20130408

Kebun Raya (1)



Hujan turun.
Bukan gerimis, tapi hujan. Aku berlari-lari kecil menembus kerumunan memilih tempat berteduh. Badanku sudah basah dari atas ke bawah. Sudah kubilang kan kalau ini benar-benar hujan, bukan gerimis?
Lelangit sedang murung, dinding angkasa sedang ditutupi berlapis-lapis awan gelap, melelehkan air hujan dari lambung-lambungnya.
Aku berdesak-desakan dibawah sebuah kanopi. Beberapa anak tangga ke bawah, licin karena dibuat dari keramik dan basah karena hujan, dihiasi sepasang patung ganesha yang juga kebasahan.
Aneh, pikirku. Padahal  Senin, kenapa Kebun Raya bisa seramai ini? Sepatuku basah hingga kaus kaki. Andai kugerak-gerakkan jemari kakiku, pasti akan terdengar bunyi berdencit seperti rem sepeda ontel.
Hujan kemudian reda—untungnya—mungkin hanya sepuluh menit aku berdiri di sana. Mumpung matahari masih terang, dan pelangi sedang mekar di atas kucup pepohonan raksaksa, aku melompat, berlari—dengan hati-hati—menuju angkot hijau yang sudah nyaris penuh.
Aku masuk, lalu duduk. Sengaja mengambil posisi dekat pintu, supaya praktis saat keluar nanti, dan satu alasan lain. Saat mobil perlahan berjalan, dari sudut ini aku masih sempat melihat sosokmu di sana.

Kurebahkan tubuhku. Kasur pegas berderit. Dingin. Aku malas ganti baju. Aku taruh lenganku di atas kelopak mata. Membiarkan mataku beristirahat sejenak, berusaha menata nafas, dadaku naik-turun. Saat aku pulang, hujan turun lagi, kali ini lebih besar.
Aku berguling sedikit ke kiri. Dari sudut ini, aku melihat foto aku dan kakakku yang sedang tersenyum dengan latar hamparan ladang. Lantai dipenuhi tumpukan kertas data dan kuisioner yang belum lagi kusentuh. Padahal dosen pembimbingku harus segera ke Jerman bulan depan.
Entah kenapa hari ini aku rindu sekali Garut, tempat kelahiranku. Kota kecil di sudut Jawa Barat dengan segala kesederhanaanya, berbeda sekali dengan Bogor yang hiruk pikuk dan selalu basah. Sayangnya aku belum bisa pulang, aku harus menuntaskan sarjanaku terlebih dahulu.  
Aku menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan ceceran energi yang kuharap masih tersisa. Memaksa punggung ini tegak, lalu bergerak menuju kamar mandi. Menyegarkan diri sebelum bergadang menebus skripsiku, rasanya itu ide yang bagus.

Laki-laki itu, kamu, masih di sana. Di bawah pohon mahoni raksaksa, yang batangnya kekar dan daunnya lebar-lebar. Beberapa deret karikatur wajah orang-orang terkenal dijajarkan di sebelah kursi lipatmu (aku curiga kamu membeli kursi itu di gerbong kereta ekonomi).
Seperti seniman jalanan pada umumnya, kamu terlalu cuek untuk memperhatikan dandananmu. Wajahmu kusut, dengan bewok dan kumis lebat tak terurus. Juga mata sayu, namun dari sepasang mata sayu itu, memancar sesuatu yang berbeda. Entah apa itu. Hari ini rambut ikalmu yang panjang diikat dibawah topi baseball yang lusuh. Lusuh karena sering kamu pakai saat hujan.
Tanganmu kurus dan pucat. Pucat untuk ukuran orang yang bekerja di luaran. Jemarimu yang panjang-panjang berlumur cat minyak, juga kemeja yang menjuntai sengaja tidak kamu kancingkan. Artistik sekali, dan kaus oblong...
Bukk!!
“Ah maaf,” berkas data penelitianku jatuh ke tanah, berserakan, parah!
“Kalau jalan lihat-lihat, Mba,“ hardik orang itu. Kami bertabrakan keras sekali. Es krim miliknya sempat menempel di bajunya sebelum jatuh.
Aduh, sial sekali! Kenapa aku bisa begitu bodoh memperhatikan orang yang bahkan aku tak kenal, hingga menabrak orang lain seperti ini? Aku berkali-kali mengucapkan maaf, sambil menundukkan kepala.
Beberapa orang tersenyum, beberapa yang berdiri lebih dekat membantu mengumpulkan berkas-berkasku. Aku berkali-kali menundukan kepala, mengucapkan terima kasih. Ketika orang yang aku tabrak pergi, aku masih sempat mendengar gerutuan kesalnya. Aiih, malunya.
Melalui sudut mataku, aku melihat kamu hendak berlari ke arahku, mungkin ingin membantu, tapi urung, mungkin karena orang-orang ini. Ah kenapa aku bisa sebegitu ge-er nya? Kenapa kamu harus berlari menembus kerumunan ini untuk menolongku? Kita bahkan tidak saling kenal.
Lama sekali rasanya aku membereskan kertas-kertas ini. Orang-orang pasti bisa melihat kupingku memerah.

