Hujan turun.
Bukan gerimis, tapi hujan. Aku
berlari-lari kecil menembus kerumunan memilih tempat berteduh. Badanku sudah
basah dari atas ke bawah. Sudah kubilang kan kalau ini benar-benar hujan, bukan
gerimis?
Lelangit sedang murung, dinding angkasa
sedang ditutupi berlapis-lapis awan gelap, melelehkan air hujan dari lambung-lambungnya.
Aku berdesak-desakan dibawah sebuah
kanopi. Beberapa anak tangga ke bawah, licin karena dibuat dari keramik dan
basah karena hujan, dihiasi sepasang patung ganesha
yang juga kebasahan.
Aneh, pikirku. Padahal Senin, kenapa Kebun Raya bisa seramai ini?
Sepatuku basah hingga kaus kaki. Andai kugerak-gerakkan jemari kakiku, pasti
akan terdengar bunyi berdencit seperti rem sepeda ontel.
Hujan kemudian reda—untungnya—mungkin hanya
sepuluh menit aku berdiri di sana. Mumpung matahari masih terang, dan pelangi sedang
mekar di atas kucup pepohonan raksaksa, aku melompat, berlari—dengan
hati-hati—menuju angkot hijau yang sudah nyaris penuh.
Aku masuk, lalu duduk. Sengaja mengambil
posisi dekat pintu, supaya praktis saat keluar nanti, dan satu alasan lain.
Saat mobil perlahan berjalan, dari sudut ini aku masih sempat melihat sosokmu
di sana.
Kurebahkan tubuhku. Kasur pegas
berderit. Dingin. Aku malas ganti baju. Aku taruh lenganku di atas kelopak
mata. Membiarkan mataku beristirahat sejenak, berusaha menata nafas, dadaku
naik-turun. Saat aku pulang, hujan turun lagi, kali ini lebih besar.
Aku berguling sedikit ke kiri. Dari
sudut ini, aku melihat foto aku dan kakakku yang sedang tersenyum dengan latar
hamparan ladang. Lantai dipenuhi tumpukan kertas data dan kuisioner yang belum
lagi kusentuh. Padahal dosen pembimbingku harus segera ke Jerman bulan depan.
Entah kenapa hari ini aku rindu sekali
Garut, tempat kelahiranku. Kota kecil di sudut Jawa Barat dengan segala
kesederhanaanya, berbeda sekali dengan Bogor yang hiruk pikuk dan selalu basah.
Sayangnya aku belum bisa pulang, aku harus menuntaskan sarjanaku terlebih
dahulu.
Aku menarik nafas dalam-dalam,
mengumpulkan ceceran energi yang kuharap masih tersisa. Memaksa punggung ini
tegak, lalu bergerak menuju kamar mandi. Menyegarkan diri sebelum bergadang
menebus skripsiku, rasanya itu ide yang bagus.
Laki-laki itu, kamu, masih di sana. Di
bawah pohon mahoni raksaksa, yang batangnya kekar dan daunnya lebar-lebar.
Beberapa deret karikatur wajah orang-orang terkenal dijajarkan di sebelah kursi
lipatmu (aku curiga kamu membeli kursi itu di gerbong kereta ekonomi).
Seperti seniman jalanan pada umumnya, kamu
terlalu cuek untuk memperhatikan dandananmu. Wajahmu kusut, dengan bewok dan
kumis lebat tak terurus. Juga mata sayu, namun dari sepasang mata sayu itu, memancar
sesuatu yang berbeda. Entah apa itu. Hari ini rambut ikalmu yang panjang diikat
dibawah topi baseball yang lusuh. Lusuh karena sering kamu pakai saat hujan.
Tanganmu kurus dan pucat. Pucat untuk
ukuran orang yang bekerja di luaran. Jemarimu yang panjang-panjang berlumur cat
minyak, juga kemeja yang menjuntai sengaja tidak kamu kancingkan. Artistik
sekali, dan kaus oblong...
Bukk!!
“Ah maaf,” berkas data penelitianku
jatuh ke tanah, berserakan, parah!
“Kalau jalan lihat-lihat, Mba,“ hardik
orang itu. Kami bertabrakan keras sekali. Es krim miliknya sempat menempel di
bajunya sebelum jatuh.
Aduh, sial sekali! Kenapa aku bisa begitu
bodoh memperhatikan orang yang bahkan aku tak kenal, hingga menabrak orang lain
seperti ini? Aku berkali-kali mengucapkan maaf, sambil menundukkan kepala.
Beberapa orang tersenyum, beberapa yang
berdiri lebih dekat membantu mengumpulkan berkas-berkasku. Aku berkali-kali
menundukan kepala, mengucapkan terima kasih. Ketika orang yang aku tabrak
pergi, aku masih sempat mendengar gerutuan kesalnya. Aiih, malunya.
Melalui sudut mataku, aku melihat kamu
hendak berlari ke arahku, mungkin ingin membantu, tapi urung, mungkin karena
orang-orang ini. Ah kenapa aku bisa sebegitu ge-er nya? Kenapa kamu harus berlari menembus kerumunan ini untuk
menolongku? Kita bahkan tidak saling kenal.
