Pagi-pagi burung mematuk-matuk kaca jendela rumah gua. Sory,
ralat ini rumah paman gua, cuman karena pamannya sudah setahun ini dinas di
Surabaya, jadilah gua anggap ini adalah rumah gua.
Mata gua yang masih lengket
berusaha membuka. Memeriksa berapa banyak burung sialan itu yang pagi-pagi
begini sudah mematuk kaca jendela rumah
gua. Yes, rasanya nyaman banget pas nyebut rumah ini sebagai rumah gua.
Lagi pula paman gua ini masih bujang walau udah tua. Kayanya sih kalau dia sukses
membujang dan kemudian meninggal, rumah ini bakalan diwarisin ke gua juga,
sepupu yang paling dekat sama dia (amit-amit ah!).
Ada dua pagi ini. Kemarin tiga.
Sepasang burung itu, yang gua ngga tahu mereka pacaran apa ngga sedang
bergelayutan di salah satu ranting yang melambai ke dekat jenedela kamar gua.
Mungkin ranting itu semacam ranting VIP yang nyaman banget sehingga setiap pagi
akan selalu ada burung yang nangkring di sana. Lalu mungkin merasa bosan karena
VIP tapi ngga ada fasilitas home theater-nya, jadilah burung sialan itu
matuk-matukin kaca jendela kamar gua.
Gua terperanjat. Memeriksa jam
yang masih melingkar di pergelangan tangan.
Jam 8!
Kampret, telat!
Gua sontak loncat menuju kamar
mandi. Oh iya, kemaren malem gua kecapean jadi ngga sempet ngapa-ngapain. Jadi
jangan kaget pagi-pagi gini nemuin anak laki-laki bujang, dengan dandanan
eksekutif muda; kemeja kerja tangan panjang kusut slim fit, celana bahan
stretch lengkap dengan sabuk dan kaos
kaki bau yang gua udah lupa kapan terakhir kali dicuci, berkeliaran nyari-nyari
handuk di rumah kosong begini.
Oh iya, kemaren gua taro handuk
di atas kulkas, ruang makan. Melasatlah gua menyambar handuk yang posisinya selalu berubah-rubah tiap pagi
karena kebodohan gua sendiri dan mendestinasikan diri ke kamar mandi.
Gua banting pintu kamar mandi dan
mulai melakukan ritual melepas pakaian untuk lanjut ke aktifitas mandi pagi.
Men! Airnya dingin banget.
Gua berhenti setelah kemeja slim
fit yang mulai sempit di perut ini tersampai di gantungan kamar mandi.
Gua menarik nafas panjang supaya
ubun-ubun ngga meledak saking kesalnya.
Njir, sekarang hari minggu!
Pintu kamar mandi terbuka
perlahan, keluarlah gua dengan telanjang dada. Bulu-bulu halus di dada dan area perut menyembul minta dicukur. Aku
mampir sejenak di depan cermin. Memeriksa perkembangan six pack di perut yang malah menunjukan tanda-tanda pembuncitan.
Sebuah penghinaan besar terhadap
hari Minggu jika gua bangun pagi kemudian mandi. Hari Minggu harus dirayakan
dengan ngga mandi sama sekali atau minimal mandinya harus di atas jam 12.
Gua merajang air. Serbuk kopi
meluncur dari bungkus plastiknya kemudian mendarat di dasar gelas biru
bertuliskan ‘Jomblo w Pride’ kesayangan gua. Dua menit lima belas detik kemudian
air matang yang masih mendidih melelehkan gula dan kopi menjadi larutan dengan
aroma mantap yang memenuhi ruangan kamar makan.
Tangan kanan sibuk mengaduk
menimbulkan dentingan nyaring antara dinding gelas dan ujung sendok, jemari
tangan kiriku serius membantu mataku berselancar di dunia maya.
Mengecek notifikasi di WA.
Kosong. Line, kosong. Path, kosong. Instagram, kosong. Facebook, kosong. Oh
iya, gua kan jomblo jadi harusnya gua ngga usah meriksa notif di lini masa lagi
besok-besok dari pada ngerusak mood kaya gini.
Gua membawa gelas ke meja makan
kemudian menyalakan TV, mencari serial kartun yang masih tersisa di antara acara music ngga jelas.
