20130103

Sepeda Fixie Agil



Yang paling menyedihkan dalam cinta, bukanlah ditolak saat kau menyatakan perasaanmu, atau kau menemukan pasanganmu ternyata selingkuh di belakangmu. Tapi yang paling menyedihkan adalah, saat kau suka pada seseorang tapi kau tidak memiliki sebiji upil pun keberanian untuk mengungkapkannya. Padahal tiap hari kau melihatnya, kau menyaksikan ia berlalu-lalang di depan hidungmu.
Parahnya, makin kau melihatnya, makin besar rasa suka itu tumbuh, makin sesak dadamu di gerusnya.
Laki-laki itu, sangat berbeda dengan anak cowok kebanyakan yang merasa lebih keren dengan menunggangi CBR atau Ninja R ke sekolah. Dia datang ke sekolah dengan bersepeda, sepeda fixie putih.
“Tuh kan, lagi mandangin pangeran,” aku mendongak, kaget bukan main.
Tanya menghalangi pemandangan di depanku. Wajah jahilnya menyeruak.
“Apaan sih, siapa yang memandangi pangeran. Dan jangan sebut Agil pangeran lagi. Geli tahu dengernya,” aku menggeser tempat dudukku.
“Yee, ” Tanya langsung mengambil posisi di sampingku.
“Agil makin ganteng aja ya, pantas saja makin banyak yang suka,” matanya berkaca-kaca terpesona. Nah, sekarang siapa yang memandangi si pangeran?
“Eh Ya, kemarin sore pas pulang sekolah katanya ada kelas tiga yang nembak Agil,” Tanya memutar badannya menghadapku, tampangnya antusias sekali. Dia selalu begitu kalau sedang bercerita. Seru sekali.
“Lagi?!” mau tak mau aku menegakkan punggungku.
Wajar sih. Sudah ganteng, supel, ketua OSIS pula. Teman cowoknya banyak di mana-mana, tidak hanya di sekolah ini. Fans ceweknya apa lagi, jangankan fans kelas satu, kelas tiga saja ngantri, dan itu masih belum termasuk anak-anak sekolah lain.
Seperti penembakan sesudahnya, proses penembakan Agil sering terjadi sore hari, di bawah pohon beringin, tempat fixienya terparkir di antara sinar senja yang lembut dan bayangan pohon tua yang teduh. Saat dia menyudahi kegiatan OSISnya.
Padahal sudah banyak yang menyatakan perasaan padanya, namun tetap saja sampai hari ini dia masih memutuskan untuk sendiri. Dia seperti tak tersentuh. Karenanya, kalau sampai ada gadis yang bisa menaklukan hatinya, gadis itu pastir sangat beruntung. 
Ada yang bilang, alasan dia tidak pacaran karena dia tidak suka laki-laki, dia gay. Yang ini aku tidak percaya. Aku lebih percaya pada alasan keduanya, katanya dia tidak mau pacaran saat masih SMA karena merasa belum dewasa untuk menjalani komitmen yang rumit seperti itu. Tapi Karena itulah, di mataku,  dia justru makin terlihat dewasa.
Aku diam-diam juga meyukainya, maksudku, aku juga kan gadis normal. Dan tentu saja aku tak  bisa datang tiba-tiba menghamprinya di suatu sore kamudian menyerahkan sepucuk surat cinta padanya? Harga diriku terlalu tinggi untuk itu. Aku pasti sudah gila kalau melakukan itu. Aku hanya selalu betah memandangnya lama-lama. Mengambil tempat duduk yang agak tersembunyi—aku bisa leluasa memandangnya, tapi Agil tidak bisa memergoki aku yang sedang mengamatinya. Kemudian menikmati setiap gerakan dan ekspresi yang ia lakukan. Itu sudah cukup buatku.
Alasan sebenarnya mengapa aku suka sosok itu adalah karena dia adalah dia. Seorang Agil. Tak ada alasan spesial, terjadi begitu saja. Bukan kah tidak dibutuhkan alasan untuk menyukai seseorang? Oke, ganteng itu perlu, sikapnya, kedewasaannya, tapi semua itu hanya fiture tambahan. Aku suka karena dia adalah dia, titik.