Lama sekali rasanya aku membereskan
kertas-kertas ini. Orang-orang pasti bisa melihat kupingku memerah.
Nenek itu menyerahkan selembar foto. Kamu meraih
lembaran itu sambil tersenyum. Kamu berbicara sambil mengangguk-ngangguk
santun, sopan sekali.
Matahari yang jingga sudah nyaris
menyentuh lantai bumi. Bilah-bilah cahayanya menerobos sela-sela dedaunan
mahoni tua, menyinari batangnya yang kekar dan kasar, berjatuhan di antara
kanvas-kanvasmu. Hari ini Bogor sedang tersenyum rupanya. Jarang sekali sore
hari Bogor memiliki matahari seindah ini.
Teh botol yang sedang kugenggam terasa
dingin. Aku menghisap cairan gelap ini, segar dan sejuk di kerongkongan, manis
sekali rasanya. Apalagi sambil mengamati gerak-gerikmu.
Kuraih Nikon 3100-ku. Aku memotret
sambil tersenyum—aku yang tersenyum. Beberapa foto dengan latar senja indah ini
akan menambah koleksiku. Bukan-bukan. Aku bukan secret admirer gila yang mengumpulkan foto orang yang aku kagumi secara
diam-diam, pengecut sekali kalau aku begitu. Aku bahkan baru tahu kamu ada
seminggu yang lalu.
Hujan yang mempertemukan kita. Aku berdesakan
di bawah kanopi dekat patung ganesha, seperti tempo hari, dan hari-hari
sebelumnya saat hujan. Aku memperhatikanmu berlari-lari menembus hujan, mencari
tempat berteduh, dengan seekor anak kucing di pelukanmu.
Manis sekali, kamu cowok termanis yang
pernah aku temui.
Sejak itu, tiap kemari, aku selalu
menyempatkan diri memandangimu, dari jauh. Yah, dari jauh sudah cukup rasanya. Mau
apa lagi? Walaupun makin hari aku merasa makin aneh, berlarian ke sini, kadang
di tengah hujan, dan padahal tanpa membawa kertas-kertas kuisioner itu. Mungkin
aku sudah berubah menjadi orang aneh, atau mungkin kamu yang terlalu manis
sehingga aku jadi tidak bisa untuk tidak selalu memandangimu.
“Sial!” aku mendesis. Beberapa kali
melihat jam tangan. Kakiku berderap-derap di atas sol sepatu yang bahkan belum
kering, menembus kerumunan. Draft
skripsiku kupeluk erat di dada.
Hari ini aku ada janji dengan dosen
pembimbing. Sialnya, revisi bab dua tadi malam menuntutku bekerja hingga jam empat
subuh. Mataku masih pedas.
Aku berlari, menuju ke arahmu. Lapakmu
harus aku lewati—dengan senang hati aku lewati—karena itu jalan tercepat menuju
kantor. Makin dekat, entah kenapa jantungku makin tak mau diam, bukan karena lariku
makin cepat, tapi karena aku terus makin dekat ke arahmu. Bagaimana kalau kamu
memperhatikanku, bagaimana kalau kamu mengenaliku, gadis kuliahan tingkat akhir
yang mondar-mandir di sekitar pelataran gerbang Kebun Raya setiap hari?
Bagaimana kalau kamu tahu aku selalu mengamatimu, dari jauh, dan pernah
mengambil fotomu diam-diam?
Aku tiba, kamu sedang duduk di sana, di
sebelahku, pada detik ini, pada ayunan kaki yang ini.
Sekelebat aku melihat sesuatu. Jantungku
seperti berhenti.
Kanvas itu. Aku benar-benar berhenti,
terpaku, tak meneruskan lariku, tak peduli janjiku.
Kenapa ada di sana? Di kanvas itu, walau
masih sketsa dari pensil.
Wajahku?
Wajahku yang sedang tersenyum. Mata yang
menyipit, bintik matahari, juga sebuah topi rajut yang selalu aku kenakan.
Kamu yang sedang melukis, ada kanvas di antara
kita, menemukanku.
Kamu memandangiku, juga nampak kaget.
Pastinya kamu kaget melihat pemilik wajah ini memandangi gambar wajahnya. Mata
kita berpapasan. Ada hawa aneh yang menjalar dalam tubuhku.
Kita terdiam, beberapa orang lewat
begitu saja di antara kita. Daun-daun juga tidak peduli, mereka berayun-ayun
turun di antara udara, mendarat di atas sepatuku.
Dengan gerakan kikuk, kamu menyodorkan telapak
tanganmu, “Maaf menggambarmu tanpa ijin,” suaramu parau dan dalam, tapi
terdengar renyah di telingaku.
Tanganku mengembang di udara. Cahaya bulan
menembus sela-sela jemariku. Kasur pegas berderit-derit membendung dadaku yang
naik turun. Angin malam menembus kisi-kisi jendela, membuat jemariku
kedinginan.
