Dulu Ketika
semua perhatian orang-orang mulai beralih
dariku padanya, bayi yang masih merah itu seperti
mengerti. Seolah berkata “Maaf
ya Kak,” dengan seutas senyum
lembut, persis senyumnya sekarang. Senyum yang selalu berhasil menaklukanku.
Nina
berlari ke arahku lalu menubruk
dan memelukku erat-erat. Dia tak berubah, bahkan aroma rambutnya. Hari ini adikku pulang.
“AC mobilnya
sudah cukup dingin?” Kataku setelah mobil kami meninggalkan bandara. Matanya menyipit, bibirnya
mengkerut, “bisa
kan tidak memperlakukanku seperti anak
kecil terus?” Sambil
melipat tangannya di dada. Ia merajuk.
Aku
tertegun, kemudian tersenyum. Benar juga, Nina yang sekarang seorang dokter
masih saja serasa adik kecil buatku. Adik mungil yang wajib kulindungi. Dulu anak manja ini selalu ingin satu
sekolahan denganku.
“Oh
iya, kenapa pulang? Lebaran kan masih lama,” kataku, mencoba mengurai rajukannya.
“Kangen saja sama semua. Ayah dan Ibu
sehat kan?” Suaranya
tertahan. Tak
biasanya Nina pulang menyalahi
jadwalnya. Nina sendiri yang minta
ditempatkan di pedalaman, jauh dari Ayah dan Ibu, jauh dariku, jauh dari kami. Katanya
Nina merasa lebih berguna di sana, di Papua.
“Sehat,
mereka begitu senang ketika mendengar kabar kamu pulang lebih
awal. Kamu sendiri? Mukamu pucat begitu,” kataku menekan suara. Nina menjawab
dengan senyuman hening. Aku menelan ludah getir.
Nina
anak yang tabah, dia terlalu sering memikul apa yang seharusnya belum boleh dia
pikul. Ia terlahir premature. Pertama kali melihatnya, hatiku menjerit
keras sekali. Bagaimana bisa seorang bayi dilahirkan dengan
tubuh sekecil itu? Kepalanya, lengannya,
kakinya, semuanya terlalu kecil untuk ukuran bayi merah sekalipun.
Segera
setelah lahir dia langsung masuk incubator. Ia tak pernah
menangis, tidak rewel, tidak manja. Ketika menatap tubuh ringkih yang
terperangkap dalam kotak oven itu,
aku justru mendapat tatapan yang meneduhkan,
aroma tubuh yang menenangkan, yang membuatku
sangat nyaman. Ingin sekali aku menggenggam jemari mungilnya, mengecup pipinya,
mengusap keningnya, mengelus rambutnya, menimang tubuhnya.
Ketika
mata kami berpapasan Ia
nampak selalu tersenyum, lembut sekali senyumnya, selembut kecupan ibu. Melalui
senyum itu ia berkata dengan bahasanya “Aku baik-baik saja kok Kak,
sebentar lagi aku akan keluar dari sini. Nanti kita main bareng ya.”
Sejak
itu aku berjanji pada diriku kalau aku harus menjadi seorang kakak yang baik. Kakak
yang kuat agar bisa melindunginya dari apapun, kakak yang pintar untuk menjawab
semua pertanyaan-pertanyaanya, kakak yang kokoh agar bisa menaikannya ke pundakku ketika balonnya
tersangkut di pohon.
Aku
harusnya merasa sangat senang dengan kepulangannya yang lebih cepat ini, tapi ada perasaan lain. Sesuatu
yang tidak beres, rasa yang menahan ledakan bahagia, firasat aneh menggantung
entah sejak kapan yang menyeret ke dalam dinding-dinding beku di lubang hatiku,
sesuatu yang tak kufahami dan dingin.
“Ke pantai sebentar Kak, aku rindu suara ombak,” ketika biru laut memantul di kaca mobil. Suaranya makin meringkus semangatku. Aku mengangguk.