Nenek  itu menyerahkan selembar foto. Kamu meraih lembaran itu sambil tersenyum. Kamu berbicara sambil mengangguk-ngangguk santun, sopan sekali.
Matahari yang jingga sudah nyaris menyentuh lantai bumi. Bilah-bilah cahayanya menerobos sela-sela dedaunan mahoni tua, menyinari batangnya yang kekar dan kasar, berjatuhan di antara kanvas-kanvasmu. Hari ini Bogor sedang tersenyum rupanya. Jarang sekali sore hari Bogor memiliki matahari seindah ini.
Teh botol yang sedang kugenggam terasa dingin. Aku menghisap cairan gelap ini, segar dan sejuk di kerongkongan, manis sekali rasanya. Apalagi sambil mengamati gerak-gerikmu.
Kuraih Nikon 3100-ku. Aku memotret sambil tersenyum—aku yang tersenyum. Beberapa foto dengan latar senja indah ini akan menambah koleksiku. Bukan-bukan. Aku bukan secret admirer gila yang mengumpulkan foto orang yang aku kagumi secara diam-diam, pengecut sekali kalau aku begitu. Aku bahkan baru tahu kamu ada seminggu yang lalu.
Hujan yang mempertemukan kita. Aku berdesakan di bawah kanopi dekat patung ganesha, seperti tempo hari, dan hari-hari sebelumnya saat hujan. Aku memperhatikanmu berlari-lari menembus hujan, mencari tempat berteduh, dengan seekor anak kucing di pelukanmu.
Manis sekali, kamu cowok termanis yang pernah aku temui.
Sejak itu, tiap kemari, aku selalu menyempatkan diri memandangimu, dari jauh. Yah, dari jauh sudah cukup rasanya. Mau apa lagi? Walaupun makin hari aku merasa makin aneh, berlarian ke sini, kadang di tengah hujan, dan padahal tanpa membawa kertas-kertas kuisioner itu. Mungkin aku sudah berubah menjadi orang aneh, atau mungkin kamu yang terlalu manis sehingga aku jadi tidak bisa untuk tidak selalu memandangimu.

“Sial!” aku mendesis. Beberapa kali melihat jam tangan. Kakiku berderap-derap di atas sol sepatu yang bahkan belum kering, menembus kerumunan. Draft skripsiku kupeluk erat di dada.
Hari ini aku ada janji dengan dosen pembimbing. Sialnya, revisi bab dua tadi malam menuntutku bekerja hingga jam empat subuh. Mataku masih pedas.  
Aku berlari, menuju ke arahmu. Lapakmu harus aku lewati—dengan senang hati aku lewati—karena itu jalan tercepat menuju kantor. Makin dekat, entah kenapa jantungku makin tak mau diam, bukan karena lariku makin cepat, tapi karena aku terus makin dekat ke arahmu. Bagaimana kalau kamu memperhatikanku, bagaimana kalau kamu mengenaliku, gadis kuliahan tingkat akhir yang mondar-mandir di sekitar pelataran gerbang Kebun Raya setiap hari? Bagaimana kalau kamu tahu aku selalu mengamatimu, dari jauh, dan pernah mengambil fotomu diam-diam?
Aku tiba, kamu sedang duduk di sana, di sebelahku, pada detik ini, pada ayunan kaki yang ini.
Sekelebat aku melihat sesuatu. Jantungku seperti berhenti.
Kanvas itu. Aku benar-benar berhenti, terpaku, tak meneruskan lariku, tak peduli janjiku.
Kenapa ada di sana? Di kanvas itu, walau masih sketsa dari pensil.
Wajahku?
Wajahku yang sedang tersenyum. Mata yang menyipit, bintik matahari, juga sebuah topi rajut yang selalu aku kenakan.
Kamu yang sedang melukis, ada kanvas di antara kita, menemukanku.
Kamu memandangiku, juga nampak kaget. Pastinya kamu kaget melihat pemilik wajah ini memandangi gambar wajahnya. Mata kita berpapasan. Ada hawa aneh yang menjalar dalam tubuhku.
Kita terdiam, beberapa orang lewat begitu saja di antara kita. Daun-daun juga tidak peduli, mereka berayun-ayun turun di antara udara, mendarat di atas sepatuku.
Dengan gerakan kikuk, kamu menyodorkan telapak tanganmu, “Maaf menggambarmu tanpa ijin,” suaramu parau dan dalam, tapi terdengar renyah di telingaku.

