20170122

Minggu ......


Pagi-pagi burung mematuk-matuk kaca jendela rumah gua. Sory, ralat ini rumah paman gua, cuman karena pamannya sudah setahun ini dinas di Surabaya, jadilah gua anggap ini adalah rumah gua.

Mata gua yang masih lengket berusaha membuka. Memeriksa berapa banyak burung sialan itu yang pagi-pagi begini sudah mematuk kaca jendela rumah gua. Yes, rasanya nyaman banget pas nyebut rumah ini sebagai rumah gua. Lagi pula paman gua ini masih bujang walau udah tua. Kayanya sih kalau dia sukses membujang dan kemudian meninggal, rumah ini bakalan diwarisin ke gua juga, sepupu yang paling dekat sama dia (amit-amit ah!).

Ada dua pagi ini. Kemarin tiga. Sepasang burung itu, yang gua ngga tahu mereka pacaran apa ngga sedang bergelayutan di salah satu ranting yang melambai ke dekat jenedela kamar gua. Mungkin ranting itu semacam ranting VIP yang nyaman banget sehingga setiap pagi akan selalu ada burung yang nangkring di sana. Lalu mungkin merasa bosan karena VIP tapi ngga ada fasilitas home theater-nya, jadilah burung sialan itu matuk-matukin kaca jendela kamar gua.

Gua terperanjat. Memeriksa jam yang masih melingkar di pergelangan tangan.

Jam 8!

Kampret, telat!

Gua sontak loncat menuju kamar mandi. Oh iya, kemaren malem gua kecapean jadi ngga sempet ngapa-ngapain. Jadi jangan kaget pagi-pagi gini nemuin anak laki-laki bujang, dengan dandanan eksekutif muda; kemeja kerja tangan panjang kusut slim fit, celana bahan stretch lengkap  dengan sabuk dan kaos kaki bau yang gua udah lupa kapan terakhir kali dicuci, berkeliaran nyari-nyari handuk di rumah kosong begini.

Oh iya, kemaren gua taro handuk di atas kulkas, ruang makan. Melasatlah gua menyambar handuk yang  posisinya selalu berubah-rubah tiap pagi karena kebodohan gua sendiri dan mendestinasikan diri ke kamar mandi.

Gua banting pintu kamar mandi dan mulai melakukan ritual melepas pakaian untuk lanjut ke aktifitas mandi pagi. Men! Airnya dingin banget.

Gua berhenti setelah kemeja slim fit yang mulai sempit di perut ini tersampai di gantungan kamar mandi.

Gua menarik nafas panjang supaya ubun-ubun ngga meledak saking kesalnya.

Njir, sekarang hari minggu!

Pintu kamar mandi terbuka perlahan, keluarlah gua dengan telanjang dada. Bulu-bulu halus di dada  dan area perut menyembul minta dicukur. Aku mampir sejenak di depan cermin. Memeriksa perkembangan six pack  di perut yang malah menunjukan tanda-tanda pembuncitan.

Sebuah penghinaan besar terhadap hari Minggu jika gua bangun pagi kemudian mandi. Hari Minggu harus dirayakan dengan ngga mandi sama sekali atau minimal mandinya harus di atas jam 12.

Gua merajang air. Serbuk kopi meluncur dari bungkus plastiknya kemudian mendarat di dasar gelas biru bertuliskan ‘Jomblo w Pride’ kesayangan gua. Dua menit lima belas detik kemudian air matang yang masih mendidih melelehkan gula dan kopi menjadi larutan dengan aroma mantap yang memenuhi ruangan kamar makan.

Tangan kanan sibuk mengaduk menimbulkan dentingan nyaring antara dinding gelas dan ujung sendok, jemari tangan kiriku serius membantu mataku berselancar di dunia maya.

Mengecek notifikasi di WA. Kosong. Line, kosong. Path, kosong. Instagram, kosong. Facebook, kosong. Oh iya, gua kan jomblo jadi harusnya gua ngga usah meriksa notif di lini masa lagi besok-besok dari pada ngerusak mood kaya gini.

Gua membawa gelas ke meja makan kemudian menyalakan TV, mencari serial kartun yang masih tersisa  di antara acara music ngga jelas.