Kami
sampai, wangi laut menyapa hidung,
alunan ombak merekah di udara, tanah berselimut
hamparan pasir putih, lazuardi langit terpantul di permukaan
laut, matahari senja bersinar
lembut.
Binar cahayanya gemerlapan bak taburan bintang di atas
lautan bergoyang-goyang.
Nina
duduk di atas pasir, melipat kaki di depan dadanya, kemudian melingkarkan
tangannya di sana. Mata beningnya menerawang layu.
Aku tak bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan. Tak ada yang bisa kucapai.
“Kakak tahu bagaimana rasanya berhasil
menyembuhkan seseorang?” Kata
Nina memecah bisu, lebih terdengar monolog
dari pada bertanya. Aku diam.
“Saat
mereka berterima kasih, rona senyum mereka, gelak tawa mereka, ceria dari
sanak-saudara mereka, bahkan air mata
bahagia mereka. Suasana itu menyenangkan, sangat
menyenangkan. Aku merasa menjadi orang
yang paling beruntung di dunia.”
“Orang-orang
lugu itu, aku ingin berguna untuk mereka, aku ingin melihat mereka tersenyum lagi.”
Sapuan angin
membimbing serpihan aroma garam menusuk hidung, membelai lembut
rambut Nina, berhasil menerbangkan beberapa helai ke udara. Mengulum suara Nina yang berakhir serak.
Nina
melonggarkan tatapannya dari lautan, memalingkan
wajahnya menatapku, lalu
tersenyum ramah. Namun ada sesuatu di matanya
yang tidak bisa kuraih. Perlahan, dari balik senyumnya, matanya memerah perlahan, air mata menggenang di
sana, makin banyak, tak tertahan lalu meleleh jatuh dan mengalir lembut membelai pipinya.
Beberapa
tetes berikutnya meluncur lebih deras. Ia
cegukan, meninggalkanku dalam
ekpsresi tak mengerti.
“Aku
tak bisa sembuh Kak,” suaranya lirih. Matanya makin merah. Air
matanya makin deras. Tubuhnya menggigil. Ia kalah.
Aku mematung
tak percaya. Semua memori masa kecil kami seperti
tertarik paksa, berdesing cepat tak karuan dalam benakku. Aku
tersenyum, bukan senyum bahagia, tapi senyum tak percaya sambil menatapnya ketakutan. Aku
sendiri tak mengerti mengapa ada seutas senyum itu.
“Bercanda
kan? Kamu bohong kan?” Aku takut, aku benar-benar takut.
Aku bingung, wajahku pucat menunggu jawabannya. Hidung Nina
basah, ia diam tak menjawab.
Nina
sedang sakit, ada kanker bersemayam di pankreasnya. Ini rahasia kami berdua. Bahkan
ayah dan ibu tidak tahu. Setahun yang lalu, ketika Nina memberitahuku, nyawaku
seperti direnggut, tubuhku lemas. Nina yang terlihat selalu ceria dan segar bugar tiba-tiba
mengaku mengidap kanker.
Siapa
yang akan percaya?! Nina bahkan mengaku sambil
tersenyum. Katanya
kankernya masih bisa disembuhkan, ia akan meminta bantuan kolega-koleganya. Ia
berjanji akan kembali sehat, sambil tersenyum. Senyum itu yang mengalahkan ketakutanku, aku
percaya ia akan sembuh kala itu, sangat
percaya.
Aku tak punya pilihan lain.
Sekarang
Nina ada di hadapanku,
melontarkan kenyataan mengerikan ini, mengingkari janjinya setahun lalu. Aku mencengkram
pundaknya, mengguncang-guncang tubuhnya. Mengapa harus dia? Mengapa bukan aku
saja?
“Bohong
kan Na?! Mana ada dokter yang
kena kanker?! Ini tidak
lucu Na! Jangan becanda dong, kamu sehat kan!?”
