20130408

Kebun Raya (end)

“Pak, teh botol dingin,” pintaku. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum maklum. Dia tahu maksudku hendak berhutang.  
Langit sedang cemberut, matahari tak berani mengintip. Aku yakin sebentar lagi hujan akan turun.
Kepalaku diketuk-ketuk tetesan hujan, maksudku, topi baseball kesayanganku yang di ketuk-ketuk. Benar saja, hujan sudah mulai tumpah. Lantai bumi yang kehausan bersuka hati. Aku memejamkan mata, menghirup aroma tanah saat dijilati hujan, membayangkan tiap tetes air hujan mendarat di atas tanah. Aku tersenyum. Tak pernah bosan aku mencium aroma yang muncul saat hujan menyentuh tanah, sembari memandangi jalanan dan pepohonan yang mulai basah berkilat-kilat.
Tanpa aba-aba dari siapapun, orang-orang mulai berlarian (panik) mencari tempat berteduh. Aku tesenyum (lagi). Nyaris dua tahun di sini, ini hal kedua yang aku sukai dari hujan di Bogor. Aku juga selalu senang menyaksikan parade orang-orang yang berlarian panik menghindari gempuran sang hujan. Padahal tak ada insruksi dari siapa-siapa tapi orang-orang ini bisa begitu kompak. Aku cekikikan sendiri.
Setelah puas mencium bau tanah dan menikmati parade, aku buru-buru menutup kanvas dan peralatan lukisku dengan terpal—ini sumber penghidupanku, gawat kalau rusak kehujanan—aku berlarian memilih tempat berteduh, bergabung dengan mereka.
Saat aku mulai melangkah, mataku menangkap sesosok anak kucing putih. Kucing kecil itu sendirian di dera hujan. Kemana ibunya? Aku segera berlari, kemudian memeluknya, menyelamatkannya dari hujan yang mulai deras. Nampaknya malam ini penghuni kostanku akan bertambah (lagi).
Setiap melihat kucing, Aku jadi ingat adikku. Dia suka sekali kucing, makanya aku tak tega.
Aku berlari menembus hujan, di sudut kanopi yang ramai itu, aku melihat seorang gadis. Gadis mungil dengan topi rajut. Wajahnya penuh dengan bintik matahari menarik perhatianku. Pasti bukan asli orang Bogor.

Sejak hujan kemarin, aku jadi sering menemukan gadis mungil bertopi rajut dan berbintik matahari di sekitar pelataran gerbang Kebun Raya ini. Berdiri sendirian membagikan lembaran kuisioner.
Mahasiswa tingkat akhir mungkin. Aku menggaruk daguku. Aduh janggut dan kumisku sudah berantakan sekali. Kawan, Aku bukannya malas bercukur, maksudku, aku memang seniman, tapi seniman yang juga peduli penampilan. Aku tidak mau orang jijik karena tampangku dan mempengaruhi orderanku. Rambut ikal panjangku saja sengaja aku ikat, bukti kalau aku masih mengenal tata kerapihan. Aku hanya belum sempat bercukur, terlalu lelah saat sampai kostan hingga tak sempat mengurus tampangku sendiri. Malam ini mungkin akan aku sempatkan. 
Seru sekali memandangi kamu dari jauh. Kamu berhilir mudik menyerahkan kuisioner kepada orang yang baru keluar dari kebun raya. Menjelaskan cara mengisinya, menunggui mereka dengan sabar, sesekali menjawab pertanyaan sambil tersenyum-senyum ramah. Setelah selesai, kamu memberikan cindera mata berupa gantungan kunci unik dari ukiran batok kelapa mungil.
Harimu pasti sangat melelahkan. Aku melihat keningmu mulai dibasahi butir-butir keringat.
Siang itu, saat aku sedang asyik membuat sketsa, jauh di seberang jalan aku melihatmu menabrak seseorang. Awalnya aku tak yakin, soalnya hari itu kamu tidak mengenakan topi rajutmu. Namun ketika melihat lembar-lembar kuisionermu berhamburan ke tanah, dan tingkahmu yang selalu terlihat agak kikuk saat mengumpulkannya, aku yakin itu adalah kamu, si topi rajut.
Aku hendak berlari menghampirimu andai saja orang-orang yang sedang berlalu-lalang di dekatmu tidak ikut membantu. Ketika aku duduk kembali, aku tertegun. Sejak kapan aku mulai memperhatikan kamu? Sejak kapan aku mulai suka memandangimu dari jauh? Bahkan aku mulai tergerak untuk menyebrangi pelataran untuk membantumu. Kita bahkan tak saling kenal, baru beberapa hari ini aku menemukanmu. Bahkan mungkin kamu tak tahu kalau aku ini ada. Aku meraba dadaku, jantungku berdetak keras sekali.

