20130429

A Whole New World



Jam di tugu menara segitiga itu tak berdetak lagi. Untungnya banyak muda-mudi duduk di bawahnya sambil tertawa dan saling mengobrol yang membuat suasana ramai. Lalu lintas di sekitar situ masih sesak karena malam ini adalah malam minggu, atau malahan lebih dari biasanya. Dengan warna keperakan yang dipantulkan semburan air mancur yang naik turun, suasana jadi tambah meriah. Itulah alasan kenapa aku senang menikmati malam minggu di sini, di Putaran Air Mancur Bogor.

Banyak motor dan mobil terparkir memenuhi halaman kedai-kedai tenda, tak heran jalanan tersendat. Aku duduk menunggu bansus pesananku di salah satu sudut kedainya ditemani suara gitar yang di mainkan pengamen-pengamen jalanan. Di sini kita boleh duduk di tenda siapa saja, dan memesan bansus dari tenda lain. Tak ada aturan ‘kalau duduk di sini, wajib beli makanan dari sini juga!’

Seseorang yang baru tiba kemudian duduk di hadapanku. Aku masih menahan nafas saat menatap wajah Mei. Ia tersenyum padaku, manis sekali.

“Sory telat,” ia menaruh tas jinjingnya di atas meja. “Macet tadi.”
Aku tersenyum sambil menggeleng. Mei tak berubah sama sekali, ia masih selalu berusaha tepat waktu.“Ke sini naik apa?”

“Dianter Tanya,” katanya sambil merapikan rambutnya. Aku senang sekali melihat dia melakukan itu, terlihat anggun.

Ia menatapku lekat-lekat, membuatku harus melonggarkan kerah.

“Kamu makin kurus Dan?” suaranya lembut sarap perhatian. Tangannya mengusap pipiku. Hangat. Ada aliran yang membuat dadaku berdebar keras. Aku menggenggam tangannya, lalu mengecupnya pelan.

“Biasa, banyak kerjaan kantor,” kataku. Dia menarik tangannya.

“Kamu selalu begitu. Kerjaan terus, kalau masuk rumah sakit lagi baru tahu rasa,” ia membuang mukanya.

“Bukan begitu, tender sedang banyak. Kliennya penting semua, kami harus benar-benar serius,” tanganku perlahan bergerak menuju jemarinya yang ada di atas meja. “Aku masih rutin jogging kok,” tambahku.

Ia menatapku. “Dani, Kamu tuh kalau sudah kerja suka lupa waktu. Aku takut kamu roboh lagi,” jemari kami bertautan. Kehangatan meresapi tubuhku. Aku tersenyum kecil, membalas tatapannya.

Pesanan kami tiba, dua gelas bansus panas, dibawakan oleh seorang remaja dengan senyum ramah. Karenanya, Mei menarik tangannya cepat-cepat. Aku menahan senyumku. Mei agak pemalu, apa lagi menunjukan kemesraan kecil seperti ini—yang sebenarnya sangat aku rindukan—di depan orang lain.

Angin malam berhembus kencang, menggerakkan beberapa helai rambutnya. Ia menggosok pundaknya, kedinginan. Aku berdiri, melepas jaketku lalu memakaikan di pundaknya. Ia tersipu, aku suka sekali melihat pipinya memerah seperti itu.

“Sudah makan? Apa kita pesan roti bakar?” kataku setelah duduk kembali di hadapannya.

“Boleh, kebetulan aku belum makan. Jangan lupa...”

“Kejunya yang banyak?“ aku memotong.

“Kamu masih hafal rupanya,” Ia tersenyum.

“Tentu saja,” aku mengangguk, lalu memanggil pelayan tadi, memesan pesanan kami.
Kami saling diam. Ada semacam sekat yang terbentuk perlahan sejak tadi. Angin malam berhambur makin deras. Dia sibuk mengaduk-aduk bansus dengan sedotan di tangannya. Rautnya mendingin.
Beberapa saat kemudian sepasang pengamen—aku yakin mereka sepasang kekasih—masuk ke tenda kami.