“Aya!” Tanya berteriak.
“Apa sih, “ aduh nih anak. Di sudut sana kan sedang ada Agil, aku tak mau melepas kesempatan memandanginya. Setelah kimia tadi, aku sedang benar-benar butuh pemandangan sejuk sebagai refreshing.
“Tugas kelompok kita gimana?” desak Tanya.
“Tugas yang mana?” aku bingung.
“Tuh kan, sepanjang jalan dari kelas kan aku sudah menjelaskan tugas Fisika kita buat besok. Dan kamu ngga dengar,” Tanya melipat tangan, tanda kalau dia marah. Tenang saja, sebotol fruitea gratis akan menyudahi rajukannya.
Sekarang pangeranku sedang duduk-duduk bersama teman-temannya di sudut kantin.  Tertawa-tawa lepas. Aduuh ganteng sekali.
“Oh, ternyata dari tadi kamu sedang memandangi si pangeran ya. Pantes aku dikacangin,” Tanya tambah mendidih.
“Apa sih, jangan panggil dia pangeran. Aku tuh terlalu kece buat dia.” Aku membela diri. Dari mana ya kalimat lancang itu keluar?
“Oh, okey! Awas kalau kalian betul-betul jadian. Aku akan menjadi orang pertama yang  menertawakanmu,” katanya.
Yang benar saja, mana mau dia jadian sama aku. Agil akan mau sama aku kalau dia sudah gila. Mau dikemanakan Jessi, Shella, Michel; gadis-gadis paling kece di sekolah ini.
Diam-diam pipiku terasa panas. Jadian sama Agil? Aduuh. Bahkan aku belum membayangkan sampai ke sana. Pasti aku adalah gadis paling bahagia di sekolah ini kalau itu benar-benar terjadi. Aku bisa menggenggam tangannya, dibonceng di sepeda fixienya setiap pulang sekolah, dinaungi langit senja. Aduuh romantis sekali. Anak-anak gadis lain pasti akan iri sekali.
 Aku yakin kupingku juga memerah sekarang.
“Aya, awas!!!”
Buk!!
Jidatku membentur tiang. Tak perlu aba-aba, semua orang di sekitar sini memandangiku heran. Detik berikutnya, terbit muka-muka menyebalkan. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada yang menahan tawa. Sebenarnya tidak terlalu sakit, tapi malunya itu lho. Gerombolan laki-laki di sekitar Agil terbahak-bahak menertawaiku, aku tak sanggup lagi memastikan apa Agil juga ikut tertawa.
“Aduh, kenapa kamu diam saja!” aku mendesis kesal.
“Hah?! Aku kan sudah memperingatkanmu,” Tanya membela diri.
Aku buru-buru menarik lengan Tanya, secepatnya menyingkir dari tempat ini. Tangan kiriku mengusap-usap jidatku yang memerah. Aduh malu banget!