“Iya Nek,” kataku. Seorang nenek menyerahkan selembar foto. Foto nenek ini saat dia muda. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku dididik untuk sopan terhadap orang tua,  walau permintaan nenek ini agak ribet, aku berusaha memenuhinya.
Sore itu Bogor sedang cerah ceria. Biasanya sore selalu hujan, selalu itu artinya, ya selalu. Bogor seperti tidak memiliki musim. Ia akan hujan sekehendaknya, padahal pepohonan di kota lain sedang meranggas. Tapi kali ini langit bersih, hanya seutas tipis awan mengambang sendirian.
Di sudut itu, di atas tempat duduk dari kayu tua yang sudah memfosli, kamu duduk sendirian. Memotret dengan nikon-mu. Suka fotografi juga ternyata, masih pemula tampaknya, kemeramu seri beginner soalnya. Kamu sesekali tersenyum saat memeriksa hasil potretanmu. Senyummu itu, aku suka sekali melihatnya. Apa lagi dengan cahaya oranye senja yang menembus celah-celah pohon raksaksa di belakangmu. Bilah-bilah cahaya senja itu membentuk latar gradasi yang cantik. Hatiku jadi sejuk sendiri.
Aku kemudian mengambil kanvas kosong, memilih pinsil terbaikku. Dan detik berikutnya tanganku sudah sibuk sendiri. Aku pasti sudah benar-benar gila.

Pagi itu aku baru saja selesai membuka lapak, agak telat memang. Seperti Bogor pada pagi-pagi sebelumnya, walau masih pagi tapi orang-orang sudah sibuk berlalu-lalang.
Baiklah, sekarang aku siap memulai hariku. Aku membuka kursi lipat yang kubeli sebulan lalu di kereta. Aku menjepit foto nenek kemarin di pojok kanan atas kanvas. Sketsa kasarnya sudah jadi, selanjutnya adalah memberi warna dasar.
Aku mulai mengeluarkan peralatan warna, mencampur warna ini-itu di dalam palet. Ketika aku mendongak, kamu sedang mematung di depanku.
Aku kaget bukan main. Kenapa kamu berdiri di situ? Ini kan masih pagi, biasanya kamu baru ke sini setelah siang. Dengan wajah memerah dan nafas yang naik turun. Baru lari pagi? Tapi kamu mengenakan pakaian resmi dan sedang memeluk berkas.
Wajahmu terlihat pucat anehnya, aku mengikuti arah matamu. Tak butuh satu detik untuk tahu apa alasanmu mematung di situ.
Aku lupa, karena buru-buru tadi—aku membeli susu kotak untuk kucing-kucing yang kupungut—aku malah memajang sketsa wajahmu. Sumpah aku lupa sekali. Aku merasa malu. Aku tertangkap basah. Menggambar wajah seseorang, yang bahkan belum aku kenal tanpa izin. Wajar saja kamu kaget, aku pasti juga kaget kalau wajahku tiba-tiba digambar orang lain tanpa izin.
Kamu memandangku tajam sekali. Pandangan itu menelanjangiku. Aku benar-benar merasa tak enak, wajahku pasti sudah merah sekali.
Baru kali ini kita berada sedekat ini, jantungku berdegup cepat sekali. Sayangnya sedang dalam suasana yang tidak bagus.
Kita saling terdiam lama, cukup lama hingga selembar daun bisa gugur dari ranting di atas kita dan mendarat di atas sepatumu. Jujur aku bingung harus melakukan apa. Malu sekali rasanya. Aku ingin segera lenyap saja dari dunia ini.
Aku pelan-pelan menjulurkan tanganku akhirnya. Apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah benar-benar tertangkap basah begini. Lagi pula aku tidak mau kamu membenciku hanya karena masalah yang, well, walau tidak bisa dibilang sepele.
“Maaf menggambarmu tanpa ijin,” adalah kalimat paling bagus yang terlintas di pikiranku. Tenggorokanku terasa kering.