Hari ini gua ngga ada acara. Mungkin gua akan habiskan dengan balik ke kamar untuk meneruskan tidur. Paling banter ya buka laptop terus nonton film di hardisk external yang belum di tonton. Sebagai perjaka jomblo, itu lah kira-kira bagaimana hari minggu gua dihabiskan.

Please jangan bersimpati atau merasa kasihan. Gua bukan lah manusia jomblo mengenaskan seperti yang sering disindir meme atau komik strip yang sering bergentayangan di lini Instagram setiap malam minggu. Ngga sama sekali.

Gua begini karena ini adalah pilihan gua.

Tuh kan, cibiran itu lho yang entah kenapa gua ngga suka. Kalian harus tahu bahwa di dunia yang makin padat ini ada juga orang yang nyaman dan cukup bahagia sama kesendiriannya. Toh ngga semua orang yang punya pacar hidupnya bahagia juga.

Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrd!

HP gua bergetar.

“Yo, ada apa Zul?”

Hebat jam segini udah bangun lu? Biasanya baru idup di atas jam 12.

“Iya nih, gara-gara burung sialan yang matuk-matukin kaca jendela gua. Mana acara TV paginya ngga jelas semua begini,” sambil memindah-mindahkan saluran TV dengan remote.

Hahahaha. Eh kerjaan gua yang kemren lu minta udah gua email ya.

“Kapan lu ngerjain nya?”

Kemaren lah dul, dari kostan gua kerjain. Harusnya gua dapet duit lembur tuh, sabtu-sabtu kerja.

“Hahaha, anggep aja sedekah, lu kan anak sholeh Zul. Hehehe.”

Kupret lah. Pokoknya besok traktir gua makan siang di padang depan yak.

“Ngga ada yang lebih mahal apa?”

Preet lah! Okeh. Gua ngabarin itu aja. Lu cek ya, takut-takut gua ada salah-salah.

“Okay!”

Sip. Udah yak, gua mau beres-beres kosan nih.

Tuuuut. Sambungan terputus.

Oh iya, di dengar dari nadanya yang riang gembira, harusnya hari ini tu anak berdua udah jadian.

Gua kenal Zul setelah acara ospek kuliahan. Almamater kita kuning waktu itu. Dan jujur, gua waktu lagi mahasiswa pendiemnya minta ampun, jadi rada susah dapet temen. Pas ada tugas mata kuliah tiba-tiba tu anak nepuk pundak gua dari belakang, terus nyengir.

“Lu mau sekelompok sama gua ngga? Gua belum ada buku pegangannya. Lu Dody kan? Gua Zul,” sambil menyodorkan tangan.

Itu obrolan pertama kami. Rada lebay emang, tapi kalo waktu itu Zul ngga ngajak gua sekelompok, mungkin masa kuliah gua hanya akan habis di perpustakaan kita yang kece itu. 

Gua belajar banyak dari Zul. Dia tipe orang yang entah karena keramahan atau ketulusan sikapnya orang-orang selalu berkeliling di sekitarnya. Dia begitu supel dan banyak teman. Dia ngga pernah ngecewain temen-temennya. Dia bisa begitu ngga egois dan selalau ada untuk kawannya. Gua banyak belajar dari dia agar bisa diterima orang lain.

Dan gua bersyukur bisa terpilih jadi sahabat terdekatnya.

Untung lah kita kerja di tempat yang sama dan ditempatin di divisi yang sama. Itu kenapa orang kantor bilang kalo kita itu duo yang paling kompak.

“Aduh, males banget hari ini ada meeting dadakan.” Gua mendadak Bete.

“Katanya ada anak baru yang lucu tuh,” kata Zul santai.

“Lu bisa bilang lucu juga. Lucu nya elu mah si Dian doang, ngga ada yang lain,” gua terkekeh.

“Kampret!” Zul ngelempar gumpalan tisu ka arah gua.

“Hari ini kita berkumpul untuk membahas Produksi barang A yang  rencananya akan launching di kuartal 3. Karena ini lintas divisi, kayanya kita harus perkenalan diri masing-masing, “ kata pak projek leader (gua sih ngga hapal namanya siapa, yang jelas mukanya ngeselin).

