20170119

Kamis .....

“Kamu tahu apa yang menarik dari mu?”

Derak ranting saling beradu di sela-sela hembusan angin. Titik-titik hujan sudah bosan turun, toh tanah dan batang pepohonan sudah basah dari tadi. Awan-awan  mengalah sejenak, giliran bulan dan gemintang meramaikan angkasa malam ini.

Dari jendela yang setengah terbuka di lantai dua, terlihat seorang anak perempuan sedang berbaring telungkup di atas tempat tidur di dalam kamarnya. Bantal, laptop dan selimut bertebaran tak beraturan di antara tubuhnya yang tergeletak di sana.

“Ah kamu selalu diam tiap aku tanya." 

"Biar aku yang jawab deh.”

“Kamu itu selalu baik pada orang lain, walau terkadang menyusahkan diri kamu sendiri. Kadang aku ngga suka kamu yang seperti itu, walau tetap saja menurutku itu keren.”

“Oh iya, kamu selalu pelupa. Ngga pernah ingat hal atau tanggal penting. Menurutku nyebelin sih. Soalnya kalau kamu ngga hafal yang gitu-gitu gimana kamu mau ngasih kejutan. cewek kan seneng sama kejutan-kejutan. Walau kecil dan simple, tetap saja kejutan itu membahagiakan. Karena dia datang ngga disangka-sangka.”

“Kamu juga simple, ngga pernah terlihat wah. Maksudku dandananmu biasa aja, ngga pernah keliatan gimana-gimana. Kamu juga serang yang gentle, ketika naik lift dan penuh kamu akan mengalah, tak pernah segan membukakan pintu untuk perempuan. Ketika di kereta atau bis, kalau ada orang tua berdiri, kamu akan mempersilakan mereka mengambil tempat dudukmu.”

“Kamu itu tukang ngeluh kalau lagi bete, tapi selalu jujur dan berusaha untuk ngga syusahin orang lain. Itu kenapa kadang kamu pulang lebih malem. Karena kamu sering dimintain tolong dan kamu ngga bisa nolak. Walau menggerutu, tapi toh kamu kerjain juga permintaan mereka. Mungkin itu yang bikin temen kamu banyak. Kayaknya satu lantai kenal kamu semua. Mereka ngga segan-segan ngeledekin kamu, karena kamu dan mereka sudah saling akrab, dan mereka tahu kamu itu ngga bakal marah kalau diledekin segimana juga.”

Boneka Twetty kuning yang selalu menemani Ratih tidur menatapnya.

“Kamu kok ngeliatin aku nya gitu?”

“Ah, aku juga yang aneh, malam-malam gini ngobrol sama boneka, ya iya lah ngga bakalan nyahut.”

Ratih memeriksa HP di meja sebelah tempat tidur.

Tidak ada notifikasi.

Mungkin Zul udah tidur, dia suka tidur cepet soalnya.

Ratih merapikan bantal, menaruh laptop kemudian menarik selimut.

DRRRRRRRRRRRRRRRRRD!

HPnya bergetar.

Ratih meloncat, terpogoh-pogoh menuju tepian tempat tidur lalu meraih HP yang masih menancap kabel chargernya.

Sabtu malem dinner yuk, di Roof Top café. Bosen makan warung tenda depan kantor mulu. Bisa ngga?

Ah, tu anak panjang umur. Ratih tersenyum sumringah.

Boleh2. Aku berangkat sendiri aja tapi ya, ngga usah di jemput. Emang anak manja pake jemput-jemput. Jam 8 kan?

Dia menekan enter setelah beberapa kali ketik-edit.

HP-nya bergetar lagi.

Yakin? Oke deh. Sleep tight.

Tuh kan, dia tuh lurus banget orangnya. Nyoba-nyoba ngebujuk supaya Aku mau dijemput kek. Bisik Ratih rada kesal dalam hati.

Walau begitu, senyum di wajahnya entah kenapa tidak mau luntur. Mungkin malam ini dia bakal tidur dengan penuh senyum kaya gini.
  
“Bahagia banget hari ini?” Ratih menoleh. Bosnya muncul di belakangnya, baru tiba rupanya.

Kebetulan ditimnya, hanya ada mereka berdua. Ratih dan Bosnya. Seharusnya sih mereka bertiga, hanya saja satu orang lagi baru saja mengajukan resign sebulan yang lalu, katanya sih HRD lagi nyari penggantinya, tapi tak kunjung ada. Akibantnya mereka (Ratih dan atasannya) semakin kompak karena mau ngga mau harus berbagi pekerjaan.

“Biasa aja kok Bu, “ Ratih berusaha telihat biasa. 

“Anak lantai 5 itu ya?”

Ratih menoleh kaget. Apa iya wajahnya gampang ditebak?

“Aku sering lihat kalian makan di warung tenda depan kantor,”

 Ratih diam saja, ia berusaha focus pada layar laotop dihadapannya, berusaha terlihat serius.