Hari ini gua ngga ada acara.
Mungkin gua akan habiskan dengan balik ke kamar untuk meneruskan tidur. Paling
banter ya buka laptop terus nonton film di hardisk external yang belum di
tonton. Sebagai perjaka jomblo, itu lah kira-kira bagaimana hari minggu gua dihabiskan.
Please jangan bersimpati atau
merasa kasihan. Gua bukan lah manusia jomblo mengenaskan seperti yang sering
disindir meme atau komik strip yang sering bergentayangan di lini Instagram
setiap malam minggu. Ngga sama sekali.
Gua begini karena ini adalah
pilihan gua.
Tuh kan, cibiran itu lho yang
entah kenapa gua ngga suka. Kalian harus tahu bahwa di dunia yang makin padat ini
ada juga orang yang nyaman dan cukup bahagia sama kesendiriannya. Toh ngga
semua orang yang punya pacar hidupnya bahagia juga.
Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrd!
HP gua bergetar.
“Yo, ada apa Zul?”
Hebat jam segini udah bangun lu? Biasanya baru idup di atas jam 12.
“Iya nih, gara-gara burung sialan
yang matuk-matukin kaca jendela gua. Mana acara TV paginya ngga jelas semua
begini,” sambil memindah-mindahkan saluran TV dengan remote.
Hahahaha. Eh kerjaan gua yang kemren lu minta udah gua email ya.
“Kapan lu ngerjain nya?”
Kemaren lah dul, dari kostan gua kerjain. Harusnya gua dapet duit
lembur tuh, sabtu-sabtu kerja.
“Hahaha, anggep aja sedekah, lu
kan anak sholeh Zul. Hehehe.”
Kupret lah. Pokoknya besok traktir gua makan siang di padang depan yak.
“Ngga ada yang lebih mahal apa?”
Preet lah! Okeh. Gua ngabarin itu aja. Lu cek ya, takut-takut gua ada
salah-salah.
“Okay!”
Sip. Udah yak, gua mau beres-beres kosan nih.
Tuuuut. Sambungan terputus.
Oh iya, di dengar dari nadanya
yang riang gembira, harusnya hari ini tu anak berdua udah jadian.
Gua kenal Zul setelah acara ospek
kuliahan. Almamater kita kuning waktu itu. Dan jujur, gua waktu lagi mahasiswa
pendiemnya minta ampun, jadi rada susah dapet temen. Pas ada tugas mata kuliah
tiba-tiba tu anak nepuk pundak gua dari belakang, terus nyengir.
“Lu mau sekelompok sama gua ngga?
Gua belum ada buku pegangannya. Lu Dody kan? Gua Zul,” sambil menyodorkan
tangan.
Itu obrolan pertama kami. Rada
lebay emang, tapi kalo waktu itu Zul ngga ngajak gua sekelompok, mungkin masa
kuliah gua hanya akan habis di perpustakaan kita yang kece itu.
Gua belajar banyak dari Zul. Dia
tipe orang yang entah karena keramahan atau ketulusan sikapnya orang-orang
selalu berkeliling di sekitarnya. Dia begitu supel dan banyak teman. Dia ngga
pernah ngecewain temen-temennya. Dia bisa begitu ngga egois dan selalau ada
untuk kawannya. Gua banyak belajar dari dia agar bisa diterima orang lain.
Dan gua bersyukur bisa terpilih jadi sahabat
terdekatnya.
Untung lah kita kerja di tempat
yang sama dan ditempatin di divisi yang sama. Itu kenapa orang kantor bilang
kalo kita itu duo yang paling kompak.
“Aduh, males banget hari ini ada
meeting dadakan.” Gua mendadak Bete.
“Katanya ada anak baru yang lucu
tuh,” kata Zul santai.
“Lu bisa bilang lucu juga. Lucu
nya elu mah si Dian doang, ngga ada yang lain,” gua terkekeh.
“Kampret!” Zul ngelempar gumpalan
tisu ka arah gua.
“Hari ini kita berkumpul untuk
membahas Produksi barang A yang
rencananya akan launching di kuartal 3. Karena ini lintas divisi, kayanya
kita harus perkenalan diri masing-masing, “ kata pak projek leader (gua sih
ngga hapal namanya siapa, yang jelas mukanya ngeselin).