“Dia kenal sama kamu ngga?” aku tersedak, kalimat itu seperti menohok telak ulu hatiku. Aku buru-buru meraih botol frutea-ku, berusaha agar batuk tidak lebih parah.
Aku dan Tanya memilih duduk di kantin sepulang sekolah, hari masih panas. Kami malas pulang.
“Kamu ngga apa-apa Ya?” Tanya menepuk-nepuk punggungku.
Dua tahun sudah aku mengenalnya, aku yang mengenalnya. Aku tidak tahu apakah Agil mengenalku, apakah Agil tahu aku ada. Jangan-jangan, ia tidak tahu kalau aku ada di sekoah ini. Aduuuh.
Kegiatanya kan seabreg. Sering ikut-ikut rapat dengan guru-guru, sering diundang oleh sekolah-sekolah lain kalau mereka sedang ada kegiatan. Pokoknya dia sering sekali ijin sekolah. Mana sempat ia ingat tampangku. Satu-satunya kontak yang kami lakukan hanya waktu kelas satu dulu, saat aku masih aktif di eskul jurnalis. Aku sempat mewawancarai Agil yang dulu masih staf bawahan OSIS. Setelah itu, kami hampir tak pernah melakukan kontak lagi. Nomer HP-nya saja aku tak tahu. Aku hanya diam-diam mem-folow twitternya—karena follower-nya banyak, jadi aku aman—dan sering memandanginya dari jauh. Ya, dari jauh, mau apa lagi.
“Kalian mau kemana?“ kata Tanya. Anak-anak di kantin tiba-tiba berlarian keluar kantin.
“Agil ditembak lagi, kali ini sama anak kelas satu,” kata seorang anak yang aku lupa namanya, yang jelas dia seangkatan denganku.
Tanya menarik tanganku tanpa ba bu bu. Aku mau tak mau ikut.
Agil sedang duduk sendirian di depan ruang OSIS, ia mendongak. Di hadapannya seorang gadis menjulurkan tangannya yang sedang memegang sepucuk surat berkertas pink. Agil berdiri, lalu mengambil surat itu. Ia membacanya, padahal sudah tahu isinya apa. Agak jauh dari situ segerombolan anak perempuan kelas satu ikut menonton di balik tembok. Itu pasti teman-teman gadis itu.
Gadis tadi menunduk, wajahnya memerah. Dia cantik sekali. Dia anak kelas satu yang sering dibicarakan anak-anak panitia MOS. Anak paling cantik seangkatan anak baru. Dan harus kuakui, dia memang sangat cantik.
Agil mendongak, selesai membaca isi surat pink itu. Ia lalu tersenyum. Gawat, Agil tersenyum. Bagaimana kalau kali ini dia menerima perasaan gadis kelas satu itu. Diam-diam jantungku berdetak cepat sekali. Tanganku meremas ujung rokku.
Gadis itu tersenyum, membalas senyuman Agil. Senyumannya manis sekali. Ia menantikan apa jawaban Agil. Agil membuka mulutnya. Karena jarak kami jauh, aku tak bisa mendengar apa yang dia ucapkan. Agil masih saja tersenyum di antara kata-kata yang dia ucapkan.  
Detik berikutnya, wajah gadis itu berubah, ia kecewa. Hatiku meloncat, entah kenapa ada seutas senyum terbit dari bibirku. Hatiku lega sekali.
Agil mengembalikan surat itu, sambil terus berbicara. Dan anehnya gadis itu tersenyum, lalu ia megundurkan diri pelan. Gadis itu pergi menuju teman-temannya, ia terlihat kecewa, namun masih tersenyum.
Baru kali ini aku menyaksikan proses ini secara langsung, dan benar yang dikatakan rumor kalau gadis-gadis itu—para gadis yang ditolak Agil—walau telah di tolak, mereka tidak sakit hati sama sekali. Dan katanya, mereka malah makin menyukai Agil setelah penolakannya.  
Siang ini aku jadi main faham. Aku ini memang menyukai lelaki tampan itu. Dan nampaknya ini akan terus menjadi sebuah cerita tak terdengar, tidak akan ada yang tahu perasaanku. Dia terlalu hebat, tak mungkin lagi aku raih.
Beberapa hari yang lalu aku sempat berfikir ingin menyatakan perasaanku. Tapi setelah melihat ini, keinginan itu luruh begitu saja. Anak kelas satu yang cantik seperti itu saja di tolaknya, bagaimana cewek seperti aku yang memakai lipstik saja belum lancar?

Tanganku memegang batang besinya. Aku pasti sudah gila.
“Hah, kamu ke sekolah pake fixie juga?” Tanya muncul di belakangku.
Entah karena aku sudah gila atau apa, ulang tahunku kemarin, aku merengek-rengek agar di belikan sepeda fixie. Aku yakin pasti aku sudah benar-benar gila.
“Emang kenapa? rumahku kan ngga jauh-jauh amat dari sini,” kataku membela diri.
“Pengen ikut-ikut si pangeran ya? boleh juga caramu menarik perhatian Agil,” Tanya menyikut lenganku nakal sambil tertawa-tawa.  
Kalimatnya membuatku tertegun. Apa benar aku meminta sepeda ini agar Agil memperhatikanku? Pelan-pelan perasaanku yang paling dalam mengiyakan. Aduh, aku menggelengkan kepala menolak kenyataan itu.
Angin berhembus dari belakang, sosok Agil begitu saja melewati kami bersama sepedahnya. Kemudian ia memelan dan benar-benar berhenti. Kakinya turun ke tanah, kepalanya tegak sebentar, kemudian berputar ke belakang dan menemukan kami, aku lebih tepatnya, dan sepeda fixie-ku.
Wajahnya datar. Tatapannya jelas-jelas terhujam padaku. Baru pertama aku mendapatkan tatapan itu dari Agil. Biasanya aku yang menatapnya dari jauh, kali ini malah sebaliknya. Aku merasa gugup. Jantungku berdetak kencang sekali. Tanganku sudah dingin mencengkram batang stang sepedaku.
Agil kemudian memalingkan wajahnya lagi, lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan kami. Aku sesak, buru-buru mengambil nafas. Sejak ia menatapku aku lupa bernafas.
“Kamu berhasil!”
“Berhasil apa?” masih menata nafas.
“Agil memperhatikanmu. Belum pernah aku melihat dia memandang wanita sedalam itu,” Tanya mencubir pipiku gemas.
Sejujurnya, aku merasa sedikit, sedikit ya, bahagia. Walau aku tidak tahu ekspresi apa itu tadi, tapi setidaknya sekarang Agil tahu kalau aku ini ada. Bisa-bisa sore nanti dia malah minta kenalan. Aduh, apa yang harus aku katakan, aku belum berlatih apa-apa.
“Heh kamu kenapa sih, senyum-senyum sendiri,” katan Tanya tiba-tiba.
“Ah, ngga kok,” aku gelagapan. Wajahku memerah sendiri.

