Yang paling
menyedihkan dalam cinta, bukanlah ditolak saat kau menyatakan perasaanmu, atau
kau menemukan pasanganmu ternyata selingkuh di belakangmu. Tapi yang paling
menyedihkan adalah, saat kau suka pada seseorang tapi kau tidak memiliki sebiji
upil pun keberanian untuk mengungkapkannya. Padahal tiap hari kau melihatnya, kau
menyaksikan ia berlalu-lalang di depan hidungmu.
Parahnya, makin
kau melihatnya, makin besar rasa suka itu tumbuh, makin sesak dadamu di
gerusnya.
Laki-laki
itu, sangat berbeda dengan anak cowok kebanyakan yang merasa lebih keren dengan
menunggangi CBR atau Ninja R ke sekolah. Dia datang ke sekolah dengan
bersepeda, sepeda fixie putih.
“Tuh kan,
lagi mandangin pangeran,” aku mendongak, kaget bukan main.
Tanya menghalangi
pemandangan di depanku. Wajah jahilnya menyeruak.
“Apaan sih,
siapa yang memandangi pangeran. Dan jangan sebut Agil pangeran lagi. Geli tahu
dengernya,” aku menggeser tempat dudukku.
“Yee, ”
Tanya langsung mengambil posisi di sampingku.
“Agil makin
ganteng aja ya, pantas saja makin banyak yang suka,” matanya berkaca-kaca
terpesona. Nah, sekarang siapa yang memandangi si pangeran?
“Eh Ya,
kemarin sore pas pulang sekolah katanya ada kelas tiga yang nembak Agil,” Tanya
memutar badannya menghadapku, tampangnya antusias sekali. Dia selalu begitu
kalau sedang bercerita. Seru sekali.
“Lagi?!” mau
tak mau aku menegakkan punggungku.
Wajar sih. Sudah
ganteng, supel, ketua OSIS pula. Teman cowoknya banyak di mana-mana, tidak
hanya di sekolah ini. Fans ceweknya apa lagi, jangankan fans kelas satu, kelas
tiga saja ngantri, dan itu masih belum termasuk anak-anak sekolah lain.
Seperti
penembakan sesudahnya, proses penembakan Agil sering terjadi sore hari, di
bawah pohon beringin, tempat fixienya terparkir di antara sinar senja yang
lembut dan bayangan pohon tua yang teduh. Saat dia menyudahi kegiatan OSISnya.
Padahal
sudah banyak yang menyatakan perasaan padanya, namun tetap saja sampai hari ini
dia masih memutuskan untuk sendiri. Dia seperti tak tersentuh. Karenanya, kalau
sampai ada gadis yang bisa menaklukan hatinya, gadis itu pastir sangat
beruntung.
Ada yang
bilang, alasan dia tidak pacaran karena dia tidak suka laki-laki, dia gay. Yang ini aku tidak percaya. Aku
lebih percaya pada alasan keduanya, katanya dia tidak mau pacaran saat masih SMA
karena merasa belum dewasa untuk menjalani komitmen yang rumit seperti itu. Tapi
Karena itulah, di mataku, dia justru
makin terlihat dewasa.
Aku diam-diam
juga meyukainya, maksudku, aku juga kan gadis normal. Dan tentu saja aku tak bisa datang tiba-tiba menghamprinya di suatu
sore kamudian menyerahkan sepucuk surat cinta padanya? Harga diriku terlalu
tinggi untuk itu. Aku pasti sudah gila kalau melakukan itu. Aku hanya selalu
betah memandangnya lama-lama. Mengambil tempat duduk yang agak tersembunyi—aku
bisa leluasa memandangnya, tapi Agil tidak bisa memergoki aku yang sedang
mengamatinya. Kemudian menikmati setiap gerakan dan ekspresi yang ia lakukan.
Itu sudah cukup buatku.
Alasan
sebenarnya mengapa aku suka sosok itu adalah karena dia adalah dia. Seorang
Agil. Tak ada alasan spesial, terjadi begitu saja. Bukan kah tidak dibutuhkan
alasan untuk menyukai seseorang? Oke, ganteng itu perlu, sikapnya,
kedewasaannya, tapi semua itu hanya fiture
tambahan. Aku suka karena dia adalah dia, titik.
“Aya!” Tanya
berteriak.
“Apa sih, “
aduh nih anak. Di sudut sana kan sedang ada Agil, aku tak mau melepas
kesempatan memandanginya. Setelah kimia tadi, aku sedang benar-benar butuh
pemandangan sejuk sebagai refreshing.
“Tugas kelompok
kita gimana?” desak Tanya.
“Tugas yang
mana?” aku bingung.
