“Pak, teh botol
dingin,” pintaku. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum maklum. Dia tahu
maksudku hendak berhutang.
Langit sedang
cemberut, matahari tak berani mengintip. Aku yakin sebentar lagi hujan akan
turun.
Kepalaku diketuk-ketuk
tetesan hujan, maksudku, topi baseball
kesayanganku yang di ketuk-ketuk. Benar saja, hujan sudah mulai tumpah. Lantai
bumi yang kehausan bersuka hati. Aku memejamkan mata, menghirup aroma tanah
saat dijilati hujan, membayangkan tiap tetes air hujan mendarat di atas tanah. Aku
tersenyum. Tak pernah bosan aku mencium aroma yang muncul saat hujan menyentuh
tanah, sembari memandangi jalanan dan pepohonan yang mulai basah berkilat-kilat.
Tanpa aba-aba
dari siapapun, orang-orang mulai berlarian (panik) mencari tempat berteduh. Aku
tesenyum (lagi). Nyaris dua tahun di sini, ini hal kedua yang aku sukai dari
hujan di Bogor. Aku juga selalu senang menyaksikan parade orang-orang yang
berlarian panik menghindari gempuran sang hujan. Padahal tak ada insruksi dari
siapa-siapa tapi orang-orang ini bisa begitu kompak. Aku cekikikan sendiri.
Setelah puas mencium
bau tanah dan menikmati parade, aku buru-buru menutup kanvas dan peralatan
lukisku dengan terpal—ini sumber penghidupanku, gawat kalau rusak kehujanan—aku
berlarian memilih tempat berteduh, bergabung dengan mereka.
Saat aku mulai
melangkah, mataku menangkap sesosok anak kucing putih. Kucing kecil itu
sendirian di dera hujan. Kemana ibunya? Aku segera berlari, kemudian
memeluknya, menyelamatkannya dari hujan yang mulai deras. Nampaknya malam ini
penghuni kostanku akan bertambah (lagi).
Setiap melihat
kucing, Aku jadi ingat adikku. Dia suka sekali kucing, makanya aku tak tega.
Aku berlari
menembus hujan, di sudut kanopi yang ramai itu, aku melihat seorang gadis.
Gadis mungil dengan topi rajut. Wajahnya penuh dengan bintik matahari menarik
perhatianku. Pasti bukan asli orang Bogor.
Sejak hujan
kemarin, aku jadi sering menemukan gadis mungil bertopi rajut dan berbintik
matahari di sekitar pelataran gerbang Kebun Raya ini. Berdiri sendirian
membagikan lembaran kuisioner.
Mahasiswa
tingkat akhir mungkin. Aku menggaruk daguku. Aduh janggut dan kumisku sudah
berantakan sekali. Kawan, Aku bukannya malas bercukur, maksudku, aku memang seniman,
tapi seniman yang juga peduli penampilan. Aku tidak mau orang jijik karena
tampangku dan mempengaruhi orderanku. Rambut ikal panjangku saja sengaja aku
ikat, bukti kalau aku masih mengenal tata kerapihan. Aku hanya belum sempat
bercukur, terlalu lelah saat sampai kostan hingga tak sempat mengurus tampangku
sendiri. Malam ini mungkin akan aku sempatkan.
Seru sekali
memandangi kamu dari jauh. Kamu berhilir mudik menyerahkan kuisioner kepada
orang yang baru keluar dari kebun raya. Menjelaskan cara mengisinya, menunggui
mereka dengan sabar, sesekali menjawab pertanyaan sambil tersenyum-senyum ramah.
Setelah selesai, kamu memberikan cindera mata berupa gantungan kunci unik dari
ukiran batok kelapa mungil.
Harimu pasti
sangat melelahkan. Aku melihat keningmu mulai dibasahi butir-butir keringat.
Siang itu, saat
aku sedang asyik membuat sketsa, jauh di seberang jalan aku melihatmu menabrak
seseorang. Awalnya aku tak yakin, soalnya hari itu kamu tidak mengenakan topi
rajutmu. Namun ketika melihat lembar-lembar kuisionermu berhamburan ke tanah,
dan tingkahmu yang selalu terlihat agak kikuk saat mengumpulkannya, aku yakin
itu adalah kamu, si topi rajut.
Aku hendak
berlari menghampirimu andai saja orang-orang yang sedang berlalu-lalang di
dekatmu tidak ikut membantu. Ketika aku duduk kembali, aku tertegun. Sejak
kapan aku mulai memperhatikan kamu? Sejak kapan aku mulai suka memandangimu
dari jauh? Bahkan aku mulai tergerak untuk menyebrangi pelataran untuk membantumu.