“Nama saya Ratih Kirana, baru
join minggu lalu di Finance,”
Selama ini gua selalu cuek sama
cewek. Sejak kuliah pun gua selalu menjunjung prinsip ‘Jomblo with Pride’ gua,
namun pagi itu, mungkin karena suaranya yang renyah, senyumnya yang manis,
wajahnya yang nyejukin, atau kombinasi itu semua, entah kenapa gua pengen
merevisi prinsip gua tersebut.
Meeting itu gua ngga bisa focus. Sama
sekali! Wajah itu menyita dunia gua dengan telak, di pertemuan pertama. Sialan!
Anak itu masih duduk di kursinya
ketika meeting kami selesai. Nampak sibuk dengan laptopnya.
“Ehmm…” gua berdiri di
sebelahnya, berusaha mengalihkan perhatiannya.
Dia medongak dengan wajah kosong,
yang demi seluruh penduduk planet pluto, seluruh bola matanya yang bulat itu
memandang gua dengan sempurna. Efeknya gua merasa sedikit sesak.
“Dody, Creative team, kalo butuh
gua cari di lantai 5,” gua menyodorkan tangan.
Dia menjabat tangan gua. Aiiih,
betapa kecil dan lembutnya tangannya.
“Ratih, sory aku anak baru jadi
bakal sedikit jet lag, “
“Jet lag?”
“Adaptasi awal, jadi bakal agak
selow,” wajahnya sedikit memerah.
Gua ngga bisa ngga tersenyum.
Mungkin itu bahasa di kantor lamanya.
“Boleh minta nomer kamu? Tenang-tenang,
gua ngga bakal macem-macem. Kita kan satu tim, kayanya gua bakal banyak urusan
sama finance,”
Dia menyebutkan nomernya lalu bertukar
miscall.
“Save ya,” gua terkekeh.
“Oke, jangan macem-macem ya,”
katanya sambil tersenyum.
Betapa bahagianya hati gua ketika
dapet senyuman itu sekaligus dapet nomernya.
Lalu Zul bangkit dari kursinya,
“Oh Iya, ini partner gua,”
Zul mendongak ke arah Ratih.
Mereka berdua saling tatap dan saling
terdiam.
Agak lama.
Apa hanya perasaanku atau
sepertinya Ratih menunggu sesuatu.
Akhirnya Zul menyodorkan
tangannya.
“Zul, creative team, gua di lantai
5,” katanya.
“Ratih, “ ia menjabat tangan Zul.
“Okeh, duluan yaa,” kataku. kami
berdua berbalik kemudian melanjutkan dengan langkah kebahagiaan.
“Boleh…, “ tiba tiba Ratih
bersuara, dengan nada agak ragu. Aku menoleh.
“Boleh bagi nomernya…? Zul?”
katanya akhirnya, seperti memuntahkan biji kedondong yang telah lama menyangkut
di tenggorokannya.
Zul mendongak, lalu menyebutkan
nomernya dan bertukar miscall.
“Duluan ya, “ kata Zul mengakhiri
pembicaran pagi itu.
Tih reportnya udah gua kirim yak.
Gua memberanikan diri mengirim WA
malam itu juga.
Badan gua berguling-guling di
atas tempat tidur. Jendela kaca sengaja dibiarkan setengah terbuka supaya bisa
mendinginkan malam yang panas ini.
HP gua masih belum bergetar.
Mungkin dia masih di kantor. Mungkin dia masih sibuk sama kerjaan barunya. Mungkin
dia lagi di jalan, naek Bus way, ngga sempet buka HP.
DRRRRRRRRRRR! Jam 11 malem. Gua bangun
dari tidur. Sial, ampe ketiduran gua nungguin balesan Ratih.
Sory, baru cek HP. Tadi banyak banget yang mesti di beresin. Iya udah
aku cek, maksih ya. Padalah Deadlinenya masih lusa.
Gua menguap sambil menggosok
tepian dagu yang agak basah. Bener kan, emang dia lagi banyak kerjaan makanya
balesnya agak lama.
Lagi senggang tadi, jadi cepet beresnya. Baru pulang, jam segini lho. Finance kejam juga ya. Emang rumah kamu di
mana?