“Ciyeeee, sok-sok serius gitu,”

“Apa sih Bu,” nyengir-nyengir ngga enak.

“Udah jauh hubungan kalian? Kamu udah kasih kode keras belum? Cowok jaman sekarang mah ngga ada yang peka. Kalo ngga dikode-in ngga ada yang nyadar. kadang yang udah dikasih kode super keras juga masih bebal-bebal aja.”

Umur Ratih dan Bosnya sebenarnya tidak terpaut cukup jauh, mereka hanya beda tiga tahun. Jadi seharusnya dunia perasmaraan mereka tidak terlalu berbeda.

“Aku juga bingung, apa IQ laki-laki yang makin ke sini makin bodoh atau gimana ya, kok ngga peka-peka.”

“Ibu curhat suami ibu ya?” celetuk Ratih.

“Kamu bisa aja ah,” kemudian dia berlalu menyembunyikan wajahnya yang memerah, mungkin ke kamar kecil.

Ratih terdiam.

Beberapa minggu yang lalu ia nekat mengajak Zul makan. Jaman sekarang walau katanya sudah jaman emansipasi, sudah banyak cewek ngambil inisiatif duluan, tetap saja  malunya bukan main. Entah kenapa rasanya seperti dia melawan kodratnya sendiri.

Untuk Zul sangat baik, dia bilang Oke, jadi Ratih ngga jadi malu. Coba kalo Zul bilang ngga bisa, mau ditaro di mana mukanya Ratih coba.

kali itu mereka jadi makan malam bareng dengan modus bahas kerjaan, walau cuman di warung tenda depan kantor (oh iya, Zul dan Ratih masih satu project waktu itu).

Beberapa hari berlalu, Ratih menunggu. Harusnya Zul mengerti apa yang dimau Ratih. Sayangnya setelah itu tidak ada pergerakan dari Zul. Bukankah ngajak makan itu adalah salah satu bentuk kode yang amat sangat jelas. Dengan ngajak makan duluan, semua cowok dari pelanet Namex juga harusnya ngerti. tapi si Zul ngga ada manufer apa-apa setelah itu. Ratih gemes bukan main. 

Mungkin Kodenya kurang keras. akhirnya setelah mengumpulkan keberanian selama seminggu lebih, Ratih memberanikan diri menelpon Zul, memintanya menemani membeli baju, alasananya sih untuk arisan (ini mah murni modus). 

Walau sambil membaca contekan dan agak terbata-bata saking groginya Ratih saat menelpon waktu itu, Zul akhirnya mengiyakan. Ratih mau melompat dari kamarnya di lantai dua waktu itu, tapi membayangkan kakinya patah dan dia harus pake kruk saat weekend besok, Ratih mengurungkan niatnya. Ia bergegas membongkar lemari dan memilih baju yang akan dikenakan untuk acara weekendnya bersama Zul (semalaman itu ia mematut-matut di depan cermin memilih baju mana yang paling pas).

“Kalian pernah makan di mana aja?” Bos nya baru balik dari kamar kecil. Tuh bibirnya makin merah, dia pasti baru benerin dandananya di kamar mandi.

“Warung tenda depan, sama pernah sekali kali ke mall,” kata Ratih, pura-pura tak acuh.

“Waah, anak itu ngga ngajak kamu makan ke tempat yang bagusan dikit?”

“Dia belum nembak? Kalian belum jadian?”

Ratih berat menggeleng. Kadang dia juga bingung. Dia sudah mati-matian menunjukan perasaannya dengan segala per-kode-an nya pada Zul. Tapi Zul tetap biasa saja. 

Sebenarnya Zul itu baik pada Ratih, sangat baik malahan. Tapi hanya sampai di situ saja.

Apa Zul hanya menganggap dirinya teman doang?

Tiba-tiba Ratih merinding. Dia tidak mau memikirkan kemungkinan itu.

“Apa sih yang bikin kamu kesem-sem gitu sama dia, Tih? Kalau dilihat-lihat yah, dia ngga charming-charming amat, tampang sama dandananya juga biasa aja. Kamu itu cantik lho, kalo kamu mau kamu bisa dapetin yang lebih ganteng dari dia,”

Aduh ini emak-emak, untung atasannya, kalau bukan sudah dipites-pites dari tadi.

Sabaar-sabaar, ini ujiaan.

Mungkin enam tahun lalu, saat langit Yogya tidak sepengap sekarang karena banyaknya kendaraan di atas kota yang selalu bikin kangen itu.

Ratih yang masih SMA terpogoh-pogoh mencari bis. Mereka baru saja menjelajahi jalan Malioboro. Ini adalah salah satu runtutan kegiatan study tour mereka ke kota istimewa ini. Bagi Ratih, yang anak satu-satunya di keluarganya, ini adalah kali pertama dia jauh dari rumah tanpa ayah atau ibunya.