Angin semilir membelai wajahku. Rambut yang kuikat kucir kuda bergoyang-goyang naik turun di belakang. Sulit juga awal-awal mengendarai sepeda fixie. Tidak ada rem dan rasanya agak berat saat mulai berjalan. Tapi ketika sudah mulai mahir, aku sangat menikmatinya.
Menyenangkan sekali ternyata bersepeda, aku seperti menyatu dengan angin. Pantas saja Agil selalu datang ke sekolah dengan bersepeda. Seperti ini toh rasanya.
Hari ini minggu, aku ingin pergi main ke taman kota, membaca buku di bawah pohon. Hey, begini-begini hobiku adalah membaca, walau membaca novel bukan buku pelajaran.
Sore ini taman lumayan ramai, aku bergerak pelan menyusuri jalanan menuju tempat parkir sepeda si pojokan.
Betapa kagetnya setelah mengaitkan gembok sepeda, di sebelah sepedahku aku melihat ada sepeda fixie putih pucat. Aku kenal sekali milik siapa ini. Aku segela menjelajahi seluruh taman, mencari-cari sosok Agil.
Tapi aku tidak berhasil menemukan sosoknya. Taman sore ini dipenuhi segerombolan muda-mudi—kemungkinan besar pasangan kekasih—membuatku iri setengah hati. Seumur-umur aku belum pernah jalan bareng dengan seorang lelaki.
Tiba-tiba sesuatu yang menggelisahkan naik ke ubun-ubunku, aku kangen. Kenapa di saat seperti ini aku jadi merasa ingin sekali bertemu—melihat—wajah Agil? Apa karena ini hari minggu? Bisanya kalau hari lain aku bisa leluasa memandangi Agil di sekolah.
Aku kemudian melesat mencari tempat duduk yang tersembunyi dibelakang kanopi yang terbentuk dari rangkaian tanaman rambat. Aku duduk, kemudian membuka novel kesayanganku. Alasanku duduk di sini adalah agar aku bisa mengamati—tanpa diketahuinya—kalau-kalau Agil muncul untuk mengambil sepedahnya.
Aku berusaha membaca namun tak pernah bisa fokus. Berkali-kali aku kembali ke halaman yang sama. Agak susah mengamati sesuatu sambil membaca sebuah novel.
Detik berikutnya, aku tutup rapat novelku. Aku memutuskan untuk mulai benar-benar menunggu dengan seksama. Aku tidak mau melewatkan detik-detik berharga saat dia mengabil sepedanya. Itu adalah kesempatan terakhirku memandanginya hari ini.
Satu menit berlalu, aku masih duduk manis menanti. Lima menit, aku berganti posisi. Tiga puluh menit, kakiku mulai gatal duduk di atas tanah. Satu jam, sekarang kakiku benar-benar pegal. Dua jam, aku sudah bosan setengah mati. 3 jam, taman sudah sepi dan matahari mulai menyentuh lantai bumi. Penjaja makanan malam sudah rapi menggelar warung tenda mereka.
Aku bangkit, dengan kaki kebas dan punggung lunglai melangkah menuju sepedaku. Di parkiran hanya tinggal dua sepeda, punyaku dan punya Agil yang orangnya entah di mana. Aku berjongkok, membuka gembok.
Ketika mendongak, sosok itu sudah berdiri dekat sepeda putihnya di sampingku. Hidungku sempat mencium bau parfumnya. Mataku menyipit memandangi sosok itu.  Dia membentuk sebuah siluet, cahaya matahari sore menembus celah-celah pohon yang berakhir di punggung anak ini.
“Lama banget, padahal sudah aku tunggu dari tadi,” katanya sambil memeriksa jam di tangannya. Wajahnya nampak agak kesal.
Aku mematung tak percaya. Agil, menungguku? Jantungku berdegup kasar sekali.
“Kamu Aya kan? Yang setahun lalu mewawancarai aku?”
Aku berdiri, lalu mengangguk, mirip anak anjing kebingungan. Bahkan ia masih ingat namaku.
“Pulang bareng yu,” katanya. Dengan sebuah gerakan, kakinya sudah menginjak pedal fixie putihnya, bersiap mengayuh.
Aku tercengang, dan pipiku memerah. []

No comments:

Post a Comment

please, tinggalkan comment kamu :)