“Nama saya Ratih Kirana, baru join minggu lalu di Finance,”

Selama ini gua selalu cuek sama cewek. Sejak kuliah pun gua selalu menjunjung prinsip ‘Jomblo with Pride’ gua, namun pagi itu, mungkin karena suaranya yang renyah, senyumnya yang manis, wajahnya yang nyejukin, atau kombinasi itu semua, entah kenapa gua pengen merevisi prinsip gua tersebut.

Meeting itu gua ngga bisa focus. Sama sekali! Wajah itu menyita dunia gua dengan telak, di pertemuan pertama. Sialan!

Anak itu masih duduk di kursinya ketika meeting kami selesai. Nampak sibuk dengan laptopnya.

“Ehmm…” gua berdiri di sebelahnya, berusaha mengalihkan perhatiannya.

Dia medongak dengan wajah kosong, yang demi seluruh penduduk planet pluto, seluruh bola matanya yang bulat itu memandang gua dengan sempurna. Efeknya gua merasa sedikit sesak.

“Dody, Creative team, kalo butuh gua cari di lantai 5,” gua menyodorkan tangan.

Dia menjabat tangan gua. Aiiih, betapa kecil dan lembutnya tangannya.

“Ratih, sory aku anak baru jadi bakal sedikit jet lag, “

Jet lag?

“Adaptasi awal, jadi bakal agak selow,” wajahnya sedikit memerah.

Gua ngga bisa ngga tersenyum. Mungkin itu bahasa di kantor lamanya.

“Boleh minta nomer kamu? Tenang-tenang, gua ngga bakal macem-macem. Kita kan satu tim, kayanya gua bakal banyak urusan sama finance,”

Dia menyebutkan nomernya lalu bertukar miscall.

“Save ya,” gua terkekeh.

“Oke, jangan macem-macem ya,” katanya sambil tersenyum.

Betapa bahagianya hati gua ketika dapet senyuman itu sekaligus dapet nomernya. 

Lalu Zul bangkit dari kursinya, “Oh Iya, ini partner gua,”

Zul mendongak ke arah Ratih.

Mereka berdua saling tatap dan saling terdiam.

Agak lama.

Apa hanya perasaanku atau sepertinya Ratih menunggu sesuatu.

Akhirnya Zul menyodorkan tangannya.

“Zul, creative team, gua di lantai 5,” katanya.

“Ratih, “ ia menjabat tangan Zul.

“Okeh, duluan yaa,” kataku. kami berdua berbalik kemudian melanjutkan dengan langkah kebahagiaan.

“Boleh…, “ tiba tiba Ratih bersuara, dengan nada agak ragu. Aku menoleh.

“Boleh bagi nomernya…? Zul?” katanya akhirnya, seperti memuntahkan biji kedondong yang telah lama menyangkut di tenggorokannya.

Zul mendongak, lalu menyebutkan nomernya dan bertukar miscall.

“Duluan ya, “ kata Zul mengakhiri pembicaran pagi itu.


Tih reportnya udah gua kirim yak.

Gua memberanikan diri mengirim WA malam itu juga.

Badan gua berguling-guling di atas tempat tidur. Jendela kaca sengaja dibiarkan setengah terbuka supaya bisa mendinginkan malam yang panas ini.

HP gua masih belum bergetar. Mungkin dia masih di kantor. Mungkin dia masih sibuk sama kerjaan barunya. Mungkin dia lagi di jalan, naek Bus way, ngga sempet buka HP.

DRRRRRRRRRRR! Jam 11 malem. Gua bangun dari tidur. Sial, ampe ketiduran gua nungguin balesan Ratih.

Sory, baru cek HP. Tadi banyak banget yang mesti di beresin. Iya udah aku cek, maksih ya. Padalah Deadlinenya masih lusa.

Gua menguap sambil menggosok tepian dagu yang agak basah. Bener kan, emang dia lagi banyak kerjaan makanya balesnya agak lama.

Lagi senggang tadi, jadi cepet beresnya. Baru pulang, jam segini lho. Finance kejam juga ya. Emang rumah kamu di mana?

