Dia, masih sibuk dengan buku tebal itu. Padahal hari ini kami
sedang nge-date.
“Ehm, “ aku berbunyi.
Masih, dia masih menunduk ke dalam bukunya.
Aku mengeraskan suaraku, dan nadanya. Setelah menahan sesak
yang merangsek dada. Kali ini berhasil, kamu mendongak.
Air mukanya itu awalnya menjadi bingung, kemudian terkejut—Dia
akhirnya menemukan ekspresi mukaku.
“Kamu tidak apa-apa?” katanya. Satu alisnya terangkat.
Aku memutar bola mataku ke belakang rasanya ingin sekali
menjambak rambut cokelatnya dan menginjak-injak kacamata kotaknya yang
berkilauan itu.
“Tidak kah kamu mengerti?” suaraku tertekan, menahan amarah.
Dia menegakkan duduknya, masih bingung.
Aku tak tahan lagi.
Aku berdiri, lalu meninggalkannya tanpa berkata apa-apa.
“Mau kemana?”
“Toilet.”
Aku melangkah melewatinya. Ia bahkan tidak mencegahku pergi,
malah kembali tenggelam dengan buku tebalnya itu. Ia tak peduli padaku.
Jalan menuju toilet terasa begitu jauh dan panjang, padahal
hanya beberapa langkah saja. Aku menemukan wajahku memerah melalui cermin
wastafel—untung sedang tidak ada orang—mataku menghangat dan air mata
menggenang di antara sudut-sudutnya.
Aku mengeluarkan BB dari tas tanganku.
“Halo?” suaraku yang serak memantul-mantul di dinding
berlapis keramik.
“Lucy? Kamu nangis? Ada apa sayang?” Aku selalu menelpon
Cleo kalau aku punya masalah, ia tempatku menumpahkan segalanya.
“Ted,” kataku sambil megambil tissu.
Suara hembusan nafas terdengar dari balik telingaku. “Kalian
kenapa lagi?”
“Aku ingin putus,”
“What!!”
“Kami sudah 3 bulan tidak bertemu karena kunjungan kerjanya.
Aku sangat menunggu-nunggu kencan ini, tapi dia benar-benar membuatku gila.”
“Buku?”
“Iya, dia bahkan terlihat lebih menikmati membaca buku
sialan itu dari pada menatap wajahku. Aku bahkan kalah dari sebuah buku tebal
yang membosankan.” Dan itu benar, aku merasa telah dipecundangi habis-habisan oleh
sebuah buku, bayangkan, sebuah buku. Lelakiku lebih menikmati berintim-intiman
dengan sebuah buku dari pada seorang gadis yang menghabiskan satu jam penuh
merapihkan rambut dan seharian penuh memilih baju di mall untuk kencan ini.
“Bukan kah dulu kau menembak Ted karena alasan itu, kutu
buku, sejati? Menurutmu itu keren dan, seksi?” ada suara tidak setuju. Cleo tak
pernah menemukan hubungan atara buku-buku dan kata seksi.
Sekelebat muncuk Ted
muda—lima tahun lalu saat masih tingka tiga—dengan kaca mata yang sama,
potongan rambut dan cara duduk yang sama. Ia hikmad dengan bukunya, ia bahkan
memperlakukan bukunya seperti seorang wanita—lembut, pelan dan hormat. Terlihat
sangat santun dan begitu dingin. Dingin yang menggodaku. Entah kenapa aku begitu
suka pada Ted yang sederhana dalam bicara, tidak banyak aksi dalam bersikap itu—seperti
kebanyakan penyendiri yang menghabiskan hari-harinya bersama tumpukan buku. Dan
harus kuakui dia ganteng sekali, bahkan Cleo bilang aku punya mata yang bagus
dalam melihat lelaki.
Satu-satunya alasan dia masih jomblo saat itu adalah karena
ia lebih sering berada di perpustakaan dari pada cafe atau mall. Aku sudah
jatuh cinta sejak pertama menemukannya di pojokan perpustakaan saat sedang mencari
referensi tugas Statistik karena bolos kuliah.
Kami sempat PDKT selama seminggu, tapi karena saking tergila-gilanya,
aku yang akhirnya menembaknya duluan—emansipasi membawa jaman dan wanita menjadi
memiliki hak untuk menyatakan perasaannya duluan, bukan?
Aku yakin, jika pada buku dia bisa begitu gentle-nya, pasti lebih-lebih kepada
seorang wanita yang adalah kekasihnya—aku. Ternyata aku tidak salah. Ia sangat
manis. Mengirim SMS selamat pagi setiap hari, tak pernah lupa mengingatkanku
untuk makan tepat waktu. Ketika berada di dekatnya aku banar-benar merasa dilindungi.
Ketika malam hari setelah kencan, ia akan mengantarku hingga pintu rumah, menunggu
di depan pagar—padahal hujan sedang sangat deras di luar sana, setelah aku
menutup pintu rumah—dan terdengar bunyi ‘klik’—baru kemudian dia akan pergi,.
“Mungkin bukan ted. Tapi aku. Aku yang telah berubah sehingga
Ted tidak cukup lagi bagiku.”
“Lucy, ini keputusan serius. Kau tidak bisa memutuskan
seseorang tanpa alasan yang jelas, it’s
so selfish. Sebagai sahabat
terbaikmu aku tidak akan mengijinkanmu melepas laki-laki sebaik dia! Dengar. Jawab
petanyaanku dengan jujur,” aku mengangguk, “Apa pertengkaran-pertengkaran
kalian sebelum ini sering disebabkan oleh Ted? Apa Ted pernah jalan dengan
wanita lain tanpa izinmu—bahkan jalan bareng menuju halte busway dekat kantornya? Sebagai pasangan, apakah kau yang lebih
banyak mengalah dari pada Ted?