Senang sekali rasanya, aku seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat permen gulali raksaksa. Aku tahu namamu, genggaman tanganmu yang mungil dan lembut itu masih terasa hangat di antara jemariku. Aku tak bisa untuk tidak terus tersenyum sepanjang hari ini.
“Kenapa Bang, senyum-senyum terus?” seorang pengamen jalanan menyapa heran.
“Kamu haus ngga? Ambil dua teh botol buat kita, hari ini harus dirayakan,” kataku riang. Padahal dompetku sedang tipis-tipisnya.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat kita akrab. Maskudku, aku bukan orang yang suka bergaul. Bahkan setelah hampir dua tahun pindah ke sini, aku hanya kenal dengan seorang pengamen yang kemarin, beberapa artis jalanan sepertiku dan tukang teh botol di depan sana. Aku memang bukan orang yang suka bergaul, dan melukis makin membuatku sibuk dengan diriku sendiri.
Tapi ketika aku mulai mengobrol denganmu, aku merasa sangat cocok. Maksudku, kau tahu, tak butuh waktu lama untuk membuatku tertawa lepas di depanmu tanpa merasa malu lagi. Suaramu itu selalu terdengar merdu di telingaku, aku makin senang mendengar kamu berbicara.
“Mereka akan kerepotan,” kataku yakin, menunjuk gerombolan anak TK yang baru keluar dari gerbang Kebun Raya. Sudah saatnya aku membuatnya terkesan. Ayolah, aku kan yang jadi laki-laki di sini.
Kamu nampak bingung.
“Sebentar lagi akan hujan, dan mereka tidak membawa payung,” aku menjelaskan.
Kamu mengangguk pelan, tidak tertarik. Aduh, gagal. Dia tidak tekesan sama sekali. Baiklah, aku harus mencari cara lain.
“Topi rajutmu bagus, beli di mana?” kataku, biasanya wanita kan senang sekali dipuji.
Dan kamu tersenyum, lebar sekali.
“Hadiah dari ibu...” katamu.
Hatiku meloncat girang, tampaknya topik topi rajut ini akan menyenangkan untuk kita bahas. Maksudku, aku memang tertarik pada topinya, dan baru kali ini punya kesempatan untuk membahasnya. Bintik matahari di pipimu sangat cocok dengan topi ranjutmu itu soalnya.
Hujan turun langsung deras beberapa detik kemudian. Aku mendongak, perkiraanku tidak meleset. Bogor memang suka sekali mengagetkan penduduknya dengan tetesan hujan yang melompat diam-diam dari langit.
 “Tuh kan,” kataku. Kamu tersenyum, nampak benar-benar terkesan.
Aku mengajakmu berteduh, nanti kamu bisa masuk angin kalau kubiarkan terus kehujanan seperti ini. Kita segera bergabung dengan anak-anak TK itu.
Di bawah kanopi itu aku merasa sangat beruntung bisa berada di sampingmu, aku bahkan bisa mencium aroma rambutmu. Di bawah hujan Bogor yang menurutku sangat romantis ini, aku menyadari perasaanku. Diam-diam aku ingin kita terus bersama seperti ini.
“Kenapa, kamu melukis wajahku?” katamu tiba-tiba. Aku kaget bukan main, seperti ada sebuah palu mahaberat dari langit yang jatuh menghantam ubun-ubunku.
Aku diam, bingung mencari jawaban. Sekaligus malu, aku menunduk hingga daguku menyentuh dada.
Kamu masih diam, berdiri di sampingku sambil memainkan ujung sepatumu menunggu jawaban. Mungkin kamu kesal karena aku diam saja sejak tadi.
Kemudian, tanganku begerak sendiri, seperti ada sesuatu yang menggerakkan—sumpah, itu bukan  aku—tanganku meraih tanganmu, menautkan jemariku diantara jemarimu. Jemarimu yang mungil dan hangat.
Aku bisa merasakan kamu mendongak mencari wajahku. Aku tak bisa menahan untuk tidak tersenyum, aku merasakan pipiku pelan-pelan memanas.
Perlahan kamu mulai mengeratkan jemarimu. Dadaku menghangat dan senyumku terbit makin lebar. []

1 comment:

  1. nice ending story.... :)
    hayu lah...jadikan buku kumpulan cerpen... ;)
    detail sekali dlm mendeskripsikan tiap moment dan situasi yg ada dlm cerita....bagus..semangat ya...

    ReplyDelete

please, tinggalkan comment kamu :)