Sepik-sepik modus telah dikerahkan sodara-sodara, apakah dia akan merespon?

DRRRRRRRRRRRRRRRRRRD! 

Ga nyampe lima menit.

Gua melakukan pose selebrasi bak striker habis cetak gol!

Hahaha, kantor lama aku lebih kejam, ini mah itungannya masih sore. Rumah di daerah Kelapa Gading.

Anak ini nice, seenggaknya dia ramah dan selalu mau di ganggu via WA. Yellow light!


“Halo, Ratih. Siang ini udah ada temen makan belum?”

Hmm, belum tuh. Kenapa? Mau ngajak makan?

“Kalo kamu ngga keberatan makan sama gua dan Zul sih, kita mau makan rending super lezat di warung padang depan kantor.”

Rendang super lezat? Lemak dong.

“Oooh,  kamu itu sejenis cewek-cewek yang suka nahan lapar supaya lingkar pinggannya tetep kecil ya?”

Maksudnya apa tuh. Ngeledek ya, ahahahah. Ngga lah, aku ngga segitunya. Sekali-sekali makan mewah kan ngga apa-apa. Hayu lah aku join.

“Okeh, nanti aku WA ya.” telpon gua tutup.

“Kenapa lu nyengir mulu?” Zul noyor kepala gua. Ngga ridho amat dia liat gua bahagia.

“Siang ke Nasi padang yak, nanti si Ratih mau gabung.”

“Ooh. Okeh. Tapi gua ngutang dulu yak. Duit gua abis buat beli baju kemaren,” Zul memeletkan lidah. Gua balas toyor kepalanya.

Warung padang itu biasanya ngga pernah sepi. Tapi kali ini entah berkah dari langit atau orang-orang lagi pada ngga punya duit karena tanggal tua, kami bisa langsung mendapat tempat duduk paling nyaman di dekat kipas angin.

“Rendang di sini juara!” saat kami bertiga sudah duduk.

“Iya tah?” kata Ratih.

“Iya, dari jaman awal-awal kerja di sini, gua sih udah jatuh cinta sama bumbu rendangnya. Syedap, kamu kudu coba,” kata Zul.

“Jadi kamu mau pesen apa?” tanya gua. Si mamang sudah berdiri dekat meja kami bersiap mencatat.

“Rendang juga deh,” akhirnya Ratih memutuskan.

“Rendang 3, mang!”

“Gimana kerjaan kantor lama kamu? Seserem itu kah?” kemudian obrolan mengalir hangat.

Siang itu kita ngobrolin banyak hal. Dan untuk pertama kalinya gua ngelihat ketawanya Ratih yang lepas. Maksud gua, mungkin divisinya memang rada setan atau karena dia anak baru, sehingga gua merasa selama di kantor ia selalu merasa tertekan, bahkan ketika tersenyum ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya.

Kali ini berbeda sekali.

Matanya yang menyipit, otot pipinya, dan jajaran geligi putihnya. Itu tawa tulus dan ekspresi terindah yan gpernah gua saksikan seumur hidup gua. Men, gua merasa sangat beruntung bisa menyaksikan ini dari dekat. Entah kenapa gua ingin selalu melihat tawa itu. Gua ingin tawa itu selalu datang dari gua.

“Kamu, waktu kuliah ambil UKM apaan?” Ratih membuka pertanyaan.

Aku hendak menjawab dengan amat semangat.

“… Zul?” badannya seratus persen condong pada sahabat di sebelah gua.

“Gua mah kaya anak laki-laki kebanyakan, Futsal. Sama Korpus. Cuman ya dua-duanya ngga ada yang awet, gua cuman tahan dua bulan. Abis itu ngga ikut latihan lagi. Ahahaha,”

“Korpus, Koran kampus? Jago nulis dong, artikel kamu pernah tembus koran?”

Gua merasa ada kilatan-kilatan di kedua bola matanya saat dia menyimak apa yang dikatakan Zul. Binar matanya berbeda. Terlihat lebih hidup dan penuh ketertarikan.

Seperti…

Sepeti mata gua saat menatap dia.

