20130102

Gerimis Turun ke Jalan


          
Aku suka gerimis. Rintikan beningnya yang menyejukkan jalanan juga meresap ke hatiku. Melompat-lompat dalam tetesan kecil menuntaskan dahaga tanah. Ia muncul dari awan tebal yang tidak terlalu hitam. Memerintahkan semua mahluk untuk rehat sejenak, menyingkir, mengistirahatkan diri, berteduh. Mengembun di sudut kaca, mengalir turun berkejaran polos. Namun pun kau memaksa menerjangnya, ia tidak marah, ia hanya akan menyapamu ramah. Membelai rambut hitammu namun tidak sampai lepek. Menerobos kulitmu, namun hanya basuhan riang. Meresapi baju mu, namun hanya basahan kecil. Sebuah fenomena yang menceritakan keceriaan alam terhadap makhluknya, cara alam membersihkan diri.
Sehingga itu, ketika pagi ini gerimis turun, berlawanan dengan semua panghuni dunia yang malas manyapa hari, aku malah berjingkrak riang di bawah kidung sang gerimis. Ia menemukanku pagi ini dan memandangku lugu sepanjang perjalanan. Entah mengapa walau gerimis menyelinapkan hawa dingin di kuduk, hatiku malah hangat dan nyaman. Dengan lugunya aku mengayunkan langkah hingga membawaku ke terminal ini. Menunaikan janjiku berangkat tamasya bersama teman-teman.
Walau aku sudah hafal sekali tabiat mereka yang hobi telat, entah mengapa kebiasaan untuk datang tepat waktuku seakan tuli dan keras kepala walau sadar betul aku akan dihianati oleh perilaku karet sahabat-sahabatku itu. Sial bisikku. Berulang kali melirik jam yang melingkar apik di pergelangan kiri ini, tetap saja tiap lintasan detiknya belum membawa rombongan mereka tiba.
Hari ini aneh, pikirku. Terminal tidak seperti biasanya, walau masih banyak orang berkeliaran dengan tas-tas dan koper masing-masing, banyak polisi berseragam berdiri di pojokan jalanan raya. Diantaranya mengenakan seragam semacam SWAT yang aku sering lihat di TV kabel. Helmet, rompi anti peluru, pentungan dan perisai transparan besar mengena pas di tubuh-tubuh mereka. Tak masuk ke dalam akalku mengapa mereka mau merepoti dan membasah-basahi diri di bawah rintikan gerimis, berkumpul di terminal ini. Apa lagi ini hari minggu. Ah biarlah, bukan urusanku sama sekali. Aku mengangkat bahu.
Tiba-tiba saja terlintas wajah Renald di benakku, seorang teman sekelas yang baru kutemukan Senin lalu. Mengingatnya membuat ku bingung, aneh dan tawar. Ada segudang penasaran yang membumbung. Masih segar ingatku ketika pundaknya bergerak-gerak tangkas nampak dari belakang kala membereskan tempat pensilku yang jatuh bercecer di lantai itu. Ia berdiri, menyerahkan tempat pinsilku lalu beranjak pergi. Cepat sekali, tanpa menatap wajahku, tanpa memberi ku time out untuk setidaknya mengucapkan terima kasih. Namun setidaknya aku cukup cekatan menangkap keseluruhan alur wajahnya, aku langsung teringat Mang Jaja, tukang kebersihaan sekolah kami. Aku nyaris tertawa lepas andai bukan di kelas.
“Kenapa mukamu?” kata Tyas, menangkap basah wajahku yang tak karuan menahan tawa.
“Bukan apa-apa, itu siapa yang tadi?” mulai bisa mengontrol raut sendiri. Tyas menyernyit, wajahnya seekspresi ketika ada lebah menggigit hidungnya.
“Itu Renald! Yang tadi merapikan tempat pinsilmu kan?” masih tidak percaya. Aku mengangguk lugu.
“Kamu belum kenal Renald!? Kita kan sudah sekelas sejak kelas sepuluh,” Tyas kecewa. Aku hanya mengangkat bahu.
“Kok aku baru tahu ya? Dia jarang aktif di kelas ya?” Membereskan kembali isi tasku. Bertanya asal.
“Ya begitu, dia kan tuli. Jadi jarang ada anak yang mau mengobrol denganya, susah nyambungnya,” kata Tyas asal saja. Ia tidak tahu kata-kata itu membuat rahangku menganga barang tiga detik, sebelum akhirnya bisa ku kembalikan ke posisi semula. Aku kaget bukan main.