Sepik-sepik modus telah dikerahkan
sodara-sodara, apakah dia akan merespon?
DRRRRRRRRRRRRRRRRRRD!
Ga nyampe lima menit.
Gua melakukan pose selebrasi bak striker habis cetak gol!
Hahaha, kantor lama aku lebih kejam, ini mah itungannya masih sore. Rumah
di daerah Kelapa Gading.
Anak ini nice, seenggaknya dia
ramah dan selalu mau di ganggu via WA. Yellow
light!
“Halo, Ratih. Siang ini udah ada
temen makan belum?”
Hmm, belum tuh. Kenapa? Mau ngajak makan?
“Kalo kamu ngga keberatan makan
sama gua dan Zul sih, kita mau makan rending super lezat di warung padang depan
kantor.”
Rendang super lezat? Lemak dong.
“Oooh, kamu itu sejenis cewek-cewek yang suka nahan
lapar supaya lingkar pinggannya tetep kecil ya?”
Maksudnya apa tuh. Ngeledek ya, ahahahah. Ngga lah, aku ngga segitunya.
Sekali-sekali makan mewah kan ngga apa-apa. Hayu lah aku join.
“Okeh, nanti aku WA ya.” telpon
gua tutup.
“Kenapa lu nyengir mulu?” Zul noyor
kepala gua. Ngga ridho amat dia liat gua bahagia.
“Siang ke Nasi padang yak, nanti
si Ratih mau gabung.”
“Ooh. Okeh. Tapi gua ngutang dulu
yak. Duit gua abis buat beli baju kemaren,” Zul memeletkan lidah. Gua balas
toyor kepalanya.
Warung padang itu biasanya ngga
pernah sepi. Tapi kali ini entah berkah dari langit atau orang-orang lagi pada
ngga punya duit karena tanggal tua, kami bisa langsung mendapat tempat duduk
paling nyaman di dekat kipas angin.
“Rendang di sini juara!” saat
kami bertiga sudah duduk.
“Iya tah?” kata Ratih.
“Iya, dari jaman awal-awal kerja
di sini, gua sih udah jatuh cinta sama bumbu rendangnya. Syedap, kamu kudu
coba,” kata Zul.
“Jadi kamu mau pesen apa?” tanya
gua. Si mamang sudah berdiri dekat meja kami bersiap mencatat.
“Rendang juga deh,” akhirnya
Ratih memutuskan.
“Rendang 3, mang!”
“Gimana kerjaan kantor lama kamu?
Seserem itu kah?” kemudian obrolan mengalir hangat.
Siang itu kita ngobrolin banyak
hal. Dan untuk pertama kalinya gua ngelihat ketawanya Ratih yang lepas. Maksud
gua, mungkin divisinya memang rada setan atau karena dia anak baru, sehingga
gua merasa selama di kantor ia selalu merasa tertekan, bahkan ketika tersenyum
ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya.
Kali ini berbeda sekali.
Matanya yang menyipit, otot
pipinya, dan jajaran geligi putihnya. Itu tawa tulus dan ekspresi terindah yan
gpernah gua saksikan seumur hidup gua. Men, gua merasa sangat beruntung bisa
menyaksikan ini dari dekat. Entah kenapa gua ingin selalu melihat tawa itu. Gua
ingin tawa itu selalu datang dari gua.
“Kamu, waktu kuliah ambil UKM apaan?”
Ratih membuka pertanyaan.
Aku hendak menjawab dengan amat
semangat.
“… Zul?” badannya seratus persen
condong pada sahabat di sebelah gua.
“Gua mah kaya anak laki-laki
kebanyakan, Futsal. Sama Korpus. Cuman ya dua-duanya ngga ada yang awet, gua
cuman tahan dua bulan. Abis itu ngga ikut latihan lagi. Ahahaha,”
“Korpus, Koran kampus? Jago nulis
dong, artikel kamu pernah tembus koran?”
Gua merasa ada kilatan-kilatan di
kedua bola matanya saat dia menyimak apa yang dikatakan Zul. Binar matanya
berbeda. Terlihat lebih hidup dan penuh ketertarikan.
Seperti…
Sepeti mata gua saat menatap dia.