“Tuh kan,
sepanjang jalan dari kelas kan aku sudah menjelaskan tugas Fisika kita buat
besok. Dan kamu ngga dengar,” Tanya melipat tangan, tanda kalau dia marah.
Tenang saja, sebotol fruitea gratis akan menyudahi rajukannya.
Sekarang
pangeranku sedang duduk-duduk bersama teman-temannya di sudut kantin. Tertawa-tawa lepas. Aduuh ganteng sekali.
“Oh,
ternyata dari tadi kamu sedang memandangi si pangeran ya. Pantes aku dikacangin,”
Tanya tambah mendidih.
“Apa sih,
jangan panggil dia pangeran. Aku tuh terlalu kece buat dia.” Aku membela diri.
Dari mana ya kalimat lancang itu keluar?
“Oh, okey! Awas kalau kalian betul-betul jadian.
Aku akan menjadi orang pertama yang
menertawakanmu,” katanya.
Yang benar
saja, mana mau dia jadian sama aku. Agil akan mau sama aku kalau dia sudah
gila. Mau dikemanakan Jessi, Shella, Michel; gadis-gadis paling kece di sekolah
ini.
Diam-diam
pipiku terasa panas. Jadian sama Agil? Aduuh. Bahkan aku belum membayangkan sampai
ke sana. Pasti aku adalah gadis paling bahagia di sekolah ini kalau itu
benar-benar terjadi. Aku bisa menggenggam tangannya, dibonceng di sepeda
fixienya setiap pulang sekolah, dinaungi langit senja. Aduuh romantis sekali.
Anak-anak gadis lain pasti akan iri sekali.
Aku yakin kupingku juga memerah sekarang.
“Aya,
awas!!!”
Buk!!
Jidatku
membentur tiang. Tak perlu aba-aba, semua orang di sekitar sini memandangiku
heran. Detik berikutnya, terbit muka-muka menyebalkan. Ada yang tersenyum, ada
yang tertawa, ada yang menahan tawa. Sebenarnya tidak terlalu sakit, tapi
malunya itu lho. Gerombolan laki-laki di sekitar Agil terbahak-bahak
menertawaiku, aku tak sanggup lagi memastikan apa Agil juga ikut tertawa.
“Aduh,
kenapa kamu diam saja!” aku mendesis kesal.
“Hah?! Aku
kan sudah memperingatkanmu,” Tanya membela diri.
Aku
buru-buru menarik lengan Tanya, secepatnya menyingkir dari tempat ini. Tangan
kiriku mengusap-usap jidatku yang memerah. Aduh malu banget!
“Dia kenal
sama kamu ngga?” aku tersedak, kalimat itu seperti menohok telak ulu hatiku.
Aku buru-buru meraih botol frutea-ku,
berusaha agar batuk tidak lebih parah.
Aku dan
Tanya memilih duduk di kantin sepulang sekolah, hari masih panas. Kami malas
pulang.
“Kamu ngga
apa-apa Ya?” Tanya menepuk-nepuk punggungku.
Dua tahun
sudah aku mengenalnya, aku yang mengenalnya. Aku tidak tahu apakah Agil
mengenalku, apakah Agil tahu aku ada. Jangan-jangan, ia tidak tahu kalau aku
ada di sekoah ini. Aduuuh.
Kegiatanya
kan seabreg. Sering ikut-ikut rapat
dengan guru-guru, sering diundang oleh sekolah-sekolah lain kalau mereka sedang
ada kegiatan. Pokoknya dia sering sekali ijin sekolah. Mana sempat ia ingat
tampangku. Satu-satunya kontak yang kami lakukan hanya waktu kelas satu dulu, saat
aku masih aktif di eskul jurnalis. Aku sempat mewawancarai Agil yang dulu masih
staf bawahan OSIS. Setelah itu, kami hampir tak pernah melakukan kontak lagi.
Nomer HP-nya saja aku tak tahu. Aku hanya diam-diam mem-folow twitternya—karena follower-nya
banyak, jadi aku aman—dan sering memandanginya dari jauh. Ya, dari jauh, mau
apa lagi.
“Kalian mau
kemana?“ kata Tanya. Anak-anak di kantin tiba-tiba berlarian keluar kantin.
“Agil ditembak
lagi, kali ini sama anak kelas satu,” kata seorang anak yang aku lupa namanya,
yang jelas dia seangkatan denganku.
Tanya
menarik tanganku tanpa ba bu bu. Aku mau tak mau ikut.
Agil sedang
duduk sendirian di depan ruang OSIS, ia mendongak. Di hadapannya seorang gadis
menjulurkan tangannya yang sedang memegang sepucuk surat berkertas pink. Agil berdiri, lalu mengambil surat
itu. Ia membacanya, padahal sudah tahu isinya apa. Agak jauh dari situ
segerombolan anak perempuan kelas satu ikut menonton di balik tembok. Itu pasti
teman-teman gadis itu.