Aku tak percaya, hari ini aku menjabat
tanganmu. Kupingku memerah. Aku berguling-guling tak karuan sambil
menjerit-jerit. Senyumku tak henti-hentinya mengembang. Malam ini aku tak akan
bisa tidur. Dan mungkin aku tak akan pernah lagi mencuci tangan.
“Bagaimana skripsimu?” suara kamu masih
saja renyah.
Aku mengangkat bahu pasrah, “belum ada
kemajuan.”
Kamu tertawa, memamerkan gigi putihmu di
depanku begitu saja. Aku menunduk, kupingku terasa panas. Malu sekali, kenapa
kamu tertawa puas sekali. Lantas kenapa pula telingaku memerah seperti ini?
Padahal baru kemarin kita berkenalan, tapi kamu sudah bisa tertawa begitu
lepas, seakan-akan kita kawan lama yang sudah sangat akrab.
“Eh, sehari biasanya kamu mendapat
berapa orderan?” tanyaku serius, berusaha mengalihkan topik.
Kamu menggenggam dagu, dan memasang
tampang berfikir keras.
“Tergantung. Kadang bisa sampai lima,
kadang nol sama sekali.” Seperti biasa, saat kamu bicara, tanganmu selalu
bergerak-gerak, meriah sekali.
Di hadapan kita, segerombolan anak-anak
berseragam baru saja keluar dari gerbang Kebun Raya. Mungkin rombongan TK yang
baru selesai karya wisata.
“Mereka akan kerepotan.”
“Hah?”
“Sebentar lagi akan hujan, dan mereka
tidak membawa payung,” aku hanya merespon dengan mengangguk.
“Eh.” Aku mendongak. Teh botol kita
tinggal setengah.
“Topi rajutmu bagus, beli di mana?”
“Hadiah dari ibu...”
Beberapa kata baru saja akan keluar,
hujan sudah mengguyur. Tanpa permisi, tanpa peringatan.
Aku tersenyum, pasrah mendapati ratusan
tetesan hujan serempak mendarat di ubun-ubunku. Sekejap saja pakaianku basah
dan tubuhku disergap dingin. Hujannya tidak main-main.
Anak-anak berseragam itu berlarian
menuju kanopi, beberapa malah tertawa-tawa riang. Kita, kamu dan aku, kemudian
berlarian sambil juga tertawa-tawa lalu berdesak-desakan bersama gerombolan
ini.
Aku menatapmu, ada senyum di sana.
Senyum kemenangan. “Tuh kan,” katamu.
Tanah basah, tangga dan patung ganesha apa lagi. Jalanan mengeluarkan
asap. Air hujan mengguyur semua, tanpa ampun, tapi sopan. Pepohonan menurut
ketika dedaunan dan batang-batangnya dibasuh. Sebuah mekasinme ajaib milik alam
untuk membersihkan diri.
Aku tersenyum. Tak pernah membayangkan
bisa berdesak-desakan di sampingmu, di bawah hujan seperti sekarang ini. Agak lebay
sih, tapi ini romantis sekali buatku.
“Ada yang lucu?” kamu memergoki wajahku
yang sedang merekah merah.
“Eh,” kataku tiba-tiba, meneteralkan
galagapku. “Awalnya aku benci Bogor, hujan terus nyaris setiap hari. Berbeda
sekali dengan Garut yang taat musim, dan lebih dingin. Tapi aku mulai suka kota
ini. Aku mulai suka aroma yang dibawa hujan di sini.”
“Sejak pertama, aku sudah suka kota ini,
aku suka sekali hujan di sini,” kamu seperti meresapi setiap titik-titik hujan
yang menyentuh tanah, dan menghirup setiap harumnya. Matamu memejam dan kamu
tersenyum. Damai sekali.
Aku juga. Aku mulai suka. Setelah mengenalmu
aku mulai suka kota ini. Aku mulai suka hujan di kota ini.
“Eh,“ ada sesuatu yang melintas di
benakku.
“Apa?” bahkan kepalaku hanya mencapai
pundakmu.
“Kenapa, kamu menggambar wajahku?” Aku
tak tahu asal kalimat itu keluar. Sial, malu sekali. Tapi aku penasaran. Aku
menunduk, memandangi ujung sepatuku yang digigiti air hujan.
Kamu diam. Tapi tidak lama.
Detik berikutnya, kamu menautkan
jemarimu di antara jemariku.
Aku kaget bukan main.Wajahku mendongak,
mencari-cari wajahmu.
Di wajahmu ada senyum, senyum lembut,
dan pipimu memerah. Pandanganmu lurus ke depan, tak menghiraukanku—sengaja tak
menghiraukanku.
Juntaian air hujan keperakan yang
meluncur dari ujung kanopi di atas kita terpantul jelas pada mata sayu milikmu.
Aku tersenyum, pipi dan kupingku
memerah. Diam-diam, aku mengeratkan genggaman kita. (con't)
* * *
wahhhh....bsa cerita juga...hehe...
ReplyDeleteatmosfir seorang penulis terasa banget saat baca cerita niy... :)
@anonymous, hahaha makasih. masih belajar #pipimerah
Deletemakasih deo :)
ReplyDeleteMantap gan.,
ReplyDeletemakasi bos :)
Delete