Mata orang yang lagi…
Hei, Jangan bilang…
Beberapa minggu berajalan. Gua masih
sering WA an sama Ratih, dan sikapnya sama seklai ngga berubah, masih ramah dan
baik hatinya seperti dulu. Namun ngga butuh detektif macem Sherlock Holmes
untuk tahu kalau gua sejak awal ngga ada dalam orbitnya.
Ngga pernah ada sama sekali.
Malam itu gua iseng main ke
lantai tiga tempat finance. Kebetulan di mejanya hanya tinggal dia, bosnya
sudah pulang.
Aku memberanikan diri. “Kamu suka
sama Zul yah?”
Ratih menoleh kaget. Wajahnya memerah
padam. Seperti maling yang lagi ketangkap tangan. Dari sini gua bisa lihat tulisan segede gaban diwajahnya; Gimana kamu bisa tahu?!
“Sudah sampai mana hubungan kalian?”
“Belum sampai mana-mana.” Ratih
menunduk sedih. Sungguh hati gua teriris ngelihat ekspresinya kaya gitu.
“Mau aku bantu comblangin?”
kalimat itu mencelos begitu saja. Yang selanjutnya gua bakal sangat
menyesal pernah ngucapin kalimat ini.
Ratih mendongak. Senyum berangsur
terbit di wajahnya. Matanya berbinar. Ia mengangguk kuat-kuat. Hatiku sakit
sekali.
Aku akhirnya tahu, aku sudah kalah
start sejak awal. Ratih sudah suka Zul sejak SMA. Gara-gara insiden di Jogja. Sejak
itu ia jatuh hati pada Zul. Ratih menumpahkan isi hatinya padaku. Aku malah jadi tempat curhatnya.
“Pokoknya kamu ikutin instruksiku
ya. Si Zul itu bebalnya minta ampun kalau masalah cewek. Kamu harus rada
agresif dan kasih kode super keras supaya dia nyadar. Dia aja ngga nyadar kamu
temen SMA nya kan?”
Ratih mengangguk patuh.
Besok pagi Wa dia ya, ajakin sarapan bareng sambil modus bahas projek kita.
Nanti gua pura-pura sakit perut.
Malem ini kamu lembur kan? si Zul juga. Ajakin makan di warung tenda
depan, dia suka banget kwetiaunya. Nanti gua pura-pura di panggil bos deh.
“Gua suka sama Dian,” malam itu
sehabis lembur Zul cerita tentang isi hatinya.
Gua tersentak! Yang ada di benak
gua ketika itu adalah gimana caranya supaya Ratih ngga usah tahu hal ini. Gua
ngga mau dia sedih. Gua ngga rela air matanya jatuh.
“Njir, coba ngga gua tembak si
Dian. Ngga sesakit ini rasanya!” sore itu gua dengerin curhatannya Zul yang
barusan di tolak sama Dian. Gua tawarin dia ngerokok. Ada perasaan lega di
pojokan hati gua. Jahat emang gua.
Ajakin zul jalan besok. Minta temenin beli baju buat arisan keluarga
gitu. Telpon sekarang, buru! jangan WA. Gua yakin kali ini bakal sukses.
Malamnya WA ratih masuk.
Makasih banyak ya, pas di telpon dia beneran mau diajak jalan.
Good luck ya.
Makasih banyak ya Dod, it means a lot for me.
Bunyi OST nya Doraemon menggema
di udara, berpadu dengan aroma kopi yang setengah dingin. Bilah-bilah cahaya matahari
sudah tercecer berjatuhan di lantai. Udara terasa menghangat. Cicitan burung
yang barusan mematuki kaca jendela kamar gua masih riang terdengar sayup.
Mareka pasti udah resmi tadi
malem. Yap, pasti!
Zul nembak dan pasti Ratih nerima
dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Kayanya hari ini mereka akan jalan deh, an officially first dating.
Gua sadar kalau tawa itu ngga
akan pernah jadi milik gua, makanya gua pengen tawa itu selalu ada di sana
(walau ngga dari gua).
Dada gua entah kenapa bergemuruh
hebat. Nafas gua tersengal. Mata gua mulai berembun. Ada segumpal rasa sakit
yang selama ini bisa gua tahan tapi kali ini rasanya menjadi berlipat-lipat
sakitnya.
Perih,
Perih banget rasanya.
(bersambung…)
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)