Gadis tadi
menunduk, wajahnya memerah. Dia cantik sekali. Dia anak kelas satu yang sering
dibicarakan anak-anak panitia MOS. Anak paling cantik seangkatan anak baru. Dan
harus kuakui, dia memang sangat cantik.
Agil
mendongak, selesai membaca isi surat pink
itu. Ia lalu tersenyum. Gawat, Agil tersenyum. Bagaimana kalau kali ini dia
menerima perasaan gadis kelas satu itu. Diam-diam jantungku berdetak cepat
sekali. Tanganku meremas ujung rokku.
Gadis itu
tersenyum, membalas senyuman Agil. Senyumannya manis sekali. Ia menantikan apa
jawaban Agil. Agil membuka mulutnya. Karena jarak kami jauh, aku tak bisa
mendengar apa yang dia ucapkan. Agil masih saja tersenyum di antara kata-kata
yang dia ucapkan.
Detik
berikutnya, wajah gadis itu berubah, ia kecewa. Hatiku meloncat, entah kenapa
ada seutas senyum terbit dari bibirku. Hatiku lega sekali.
Agil
mengembalikan surat itu, sambil terus berbicara. Dan anehnya gadis itu
tersenyum, lalu ia megundurkan diri pelan. Gadis itu pergi menuju
teman-temannya, ia terlihat kecewa, namun masih tersenyum.
Baru kali
ini aku menyaksikan proses ini secara langsung, dan benar yang dikatakan rumor
kalau gadis-gadis itu—para gadis yang ditolak Agil—walau telah di tolak, mereka
tidak sakit hati sama sekali. Dan katanya, mereka malah makin menyukai Agil
setelah penolakannya.
Siang ini
aku jadi main faham. Aku ini memang menyukai lelaki tampan itu. Dan nampaknya
ini akan terus menjadi sebuah cerita tak terdengar, tidak akan ada yang tahu
perasaanku. Dia terlalu hebat, tak mungkin lagi aku raih.
Beberapa
hari yang lalu aku sempat berfikir ingin menyatakan perasaanku. Tapi setelah
melihat ini, keinginan itu luruh begitu saja. Anak kelas satu yang cantik
seperti itu saja di tolaknya, bagaimana cewek seperti aku yang memakai lipstik
saja belum lancar?
Tanganku
memegang batang besinya. Aku pasti sudah gila.
“Hah, kamu
ke sekolah pake fixie juga?” Tanya muncul di belakangku.
Entah karena
aku sudah gila atau apa, ulang tahunku kemarin, aku merengek-rengek agar di
belikan sepeda fixie. Aku yakin pasti aku sudah benar-benar gila.
“Emang
kenapa? rumahku kan ngga jauh-jauh amat dari sini,” kataku membela diri.
“Pengen
ikut-ikut si pangeran ya? boleh juga caramu menarik perhatian Agil,” Tanya
menyikut lenganku nakal sambil tertawa-tawa.
Kalimatnya
membuatku tertegun. Apa benar aku meminta sepeda ini agar Agil memperhatikanku?
Pelan-pelan perasaanku yang paling dalam mengiyakan. Aduh, aku menggelengkan
kepala menolak kenyataan itu.
Angin
berhembus dari belakang, sosok Agil begitu saja melewati kami bersama
sepedahnya. Kemudian ia memelan dan benar-benar berhenti. Kakinya turun ke
tanah, kepalanya tegak sebentar, kemudian berputar ke belakang dan menemukan
kami, aku lebih tepatnya, dan sepeda fixie-ku.
Wajahnya
datar. Tatapannya jelas-jelas terhujam padaku. Baru pertama aku mendapatkan
tatapan itu dari Agil. Biasanya aku yang menatapnya dari jauh, kali ini malah
sebaliknya. Aku merasa gugup. Jantungku berdetak kencang sekali. Tanganku sudah
dingin mencengkram batang stang sepedaku.
Agil
kemudian memalingkan wajahnya lagi, lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan
kami. Aku sesak, buru-buru mengambil nafas. Sejak ia menatapku aku lupa
bernafas.
“Kamu
berhasil!”
“Berhasil
apa?” masih menata nafas.
“Agil
memperhatikanmu. Belum pernah aku melihat dia memandang wanita sedalam itu,” Tanya
mencubir pipiku gemas.
Sejujurnya,
aku merasa sedikit, sedikit ya, bahagia. Walau aku tidak tahu ekspresi apa itu
tadi, tapi setidaknya sekarang Agil tahu kalau aku ini ada. Bisa-bisa sore
nanti dia malah minta kenalan. Aduh, apa yang harus aku katakan, aku belum berlatih
apa-apa.