“Ko bisa? Tuli, tuna rungu bukan? Tidak bisa mendengar?” Aku penasaran. Tias lagi-lagi menyernyit, alisnya naik sebelah.
“Iya, budek, tidak bisa mendengar. Katanya dia kecelakaan, ada organ telinganya yang rusak atau sejenisnya, aku juga kurang tahu pasti,” Tyas bangkit, bersiap pulang. Aku terdiam. Waw! aku baru tahu ada orang sepeti itu di kelas kita. Aku tenggelam sejenak. Renald? Tuli? Tapi bukan urusanku kan? Sambil mengangkat bahu, acuh, kemudian menyusul Tyas pulang.
Namun anehnya pertemuan pertama kami seakan seperti pematik yang menyalakan sumbu panjang yang entah ujungnya berada di mana. Ia selalu ada di sekitarku ketika aku membutuhkan seeorang. Entah itu kebetulan atau apa. Seperti saat pulpen ku tertinggal, ia tiba-tiba menyodorkan pulpennya. Aku hanya bisa tersenyum dan berterima kasih, sambil berfikir dalam hati, apa dia bisa mendengar ucapan terima kasihku. Begitu juga saat penghapusku terjatuh, saat aku ingin memungutnya, tiba-tiba saja dia sudah berdiri menggenggam penghapusku, menyerahkannya. Pada awalnya aku merasa senang karena dia ternyata orang baik.
Hingga ketika itu, saat pelajaran Bahasa Inggris, yang semua siswa diwajibkan membawa kamus Bahasa Inggris. Aku yang teledor ini jelas lupa membawa kamus. Maka bersiap-siaplah aku untuk maju berdiri di depan kelas karena memang begitu peraturan yang diterapkan oleh Pak Tejo yang galak. Minggu lalu Tyas tidak membawa kamus, ia harus berdiri di sana sepanjang jam pelajaran, setelah kena marah dan masih harus mengumpulkan tugas yang luar biasa banyak dan tidak manusiawi keesokan harinya. Apa boleh buat, malamnya aku menginap di rumah Tyas untuk membantu menyelesaikan tugas itu.
Minggu ini rupanya giliranku, aku begitu bodoh ketika pagi ini bangun terlambat dan berakhir seperti sekarang. Nafasku sudah sesak, darah tak mau lagi mengalir ke wajahku, jantungku meledak-ledak, tanganku dingin, pasrah. Ketika Pak Tejo menuju tempat dudukku, wajahku tertunduk lesu, aku sudah menyerah, pasrah tanpa sarat, menunggu tertangkap basah untuk diseret ke depan, tiba-tiba Renald muncul dari belakang, menaruh kamusnya tepat di hadapanku lalu melangkah ke depan kelas. Meninggalkanku sendirian dengan mulut menganga, dalam kebingungan. Di depan Renald berdiri sambil menunduk, mungkin karena kelelahan berteriak (teriakan yang tak mungkin didengar Renald), Pak Tejo memukul keras-keras pantat Renald dengan penggaris papan tulis, keras tanpa ampun. Renald meringis kesakitan. Aku diam, Renald menyelamatkanku. Saat itu ingin rasanya aku menguap saja.  
Awalnya semacam perasaan simpatik dan kasihan melihatnya tersisih di kelas seorang diri, ia dihindari, tak ada yang mau menemani, bahkan tak ada yang mau sekelompok. Diam-diam kulihat ia mengerjakan tugas dan mengumpulkan tugas yang seharusnya diselesaikan secara berkelompok sendirian. Hatiku tertegur, ada semacam duri mengendap di sana, kecil tapi perih.
Ingin rasanya bisa membantunya, mengajaknya membaur bersama yang lain, menjadikan dia bagian yang juga bercahaya di kelas ini. Namun sejak itu, sejak perbuatannya yang bisa dibilang berlebihan, entah mengapa ada sesuatu yang mengusikku. Entah apa, aku tak paham sama sekali. Penasaran, mungkin.
Akhirnya semuanya mengalir dalam endapan yang mebuat menjadi semacam kikuk dan kaku. Mungkin dia menyukai ku, kasarnya seperti itu, tapi aku tak mengira bisa menerima perasaanya. Tak tahu kenapa, pokoknya sulit saja. Andai saja dipaksa menengok lembah terdalam hatiku, mengorek-ngorek sisi yang masih bening di sana, mungkin jawabannya adalah karena keadaanya yang demikian, ia tuli.
