari rumah. Aku tak tega membiarkanmu hidup nelangs. Dengan berat hati aku menceraikanmu. Kamu merelakan Panji tinggal bersamaku, kamu tahu aku tak punya siapa-siapa lagi.
“Aku hanya rindu,” suaramu terdengar kering dan dingin.
Setelah itu kita saling diam, ditemani suara jangkrik yang menyelinap pelan dari semak kolong rumah.
Paginya aku bangun dan tubuhmu sudah tidak ada di situ. Kamu mungkin pergi ikut speed[10] subuh tadi. Pergi sendirian, di tengah gelap, kedinginan dan tanpa pamit.

Di suatu senja yang sama HP-ku berbunyi. SMS masuk, dengan tanggal pengiriman kemarin. Bagi desa kami yang sinyalnya datang dan pergi bersamaan angin, SMS telat sehari dua hari adalah biasa.
Aku berjalan pelan menuju beranda dengan senyum terkulum. Cahaya senja berjatuhan lembut menyapu dedaunan bakau dan atap-atap daun kelapa. Langit yang ranum berpantulan pada coklat pekat air sungai yang bergerak-gerak, membentuk hamparan nan meriah. Suara tunggak gelam yang dipukul-pukul gelombang berbaur dengan kicau riang sekawanan burung walet yang terbang ringan di atas.

Aku akan menikah besok.[]






[1] Bagaimana. Orang Palembang biasa mengganti akhiran ‘a’ menjadi ‘o’ pada bahasa mereka
[2] Seperti
[3] Tidak
[4] Semacam perahu kecil dengan mesin tempel, sering digunakan untuk menyebrangi sungai
[5] Kayu bulat yang ditancapkan ke dasar sungai, biasanya untuk tiang rumah panggung
[6] Nanti
[7] Atas
[8] Bodoh
[9] Mengapa
[10] Perahu cepat, dikota disebut speed boat

2 comments:

please, tinggalkan comment kamu :)