Tanganku mengembang di udara. Cahaya bulan menembus sela-sela jemariku. Kasur pegas berderit-derit membendung dadaku yang naik turun. Angin malam menembus kisi-kisi jendela, membuat jemariku kedinginan.
Aku tak percaya, hari ini aku menjabat tanganmu. Kupingku memerah. Aku berguling-guling tak karuan sambil menjerit-jerit. Senyumku tak henti-hentinya mengembang. Malam ini aku tak akan bisa tidur. Dan mungkin aku tak akan pernah lagi mencuci tangan.

“Bagaimana skripsimu?” suara kamu masih saja renyah.
Aku mengangkat bahu pasrah, “belum ada kemajuan.”
Kamu tertawa, memamerkan gigi putihmu di depanku begitu saja. Aku menunduk, kupingku terasa panas. Malu sekali, kenapa kamu tertawa puas sekali. Lantas kenapa pula telingaku memerah seperti ini? Padahal baru kemarin kita berkenalan, tapi kamu sudah bisa tertawa begitu lepas, seakan-akan kita kawan lama yang sudah sangat akrab.
“Eh, sehari biasanya kamu mendapat berapa orderan?” tanyaku serius, berusaha mengalihkan topik.
Kamu menggenggam dagu, dan memasang tampang berfikir keras.
“Tergantung. Kadang bisa sampai lima, kadang nol sama sekali.” Seperti biasa, saat kamu bicara, tanganmu selalu bergerak-gerak, meriah sekali.
Di hadapan kita, segerombolan anak-anak berseragam baru saja keluar dari gerbang Kebun Raya. Mungkin rombongan TK yang baru selesai karya wisata.
“Mereka akan kerepotan.”
“Hah?”
“Sebentar lagi akan hujan, dan mereka tidak membawa payung,” aku hanya merespon dengan mengangguk.
“Eh.” Aku mendongak. Teh botol kita tinggal setengah.
“Topi rajutmu bagus, beli di mana?”
“Hadiah dari ibu...”
Beberapa kata baru saja akan keluar, hujan sudah mengguyur. Tanpa permisi, tanpa peringatan.
Aku tersenyum, pasrah mendapati ratusan tetesan hujan serempak mendarat di ubun-ubunku. Sekejap saja pakaianku basah dan tubuhku disergap dingin. Hujannya tidak main-main.
Anak-anak berseragam itu berlarian menuju kanopi, beberapa malah tertawa-tawa riang. Kita, kamu dan aku, kemudian berlarian sambil juga tertawa-tawa lalu berdesak-desakan bersama gerombolan ini.
Aku menatapmu, ada senyum di sana. Senyum kemenangan. “Tuh kan,” katamu.
Tanah basah, tangga dan patung ganesha apa lagi. Jalanan mengeluarkan asap. Air hujan mengguyur semua, tanpa ampun, tapi sopan. Pepohonan menurut ketika dedaunan dan batang-batangnya dibasuh. Sebuah mekasinme ajaib milik alam untuk membersihkan diri.
Aku tersenyum. Tak pernah membayangkan bisa berdesak-desakan di sampingmu, di bawah hujan seperti sekarang ini. Agak lebay sih, tapi ini romantis sekali buatku.
“Ada yang lucu?” kamu memergoki wajahku yang sedang merekah merah.
“Eh,” kataku tiba-tiba, meneteralkan galagapku. “Awalnya aku benci Bogor, hujan terus nyaris setiap hari. Berbeda sekali dengan Garut yang taat musim, dan lebih dingin. Tapi aku mulai suka kota ini. Aku mulai suka aroma yang dibawa hujan di sini.”
“Sejak pertama, aku sudah suka kota ini, aku suka sekali hujan di sini,” kamu seperti meresapi setiap titik-titik hujan yang menyentuh tanah, dan menghirup setiap harumnya. Matamu memejam dan kamu tersenyum. Damai sekali.
Aku juga. Aku mulai suka. Setelah mengenalmu aku mulai suka kota ini. Aku mulai suka hujan di kota ini.
“Eh,“ ada sesuatu yang melintas di benakku. 
“Apa?” bahkan kepalaku hanya mencapai pundakmu.
“Kenapa, kamu menggambar wajahku?” Aku tak tahu asal kalimat itu keluar. Sial, malu sekali. Tapi aku penasaran. Aku menunduk, memandangi ujung sepatuku yang digigiti air hujan.
Kamu diam. Tapi tidak lama.
Detik berikutnya, kamu menautkan jemarimu di antara jemariku.
Aku kaget bukan main.Wajahku mendongak, mencari-cari wajahmu.
Di wajahmu ada senyum, senyum lembut, dan pipimu memerah. Pandanganmu lurus ke depan, tak menghiraukanku—sengaja tak menghiraukanku.
Juntaian air hujan keperakan yang meluncur dari ujung kanopi di atas kita terpantul jelas pada mata sayu milikmu.
Aku tersenyum, pipi dan kupingku memerah. Diam-diam, aku mengeratkan genggaman kita. (con't)

* * *

5 comments:

please, tinggalkan comment kamu :)