Egois dan jahat, tapi bukankah semua anak gadis ingin memiliki pacar yang keren, setidaknya normal? Maksudku…ah pasti kalian paham. Karenanya,  menerima semua perlakuannya itu, sungguh membuatku merasa tidak nyaman, risih, dan…sejujurnya aku tak ingin terlalu berhubungan dengannya lagi, juga tak ingin punya hutang budi darinya.
Jarum panjang merangkak ke angka tiga dari dua belas, meninggalkan jarum pendeknya sendirian di tujuh. Jam yang terlihat berkilau dan basah efek cipratan gerimis masih melingkar manis di pergelangan kiriku. Gerimis reda. Awan-awan mulai menguap dan memamerkan matahari milik mereka. Walau masih agak malu, pesona kilau matahari mulai menyapu daratan pelan. Burung-burung yang tadinya berteduh di pepohonan pemayung jalan kini mulai beriak-riak, titik-titik hitam mereka makin ramai di angkasa. Di ujung jalan sebelah timur, ada segerombolan besar orang dengan sepanduk dan poster yang mengacung, berjalan perlahan menuju tempatku berdiri. Detik selanjutnya aku sadar kenapa bapak-bapak polisi ini berkeliaran banyak di sekitar terminal. Rupanya mereka akan mengawal para demonstaran yang baru saja kulihat. Aneh ya? kenapa mereka berdemo di hari minggu? Bukankah semua kantor pemerintahan libur ketika minggu, aku angkat bahu.
Aku mengorek isi tas, mencari HP. Aku ingin tahu dimana Tyas dan teman yang lainnya sekarang, kenapa mereka belum juga muncul? Aku girang karena setelah agak lama akhirnya aku menemukan HP-ku, tapi wajahku kembali lesu, HP-ku mati, baterainya habis. Sial, lagi-lagi lupa men-charge. Aku menendang aspal kesal. Detik berikutnya aku tak faham ada apa. Mugkin karena dari tadi perhatianku terpusat pada HP yang ku genggam, aku kaget ketika tiba-tiba banyak orang berlarian menghambur dari terminal, polisi yang sedetik lalu masih nampak santai kini berlarian rusuh ke arah timur. Mirip gerombolan bison dikejar singa padang rumput di National Geographic Channel. Kerumunan demostran itu sedang rusuh, merusak apa saja yang ada di dekat mereka, meneriakan yel-yel yang tak kupahami, membakar ban, sepeda motor bahkan angkot yang lewat. Ledakan berdentuman akibat bom molotok dan petasan. Melihat polisi mendekat, mereka melempar batu dan segala macam benda ke arah polisi. Beberapa polisi terjatuh, merasa ditantang, barisan polisi berlarian makin liar, menerjang dan memukul apa saja manusia dihadapan mereka. Terdengar suara pecah dari pistol yang diacungkan ke udara. Kerumunan demonstran yang banyak sekali itu bubar, berantakan ke segala arah, bak semut berlarian karena hujan, menyelamatkan diri dari kejaran polisi-polisi yang tersulut amarah. Polisi yang menangkap demonstran menghantam tanpa ampun punggung, kepala, atau apapun bagian tubuh mereka dengan pentungannya. Ada yang tergeletak, terinjak, darah mengalir dari kepala mereka. Bahkan pedagang yang tanpa ciri-ciri demonstran pun kena hantam. Wartawan lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Semua orang gelap mata saat itu. Kacau dan mengerikan!
Aku sendiri, berdiri dengan kaki lemas, kacau dan kaget. Dihadapanku sedang terjadi kekacauan yang sangat. Banyak orang terjatuh, terbanting, terinjak. Beberapa orang yang lepas dari polisi berlarian melewatiku dengan tangan memegang kepala yang berdarah-darah, satu orang terjerembap tepat dihadapanku, darahnya tercecer merah, kemudian bangkit dan berlari lagi. Aku merinding hebat, seumur hidup baru pertama aku melihat darah sebanyak itu mengalir dari tubuh manusia. Kupaksakan kaki ini berlari, untuk menyelamatkan diri, namun ia tak mau menurut. Kakiku terlalu lemas. Sial! Bisikku, aku nyaris menangis. Jantungku berderu cepat, wajahku memucat hebat, kakiku kaku, tanganku dingin dan basah, badanku menggigil kuat. Aku terlalu takut. Makin banyak orang dengan ekspresi ketakutan berdatangan ke arahku, di belakannya gerombolan polisi mengejar dengan mata merah menyala dan pentungan mengacung-ngacung tinggi. Aku memejamkan mata, tak kuat menatap pemandangan mengerikan itu.