Kita bahkan tak saling kenal, baru beberapa hari ini aku menemukanmu. Bahkan
mungkin kamu tak tahu kalau aku ini ada. Aku meraba dadaku, jantungku berdetak
keras sekali.
“Iya Nek,”
kataku. Seorang nenek menyerahkan selembar foto. Foto nenek ini saat dia muda.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku dididik untuk sopan terhadap orang
tua, walau permintaan nenek ini agak ribet,
aku berusaha memenuhinya.
Sore itu Bogor
sedang cerah ceria. Biasanya sore selalu hujan, selalu itu artinya, ya selalu.
Bogor seperti tidak memiliki musim. Ia akan hujan sekehendaknya, padahal pepohonan
di kota lain sedang meranggas. Tapi kali ini langit bersih, hanya seutas tipis
awan mengambang sendirian.
Di sudut itu, di
atas tempat duduk dari kayu tua yang sudah memfosli, kamu duduk sendirian.
Memotret dengan nikon-mu. Suka fotografi juga ternyata, masih pemula tampaknya,
kemeramu seri beginner soalnya. Kamu
sesekali tersenyum saat memeriksa hasil potretanmu. Senyummu itu, aku suka
sekali melihatnya. Apa lagi dengan cahaya oranye senja yang menembus
celah-celah pohon raksaksa di belakangmu. Bilah-bilah cahaya senja itu
membentuk latar gradasi yang cantik. Hatiku jadi sejuk sendiri.
Aku kemudian
mengambil kanvas kosong, memilih pinsil terbaikku. Dan detik berikutnya
tanganku sudah sibuk sendiri. Aku pasti sudah benar-benar gila.
Pagi itu aku baru
saja selesai membuka lapak, agak telat memang. Seperti Bogor pada pagi-pagi
sebelumnya, walau masih pagi tapi orang-orang sudah sibuk berlalu-lalang.
Baiklah,
sekarang aku siap memulai hariku. Aku membuka kursi lipat yang kubeli sebulan
lalu di kereta. Aku menjepit foto nenek kemarin di pojok kanan atas kanvas.
Sketsa kasarnya sudah jadi, selanjutnya adalah memberi warna dasar.
Aku mulai
mengeluarkan peralatan warna, mencampur warna ini-itu di dalam palet. Ketika
aku mendongak, kamu sedang mematung di depanku.
Aku kaget bukan
main. Kenapa kamu berdiri di situ? Ini kan masih pagi, biasanya kamu baru ke
sini setelah siang. Dengan wajah memerah dan nafas yang naik turun. Baru lari
pagi? Tapi kamu mengenakan pakaian resmi dan sedang memeluk berkas.
Wajahmu terlihat
pucat anehnya, aku mengikuti arah matamu. Tak butuh satu detik untuk tahu apa
alasanmu mematung di situ.
Aku lupa, karena
buru-buru tadi—aku membeli susu kotak untuk kucing-kucing yang kupungut—aku malah
memajang sketsa wajahmu. Sumpah aku lupa sekali. Aku merasa malu. Aku
tertangkap basah. Menggambar wajah seseorang, yang bahkan belum aku kenal tanpa
izin. Wajar saja kamu kaget, aku pasti juga kaget kalau wajahku tiba-tiba
digambar orang lain tanpa izin.
Kamu memandangku
tajam sekali. Pandangan itu menelanjangiku. Aku benar-benar merasa tak enak,
wajahku pasti sudah merah sekali.
Baru kali ini
kita berada sedekat ini, jantungku berdegup cepat sekali. Sayangnya sedang dalam
suasana yang tidak bagus.
Kita saling
terdiam lama, cukup lama hingga selembar daun bisa gugur dari ranting di atas
kita dan mendarat di atas sepatumu. Jujur aku bingung harus melakukan apa. Malu
sekali rasanya. Aku ingin segera lenyap saja dari dunia ini.
Aku pelan-pelan
menjulurkan tanganku akhirnya. Apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah benar-benar
tertangkap basah begini. Lagi pula aku tidak mau kamu membenciku hanya karena
masalah yang, well, walau tidak bisa
dibilang sepele.
“Maaf
menggambarmu tanpa ijin,” adalah kalimat paling bagus yang terlintas di
pikiranku. Tenggorokanku terasa kering.