Mata orang yang lagi…

Hei, Jangan bilang…


Beberapa minggu berajalan. Gua masih sering WA an sama Ratih, dan sikapnya sama seklai ngga berubah, masih ramah dan baik hatinya seperti dulu. Namun ngga butuh detektif macem Sherlock Holmes untuk tahu kalau gua sejak awal ngga ada dalam orbitnya.

Ngga pernah ada sama sekali.

Malam itu gua iseng main ke lantai tiga tempat finance. Kebetulan di mejanya hanya tinggal dia, bosnya sudah pulang.

Aku memberanikan diri. “Kamu suka sama Zul yah?”

Ratih menoleh kaget. Wajahnya memerah padam. Seperti maling yang lagi ketangkap tangan. Dari sini gua bisa lihat tulisan segede gaban diwajahnya; Gimana kamu bisa tahu?!

“Sudah sampai mana hubungan kalian?”

“Belum sampai mana-mana.” Ratih menunduk sedih. Sungguh hati gua teriris ngelihat ekspresinya kaya gitu.

“Mau aku bantu comblangin?” kalimat itu mencelos begitu saja. Yang selanjutnya gua bakal sangat menyesal  pernah ngucapin kalimat ini.

Ratih mendongak. Senyum berangsur terbit di wajahnya. Matanya berbinar. Ia mengangguk kuat-kuat. Hatiku sakit sekali.

Aku akhirnya tahu, aku sudah kalah start sejak awal. Ratih sudah suka Zul sejak SMA. Gara-gara insiden di Jogja. Sejak itu ia jatuh hati pada Zul. Ratih menumpahkan isi hatinya padaku. Aku malah jadi tempat curhatnya.

“Pokoknya kamu ikutin instruksiku ya. Si Zul itu bebalnya minta ampun kalau masalah cewek. Kamu harus rada agresif dan kasih kode super keras supaya dia nyadar. Dia aja ngga nyadar kamu temen SMA nya kan?”

Ratih mengangguk patuh.

Besok pagi Wa dia ya, ajakin sarapan bareng sambil modus bahas projek kita. Nanti gua pura-pura sakit perut.

Malem ini kamu lembur kan? si Zul juga. Ajakin makan di warung tenda depan, dia suka banget kwetiaunya. Nanti gua pura-pura di panggil bos deh.


“Gua suka sama Dian,” malam itu sehabis lembur Zul cerita tentang isi hatinya.

Gua tersentak! Yang ada di benak gua ketika itu adalah gimana caranya supaya Ratih ngga usah tahu hal ini. Gua ngga mau dia sedih. Gua ngga rela air matanya jatuh.


“Njir, coba ngga gua tembak si Dian. Ngga sesakit ini rasanya!” sore itu gua dengerin curhatannya Zul yang barusan di tolak sama Dian. Gua tawarin dia ngerokok. Ada perasaan lega di pojokan hati gua. Jahat emang gua.

Ajakin zul jalan besok. Minta temenin beli baju buat arisan keluarga gitu. Telpon sekarang, buru! jangan WA. Gua yakin kali ini bakal sukses.

Malamnya WA ratih masuk.

Makasih banyak ya, pas di telpon dia beneran mau diajak jalan.

Good luck ya.

Makasih banyak ya Dod, it means a lot for me.


Bunyi OST nya Doraemon menggema di udara, berpadu dengan aroma kopi yang setengah dingin. Bilah-bilah cahaya matahari sudah tercecer berjatuhan di lantai. Udara terasa menghangat. Cicitan burung yang barusan mematuki kaca jendela kamar gua masih riang terdengar sayup.

Mareka pasti udah resmi tadi malem. Yap, pasti!

Zul nembak dan pasti Ratih nerima dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Kayanya hari ini mereka akan jalan deh, an officially first dating.

Gua sadar kalau tawa itu ngga akan pernah jadi milik gua, makanya gua pengen tawa itu selalu ada di sana (walau ngga dari gua).

Dada gua entah kenapa bergemuruh hebat. Nafas gua tersengal. Mata gua mulai berembun. Ada segumpal rasa sakit yang selama ini bisa gua tahan tapi kali ini rasanya menjadi berlipat-lipat sakitnya.

Perih, 
Perih banget rasanya.


(bersambung…)

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)