Sialnya lagi, saat dia sedang asyik memilih oleh-oleh untuk neneknya di rumah ia terpisah dengan teman-teman sekelasnya. Ketika sadar teman-temannya sudah tidak ada di sana. Padahal sebentar lagi sudah jam berkumpul untuk pulang ke Hotel.

Sudah kelelahan, kepanasan, wajah merah karena peluh dan ketakutan, Ratih terpogoh-pogoh menyusuri jalanan mencari teman-temannya. Ia tak berani bertanya karena ia tidak mengerti Bahasa jawa dan dia tidak diajarkan untuk berbicara pada orang yang belum ia kenal.

Ratih sudah nyaris menangis karena ia sudah sangat ketakutan akan di tinggal rombogan bis dan haru sudah makin sore. Tiba-tiba seseorang mencolek punggungnya. Ratih menoleh, ia menemukan Zul, yang kepalanya botak dan jerawatnya banyak, di hadapannya.

“Anu, kita satu sekolah kan?” Ratih melihat Zul sangat gugup dan malu-malu. Anak itu bahkan berbicara sambil menunduk.

Ratih mengangguk. Menemukan teman yang memakai seragam yang sama, walau bukan teman ceweknya, Ratih merasa sangat lega.

“Boleh pinjem duit?”

“Ah?”

Anak itu menggaruk kepalanya, lalu memainkan ujung sepatunya.

“Tadi aku membeli gantungan kunci dari nenek itu,” ia menunjuk seorang nenek di perempatan jalan. “Ternyata uangku hanya yang ada di saku celana, dompetku ketinggalan di kamar hotel. Aku kelaparan belum makan dari pagi karena tadi bangun kesiangan jadi ngga sempet sarapan di hotel,” wajahnya memerah malu.

Ratih memperhatikan kantung keresek hitam di tangan anak itu. Itu jelas-jelas terlalu banyak untuk dimakannya sendiri. Ratih melempar pandangannya pada nenek-nenek yang dimaksud. Nenek itu terlihat kepanasan dan kelelahan dengan dagangan yang masih sisa banyak.

Ratih mengerjapkan matanya.

“Kenapa kamu beli banyak-banyak gitu gantungan kunci nya?” sambil menunjuk keresek hitam yang di tenteng Zul.

“Habis, kasian nenek itu, sudah sore begini tapi dagangannya masih banyak. Jadi aku habiskan uangku untuk beli gantungan kunci ini. Aku kira aku bawa dompet, ternyata ketinggalan.” Ia menepuk kepalanya kesal.

Sejak hari itu, Ratih selalu memperhatikan anak botak berjerawat itu. kejadian di Marioboro itu menimbulkan perasaan aneh pada Ratih. Diam-diam Ratih menyelidiki kegiatan Zul. dari eskul, les hingga teman mainnya. Sayangnya mereka harus berpisah setelah lulus. Ratih memutuskan untuk kuliah di Jogja sedangkan Zul di Jakarta. 

Hingga takdir kembali mengatur, ketika pindah ke perusahaan ini setengah tahun lalu Ratih secara tidak sengaja berpapasan dengan Zul di lobby di hari pertamanya di kantor ini.

Tapi Zul tidak menyapanya. Mungkin dia lupa. Lagi pula mereka tidak pernah sekelas dan tampang Ratih dulu dan sekarang beda sekali. Berada satu kantor dengan cinta pertamanya membuat Ratih bahagia minta ampun.

Ia menganggap pertemuannya kembali dengan Zul merupakan pertanda langit. Tambah lagi sebulan yang lalu mereka berada dalam satu projek yang sama. Bayangkan betapa indahnya dunia ini bagi Ratih sebulan yang lalu.

Orang bilang cinta pertama itu tak bisa dilupakan.

Ratih mengiya kan. Karenanya, kali ini ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Dia ngga pernah ngajak kamu makan keluar gitu?”

“Besok, ke Roof top café,”

“Wah, café baru yang katanya romantis banget itu?”

Ratih mengangguk.

“Ini pertema kali dia ngajak keluar dan langsung ke Café keren?”

Ratih mengangguk (lagi).

“Kami siap-siap ya, dandan yang cantik,”

“Hah? Emang kenapa bu?”

“Aduh, kamu itu polos banget ya. Kalau ada cowok yang lagi PDKT lalu tiba-tiba ngajak ke tempat romantis nan istimewa, kira-kira dia mau ngapain?”

Ratih masih memasang wajah tak mengerti.

“Dia mau nembak kamu,”

Ratih terdiam.

Detik berikutnya terdengar suara setengah menjerit. Seluruh ruangan menatap Ratih heran. Ratih buru-buru menutup mulutnya, kaget sendiri dia.

Wajahnya semerah tomat masak.


(bersambung...)

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)