Nadaku meninggi. ”Ramadhan tahun depan kamu
masih harus pulang ke rumah, kita masih harus sahur dan buka dengan masakan ibu. Kamu tahu sendiri ibu kalau masak pasti
banyak, mana sanggup aku dan ayah menghabiskan semuanya? Kamu juga masih harus menemani ibu Shalat Ied tahun depan?”
Nina
tak menjawab. Pundaknya makin bergetar, hanya
isak tangis yang terdengar dari bibir mungilnya, wajahnya sudah basah. Ia sangat ingin
melakukan banyak hal, praktik di pedalaman lagi, sahur dan buka di hari pertama
Ramadhan bersama lagi, Sholat Ied bersama lagi. Tapi Nina sadar, hidupnya
tinggal sebentar lagi.
Kami
dibalut sunyi akhirnya, Nina
berusaha menguasai tangisannya. Aku mengendurkan cengkramanku, tersungkur
lemas dan menyerah. Angin lembut
menyentuh dedaunan kelapa, melambai pelan di ujung sana. Serangga yang tadinya
hinggap terpaksa bubar, mencari tempat hinggap yang lebih tenang.
“Karenanya aku ingin bertemu ibu dan
ayah, mungkin untuk terakhir kalinya,”
kata Nina, matanya masih basah.
“Tolong
bantu aku agar tidak menangis ketika bertemu mereka. Sudah cukup mereka menghawatirkan aku waktu kecil dulu.
Sekarang tak perlu lagi.”
Di
sana, dalam sunyi yang pekat, kami
sempat menyaksikan sunset bersama.
Kemilau lembayung jingga membalut wajah Nina yang tenang seperti telaga, di
sudut wajahnya aku menangkap seberkas kelegaan. Hal ini mungkin
sudah dia simpan lama, ia tutup rapat dalam peti hatinya.
Begitu mobil
berhenti, menyambut
kami sebuah bangunan tua dan lusuh namun masih
kokoh dengan halaman luas dan dikelilingi banyak tanaman. Nina
berdiri agak lama, memandangi rumah kami lekat-lekat. Membayangkan kenangan yang pernah kami lewati di dalamnya.
Ia beralih menatap pohon mangga besar yang berdiri jemawa di samping rumah. Tepat pada cabang kekarnya itu, Nina pernah menangis
sangat keras memanggil-manggil aku.
Aku yang ada di dapur kala itu melompat keluar.
Aku menemukan ada seekor helder besar menyalak nyaring ke arah Nina kecil.
Nina
meraih lengan kananku, meraba-raba halus, mencari sesuatu. Telunjuknya menemukan bekas luka delapan
jahitan, jejak gigitan anjing yang tak
pernah bisa dihilangkan.
Ia menatapku, memelas meminta maaf. Aku tersenyum, menggenggam pundaknya dan mengajaknya
masuk.
Di
dalam, ayah dan ibu sudah menunggu kami. Ibu dan ayah memeluk Nina bersamaan,
aku melihat ada genangan haru di mata mereka bertiga. Tangis Nina nyaris pecah, aku
mengusap punggungnya, mengingatkannya untuk tidak menangis.
*
“Terima
kasih. Kakak
adalah kakak paling hebat sedunia,” kata Nina. Kami sedang
terlentang di halaman, menikmati suguhan megah gemintang di langit malam. Ritual ketika Nina kecil
tak bisa tidur, kami sengaja mengulangnya.
“Jangan
buat aku menangis
lagi dong,” kataku. ”Tapi apa itu
benar-banar tidak
bisa disembuhkan? Kamu bohong kan? Mungkin masih ada cara lain yang terlewat?”
Nina
tertawa geli, aku paham.
“Besok
aku akan berangkat lagi. Kalau di
sini terus aku tidak
akan tahan terus-menerus berbohong
di depan ayah
dan ibu,” wajahku mengkerut.