“Heh kamu
kenapa sih, senyum-senyum sendiri,” katan Tanya tiba-tiba.
“Ah, ngga
kok,” aku gelagapan. Wajahku memerah sendiri.
Angin
semilir membelai wajahku. Rambut yang kuikat kucir kuda bergoyang-goyang naik
turun di belakang. Sulit juga awal-awal mengendarai sepeda fixie. Tidak ada rem
dan rasanya agak berat saat mulai berjalan. Tapi ketika sudah mulai mahir, aku
sangat menikmatinya.
Menyenangkan
sekali ternyata bersepeda, aku seperti menyatu dengan angin. Pantas saja Agil
selalu datang ke sekolah dengan bersepeda. Seperti ini toh rasanya.
Hari ini minggu,
aku ingin pergi main ke taman kota, membaca buku di bawah pohon. Hey,
begini-begini hobiku adalah membaca, walau membaca novel bukan buku pelajaran.
Sore ini
taman lumayan ramai, aku bergerak pelan menyusuri jalanan menuju tempat parkir
sepeda si pojokan.
Betapa
kagetnya setelah mengaitkan gembok sepeda, di sebelah sepedahku aku melihat ada
sepeda fixie putih pucat. Aku kenal sekali milik siapa ini. Aku segela
menjelajahi seluruh taman, mencari-cari sosok Agil.
Tapi aku
tidak berhasil menemukan sosoknya. Taman sore ini dipenuhi segerombolan
muda-mudi—kemungkinan besar pasangan kekasih—membuatku iri setengah hati.
Seumur-umur aku belum pernah jalan bareng dengan seorang lelaki.
Tiba-tiba sesuatu
yang menggelisahkan naik ke ubun-ubunku, aku kangen. Kenapa di saat seperti ini
aku jadi merasa ingin sekali bertemu—melihat—wajah Agil? Apa karena ini hari
minggu? Bisanya kalau hari lain aku bisa leluasa memandangi Agil di sekolah.
Aku kemudian
melesat mencari tempat duduk yang tersembunyi dibelakang kanopi yang terbentuk
dari rangkaian tanaman rambat. Aku duduk, kemudian membuka novel kesayanganku.
Alasanku duduk di sini adalah agar aku bisa mengamati—tanpa diketahuinya—kalau-kalau
Agil muncul untuk mengambil sepedahnya.
Aku berusaha
membaca namun tak pernah bisa fokus. Berkali-kali aku kembali ke halaman yang
sama. Agak susah mengamati sesuatu sambil membaca sebuah novel.
Detik berikutnya,
aku tutup rapat novelku. Aku memutuskan untuk mulai benar-benar menunggu dengan
seksama. Aku tidak mau melewatkan detik-detik berharga saat dia mengabil
sepedanya. Itu adalah kesempatan terakhirku memandanginya hari ini.
Satu menit
berlalu, aku masih duduk manis menanti. Lima menit, aku berganti posisi. Tiga
puluh menit, kakiku mulai gatal duduk di atas tanah. Satu jam, sekarang kakiku
benar-benar pegal. Dua jam, aku sudah bosan setengah mati. 3 jam, taman sudah
sepi dan matahari mulai menyentuh lantai bumi. Penjaja makanan malam sudah rapi
menggelar warung tenda mereka.
Aku bangkit,
dengan kaki kebas dan punggung lunglai melangkah menuju sepedaku. Di parkiran
hanya tinggal dua sepeda, punyaku dan punya Agil yang orangnya entah di mana. Aku
berjongkok, membuka gembok.
Ketika
mendongak, sosok itu sudah berdiri dekat sepeda putihnya di sampingku. Hidungku
sempat mencium bau parfumnya. Mataku menyipit memandangi sosok itu. Dia membentuk sebuah siluet, cahaya matahari
sore menembus celah-celah pohon yang berakhir di punggung anak ini.
“Lama
banget, padahal sudah aku tunggu dari tadi,” katanya sambil memeriksa jam di
tangannya. Wajahnya nampak agak kesal.
Aku mematung
tak percaya. Agil, menungguku? Jantungku berdegup kasar sekali.
“Kamu Aya
kan? Yang setahun lalu mewawancarai aku?”
Aku berdiri,
lalu mengangguk, mirip anak anjing kebingungan. Bahkan ia masih ingat namaku.
“Pulang
bareng yu,” katanya. Dengan sebuah gerakan, kakinya sudah menginjak pedal fixie
putihnya, bersiap mengayuh.
Aku tercengang,
dan pipiku memerah. []
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)