“Permisi,” kata si perempuan bertopi sambil tersenyum. Si lelaki mulai memetik gitarnya.
Ketika mereka akan memulai lagunya, Mei mengangkat tangannya. Pasangan artis jalanan itu menoleh.

A hole new world, bisa?” kata dia. Aku lalu tersenyum. Dia masih ingat lagu itu.
Artis jalanan itu tersenyum sambil mengangguk.

Request dari pasangan di pojok sana, A whole new world mudah-mudahan bisa menambah romantis malam minggu anda semua.” Dan mulai lah mereka menyanyikan lagu favorit kami.

Aku bersyukur lagu kami dimainkan, suasana antara kami cair kembali. Kami mulai bisa membicarakan banyak hal, saling tarsenyum dan saling menatap mesra. Beberapa kali aku melihat dia tertawa hingga gerahamnya terlihat, terdengar agak mengada-ada memang tapi saat sedang begitu dia terlihat manis sekali.

HP Mei berdering, ia meminta izin untuk memeriksa HP-nya. Aku mengangguk.

“Dari Tanya, “ katanya. Lalu dia memeriksa jam tangannya. “Tak terasa sudah dua jam kita di sini,” tambahnya.

Aku mengangguk, sedih. Pertemuan kami akan segera berakhir.

“Boleh aku antar sampai mobil?” pintaku. Mei mengangguk.
Aku membantunya berdiri setelah membayar pesanan kami. Ia ingin bayar, tentu saja aku bersikeras menolak.

Kami berjalan pelan-pelan. Diam-diam dia menggandeng tanganku. Aku mengeratkan jemariku diantara jemarinya. Angin malam tidak begitu dingin lagi.

“Langitnya cerah,” kata Mei, wajahnya menerawang ke atas.

“Iya, “ kataku lirih.
Lalu kami saling diam lagi.

“Tak bisakah kita rujuk saja,” Mei mulai berbicara, lebih pada dirinya sendiri. Dan aku tahu kali ini ia tak ingin disela.

“Maksudku, umur kita sudah nyaris lima puluh. Mau apa lagi dengan perceraian besok?” ia menoleh padaku. 

Aku hanya bisa menunduk, memperhatikan aspal hitam kasar dan ujung sepatuku.

Dia masih menatapku, dan aku tak berani membalas tatapannya.

Akhirnya aku menggeleng lemah.

“Maafkan aku, “ kataku lirih. Aku tahu Mei sedang mati-matian membendung air matanya.
Mobil Tanya ada di depan kami, ia keluar dari mobilnya, lalu setengah berlari ke arah kami.

“Maafkan aku,“ kataku lagi, sambil mengusap pipinya. “Jangan menangis, sayang,” tambahku. Aku menatap matanya lekat-lekat. Ada embun di sana.

Ia menegakkan tubuhnya, mencoba kuat.

“Kamu harus janji untuk tidak masuk rumah sakit lagi,” katanya. “Jangan lupa lari pagi dan jaga pola makanmu,” tambahnya.

Tanya tiba, ia kaget memasuki atmosfir kami. Kemudian aku tersenyum padanya. Tanya membalas senyumanku.

Mei berbalik, lalu berjalan mendekat ke arahku. Sedikit kikuk ia melepas jeketnya dan menyerahkan padaku.

Aku melangkah pelan, lalu merengkuh tubuh mungil istriku. Aku memeluknya erat-erat, meresapi saat-saat terakhir kami masih suami-istri. Air matanya tumpah di dadaku. Mataku hangat. Sebelum berpisah, aku sempat mengecup keningnya. Ia berbalik dengan pundak bergetar dan Tanya di samping memapahnya.
Mei meninggalkan aku mematung di aspal hitam jalanan. Kedinginan, sendirian.[]    

1 comment:

  1. Bagus, romantis, dapet banget suasananya.. aku sebagai pembaca ikut kebawa ke atmosfer mereka :)

    ReplyDelete

please, tinggalkan comment kamu :)