Senang sekali
rasanya, aku seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat permen gulali
raksaksa. Aku tahu namamu, genggaman tanganmu yang mungil dan lembut itu masih
terasa hangat di antara jemariku. Aku tak bisa untuk tidak terus tersenyum sepanjang
hari ini.
“Kenapa Bang,
senyum-senyum terus?” seorang pengamen jalanan menyapa heran.
“Kamu haus ngga?
Ambil dua teh botol buat kita, hari ini harus dirayakan,” kataku riang. Padahal
dompetku sedang tipis-tipisnya.
Tidak butuh
waktu lama untuk membuat kita akrab. Maskudku, aku bukan orang yang suka
bergaul. Bahkan setelah hampir dua tahun pindah ke sini, aku hanya kenal dengan
seorang pengamen yang kemarin, beberapa artis jalanan sepertiku dan tukang teh
botol di depan sana. Aku memang bukan orang yang suka bergaul, dan melukis
makin membuatku sibuk dengan diriku sendiri.
Tapi ketika aku
mulai mengobrol denganmu, aku merasa sangat cocok. Maksudku, kau tahu, tak
butuh waktu lama untuk membuatku tertawa lepas di depanmu tanpa merasa malu
lagi. Suaramu itu selalu terdengar merdu di telingaku, aku makin senang
mendengar kamu berbicara.
“Mereka akan
kerepotan,” kataku yakin, menunjuk gerombolan anak TK yang baru keluar dari
gerbang Kebun Raya. Sudah saatnya aku membuatnya terkesan. Ayolah, aku kan yang
jadi laki-laki di sini.
Kamu nampak
bingung.
“Sebentar lagi
akan hujan, dan mereka tidak membawa payung,” aku menjelaskan.
Kamu mengangguk
pelan, tidak tertarik. Aduh, gagal. Dia tidak tekesan sama sekali. Baiklah, aku
harus mencari cara lain.
“Topi rajutmu
bagus, beli di mana?” kataku, biasanya wanita kan senang sekali dipuji.
Dan kamu
tersenyum, lebar sekali.
“Hadiah dari
ibu...” katamu.
Hatiku meloncat
girang, tampaknya topik topi rajut ini akan menyenangkan untuk kita bahas.
Maksudku, aku memang tertarik pada topinya, dan baru kali ini punya kesempatan
untuk membahasnya. Bintik matahari di pipimu sangat cocok dengan topi ranjutmu
itu soalnya.
Hujan turun
langsung deras beberapa detik kemudian. Aku mendongak, perkiraanku tidak
meleset. Bogor memang suka sekali mengagetkan penduduknya dengan tetesan hujan
yang melompat diam-diam dari langit.
“Tuh kan,” kataku. Kamu tersenyum, nampak benar-benar
terkesan.
Aku mengajakmu
berteduh, nanti kamu bisa masuk angin kalau kubiarkan terus kehujanan seperti
ini. Kita segera bergabung dengan anak-anak TK itu.
Di bawah kanopi
itu aku merasa sangat beruntung bisa berada di sampingmu, aku bahkan bisa mencium
aroma rambutmu. Di bawah hujan Bogor yang menurutku sangat romantis ini, aku
menyadari perasaanku. Diam-diam aku ingin kita terus bersama seperti ini.
“Kenapa, kamu
melukis wajahku?” katamu tiba-tiba. Aku kaget bukan main, seperti ada sebuah
palu mahaberat dari langit yang jatuh menghantam ubun-ubunku.
Aku diam,
bingung mencari jawaban. Sekaligus malu, aku menunduk hingga daguku menyentuh
dada.
Kamu masih diam,
berdiri di sampingku sambil memainkan ujung sepatumu menunggu jawaban. Mungkin
kamu kesal karena aku diam saja sejak tadi.
Kemudian,
tanganku begerak sendiri, seperti ada sesuatu yang menggerakkan—sumpah, itu
bukan aku—tanganku meraih tanganmu, menautkan
jemariku diantara jemarimu. Jemarimu yang mungil dan hangat.
Aku bisa
merasakan kamu mendongak mencari wajahku. Aku tak bisa menahan untuk tidak
tersenyum, aku merasakan pipiku pelan-pelan memanas.
Perlahan kamu
mulai mengeratkan jemarimu. Dadaku menghangat dan senyumku terbit makin lebar.
[]
nice ending story.... :)
ReplyDeletehayu lah...jadikan buku kumpulan cerpen... ;)
detail sekali dlm mendeskripsikan tiap moment dan situasi yg ada dlm cerita....bagus..semangat ya...