“Kalau semua jawabannya negatif, kau akan rugi kalau masih
ngotot ingin putus.”
Kalimat-kalimatnya tepat berturut-turut megenai ulu hatiku. Aku
bisu, tak bisa menjawab sebarang kata pun.
“Tapi..”
“Tidak ada tapi tapi. Sekarang kembali pada ted dan baikan. Bukannya
dia memang tipe lelaki yang tidak pernah peka, harusnya kau sudah terbiasa. Kenapa
hanya dengan tiga bulan berpisah kau jadi kehilangan kemampuan untuk memahami
watak kekasihmu!!?”
“Bicaralah, ungkapkan apa perasaanmu, ungkapkan kalau kau
sangat amat benci kalah dari buku sial itu. Oh sial, pertandingannya sudah
mulai. Pokoknya aku mau kalian baikan, besok telpon aku lagi!”
Dan begitulah, malam itu ia tak pernah menelpon balik.
Aku menarik nafas dalam-dalam, mengusap wajahku yang telanjang
tanpa make up dan bersiap kembali
pada Ted. Mungkin putus dengan Ted bukan ide yang baik. Ia masih ganteng dan
senyumnya masih sama, senyum saat aku berhasil menyatakan perasaanku padanya.
Tunggu.
Saat aku menembak Ted di perpustakaan, Ted tersenyum. Tersenyum,
ya tersenyum. Aku ingat sekali senyumannya yang sangat manis itu. Bahkan hanya
dengan mengingat-ingat bentuk senyumnya saja dadaku berdebar keras sekali.
Ya, ia hanya tersenyum, ia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Bahkan kata ‘iya’.
Kepala dan isi perutku seperti diaduk dan gravitasi bumi
mendadak terasa menjadi sepuluh kali lebih kuat. Aku tersentak ke dinding. Beberapa
orang yang masuk toilet kaget, tapi aku menggeleng dan memutuskan untuk
melangkah keluar, menuju Ted. Aku merasa telah ditipu!
Setelah lima tahun, baru hari ini aku sadar kalau Ted tidak
mengatakan Iya waktu itu. Bahhkan–seingatku—Ted tak pernah benar-benar bilang i love you atau semacamnya. Tidak di anniversary kami atau di hari ulang
tahunku.
Jangan-jangan kami mememang tidak pernah pacaran. Semuanya jadi
begitu jelas dan masuk akal. Pantas saja Ted lebih asyik dengan bukunya. Karena
aku bukan siapa-siapanya.
Aku menghempaskan tubuhku di hadapan Ted. Ada segelas moccacino kesukaanku dan sepotong donat strawberry yang juga kesukaanku di meja.
Ia tidak menyadari aku sudah kembali dari toilet. Kepalanya masih
tertuju pada buku sial itu. dan aku menatapnya tak percaya.
“Ted,” kataku.
...
“Ted,” kataku sekali lagi, kali ini tanpa tekanan. Terlalu lelah
bahkan untuk sekedar menaikkan nada dan volume suara. Aku merasa sangat idiot.
“Hmm,” katanya—itu bahkan bukan sebuah kata—sambil membalik
halaman—tanpa melihat wajahku. Mulutku menganga, kali ini Ted sangat tidak
sopan!
Apa aku pulang saja, kami bahkan belum pacaran, kenapa harus
putus. Aku juga tidak bisa memarahinya—aku benar-benar ingin memukul wajahnya—dia
bukan siapa-siapa. Tapi tentu saja aku tak akan melakukan itu. Aku tak mau terlihat
tidak dewasa.
Aku meraih coffee-ku,
berusaha menenangkan diri, kemudian
entah dorongan dari mana, aku menghisap nyaris setengah gelas ukuran big itu dengan sekali sedot.
Ted mengintip dari balik kacamatanya, tapi kemudian kembali
pada halaman buku sialan itu.
Aku merebut donat di hadapanku, donat terakhir yang di
belikan Ted. Seumur hidup, setelah ini aku barjanji tak akan mau bertemu-bahkan
bertemu, aku tak mau kenal lagi dengan laki penipu ini! Aku mulai mengunyah
dengan sangat brutal—tak ada kata yang pantas untuk menggambarkan cara makanku
saat ini.
Ted menutup bukunya, lalu manaruh buku itu di atas meja.
Aku menemukan sesuatu mengganjal di antara gigi graham. Sesuatu
yang keras. Aku memasukkan jariku ke dalam mulut, bersamaan itu ted sepenuhnya
menatapku.
Tatapan sempurna milikku, yang pertama sejak kami masuk coffee shop ini.
Di antara ibu jari dan jari telunjuk sebuah cincin putih berbalut
liur dan serpihan adonan donat manatapku pongah. Ted tersenyum dan aku bingung.
“Maukah kau mendampiingiku selamanya?” Ted sudah berlutut di
samping meja, dihadapanku. Semuanya menjadi jelas, terang benderang seterang
matahari jam dua belas siang.
Mataku menghangat,
sambil menangis aku mengangguk. Anggukkan tercepat dan teragresif seumur
hidupku. Aku tak ingat kapan terakhir kali aku mengangguk sekeras itu.
BB ku bergetar. BBM masuk.
Selamat ya J,
dari Cleo.
No comments:
Post a Comment
please, tinggalkan comment kamu :)