Di saat genting seperti itu, disaat aku nyaris pasrah, disaat aku sudah siap pulang dengan banyak luka gerusan di tubuhku, seseorang menggenggam lenganku, menarikku, memaksaku berlari. Hati ku melengos, itu seperti Renald. Aku mengerjapkan mata, memastikan pandanganku tidak salah. Itu memang Renald, wajah yang seperti Mang Jaja, tidak salah lagi itu Renald. Dia sekarang ada dihadapanku, menggenggam lenganku, memaksa kaki sialan ini berlari. Tak banyak yang ku pikirkan, saat itu insting primitif untuk menyelamatkan diri sedang mengambil alih. Aku mengikuti Renald berlari menjauh, bergabung dengan orang-orang, lalu berbelok ke tempat sepi, mencari perlindungan, menyelematkan diri. Aku tak tahu kenapa Renald ada di sini dan lagi-lagi menyelamatkanku. Aku tak peduli. Aku selamat.
Kali ini, bukannya merasa risih, aku malah bersyukur, sangat bersyukur malah. Aku tak tahu apa yang akan kualami jika tadi Renald tidak menarikku. Kami kelelahan, keringat mengucur deras dari keningku, nafasku tersengal, aku terjatuh, lututku luruh menyentuh tanah, baru pertama aku lari sekencang itu. Aku tahu Renald tak jauh beda, tanganya runtuh di atas lututnya, nafasnya terdengar memburu, wajahnya merah, terlalu banyak darah yang naik ke sana.
“Kau tidak apa-apa?” katanya tiba-tiba, masih tersengal, berusaha menstabilkan paru-parunya. Pundaknya naik turun brutal. Aku hendak menjawab, tapi suaraku tertahan di ujung lidah, aku kebingungan.
“Aku sudah terbiasa membaca gerak bibir orang lain,” katanya, tak ada ekspresi tersinggung. Aku tertegun, mematung, selama ini aku benar-benar berpikir kalau dia mutlak tidak bisa (mendengar) berkomunikasi dengan orang lain.
“Baik-baik saja, terima kasih banyak,” suaraku lirih sekali, mungkin lidahku belum yakin kalau Renald mampu menangkap kata-kataku. Tapi Renald mengangguk pelan, ia faham.
“Sama-sama,” katanya, Ia terduduk, tangannya memegang pinggang bagian atas, kakinya diluruskannya. Aku tersentak, dia benar-benar mengerti.
Selama beberapa menit, hingga nafas kami normal, kami terkurung  bisu. Baik aku maupun Renald tak ada yang berbicara. Kami sibuk menghisap sebanyak mungkin oksigen dan mensyukuri bahwa masing-masing kami masih bugar. Tapi itu tidak berlangsung lama, setidaknya bagiku. Ini pertama kalinya aku dan Renald sedekat ini, maksudku walau ia duduk di belakangku di kelas, tapi ini petama kalinya aku bisa mengucapkan terima kasih secara langsung kepadanya. Ini juga pertama kalinya aku tahu ia bisa membaca gerak bibir.
“Terima kasih untuk semuanya,” kataku. Aku kaget bisa-bisanya aku membuka pembicaraan. Renald tersenyum, baru pertama aku melihat senyumnya, ada lesung pipit di sana. senyumnya manis. Detik berikutnya refleks memalingkan pandanganku. Wajahku kepanasan.
“Kenapa kau baik sekali padaku, maksudku, bahkan kita tak pernah tegur sapa sebelumnya kan?” kata-kata itu mengalir begitu saja, efek penasaran yang mengendap pekat. Renald tersenyum lagi, wajahku makin panas.
“Kau masih ingat pernah membantuku berdiri ketika aku terjatuh di tangga sekolah? Waktu itu sehari sebelumnya aku baru pulang dari rumah sakit, aku masih menggunakan tongkat jalan dan gips di kakiku?” Ia tersenyum lagi. Ada aroma kesepian yang pekat dari suaranya. Aku diam, kalau tidak diingatkan aku pasti sudah lupa. Aku baru tau kalau orang itu adalah Renald. Hanya karena itu dia mati-matian menolongku? sepele padahal.
“Aku suka padamu sejak saat itu,” ia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Awan-awan dilangit mulai mengumpul lagi, sebentar lagi akan hujan.
“Aku tahu kau merasa risih, jijik, menganggapku hina, menyebalkan, bahkan benci padaku karena aku ini tuli. Tapi itu tidak apa-apa…
“Setidaknya sekarang kau tahu kalau aku ada,” wajahku menghangat, air mataku runtuh. Gerimis turun lagi pagi ini.–end-

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)