“Kenapa
kamu memilih bertugas di pedalaman Papua segala?” Kataku sewot. Nina diam.
“Aku
tidak mau menjadi anak yang manja, yang selalu bersembunyi di
belakang kakak terus. Aku ingin seperti kakak. Kuat, dewasa, mandiri dan disayang
banyak orang. Kalau
kakak jadi guru yang disayang murid kakak, aku juga ingin jadi dokter yang disayang pasienku,” senyumnya merekah, dadanya
membusung sombong. Aku tergelak, Nina ikut tertawa. Setelah kelelahan tertawa
kami saling terdiam, menyelami
benak masing-masing. Mengingat sebanyak mungkin kenangan
berharga yang telah kami lewati bersama, merapihkannya,
kemudian menyimpannya baik-baik di suatu tempat istimewa di ruang hati masing-masing.
“Terima kasih Kak.”
Aku
memejamkan mata, memaksa air mataku kembali masuk, tapi ia malah mengalir, basah dan hangat. Nina juga terisak.
Esoknya
langit di luar cerah, angin mengarak awan berbaris menjadi lukisan keperakan sederhana. Aku berada di bandara, duduk di sebuah kursi
panjang, di
sebelahku ada Nina yang diapit ayah
dan ibu. Aku menatap wajah Nina, ia terus tersenyum lebar kepada
ayah dan ibu, menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka.
Kamu tahu Na? Aku yang harusnya berterima
kasih padamu. Kamu
yang telah mengajarkan banyak hal padaku. Kalau bukan karena kamu yang tidak pernah rewel padahal premature,
aku pasti jadi anak laki-laki
cengeng yang manja. Kalau bukan karena kamu yang menangis ketakutan di atas pohon
mangga, aku tak akan mungkin jadi anak nekat yang berani menerjang anjing
helder raksaksa itu.
Aku juga tak akan mungkin mati-matian belajar hingga bisa masuk SMP, SMA bahkan
kampus favorit, karena
kamu ingin selalu satu sekolah
bersamaku.
Ketika
kamu berhasil meraih gelar
dokter, sebenarnya aku malu karena
aku hanya mampu menjadi seorang guru. Kemudian ketika kamu memutuskan bertugas ke Papua, aku lebih malu lagi. Hatimu
telah tumbuh mejadi begitu besar dan luas, hingga tak mampu kugapai lagi.
Lobby bandara masih ramai, acuh
pada kami berempat. Suara
bergema memanggil penumpang yang akan berangkat selanjutnya. Aku berdiri gontai,
diikuti Nina, ayah
kemudian ibu. Nina pamit, meminta agar ayah ibu menjaga kesehatan. Nina memeluk erat-erat kedua
orang tuanya, lalu mengecup tangan mereka
lembut-lembut. Setelahnya
dia menatapku.
Aku
menemukan sosok yang letih dalam pantulan
matanya, ada sedikit genangan di
sana. Kami berpelukan, saling menghirup aroma
masing-masing. Lama, lebih lama dari biasanya.
Nina menguatkan hatinya, kemudian tersenyum padaku. Senyum
itu yang menahan air mataku luruh. Dari belakang, sesekali
terlihat ia mengusap
matanya, meninggalkan aku dengan dada penuh gemuruh
dan mata hangat.
Ayah
menepuk pundakku, “Kamu
baik-baik saja?” Aku
mengerjapkan mata.
“Kamu jadi begitu melankolis sejak
kemarin,” katanya. “Ramadhan tahun
depan kan Nina masih akan pulang ke
rumah,” Ia tertawa mengejek sambil beranjak mendahului.
Aku
mematung hampa, menatap perih punggung adik
kesayanganku menjauh. []
#beuh.... mantep gan..... ada terusannya gak??
ReplyDeletengga ada men,hehehe
Deleteterimakasih sudah berkunjung
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete